LOGIN"Nenek ... apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Zara lirih ke tengah kesunyian malam, suaranya tenggelam bersama deru angin malam dan hantaman hujan yang tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan mereda.
Ia perlahan bangkit berdiri, memunguti tas kainnya yang basah dan memasukkan kartu nama itu ke dalam saku terdalamnya dengan hati-hati. Mengabaikan rasa sakit pada sikut dan pergelangan tangannya, Zara melangkah keluar dari halte bus, berjalan perlahan menyusuri trotoar menuju arah rumah sederhananya dengan pikiran yang melayang jauh, menerka-nerka takdir macam apa yang sedang dipersiapkan oleh semesta untuk kehidupannya setelah pertemuan aneh dengan wanita bernama Gina malam ini.
Sepanjang perjalanan pulang yang memakan waktu hampir tiga puluh menit dengan berjalan kaki di bawah guyuran hujan yang mulai mereda menjadi rintik-rintik tipis, wajah Gina terus berputar-putar di dalam ingatan Zara. Bagaimana mungkin ada seseorang yang memiliki kemiripan fisik sedemikian mutlak dengannya di dunia ini jika bukan karena adanya ikatan darah? Potongan rambut, gaya busana, dan cara berbicara mereka memang sangat berbeda bak bumi dan langit, namun mata itu, bentuk hidung itu, dan cara wanita itu mengernyitkan dahi benar-benar seperti replika sempurna dari dirinya sendiri. Zara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir pikiran-pikiran liar yang mulai mengganggu ketenangan batinnya. Ia harus fokus pada tujuan utamanya malam ini: pulang, memastikan neneknya baik-baik saja, dan memberikan uang upah bernyanyi ini agar esok pagi mereka bisa membeli obat dan makanan yang layak.
Ketika langkah kakinya akhirnya sampai di depan pagar bambu rumah sederhananya yang terletak di sebuah gang kecil pinggiran kota, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari lewat lima belas menit. Rumah itu tampak sepi dan gelap, hanya ada seberkas cahaya kekuningan dari lampu minyak kecil yang memancar lewat celah jendela kayu yang sudah lapuk. Zara membuka selot pagar bambu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara bising yang dapat mengganggu tidur para tetangga di sekitar rumahnya. Ia melangkah menyusuri jalan setapak kecil di halaman rumahnya yang kini telah berubah menjadi tanah berlumpur akibat hujan lebat tadi.
Ia mengetuk pintu kayu depan rumahnya dengan ketukan yang sangat pelan dan berirama, sebuah kode rahasia yang biasa ia gunakan agar sang nenek tahu bahwa cucunya telah pulang dengan selamat dari bekerja malam. "Nenek... ini Zara. Zara sudah pulang, Nek," bisik Zara pelan di depan celah pintu.
Tidak butuh waktu lama, terdengar suara langkah kaki yang diseret perlahan dari dalam rumah, diikuti oleh suara selot pintu yang dibuka dengan bunyi derit kayu yang khas. Pintu terbuka, menampilkan sosok wanita lansia berumur sekitar tujuh puluh tahun dengan rambut yang telah memutih seluruhnya, mengenakan kain jarik usang dan baju kurung longgar yang sudah pudar warnanya. Wanita itu adalah Nenek Ajeng, satu-satunya orang tua, pelindung, dan penyembuh luka di dunia ini bagi seorang Zara Alfathunisa sejak ia masih balita. Wajah keriput Nenek Ajeng langsung dipenuhi oleh rasa cemas yang teramat sangat begitu melihat kondisi cucu kesayangannya yang berdiri di depan pintu dalam keadaan basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki, dengan tubuh yang menggigil menahan dingin.
"Ya Tuhan, Zara! Kenapa kamu bisa basah kuyup seperti ini, Nak? Di mana payung yang kamu bawa tadi siang? Dan kenapa pergelangan tanganmu itu ... kenapa bisa merah memar seperti itu?!" rentetan pertanyaan penuh kecemasan langsung keluar dari mulut Nenek Ajeng sembari tangannya yang gemetar menarik lembut tubuh Zara untuk segera masuk ke dalam kehangatan ruang tamu rumah mereka yang kecil.
