LOGIN
~ Aku melakukan semua ini karena cinta dan peduli denganmu, meskipun kamu belum mencintaiku ~
Abhimana Pratama So maybe it's true… that I can't live without you… Dering ponsel membangunkan Ayla dari tidur lelapnya. Entah sudah berapa lama lagu yang dinyanyikan oleh Boys Like Girls berkolaborasi dengan Taylor Swift itu mengalun, namun sang pemilik ponsel masih enggan meraih benda pipih tersebut. Kepalanya terasa berat, matanya masih terpejam rapat, dan tubuhnya enggan diajak berkompromi dengan pagi yang datang terlalu cepat. And maybe two… is better than one… Ayla mendengus pelan. Tangannya bergerak asal mencari selimut yang tadi tersingkap, berharap suara itu berhenti dengan sendirinya. Namun nada dering justru semakin terasa mengganggu, seolah tak mau kalah dengan rasa kantuknya. Akhirnya, dengan sedikit rasa kesal, Ayla membuka mata. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, duduk setengah malas di atas ranjang, lalu mengikat rambut panjangnya dengan asal. Tangannya meraih ponsel di atas meja samping tempat tidur, sementara matanya masih setengah terpejam. Nama yang tertera di layar membuatnya terdiam sejenak. Abhimana. Suaminya. Pria yang secara sah terikat dengannya selama dua tahun terakhir. [Ya, halo …] Suara Ayla terdengar parau, khas orang yang baru bangun tidur. Ia menguap kecil sambil menutup mulut dengan punggung tangan, sementara tangan satunya memegang ponsel erat. [Assalamualaikum, Sayang. Bukan halo saja.] Ayla menghela napas pelan. Bukan karena marah, melainkan karena sudah hafal betul bagaimana percakapan ini akan berjalan. [Waalaikumsalam… maaf lupa, Mas.] [Lupa hampir setiap hari. Itu bukan lupa namanya. Kamu pasti baru bangun, kan? Sudah salat belum tadi?] Nada suara Abhimana terdengar lembut, tapi bagi Ayla justru terasa seperti pengingat yang menyesakkan. Ia menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, menatap langit-langit kamar yang terasa begitu kosong. [Iya, Mas. Sudah kok…] Jawabannya terdengar singkat, tanpa semangat. [Syukurlah. Habis ini mandi, ya. Terus jangan lupa sarapan. Mas nggak mau kamu sakit.] Ayla mengusap wajahnya kasar. Setiap hari. Selalu begitu. Perhatian yang konstan, kepedulian yang tak pernah bolong, dan rasa sayang yang… terlalu penuh untuk hati yang tidak siap menerimanya. [Iya, Mas… aku bukan anak kecil lagi. Nggak perlu kamu ingatkan setiap hari.] Nada kesalnya tak bisa lagi ia sembunyikan. Ia lelah—bukan pada Abhimana, tapi pada perasaan bersalah yang selalu mengikutinya setiap kali suaminya bersikap terlalu baik. Di seberang sana, Abhimana terdiam sejenak. [Mas seperti ini karena cinta dan peduli sama kamu, Sayang…] Jeda kecil menyelip di antara kata-katanya. [Meskipun… kamu belum cinta sama mas.] Kalimat itu meluncur lirih, nyaris seperti bisikan yang ditelan jarak ribuan kilometer di antara mereka. Abhimana tersenyum pahit, meski Ayla tak bisa melihatnya. Dadanya sesak setiap kali harus mengakui kenyataan itu. [Sudahlah, Mas. Jangan mulai lagi.] Ayla memejamkan mata. Ia tahu percakapan ini akan berujung ke arah yang sama—arah yang selalu ingin ia hindari. [Maaf… mas cuma merasa sedih.] Suara itu terdengar begitu tulus hingga membuat Ayla menggigit bibirnya sendiri. [Sudah dua tahun kita menikah. Kamu masih belum bisa mencintaiku. Tapi sama Davin… yang baru kamu kenal, kamu bisa jatuh hati dengan begitu mudahnya.] Kata-kata itu terasa seperti pengakuan yang menyayat diri Abhimana sendiri. Ia tahu, tapi tetap bertahan. Ia sadar, tapi memilih diam. [Mas… haruskah