Share

Bab 7 - Dia Ayah Kalian

Author: Kayden Kim
last update Last Updated: 2025-09-29 18:00:40

Sepulang dari kantor dan menjemput si kembar, Celline langsung mengganti blazer kerjanya dengan apron sederhana berwarna krem. Rambut panjangnya ia ikat asal menjadi kuncir kuda. Wajah yang biasanya dingin dan profesional di ruang rapat, kini berubah lembut dan hangat. Dapur kecilnya dipenuhi aroma wangi bawang putih dan rosemary yang ia tumis di atas wajan.

Di ruang makan, Seraphine dan Sebastian sudah duduk manis. Seraphine tidak bisa berhenti berceloteh, sementara Sebastian sesekali hanya melirik adiknya sambil mengetuk pelan garpu di meja, menunggu makan malam tersaji.

“Mommy, hari ini Sera main sama Nicholas lagi!” seru Seraphine, matanya berbinar penuh semangat.

Celline tersenyum, meski masih fokus mengaduk saus tomat kental untuk pasta. “Oh ya? Kalian main apa hari ini?” tanyanya dengan suara lembut.

“Kita tukeran mainan, Mommy! Nicholas kasih Sera mobil kecil warna biru, terus Sera kasih dia gantungan unicorn. Nicholas suka banget, dia bilang ini paling keren!. Besok kita mau main perosotan” Seraphine melambai-lambaikan tangannya, seolah sedang menunjukkan betapa pentingnya momen itu.

Celline meletakkan sendok kayu di meja dapur lalu mendekat untuk menaruh piring salad di meja makan. “Wah, Nicholas pasti senang sekali. Anak baik memang suka berbagi.”

Sambil berbalik lagi ke dapur, Celline menyalakan kompor untuk memanggang steak ayam yang sudah ia bumbui.

“Mommy, Nicholas cerita juga lho. Dia bilang dia punya Uncle yang keren! Tinggi banget, katanya mirip pangeran. Terus Nicholas bilang…” Seraphine menekankan suaranya sambil melirik kakaknya, “…Unclenya itu baik banget selalu ngasih Nicholas hadiah mainan yang sangat banyak”

Celline yang tengah mengangkat pan hampir menjatuhkannya karena kaget. Jantungnya berdetak lebih cepat, seolah ada sesuatu yang tiba-tiba mencengkram dadanya. “U-Uncle?” gumamnya pelan, mencoba terdengar biasa.

Seraphine mengangguk cepat, rambutnya yang dikuncir dua ikut bergoyang. “Iya! Uncle-nya Nicholas! Katanya ganteng banget, lebih ganteng dari pangeran di kartun.”

Celline pura-pura fokus menaruh steak ayam di piring, padahal telapak tangannya mulai berkeringat. Ia tidak bisa membiarkan anak-anak menangkap kegugupannya.

Melihat itu, Sebastian yang sedari tadi memperhatikan, buru-buru menegur. “Sera, makan dulu. Jangan bikin Mommy repot. Nanti makanannya dingin.”

Suara Sebastian terdengar tenang tapi tegas. Bocah itu memang punya sisi dewasa yang tidak biasa untuk anak seusianya.

Seraphine langsung mengatupkan mulut, meski masih tersenyum lebar. “Oke, Sera makan dulu.” Ia mengambil garpu kecil dan mulai menyuap potongan steak ayam yang sudah dipotongkan oleh Celline.

Celline menghela napas lega, lalu duduk di kursinya setelah menaruh semua hidangan di meja. Tangannya meraih gelas air putih, mencoba menenangkan diri. Pandangannya beralih ke Sebastian. “Tian, kamu tidak punya cerita hari ini?”

Sebastian mengunyah dengan rapi sebelum menjawab. “Sera sudah cerita semuanya, Mommy. Aku tidak perlu ulang lagi.”

Celline tersenyum tipis. “Termasuk cerita tentang pamannya Nicholas?” tanyanya dengan nada seolah santai, meski dalam hati bergejolak.

“Aku tak menyukai cerita tentang pamannya Nicholas.” Bastian berkata datar sambil menusukkan garpu ke potongan ayam di piringnya.

