Teilen

Bab 3

Nasgor
Ternyata saat menelepon hari itu, Evan sedang berada di klinik hewan yang terletak tepat di seberang rumah sakit.

Melihat deretan unggahan momen di layar yang seolah tidak ada habisnya saat digulir, hatiku ikut mendingin.

Rupanya, pengertian yang kuberikan berkali-kali, justru dibalas dengan kebohongan demi kebohongan.

Tiba-tiba, sebuah pesan dari Kamila muncul di ponselku.

[Kak Jenny, tadi aku dan Evan sibuk makan, jadi baru ingat kalau Kakak pergi ke rumah sakit. Evan memintaku mentransfer uang untuk membeli obat.]

[Kata Evan, kalau nggak ditransfer uang, Kakak pasti akan cari gara-gara lagi. Kak Jenny, cepat terima uangnya, ya.]

Melihat uang senilai 20 ribu yang ditransfer oleh Kamila di layar, sudut bibirku tertarik membentuk senyuman getir. Aku langsung mengeklik tombol untuk mentransfer balik uang itu.

[Nggak perlu, pakai saja uang ini untuk beli hadiah ulang tahunmu sendiri.]

[Lagi pula, harga dirimu memang hanya sebesar uang ini.]

Belum genap satu menit pesan itu terkirim, telepon dari Evan langsung masuk.

Begitu panggilan tersambung, bahkan sebelum aku sempat membuka mulut, makian Evan sudah membahana dari seberang sana. “Jenny, kamu sakit jiwa, ya?!”

“Kamila sudah cukup baik mau mengingatkanku untuk transfer uang obat untukmu. Kalau nggak tahu terima kasih, ya sudah. Tapi buat apa kamu bicara ketus begitu?!”

“Sekarang ponselnya kuberikan pada Kamila. Kamu cepat minta maaf yang benar padanya. Hari ini Kamila sedang berulang tahun, jangan merusak suasana hati orang yang sedang merayakan hari bahagianya!”

Mendengar segala tuduhan dan keluhan yang keluar dari telepon, sudut bibirku kembali terangkat getir. Dengan suara lirih, aku berujar, “Evan, kenapa aku harus minta maaf?”

“Jenny, kamu masih merasa benar sendiri?!”

“Kenapa kamu berubah jadi begini, Jenny? Kamu jelas tahu Kamila dari keluarga miskin sejak kecil, tapi kamu sengaja pakai uang untuk menghinanya?”

“Jenny, sekarang juga, detik ini juga, minta maaf pada Kamila!”

Mendengarku yang terus bungkam, emosi Evan di seberang sana mendadak meledak. “Bagus! Jenny, kamu keras kepala dan nggak mau minta maaf pada Kamila, ‘kan?!”

“Kalau begitu, mulai sekarang jangan harap kamu bisa pakai uangku sepeser pun! Bukannya kamu nggak menghargai uang yang dikirimkan Kamila?”

“Sampai kamu sadar dan mau minta maaf pada Kamila, baru aku akan mempertimbangkan untuk memaafkanmu! Introspeksi diri baik-baik!”

Tanpa menanti jawabanku, dia langsung memutuskan panggilan sepihak.

Belum ada sepuluh menit setelah telepon ditutup, ponselku menerima notifikasi yang menyatakan bahwa Evan telah memblokir semua kartu bank atas namaku.

Aku berbaring di ranjang rumah sakit, menatap ke luar jendela dengan mata yang dipenuhi kepahitan.

Anak perempuan kecil di ranjang sebelah menatapku sambil mengedipkan mata. Setelah terdiam beberapa saat, dia berkata dengan wajah penuh simpati, “Kakak, apa Kakak sedang bertengkar dengan Kakak laki-laki yang tadi?”

“Kak, Kakak salah apa? Kenapa Kakak laki-laki itu galak sekali?”

Aku tersenyum getir, lalu menyahut pelan, “Ada orang yang jelas-jelas nggak salah. Tapi di mata sebagian orang, dia akan selalu dianggap salah.”

Anak perempuan itu menatapku dengan tatapan bingung. “Aku nggak ngerti, Kak.”

“Pokoknya aku cuma tahu, Ibu pernah bilang, kebebasan dan kebahagiaan diri sendiri itu yang paling penting!”

Kata-kata anak kecil itu membuatku tersentak. Aku menatapnya dengan pandangan kosong.

