แชร์

Cinta  Usai Berpisah
Cinta Usai Berpisah
ผู้แต่ง: Kardinah

Tersesat

ผู้เขียน: Kardinah
last update วันที่เผยแพร่: 2025-03-07 13:09:22

Seruan lirih seorang gadis kecil menggema, bersamaan dengan tubuh mungilnya yang terhuyung dan jatuh ke tanah.

"Aduh."

Abrisam, yang tengah terburu-buru, mendadak tersentak. Ia menunduk dengan cemas, mengulurkan tangan dengan penuh penyesalan. “Maaf... Aku tak sengaja. Kamu baik-baik saja?”

Saat gadis kecil itu mendongak, sepasang mata mereka saling bersitatap. Abrisam terhenyak. Wajah mungil itu... begitu serupa dengannya. Terlalu mirip. Rambut hitam lurus menjuntai lembut, kulit seputih pualam, dan lesung pipi di sisi kiri, semua itu bagai refleksi dirinya dalam wujud yang lebih kecil.

Gadis kecil itu berkedip beberapa kali, lalu dengan ragu menerima tangan Abrisam. “Aku tidak apa-apa, Om. Hanya sedikit kaget.”

Abrisam membantunya berdiri, masih diselimuti keterkejutan yang menggumpal di dadanya. Abrisam seperti mesin pemindai, menatap gadis itu dari atas ke bawah berulang.

“Siapa namamu? Apa kamu sendirian di sini?” tanya Abrisam penasaran. Abrisam menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ditemukannya sosok orang dewasa di sana.

Gadis itu menggigit bibir mungilnya, sorot matanya redup. “Namaku Ciara. Aku sedang mencari Mama. Tapi... aku kehilangan jejaknya. Dan aku tidak tahu jalan pulang.”

Abrisam menelan ludah. Seolah tak cukup dengan kemiripan yang mengusik pikirannya, kini ia mendengar kisah yang membuat hatinya mencelos. “Ciara... Nama yang indah. Tapi, kamu bilang kehilangan Mama? Terakhir kali kamu melihatnya di mana?”

Ciara mengangkat bahu kecilnya. “Di dekat taman sana.” Jawabnya menunjuk dengan telunjuknya yang diikuti tatapan Abrisam. “Aku tadi melihat boneka kelinci lucu di etalase toko, lalu aku berhenti sebentar. Waktu menoleh, Mama sudah tidak ada. Aku berlari mencarinya, tapi malah semakin jauh tersesat.” Mata beningnya mulai menggenang.

Abrisam merasa hatinya menghangat oleh empati. “Jangan takut, kita cari Mama bersama-sama, yuk? Mungkin mama masih ada di sekitar sini.”

Ciara mengangguk pelan, jemarinya yang kecil meremas tangan Abrisam. Abrisam menatap tangan mungil yang kini berada dalam genggamannya.

“Om, tahu.....mamaku cantik sekali,” celotehnya pada Abrisam yang disambut dengan senyuman.

Mereka pun mulai menelusuri taman, harapan terpancar di setiap langkah. Namun, pikiran Abrisam tak henti-hentinya berputar. Seberapa besar kemungkinan ia bertemu seorang anak kecil yang begitu mirip dengannya?

“Ciara, kamu tinggal di mana?” tanyanya lembut, berusaha menggali lebih dalam.

“Aku tidak tahu alamatnya... tapi di depan rumahku ada pohon besar yang rindang dan kucing oranye bernama Milo,” jawabnya polos.

Abrisam tersenyum tipis. Jawaban khas anak-anak. “Kamu tinggal bersama siapa di rumah?"

“Mama. Aku anak satu-satunya,” jawab Ciara polos, menatap Abrisam dengan mata bulatnya yang penuh kejujuran.

Abrisam berhenti melangkah. Jantungnya berdegup tak beraturan. “Berapa usiamu, Ciara?”

“Lima tahun, Om. Lebih tepatnya mau enam tahun, tapi masih tahun depan. Beberapa bulan lagi,” ocehannya membuat Abrisam tertawa kecil.

Dunia seakan berputar. Abrisam merasakan sesuatu yang begitu asing menyelusup ke dalam dirinya. Sejenak, napasnya tercekat. Lima tahun...

Sebelum dia bisa berkata lebih jauh, suara nyaring seorang wanita memecah keheningan. “Ciara! Nak, di mana kamu?”

Ciara menoleh cepat, matanya berbinar melihat sosok yang dikenalinya. “Om, itu Mama!”

Abrisam mengangkat wajah, melihat sosok seorang wanita berlari ke arah mereka. Wajahnya cemas, namun seketika berubah lega saat melihat Ciara. Begitu mendekat, wanita itu langsung merengkuh putrinya ke dalam pelukan erat.

