LOGINSuara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sempit itu. Wajah pria gempal itu terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi tembamnya. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Zara terlepas seketika karena rasa syok yang luar biasa. Pria itu memegangi pipinya, matanya melotot tajam dipenuhi kilatan amarah yang mematikan menatap Zara yang napasnya terengah-engah di depannya.
"Berani sekali kamu menampar saya, pelacur sialan! Kurang ajar!" raung pria itu, siap melayangkan pukulan balasan ke arah Zara.
Zara tidak membuang waktu satu detik pun. Begitu cengkeramannya terlepas, ia langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar darurat yang terhubung langsung dengan gang sempit di samping kafe. Ia mendorong pintu besi berat itu hingga terbuka, mengabaikan rasa perih di pergelangan tangannya yang mulai membiru. Begitu langkah kakinya menginjak aspal luar, hawa dingin dan tetesan air hujan yang deras langsung mengguyur seluruh tubuhnya tanpa ampun. Langit malam kota Jakarta malam itu seolah sedang ikut menangis merasakan penderitaan dan ketakutan yang dialami oleh Zara.
"Hei! Jangan kabur kamu! Sini! Saya habisi kamu kalau tertangkap!" samar-samar suara teriakan amarah pria itu masih terdengar dari balik pintu darurat yang perlahan tertutup kembali.
Zara terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang, melompati genangan-genangan air kotor di sepanjang gang sempit yang gelap dan licin. Sepatu flat-nya yang sudah tipis membuatnya beberapa kali hampir tergelincir, namun rasa takut akan kejaran pria hidung belang itu memberinya kekuatan ekstra untuk terus memacu langkah kakinya menembus lebatnya hujan malam. Air hujan mulai mengaburkan pandangannya, membasahi seluruh gaun rajutnya hingga melekat ketat pada tubuhnya yang menggigil kedinginan. Dalam hatinya, ia hanya memikirkan satu hal: ia harus selamat malam ini, ia harus pulang ke rumah untuk merawat Nenek Ajeng, dan ia bersumpah tidak akan pernah sudi lagi menginjakkan kakinya di kafe malam terkutuk itu.
Langkah kakinya membawanya keluar dari gang sempit menuju jalan raya utama yang tampak lengang karena jam sudah menunjukkan tengah malam. Air hujan yang tumpah dari langit semakin deras, disertai dengan kilatan petir yang menyambar sesekali, mempertegas kesunyian dan kesendirian Zara yang terus berlari mencari perlindungan di bawah temaramnya lampu jalan. Ia tidak tahu apakah pria itu masih mengejarnya atau tidak, yang jelas degup jantungnya berpacu sangat cepat layaknya genderang perang, meninggalkan rasa sesak di dadanya yang kian memuncak seiring dengan tubuhnya yang mulai kehabisan tenaga di tengah badai malam.
Ia terus mengayunkan kakinya, menyusuri trotoar jalan raya dengan pandangan yang kian mengabur akibat rintik air yang menusuk-menusuk matanya. Napasnya tersengal-sengal, terasa panas di tenggorokan yang sedari tadi sudah kering. Pikirannya kalut, bercampur aduk antara rasa takut tertangkap oleh pria hidung belang tadi dan rasa cemas memikirkan kondisi Nenek Ajeng di rumah yang mungkin sedang menunggunya dengan cemas. Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat, seolah-olah bumi sedang menarik paksa tubuhnya untuk rebah di atas aspal yang dingin dan basah. Namun, Zara menolak untuk menyerah pada rasa lelahnya; harga diri dan keselamatan nyawanya jauh lebih berharga daripada rasa sakit yang mendera fisiknya saat ini.
Di kejauhan, sorot lampu mobil mewah yang melaju membelah tirai hujan tampak mendekat, memantulkan cahaya perak di atas aspal yang basah. Zara tidak terlalu memedulikan kendaraan itu, ia hanya fokus pada langkah kakinya sendiri, berusaha mencapai sebuah halte bus yang berjarak sekitar lima puluh meter di depannya untuk sekadar berteduh dan menenangkan diri dari kejaran rasa takut. Namun, badai malam itu tampaknya belum selesai menguji ketangguhan seorang Zara Alfathunisa, sebuah garis takdir baru yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya selamanya telah bersiap menantinya tepat di ujung tikungan jalanan yang basah itu.
