เข้าสู่ระบบ
"Satu lagu lagi, Zara. Tolonglah, malam ini pengunjung kafe sedang ramai-ramainya. Sisa tips dari meja depan bakal aku bagi dua buat kamu," ucap Hendra, pemilik kafe remang-remang di sudut jalanan kota itu, sembari menyodorkan segelas air putih hangat ke arah Zara.
Zara menghela napas panjang, mengusap peluh tipis yang membasahi dahi indahnya dengan selembar tisu usang. Jam dinding di sudut ruangan kecil di belakang panggung sudah menunjukkan pukul sebelas malam lewat tiga puluh menit. Tubuhnya sangat lelah, tenggorokannya mulai terasa perih setelah menyanyikan hampir sepuluh lagu bergenre melankolis sejak petang tadi. Namun, mendengar kata "tips," bayangan wajah Nenek Ajeng yang sedang terbaring lemah di kasur tipis rumah mereka langsung terlintas di benaknya. Uang obat neneknya sudah habis sejak dua hari yang lalu, dan upah reguler malam ini saja tidak akan cukup untuk menebus resep dokter esok pagi.
"Baiklah, Mas Hendra. Hanya satu lagu saja, ya? Setelah itu aku harus benar-benar pulang. Angkutan umum terakhir menuju pinggiran kota tidak akan menunggu lebih lama," sahut Zara dengan nada suara yang terdengar agak serak namun tetap lembut didengar.
"Siap, Zara. Kamu memang penyelamat kafe ini. Silakan naik panggung lagi, pemusik sudah siap," kata Hendra dengan senyum lebar penuh rasa lega.
Zara bangkit dari kursi plastiknya, merapikan gaun rajut sederhana berwarna krem yang sudah mulai pudar warnanya. Gaun itu tidak memiliki potongan yang terbuka atau glamour seperti pakaian para pemandu lagu di ruangan privat, namun keanggunan alami yang memancar dari lekuk tubuh Zara berumur dua puluh tiga tahun itu tetap saja mampu menarik perhatian siapa pun yang memandangnya. Ia berjalan perlahan melewati lorong sempit menuju panggung kecil yang hanya diterangi lampu sorot temaram berwarna kekuningan. Aroma asap rokok yang pekat bercampur dengan wewangian alkohol murahan langsung menyengat indra penciumannya begitu ia melangkah keluar dari ruang tunggu. Zara sudah terbiasa dengan atmosfer ini selama setahun terakhir, sebuah lingkungan yang sebenarnya sangat ia benci, namun terpaksa iaakrab demi menyambung hidup bersama sang nenek yang membesarkannya seorang diri semenjak kedua orang tuanya meninggal dunia karena sakit.
Ia memposisikan diri di depan mikrofon, memberikan isyarat anggukan kecil kepada sang pemain kibor tua di sudut kiri panggung. Alunan nada melow mulai mengalir memenuhi ruangan kafe yang dipadati oleh pria-pria berwajah penat sehabis bekerja atau mereka yang sengaja mencari pelampiasan malam. Zara memejamkan kedua mata indahnya, mulai mengalunkan bait demi bait lagu tentang kerinduan yang mendalam. Suaranya murni, merdu, dan memiliki getaran emosional yang kuat, membuat beberapa pengunjung yang awalnya gaduh berbincang perlahan mulai terdiam untuk mendengarkan. Bagi Zara, bernyanyi bukan lagi soal menyalurkan bakat atau hobi, melainkan sebuah perjuangan emosional untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah demi bertahan hidup dari kerasnya dunia.
