INICIAR SESIÓN~ Mencintaimu itu mudah, yang sulit adalah membuatmu juga mencintaiku ~
Abhimana Pratama Siang itu, kafe kecil yang biasa mereka kunjungi kembali menjadi saksi bisu perasaan terlarang. Ayla duduk berhadapan dengan Davin, jemarinya melingkari gelas minuman yang esnya hampir mencair. “Mas Abhi ingin…” Ayla menggantung ucapannya sejenak, menelan ludah. “Dia ingin anak dariku.” Davin sontak menegakkan tubuhnya. “Apa?” suaranya meninggi tanpa sadar. “Dan kamu setuju begitu saja?” Ayla buru-buru menggeleng. “Tentu saja nggak! Kamu kan tahu aku selalu minum obat itu supaya nggak hamil anak dia. Aku belum siap—” “Belum siap?” potong Davin tajam. “Berarti kalau suatu hari kamu siap, kamu akan punya anak dari dia?” Ayla menggeleng lebih cepat, matanya mulai berkaca-kaca. “Nggak, Davin. Kamu salah paham.” Ia menggenggam tangan Davin erat. “Aku cuma ingin punya anak dari kamu. Hanya dari kamu.” Kemarahan di wajah Davin perlahan luruh. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. Tangannya terangkat, menyibak sehelai rambut Ayla ke belakang telinga sebelum menarik wanita itu ke dalam pelukannya. “Terima kasih sudah memilih aku,” bisiknya. “Kita berjuang sama-sama, ya. Apa pun risikonya.” Ayla mengangguk dalam dekapan hangat itu. Di sanalah hatinya merasa pulang—meski ia tahu, pulang itu bukan tempat yang seharusnya. ** Malam menjelang ketika Ayla akhirnya tiba di rumah. Langkahnya baru saja melewati ruang tengah saat sebuah suara menghentikannya. “Dari mana kamu?” Ayla menoleh malas. Abhimana berdiri di sana, menatapnya dengan wajah datar yang menyimpan banyak tanya. “Bukan urusan kamu, Mas,” jawab Ayla dingin, lalu kembali melangkah. Abhi mengejarnya. “Aku masih suami kamu, Ayla.” Suaranya merendah, tapi penuh tekanan. “Kamu mau sikap kamu ini sampai terdengar ke ayah dan bunda? Kamu mau ayah jatuh sakit karena kita?” Ayla terdiam, wanita itu tak bisa membantah jika sudah menyangkut kebahagiaan ayah dan bundanya. “Kenapa diam?” Ayla hanya menggeleng kemudian berjalan menuju kamarnya, Abhi pun mengikuti wanita itu dari belakang. “Mau apa, Mas?” tanya Ayla saat menyadari Abhi sudah berada dalam kamar bersamanya. “Aku hanya ingin mengatakan bahwa ... meski kamu sudah menyakiti hatiku, aku tetap mencintai kamu seperti dulu,” ucap Abhi dengan senyumnya yang tulus. Ayla menghela napas, entah mengapa pernyataan cinta Abhi barusan membuat hatinya yang resah menjadi sedikit tenang. Apa yang sebenarnya terjadi? Padahal pernyataan cinta suaminya itu telah didengarnya ratusan kali. Namun kali ini, ia baru bisa merasakan bahwa Abhi sangat tulus mencintai dirinya. “Mas Abhi, kenapa kamu begitu mencintaiku? Padahal aku sudah ... menyakiti kamu,” ucap Ayla sambil menunduk, wanita itu malu pada Abhi yang tetap baik padanya meski telah ia sakiti. Abhi menyentuh wajah Ayla agar menatapnya, mata mereka saling bertemu. Abhi tersenyum menatap wajah cantik istrinya itu. “Ayla ... mencintai kamu itu mudah, yang sulit adalah ....” Abhi menggantungkan kalimatnya, Ayla menatap suaminya itu dengan alis yang bertaut. “Adalah apa, Mas?” tanyanya penasaran. “Yang sulit adalah ... membuat kamu juga mencintaiku,” jawab Abhi dengan mengulum senyum, wajahnya merona saat mengatakan hal itu pada istrinya sendiri. Ia pun mengalihkan pandangannya, tak kuat jika berlama-lama menatap mata indah istrinya itu. Tanpa disadari, seutas senyuman manis tersungging dari sudut bibir Ayla. Hatinya terasa menghangat mendengar pengakuan suaminya itu, meski terdengar seperti gombalan semata hatinya sedikit tersentuh dengan ucapan Abhi barusan. “Oh ya Mas, akhir-akhir ini kamu nggak pernah ke luar negeri lagi?” tanya Ayla mengalihkan pembicaraan, tak ingin hatinya goyah pada Abhi. Abhi menoleh kembali pada Ayla, lalu mengedikkan bahunya. “Untuk apa? Aku CEO-nya, aku bisa bekerja dari mana saja yang aku mau.” “Lalu kemarin-kemarin itu?” “Kemarin-kemarin ada proyek besar, aku ingin menanganinya sendiri jadi ya aku harus pergi,” terang Abhi membuat Ayla hanya