Beranda / Romansa / Cinta Tulus Istri Pengganti / Bab 2. Wajah yang Sama Percis. 

Share

Bab 2. Wajah yang Sama Percis. 

Penulis: Ucing Ucay
last update Tanggal publikasi: 2023-08-01 14:13:59

​Suara tamparan yang teramat keras bergema di lorong sempit itu. Wajah pria gempal itu terlempar ke samping, meninggalkan bekas kemerahan yang sangat jelas di pipi tembamnya. Cengkeraman tangannya pada pergelangan tangan Zara terlepas seketika karena rasa syok yang luar biasa. Pria itu memegangi pipinya, matanya melotot tajam dipenuhi kilatan amarah yang mematikan menatap Zara yang napasnya terengah-engah di depannya.

​"Berani sekali kamu menampar saya, pelacur sialan! Kurang ajar!" raung pria itu, siap melayangkan pukulan balasan ke arah Zara.

​Zara tidak membuang waktu satu detik pun. Begitu cengkeramannya terlepas, ia langsung berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju pintu keluar darurat yang terhubung langsung dengan gang sempit di samping kafe. Ia mendorong pintu besi berat itu hingga terbuka, mengabaikan rasa perih di pergelangan tangannya yang mulai membiru. Begitu langkah kakinya menginjak aspal luar, hawa dingin dan tetesan air hujan yang deras langsung mengguyur seluruh tubuhnya tanpa ampun. Langit malam kota Jakarta malam itu seolah sedang ikut menangis merasakan penderitaan dan ketakutan yang dialami oleh Zara.

​"Hei! Jangan kabur kamu! Sini! Saya habisi kamu kalau tertangkap!" samar-samar suara teriakan amarah pria itu masih terdengar dari balik pintu darurat yang perlahan tertutup kembali.

​Zara terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang, melompati genangan-genangan air kotor di sepanjang gang sempit yang gelap dan licin. Sepatu flat-nya yang sudah tipis membuatnya beberapa kali hampir tergelincir, namun rasa takut akan kejaran pria hidung belang itu memberinya kekuatan ekstra untuk terus memacu langkah kakinya menembus lebatnya hujan malam. Air hujan mulai mengaburkan pandangannya, membasahi seluruh gaun rajutnya hingga melekat ketat pada tubuhnya yang menggigil kedinginan. Dalam hatinya, ia hanya memikirkan satu hal: ia harus selamat malam ini, ia harus pulang ke rumah untuk merawat Nenek Ajeng, dan ia bersumpah tidak akan pernah sudi lagi menginjakkan kakinya di kafe malam terkutuk itu.

​Langkah kakinya membawanya keluar dari gang sempit menuju jalan raya utama yang tampak lengang karena jam sudah menunjukkan tengah malam. Air hujan yang tumpah dari langit semakin deras, disertai dengan kilatan petir yang menyambar sesekali, mempertegas kesunyian dan kesendirian Zara yang terus berlari mencari perlindungan di bawah temaramnya lampu jalan. Ia tidak tahu apakah pria itu masih mengejarnya atau tidak, yang jelas degup jantungnya berpacu sangat cepat layaknya genderang perang, meninggalkan rasa sesak di dadanya yang kian memuncak seiring dengan tubuhnya yang mulai kehabisan tenaga di tengah badai malam.

​Ia terus mengayunkan kakinya, menyusuri trotoar jalan raya dengan pandangan yang kian mengabur akibat rintik air yang menusuk-menusuk matanya. Napasnya tersengal-sengal, terasa panas di tenggorokan yang sedari tadi sudah kering. Pikirannya kalut, bercampur aduk antara rasa takut tertangkap oleh pria hidung belang tadi dan rasa cemas memikirkan kondisi Nenek Ajeng di rumah yang mungkin sedang menunggunya dengan cemas. Setiap langkah yang ia ambil terasa semakin berat, seolah-olah bumi sedang menarik paksa tubuhnya untuk rebah di atas aspal yang dingin dan basah. Namun, Zara menolak untuk menyerah pada rasa lelahnya; harga diri dan keselamatan nyawanya jauh lebih berharga daripada rasa sakit yang mendera fisiknya saat ini.