Di salah satu meja sudut VIP yang remang, sepasang mata merah karena pengaruh alkohol pekat sejak tadi tidak lepas memperhatikan setiap gerak-gerik Zara di atas panggung. Pria paruh baya bertubuh gempal dengan kemeja satin hitam yang kancing atasnya sengaja dibuka itu tersenyum menjijikkan, membisikkan sesuatu kepada rekannya sembari menunjuk ke arah panggung dengan sebatang rokok yang menyala. Zara yang sempat membuka mata tidak sengaja menangkap tatapan lapar pria itu, membuat bulu kuduknya meremang seketika, namun ia tetap berusaha profesional menyelesaikan lagu hingga bait terakhir. Begitu nada instrumen penutup mereda, tepuk tangan bergemuruh dari beberapa sudut ruangan, menemani langkah kaki Zara yang terburu-buru turun dari panggung tanpa berniat membungkuk memberi penghormatan seperti biasa.
"Ini bagianmu, Zara. Terima kasih banyak untuk malam ini. Kamu benar-benar luar biasa," ujar Hendra di balik meja kasir, menyodorkan beberapa lembar uang kertas ratusan ribu yang langsung diterima Zara dengan tangan yang sedikit gemetar karena kelelahan.
"Terima kasih kembali, Mas Hendra. Aku pamit pulang dulu," ucap Zara singkat, langsung memasukkan uang itu ke dalam tas kain lusuhnya.
"Hei, manis! Mau ke mana buru-buru sekali? Pertunjukan malam ini baru saja dimulai, jangan biarkan abang menunggu di meja pojok sana," sebuah suara berat dan serak tiba-tiba menginterupsi langkah Zara tepat di dekat pintu keluar lorong belakang.
Zara menoleh, dan jantungnya langsung mencelos melihat pria bertubuh gempal dari meja sudut VIP tadi sudah berdiri menghalangi jalan keluarnya dengan senyum menyeringai. Bau menyengat alkohol jenis wiski murahan menguar kuat dari napas pria itu, membuat Zara reflek melangkah mundur satu langkah untuk menjaga jarak aman.
"Permisi, Pak. Saya sudah selesai bekerja dan harus segera pulang ke rumah," kata Zara mencoba bersikap sefirasat mungkin, menyembunyikan rasa takut yang mulai merayapi dadanya.
"Pulang? Jangan munafik, gadis cantik yang menyanyi di kafe malam seperti ini mana ada yang langsung pulang ke rumah sesore ini. Berapa tarifmu untuk satu malam menemani abang di hotel seberang jalan? Sebut saja angkanya, uang bukan masalah untuk abang," ujar pria hidung belang itu sembari merogoh dompet tebalnya, memamerkan tumpukan uang lembaran merah di depan wajah Zara dengan gestur yang sangat merendahkan.
"Maaf, Pak. Anda salah orang. Saya di sini murni hanya bekerja sebagai penyanyi panggung, bukan wanita penghibur atau gadis nakal yang bisa Anda beli dengan uang Anda. Tolong minggir, jalan saya tersumbat," tegas Zara dengan nada suara yang meninggi, matanya menatap lurus penuh keberanian meskipun tangannya mencengkeram erat tali tas kainnya.
Pria itu terkekeh sinis, merasa harga dirinya tercoreng karena penolakan mentah-mentah dari seorang penyanyi kafe yang berpenampilan sederhana. Langkah kakinya semakin maju mendekati Zara, menyudutkan tubuh gadis itu ke dinding lorong yang berdebu.
"Jangan sok suci, jalang cilik! Pakaianmu saja murahan begini, pura-pura menolak hanya untuk menaikkan harga, kan? Sini ikut abang!" bentak pria itu kasar, tangan kekarnya yang dipenuhi bulu-bulu lebat langsung mencengkeram pergelangan tangan Zara dengan sangat kuat hingga memerah.
"Lepaskan saya! Tolong! Mas Hendra! Siapa pun tolong!" teriak Zara histeris, berusaha meronta membebaskan tangannya yang terasa seperti dijepit oleh tang besi.
Namun, suasana lorong belakang yang sepi dan kebisingan musik kafe yang kembali berdentum membuat teriakan Zara tenggelam begitu saja tanpa ada yang mendengar. Pria hidung belang itu tertawa puas melihat kepanikan Zara, wajahnya yang berminyak mulai mendekat ke leher Zara, mencoba mengendus paksa aroma tubuh gadis itu. Rasa jijik dan amarah yang luar biasa seketika membakar seluruh kesadaran Zara. Menggunakan seluruh sisa tenaga yang ia miliki, Zara menghentakkan tangan kirinya yang bebas dan mengayunkannya dengan sangat kencang ke arah wajah pria itu.