Ia mempercepat langkahnya, setengah berlari menembus tirai hujan yang kian menebal. Sisa-sisa tenaga di dalam tubuhnya dikerahkan sepenuhnya, membuat jantungnya berdegup kencang hingga menimbulkan rasa nyeri di dadanya. Sepatu yang basah kuyup memicu rasa tidak nyaman di setiap pijakan, tetapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin segera sampai di tempat yang aman, tempat di mana ia bisa bernapas lega tanpa harus mengkhawatirkan bahaya yang mengintai di balik kegelapan gang malam. Hujan yang turun semakin lebat seolah-olah tidak memberikan kesempatan bagi bumi untuk beristirahat, merendam kota dalam kedinginan yang mencekam.
Beberapa meter sebelum mencapai halte bus yang dituju, pandangan mata Zara sempat menangkap sebuah bayangan mobil mewah bertipe sedan sport hitam yang mendadak menepi dengan kecepatan tinggi tepat di depan halte. Pintu mobil bagian penumpang terbuka, menampilkan sosok wanita yang tampak sedang bersiap untuk keluar dari dalam kendaraan tersebut. Zara yang sudah terlanjur memacu kecepatannya dan tidak bisa mengerem langkah kakinya di atas aspal yang sangat licin akibat guyuran air hujan, kehilangan keseimbangan tubuhnya sepenuhnya tepat ketika wanita dari dalam mobil itu menapakkan kakinya di atas trotoar jalan.
"Awas!" teriak Zara spontan dengan sisa suara yang ia miliki, namun semuanya sudah terlambat untuk dihindari.
Brakkk!
Tubuh Zara yang basah kuyup langsung menabrak tubuh wanita glamour tersebut dengan sangat keras. Keduanya kehilangan keseimbangan dan terjatuh bersamaan di atas lantai trotoar halte bus yang dingin. Tas kain Zara terlempar ke samping, membuat beberapa lembar uang kertas hasil jerih payahnya malam itu berserakan basah di atas lantai yang tergenang air. Zara meringis kesakitan, memegangi sikutnya yang membentur tiang besi halte dengan rasa nyeri yang menjalar hebat ke seluruh lengannya.
"Heii! Punya mata tidak, sih?! Kalau berjalan pakai mata, sialan! Gaun mahalku jadi kotor semua gara-gara kamu!" teriak wanita yang ditabrak Zara itu dengan nada suara yang melengking tinggi, dipenuhi amarah yang meledak-ledak sembari sibuk mengibaskan air kotor yang mengotori gaun desainer seksi berwarna merah menyala yang dikenakannya.
"Maaf ... Maafkan saya, Mbak. Saya benar-benar tidak sengaja, jalanannya sangat licin dan saya sedang terburu-buru ...," ucap Zara terbata-bata sambil berusaha duduk, kepalanya terasa pening akibat benturan kecil yang terjadi.
Zara perlahan mengangkat wajahnya yang basah oleh air hujan untuk menatap wanita di hadapannya, bersiap menerima makian lebih lanjut dan berniat membantu mengumpulkan barang-barang wanita itu yang mungkin ikut terjatuh. Namun, begitu pandangan mata kedua wanita itu saling bertemu di bawah siraman lampu halte bus yang temaram, kata-kata makian yang sudah berada di ujung lidah wanita glamour itu mendadak lenyap seketika. Suasana di sekitar halte bus itu seakan-akan membeku dalam sekejap, menyisakan suara deru angin dan hantaman hujan deras yang kian menggila di sekitar mereka.
