Share

Bab 8: Aneh

Author: Nympadoraaa
last update publish date: 2026-08-12 13:54:42

Kantor Kementerian terasa lebih ramai dari hari-hari biasanya. Suara langkah kaki dari puluhan perwakilan perusahaan konstruksi saling bersahutan, memenuhi aula yang telah disulap menjadi ruang konferensi resmi. Dibagian depan ruangan, sebuah spanduk berukuran besar menampilkan tulisan tebal ‘Pengumuman Resmi Pemenang Tender Proyek Pembangunan Jalan Tol Antar Provinsi’.

Laura berdiri anggun di sisi kiri panggung utama sambil memegang sebuah map berwarna coklat yang berisi draft evaluasi akhir dan salinan lembar penetapan pemenang. Ia telah menghabiskan dua minggu terakhir untuk memeriksa ribuan halaman berkas kelayakan dari lima perusahaan besar yang masuk tahap final. Dan hari ini adalah puncak dari kerja kerasnya.

Pandangan Laura menyapu deretan kursi VIP yang terletak di depan panggung. Matanya berhenti pada sosok suaminya yang semalam tidak pulang, kini tampak menonjol seperti biasanya. Pria itu duduk bersandar dengan tenang, kedua tangannya terlipat di depan dada. Mata mereka sempat bertemu beberapa detik, sebelum Theo kembali mengalihkan pandangannya ke atas panggung.

‘Lihat? Dia bersikap seolah gak kenal aku.’ Batin Laura kesal. Ia merasa, mungkin bagi Theo ia hanya sebuah pintu masuk atau bahkan hambatan bagi kepentingan bisnisnya.

Laura dan Theo kembali sibuk dengan pikirannya masing-masing sambil memperhatikan jalannya acara.

“Kami menyatakan bahwa teknis dan harga dari Wistara Construction memenuhi seluruh kualifikasi utama, dengan nilai evaluasi sebesar sembilan puluh dua poin.” Tepuk tangan riuh membahana dari aula, terutama dari jajaran direktur dan tim hukum Wistara yang kini tengah saling berjabat tangan dengan raut wajah bahagia.

Laura memperhatikan bagaimana suaminya yang tidak menunjukan kebahagiaan yang meluap. Ia hanya melihat Theo yang menegakan posisi duduknya dengan dagu yang terangkat. Laura tahu bagi pria seperti Theo, kemenangan ini memang sudah seharusnya ia dapatkan.

Setelah acara pengumuman resmi dan sesi foto bersama selesai, para tamu undangan melangkah keluar aula menuju area luar untuk menikmati hidangan yang telah disediakan. Laura masih berdiri di dekat panggung, merapikan lembar evaluasi dan memasukannya kembali kedalam tas.

“Kayaknya kita bakalan makin sibuk.” Ucap Arvin sambil memberikan secangkir kopi panas pada Laura.

“Makasih banyak.” Laura tersenyum tulus dan menerima pemberian Arvin, “Memang kapan sih kantor kita gak sibuk?”

“Ah, iya juga ya.” Arvin terkekeh kecil, “Ayo kita keluar, keburu makanannya habis.”

Arvin memberi isyarat agar Laura berjalan lebih dulu. Dan ketika mereka melangkah menyusuri aula, langkah Laura terhenti ketika ia melihat suaminya berdiri di pintu keluar sambil menatapnya. Pria itu berdiri sendirian, memisahkan diri dari rombongan. Arvin yang menyadari keberadaan Theo ikut menghentikan langkahnya. Ia melirik Laura yang berdiri disampingnya dengan pandangan bertanya, seolah memastikan keadaan Laura karena melihat ekspresi Laura yang tiba-tiba berubah.

“Selamat siang, Pak Theo.” Sapa Arvin saat mereka akhirnya saling berhadapan, “Selamat atas kemenangannya, ya.”

Theo menatap Arvin sejenak lalu mengangguk singkat, “Terima kasih.”

Tatapan Theo beralih pada Laura. Suasana diantara mereka bertiga mendadak terasa canggung.