Plakkk!
Deru angin sore berembus lembut menyapa halaman belakang Mansion Tawfeeq yang dipenuhi warna-warni bunga mawar merah merekah sempurna. Lima tahun telah berlalu begitu cepat, mengubah kebun luas itu menjadi tempat bermain paling menyenangkan bagi anak-anak yang berlarian riang. Sean tumbuh menjadi remaja laki-laki berusia dua belas tahun berpostur tinggi atletis yang sangat menyayangi adik kecilnya. Bola kaki berwarna hitam putih meluncur mulus di atas rumput hijau saat Sean menggiringnya pelan menghindari sergapan sang adik. Di hadapannya, seorang anak perempuan berusia lima tahun berambut sebahu tertawa terbahak-bahak mengejar bola sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Wajah kecil bocah cantik itu begitu mirip dengan Zara, mewarisi mata bulat jernih dan senyuman manis yang sanggup meluluhkan siapa pun."Ayo kejar bolanya kalau bisa, Abang!" seru si kecil penuh semangat sambil melompat-lompat gembira di atas rumput.Sean sengaja membiarkan adiknya merebut bola tersebut, l
Detik-detik pergantian bulan ke sembilan membawa ketegangan yang luar biasa di seluruh sudut Mansion Tawfeeq. Suara langkah kaki para pelayan terdengar bergegas menyiapkan segala keperluan medis darurat di lantai bawah. Arham mondar-mandir di depan pintu kamar utama dengan wajah tegang, menggenggam erat ponsel pintarnya untuk siaga memanggil dokter kandungan kapan pun diperlukan. Rasa panik yang luar biasa melanda diri CEO matang itu, jauh melebihi ketegangan saat ia harus menandatangani kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah. Di dalam kamar, rintihan tertahan lolos dari bibir Zara yang menggigit seprai putih untuk menahan gelombang kontraksi hebat."Tarik napas dalam-dalam, Nyonya Zara. Dorong perlahan saat kontraksi datang lagi," instruksi Dokter kandungan wanita yang sudah bersiap di samping ranjang.Zara mengejan sekuat tenaga, mencengkeram tangan perawat di sebelah kirinya dengan kuku-kuku yang menancap kuat. Air mata membasahi pipinya yang pucat, merasakan perjuangan hidup
Hari-hari berlalu di Mansion Tawfeeq dengan perubahan drastis yang membuat seluruh pelayan terkadang harus mengelus dada menghadapi tingkah tuan besar mereka. Arham yang tadinya dikenal sebagai CEO dingin, kaku, dan penuh wibawa kini menjelma menjadi suami yang super protektif sekaligus manja. Pria berusia empat puluh tahun itu menolak membiarkan Zara berjalan sendiri menaiki tangga rumah meski hanya berpindah dari lantai satu ke lantai dua. Setiap jam kerja di kantor, Arham selalu menyempatkan diri melakukan panggilan video untuk memastikan istrinya tidak kelelahan mengurus yayasan amal. Sikap posesif itu justru membuat Zara merasa dicintai secara ugal-ugalan, meski kadang ia kewalahan menghadapi perhatian berlebihan suaminya."Mas Arham, aku cuma mau jalan ke taman belakang, bukan mau mendaki gunung," protes Zara sambil tersenyum geli melihat suaminya berdiri menghalangi pintu.Arham melipat kedua tangannya di depan dada bidang dengan wajah serius yang dibuat-buat agar istrinya m
