Masuk“Kita mampir dulu."
Lionel membelokkan mobil yang dia kendarai ke sebuah coffee shop yang buka dua puluh empat jam.
“Ya…” angguk Meilissa, bertepatan dengan mobil berhenti di area parkir yang disediakan.
“Tunggu. Sebentar saja,” ucap Lionel, langsung keluar tanpa menunggu respon Meilissa.
Meilissa menatap punggung Lionel yang masuk ke dalam coffee shop. Dia heran pada dirinya sendiri. Meski canggung, tapi Meilissa menyadari satu hal. Dia tidak takut pada Lionel. Lelaki itu berbeda sekali dengan pacar-pacar Mamanya yang selalu menatapnya penuh minat.
Lionel memperlakukan dia dengan sangat sopan. Cara bicaranya, gerak gerik dan tutur katanya pun lembut.
Tidak lama, Lionel kembali muncul dengan satu kantung besar dan satu kantung kecil.
“Makan yang ini.” Dia memberikan kantong kecil pada Meilissa, kemudian dia mengangkat kantong besar, “Bawa pulang. Jadi, kamu tidak perlu masak untuk sarapan.”
Meilissa melongok kantong kecil, yang ternyata berisi satu gelas cokelat hangat dan croissant. Hatinya berdesir. Perhatian sekecil apa pun terasa berharga bagi Meilissa.
“Terima kasih, Om,” ucapnya, menatap Lionel dengan tatapan terharu.
Dia mengambil kantong-kantong itu dari Lionel dan meletakkannya di pangkuan.
Lionel baik sekali. Dia memberi sarapan untuk Miranda dan dirinya. Senyum perlahan merekah bersamaan dengan sesuatu yang asing menyelinap masuk ke dalam hatinya.
Lionel tersenyum. “Habiskan sekarang,” perintahnya lembut tapi tegas.
Meilissa mengangguk pelan, lalu mengambil sarapannya. Saat cokelat menyentuh lidah rasa manisnya terasa meleleh hingga turun ke hati dan menyebar ke seluruh tubuh.
Perjalanan pun berlanjut. Meilissa makan tanpa bicara, demikian pula dengan Lionel yang mengendarai mobilnya dalam diam.
Dokter tampan itu sengaja memberikan waktu bagi Meilissa untuk menikmati makanannya. Hingga, tibalah mereka di depan rumah Meilissa.
“Itu rumahku, Om. Terima kasih untuk tumpangan dan makanannya. Maaf merepotkan,” ucap Meilissa, sedikit membungkukkan tubuh.
"Anytime. Dengan senang hati." Lionel menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis, lalu perlahan menjalankan mobilnya.
Meilissa menunggu beberapa saat di pinggir jalan. Dia menatap mobil mewah milik Lionel hingga menghilang di tikungan.
Saat mobil itu menghilang, Meilissa merasa ada sesuatu yang ikut hilang dari dalam dirinya. Menghembuskan napas, Meilissa menunduk dan berbalik badan dengan lesu.
Dia berjalan sambil memeluk kantong besar berisi sarapan. Langkahnya gontai menuju rumah. Berat rasanya kembali ke rumah setelah sekian jam merasakan suasana hangat dan aman.
Begitu membuka pintu rumah, Meilissa tersentak. Kondisi rumah sangat berantakan! Seperti baru diterjang tornado.
Rumah yang mereka sewa sangat sederhana dan kecil. Saat pintu terbuka semua ruang langsung tampak dalam satu pandangan mata.
Ruang tamu, ruang makan, dapur dan tempat menonton TV menyatu tanpa sekat.
Meilissa mengedarkan pandangan dengan sangat sedih. Botol dan kaleng kosong bekas minuman berserakan di lantai. Pakaian dalam wanita dan pria tersebar di sekitar sofa. Kondom bekas pakai dan tissue-tissue kotor ada di atas sofa.
Bahu gadis itu luruh. Kakinya berjalan dengan sangat lambat, matanya kini tertuju pada meja makan. Disana ada bekas kotak-kotak makanan dari restoran siap saji, serta puntung-puntung rokok.
“Ya Tuhan…,” desis Meilissa, tidak bisa berkata-kata lagi. Pekerjaan rumah sudah menantinya.
