LOGIN
Seruan lirih seorang gadis kecil menggema, bersamaan dengan tubuh mungilnya yang terhuyung dan jatuh ke tanah.
"Aduh." Abrisam, yang tengah terburu-buru, mendadak tersentak. Ia menunduk dengan cemas, mengulurkan tangan dengan penuh penyesalan. “Maaf... Aku tak sengaja. Kamu baik-baik saja?” Saat gadis kecil itu mendongak, sepasang mata mereka saling bersitatap. Abrisam terhenyak. Wajah mungil itu... begitu serupa dengannya. Terlalu mirip. Rambut hitam lurus menjuntai lembut, kulit seputih pualam, dan lesung pipi di sisi kiri, semua itu bagai refleksi dirinya dalam wujud yang lebih kecil. Gadis kecil itu berkedip beberapa kali, lalu dengan ragu menerima tangan Abrisam. “Aku tidak apa-apa, Om. Hanya sedikit kaget.” Abrisam membantunya berdiri, masih diselimuti keterkejutan yang menggumpal di dadanya. Abrisam seperti mesin pemindai, menatap gadis itu dari atas ke bawah berulang. “Siapa namamu? Apa kamu sendirian di sini?” tanya Abrisam penasaran. Abrisam menoleh ke kanan dan ke kiri, tak ditemukannya sosok orang dewasa di sana. Gadis itu menggigit bibir mungilnya, sorot matanya redup. “Namaku Ciara. Aku sedang mencari Mama. Tapi... aku kehilangan jejaknya. Dan aku tidak tahu jalan pulang.” Abrisam menelan ludah. Seolah tak cukup dengan kemiripan yang mengusik pikirannya, kini ia mendengar kisah yang membuat hatinya mencelos. “Ciara... Nama yang indah. Tapi, kamu bilang kehilangan Mama? Terakhir kali kamu melihatnya di mana?” Ciara mengangkat bahu kecilnya. “Di dekat taman sana.” Jawabnya menunjuk dengan telunjuknya yang diikuti tatapan Abrisam. “Aku tadi melihat boneka kelinci lucu di etalase toko, lalu aku berhenti sebentar. Waktu menoleh, Mama sudah tidak ada. Aku berlari mencarinya, tapi malah semakin jauh tersesat.” Mata beningnya mulai menggenang. Abrisam merasa hatinya menghangat oleh empati. “Jangan takut, kita cari Mama bersama-sama, yuk? Mungkin mama masih ada di sekitar sini.” Ciara mengangguk pelan, jemarinya yang kecil meremas tangan Abrisam. Abrisam menatap tangan mungil yang kini berada dalam genggamannya. “Om, tahu.....mamaku cantik sekali,” celotehnya pada Abrisam yang disambut dengan senyuman. Mereka pun mulai menelusuri taman, harapan terpancar di setiap langkah. Namun, pikiran Abrisam tak henti-hentinya berputar. Seberapa besar kemungkinan ia bertemu seorang anak kecil yang begitu mirip dengannya? “Ciara, kamu tinggal di mana?” tanyanya lembut, berusaha menggali lebih dalam. “Aku tidak tahu alamatnya... tapi di depan rumahku ada pohon besar yang rindang dan kucing oranye bernama Milo,” jawabnya polos. Abrisam tersenyum tipis. Jawaban khas anak-anak. “Kamu tinggal bersama siapa di rumah?" “Mama. Aku anak satu-satunya,” jawab Ciara polos, menatap Abrisam dengan mata bulatnya yang penuh kejujuran. Abrisam berhenti melangkah. Jantungnya berdegup tak beraturan. “Berapa usiamu, Ciara?” “Lima tahun, Om. Lebih tepatnya mau enam tahun, tapi masih tahun depan. Beberapa bulan lagi,” ocehannya membuat Abrisam tertawa kecil. Dunia seakan berputar. Abrisam merasakan sesuatu yang begitu asing menyelusup ke dalam dirinya. Sejenak, napasnya tercekat. Lima tahun... Sebelum dia bisa berkata lebih jauh, suara nyaring seorang wanita memecah keheningan. “Ciara! Nak, di mana kamu?” Ciara menoleh cepat, matanya berbinar melihat sosok yang dikenalinya. “Om, itu Mama!” Abrisam mengangkat wajah, melihat sosok seorang wanita berlari ke arah