“Mama! Aku takut sekali tadi,” lirih Ciara di antara isak tangis kecilnya.

“Maafkan Mama, Sayang. Mama sudah mencari ke mana-mana.” Suara wanita itu bergetar penuh emosi, tangannya mengusap rambut gadis kecil itu dengan kelembutan seorang ibu.

Abrisam terpaku. Kini, dengan jarak yang lebih dekat, dia bisa melihat wajah wanita itu dengan begitu jelas. Dan hatinya berdegup semakin kencang.

Ya, Abrisam mengenali wanita itu.

Wajah yang tak pernah benar-benar dia ia lupakan. Mata yang dulu pernah menatapnya penuh cinta dan kasih sayang. Senyum yang tersimpan di sudut kenangan lamanya.

Wanita itu mendongak, dan saat mata mereka bertemu, seluruh tubuhnya menegang. Sejenak, ia membeku, tatapan matanya penuh ketidakpercayaan dan kemarahan.

“Abrisam?” suara wanita itu lirih, tetapi nada tajam dalam suaranya terasa jelas.

Dunia Abrisam seakan berhenti. Napasnya tercekat. “Cinta...?”

Cinta menggenggam tangan Ciara lebih erat, seolah melindunginya. Matanya menatap Abrisam dengan penuh kebencian. “Apa yang kamu lakukan di sini?!”

Abrisam mengerutkan kening, bingung dengan reaksi Cinta. “Aku... Aku kebetulan bertemu Ciara. Dia tersesat. Aku hanya ingin membantu.”

“Terima kasih. Tapi sekarang Ciara tak butuh bantuanmu,” potong Cinta cepat. Dia menarik Ciara mendekat, seakan menjaga jarak dari Abrisam.

Abrisam merasa dadanya semakin sesak. “Cinta... Aku tak menyangka bertemu denganmu di sini. Dan Ciara... Dia...”

“Dia bukan urusanmu,” sela Cinta tajam. “Kamu sudah pergi dari hidupku, Abrisam. Pergi tanpa menoleh. Jangan berpikir terlalu jauh dan bertanya-tanya tentang putriku.”

Putriku.

Kata itu menampar Abrisam begitu keras. Dia menatap Ciara sekali lagi, menyadari kebenaran yang selama ini tersembunyi darinya.

“Ciara... dia anakku, bukan?” tanyanya dengan suara bergetar.

Cinta mengangkat dagunya, ekspresi wajahnya dingin. “Tidak. Ciara anakku dan suamiku.”

Abrisam merasa tubuhnya melemas. “Kamu berbohong padaku? Aku berhak tahu!”

Ciara tertawa sinis. “Hak? Kau bicara tentang hak setelah kamu meninggalkanku tanpa sepatah kata pun? Setelah kamu memilih mimpimu dan mengabaikan perasaanku? Aku tidak membutuhkanmu, Abrisam. Dan anakmu, bukankah kamu sudah membuangnya? Kamu lupa bagaimana orang tuamu memintaku membunuhnya?”

Abrisam terdiam. Semua kata-kata yang terlontar dari mulut Cinta menusuknya lebih dalam dari yang dia bayangkan. Namun di balik kemarahan dan kepedihan itu, ada penyesalan yang tak bisa ia sangkal.

“Aku tahu aku salah,” ucapnya menyesali diri. “Tapi benarkah dia bukan anakku? Bertahun-tahun aku mencarimu. Aku ingin menebus kesalahanku. .”

Abrisam masih belum yakin dengan jawaban Cinta. Sisi hatinya yang lain tak mau menerima bahwa Cinta kini menjadi milik orang lain.

Cinta menggeleng tegas. “Bukan... dia bukan anakmu. Semua sudah terlambat, Abrisam. Aku sudah berjuang sendiri selama ini, dan aku tidak akan membiarkanmu datang dan merusak apa yang sudah kubangun. Ciara bukan anakmu.”

Abrisam ingin membantah, ingin berdebat. Namun, tatapan tajam Cinta seakan menjadi tembok kokoh yang tak bisa dia runtuhkan.

Lagi pula Abrisam tak mau Ciara ketakutan padanya hanya karena emosi sesaatnya.

“Ayo, Sayang. Kita pulang,” ucap Cinta lembut pada Ciara. Gadis itu mengangguk, menuruti ajakan ibunya.

Ciara menatap Abrisam sebentar sebelum menggenggam tangan ibunya dan berjalan pergi. Ciara bisa merasakan kemarahan pada ibunya sehingga dia tak berani melambaikan tangan tanda perpisahan pada lelaki yang sudah menolongnya.

Abrisam hanya bisa berdiri di tempatnya, menatap punggung mereka yang semakin menjauh. Perasaannya merasa begitu terikat dengan Ciara. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan perasaan kehilangan.

