Inicio / Romansa / Cinta Yang Lain / 1. Sebuah pembuka

Compartir

Cinta Yang Lain
Cinta Yang Lain
Autor: Aprilia Choi

1. Sebuah pembuka

Autor: Aprilia Choi
last update Última actualización: 2026-01-29 18:36:02

~ Aku melakukan semua ini karena cinta dan peduli denganmu, meskipun kamu belum mencintaiku ~

Abhimana Pratama

So maybe it's true… that I can't live without you…

Dering ponsel membangunkan Ayla dari tidur lelapnya. Entah sudah berapa lama lagu yang dinyanyikan oleh Boys Like Girls berkolaborasi dengan Taylor Swift itu mengalun, namun sang pemilik ponsel masih enggan meraih benda pipih tersebut. Kepalanya terasa berat, matanya masih terpejam rapat, dan tubuhnya enggan diajak berkompromi dengan pagi yang datang terlalu cepat.

And maybe two… is better than one…

Ayla mendengus pelan. Tangannya bergerak asal mencari selimut yang tadi tersingkap, berharap suara itu berhenti dengan sendirinya. Namun nada dering justru semakin terasa mengganggu, seolah tak mau kalah dengan rasa kantuknya.

Akhirnya, dengan sedikit rasa kesal, Ayla membuka mata. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, duduk setengah malas di atas ranjang, lalu mengikat rambut panjangnya dengan asal. Tangannya meraih ponsel di atas meja samping tempat tidur, sementara matanya masih setengah terpejam.

Nama yang tertera di layar membuatnya terdiam sejenak.

Abhimana.

Suaminya.

Pria yang secara sah terikat dengannya selama dua tahun terakhir.

[Ya, halo …]

Suara Ayla terdengar parau, khas orang yang baru bangun tidur. Ia menguap kecil sambil menutup mulut dengan punggung tangan, sementara tangan satunya memegang ponsel erat.

[Assalamualaikum, Sayang. Bukan halo saja.]

Ayla menghela napas pelan. Bukan karena marah, melainkan karena sudah hafal betul bagaimana percakapan ini akan berjalan.

[Waalaikumsalam… maaf lupa, Mas.]

[Lupa hampir setiap hari. Itu bukan lupa namanya. Kamu pasti baru bangun, kan? Sudah salat belum tadi?]

Nada suara Abhimana terdengar lembut, tapi bagi Ayla justru terasa seperti pengingat yang menyesakkan. Ia menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, menatap langit-langit kamar yang terasa begitu kosong.

[Iya, Mas. Sudah kok…]

Jawabannya terdengar singkat, tanpa semangat.

[Syukurlah. Habis ini mandi, ya. Terus jangan lupa sarapan. Mas nggak mau kamu sakit.]

Ayla mengusap wajahnya kasar. Setiap hari. Selalu begitu. Perhatian yang konstan, kepedulian yang tak pernah bolong, dan rasa sayang yang… terlalu penuh untuk hati yang tidak siap menerimanya.

[Iya, Mas… aku bukan anak kecil lagi. Nggak perlu kamu ingatkan setiap hari.]

Nada kesalnya tak bisa lagi ia sembunyikan. Ia lelah—bukan pada Abhimana, tapi pada perasaan bersalah yang selalu mengikutinya setiap kali suaminya bersikap terlalu baik.

Di seberang sana, Abhimana terdiam sejenak.

[Mas seperti ini karena cinta dan peduli sama kamu, Sayang…]

Jeda kecil menyelip di antara kata-katanya.

[Meskipun… kamu belum cinta sama mas.]

Kalimat itu meluncur lirih, nyaris seperti bisikan yang ditelan jarak ribuan kilometer di antara mereka. Abhimana tersenyum pahit, meski Ayla tak bisa melihatnya.

Dadanya sesak setiap kali harus mengakui kenyataan itu.

[Sudahlah, Mas. Jangan mulai lagi.]

Ayla memejamkan mata. Ia tahu percakapan ini akan berujung ke arah yang sama—arah yang selalu ingin ia hindari.

[Maaf… mas cuma merasa sedih.]

Suara itu terdengar begitu tulus hingga membuat Ayla menggigit bibirnya sendiri.

[Sudah dua tahun kita menikah. Kamu masih belum bisa mencintaiku. Tapi sama Davin… yang baru kamu kenal, kamu bisa jatuh hati dengan begitu mudahnya.]

Kata-kata itu terasa seperti pengakuan yang menyayat diri Abhimana sendiri. Ia tahu, tapi tetap bertahan. Ia sadar, tapi memilih diam.

[Mas… haruskah kita berdebat tentang ini setiap waktu?]

Nada Ayla mulai meninggi, emosinya ikut terseret.

[Sudah kubilang, kan? Kalau Mas nggak mau hubungan seperti ini, lebih baik kita ce—]

Tut! Tut! Tut!

Telepon itu terputus.

“Halo… Mas?” Ayla menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut.

Sunyi.