Benar. Kebebasan dan kebahagiaan diri sendiri adalah hal yang paling utama.

Aku berbaring telentang, memalingkan wajah ke arah jendela dengan mata yang sarat akan kesepian.

Mungkin karena belakangan ini tubuhku terlalu lelah, dalam kondisi kesadaran yang kabur, aku akhirnya tertidur.

Aku terbangun karena panggilan seorang perawat. Perawat itu mengatakan bahwa aku harus membayar biaya perpanjangan rawat inap.

Aku refleks hendak menyerahkan kartu bankku. Namun, begitu teringat bahwa seluruh kartuku telah diblokir oleh Evan, sudut bibirku berkedut getir, lalu berkata lirih, “Nggak perlu, sus. Saya keluar dari rumah sakit hari ini saja.”

“Eh? Kakak mau langsung keluar hari ini?”

Anak perempuan dari ranjang sebelah tiba-tiba masuk melompat-lompat dari luar pintu. Di pelukannya, dia mendekap sebuah robot kecil yang tampak sangat familier di mataku.

“Adik kecil, dari mana kamu dapat robot itu?”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 12

    Segera setelah itu, aku menutup aplikasi siaran langsung tersebut. Bangkit berdiri, lalu melangkah keluar menuju bandara.Di sepanjang perjalanan, ponselku terus-menerus menerima panggilan telepon dari Evan yang masuk tiada henti. Namun untuk saat ini, sudah sama sekali tidak ada yang mendesak lagi bagiku untuk mengangkatnya.Melihat panggilannya yang terus kuabaikan, dia mulai membanjiri kotak masukku dengan rentetan pesan singkat.[Sayang, apa maksud dari semua ini?] [Sayang, tolong angkat teleponnya, ya? Apa kamu lihat siaran langsung yang tadi?] [Sayang, kejadiannya benaran nggak seperti yang kamu bayangkan. Aku mengatakan hal itu benar-benar cuma untuk menenangkan emosi Kamila saja agar dia mau turun.] [Sayang, apa maksud dari surat cerai yang kamu kirimkan pada Kamila? Cerai apanya? Bukannya kita sudah sepakat untuk nggak cerai?] Menatap rentetan pesan yang terus bermunculan di layar ponsel, aku merasa teramat risi dan kesal. Tanpa pikir panjang, aku langsung memasukkan nomor

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 11

    Dia langsung maju dan mendekap tubuhku erat-erat, suaranya sarat akan rasa iba. “Sayang, kamu kurusan banget.”Aku agak geli mendengarnya, lalu mendorong tubuhnya menjauh sembari melayangkan gurauan, “Memangnya sejak kapan aku gendut?”Setelah keluar dari kantor pengacara, aku berjalan menyusuri trotoar jalanan tanpa arah tujuan yang pasti.Entah karena memang sudah takdirnya begitu, atau mungkin karena Evan menganggapku terlampau mudah dikendalikan. Begitu aku mendongakkan kepala, aku langsung menangkap siluet Evan dan Kamila yang berdiri tidak jauh dari tempatku berada.Percakapan di antara mereka berdua pun terdengar dengan sangat jelas di telingaku.“Mulai sekarang jangan pernah lagi berpikiran licik dengan mengirimkan pesan pada Jenny! Aku nggak akan pernah menceraikannya!”“Evan, aku melakukan semua ini juga karena aku terlalu mencintaimu!”“Sekarang karena rencana kita sudah terbongkar, aku berencana untuk menggugurkan kandungan ini. Aku nggak akan mempertahankan anakmu, Jenny

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 10

    Tepat pada detik saat Evan memajukan wajahnya, aku refleks mengulurkan tangan untuk mendorongnya menjauh.Melihat penolakanku, kilatan kekecewaan melintas di kedua mata Evan. “Sayang, kenapa kamu mendorongku?”Aku terus memundurkan tubuhku, sebisa mungkin menghindari kontak fisik dengan Evan, lalu menyahut dengan nada datar untuk berbohong, “Aku sedang flu, jangan sampai menular kepadamu.”Setelah berkata demikian, aku tidak lagi memedulikan Evan di hadapanku. Aku membalikkan badan memunggunginya, lalu kembali memejamkan mata untuk tidur.Mungkin karena suasana malam terlampau sunyi, aku bisa mendengar suara hela napas Evan yang terdengar berulang kali dari sampingku.Jika itu terjadi di masa lalu, aku pasti sudah membalikkan badan. Merengkuh tubuhnya erat-erat dalam pelukanku, lalu menenangkan dan membujuknya dengan wajah penuh rasa iba.Namun sekarang, aku hanya merasa terusik dan muak.“Aku sangat ngantuk. Bagaimana kalau kamu kembali ke kamarmu saja? Kamu tidur di sini membuatku ng

