/ Romansa / Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi / Bab 6 - Cucu yang Diharapkan

공유

Bab 6 - Cucu yang Diharapkan

작가: Kayden Kim
last update 최신 업데이트: 2025-09-29 13:01:46

Mobil hitam yang dikendarai Jayden melaju mulus di jalanan Washington sore itu. Nicholas duduk di kursi belakang dengan wajah penuh semangat, tangan mungilnya menggenggam erat gantungan unicorn pemberian Seraphine.

“Uncle, lihat ini! Sera kasih aku gantungan unicorn dari Italia!” serunya sambil mengangkat mainan itu tinggi-tinggi, seolah itu harta karun.

Jayden melirik lewat kaca spion. Bibirnya melengkung tipis. “Unicorn, hm? Sepertinya kamu sangat menyukainya.”

“Yes! Dan tahu tidak, Bastian juga kasih aku mobil mainan Ferrari. Katanya itu koleksi favoritnya dari Italy. Uncle, mereka baik banget, aku suka sekali main sama mereka!” Nicholas terus berbicara dengan antusias.

Jayden hanya mengangguk pelan. Ada rasa heran yang muncul dalam dirinya. Nicholas biasanya butuh waktu lama untuk akrab dengan orang baru. Tapi kali ini, hanya dalam beberapa hari, ia begitu dekat dengan dua anak kembar itu.

“Mommy mereka juga cantiiiiik banget,” Nicholas menambahkan polos, matanya berbinar. “Dan Daddy mereka tampan, mirip kayak Uncle Jayden. Tapi Mommy mereka lebih cantik dari Aunty Bella, bahkan lebih baik juga.”

Jayden terdiam sejenak. Senyuman getir melintas di wajahnya. Anak kecil memang suka bicara apa adanya, tanpa filter. Namun ucapan itu membuat dadanya terasa sesak. Ia hanya bisa menanggapi dengan gumaman lirih.

“Ya… anak-anak memang jujur.”

Nicholas tak berhenti berceloteh, sementara Jayden membiarkan dirinya larut dalam pikiran. Ada sesuatu dalam cerita bocah itu yang menimbulkan rasa penasaran mendalam, tapi ia memilih untuk menahannya.

Sesampainya di mansion keluarga Carter, Jayden turun dan dengan mudah menggendong Nicholas yang mulai menguap kelelahan. Mereka masuk ke ruang keluarga yang luas dengan aroma apel segar memenuhi udara.

Di sofa elegan, ibunya, Melanie Carter, tampak serius membaca majalah fashion edisi terbaru. Sementara di sudut lain, Scarlett—kakak perempuan Jayden sekaligus mommy Nicholas—sedang mengupas apel dengan santai. Rupanya, ia sudah kembali dari Rusia tanpa memberi kabar.

“Lihat siapa yang datang!” Scarlett bersuara ringan begitu melihat adiknya. Ia tersenyum penuh arti. “Kau terlihat sangat cocok menjadi seorang ayah, Jay.”

Jayden mendengus kecil, meletakkan Nicholas yang tertidur di pangkuan Scarlett. “Aku hanya menjemput keponakanku. Itu saja.”

Scarlett terkekeh. “Tetap saja, caramu menggendong Nicholas, caramu menyayanginya… semua itu sangat natural. Seolah-olah kau memang ditakdirkan menjadi ayah.”

Sebelum Jayden sempat membalas, suara ibunya tiba-tiba menyahut, dingin namun penuh tekanan. “Sayangnya, sudah lima tahun pernikahanmu dengan Bella, dan belum ada cucu yang bisa kupeluk.”

Jayden menoleh, sorot matanya mengeras. “Bukankah ada Nicholas? Ia sudah seperti anakku sendiri.”

Melanie menurunkan majalahnya, menatap lurus pada putranya. “Jangan berkelit, Jay. Nicholas memang cucu kami, tapi ia bukan tanggung jawabmu. Aku ingin cucu dari darah dagingmu sendiri. Dari pernikahanmu. Apa terlalu sulit bagimu dan Bella untuk memberi keluarga ini seorang penerus?”