Kamar tidur utama Mansion Tawfeeq diselimuti keheningan yang begitu pekat saat Dokter Hans merapikan alat stetoskop dari dada Zara. Pria paruh baya itu tersenyum simpul, menatap bergantian ke arah Arham dan Zara yang menanti dengan debar jantung tak beraturan. Koper kecil peralatan medis yang dibawanya ditutup perlahan dengan bunyi klik pelan yang memecah ketegangan di udara. Arham merapatkan genggaman tangannya di jemari istrinya, menuntut jawaban cepat dari sang dokter keluarga berpengalaman tersebut. Sean berdiri di dekat pintu kamar dengan mata mengerjap penasaran, ikut menanti penjelasan tentang keadaan sang mama tercinta."Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Kenapa dia mendadak mual-mual hebat tadi pagi?" tanya Arham tidak sabar dengan suara beratnya yang mendesak.Dokter Hans merapikan kacamatanya sambil tersenyum penuh arti melihat kepanikan di wajah CEO dingin tersebut. "Secara fisik tekanan darahnya normal, Tuan Arham. Tapi melihat gejala mual hebat di pagi hari yang diala
Mentari pagi menyapa jendela kaca Mansion Tawfeeq dengan pendar cahaya keemasan yang menghangatkan sudut ruangan makan mewah tersebut. Meja panjang berlapis kayu jati dipenuhi berbagai hidangan sarapan lezat, mulai dari buah-buahan segar, roti panggang, hingga semangkuk sup hangat buatan kepala koki. Para pelayan berdiri siaga di dekat dinding dengan kepala tertunduk hormat, menunggu instruksi selanjutnya dari sang tuan rumah. Arham duduk di kursi utama dengan mengenakan kemeja kerja rapi berbalut rompi setelan jas, siap berangkat ke kantor pusat. Sean duduk di sebelah ayahnya sambil menikmati segelas susu cokelat hangat dan sepotong roti selai stroberi kesukaannya.Zara melangkah mendekati meja makan dengan senyuman cerah di wajah cantiknya, mengenakan dress rumahan santai berwarna pastel yang elegan. Baru saja ia menarik kursi di samping suaminya, aroma tajam dari semangkuk sup ayam hangat di tengah meja tiba-tiba menghantam indra penciumannya. Perut Zara mendadak bergejolak hebat
Roda pesawat komersial kelas utama yang membawa Arham dan Zara mendarat mulus di landasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Udara tropis yang hangat langsung menyambut begitu mereka keluar dari pintu kedatangan VVIP yang sudah dijaga ketat oleh para pengawal pribadi. Mobil sedan hitam panjang milik keluarga Tawfeeq terparkir rapi menunggu di depan lobi, siap membawa pasangan suami istri itu pulang. Zara merapikan mantel wol yang melekat di tubuhnya, menarik napas panjang merasakan kembali aroma khas ibu kota setelah sebulan penuh berada di Paris. Arham merangkul pinggang istrinya dengan posesif, memandu langkah wanita itu masuk ke dalam kabin mobil yang ber-AC sejuk.Perjalanan menuju Mansion Tawfeeq ditemani oleh lalu lintas Jakarta yang padat namun lancar berkat pengawalan khusus di sepanjang jalan tol. Setibanya di gerbang utama mansion, para pelayan dan staf rumah tangga sudah berbaris rapi menyambut kepulangan tuan dan nyonya besar mereka dengan hormat. Sean berlari
Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang
"Nenek ... apa yang sebenarnya terjadi?" bisik Zara lirih ke tengah kesunyian malam, suaranya tenggelam bersama deru angin malam dan hantaman hujan yang tidak kunjung menampakkan tanda-tanda akan mereda.Ia perlahan bangkit berdiri, memunguti tas kainnya yang basah dan memasukkan kartu nama itu ke
Zara mematung dengan mulut sedikit terbuka, matanya melebar sempurna menatap garis wajah wanita di depannya. Hal yang sama juga terjadi pada wanita glamour tersebut; ia menghentikan aktivitas mengibas gaunnya, tangannya membeku di udara dengan pandangan mata yang terkunci rapat pada wajah Zara. Mer
Suara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sempit itu. Wajah pria gempal itu terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi tembamnya. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Zara terlepas seketika karena rasa syok yang luar biasa. Pria itu memegangi pip