mengangguk dengan jawaban pria itu. Meski dulunya hanya seorang karyawan swasta, sedikit banyak Ayla juga mengetahui proyek macam apa yang dikerjakan oleh suaminya itu. Tak ada bahasan lebih lanjut, Abhi pun memilih tidur sedangkan Ayla beranjak ke dapur untuk memasak makan siang mereka berdua. ** Keesokan harinya... “Mas, aku keluar sebentar ya,” pamit Ayla seraya merapikan pakaiannya. Abhi meneliti penampilan Ayla dari ujung kaki hingga ujung kepala. Istrinya itu memakai gaun selutut berwarna merah, dengan bagian pundak yang sedikit terbuka. Rambutnya yang hitam panjang dibiarkannya tergerai begitu saja, dengan polesan make up sedikit tebal Ayla terlihat sangat cantik. Melihat penampilan istrinya yang menurutnya berlebihan, lelaki mana yang tidak akan terpikat dengan istri dari Abhimana Pratama itu. “Mau ke mana dengan pakaian seperti itu?” tanya Abhi menyelidik. “Ada acara di kafe Choco depan perumahan itu Mas, Lena ulang tahun,” terang Ayla sambil memastikan kembali penampilannya di depan cermin. “Lena sahabat kamu itu? Berarti di sana ada Davin?” tebak Abhi langsung. Ayla hanya tersenyum lalu mengangguk pelan. Abhi berjalan ke arah lemari pakaian, mencari pakaian yang pantas untuk istrinya. Tak butuh waktu lama, Abhi memberikan sebuah gaun berwarna navy yang panjangnya sampai di bawah lutut dengan bagian atasnya tertutup hingga ke siku. Ayla mengerutkan keningnya saat menerima gaun itu dari suaminya. “Apa ini, Mas?” “Ganti dengan baju ini kalau kamu mau aku izinkan ke pesta itu,” ujar Abhi dengan tegas. “Tapi Mas, aku pakai gaun ini karena sudah sepasang dengan Davin,” tolak Ayla sambil menggeleng. “Ganti sekarang ... atau nggak usah pergi?” tawar Abhi tak terbantahkan, membuat Ayla terpaksa mengalah dan segera mengganti bajunya itu di kamar mandi. Tak lama berselang, Ayla telah mengganti pakaiannya begitu pun Abhi. Pria itu mengenakan kemeja dan jas berwarna senada dengan Ayla, Abhi terlihat sangat tampan dengan rambut yang ditatanya rapi ke belakang. “Mas Abhi mau ke mana?” tanya Ayla yang sedikit terpana dengan ketampanan suaminya sendiri, wanita itu baru menyadari bahwa suaminya itu sangat tampan dan berbeda dari biasanya. Kumis tipis yang selalu menghiasi wajahnya telah dicukur bersih, membuat kadar ketampanannya semakin meningkat. “Tentu saja ikut dengan kamu ke pesta, Sayang. Sesuai perjanjian kita,” ucap Abhi dengan tersenyum, lesung pipit di wajahnya terlihat sangat jelas saat pria itu tersenyum. “Tapi kan aku belum menanda tangani perjanjian itu, Mas.” “Setuju atau nggak, bagiku perjanjian itu tetap berlaku selagi kamu masih bertemu dengan pria itu.” Ayla melirik jam tangan cantik yang melingkar di pergelangan tangan kirinya, sudah hampir terlambat. Tak ingin membuang waktu, akhirnya ia pun setuju untuk pergi ke pesta sahabatnya dengan diantar oleh Abhi—suaminya. “Tenang saja Sayang, ini baru permulaan. Masih banyak hal lain yang akan aku lakukan untuk kalian,” batin Abhi sambil mengulum senyumnya.~ Mencintaimu itu mudah, yang sulit adalah membuatmu juga mencintaiku ~Abhimana PratamaSiang itu, kafe kecil yang biasa mereka kunjungi kembali menjadi saksi bisu perasaan terlarang. Ayla duduk berhadapan dengan Davin, jemarinya melingkari gelas minuman yang esnya hampir mencair.“Mas Abhi ingin…” Ayla menggantung ucapannya sejenak, menelan ludah. “Dia ingin anak dariku.”Davin sontak menegakkan tubuhnya. “Apa?” suaranya meninggi tanpa sadar. “Dan kamu setuju begitu saja?”Ayla buru-buru menggeleng. “Tentu saja nggak! Kamu kan tahu aku selalu minum obat itu supaya nggak hamil anak dia. Aku belum siap—”“Belum siap?” potong Davin tajam. “Berarti kalau suatu hari kamu siap, kamu akan punya anak dari dia?”Ayla menggeleng lebih cepat, matanya mulai berkaca-kaca. “Nggak, Davin. Kamu salah paham.” Ia menggenggam tangan Davin erat. “Aku cuma ingin punya anak dari kamu. Hanya dari kamu.”Kemarahan di wajah Davin perlahan luruh. Ia menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. Tangannya ter