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 9

    Sudut bibirku tertarik getir. Di kolom obrolan, perlahan aku mengetik beberapa kata. [Nggak tahu. Aku cuma tahu kalau pada saat itu, otakku benar-benar kacau.] [Sayang, ini sudah sepuluh tahun. Evan sudah lama bukan pria yang tulus dan setia seperti dulu lagi. Satu-satunya orang yang masih bertahan di masa lalu cuma kamu.] Menatap Evan di hadapanku, kepingan masa lalu kami mendadak terlintas satu demi satu di dalam benak.Aku dan Evan adalah teman masa kecil, kami tumbuh besar bersama. Namun, hubungan kami adalah jenis teman masa kecil yang selalu saling tidak cocok satu sama lain.Hingga akhirnya, orang tuaku bercerai. Kedua belah pihak sama-sama membangun keluarga baru mereka sendiri dan tidak ada yang sudi merawatku, sehingga aku terpaksa tinggal bersama Nenek.Masa-masa itu, bagiku, sebenarnya teramat menyiksa.Orang-orang mencibirku sebagai anak buangan yang tidak diinginkan, bahkan beberapa di antaranya menyebarkan rumor keji bahwa akulah penyebab perceraian orang tuaku.Lamb

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 8

    Aku mengambil ponsel yang tergeletak di samping meja, membuka ruang obrolan dengan Kamila, lalu menyodorkan gambar tersebut ke hadapan wajah Evan."Ada yang mau kamu katakan?"Begitu melihat gambar tersebut, wajah Evan seketika berubah pucat pasi. Dia langsung mencengkeram tanganku kuat-kuat dan berujar dengan rentetan kalimat yang teramat cepat, "Sayang, bukan seperti ini kejadiannya, sungguh bukan seperti ini!""Ini pasti foto hasil editan Kamila. Dia sengaja melakukannya untuk merusak hubungan rumah tangga kita. Yang hamil itu sebenarnya kamu!"Aku mengenyahkan tangan Evan dengan sentakan kuat, lalu menyahut dengan nada bicara yang datar, "Oke, karena kamu bilang begitu, ayo kita pergi ke rumah sakit untuk melakukan pemeriksaan ulang bersama-sama."Mendengar tantanganku, raut wajah Evan seketika menjadi tidak natural. Dia memalingkan wajahnya ke arah lain, lalu berujar lirih, "Nggak perlu, kamu memang benar-benar hamil.""Sampai kapan kamu mau terus membohongiku?"Menatap sosok Evan

  • Cinta Tak Sehebat Robot   Bab 7

    "Sayang, kita bakal punya anak! Hasil pemeriksaan medismu yang kemarin sudah keluar! Kamu bakal jadi ibu!""Sayang, kita akhirnya punya anak juga! Kita bakal jadi ayah dan ibu!""Sayang, kenapa kamu diam saja? Apa kamu terlalu bahagia?"Evan tersenyum sambil melambaikan tangannya di depan wajahku, matanya berbinar cerah.Kehadiran anak yang tiba-tiba ini seketika mengacaukan rencana yang sudah kususun. Aku menatap kosong laporan pemeriksaan kehamilan di hadapanku, perasaanku mendadak campur aduk tak karuan."Aku hamil?"Evan mengangguk sambil tersenyum lebar. Dia maju dan merangkul leherku dengan manja, lalu berkata dengan suara lembut, "Iya, kamu hamil."Aku meletakkan laporan pemeriksaan itu begitu saja di atas meja, lalu berjalan kembali ke arah kulkas untuk mengambil satu kaleng bir lagi dan meminumnya.Melihat tindakanku, wajah Evan langsung berubah masam. Dia melangkah maju dan merebut paksa kaleng bir di tanganku, lalu langsung melayangkan tuduhan, "Ada apa denganmu? Jenny, aku

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status