kita berdebat tentang ini setiap waktu?] Nada Ayla mulai meninggi, emosinya ikut terseret. [Sudah kubilang, kan? Kalau Mas nggak mau hubungan seperti ini, lebih baik kita ce—] Tut! Tut! Tut! Telepon itu terputus. “Halo… Mas?” Ayla menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Sunyi. “Issh… menyebalkan!” gerutunya kesal sambil melempar ponsel ke atas ranjang. Namun sesaat kemudian, hatinya terasa sedikit nyeri. ** Ayla dan Abhimana telah menikah selama dua tahun. Ayla menikah di usia dua puluh tiga tahun—usia yang seharusnya masih bebas bermimpi, sementara Abhimana empat tahun lebih tua darinya. Pernikahan itu bukan hasil cinta, melainkan hasil kesepakatan dua keluarga besar yang merasa tahu apa yang terbaik bagi anak-anak mereka. Tidak ada masa pacaran. Tidak ada proses jatuh cinta. Hanya akad, pesta, dan status baru sebagai suami-istri. Seiring waktu berjalan, Abhimana mulai jatuh cinta. Perlahan, tanpa disadari, dan terlalu dalam. Ayla menjadi satu-satunya wanita yang memenuhi pikirannya. Segala hal kecil tentang istrinya terasa istimewa—bahkan kebiasaan Ayla yang sering bersikap dingin pun ia maknai sebagai tantangan untuk lebih sabar. Namun Ayla tetap Ayla. Dua tahun hidup bersama tidak membuat hatinya terbuka. Ia merasa aman, tercukupi, dan dijaga—namun kosong. Ada ruang besar di dadanya yang tak pernah terisi, tak peduli seberapa keras Abhimana berusaha. Kesepian semakin terasa setiap kali Abhimana harus pergi ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Rumah besar itu terasa seperti hotel sunyi tanpa penghuni. Tak ada suara tawa, tak ada pelukan hangat, hanya Ayla dan pikirannya sendiri. Mereka juga belum dikaruniai anak. Bukan karena tak bisa, melainkan karena Ayla yang diam-diam menunda kehamilan. Ia meminum obat tanpa sepengetahuan Abhimana. Setiap desakan keluarga besar hanya ia tanggapi dengan senyum tipis dan alasan klise. Ia belum siap. Belum siap terikat lebih dalam pada pernikahan yang bahkan belum ia yakini. Hingga suatu sore, rasa bosan membawanya ke sebuah kafe kecil dekat rumah. Kafe itu ramai, hangat, dan dipenuhi alunan musik live. Di sanalah ia pertama kali melihat Davin—berdiri dengan gitar di tangan, suara seraknya mengalun lembut, dan senyumnya… begitu mudah membuat orang jatuh hati. Ayla tak tahu mengapa dadanya berdebar kala itu. Pertemuan mereka berlanjut karena takdir yang terasa terlalu kebetulan. Davin ternyata teman baik Rian, suami dari Lena—sahabat Ayla sendiri. Dari perkenalan sederhana, percakapan ringan, hingga pertemuan demi pertemuan yang semakin sering. Dan tanpa disadari, Ayla merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Cinta. Perasaan itu tumbuh begitu saja, mengisi relung hatinya yang selama ini kosong. Bersama Davin, Ayla merasa hidup. Ia tertawa, ia didengar, ia dipahami. Begitu pula Davin. Meski tahu Ayla adalah istri orang, hatinya tetap jatuh. Ia mencoba menjaga jarak, tapi perasaan tak pernah bisa diperintah. Hingga suatu hari, Abhimana pulang lebih cepat dari jadwal. Dan ia melihat segalanya. Melihat istrinya tersenyum hangat pada pria lain. Melihat kebahagiaan yang tak pernah ia dapatkan. Melihat cinta yang bukan untuknya. Malam itu, Ayla mengakui segalanya. Dan Abhimana… memilih merestui. Bukan karena ia tak peduli, melainkan karena ia terlalu mencintai. 