~ Aku mencintaimu dengan tulus, tapi mengapa kamu membalasnya dengan pengkhianatan? ~ Abhimana PratamaAbhi akhirnya menyusul Ayla ke kamar.Dadanya terasa sesak sejak tadi, seolah ada sesuatu yang terus menekan dari dalam. Ia tak sanggup lagi memendam semua yang selama ini ia simpan sendiri. Malam ini, ia harus bicara. Meski kata-kata itu akan melukainya lebih dalam.“Ayla…” panggilnya lirih.Ayla berdiri membelakanginya, kedua tangannya menggenggam ujung selimut di atas ranjang. Tubuhnya kaku, seakan sudah menebak arah pembicaraan ini akan berakhir ke mana.“Aku sudah memberikan segalanya padamu,” lanjut Abhi, suaranya bergetar. “Termasuk hatiku. Kamu tahu itu, kan?”Ia melangkah mendekat, meraih wajah Ayla dengan kedua tangannya. Sentuhannya lembut, penuh kehati-hatian, seolah wanita di hadapannya bisa hancur kapan saja. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh begitu saja, membasahi pipinya.Di hadapan Ayla Shanaya, Abhimana Pratama selalu kalah.Ayla tak berani menatap su
~ Aku sangat mencintaimu, tolong jangan tinggalkan aku ~ Davin AlfiansyahKutuliskan kenangan tentang, caraku menemukan dirimu…Sorot lampu kuning temaram menyinari panggung kecil di tengah kafe Choco malam itu. Alunan musik mengalir lembut, berpadu dengan suara pengunjung yang sesekali bersorak. Seorang pria berdiri di atas panggung dengan gitar di tangannya, suaranya hangat dan penuh perasaan—membuat siapa pun yang mendengarnya larut tanpa sadar.Namun di antara puluhan pasang mata yang menatapnya penuh kagum, hanya satu yang benar-benar ia cari.Ayla.Seorang wanita duduk di barisan depan, mengenakan gaun sederhana berwarna pastel. Rambut panjangnya tergerai, matanya berbinar setiap kali tatapan mereka bertemu. Ayla tersenyum, senyum yang selalu berhasil membuat Davin lupa bahwa dunia mereka seharusnya tidak boleh bertemu.Tentang apa yang membuatku mudah, berikan hatiku padamu…“Aaa… Davin!!!”Teriakan histeris para wanita memenuhi ruangan. Mereka menyebut nama Davin berulang kali
POV Abhimana PratamaAku terbiasa mengambil keputusan besar.Sebagai CEO di sebuah perusahaan investasi multinasional, setiap hari aku menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah, memimpin rapat lintas negara melalui konferensi video, serta menentukan nasib ratusan karyawan hanya dengan satu garis pena. Aku dilatih untuk berpikir logis, rasional, dan terukur. Hidupku adalah deretan angka dalam neraca saldo yang harus selalu seimbang. Teratur, rapi, dan nyaris sempurna di mata siapa pun yang memandang dari luar kaca gedung kantorku yang menjulang tinggi di Sudirman.Kecuali satu hal yang tidak pernah bisa aku seimbangkan. Satu variabel yang selalu membuat kalkulasiku berantakan.Istriku, Ayla.Aku menatap layar laptop di hadapanku tanpa benar-benar membaca deretan data yang tersaji. Grafik penjualan kuartal keempat yang seharusnya menarik perhatianku justru terasa buram. Fokusku buyar total sejak panggilan telepon singkat pagi tadi. Panggilan yang aku putus sepihak sebelum dia semp
~ Aku melakukan semua ini karena cinta dan peduli denganmu, meskipun kamu belum mencintaiku ~ Abhimana Pratama So maybe it's true… that I can't live without you… Dering ponsel membangunkan Ayla dari tidur lelapnya. Entah sudah berapa lama lagu yang dinyanyikan oleh Boys Like Girls berkolaborasi dengan Taylor Swift itu mengalun, namun sang pemilik ponsel masih enggan meraih benda pipih tersebut. Kepalanya terasa berat, matanya masih terpejam rapat, dan tubuhnya enggan diajak berkompromi dengan pagi yang datang terlalu cepat. And maybe two… is better than one… Ayla mendengus pelan. Tangannya bergerak asal mencari selimut yang tadi tersingkap, berharap suara itu berhenti dengan sendirinya. Namun nada dering justru semakin terasa mengganggu, seolah tak mau kalah dengan rasa kantuknya. Akhirnya, dengan sedikit rasa kesal, Ayla membuka mata. Ia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya, duduk setengah malas di atas ranjang, lalu mengikat rambut panjangnya dengan asal. Tangannya meraih p







