Home / Romansa / Cinta Tulus Istri Pengganti / Bab 4. Pikiran Yang Mengganggu

Share

Bab 4. Pikiran Yang Mengganggu

Author: Ucing Ucay
last update Petsa ng paglalathala: 2023-08-04 06:26:22

​"Nenek ... apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Zara lirih ke tengah kesunyian malam, suaranya tenggelam bersama deru angin malam dan hantaman hujan yang tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan mereda.

​Ia perlahan bangkit berdiri, memunguti tas kainnya yang basah dan memasukkan kartu nama itu ke dalam saku terdalamnya dengan hati-hati. Mengabaikan rasa sakit pada sikut dan pergelangan tangannya, Zara melangkah keluar dari halte bus, berjalan perlahan menyusuri trotoar menuju arah rumah sederhananya dengan pikiran yang melayang jauh, menerka-nerka takdir macam apa yang sedang dipersiapkan oleh semesta untuk kehidupannya setelah pertemuan aneh dengan wanita bernama Gina malam ini.

​Sepanjang perjalanan pulang yang memakan waktu hampir tiga puluh menit dengan berjalan kaki di bawah guyuran hujan yang mulai mereda menjadi rintik-rintik tipis, wajah Gina terus berputar-putar di dalam ingatan Zara. Bagaimana mungkin ada seseorang yang memiliki kemiripan fisik sedemikian mutlak dengannya di dunia ini jika bukan karena adanya ikatan darah? Potongan rambut, gaya busana, dan cara berbicara mereka memang sangat berbeda bak bumi dan langit, namun mata itu, bentuk hidung itu, dan cara wanita itu mengernyitkan dahi benar-benar seperti replika sempurna dari dirinya sendiri. Zara menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha mengusir pikiran-pikiran liar yang mulai mengganggu ketenangan batinnya. Ia harus fokus pada tujuan utamanya malam ini: pulang, memastikan neneknya baik-baik saja, dan memberikan uang upah bernyanyi ini agar esok pagi mereka bisa membeli obat dan makanan yang layak.

​Ketika langkah kakinya akhirnya sampai di depan pagar bambu rumah sederhananya yang terletak di sebuah gang kecil pinggiran kota, waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari lewat lima belas menit. Rumah itu tampak sepi dan gelap, hanya ada seberkas cahaya kekuningan dari lampu minyak kecil yang memancar lewat celah jendela kayu yang sudah lapuk. Zara membuka selot pagar bambu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan suara bising yang dapat mengganggu tidur para tetangga di sekitar rumahnya. Ia melangkah menyusuri jalan setapak kecil di halaman rumahnya yang kini telah berubah menjadi tanah berlumpur akibat hujan lebat tadi.

​Ia mengetuk pintu kayu depan rumahnya dengan ketukan yang sangat pelan dan berirama, sebuah kode rahasia yang biasa ia gunakan agar sang nenek tahu bahwa cucunya telah pulang dengan selamat dari bekerja malam. "Nenek... ini Zara. Zara sudah pulang, Nek," bisik Zara pelan di depan celah pintu.

​Tidak butuh waktu lama, terdengar suara langkah kaki yang diseret perlahan dari dalam rumah, diikuti oleh suara selot pintu yang dibuka dengan bunyi derit kayu yang khas. Pintu terbuka, menampilkan sosok wanita lansia berumur sekitar tujuh puluh tahun dengan rambut yang telah memutih seluruhnya, mengenakan kain jarik usang dan baju kurung longgar yang sudah pudar warnanya. Wanita itu adalah Nenek Ajeng, satu-satunya orang tua, pelindung, dan penyembuh luka di dunia ini bagi seorang Zara Alfathunisa sejak ia masih balita. Wajah keriput Nenek Ajeng langsung dipenuhi oleh rasa cemas yang teramat sangat begitu melihat kondisi cucu kesayangannya yang berdiri di depan pintu dalam keadaan basah kuyup dari ujung rambut hingga ujung kaki, dengan tubuh yang menggigil menahan dingin.