Scarlett menatap bergantian antara ibunya dan adiknya, suasana yang awalnya ringan mendadak berubah tegang.

Jayden menarik napas panjang. “Aku dan Bella sibuk, Mom. Banyak hal yang harus kami urus. Anak bukanlah hal yang bisa dipaksakan hanya untuk memenuhi ambisi keluarga.”

“Ambisi?” nada suara Melanie meninggi. “Kau pikir ini sekadar ambisi? Ini kewajiban, Jayden! Kau pewaris utama keluarga Carter. Tanggung jawabmu bukan hanya menjaga perusahaan, tapi juga memastikan garis keturunan tetap ada. Pamanmu sudah memiliki enam cucu? Sedangkan kami? Hanya ada Nicholas. Lima tahun menikah, nihil!”

Kata-kata itu menghujam seperti pisau. Scarlett memilih diam, tak ingin ikut memperkeruh suasana. Ia hanya menepuk lembut punggung Nicholas yang masih tertidur, seolah berusaha mengalihkan perhatian.

Jayden menatap ibunya dengan sorot penuh kelelahan. “Apakah semua yang kulakukan selama ini tidak cukup? Aku menjaga perusahaan, aku menjaga nama baik keluarga, aku menjaga semuanya. Tapi rupanya di mata kalian… semua itu tidak ada artinya tanpa seorang anak.”

“Tidak cukup, Jayden,” jawab Melanie tegas, matanya berkilat. “Selama kau belum memberi kami cucu, posisimu sebagai pewaris keluarga Carter bisa saja dipertanyakan.”

Hening menelan ruangan. Jayden mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Ia ingin membantah, tapi tahu percuma. Apa pun yang dikatakannya tak akan bisa mengubah obsesi ibunya pada cucu dan penerus.

Akhirnya ia hanya berbalik, melangkah menuju tangga dengan jas yang masih menempel di pundaknya.

“Aku lelah,” ucapnya singkat sebelum menghilang ke lantai atas.

Scarlett menghela napas, lalu menoleh pada ibunya. “Mom… kau terlalu keras pada Jay.”

Melanie menutup kembali majalahnya dengan bunyi plak. “Aku hanya realistis, Scarlett. Keluarga Carter tidak bisa dipertaruhkan hanya karena emosi atau keengganan anakku untuk berkomitmen penuh.”

Scarlett memeluk Nicholas yang terlelap, senyum tipis terlukis di bibirnya. “Entah kau sadar atau tidak, Mom, tapi cara seperti ini hanya akan membuat Jayden semakin jauh… bahkan mungkin semakin tertekan.”

Melanie tak menjawab, matanya hanya menatap kosong ke arah jendela besar mansion, seakan terbenam dalam pikiran yang lebih gelap daripada sekadar keinginan akan seorang cucu.

Ruang keluarga mansion Carter yang megah terasa hening sesaat setelah Jayden meninggalkan percakapan sengit tadi. Namun, keheningan itu tidak berlangsung lama. Melanie, sang ibu, menurunkan kembali majalahnya dan menatap Scarlett yang sibuk menenangkan Nicholas di pelukannya.

“Kau tahu, Scarlett,” suara Melanie terdengar pelan, tetapi sarat tekanan, “coba bandingkan dengan keluarga adik ayahmu. Rumah mereka selalu ramai dengan tawa enam cucu. Sementara kita?” ia menghela napas panjang. “Rumah ini sunyi, kecuali jika Nicholas kebetulan menginap. Kalau suatu saat kau membawanya kembali ke rumahmu, mansion ini akan kembali terasa kosong.”

Scarlett menoleh pelan, alisnya bertaut. “Mom, kau tidak bisa membandingkan begitu saja. Hidup setiap orang berbeda, pilihan juga berbeda. Jayden dan Bella mungkin punya rencana mereka sendiri.”