Zara berusaha tersenyum semanis mungkin, menyembunyikan segala trauma insiden di kafe malam dan kebingungan penemuan wajah kembarannya di halte bus tadi dari pandangan sang nenek. Ia tidak ingin membuat kondisi kesehatan neneknya yang memiliki riwayat penyakit jantung dan asma itu semakin memburuk karena memikirkan masalahnya di luar rumah.
"Payung aku rusak tertiup angin kencang di jalan tadi, Nek. Hujannya benar-benar sangat lebat malam ini," bohong Zara dengan nada suara yang diusahakan seceria mungkin sembari melepaskan sepatu flat-nya yang sudah dipenuhi air. "Soal tangan ini ... tadi aku terburu-buru berlari menuju halte karena takut ketinggalan angkutan umum terakhir, lalu tidak sengaja tergelincir dan menabrak tiang pembatas jalan. Tidak apa-apa kok, Nek. Ini hanya memar kecil biasa, besok kalau diolesi minyak urut juga pasti langsung sembuh."
Nenek Ajeng menatap mata Zara dengan pandangan yang penuh selidik, naluri seorang ibu yang membesarkan Zara sejak kecil tahu betul jika ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh cucunya. Namun, melihat tubuh Zara yang kian gemetar dan wajahnya yang mulai memucat karena kedinginan, Nenek Ajeng memilih untuk menunda interogasinya dan fokus merawat fisik cucunya terlebih dahulu.
"Cepat kamu pergi ke kamar mandi, bersihkan tubuhmu dengan air hangat yang sudah Nenek siapkan di panci belakang. Ganti pakaianmu dengan baju yang kering, setelah itu langsung ke meja makan. Nenek sudah buatkan teh jahe hangat dan sedikit bubur untukmu," perintah Nenek Ajeng dengan nada suara yang lembut namun penuh ketegasan yang tidak bisa dibantah.
"Baik, Nek. Terima kasih banyak ya, Nek. Aku ke belakang dulu," sahut Zara, merasa sangat bersyukur memiliki sosok pelindung seperti Nenek Ajeng di dalam hidupnya yang penuh dengan badai ujian ini.
Zara berjalan menuju area dapur kecil di bagian belakang rumah mereka yang berlantai semen mentah. Ia menuangkan air hangat dari panci ke dalam ember kecil, lalu membersihkan tubuhnya yang kotor akibat debu jalanan dan cipratan air hujan. Saat air hangat menyentuh kulitnya, rasa lelah dan nyeri di tubuhnya perlahan mulai sedikit berkurang, namun pikiran di dalam kepalanya sama sekali tidak bisa tenang. Wajah wanita bernama Gina itu seolah telah terpatri kuat di dalam dinding memorinya malam ini, terus menerus memicu rasa penasaran yang teramat besar.
Setelah selesai berganti pakaian dengan kaos lengan panjang longgar dan celana kain yang bersih, Zara berjalan kembali ke ruang tamu kecil yang merangkap sebagai ruang makan mereka. Di atas meja kayu sederhana, sudah tersedia secangkir teh jahe hangat yang asapnya masih mengepul tipis dan semangkuk kecil bubur polos dengan taburan sedikit garam di atasnya. Nenek Ajeng duduk setia di kursi kayu seberang meja, menanti cucunya dengan pandangan mata yang penuh dengan curahan kasih sayang yang tulus.
Zara mendudukkan dirinya, langsung meraih cangkir teh jahe dan meminumnya perlahan, membiarkan rasa hangat menjalar memenuhi tenggorokannya yang perih dan menghangatkan rongga dadanya yang sempat membeku. Ia kemudian meraih tas kain lusuhnya yang diletakkan di atas kursi sebelah, mengeluarkan lembaran uang kertas ratusan ribu yang tadi ia kumpulkan dari lantai halte bus. Meskipun uang itu masih terasa sedikit lembab, namun kondisinya sudah cukup aman untuk digunakan. Zara menggeser tumpukan uang itu ke arah tangan Nenek Ajeng di atas meja.