​"Ya Tuhan, Zara! Kenapa kamu bisa basah kuyup seperti ini, Nak? Di mana payung yang kamu bawa tadi siang? Dan kenapa pergelangan tanganmu itu ... kenapa bisa merah memar seperti itu?!" rentetan pertanyaan penuh kecemasan langsung keluar dari mulut Nenek Ajeng sembari tangannya yang gemetar menarik lembut tubuh Zara untuk segera masuk ke dalam kehangatan ruang tamu rumah mereka yang kecil.

​Zara berusaha tersenyum semanis mungkin, menyembunyikan segala trauma insiden di kafe malam dan kebingungan penemuan wajah kembarannya di halte bus tadi dari pandangan sang nenek. Ia tidak ingin membuat kondisi kesehatan neneknya yang memiliki riwayat penyakit jantung dan asma itu semakin memburuk karena memikirkan masalahnya di luar rumah.

​"Payung aku rusak tertiup angin kencang di jalan tadi, Nek. Hujannya benar-benar sangat lebat malam ini," bohong Zara dengan nada suara yang diusahakan seceria mungkin sembari melepaskan sepatu flat-nya yang sudah dipenuhi air. "Soal tangan ini ... tadi aku terburu-buru berlari menuju halte karena takut ketinggalan angkutan umum terakhir, lalu tidak sengaja tergelincir dan menabrak tiang pembatas jalan. Tidak apa-apa kok, Nek. Ini hanya memar kecil biasa, besok kalau diolesi minyak urut juga pasti langsung sembuh."

​Nenek Ajeng menatap mata Zara dengan pandangan yang penuh selidik, naluri seorang ibu yang membesarkan Zara sejak kecil tahu betul jika ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh cucunya. Namun, melihat tubuh Zara yang kian gemetar dan wajahnya yang mulai memucat karena kedinginan, Nenek Ajeng memilih untuk menunda interogasinya dan fokus merawat fisik cucunya terlebih dahulu.

​"Cepat kamu pergi ke kamar mandi, bersihkan tubuhmu dengan air hangat yang sudah Nenek siapkan di panci belakang. Ganti pakaianmu dengan baju yang kering, setelah itu langsung ke meja makan. Nenek sudah buatkan teh jahe hangat dan sedikit bubur untukmu," perintah Nenek Ajeng dengan nada suara yang lembut namun penuh ketegasan yang tidak bisa dibantah.

​"Baik, Nek. Terima kasih banyak ya, Nek. Aku ke belakang dulu," sahut Zara, merasa sangat bersyukur memiliki sosok pelindung seperti Nenek Ajeng di dalam hidupnya yang penuh dengan badai ujian ini.

​Zara berjalan menuju area dapur kecil di bagian belakang rumah mereka yang berlantai semen mentah. Ia menuangkan air hangat dari panci ke dalam ember kecil, lalu membersihkan tubuhnya yang kotor akibat debu jalanan dan cipratan air hujan. Saat air hangat menyentuh kulitnya, rasa lelah dan nyeri di tubuhnya perlahan mulai sedikit berkurang, namun pikiran di dalam kepalanya sama sekali tidak bisa tenang. Wajah wanita bernama Gina itu seolah telah terpatri kuat di dalam dinding memorinya malam ini, terus menerus memicu rasa penasaran yang teramat besar.

​Setelah selesai berganti pakaian dengan kaos lengan panjang longgar dan celana kain yang bersih, Zara berjalan kembali ke ruang tamu kecil yang merangkap sebagai ruang makan mereka. Di atas meja kayu sederhana, sudah tersedia secangkir teh jahe hangat yang asapnya masih mengepul tipis dan semangkuk kecil bubur polos dengan taburan sedikit garam di atasnya. Nenek Ajeng duduk setia di kursi kayu seberang meja, menanti cucunya dengan pandangan mata yang penuh dengan curahan kasih sayang yang tulus.