Melanie mengibaskan tangan, jelas tidak puas dengan jawaban itu. “Rencana? Lima tahun pernikahan tanpa seorang anak bukanlah rencana, Scarlett. Itu kelalaian. Kau tahu sendiri bagaimana ayah dan kakek kalian. Mereka masih sangat mementingkan garis keturunan, apalagi dari pihak laki-laki. Jika Jayden tidak segera memberi cucu, posisinya sebagai pewaris Carter bisa terancam.”

Scarlett terdiam. Ia tahu ibunya tidak berlebihan. Sang kakek dan ayah memang keras kepala, dan persaingan dengan keluarga adik ayah mereka sudah berlangsung lama. Hanya saja, ia kasihan melihat adiknya terus ditekan dengan cara seperti itu.

“Mom,” Scarlett akhirnya bersuara lembut, “menikah dan punya anak bukan sekadar kewajiban keluarga. Itu kehidupan pribadi. Kalau kau terus memaksa, aku takut Jayden justru semakin menjauh.”

Melanie mendesah keras, seolah tidak ingin mendengar alasan apa pun. “Aku tidak peduli. Yang kupedulikan hanyalah masa depan keluarga ini. Jika Jayden tidak bisa menunaikan kewajibannya, mungkin ayahmu harus mulai mempertimbangkan cucu laki-laki dari garis lain.”

Kata-kata itu terasa seperti ancaman yang menusuk udara. Scarlett menatap ibunya lama, tapi memilih bungkam. Ia tahu, berdebat dengan Melanie hanya akan memperkeruh suasana.

Langkah kaki berat terdengar dari arah tangga. Jayden kembali turun, kali ini tanpa jas, hanya dengan kemeja yang sedikit terbuka di bagian kerah. Ekspresinya dingin, tapi sorot matanya menyiratkan kemarahan yang dipendam.

“Jayden,” panggil Melanie, nadanya masih berusaha tegas namun tidak setajam tadi. “Kau harus mengerti, semua ini untuk kebaikanmu juga. Aku tidak ingin melihat posisimu digoyahkan hanya karena kau tidak mampu memberikan cucu.”

Jayden menghentikan langkahnya, berdiri tegak di depan ibunya. Rahangnya mengeras, dan tangan kirinya mengepal di sisi tubuh. “Setiap kali aku datang ke rumah ini, selalu saja topiknya cucu, cucu, dan cucu. Tidak ada hal lain yang bisa kita bicarakan, Mom?”

Scarlett melirik ke arah Jayden, mencoba memberikan isyarat agar ia tidak terpancing emosi. Tapi adiknya sudah terlalu jenuh.

“Jay,” Scarlett mencoba menengahi, “Mom hanya khawatir…”

Jayden menoleh cepat, menatap kakaknya dengan tajam. “Aku tahu apa yang Mom khawatirkan, Scarlett. Aku juga tahu apa yang Grandpa pikirkan. Mereka selalu menganggapku mesin pewaris yang tugasnya hanya bekerja dan memperbanyak keturunan. Apa semua pengorbananku selama ini tidak cukup?”

Melanie berdiri, wajahnya menegang. “Tidak akan cukup sampai kau menunaikan kewajiban itu, Jayden. Tanpa cucu, tanpa penerus, semua kerja kerasmu bisa lenyap begitu saja. Kau tahu bagaimana keluarga pamanmu menunggu kesempatan itu!”

Jayden mendengus, rasa muak tercermin jelas di wajahnya. “Lucu sekali. Seolah semua pencapaian, semua jam kerja tanpa henti, semua yang kulakukan demi perusahaan… tidak ada artinya hanya karena Bella dan aku belum punya anak.”

“Karena memang begitulah kenyataannya!” potong Melanie, nadanya tajam seperti cambuk.

Scarlett menghela napas panjang, menunduk pada Nicholas yang masih tertidur, berusaha menjauhkan telinganya dari ketegangan keluarga yang membara.

Jayden menatap ibunya lama, kemudian kepalanya tertunduk, seolah mencoba menahan sesuatu yang mendidih dalam dirinya. Saat ia kembali mendongak, tatapannya tajam dan dingin.