Celline menoleh cepat, sedikit terkejut dengan ucapan itu. “Kenapa?” tanyanya pelan, mencoba menahan nada suaranya agar tidak terdengar tegang.

“Karena Mommy terlihat tidak menyukainya,” jawab Bastian singkat.

Celline terdiam. Lidahnya kelu, tak mampu segera membantah.

Seraphine yang duduk di sebelahnya masih asyik mengunyah, sama sekali tak peka dengan ketegangan singkat di meja makan. “Mommy, ayamnya enak sekali!” seru gadis kecil itu riang, mencoba menarik perhatian ibunya.

Celline tersenyum samar, membelai rambut Sera, lalu mengalihkan pandangannya lagi pada Bastian yang masih menunduk pada makanannya.

Makan malam berlanjut dengan suasana hening, hanya diselingi suara sendok garpu beradu dengan piring. Celline berusaha tetap tenang, namun hatinya terasa berat. Kata-kata Bastian tadi masih terngiang jelas, menusuk ke dalam pikirannya. Anak laki-lakinya yang baru berusia lima tahun bisa membaca perasaannya dengan begitu tepat, seolah ia tak bisa menyembunyikan apa pun darinya.

Usai makan malam, Celline membersihkan meja sementara si kembar sudah berlari kecil ke kamar, berebut tempat tidur. “Mommy! Cepatlah, bacakan cerita sebelum tidur!” teriak Seraphine sambil mengangkat boneka unicorn kesayangannya.

Celline hanya terkekeh kecil, menghapus bekas saus di tangannya lalu menyusul. Malam itu ia membacakan dongeng singkat tentang kerajaan bintang. Seraphine terbuai cepat, sementara Bastian tetap membuka mata lebih lama, menatap ibunya tanpa banyak bicara. Baru setelah Celline menepuk pelan lengannya, anak itu akhirnya menyerah pada kantuk.

Kamar menjadi sunyi. Lampu tidur yang redup memantulkan bayangan lembut di dinding. Celline duduk di kursi kecil di dekat ranjang, memperhatikan kedua anaknya yang sudah terlelap. Napas mereka teratur, wajah polos mereka memancarkan ketenangan yang begitu berharga.

Namun justru di saat seperti ini, rasa bersalah menghantam lebih keras.

Celline menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, menutup wajah dengan telapak tangan. Hatinya perih ketika menyadari bahwa ia tengah mengulang pola yang sama seperti masa kecilnya. Ia dulu tumbuh tanpa kehadiran seorang ayah—kosong, rapuh, mudah tergoda pada seseorang seperti Jayden yang memberinya sedikit perhatian tapi akhirnya menjebaknya dalam luka.

Dan kini, meski ia berjuang mati-matian menjadi ibu sekaligus ayah, tetap saja kedua anaknya merasakan ketidakhadiran itu. Ironisnya, sosok ayah mereka bukanlah pria yang asing atau jauh di luar jangkauan. Jayden… justru ada di kota yang sama, bahkan sudah bertemu dua kali dengan anak-anaknya tanpa ia bisa cegah.

Celline memejamkan mata, berusaha menahan air mata yang mendesak keluar. Ia tidak pernah menyangka pertemuan dengan Jayden akan datang secepat ini. Sejak ia menerima perintah mutasi ke Washington, ia tahu kemungkinan itu ada, tapi ia masih berpikir punya waktu untuk mempersiapkan diri, menyusun langkah, bahkan mungkin menghindarinya.

Nyatanya, sudah terlambat.

Anak-anaknya sudah mengenal Nicholas, dan otomatis lingkaran itu semakin mempersempit jarak antara dirinya dan Jayden. Ia bisa saja menarik Sera dan Bastian keluar dari TK itu, mencari sekolah lain, tapi untuk apa? Itu hanya akan menimbulkan pertanyaan baru yang sulit dijawab. Lagipula, anak-anak sudah mulai nyaman di sana.

Celline menunduk, menatap kedua buah hatinya lagi. Seraphine tersenyum kecil dalam tidurnya, memeluk boneka unicorn kesayangannya. Bastian, meski tertidur, wajahnya tetap terlihat tenang dan dewasa, seolah bahkan dalam mimpi ia menjaga sang adik.