Matahari pagi menyingsing tipis di atas atap mansion keluarga Tawfeeq, memancarkan sinar lembut yang memantul di kaca-kaca jendela tinggi. Di dalam kamar tidurnya yang luas, Nindy duduk melamun di tepi tempat tidur berseprai putih bersih. Fikirannya terombang-ambing oleh bayangan kejadian semalam, saat ia tidak sengaja melihat Gina berjalan terburu-buru dengan raut wajah sangat mencurigakan.Nindy menarik napas panjang, melangkah keluar kamar berniat menuju area dapur untuk mengambil secangkir teh hangat. Saat melewati ruang santai lantai dua, langkah kakinya terhenti di dekat meja sudut yang jarang terpakai. Di atas meja kayu itu, tergeletak sebuah kotak kardus kecil berisi barang-barang bekas yang dulu ditinggalkan Anji saat pria itu mendadak diusir dari rumah oleh Arham.Nindy mendekati kotak tersebut dengan dahi berkerut pelan. Tangannya meraih sebuah ponsel lama berkaca retak yang tergeletak di dasar kardus, barang milik Anji yang tertinggal karena pria itu terburu-buru berkem
Sementara itu, di lantai dua mansion megah keluarga Tawfeeq, hening malam terasa begitu mencengkeram. Arham berdiri di samping jendela kamar kerjanya, menatap keluar ke arah pelataran parkir yang luas. Pria tegap berusia empat puluh tahun itu memegang segelas air putih hangat, sementara kepalanya terus berputar memikirkan Zara yang tertidur kelelahan di rumah sakit.Pintu kamar kerja mendadak diketuk pelan dari luar. Arham memutar tubuhnya seraya meletakkan gelas ke atas meja mahoni. "Masuk."Sesosok anak laki-laki berusia tujuh tahun melangkah masuk dengan ragu-ragu. Sean menundukkan kepala seraya berjalan mendekati sang ayah.Raut wajah Arham seketika melunak saat melihat putra tunggalnya belum tidur di jam selarut ini. Pria itu berlutut di atas lantai kayu, menyamakan tingginya dengan Sean lalu memegang kedua bahu kecil anak itu."Sean ... Kenapa belum tidur, Nak? Ini sudah lewat jam sembilan malam," tanya Arham dengan suara bariton yang lembut dan hangat.Sean mendongak, men
Lampu neon kafe remang-remang itu berkedip-kedip pelan, memantulkan cahaya redup ke atas meja plastik tempat deretan foto tua terpajang. Gina menatap gambar-gambar kusam di hadapannya dengan napas tercekat. Di dalam foto itu, sosok dirinya dan Anji terlihat begitu dekat dalam dekapan mesra, diambil di sebuah kamar hotel beberapa tahun lalu saat Anji masih berstatus sebagai kekasih sah Nindy."Kamu ... kamu menyimpan semua foto haram ini?!" bentak Gina dengan suara tertahan, matanya melotot tajam mengawasi wajah culas Anji.Anji terkekeh pelan, menyapu foto-foto itu dengan telapak tangannya lalu mengumpulkannya kembali ke dalam genggaman. "Tentu saja aku simpan, Gina. Ini adalah asuransi jiwaku. Kamu pikir aku tidak tahu jalan pikiranmu yang suka lempar batu sembunyi tangan?"Gina mengetakkan giginya rapat-rapt, merasakan hawa dingin merayap dari tengkuk hingga ke dadanya. "Kamu mau memeras aku lagi, Anji?! Uang tiga puluh juta rupiah tadi kurang untuk mulut serumus ini?!""Tiga p
"Ini ... ini pasti harganya ratusan juta!" desis Gina dengan napas tersengal-sengal, matanya berbinar penuh keserakahan kotor.Tanpa rasa ragu sedikit pun, Gina memasukkan jam tangan emas itu ke dalam saku mantel hitamnya. Ia merapikan kembali letak kotak beludru dan menutup laci meja rapat-rapat agar tidak menimbulkan kecurigaan saat Arham memeriksa ruangan kerjanya nanti.Gina melangkah cepat menuju pintu kamar kerja, membuka kuncinya perlahan, lalu menyelinap keluar kembali menuju koridor yang sepi. Senyum kemenangan menyeringai di wajahnya yang polesan makeup-nya tebal. Uang tiga puluh juta untuk Anji kini sudah berada di dalam genggamannya.Wanita itu melangkah mantap menuju kamarnya sendiri untuk bersiap-siap menemui Anji di kafe remang-remang sesuai janji mereka. Tanpa disadari oleh Gina, seluruh aksinya saat keluar dari kamar kerja Arham sempat tertangkap oleh sepasang mata kecil yang menatapnya dari balik celah pintu kamar seberang.Sean, putra kecil Arham yang berusia t