“Kalau begitu,” ucapnya pelan namun penuh amarah, “mungkin Mom sebaiknya berdoa saja. Berdoa agar suatu hari ada seorang wanita yang tiba-tiba muncul di depan pintu ini, membawa seorang anak kecil… lalu mengaku bahwa itu adalah anakku.”

이 책을.
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
Mattheo Casaano
mulai seru nih
goodnovel comment avatar
jihan paramittha
lanjut ......
댓글 모두 보기

최신 챕터

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Epilog: Di Ujung Perjalanan, Awal Sebuah Kehidupan

    Waktu berjalan dengan caranya sendiri—diam-diam, tanpa suara, namun pasti. Ia tidak bertanya siapa yang siap dan siapa yang belum. Ia hanya bergerak, meninggalkan jejak-jejak kenangan yang perlahan berubah menjadi masa lalu, lalu menjadi pelajaran, dan akhirnya menjadi bagian dari siapa diri mereka hari ini.Hari kelulusan itu telah lama berlalu. Toga hitam, topi yang dilempar ke udara, sorak-sorai kebanggaan—semuanya kini hanya tersimpan rapi dalam album kenangan. Namun dari sanalah, hidup Bastian benar-benar dimulai.Setelah lulus, Bastian tidak memilih jalan yang mudah. Ia tidak langsung duduk di kursi tertinggi dengan nama besar keluarga Carter sebagai tameng. Atas keputusannya sendiri, dan dengan restu Jayden, ia memegang salah satu perusahaan cabang Carter Global Group yang berada di Las Vegas. Sebuah kota yang keras, penuh persaingan, dan tidak memberi ruang bagi mereka yang hanya mengandalkan nama.Di sanalah ia belajar menjadi pemimpin sesungguhnya—bukan hanya CEO di atas kert

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Bab 207 - Akhir Perjuangan

    Tiga tahun berlalu begitu cepat, seolah hanya jeda singkat antara satu musim ke musim berikutnya. Hari itu, aula utama kampus dipenuhi toga hitam, topi wisuda, dan wajah-wajah penuh harap. Di barisan kursi tamu kehormatan, keluarga Carter duduk berdampingan, sementara di sisi lain tampak keluarga Kingston dengan ekspresi yang tidak kalah haru.Hari ini adalah hari wisuda Bastian atau yang biasa di kenal dengan graduation ceremonies.Celline menggenggam tangan Jayden erat sejak awal acara. Matanya berkaca-kaca sejak nama fakultas disebutkan satu per satu. Jayden, yang biasanya tenang dan dingin, sesekali menarik napas panjang, berusaha menyembunyikan rasa bangga yang memenuhi dadanya.“Tidak terasa,” gumam Celline pelan. “Rasanya baru kemarin dia masuk kampus dengan ransel sederhana.”Jayden mengangguk. “Dan hari ini dia lulus lebih cepat dari jadwal.”Seraphine duduk di sebelah mereka, mengenakan gaun sederhana namun tetap elegan. Ia tersenyum lebar, meski di balik itu ada sedikit ras

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Bab 206 - Maaf yang Terucap, Waktu yang Menguji

    Di lingkungan kampus, nama Bastian kini nyaris tidak pernah luput dari pembicaraan. Ia bukan lagi sekadar mahasiswa beasiswa berprestasi, melainkan figur yang menjadi sorotan dari berbagai sisi. Prestasi akademiknya tetap konsisten, keaktifannya dalam beberapa forum internasional mulai dikenal, dan ditambah statusnya sebagai putra Jayden Carter, membuat namanya semakin sering disebut-sebut.Bastian menjadi the most wanted—bukan hanya karena latar belakang keluarganya, tetapi juga karena reputasinya yang bersih dan sikapnya yang rendah hati. Hal itu justru membuat sebagian orang semakin kagum, sementara yang lain hanya bisa menelan penyesalan atas sikap mereka di masa lalu.Namun di tengah semua sorotan itu, hidup Bastian tidak berubah banyak. Ia tetap datang ke kampus tepat waktu, tetap belajar dengan sungguh-sungguh, dan tetap menggenggam tangan Laura dengan cara yang sama seperti sebelum semua orang tahu siapa dirinya sebenarnya.Suatu malam, Laura mengajak Bastian makan malam di ke