“Aneh!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cinta Usai Berpisah   Berhenti Melukai

    Kalimat itu jatuh seperti hujan terakhir sebelum kemarau panjang. Abrisam tidak bergerak, diam menatap Cinta sebelum ketakutannya terjadi.Cinta menghela nafas, melangkah mendekat ke arah Abrisam. Lelaki yang pernah dia cintai sekaligus pria yang menghancurkan kehidupannya untuk kedua kali.“Aku sudah terlalu lama bertahan. Sejujurnya aku tak ingin mengulang kesalahan yang sama. Tak bisakah kamu melepaskan kami sekali lagi seperti dulu?” “Tapi aku mencintaimu dan Ciara, aku ingin dekat dan menjadi bagian dari kalian untuk menebus kesalahanku yang lalu. Aku ingin menjadi ayah yang baik untuk Ciara.”Cinta menghela nafas, tak ada kemarahan di matanya dan itu malah membuat Abrisam makin ketakutan Ciara menatapnya dalam diam. Gadis kecil itu tampak bingung, perasaannya tak bisa sepenuhnya memahami dengan apa yang terjadi antara orang dewasa.“Aku tidak marah,” kata cinta pelan. “Jadi dengarkan aku baik-baik Bri.” Kalimat itu terucap tegas dan jauh lebih tajam. “Kami tidak membutuhkanmu.

  • Cinta Usai Berpisah   Sekedar Ilusi

    Entah kenapa Abrisam merasa ragu setelah membacanya, dia tak asing dengan alamat yang diberikan Rania padanya. Pikirannya kacau dia berusaha denial dengan kenyataan yang ada. Namun rasanya tak mungkin perempuan itu sengaja melakukannya.Abrisam masuk ke dalam mobil miliknya, refleks Cinta menoleh ke arahnya. Menatap wajah Abrisam yang tampak suram, sesuram kehidupannya. Hingga membuat Cinta melontarkan pertanyaan pada lelaki itu.“Ada apa? Di mana Ciara?”Abrisam menggeleng.“Sudah ku duga, Ciara tak mungkin bersamanya,” lirih Cinta hampir tak terdengar. “Lalu kita harus bagaimana, Bri?!”“Mencarinya sampai ketemu, aku sudah mendapatkan alamatnya.”Dengan cepat Cinta meraih kertas yang berada di tangan Abrisam. Dia membacanya dan ternyata kecurigaannya benar. “Kita ke sana sekarang, Abrisam! Aku mau ketemu Ciara. Ini hampir dua puluh empat jam setelah dia menghilang.”Abrisam mengangguk, rasa lelah dan kantuk seolah enggan menghampirinya. Namun Cinta yang tahu lelaki itu kele

  • Cinta Usai Berpisah   Bantu Aku Menemukannya

    Malam membawa Abrisam ke tempat yang tak pernah ingin dia datangi. Sebuah bangunan megah bergaya Eropa yang berdiri angkuh di atas tanah tinggi, dikelilingi pagar besi hitam dengan ukiran rumit. Pilar-pilar besar menjulang di depan pintu utama, kaca jendela tinggi berderet dengan tirai tebal beludru merah yang menutup rapat seperti menyembunyikan rahasia yang terlalu berbahaya untuk dilihat siapa pun.Lampu-lampu taman berdesain klasik menyala kekuningan, lembut namun dingin, seolah ingin menunjukkan kemewahan sekaligus kehampaan. Air mancur marmer di halaman tengah memercik pelan, suaranya terdengar elegan tapi terasa seperti ejekan. Segalanya terlalu indah, dan justru karena itulah terasa mengancam.Abrisam turun dari mobil tanpa menoleh pada Cinta. Dia memaksa napasnya stabil, padahal jantungnya berdentum sekeras dentang jam tua yang menggantung di balik dinding rumah itu.Abrisam melangkah menaiki anak tangga dengan marmer putih mengkilap. Setiap injakan seolah memantulkan rasa

  • Cinta Usai Berpisah   Kali Ini Saja

    Malam kian larut, tapi kota justru terjaga oleh kegelisahan mereka.Mobil berhenti di tepi jalan yang sepi, hanya diterangi satu lampu jalan yang berkedip seperti nyawa yang ragu untuk tetap hidup. Mesin masih menyala, namun di dalam, udara sudah menggumpal menjadi sesuatu yang pekat, penuh kecurigaan, tuduhan, dan kenangan yang membusuk.Cinta tidak berbicara. Kedua tangannya gemetar di atas pangkuan, jemari putihnya mencengkeram celana bahan yang dikenakannya hingga berkerut kejam. Tatapannya lurus ke depan, tapi matanya kosong, seolah Ciara masih berdiri di sana—tersenyum, memanggilnya, lalu lenyap.Di sampingnya, Abrisam tampak seperti patung. Rahangnya mengeras, urat di pelipisnya menonjol. Ada amarah di sana, tapi juga ketakutan. Bukan takut kehilangan, lebih tepatnya, takut Ciara kenapa-kenapa.“Rania…” gumamnya hampir tak terdengar.“Apa?” Cinta menoleh cepat.Nama itu... bukan nama asing. Namun sudah terlalu lama tak terucap di antara mereka, seolah dua bibir mereka punya kes