​Di kejauhan, sorot lampu mobil mewah yang melaju membelah tirai hujan tampak mendekat, memantulkan cahaya perak di atas aspal yang basah. Zara tidak terlalu memedulikan kendaraan itu, ia hanya fokus pada langkah kakinya sendiri, berusaha mencapai sebuah halte bus yang berjarak sekitar lima puluh meter di depannya untuk sekadar berteduh dan menenangkan diri dari kejaran rasa takut. Namun, badai malam itu tampaknya belum selesai menguji ketangguhan seorang Zara Alfathunisa, sebuah garis takdir baru yang akan mengubah seluruh jalan hidupnya selamanya telah bersiap menantinya tepat di ujung tikungan jalanan yang basah itu.

​Ia mempercepat langkahnya, setengah berlari menembus tirai hujan yang kian menebal. Sisa-sisa tenaga di dalam tubuhnya dikerahkan sepenuhnya, membuat jantungnya berdegup kencang hingga menimbulkan rasa nyeri di dadanya. Sepatu yang basah kuyup memicu rasa tidak nyaman di setiap pijakan, tetapi ia tidak peduli. Ia hanya ingin segera sampai di tempat yang aman, tempat di mana ia bisa bernapas lega tanpa harus mengkhawatirkan bahaya yang mengintai di balik kegelapan gang malam. Hujan yang turun semakin lebat seolah-olah tidak memberikan kesempatan bagi bumi untuk beristirahat, merendam kota dalam kedinginan yang mencekam.

​Beberapa meter sebelum mencapai halte bus yang dituju, pandangan mata Zara sempat menangkap sebuah bayangan mobil mewah bertipe sedan sport hitam yang mendadak menepi dengan kecepatan tinggi tepat di depan halte. Pintu mobil bagian penumpang terbuka, menampilkan sosok wanita yang tampak sedang bersiap untuk keluar dari dalam kendaraan tersebut. Zara yang sudah terlanjur memacu kecepatannya dan tidak bisa mengerem langkah kakinya di atas aspal yang sangat licin akibat guyuran air hujan, kehilangan keseimbangan tubuhnya sepenuhnya tepat ketika wanita dari dalam mobil itu menapakkan kakinya di atas trotoar jalan.

​"Awas!" teriak Zara spontan dengan sisa suara yang ia miliki, namun semuanya sudah terlambat untuk dihindari.

​Brakkk!

​Tubuh Zara yang basah kuyup langsung menabrak tubuh wanita glamour tersebut dengan sangat keras. Keduanya kehilangan keseimbangan dan terjatuh bersamaan di atas lantai trotoar halte bus yang dingin. Tas kain Zara terlempar ke samping, membuat beberapa lembar uang kertas hasil jerih payahnya malam itu berserakan basah di atas lantai yang tergenang air. Zara meringis kesakitan, memegangi sikutnya yang membentur tiang besi halte dengan rasa nyeri yang menjalar hebat ke seluruh lengannya.

​"Heii! Punya mata tidak, sih?! Kalau berjalan pakai mata, sialan! Gaun mahalku jadi kotor semua gara-gara kamu!" teriak wanita yang ditabrak Zara itu dengan nada suara yang melengking tinggi, dipenuhi amarah yang meledak-ledak sembari sibuk mengibaskan air kotor yang mengotori gaun desainer seksi berwarna merah menyala yang dikenakannya.

​"Maaf ... Maafkan saya, Mbak. Saya benar-benar tidak sengaja, jalanannya sangat licin dan saya sedang terburu-buru ...," ucap Zara terbata-bata sambil berusaha duduk, kepalanya terasa pening akibat benturan kecil yang terjadi.

​Zara perlahan mengangkat wajahnya yang basah oleh air hujan untuk menatap wanita di hadapannya, bersiap menerima makian lebih lanjut dan berniat membantu mengumpulkan barang-barang wanita itu yang mungkin ikut terjatuh. Namun, begitu pandangan mata kedua wanita itu saling bertemu di bawah siraman lampu halte bus yang temaram, kata-kata makian yang sudah berada di ujung lidah wanita glamour itu mendadak lenyap seketika. Suasana di sekitar halte bus itu seakan-akan membeku dalam sekejap, menyisakan suara deru angin dan hantaman hujan deras yang kian menggila di sekitar mereka.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 347: Epilog: Cinta Tulus di Taman Mawar