Nenek Ajeng menggeleng lemah, menatap cucunya dengan tatapan penuh penyesalan yang teramat pekat. Dengan suara terbata-bata diiringi isak tangis yang semakin menjadi-jadi, Nenek Ajeng akhirnya memutuskan membongkar rahasia terbesar dalam hidup mereka yang selama ini terkubur rapat."Maafkan Nenek, Neng ... Nenek sudah membohongimu seumur hidupmu," ucap Nenek Ajeng terbata-bata, memegang erat lengan Zara. "Kamu dan Gina ... kalian berdua sebenarnya adalah saudara kembar kandung."Jantung Zara seolah berhenti berdetak mendengarkan pengakuan mengejutkan tersebut dari mulut wanita yang telah merawatnya sejak kecil. "Saudara kembar? Maksud Nenek apa? Aku anak yatim piatu yang Nenek pungut di pinggir jalan!""Dulu orang tua kandung kalian hidup dalam kemiskinan ekstrem dan terlilit utang judi yang menumpuk di mana-mana," cerita Nenek Ajeng dengan suara tersengat rasa bersalah yang luar biasa. "Karena tidak mampu lagi memberi makan bayi kembar yang baru lahir, mereka menyerahkan kalian be
Bus kota berukuran sedang berhenti tepat di halte kecil dekat mulut gang sempit yang dipenuhi deretan pohon karsen rimbun. Zara melangkah turun terlebih dahulu sambil memegang erat tali ransel di bahunya, lalu berbalik membantu Nenek Ajeng menuruni tangga bus dengan hati-hati. Udara sore kawasan pinggiran kota yang berdebu langsung menyapa penciuman mereka, membawa aroma khas minyak wangi murahan dan asap pembakaran sampah warga sekitar."Kita benar-benar mau kembali ke lingkungan lama ini, Neng?" tanya Nenek Ajeng dengan suara gemetar, menatap jalanan aspal berbintik lubang di hadapan mereka."Iya, Nek," jawab Zara lembut, menggandeng lengan wanita renta itu menyusuri jalan setapak yang sangat akrab di ingatan mereka. "Di sini biaya hidupnya masih masuk akal buat kantong kita sekarang, dan setidaknya kita punya kenangan baik sama beberapa tetangga lama."Langkah kaki keduanya terhenti tepat di depan sepetak tanah kosong tempat bangunan rumah kontrakan lama mereka dulu berdiri. Za
Suara hantaman telapak tangan di atas permukaan meja marmer menggema nyaring di sudut ruang tengah mansion keluarga Tawfeeq yang megah. Lusi berdiri tegak dengan dada naik turun menahan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun, menatap tajam ke arah putra sulungnya yang duduk tertunduk di sofa besar berbalud kain bludru merah. Piring-piring sarapan di meja makan masih utuh tersaji tanpa ada satupun yang disentuh, mencerminkan hancurnya selera makan seluruh anggota keluarga akibat berita kepergian Zara pagi ini."Kamu ini benar-benar bodoh, Arham!" hardik Lusi dengan suara bergetar hebat meluapkan kekesalan yang tertahan sejak semalam. "Kenapa kamu tidak langsung meminta maaf pada Zara setelah insiden penculikan itu reda? Kenapa kamu biarkan malam berlalu begitu saja tanpa menyelesaikan masalah kalian?"Arham mengangkat wajahnya perlahan, menampilkan sorot mata sayu dengan kantung mata hitam akibat tidak bisa tidur semalaman penuh. Lengan kirinya yang masih terbalut perban putih bersih