Menelan ludah, Meilissa menurunkan kantong makanannya perlahan di meja makan dan mulai membersihkan sampah-sampah di meja itu.
Saat ingin membuang sampah, Meilissa melihat pecahan kaca di lantai dekat meja makan. Maka, Meilissa berjinjit dan berjalan dengan hati-hati -- berusaha melewati serpihan kaca tanpa melukai kakinya.
Meilissa sedang mengambil sapu dan bersiap membersihkan semua kekacauan ini ketika telinganya menangkap suara benda dijatuhkan ke lantai.
Buk!
Prak!
Meilissa mematung untuk menajamkan pendengaran. Suara-suara itu datang dari arah kamarnya.
Serta merta Meilissa menoleh ke kamar. Matanya terbelalak saat mendapati pintu kamarnya terbuka lebar. Handle pintu tampak rusak karena dibuka paksa.
Jantung Meilissa berdebar kencang karena emosi dan terkejut. Dia bergegas ke kamar dengan perasaan campur aduk.
“Mama, apa yang Mama lakukan?!” seru Meilissa dari ambang pintu. Kamarnya tidak kalah berantakan dengan ruangan yang lain. Barang-barangnya bertebaran di lantai. Pakaian-pakaian keluar dari lemari kecilnya. Buku-bukunya berjatuhan dari rak.
Miranda berbalik, lalu menatap Meilissa seperti singa yang hendak menerkam buruan. Nyali Meilissa ciut. Saat Miranda melangkah mendekat, Meilissa refleks mundur.
Tapi ternyata, Miranda lebih cepat. Dia menyambar tangan Meilissa dengan sengit, mencegah gadis itu untuk kabur.
“Dasar kurang ajar!” teriak Miranda menggelegar. Tangannya bergerak cepat, mencengkeram rahang Meilissa dengan kuat. “Kamu tahu kan aku paling tidak suka dibohongi?!"
“Ugh… sakit!” rintih Meilissa saat kuku panjang Miranda menancap di pipinya tanpa ampun.
"Dasar pembohong!"
“Aku tidak bohong,” bantah Meilissa, meringis menahan perih di pipi. Ada banyak hal yang dia tutupi dari Mamanya, semua demi melindungi diri.
“INI APAAA?!” teriak Miranda histeris. Dia mengacungkan lembaran-lembaran uang tepat di depan hidung Meilissa. “Beraninya kamu main sembunyi-sembunyian sama Mama!”
Meilissa menelan ludah. Uang simpanannya ditemukan oleh Miranda.
“Itu untuk bayar uang sewa rumah, Mama. Jumlahnya masih kurang. Jangan diambil,” geram Meilissa, antara putus asa dan kesal.
Perih di pipinya seketika terlupakan, tertutup oleh kalut yang terasa lebih dominan. Sekali uang itu jatuh ke tangan Miranda, pasti habisnya hanya hitungan menit. Dan, itu artinya Meilissa harus mencari uang lagi.
“Bayar sewa masih bulan depan. Kamu bisa cari tambahan penghasilan lainnya. Jangan sibuk kuliah! Buang-buang waktu saja!” ketus Miranda sambil melepaskan rahang Meilissa dengan kasar yang menghentak.
Meilissa sedikit terhuyung ke belakang, lengannya tidak sengaja membentur meja cukup keras.
Tapi, sebelum dia sempat kembali berdiri tegak...
SRET!
Tas kecil di bahunya lenyap. Meilissa mengumpat dalam hati. Tasnya sekarang sudah ada di tangan Miranda. Wanita paruh baya itu membuka tas milik Meilissa. Benda pertama yang diambil adalah dompet.
Firasat buruk menyergap Meilissa. “Mama! Itu dompetku?!” seru Meilissa marah. Dia mencoba merebut dompetnya, tapi Miranda dengan cepat berkelit.
Miranda berdiri memunggungi puterinya, lalu dengan sangat cepat membuka dompet dan mengambil semua lembaran uang yang ada di dalamnya. Tanpa menyisakan apa pun.
“Cih! Masih kurang."
Seakan tidak puas, Miranda melemparkan dompet itu ke sembarang arah, lalu mengeluarkan semuanm isi tas puterinya. Tissue, hand sanitizer dan ponsel jatuh ke lantai.