​Zara mendudukkan dirinya, langsung meraih cangkir teh jahe dan meminumnya perlahan, membiarkan rasa hangat menjalar memenuhi tenggorokannya yang perih dan menghangatkan rongga dadanya yang sempat membeku. Ia kemudian meraih tas kain lusuhnya yang diletakkan di atas kursi sebelah, mengeluarkan lembaran uang kertas ratusan ribu yang tadi ia kumpulkan dari lantai halte bus. Meskipun uang itu masih terasa sedikit lembab, namun kondisinya sudah cukup aman untuk digunakan. Zara menggeser tumpukan uang itu ke arah tangan Nenek Ajeng di atas meja.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 347: Epilog: Cinta Tulus di Taman Mawar

    ​Deru angin sore berembus lembut menyapa halaman belakang Mansion Tawfeeq yang dipenuhi warna-warni bunga mawar merah merekah sempurna. Lima tahun telah berlalu begitu cepat, mengubah kebun luas itu menjadi tempat bermain paling menyenangkan bagi anak-anak yang berlarian riang. Sean tumbuh menjadi remaja laki-laki berusia dua belas tahun berpostur tinggi atletis yang sangat menyayangi adik kecilnya. Bola kaki berwarna hitam putih meluncur mulus di atas rumput hijau saat Sean menggiringnya pelan menghindari sergapan sang adik. Di hadapannya, seorang anak perempuan berusia lima tahun berambut sebahu tertawa terbahak-bahak mengejar bola sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Wajah kecil bocah cantik itu begitu mirip dengan Zara, mewarisi mata bulat jernih dan senyuman manis yang sanggup meluluhkan siapa pun.​"Ayo kejar bolanya kalau bisa, Abang!" seru si kecil penuh semangat sambil melompat-lompat gembira di atas rumput.​Sean sengaja membiarkan adiknya merebut bola tersebut, l

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 346: Kelahiran sang Buah Hati

    ​Detik-detik pergantian bulan ke sembilan membawa ketegangan yang luar biasa di seluruh sudut Mansion Tawfeeq. Suara langkah kaki para pelayan terdengar bergegas menyiapkan segala keperluan medis darurat di lantai bawah. Arham mondar-mandir di depan pintu kamar utama dengan wajah tegang, menggenggam erat ponsel pintarnya untuk siaga memanggil dokter kandungan kapan pun diperlukan. Rasa panik yang luar biasa melanda diri CEO matang itu, jauh melebihi ketegangan saat ia harus menandatangani kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah. Di dalam kamar, rintihan tertahan lolos dari bibir Zara yang menggigit seprai putih untuk menahan gelombang kontraksi hebat.​"Tarik napas dalam-dalam, Nyonya Zara. Dorong perlahan saat kontraksi datang lagi," instruksi Dokter kandungan wanita yang sudah bersiap di samping ranjang.​Zara mengejan sekuat tenaga, mencengkeram tangan perawat di sebelah kirinya dengan kuku-kuku yang menancap kuat. Air mata membasahi pipinya yang pucat, merasakan perjuangan hidup

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 345: (++) Kebucinan Arham yang Semakin Menjadi

    ​Hari-hari berlalu di Mansion Tawfeeq dengan perubahan drastis yang membuat seluruh pelayan terkadang harus mengelus dada menghadapi tingkah tuan besar mereka. Arham yang tadinya dikenal sebagai CEO dingin, kaku, dan penuh wibawa kini menjelma menjadi suami yang super protektif sekaligus manja. Pria berusia empat puluh tahun itu menolak membiarkan Zara berjalan sendiri menaiki tangga rumah meski hanya berpindah dari lantai satu ke lantai dua. Setiap jam kerja di kantor, Arham selalu menyempatkan diri melakukan panggilan video untuk memastikan istrinya tidak kelelahan mengurus yayasan amal. Sikap posesif itu justru membuat Zara merasa dicintai secara ugal-ugalan, meski kadang ia kewalahan menghadapi perhatian berlebihan suaminya.​"Mas Arham, aku cuma mau jalan ke taman belakang, bukan mau mendaki gunung," protes Zara sambil tersenyum geli melihat suaminya berdiri menghalangi pintu.​Arham melipat kedua tangannya di depan dada bidang dengan wajah serius yang dibuat-buat agar istrinya m

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 343: Kabar Bahagia Garis Dua