    ​Deru angin sore berembus lembut menyapa halaman belakang Mansion Tawfeeq yang dipenuhi warna-warni bunga mawar merah merekah sempurna. Lima tahun telah berlalu begitu cepat, mengubah kebun luas itu menjadi tempat bermain paling menyenangkan bagi anak-anak yang berlarian riang. Sean tumbuh menjadi remaja laki-laki berusia dua belas tahun berpostur tinggi atletis yang sangat menyayangi adik kecilnya. Bola kaki berwarna hitam putih meluncur mulus di atas rumput hijau saat Sean menggiringnya pelan menghindari sergapan sang adik. Di hadapannya, seorang anak perempuan berusia lima tahun berambut sebahu tertawa terbahak-bahak mengejar bola sambil merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Wajah kecil bocah cantik itu begitu mirip dengan Zara, mewarisi mata bulat jernih dan senyuman manis yang sanggup meluluhkan siapa pun.​"Ayo kejar bolanya kalau bisa, Abang!" seru si kecil penuh semangat sambil melompat-lompat gembira di atas rumput.​Sean sengaja membiarkan adiknya merebut bola tersebut, l

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 346: Kelahiran sang Buah Hati

    ​Detik-detik pergantian bulan ke sembilan membawa ketegangan yang luar biasa di seluruh sudut Mansion Tawfeeq. Suara langkah kaki para pelayan terdengar bergegas menyiapkan segala keperluan medis darurat di lantai bawah. Arham mondar-mandir di depan pintu kamar utama dengan wajah tegang, menggenggam erat ponsel pintarnya untuk siaga memanggil dokter kandungan kapan pun diperlukan. Rasa panik yang luar biasa melanda diri CEO matang itu, jauh melebihi ketegangan saat ia harus menandatangani kontrak bisnis bernilai triliunan rupiah. Di dalam kamar, rintihan tertahan lolos dari bibir Zara yang menggigit seprai putih untuk menahan gelombang kontraksi hebat.​"Tarik napas dalam-dalam, Nyonya Zara. Dorong perlahan saat kontraksi datang lagi," instruksi Dokter kandungan wanita yang sudah bersiap di samping ranjang.​Zara mengejan sekuat tenaga, mencengkeram tangan perawat di sebelah kirinya dengan kuku-kuku yang menancap kuat. Air mata membasahi pipinya yang pucat, merasakan perjuangan hidup

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 345: (++) Kebucinan Arham yang Semakin Menjadi

    ​Hari-hari berlalu di Mansion Tawfeeq dengan perubahan drastis yang membuat seluruh pelayan terkadang harus mengelus dada menghadapi tingkah tuan besar mereka. Arham yang tadinya dikenal sebagai CEO dingin, kaku, dan penuh wibawa kini menjelma menjadi suami yang super protektif sekaligus manja. Pria berusia empat puluh tahun itu menolak membiarkan Zara berjalan sendiri menaiki tangga rumah meski hanya berpindah dari lantai satu ke lantai dua. Setiap jam kerja di kantor, Arham selalu menyempatkan diri melakukan panggilan video untuk memastikan istrinya tidak kelelahan mengurus yayasan amal. Sikap posesif itu justru membuat Zara merasa dicintai secara ugal-ugalan, meski kadang ia kewalahan menghadapi perhatian berlebihan suaminya.​"Mas Arham, aku cuma mau jalan ke taman belakang, bukan mau mendaki gunung," protes Zara sambil tersenyum geli melihat suaminya berdiri menghalangi pintu.​Arham melipat kedua tangannya di depan dada bidang dengan wajah serius yang dibuat-buat agar istrinya m

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 343: Kabar Bahagia Garis Dua

    ​Kamar tidur utama Mansion Tawfeeq diselimuti keheningan yang begitu pekat saat Dokter Hans merapikan alat stetoskop dari dada Zara. Pria paruh baya itu tersenyum simpul, menatap bergantian ke arah Arham dan Zara yang menanti dengan debar jantung tak beraturan. Koper kecil peralatan medis yang dibawanya ditutup perlahan dengan bunyi klik pelan yang memecah ketegangan di udara. Arham merapatkan genggaman tangannya di jemari istrinya, menuntut jawaban cepat dari sang dokter keluarga berpengalaman tersebut. Sean berdiri di dekat pintu kamar dengan mata mengerjap penasaran, ikut menanti penjelasan tentang keadaan sang mama tercinta.​"Bagaimana keadaan istri saya, Dok? Kenapa dia mendadak mual-mual hebat tadi pagi?" tanya Arham tidak sabar dengan suara beratnya yang mendesak.​Dokter Hans merapikan kacamatanya sambil tersenyum penuh arti melihat kepanikan di wajah CEO dingin tersebut. "Secara fisik tekanan darahnya normal, Tuan Arham. Tapi melihat gejala mual hebat di pagi hari yang diala