Meilissa menatap pilu pada dompet yang teronggok di lantai. Bahunya luruh saat memungut barang-barangnya.
Detik itu juga, dia menyadari kalau seluruh uangnya dirampas, termasuk uang-uang yang dia selipkan diantara tumpukan pakaian dan lembaran buku.
“Mama benar-benar keterlaluan,” desis Meilissa kesal. Dadanya terasa bergemuruh karena luapan emosi.
“Kamu yang tidak tahu diri!” bentak Miranda. “Ingat! Aku yang melahirkan kamu. Merawatmu saat kecil hingga besar. Uang segini tidak cukup untuk membalas budi!”
Setelah mengatakan itu, Miranda keluar dari kamar, meninggalkan luka di pipi dan hati Meilissa.
BRAK!
Miranda keluar rumah sambil membanting pintu keras-keras. Suaranya menyentak hati Meilissa.
Air mata mengalir membasahi pipi Meilissa. Tubuh gadis itu merosot ke lantai.
“Om Lionel, kenapa rumahmu terasa lebih nyaman dari rumah Mama?" tangisnya tanpa suara.
Pagi harinya, Meilissa merasakan sisi tempat tidur di sebelahnya kosong. Hawa hangat yang tadi malam membungkus tubuhnya kini berganti dengan udara kamar yang lebih dingin.Ia terduduk perlahan dan mengucek mata."Om?" panggilnya dengan suara serak khas bangun tidur."Ya?" Lionel yang sedang mengenakan kemejanya menoleh. Sorot matanya langsung melembut. "Selamat pagi, Sayang."Cahaya matahari menyusup melalui tirai otomatis yang terbuka setengah, memantulkan kilau lembut pada cermin besar di depan Lionel."Om mau kerja?" tanya Meilissa sambil menguap kecil. Ia melirik jam digital yang menempel di dinding. Pukul enam pagi tepat.Sebagai dokter sekaligus pemilik Rumah Sakit Sinclair, jam segini memang waktunya dia berangkat kerja."Aku mau ke kamar Liora, lalu pergi ke rumah sakit." Lionel merapikan manset kemejanya di depan cermin. "Aku khawatir dia terbangun dan mencari kamu duluan.""Oh, aku juga akan bersiap. Hari ini seharusnya aku mulai bekerja lagi." Meilissa mengepit selimut dan
Lionel menarik tangan Meilissa menuju pintu keluar kamar Liora.Begitu pintu tertutup pelan di belakang mereka, suasana berubah. Hening koridor dari kamar Liora ke kamar Lionel terasa kontras dengan detak jantung mereka yang mendadak tidak beraturan.Detik berikutnya, Lionel merengkuh pinggang Meilissa dan menariknya ke dalam pelukan hangatnya."Mari kita selesaikan urusan kita malam ini," bisiknya rendah di dekat telinga sang istri.Nada suaranya tidak hanya menggoda, tapi juga tersirat sebuah desakan yang berhasil membuat napas Meilissa tertahan sesaat.Kedua tangan Lionel mencengkeram lembut pinggul Meilissa. Jarak yang begitu dekat membuat Meilissa merasakan gairah yang tidak lagi disembunyikan.Dia tersenyum, sambil mengerlingkan mata. Wajahnya mendekat perlahan, sengaja menyisakan jarak tipis di antara bibir mereka."Ayo, Om. Tunggu apa lagi?" tantangnya kemudian. Meilissa tidak lagi malu-malu. Dia juga menginginkan Lionel.Sorot mata Lionel semakin berkabut. Semua beban hari ini
"Bangunkan aku di kamar Liora, Om."Pesan itu dikirim Meilissa beberapa menit sebelum dia tertidur. Hingga saat ini, dia sengaja menggunakan panggilan Om untuk mempermudah kamuflase hubungan mereka.Setidaknya sampai pernikahan mereka terbuka, dia akan terus memakai panggilan itu.Sekitar satu jam kemudian, Lionel berdiri di depan pintu kamar Liora. Dia langsung membuka pintu kamar dan masuk ke dalam tanpa suara.Suasana di dalam kamar terasa hangat dan tenang, kontras dengan perasaan hatinya yang bergolak akibat percakapannya dengan Beatrice. karena pertemuan dengan Beatrice.Bayangan wajah Beatrice yang tenang tapi menghanyutkan. Lalu, pesan terakhir sebelum pulang yang penuh tekanan. Semuanya silih berganti muncul di kepalanya.Tapi, pemandangan di hadapannya membuat ketegangan di wajahnya perlahan mengendor.Di atas tempat tidur, Meilissa dan Liora sedang tidur sambil berpelukan. Liora meringkuk di sisi kanan, wajahnya separuh tersembunyi di balik selimut.Meilissa memeluknya deng