    ​Kamar tidur utama Mansion Tawfeeq diselimuti keheningan yang begitu pekat saat Dokter Hans merapikan alat stetoskop dari dada Zara. Pria paruh baya itu tersenyum simpul, menatap bergantian ke arah Arham dan Zara yang menanti dengan debar jantung tak beraturan. Koper kecil peralatan medis yang dibawanya ditutup perlahan dengan bunyi klik pelan yang memecah ketegangan di udara. Arham merapatkan genggaman tangannya di jemari istrinya, menuntut jawaban cepat dari sang dokter keluarga berpengalaman tersebut. Sean berdiri di dekat pintu kamar dengan mata mengerjap penasaran, ikut menanti penjelasan tentang keadaan sang mama tercinta.​"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Kenapa dia mendadak mual-mual hebat tadi pagi?" tanya Arham tidak sabar dengan suara beratnya yang mendesak.​Dokter Hans merapikan kacamatanya sambil tersenyum penuh arti melihat kepanikan di wajah CEO dingin tersebut. "Secara fisik tekanan darahnya normal, Tuan Arham. Tapi melihat gejala mual hebat di pagi hari yang diala

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 342: Kejutan Kecil di Pagi Hari

    ​Mentari pagi menyapa jendela kaca Mansion Tawfeeq dengan pendar cahaya keemasan yang menghangatkan sudut ruangan makan mewah tersebut. Meja panjang berlapis kayu jati dipenuhi berbagai hidangan sarapan lezat, mulai dari buah-buahan segar, roti panggang, hingga semangkuk sup hangat buatan kepala koki. Para pelayan berdiri siaga di dekat dinding dengan kepala tertunduk hormat, menunggu instruksi selanjutnya dari sang tuan rumah. Arham duduk di kursi utama dengan mengenakan kemeja kerja rapi berbalut rompi setelan jas, siap berangkat ke kantor pusat. Sean duduk di sebelah ayahnya sambil menikmati segelas susu cokelat hangat dan sepotong roti selai stroberi kesukaannya.​Zara melangkah mendekati meja makan dengan senyuman cerah di wajah cantiknya, mengenakan dress rumahan santai berwarna pastel yang elegan. Baru saja ia menarik kursi di samping suaminya, aroma tajam dari semangkuk sup ayam hangat di tengah meja tiba-tiba menghantam indra penciumannya. Perut Zara mendadak bergejolak hebat

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 341: Kepulangan yang Manis

    ​Roda pesawat komersial kelas utama yang membawa Arham dan Zara mendarat mulus di landasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Udara tropis yang hangat langsung menyambut begitu mereka keluar dari pintu kedatangan VVIP yang sudah dijaga ketat oleh para pengawal pribadi. Mobil sedan hitam panjang milik keluarga Tawfeeq terparkir rapi menunggu di depan lobi, siap membawa pasangan suami istri itu pulang. Zara merapikan mantel wol yang melekat di tubuhnya, menarik napas panjang merasakan kembali aroma khas ibu kota setelah sebulan penuh berada di Paris. Arham merangkul pinggang istrinya dengan posesif, memandu langkah wanita itu masuk ke dalam kabin mobil yang ber-AC sejuk.​Perjalanan menuju Mansion Tawfeeq ditemani oleh lalu lintas Jakarta yang padat namun lancar berkat pengawalan khusus di sepanjang jalan tol. Setibanya di gerbang utama mansion, para pelayan dan staf rumah tangga sudah berbaris rapi menyambut kepulangan tuan dan nyonya besar mereka dengan hormat. Sean berlari

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 7. Siasat di Balik Kemewahan

    ​"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu t

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 6. Jawaban Sang Nenek 

    ​"Dengarkan Nenek baik-baik, Zara Alfathunisa," ucap Nenek Ajeng dengan nada suara yang ditekan serendah dan setegas mungkin, tangannya yang gemetar bergerak meraih jemari Zara di atas meja. "Menurut mendiang ibumu sebelum dia meninggal dunia, dan menurut ingatan Nenek sendiri yang merawat ibumu saa

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 5. Pertanyaan yang Menggejutkan Sang Nenek. 

    ​"Ini upah ku menyanyi malam ini, Nek. Besok pagi-pagi sekali, aku akan pergi ke apotek depan gang untuk menebus seluruh resep obat nenek yang sempat tertunda kemarin. Sisanya bisa kita gunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur untuk seminggu ke depan," ucap Zara dengan binar mata penuh kepuas

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 3. Gina dan Zara. 

    ​Zara mematung dengan mulut sedikit terbuka, matanya melebar sempurna menatap garis wajah wanita di depannya. Hal yang sama juga terjadi pada wanita glamour tersebut; ia menghentikan aktivitas mengibas gaunnya, tangannya membeku di udara dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah Zara. Mer

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status