“Issh… menyebalkan!” gerutunya kesal sambil melempar ponsel ke atas ranjang.

Namun sesaat kemudian, hatinya terasa sedikit nyeri.

**

Ayla dan Abhimana telah menikah selama dua tahun.

Ayla menikah di usia dua puluh tiga tahun—usia yang seharusnya masih bebas bermimpi, sementara Abhimana empat tahun lebih tua darinya. Pernikahan itu bukan hasil cinta, melainkan hasil kesepakatan dua keluarga besar yang merasa tahu apa yang terbaik bagi anak-anak mereka.

Tidak ada masa pacaran.

Tidak ada proses jatuh cinta.

Hanya akad, pesta, dan status baru sebagai suami-istri.

Seiring waktu berjalan, Abhimana mulai jatuh cinta. Perlahan, tanpa disadari, dan terlalu dalam. Ayla menjadi satu-satunya wanita yang memenuhi pikirannya. Segala hal kecil tentang istrinya terasa istimewa—bahkan kebiasaan Ayla yang sering bersikap dingin pun ia maknai sebagai tantangan untuk lebih sabar.

Namun Ayla tetap Ayla.

Dua tahun hidup bersama tidak membuat hatinya terbuka. Ia merasa aman, tercukupi, dan dijaga—namun kosong. Ada ruang besar di dadanya yang tak pernah terisi, tak peduli seberapa keras Abhimana berusaha.

Kesepian semakin terasa setiap kali Abhimana harus pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Rumah besar itu terasa seperti hotel sunyi tanpa penghuni. Tak ada suara tawa, tak ada pelukan hangat, hanya Ayla dan pikirannya sendiri.

Mereka juga belum dikaruniai anak.

Bukan karena tak bisa, melainkan karena Ayla yang diam-diam menunda kehamilan. Ia meminum obat tanpa sepengetahuan Abhimana. Setiap desakan keluarga besar hanya ia tanggapi dengan senyum tipis dan alasan klise.

Ia belum siap.

Belum siap terikat lebih dalam pada pernikahan yang bahkan belum ia yakini.

Hingga suatu sore, rasa bosan membawanya ke sebuah kafe kecil dekat rumah. Kafe itu ramai, hangat, dan dipenuhi alunan musik live. Di sanalah ia pertama kali melihat Davin—berdiri dengan gitar di tangan, suara seraknya mengalun lembut, dan senyumnya… begitu mudah membuat orang jatuh hati.

Ayla tak tahu mengapa dadanya berdebar kala itu.

Pertemuan mereka berlanjut karena takdir yang terasa terlalu kebetulan. Davin ternyata teman baik Rian, suami dari Lena—sahabat Ayla sendiri. Dari perkenalan sederhana, percakapan ringan, hingga pertemuan demi pertemuan yang semakin sering.

Dan tanpa disadari, Ayla merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Cinta.

Perasaan itu tumbuh begitu saja, mengisi relung hatinya yang selama ini kosong. Bersama Davin, Ayla merasa hidup. Ia tertawa, ia didengar, ia dipahami.

Begitu pula Davin.

Meski tahu Ayla adalah istri orang, hatinya tetap jatuh. Ia mencoba menjaga jarak, tapi perasaan tak pernah bisa diperintah.

Hingga suatu hari, Abhimana pulang lebih cepat dari jadwal.

Dan ia melihat segalanya.

Melihat istrinya tersenyum hangat pada pria lain. Melihat kebahagiaan yang tak pernah ia dapatkan. Melihat cinta yang bukan untuknya.

Malam itu, Ayla mengakui segalanya.

Dan Abhimana… memilih merestui.

Bukan karena ia tak peduli, melainkan karena ia terlalu mencintai.

'Aku akan terus menunggu sampai kamu melihat ke arahku, Ayla....'

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Cinta Yang Lain   5. Seutas senyuman

    ~ Mencintaimu itu mudah, yang sulit adalah membuatmu juga mencintaiku ~Abhimana PratamaSiang itu, kafe kecil yang biasa mereka kunjungi kembali menjadi saksi bisu perasaan terlarang. Ayla duduk berhadapan dengan Davin, jemarinya melingkari gelas minuman yang esnya hampir mencair.“Mas Abhi ingin…” Ayla menggantung ucapannya sejenak, menelan ludah. “Dia ingin anak dariku.”Davin sontak menegakkan tubuhnya. “Apa?” suaranya meninggi tanpa sadar. “Dan kamu setuju begitu saja?”Ayla buru-buru menggeleng. “Tentu saja nggak! Kamu kan tahu aku selalu minum obat itu supaya nggak hamil anak dia. Aku belum siap—”“Belum siap?” potong Davin tajam. “Berarti kalau suatu hari kamu siap, kamu akan punya anak dari dia?”Ayla menggeleng lebih cepat, matanya mulai berkaca-kaca. “Nggak, Davin. Kamu salah paham.” Ia menggenggam tangan Davin erat. “Aku cuma ingin punya anak dari kamu. Hanya dari kamu.”Kemarahan di wajah Davin perlahan luruh. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. Tangannya ter