"Tadi aku sudah bilang kalau aku yang akan menentukan waktu pertemuan kalian kan?"Lionel menjawab pertanyaan Beatrice dengan tenang. Nada suaranya tidak meninggi, tetapi ada ketegasan yang tidak bisa ditawar.Terdiam, Beatrice menatap lekat-lekat pada wajah putranya, menelusuri setiap perubahan ekspresi yang berusaha disembunyikan.Kerutan tipis di sudut mata Lionel, garis rahang yang mengeras seperti sedang menahan emosi. Dari kesemuanya itu, ada satu yang tampak berbeda. Ada aura berbeda yang terpancar dari Lionel. Sebuah kebahagiaan tersirat di dalam bola mata puteranya itu."Kamu tahu, Lion?" suara Beatrice melunak, sepertinya wanita itu benar-benar membahagiakan Lionel. "Besar harapan Mama untuk melihatmu menikah. Begitu kamu menikah, Mama mau pensiun. Rumah sakit Mama serahkan sepenuhnya padamu."Lionel mengangguk pelan. Dia sudah berkali-kali mendengar kalimat itu. Sayangnya, dia merasa tidak nyaman ketika kata pensiun dan menikah dirangkai dalam satu kalimat."Aku tahu. Tapi
Makan malam berakhir lebih cepat dari biasanya.Bukan karena hidangannya kurang menggugah selera, tetapi karena memang Lionel tidak pernah selera makan kalau makan malam berdua saja dengan Mamanya.Selain itu, Beatrice pun hanya mencicipi sedikit. Seperti kebiasaannya setiap malam.Tidak menunggu lama, pelayan datang dan pergi tanpa suara. Piring-piring porselen mahal itu disingkirkan dengan cepat. Dentingan halus sendok dan garpu menjadi bunyi terakhir sebelum meja panjang itu kembali lengang.Yang tersisa hanya satu gelas berisi air putih di hadapan masing-masing. Lionel dan Beatrice memang tidak pernah minum selain air putih di malam hari.Jarak tempat duduk antara Lionel dan Meilissa tidak lebih dari satu meter. Tapi, perasaan yang terbentang di antara mereka terasa jauh lebih panjang dari yang sebenarnya.Beatrice mengangkat gelasnya, menyesap air dengan tenang, lalu meletakkannya kembali tanpa suara."Mama dengar Clara sudah menyerah denganmu. Dia mengundurkan diri dari klinik."
"Iya, Papa. Namanya Tante Elara. Beliau bilang kalau mengenal Papa waktu SMA. Dan, nama anaknya sama seperti aku. Liora."Suara Liora terdengar ringan, polos, tanpa beban. Dia menyampaikannya seperti sedang menceritakan guru baru di sekolah atau teman sekelas yang pindah bangku.Gadis itu tidak menyadari kalau ceritanya akan menimbulkan efek yang luar biasa bagi Meilissa dan Lionel.Baik Meilissa mau pun Lionel sama-sama tegang untuk alasan yang berbeda.Di seberang telepon, Lionel kehilangan kata-kata. Elara. Nama yang sudah lama dia lupakan. Tanpa sadar tangannya mencengkeram ponselnya erat.Ada jeda yang terasa lama untuk ukuran percakapan biasa."Papa?!""Hm..., sepertinya Papa tidak ingat dia," jawab Lionel akhirnya. Nada suaranya dibuat seakan dia sudah berusaha mengingat-ingat.Kalimat itu membuat Liora melirik dengan perasaan sungkan kearah Elara yang duduk di hadapan mereka."Ooo..., aku pikir...," Liora menggantung ucapannya.Dia tidak berani melanjutkan karena takut menyingg