mereka. Wajahnya cemas, namun seketika berubah lega saat melihat Ciara. Begitu mendekat, wanita itu langsung merengkuh putrinya ke dalam pelukan erat. “Mama! Aku takut sekali tadi,” lirih Ciara di antara isak tangis kecilnya. “Maafkan Mama, Sayang. Mama sudah mencari ke mana-mana.” Suara wanita itu bergetar penuh emosi, tangannya mengusap rambut gadis kecil itu dengan kelembutan seorang ibu. Abrisam terpaku. Kini, dengan jarak yang lebih dekat, dia bisa melihat wajah wanita itu dengan begitu jelas. Dan hatinya berdegup semakin kencang. Ya, Abrisam mengenali wanita itu. Wajah yang tak pernah benar-benar dia ia lupakan. Mata yang dulu pernah menatapnya penuh cinta dan kasih sayang. Senyum yang tersimpan di sudut kenangan lamanya. Wanita itu mendongak, dan saat mata mereka bertemu, seluruh tubuhnya menegang. Sejenak, ia membeku, tatapan matanya penuh ketidakpercayaan dan kemarahan. “Abrisam?” suara wanita itu lirih, tetapi nada tajam dalam suaranya terasa jelas. Dunia Abrisam seakan berhenti. Napasnya tercekat. “Cinta...?” Cinta menggenggam tangan Ciara lebih erat, seolah melindunginya. Matanya menatap Abrisam dengan penuh kebencian. “Apa yang kamu lakukan di sini?!” Abrisam mengerutkan kening, bingung dengan reaksi Cinta. “Aku... Aku kebetulan bertemu Ciara. Dia tersesat. Aku hanya ingin membantu.” “Terima kasih. Tapi sekarang Ciara tak butuh bantuanmu,” potong Cinta cepat. Dia menarik Ciara mendekat, seakan menjaga jarak dari Abrisam. Abrisam merasa dadanya semakin sesak. “Cinta... Aku tak menyangka bertemu denganmu di sini. Dan Ciara... Dia...” “Dia bukan urusanmu,” sela Cinta tajam. “Kamu sudah pergi dari hidupku, Abrisam. Pergi tanpa menoleh. Jangan berpikir terlalu jauh dan bertanya-tanya tentang putriku.” Putriku. Kata itu menampar Abrisam begitu keras. Dia menatap Ciara sekali lagi, menyadari kebenaran yang selama ini tersembunyi darinya. “Ciara... dia anakku, bukan?” tanyanya dengan suara bergetar. Cinta mengangkat dagunya, ekspresi wajahnya dingin. “Tidak. Ciara anakku dan suamiku.” Abrisam merasa tubuhnya melemas. “Kamu berbohong padaku? Aku berhak tahu!” Ciara tertawa sinis. “Hak? Kau bicara tentang hak setelah kamu meninggalkanku tanpa sepatah kata pun? Setelah kamu memilih mimpimu dan mengabaikan perasaanku? Aku tidak membutuhkanmu, Abrisam. Dan anakmu, bukankah kamu sudah membuangnya? Kamu lupa bagaimana orang tuamu memintaku membunuhnya?” Abrisam terdiam. Semua kata-kata yang terlontar dari mulut Cinta menusuknya lebih dalam dari yang dia bayangkan. Namun di balik kemarahan dan kepedihan itu, ada penyesalan yang tak bisa ia sangkal. “Aku tahu aku salah,” ucapnya menyesali diri. “Tapi benarkah dia bukan anakku? Bertahun-tahun aku mencarimu. Aku ingin menebus kesalahanku. .” Abrisam masih belum yakin dengan jawaban Cinta. Sisi hatinya yang lain tak mau menerima bahwa Cinta kini menjadi milik orang lain. Cinta menggeleng tegas. “Bukan... dia bukan anakmu. Semua sudah terlambat, Abrisam. Aku sudah berjuang sendiri selama ini, dan aku tidak akan membiarkanmu datang dan merusak apa yang sudah kubangun. Ciara bukan anakmu.” Abrisam ingin membantah, ingin berdebat. Namun, tatapan tajam Cinta seakan menjadi tembok kokoh yang tak bisa dia runtuhkan. Lagi pula Abrisam tak mau Ciara ketakutan padanya hanya karena emosi sesaatnya. “Ayo, Sayang. Kita pulang,” ucap Cinta lembut pada Ciara. Gadis itu mengangguk, menuruti ajakan ibunya. Ciara menatap Abrisam sebentar sebelum menggenggam tangan ibunya dan berjalan pergi. Ciara bisa merasakan kemarahan pada ibunya sehingga dia tak berani melambaikan tangan tanda perpisahan pada lelaki yang sudah menolongnya. Abrisam hanya bisa berdiri di tempatnya, menatap punggung mereka yang semakin menjauh. Perasaannya merasa begitu terikat dengan Ciara. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan perasaan kehilangan. “Aneh!”Suasana masih dipenuhi residu dari pertengkaran panjang itu. Udara terasa berat, hseperti ada sesuatu yang menggantung di antara mereka yang tak pernah selesai dijelaskan. Cinta berdiri di ambang pintu, hendak melangkah pergi, sementara Abrisam masih berdiri tak jauh darinyaHening tiba-tiba pecah oleh dering telepon.Cinta mengerutkan kening. Nomor Miss Ciara. Seketika Cinta pikirannya bekerja dengan cepat, kilasan kejadian buruk mengisi kepalanya.Cinta menetralkan degup jantungnya dan menjawab. “Halo, dengan Cinta.”Suara perempuan di seberang terdengar tergesa dan gemetar.“Ibu Cinta? Ini dari pihak sekolah. Kami… kami harus mengabarkan sesuatu…”Wajah Cinta seketika pucat pasi.“Ya? Apa—ada apa, Miss? Ciara kenapa, Miss?”Abrisam refleks mendongak. Nama itu langsung membuat tubuhnya menegang.Suara di telepon terdengar panik.“Ciara… hilang, Bu.”Darah Cinta seperti berhenti mengalir. Tubuhnya lemas. Sesuatu di dalam dirinya runtuh dalam sekejap.“A-apa? Hilang?” Sua
‘Yang paling menyesakkan bukan kepergianmu, tetapi fakta bahwa aku tak berani menginginkan kamu tinggal.’Nafas Cinta masih tersengal, emosinya sudah sampai pada titik puncaknya.Abrisam masih berdiri beberapa langkah darinya dengan rahang mengeras. Matanya memancarkan sesuatu yang lebih lembut dari kemarahan—sesuatu yang justru membuat hati Cinta kian panas.“Aku nggak ngerti kenapa kamu kembali lagi ke hidupku,” ucap Cinta lirih, tapi tajam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, seolah dia butuh pegangan agar tidak runtuh kembali ke dalam kenangan.Abrisam tidak menjawab. Matanya hanya tertuju padanya, lekat, panjang, seperti sedang membaca sesuatu yang tidak ingin Cinta biarkan terbaca.“Kenapa kamu datang lagi?” Suara Cinta bergetar. “Kenapa kamu terus muncul seolah-olah… seolah-olah kamu punya hak?”Abrisam menarik napas lambat. “Karena kita takdir satu sama lain. Aku butuh kamu. Butuh menyelesaikan sesuatu yang—”“Yang sudah kamu buang, kan?” potong Cinta tajam. “Yang sud
Langkah Cinta terhenti begitu dia memasuki lobi kantor. Bukan karena lampu kristal yang menggantung di langit-langit.Bukan karena karyawan lain yang menunduk memberi salam pagi.Tapi karena seseorang sedang duduk di sofa panjang, mengenakan kemeja hitam pekat yang membuat sorot matanya terlihat lebih tajam dari biasanya.Abrisam.Lengan kirinya terlipat santai, sementara tangan kanannya memegang segelas kopi brand favoritnya. Abrisam seolah duduk di tempat itu bukan sebagai tamu, melainkan sebagai badai yang datang dan memutuskan untuk menghancurkan ketenangan siapa pun yang menatapnya.Dada Cinta langsung mengencang. Cinta menghela nafas, berusaha setenang mungkin.“A...brisam,” suaranya tercekat.Abrisam berdiri. Gerakannya tenang, namun sorot matanya… sorot itu berbeda. Ada sesuatu yang tak bisa Cinta definisikan. Cemburu? Marah? Luka yang yang sedang dia tutup rapat-rapat.Atau ketiganya sekaligus?“Pagi,” ucapnya datar. “Kita perlu bicara.”Cinta menelan ludah. “Di sini?