  • Cinta Yang Lain   4. Surat perjanjian

    ~ Aku mencintaimu dengan tulus, tapi mengapa kamu membalasnya dengan pengkhianatan? ~ Abhimana PratamaAbhi akhirnya menyusul Ayla ke kamar.Dadanya terasa sesak sejak tadi, seolah ada sesuatu yang terus menekan dari dalam. Ia tak sanggup lagi memendam semua yang selama ini ia simpan sendiri. Malam ini, ia harus bicara. Meski kata-kata itu akan melukainya lebih dalam.“Ayla…” panggilnya lirih.Ayla berdiri membelakanginya, kedua tangannya menggenggam ujung selimut di atas ranjang. Tubuhnya kaku, seakan sudah menebak arah pembicaraan ini akan berakhir ke mana.“Aku sudah memberikan segalanya padamu,” lanjut Abhi, suaranya bergetar. “Termasuk hatiku. Kamu tahu itu, kan?”Ia melangkah mendekat, meraih wajah Ayla dengan kedua tangannya. Sentuhannya lembut, penuh kehati-hatian, seolah wanita di hadapannya bisa hancur kapan saja. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh begitu saja, membasahi pipinya.Di hadapan Ayla Shanaya, Abhimana Pratama selalu kalah.Ayla tak berani menatap su

  • Cinta Yang Lain   3. Sebuah penjelasan

    ~ Aku sangat mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku ~ Davin AlfiansyahKutuliskan kenangan tentang, caraku menemukan dirimu…Sorot lampu kuning temaram menyinari panggung kecil di tengah kafe Choco malam itu. Alunan musik mengalir lembut, berpadu dengan suara pengunjung yang sesekali bersorak. Seorang pria berdiri di atas panggung dengan gitar di tangannya, suaranya hangat dan penuh perasaan—membuat siapa pun yang mendengarnya larut tanpa sadar.Namun di antara puluhan pasang mata yang menatapnya penuh kagum, hanya satu yang benar-benar ia cari.Ayla.Seorang wanita duduk di barisan depan, mengenakan gaun sederhana berwarna pastel. Rambut panjangnya tergerai, matanya berbinar setiap kali tatapan mereka bertemu. Ayla tersenyum, senyum yang selalu berhasil membuat Davin lupa bahwa dunia mereka seharusnya tidak boleh bertemu.Tentang apa yang membuatku mudah, berikan hatiku padamu…“Aaa… Davin!!!”Teriakan histeris para wanita memenuhi ruangan. Mereka menyebut nama Davin berulang kali

  • Cinta Yang Lain   2. Kesabaran hati Abhimana

    POV Abhimana PratamaAku terbiasa mengambil keputusan besar.Sebagai CEO di sebuah perusahaan investasi multinasional, setiap hari aku menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah, memimpin rapat lintas negara melalui konferensi video, serta menentukan nasib ratusan karyawan hanya dengan satu garis pena. Aku dilatih untuk berpikir logis, rasional, dan terukur. Hidupku adalah deretan angka dalam neraca saldo yang harus selalu seimbang. Teratur, rapi, dan nyaris sempurna di mata siapa pun yang memandang dari luar kaca gedung kantorku yang menjulang tinggi di Sudirman.Kecuali satu hal yang tidak pernah bisa aku seimbangkan. Satu variabel yang selalu membuat kalkulasiku berantakan.Istriku, Ayla.Aku menatap layar laptop di hadapanku tanpa benar-benar membaca deretan data yang tersaji. Grafik penjualan kuartal keempat yang seharusnya menarik perhatianku justru terasa buram. Fokusku buyar total sejak panggilan telepon singkat pagi tadi. Panggilan yang aku putus sepihak sebelum dia semp

  • Cinta Yang Lain   1. Sebuah pembuka

    ~ Aku melakukan semua ini karena cinta dan peduli denganmu, meskipun kamu belum mencintaiku ~ Abhimana Pratama So maybe it's true… that I can't live without you… Dering ponsel membangunkan Ayla dari tidur lelapnya. Entah sudah berapa lama lagu yang dinyanyikan oleh Boys Like Girls berkolaborasi dengan Taylor Swift itu mengalun, namun sang pemilik ponsel masih enggan meraih benda pipih tersebut. Kepalanya terasa berat, matanya masih terpejam rapat, dan tubuhnya enggan diajak berkompromi dengan pagi yang datang terlalu cepat. And maybe two… is better than one… Ayla mendengus pelan. Tangannya bergerak asal mencari selimut yang tadi tersingkap, berharap suara itu berhenti dengan sendirinya. Namun nada dering justru semakin terasa mengganggu, seolah tak mau kalah dengan rasa kantuknya. Akhirnya, dengan sedikit rasa kesal, Ayla membuka mata. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, duduk setengah malas di atas ranjang, lalu mengikat rambut panjangnya dengan asal. Tangannya meraih p

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status