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 342: Kejutan Kecil di Pagi Hari

    ​Mentari pagi menyapa jendela kaca Mansion Tawfeeq dengan pendar cahaya keemasan yang menghangatkan sudut ruangan makan mewah tersebut. Meja panjang berlapis kayu jati dipenuhi berbagai hidangan sarapan lezat, mulai dari buah-buahan segar, roti panggang, hingga semangkuk sup hangat buatan kepala koki. Para pelayan berdiri siaga di dekat dinding dengan kepala tertunduk hormat, menunggu instruksi selanjutnya dari sang tuan rumah. Arham duduk di kursi utama dengan mengenakan kemeja kerja rapi berbalut rompi setelan jas, siap berangkat ke kantor pusat. Sean duduk di sebelah ayahnya sambil menikmati segelas susu cokelat hangat dan sepotong roti selai stroberi kesukaannya.​Zara melangkah mendekati meja makan dengan senyuman cerah di wajah cantiknya, mengenakan dress rumahan santai berwarna pastel yang elegan. Baru saja ia menarik kursi di samping suaminya, aroma tajam dari semangkuk sup ayam hangat di tengah meja tiba-tiba menghantam indra penciumannya. Perut Zara mendadak bergejolak hebat

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 341: Kepulangan yang Manis

    ​Roda pesawat komersial kelas utama yang membawa Arham dan Zara mendarat mulus di landasan Bandara Internasional Soekarno-Hatta Jakarta. Udara tropis yang hangat langsung menyambut begitu mereka keluar dari pintu kedatangan VVIP yang sudah dijaga ketat oleh para pengawal pribadi. Mobil sedan hitam panjang milik keluarga Tawfeeq terparkir rapi menunggu di depan lobi, siap membawa pasangan suami istri itu pulang. Zara merapikan mantel wol yang melekat di tubuhnya, menarik napas panjang merasakan kembali aroma khas ibu kota setelah sebulan penuh berada di Paris. Arham merangkul pinggang istrinya dengan posesif, memandu langkah wanita itu masuk ke dalam kabin mobil yang ber-AC sejuk.​Perjalanan menuju Mansion Tawfeeq ditemani oleh lalu lintas Jakarta yang padat namun lancar berkat pengawalan khusus di sepanjang jalan tol. Setibanya di gerbang utama mansion, para pelayan dan staf rumah tangga sudah berbaris rapi menyambut kepulangan tuan dan nyonya besar mereka dengan hormat. Sean berlari

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 17. Make Over Zara Menjadi Gina. 

    ​Jojo menarik napas dalam-dalam, mencoba meredakan debaran jantungnya akibat keterkejutan yang teramat sangat. Sebagai seorang penata rambut profesional yang sudah bertahun-tahun melayani lingkaran sosialita kelas atas, ia tahu betul bahwa pertanyaan lebih lanjut hanya akan merusak bisnisnya. Uang

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 7. Siasat di Balik Kemewahan

    ​"Aku tidak ketakutan, Anton! Aku hanya sedang berpikir logis!" bentak Gina sembari menegakkan tubuhnya, menepis tangan Anton dari bahunya dengan kasar. Ia berdiri dari sofa, berjalan mondar-mandir di atas karpet bulu impor dengan langkah kaki yang menghentak-hentak gelisah. "Aku mencintaimu, kamu t

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 6. Jawaban Sang Nenek 

    ​"Dengarkan Nenek baik-baik, Zara Alfathunisa," ucap Nenek Ajeng dengan nada suara yang ditekan serendah dan setegas mungkin, tangannya yang gemetar bergerak meraih jemari Zara di atas meja. "Menurut mendiang ibumu sebelum dia meninggal dunia, dan menurut ingatan Nenek sendiri yang merawat ibumu saa

  • Cinta Tulus Istri Pengganti   Bab 5. Pertanyaan yang Menggejutkan Sang Nenek. 

    ​"Ini upah ku menyanyi malam ini, Nek. Besok pagi-pagi sekali, aku akan pergi ke apotek depan gang untuk menebus seluruh resep obat nenek yang sempat tertunda kemarin. Sisanya bisa kita gunakan untuk membeli beras dan kebutuhan dapur untuk seminggu ke depan," ucap Zara dengan binar mata penuh kepuas

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status