Cinta membuka jendela, membiarkan udara segar menguar bersama harum kopi yang baru diseduh. Alex sudah di dapur, menyalakan pemanggang roti sambil bersenandung kecil. Suara parau itu terasa asing bagi Cinta, tapi juga hangat, seperti memori lama yang tiba-tiba pulang. “Pagi,” sapanya pelan. Alex menoleh, tersenyum dengan mata yang belum sepenuhnya lepas dari lelah. “Pagi, Cinta. Mau kopi hitam atau teh manis?” “Teh. Aku lagi nggak kuat pahit. Hidup aku sudah pahit akhir-akhir ini.” Alex terkekeh kecil. “Untung bukan aku yang kamu maksud.” Cinta pura-pura mendengus, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Ada sesuatu di antara mereka yang berubah sejak semalam — tak lagi ada jarak yang dingin, tak ada tatapan yang menuduh. Hanya dua manusia yang sama-sama belajar menurunkan ego dan mengulurkan hati. Saat mereka duduk berdua di meja makan, Alex meletakkan cangkir di depan Cinta dan berkata lirih, “Cinta, aku mau minta maaf lagi. Bukan karena aku harus, tapi karena
Malam turun perlahan di atas kota, menelankan cahaya oranye terakhir di ufuk barat. Dari jendela ruang tamu, Cinta menatap kosong ke arah langit yang mulai gelap, sementara lampu-lampu jalan satu per satu mulai menyala.Hari ini terasa panjang — terlalu panjang.Sejak pagi, pikirannya masih belum benar-benar tenang setelah pertemuan tak terduga dengan Abrisam. Tatapan pria itu, kalimatnya, bahkan senyum kecilnya masih menari-nari di kepalanya, membuat hatinya resah.Dia tidak menginginkan semua itu. Cinta tidak ingin kenangan lama kembali mengusik hidup yang baru saja dia tata. Tapi yang sudah terjadi, tidak bisa dihapus begitu saja.Pintu rumah berderit pelan. Suara langkah berat masuk ke ruang tamu.Alex baru pulang.Cinta menoleh perlahan. Pria itu tampak lelah, kemejanya sedikit kusut, dan wajahnya menunjukkan ekspresi letih yang entah karena pekerjaan atau… karena dirinya.“Sudah makan?” tanya Cinta pelan, mencoba terdengar biasa.“Belum,” jawab Alex datar. Dia menaruh tas
Udara pagi masih segar saat Cinta mengunci pintu rumahnya. Udara lembap setelah hujan semalam menempel di kulit, membuat aroma tanah basah samar tercium di udara. Dia menatap jam di pergelangan tangan — sudah pukul 06.45.“Ciara, ayo cepat, Sayang, nanti telat!” serunya dari teras.Dari dalam rumah terdengar langkah kecil dan suara ceria gadis kecil itu. “Iya, Mamaaa! Ciara udah siap kok!”Cinta tersenyum tipis, menatap mobil kecilnya di garasi, dia sudah berniat untuk langsung menyalakan mesin begitu Ciara keluar. Tapi langkahnya terhenti. Matanya menangkap sosok lelaki berdiri di depan pagar.Seseorang yang tak asing, terlalu familiar malah.Abrisam.Laki-laki itu berdiri dengan tangan di saku celana, mengenakan kemeja putih dan celana hitam rapi. Rambutnya sedikit berantakan ditiup angin pagi, tapi auranya tetap sama, tenang, karismatik, dan entah kenapa masih mampu membuat dada Cinta terasa sesak setiap kali melihatnya.“Abrisam?!” gumamnya tak percaya.Pria itu menatapnya