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Bab 205 - Pilihan yang Dihormati

    Malam semakin larut di hotel tempat keluarga Carter beristirahat. Suite utama yang biasanya terasa hangat dan tenang malam itu justru dipenuhi suasana tegang. Bastian duduk di sofa dengan punggung tegak, sementara di hadapannya Jayden berdiri dengan kedua tangan bersedekap. Celline duduk di samping Jayden, sedangkan Seraphine bersandar di dinding dengan ekspresi penasaran sekaligus waspada.Jika dilihat sepintas, suasana itu benar-benar mirip sidang keluarga.“Jelaskan,” ucap Jayden akhirnya, suaranya datar namun sarat tekanan. “Siapa perempuan itu?”Bastian menelan ludah. Ia melirik singkat ke arah Celline, lalu ke Seraphine yang mengangkat alis seolah memberi isyarat ayo jujur saja. Ia menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya bicara.“Namanya Laura, Dad,” ucapnya hati-hati. “Dia pacarku.”Ruangan itu mendadak sunyi.Celline menoleh cepat ke arah Bastian. “Pacar?” ulangnya pelan, jelas terkejut.Seraphine spontan tersenyum kecil. “Akhirnya,” gumamnya lirih, meski tetap memasang waj

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Bab 204 - Terlambat Menyadari

    Mobil keluarga Kingston akhirnya memasuki halaman rumah megah mereka. Lampu-lampu taman menyala terang, tetapi suasana di dalam mobil justru terasa gelap dan menekan. Sejak meninggalkan pesta, Jonathan hampir tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Rahangnya mengeras, matanya menatap kosong ke depan. Angelica beberapa kali melirik suaminya, lalu ke arah Laura yang duduk diam di kursi belakang.Begitu mobil berhenti dan mereka masuk ke dalam rumah, Jonathan langsung melepas jasnya dengan gerakan kasar. Ia berbalik menghadap Laura yang baru saja menaruh tasnya di sofa.“Laura,” ucapnya tegas, suaranya terdengar lebih keras dari biasanya. “Duduk.”Laura menahan napas, lalu menurut. Ia duduk di sofa dengan punggung tegak, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan.Jonathan berdiri di hadapannya, sementara Angelica ikut duduk di kursi seberang. Raut wajah keduanya jelas menunjukkan kegelisahan yang belum mereda.“Kenapa kamu tidak pernah bilang dari awal?” tanya Jonathan cepat. “Kenapa k

  • Cinta Terlarang, Anak Tersembunyi   Bab 203 - Sang Pewaris

    Begitu kata-kata Jayden Carter menggema di seluruh ballroom, suasana seketika membeku. Tidak ada lagi denting gelas, tidak ada bisik-bisik, bahkan musik latar pun terasa seperti lenyap. Semua tamu berdiri terpaku, mencoba mencerna apa yang baru saja mereka dengar.Jayden melangkah satu langkah ke depan. Tatapannya tajam, penuh wibawa yang tidak memberi ruang untuk dibantah.“Tidak akan ada seorang pun,” ucapnya dengan suara tegas dan dingin, “yang bisa menyakiti anak saya.”Kalimat itu meluncur tenang, tetapi dampaknya menghantam seluruh ruangan.Bastian yang sejak tadi berdiri kaku, akhirnya menoleh sepenuhnya ke arah pria yang baru saja membelanya tanpa ragu. Dadanya naik turun, perasaannya campur aduk. Ia melangkah maju, sedikit ragu, lalu menyapanya dengan hangat.“Daddy,” sapa Bastian pelan namun jelas.Satu kata itu seperti petir di siang bolong.Sekejap, wajah-wajah di sekitar berubah. Mata-mata yang semula hanya terkejut kini membelalak penuh keterpanaan. Bisik-bisik tertahan

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 책을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 책을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status