'Aku akan terus menunggu sampai kamu melihat ke arahku, Ayla....'Rumah kediaman Pratama sore itu disulap menjadi taman surgawi mini. Ratusan bunga lili putih dan mawar pastel menghiasi setiap sudut, memberikan aroma harum yang menenangkan. Acara tasyakuran 40 hari kelahiran Aydan Putra Pratama bukan sekadar perayaan syukur, tapi juga momentum "gencatan senjata" bagi dua pria yang selama seminggu terakhir ini terus bersaing memperebutkan gelar pria paling perhatian di rumah itu.Abhi tampak gagah mengenakan beskap modern berwarna cream, sementara Ayla terlihat sangat anggun dengan kebaya senada, rambutnya disanggul modern yang memperlihatkan leher jenjang dan aura keibuannya yang semakin terpancar. Di pelukan Ayla, Aydan tertidur pulas, terlihat sangat tampan dengan baju muslim bayi yang dirancang khusus."Mas, jangan pasang muka tegang gitu kalau lihat Aldi. Ini acara anak kita," bisik Ayla saat mereka berdiri di depan pintu untuk menyambut tamu.Abhi merapikan letak jam tangannya, matanya melirik Aldi yang sedang asyik mengatur letak panggung k
Pagi di kediaman Pratama biasanya tenang, diisi oleh suara kicauan burung dan gemericik air kolam. Namun, sejak kehadiran Aldi, udara di rumah itu seolah mengandung muatan listrik statis yang siap memercikkan api kapan saja.Abhimana, sang CEO yang biasanya dingin dan tak tersentuh, kini bertransformasi menjadi seorang pria yang sangat kompetitif—terutama jika itu menyangkut perhatian istrinya dan putra kecilnya, Aydan.“Pagi, Princess!” suara Aldi menggelegar di ruang makan. Ia muncul dengan kaus putih ketat yang memamerkan otot lengannya, hasil latihan rutin di pusat kebugaran London. Di tangannya, ia membawa nampan berisi avocado toast dengan telur mata sapi yang estetik.“Aku buatkan sarapan khusus buat kamu, Ay. Protein tinggi, lemak sehat, biar produksi ASI kamu melimpah,” Aldi meletakkan piring itu tepat di depan Ayla, menggeser piring nasi goreng buatan asisten rumah tangga yang baru saja hendak disantap Abhi.Abhi yang sedang menyesap kopi hitamnya hampir saja tersedak. I
Rumah kediaman Pratama pagi itu tampak begitu meriah. Aroma melati dan nasi kebuli menyeruak dari area ruang tamu hingga taman belakang. Hari ini adalah acara syukuran sekaligus aqiqah untuk Aydan Putra Pratama. Balon-balon berwarna pastel menghiasi sudut ruangan, dan foto-foto newborn Aydan yang sedang tertidur lelap sukses membuat siapa pun yang melihatnya merasa gemas.Abhi, yang mengenakan baju koko modern berwarna senada dengan gaun Ayla, tampak sibuk menyalami tamu. Namun, fokusnya tetap tak pernah lepas dari Ayla yang sedang duduk di sofa khusus sambil menggendong Aydan."Mas, minum dulu," ucap Ayla lembut saat Abhi mendekat.Abhi tersenyum, baru saja hendak mengambil gelas dari tangan istrinya, tiba-tiba sebuah suara bariton yang terdengar sangat akrab—namun memiliki aksen yang sedikit berbeda—menggelegar dari arah pintu masuk."Ayla! My favorite girl in the world!"Seorang pria tinggi dengan balutan jas kasual rancangan desainer ternama masuk dengan langkah penuh percaya
Tanpa terasa kandungan Ayla sudah berusia sembilan bulan. Suasana malam di Rumah Sakit Internasional Jakarta terasa begitu sunyi, namun di koridor depan ruang bersalin, denyut ketegangan terasa begitu nyata. Lampu merah bertuliskan “In Labor” menyala terang, seolah menjadi saksi bisu atas perjuangan hidup dan mati yang sedang berlangsung di dalamnya.Abhi tak pernah merasa sekecil ini. Sebagai seorang CEO, ia terbiasa mengendalikan angka, proyek, dan ribuan karyawan. Namun malam ini, ia hanya seorang pria biasa yang menggenggam erat tangan istrinya, merasa tak berdaya melihat peluh dan air mata membanjiri wajah Ayla.“Tarik napas, Ayla... pelan-pelan. Fokus pada suaramu, bukan pada sakitnya,” suara dokter Ammar terdengar tenang, meskipun di balik maskernya, ia juga bekerja dengan konsentrasi penuh.Ayla mengerang, cengkeramannya pada tangan Abhi begitu kuat hingga kuku-kukunya memutih. “Mas... sakit... aku nggak kuat...” bisiknya dengan suara yang hampir habis.Abhi mendekatkan wa