  • Cinta Usai Berpisah   Hilangnya Ciara

    Suasana masih dipenuhi residu dari pertengkaran panjang itu. Udara terasa berat, seperti ada sesuatu yang menggantung di antara mereka yang tak pernah selesai dijelaskan. Cinta berdiri di ambang pintu, hendak melangkah pergi, sementara Abrisam masih berdiri tak jauh darinya Hening tiba-tiba pecah oleh dering telepon. Cinta mengerutkan kening. Nomor Miss Ciara. Seketika pikirannya bekerja dengan cepat, kilasan kejadian buruk mengisi kepalanya. Cinta menetralkan degup jantungnya dan menjawab. “Halo, dengan Cinta.” Suara perempuan di seberang terdengar tergesa dan gemetar. “Ibu Cinta? Ini dari pihak sekolah. Kami… kami harus mengabarkan sesuatu…” Wajah Cinta seketika pucat pasi. “Ya? Apa—ada apa, Miss? Ciara kenapa, Miss?” Abrisam refleks mendongak. Nama itu langsung membuat tubuhnya menegang. Suara di telepon terdengar panik. “Ciara… hilang, Bu.” Darah Cinta seperti berhenti mengalir. Tubuhnya lemas. Sesuatu di dalam dirinya runtuh dalam sekejap. “A-ap

  • Cinta Usai Berpisah   Apa Yang Kamu Harapkan?

    ‘Yang paling menyesakkan bukan kepergianmu, tetapi fakta bahwa aku tak berani menginginkan kamu tinggal.’Nafas Cinta masih tersengal, emosinya sudah sampai pada titik puncaknya.Abrisam masih berdiri beberapa langkah darinya dengan rahang mengeras. Matanya memancarkan sesuatu yang lebih lembut dari kemarahan—sesuatu yang justru membuat hati Cinta kian panas.“Aku nggak ngerti kenapa kamu kembali lagi ke hidupku,” ucap Cinta lirih, tapi tajam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah dia butuh pegangan agar tidak runtuh kembali ke dalam kenangan.Abrisam tidak menjawab. Matanya hanya tertuju padanya, lekat, panjang, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak ingin Cinta biarkan terbaca.“Kenapa kamu datang lagi?” Suara Cinta bergetar. “Kenapa kamu terus muncul seolah-olah… seolah-olah kamu punya hak?”Abrisam menarik napas lambat. “Karena kita takdir satu sama lain. Aku butuh kamu. Butuh menyelesaikan sesuatu yang—”“Yang sudah kamu buang, kan?” potong Cinta tajam. “Yang sud

  • Cinta Usai Berpisah   Ketakutan Cinta

    Sore hari sekembalinya Alex ke rumah sakit, Ciara yang mulai merasa bosan mengajak mamanya pergi ke taman bermain. “Mama, bolehkah Cia pergi ke taman bermain sebentar?” Cinta tak menjawab, dia tampak berpikir. Sejujurnya, setelah pertemuannya dengan Abrisam, dia merasa lebih aman berada di rumah

  • Cinta Usai Berpisah   Setelah Pertemuan Pertama

    Cinta menoleh dan menggeleng pelan. Ia segera merengkuh tubuh mungil Ciara ke dalam pelukannya. Aroma shampoo rasa buah masih menempel di rambut si kecil, menyusup ke dalam napasnya yang mulai tak teratur.“Tidak, Sayang. Mama tidak sedih karena kamu. Kamu adalah anugerah terindah Mama,” ucap Cinta

  • Cinta Usai Berpisah   Bukan Anakmu

    Aneh... Itu satu-satunya kata yang bisa Abrisam bisikkan dalam benaknya ketika tubuh Ciara dan Cinta lenyap dari pandangan. Tapi bukan keanehan yang biasa. Bukan sekadar kebetulan. Ini adalah jenis keanehan yang menghantui. Abrisam mencoba mencari sisa napas yang tertinggal setelah badai emosi b

  • Cinta Usai Berpisah   Perempuan Bergelar Istri

    “Tapi, aku hanya ingin mengenalnya, tak lebih, dia lucu dan menggemaskan . Memang apa salahnya? Atau memang benar dia anakku?” Cinta menghela nafas, rasanya percuma berdebat dengan lelaki di depannya. Lebih baik dia pulang bersama Ciara yang sepertinya sudah bosan menunggunya. Cinta kembali mena

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status