“Aku tidak boleh salah lagi,” bisik Celline hampir tanpa suara. “Apapun yang terjadi… Mommy akan pastikan kalian tidak terluka.”

Ia menghela napas panjang, lalu berdiri pelan-pelan agar tidak membangunkan mereka. Lampu tidur ia biarkan menyala, menebarkan cahaya lembut. Sambil keluar dari kamar, Celline menoleh sekali lagi, menatap anak-anaknya dengan penuh cinta bercampur ketakutan.

Malam itu, hatinya dipenuhi doa yang tak pernah ia ucapkan keras-keras: semoga takdir kali ini berpihak pada mereka, semoga masa lalu tak menghancurkan kebahagiaan kecil yang ia miliki sekarang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mattheo Casaano
syuuuuka!!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Epilog: Di Ujung Perjalanan, Awal Sebuah Kehidupan

    Waktu berjalan dengan caranya sendiri—diam-diam, tanpa suara, namun pasti. Ia tidak bertanya siapa yang siap dan siapa yang belum. Ia hanya bergerak, meninggalkan jejak-jejak kenangan yang perlahan berubah menjadi masa lalu, lalu menjadi pelajaran, dan akhirnya menjadi bagian dari siapa diri mereka hari ini.Hari kelulusan itu telah lama berlalu. Toga hitam, topi yang dilempar ke udara, sorak-sorai kebanggaan—semuanya kini hanya tersimpan rapi dalam album kenangan. Namun dari sanalah, hidup Bastian benar-benar dimulai.Setelah lulus, Bastian tidak memilih jalan yang mudah. Ia tidak langsung duduk di kursi tertinggi dengan nama besar keluarga Carter sebagai tameng. Atas keputusannya sendiri, dan dengan restu Jayden, ia memegang salah satu perusahaan cabang Carter Global Group yang berada di Las Vegas. Sebuah kota yang keras, penuh persaingan, dan tidak memberi ruang bagi mereka yang hanya mengandalkan nama.Di sanalah ia belajar menjadi pemimpin sesungguhnya—bukan hanya CEO di atas kert

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Bab 207 - Akhir Perjuangan

    Tiga tahun berlalu begitu cepat, seolah hanya jeda singkat antara satu musim ke musim berikutnya. Hari itu, aula utama kampus dipenuhi toga hitam, topi wisuda, dan wajah-wajah penuh harap. Di barisan kursi tamu kehormatan, keluarga Carter duduk berdampingan, sementara di sisi lain tampak keluarga Kingston dengan ekspresi yang tidak kalah haru.Hari ini adalah hari wisuda Bastian atau yang biasa di kenal dengan graduation ceremonies.Celline menggenggam tangan Jayden erat sejak awal acara. Matanya berkaca-kaca sejak nama fakultas disebutkan satu per satu. Jayden, yang biasanya tenang dan dingin, sesekali menarik napas panjang, berusaha menyembunyikan rasa bangga yang memenuhi dadanya.“Tidak terasa,” gumam Celline pelan. “Rasanya baru kemarin dia masuk kampus dengan ransel sederhana.”Jayden mengangguk. “Dan hari ini dia lulus lebih cepat dari jadwal.”Seraphine duduk di sebelah mereka, mengenakan gaun sederhana namun tetap elegan. Ia tersenyum lebar, meski di balik itu ada sedikit ras

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Bab 206 - Maaf yang Terucap, Waktu yang Menguji

    Di lingkungan kampus, nama Bastian kini nyaris tidak pernah luput dari pembicaraan. Ia bukan lagi sekadar mahasiswa beasiswa berprestasi, melainkan figur yang menjadi sorotan dari berbagai sisi. Prestasi akademiknya tetap konsisten, keaktifannya dalam beberapa forum internasional mulai dikenal, dan ditambah statusnya sebagai putra Jayden Carter, membuat namanya semakin sering disebut-sebut.Bastian menjadi the most wanted—bukan hanya karena latar belakang keluarganya, tetapi juga karena reputasinya yang bersih dan sikapnya yang rendah hati. Hal itu justru membuat sebagian orang semakin kagum, sementara yang lain hanya bisa menelan penyesalan atas sikap mereka di masa lalu.Namun di tengah semua sorotan itu, hidup Bastian tidak berubah banyak. Ia tetap datang ke kampus tepat waktu, tetap belajar dengan sungguh-sungguh, dan tetap menggenggam tangan Laura dengan cara yang sama seperti sebelum semua orang tahu siapa dirinya sebenarnya.Suatu malam, Laura mengajak Bastian makan malam di ke