Dunia terkadang bekerja dengan cara yang sangat misterius. Saat satu pintu tertutup dengan dentum keras yang menyakitkan, ia sering kali membiarkan sebuah jendela terbuka perlahan, memberikan jalan bagi sinar matahari baru untuk masuk. Begitulah yang dirasakan Bella saat ini.Di teras belakang Kafe Choco yang sudah tutup, Bella duduk menghadap taman kecil sambil memegang cangkir cokelat panas. Di sampingnya, Davin sedang sibuk mengutak-atik sebuah speaker bluetooth yang macet.“Davin, makasih ya buat semuanya,” ucap Bella tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh penekanan.Davin menoleh, dahinya berkerut. “Semuanya apa? Ini speakernya belum bener, Bel. Masih bunyi kresek-kresek.”Bella tertawa kecil, tawa yang kini tak lagi terdengar sumbang. “Bukan itu. Makasih karena sudah kasih aku hidup baru. Tempat tinggal, pekerjaan di kafe ini, dan... karena sudah sabar dengerin aku nangis berminggu-minggu.”Davin meletakkan obengnya. Ia menatap Bella dengan tatapan yang sulit diartikan. “Bel
Pagi itu, aroma antiseptik rumah sakit yang biasanya terasa mencekam, mendadak terasa lebih ramah bagi Ayla. Mungkin karena hari ini adalah jadwal pemeriksaan rutin kandungannya yang sudah memasuki trimester akhir. Atau mungkin, karena sosok yang akan ia temui bukan sekadar dokter, melainkan kepingan masa lalu yang telah menjelma menjadi sahabat baik: Dokter Ammar Gauzan.Di dalam ruang konsultasi, Ammar tampak rapi dengan jas putihnya. Ia masih sama seperti dulu—tenang, teduh, dan memiliki cara bicara yang bisa membuat lawan bicaranya merasa menjadi orang paling penting di dunia.“Jadi, Dok... kalau nanti kontraksi itu rasanya seperti apa?” tanya Ayla, jemarinya meremas ujung gaunnya. “Benar kata orang ya, rasanya seperti tulang-tulang dipatahkan? Terus kalau aku nggak kuat mengejan bagaimana? Kalau aku pingsan di tengah jalan gimana?”Rentetan pertanyaan itu meluncur begitu saja. Wajah Ayla tampak pucat, kecemasan seorang calon ibu baru benar-benar menguasainya.Ammar meletakkan
~ Hubungan yang diawali tanpa rasa cinta ini, bagiku hanya sebuah status di atas selembar kertas ~Ayla Shanaya**Abhi pamit mandi lebih dulu, suaranya tenang seolah ini bukan malam pertama mereka sebagai suami istri. Ayla hanya mengangguk, duduk di depan meja rias sambil menatap bayangannya se
~ Dia adalah lelaki baik yang sudah ayah dan bunda percaya untuk menjadi suami kamu ~ Pak Mirza, ayah Ayla**Flashback On...Dua tahun sebelumnya...“Ayla ... ayah dan bunda ingin agar kamu segera menikah dengan anak sahabat ayah,” ujar pak Mirza, ayah dari Ayla.“Apa? Menikah? Nggak Ayah,
~ Cinta itu sederhana, yang rumit itu kamu ~ Abhimana Pratama**Semua orang dalam ruangan itu pun menghentikan aktivitas makannya lalu menatap pada Ayla, namun hanya Abhi saja yang masih terlihat sibuk dengan makanan di atas piringnya. Telinganya menyimak dengan tajam, meski pandangannya tak m
POV Davin AlfiansyahAku masih mengingat hari pertama aku bertemu Ayla dengan detail yang terlalu jelas—terlalu tajam—untuk sekadar disebut kenangan. Beberapa ingatan seharusnya memudar seiring berjalannya waktu, namun bayangan Ayla sore itu seperti tinta permanen yang tumpah di atas kertas putih







