Masuk"Ssst ... anak pintar tidak boleh berteriak," pangkas Zara lembut seraya membawa tubuh Sean kembali ke dalam pelukannya, mencium pipi dan puncak kepala anak itu berulang kali. "Mama cuma bercanda, Sayang. Mama ada di sini sekarang ...."Zara membimbing anak kecil itu menuju sofa panjang di sudut kamar tidur utama. Ia mendudukkan Sean di sampingnya, meraih sebuah buku cerita bergambar yang tergeletak di atas meja kaca, lalu membukanya perlahan. Dengan suara yang ditahan agar tidak pecah oleh tangisan, Zara mulai membacakan cerita tentang petualangan seekor kelinci kecil di dalam hutan.Sean menyandarkan kepalanya yang terkulai di lengan Zara, mendengarkan lantunan suara lembut wanita itu dengan sepasang mata yang perlahan-lahan mulai memberat oleh rasa kantuk. Dalam keremangan lampu kamar, suasana terasa sangat hangat dan damai, sebuah momen singkat yang sangat berharga bagi Zara sebelum badai besar benar-benar menghancurkan hidupnya.Di ruang kerja pribadi yang terletak di sebelah
Zara menelan ludahnya yang terasa pahit. Ia tahu betul, kebohongan yang dirangkainya selama sembilan puluh hari tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi. Pengakuan yang gagal diucapkannya sore tadi di kantor Arham kini terasa seperti dosa besar yang terus mengejar dan mencekik lehernya setiap detik."Tuhan ... beri hamba keberanian buat jujur ...," bisik Zara sangat pelan dengan mata terpejam rapat. "Hamba siap menerima kemarahan Arham ... hamba siap diusir atau dilaporkan ke polisi ... tapi tolong amankan perawatan Nenek ...."Pikiran Zara langsung melayang pada Nenek Ajeng yang terbaring lemah di ruang ICU Rumah Sakit Harapan Medika. Neneknya adalah satu-satunya alasan mengapa ia rela menjual harga diri dan kehidupannya untuk berpura-pura menjadi Gina. Jika penyamarannya terbongkar malam ini dan Gina memutus seluruh aliran dana rumah sakit, maka alat penyokong hidup neneknya akan dicabut seketika.Suara ketukan halus pada pintu kamar memecah keheningan yang mencekik itu.Zar
Rasa panik dan ketakutan akan kemiskinan perlahan berubah menjadi rencana licik yang sangat terstruktur di dalam kepalanya. Gina mulai menyusun skenario palsu untuk menyelamatkan dirinya sendiri sekaligus menghancurkan Zara dalam sekali pukul. Ia tahu betul bagaimana sifat Arham Tawfeeq. Pria itu adalah sosok CEO tegas, disiplin, namun sangat menjunjung tinggi kejujuran dan keselamatan keluarganya. Arham tidak akan pernah memaafkan siapa pun yang berani membohongi atau mengancam ketenangan rumah tangganya.Jika ia mendatangi rumah Arham dan menceritakan kejadian yang sebenarnya—bahwa ia sendiri yang menyuruh Zara bersandiwara demi kabur bersama selingkuhannya—maka Arham pasti akan mengusirnya tanpa ampun. Arham bakal membatalkan rencana pernikahan mereka, menarik semua fasilitas, dan menyerahkannya ke jalur hukum.Oleh karena itu, kebenaran tidak boleh pernah terungkap dari mulutnya."Gue harus jadi korban," gumam Gina pelan, senyuman tipis yang sangat licik terukir di bibirnya. "
Taksi berwarna biru tua itu melaju membelah lengangnya aspal ibu kota yang kian sunyi ditelan malam. Di dalam kabin belakang, Gina duduk bersandar kaku dengan pandangan menyala tajam menembus kaca jendela yang buram oleh embun tipis. Setiap kali roda mobil melintasi garis marka atau lubang kecil, guncangan halus terasa menyengat luka jahitan di pipi kirinya. Rasa perih itu seolah membakar seluruh kesabarannya, memicu amarah yang kian memuncak di balik dadanya yang kempas-kempis.Ia meraba perban tipis yang menempel kaku di pipi kirinya, merasakan permukaan kain kasa yang masih terasa agak hangat. Dokter di ruang darurat tadi mengatakan luka itu memanjang dari bawah tulang pipi hingga mendekati rahang, sebuah goresan kaca yang tajam saat mobil menghantam dinding beton. Pikiran Gina berputar gila-gilaan memikirkan kecantikan wajahnya yang kini cacat. Wajah manis dan riasan mahal yang selama ini ia agungkan sebagai senjata utama untuk menaklukkan pria kaya kini telah dinodai oleh noda