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Bab 205 - Pilihan yang Dihormati

    Malam semakin larut di hotel tempat keluarga Carter beristirahat. Suite utama yang biasanya terasa hangat dan tenang malam itu justru dipenuhi suasana tegang. Bastian duduk di sofa dengan punggung tegak, sementara di hadapannya Jayden berdiri dengan kedua tangan bersedekap. Celline duduk di samping Jayden, sedangkan Seraphine bersandar di dinding dengan ekspresi penasaran sekaligus waspada.Jika dilihat sepintas, suasana itu benar-benar mirip sidang keluarga.“Jelaskan,” ucap Jayden akhirnya, suaranya datar namun sarat tekanan. “Siapa perempuan itu?”Bastian menelan ludah. Ia melirik singkat ke arah Celline, lalu ke Seraphine yang mengangkat alis seolah memberi isyarat ayo jujur saja. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bicara.“Namanya Laura, Dad,” ucapnya hati-hati. “Dia pacarku.”Ruangan itu mendadak sunyi.Celline menoleh cepat ke arah Bastian. “Pacar?” ulangnya pelan, jelas terkejut.Seraphine spontan tersenyum kecil. “Akhirnya,” gumamnya lirih, meski tetap memasang waj

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Bab 204 - Terlambat Menyadari

    Mobil keluarga Kingston akhirnya memasuki halaman rumah megah mereka. Lampu-lampu taman menyala terang, tetapi suasana di dalam mobil justru terasa gelap dan menekan. Sejak meninggalkan pesta, Jonathan hampir tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Rahangnya mengeras, matanya menatap kosong ke depan. Angelica beberapa kali melirik suaminya, lalu ke arah Laura yang duduk diam di kursi belakang.Begitu mobil berhenti dan mereka masuk ke dalam rumah, Jonathan langsung melepas jasnya dengan gerakan kasar. Ia berbalik menghadap Laura yang baru saja menaruh tasnya di sofa.“Laura,” ucapnya tegas, suaranya terdengar lebih keras dari biasanya. “Duduk.”Laura menahan napas, lalu menurut. Ia duduk di sofa dengan punggung tegak, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan.Jonathan berdiri di hadapannya, sementara Angelica ikut duduk di kursi seberang. Raut wajah keduanya jelas menunjukkan kegelisahan yang belum mereda.“Kenapa kamu tidak pernah bilang dari awal?” tanya Jonathan cepat. “Kenapa k

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Bab 203 - Sang Pewaris

    Begitu kata-kata Jayden Carter menggema di seluruh ballroom, suasana seketika membeku. Tidak ada lagi denting gelas, tidak ada bisik-bisik, bahkan musik latar pun terasa seperti lenyap. Semua tamu berdiri terpaku, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar.Jayden melangkah satu langkah ke depan. Tatapannya tajam, penuh wibawa yang tidak memberi ruang untuk dibantah.“Tidak akan ada seorang pun,” ucapnya dengan suara tegas dan dingin, “yang bisa menyakiti anak saya.”Kalimat itu meluncur tenang, tetapi dampaknya menghantam seluruh ruangan.Bastian yang sejak tadi berdiri kaku, akhirnya menoleh sepenuhnya ke arah pria yang baru saja membelanya tanpa ragu. Dadanya naik turun, perasaannya campur aduk. Ia melangkah maju, sedikit ragu, lalu menyapanya dengan hangat.“Daddy,” sapa Bastian pelan namun jelas.Satu kata itu seperti petir di siang bolong.Sekejap, wajah-wajah di sekitar berubah. Mata-mata yang semula hanya terkejut kini membelalak penuh keterpanaan. Bisik-bisik tertahan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status