Pendar cahaya matahari pagi merangsek masuk melalui dinding kaca besar yang menghadap langsung ke panorama kota metropolitan dari ketinggian lantai dua belas. Udara sejuk pendingin ruangan berpadu dengan aroma kopi arabika panggang yang menguar lembut di dalam restoran hotel bintang lima tersebut. Meja bundar berlapis taplak putih bersih di sudut ruangan menyajikan berbagai menu sarapan mewah, mulai dari croissant hangat hingga buah-buahan segar tertata rapi. Zara duduk tenang di kursi empuk berbalud kain velrugh abu-abu, menatap cangkir porselen berisi teh chamomile yang masih mengepulkan uap tipis.Nenek Ajeng duduk di kursi sebelah Zara, mengenakan kerudung rajut sederhana sambil menikmati bubur ayam hangat dengan suapan perlahan. Keriput di wajah wanita renta itu menyiratkan kelelahan sisa perjalanan malam kemarin, namun sorot matanya tampak jauh lebih tenang dibanding saat mereka masih terkurung di mansion keluarga Tawfeeq. Tidak ada lagi tekanan batin atau tatapan sinis dari o
Sinar matahari pagi merembes melalui celah tirai jendela ruang makan keluarga Tawfeeq, memantulkan pendar hangat di atas meja panjang yang dipenuhi berbagai menu sarapan lezat. Aroma kopi hitam pekat bercampur wangi roti panggang menggantung di udara, menciptakan suasana yang seharusnya terasa menenangkan setelah badai malam kemarin. Lusi duduk di kursi utama dengan balutan gaun tidur sutra berwarna abu-abu, menatap kursi kosong di seberang meja dengan kening berkerut dalam.Wanita paruh baya itu melirik arloji melingkar di pergelangan tangannya yang sudah menunjuk pukul tujuh lewat sepuluh menit pagi. "Bi Surti, tolong naik ke atas panggilkan Ajeng dan Zara," perintah Lusi kepada pelayan wanita paruh baya yang berdiri siaga di dekat pantry. "Mungkin karena insiden mengerikan kemarin malam, mereka kelelahan sampai kesiangan bangun tidur."Bi Surti mengangguk cepat lalu melangkah menuju tangga lantai dua untuk menjalankan tugasnya. Nindy yang duduk di samping ibunya menyeruput teh h
Suara ketukan pintu kamar terdengar begitu keras memecah keheningan lantai atas mansion keluarga Tawfeeq. Di dalam kamar yang diterangi pendar lampu tidur kekuningan, Zara duduk bersila di atas sajadah tebal dengan balutan mukena putih yang masih melekat sempurna di tubuhnya. Kedua telapak tangannya tertangkup erat di depan dada, sementara air mata tak henti-henti mengalir membasahi pipinya yang pucat pasi. Bibirnya terus merapalkan doa panjang memohon ampunan dan keselamatan bagi putra sambung yang sangat ia sayangi sepenuh hati."Mama Zara!" teriak suara kecil berbalut isak tangis dari luar pintu kamar yang langsung didorong terbuka secara kasar.Sean berdiri di ambang pintu dengan mata sembab dan tubuh masih bergetar hebat akibat sisa ketakutan di gudang pelabuhan. Bocah itu langsung berlari kencang menghambur ke arah sajadah, menjatuhkan diri ke pangkuan Zara sambil memeluk pinggang wanita itu erat-erat. Tangis Sean pecah seketika, menumpahkan segala ketakutan luar biasa yang s
Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang
Zara mematung dengan mulut sedikit terbuka, matanya melebar sempurna menatap garis wajah wanita di depannya. Hal yang sama juga terjadi pada wanita glamour tersebut; ia menghentikan aktivitas mengibas gaunnya, tangannya membeku di udara dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah Zara. Mer
Suara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sempit itu. Wajah pria gempal itu terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi tembamnya. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Zara terlepas seketika karena rasa syok yang luar biasa. Pria itu memegangi pip
"Satu lagu lagi, Zara. Tolonglah, malam ini pengunjung kafe sedang ramai-ramainya. Sisa tips dari meja depan bakal aku bagi dua buat kamu," ucap Hendra, pemilik kafe remang-remang di sudut jalanan kota itu, sembari menyodorkan segelas air putih hangat ke arah Zara.Zara menghela napas panjang, men