Di bawah pendar lampu neon putih yang remang, terlihat bekas goresan panjang memerah di sepanjang pipi kirinya, memotong keindahan riasan mewahnya. Darah masih menetes pelan dari celah luka itu, meninggalkan rasa perih yang membakar."Bisa hilang kan, Sus?" tanya Gina Susanti dengan nada menuntut yang amat tajam pada perawat di sampingnya. "Bekas luka di muka gue ini bisa hilang mulus lagi, kan?!""Nanti dokter spesialis bedah plastik yang akan menangani dan cleansernya di IGD, Mbak," jawab perawat itu menenangkan. "Yang penting Mbak tenang dulu, jangan banyak bergerak."Gina Susanti mengepalkan kedua tangannya kencang-kencang hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Rasa panik, marah, dan jijik menyatu menjadi racun pekat yang meracuni seluruh pikirannya. Anton sudah jadi sampah lumpuh yang tidak punya masa depan. Ia tidak sudi menghabiskan sisa hidupnya untuk merawat pria cacat yang tidak punya uang sepeser pun."Gue harus balik ke Arham!" jerit batin Gina Susanti
Malam kian larut saat kilatan lampu sirine berwarna merah dan biru membilas kegelapan jalur bebas hambatan kilometer empat belas. Suara raungan mesin derek bercampur dengan perintah tergesa-gesa para petugas memecah keheningan jalanan yang sepi. Bau hangus karet ban bercampur ceceran oli dan bahan bakar menyengat sangat tajam di udara dingin yang berhembus kencang.Di tepi jalan tol, sebuah mobil sedan hitam berada dalam kondisi ringsek tak berbentuk. Bagian depannya hancur meliuk menghantam dinding pembatas jalan dari beton tebal. Kap mesin terlipat ke atas bagaikan kertas kusam, memamerkan celah besi yang remuk dan mengeluarkan kepulan asap tipis. Kaca depan hancur berkeping-keping, menyebarkan ribuan kristal kaca tajam ke seluruh kabin mobil dan permukaan aspal."Cepat angkat bagian pintu pengemudi! Tubuh korban terjepit besi bawah!" teriak seorang petugas darurat seraya mengarahkan lampu senter terang ke dalam kabin yang luluh lantak.Di dalam kabin pengemudi yang sudah menyem
"Nenek ... apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Zara lirih ke tengah kesunyian malam, suaranya tenggelam bersama deru angin malam dan hantaman hujan yang tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan mereda.Ia perlahan bangkit berdiri, memunguti tas kainnya yang basah dan memasukkan kartu nama itu ke
Zara mematung dengan mulut sedikit terbuka, matanya melebar sempurna menatap garis wajah wanita di depannya. Hal yang sama juga terjadi pada wanita glamour tersebut; ia menghentikan aktivitas mengibas gaunnya, tangannya membeku di udara dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah Zara. Mer
Suara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sempit itu. Wajah pria gempal itu terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi tembamnya. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Zara terlepas seketika karena rasa syok yang luar biasa. Pria itu memegangi pip
"Satu lagu lagi, Zara. Tolonglah, malam ini pengunjung kafe sedang ramai-ramainya. Sisa tips dari meja depan bakal aku bagi dua buat kamu," ucap Hendra, pemilik kafe remang-remang di sudut jalanan kota itu, sembari menyodorkan segelas air putih hangat ke arah Zara.Zara menghela napas panjang, men