Sementara itu, di dalam kamar rawat nomor 304 rumah sakit kota, suasana sore terasa begitu tenang dan syahdu. Zara sedang duduk berlutut di samping tempat tidur besi, mengusapkan kain lap basah beraroma lembut pada lengan kiri Nenek Ajeng yang tidak terbalut perban luka bakar.Nenek Ajeng menatap wajah cucunya yang tekun bekerja dengan pandangan penuh rasa kasih. "Zara ... Kamu tidak capek merawat Nenek terus dari kemarin?"Zara mendongak, menyunggingkan senyum paling manis yang sanggup ia tampilkan di hadapan sang nenek. "Sama sekali tidak, Nek. Rasa capek Zara langsung hilang setiap kali melihat Nenek bisa tersenyum lagi seperti ini.""Nenek tahu kamu sedang memikul beban yang sangat berat, Nak," bisik Nenek Ajeng pelan, telapak tangannya yang kurus mengelus lembut helai rambut Zara. "Soal biaya rumah sakit dan pria bernama Arham itu ... Kamu tidak usah menyembunyikan apa-apa lagi dari Nenek."Gerakan tangan Zara yang sedang memegang kain lap seketika terhenti. Matanya berkaca-
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Gina akhirnya dengan nada suara yang melunak, terpaksa menelan harga dirinya di hadapan pria selingkuhannya di masa lalu itu.Anji menyunggingkan senyum kemenangan, menyadari bahwa umpan beracunnya telah ditelan bulat-bulat oleh wanita berotak dangkal di hadapannya. Pria itu merogoh saku celananya yang lusuh, mengeluarkan sebuah kantung plastik kecil berisi beberapa lembar dokumen lusuh dan foto-foto lama."Kita punya musuh yang sama, Gina," ucap Anji seraya menepuk-nepuk kantung plastik itu di atas meja. "Arham sudah menghancurkan hidup aku dengan memisahkan aku dari Nindy dan memutus semua akses rezeki aku. Dan dia juga sedang bersiap menghancurkan masa depan kamu."Gina menatap kantung plastik itu dengan dahi berkerut curiga. "Apa isi dokumen-dokumen itu?""Ini adalah bukti-bukti kecil yang bisa membuat posisi Arham tergoyang jika kita menggunakannya dengan benar," jawab Anji tenang tanpa mengalihkan pandangannya dari Gina. "Tapi tentu saja,
Sean menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangannya di depan dada dengan dagu yang diangkat tinggi-tinggi, menatap lurus ke arah Zara dengan sepasang mata yang berkilat menantang, menanti ledakan amarah yang ia harapkan akan keluar dari mulut wanita yang paling ia benci di dalam mansion ini. Bocah i
Sentuhan bibir Arham bergerak makin menuntut, membelenggu seluruh kesadaran Zara di dalam ruang kabin yang sempit dan remang. Pria matang itu tahu benar bagaimana cara mendominasi setiap jengkal pertahanan wanita melalui ritme ciuman yang sarat pengalaman hidup selama empat dekade. Zara merasakan
Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang
"Satu lagu lagi, Zara. Tolonglah, malam ini pengunjung kafe sedang ramai-ramainya. Sisa tips dari meja depan bakal aku bagi dua buat kamu," ucap Hendra, pemilik kafe remang-remang di sudut jalanan kota itu, sembari menyodorkan segelas air putih hangat ke arah Zara.Zara menghela napas panjang, men