“Kenapa? Ada yang kamu butuhkan, Theo?” Tanya Laura berusaha memecah kecanggungan diantara mereka.

“Aku cuma mau memastikan keadaan istriku.” Ujar Theo penuh penekanan sambil tersenyum tipis sambil melirik Arvin sekilas. Tangannya terangkat merapikan rambut Laura dengan gerakan yang lembut.

Laura menatap aneh ke arah Theo, ia heran melihat sandiwara yang mendadak dimainkan pria itu di depan Arvin, “Aku baik-baik aja.”

“Jelas kamu baik-baik aja, Laura. Ada Pak Arvin yang bekerja ekstra untuk seorang atasan kerja, apa dia merangkap sebagai pengawal pribadi? Aku lihat kalian terus bersama." Ujar Theo dengan nada bercanda yang sarat akan sindiran tajam.

Suasana diantara ketiganya kembali menjadi canggung. Sindiran terselubung Theo jelas mencoba menuduh kedekatan yang tidak profesional diantara Laura dan Arvin.

“Jangan salah menilai. Aku berdiri disini sebagai rekan kerja yang profesional.” Arvin yang berdiri disebelah Laura tertawa pelan, “Anda terlalu cemburu, Pak Theo.”

Laura tahu Arvin sedang berusaha mempertahankan senyum sopannya, sementara Theo masih dengan senyum angkuhnya.

“Rekan kerja yang profesional, ya? Tentu saja.” Theo terkekeh ringan, “Kalau begitu, sampai bertemu lagi di rapat verifikasi minggu depan, Pak Arvin.”

Pandangan Theo beralih pada Laura, “Dan sampai bertemu di rumah, Sayang.”

Tanpa menunggu balasan, Theo memutar tubuhnya dan melangkah pergi meninggalkan Arvin dan Laura yang masih mematung. Ia kembali bergabung dengan rombongan perusahaannya yang sudah menunggu di dekat pintu keluar gedung. Laura memperhatikan punggung suaminya yang perlahan menjauh hingga menghilang di balik pintu kaca. Laura merasa emosi Theo sedang tidak stabil pagi ini. Ia jadi penasaran, apa yang terjadi semalam saat Theo tidak pulang?

.

.

To be continued

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 13: Cemas

    Sinar matahari pagi yang menerobos lewat celah tirai balkon mengusir kegelapan kamar utama. Kesadaran Laura perlahan kembali dari tidurnya yang tidak begitu nyenyak. Hidungnya menghirup aroma wangi hangatnya kulit tubuh manusia yang sangat dekat, bahkan terasa terlalu dekat. Saat matanya terbuka, Laura membeku ketika menyadari kepalanya tengah bersandar tepat diatas dada suaminya. Tangannya melingkar dengan santai di pinggang pria itu, sementara lengan kokoh suaminya merengkuh punggung Laura dengan begitu santai. Bantal guling yang semalam dipasang sebagai dinding pembatas buatan sudah tergeletak di ujung bawah tempat tidur. Tepat pada detik yang sama, kelopak mata suaminya ikut terbuka pelan. Dua pasang mata itu saling bertatapan dalam jarak yang hanya terpisah beberapa sentimeter. Selama beberapa detik keheningan menyelimuti keduanya di udara. Secara refleks, Laura menarik tangannya dan dan mendorong tubuhnya menjauh. Theo pun ikut menarik lengannya mendadak, hampir saja ia terj

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 12: Mengalah

    Mobil hitam itu akhirnya kembali membelah kegelapan malam. Setelah makan malam yang menguras energi, tidak ada satu pun percakapan berarti diantara mereka. Nyonya Ida duduk di kursi belakang dengan raut wajah bahagia. Sementara di kursi depan, Laura dan suaminya berkutat dengan pikirannya masing-masing.Saat kendaraan berhenti di halaman rumah, Nyonya Ida menjadi orang pertama yang turun dengan langkah santai, “Mama capek banget. Mama langsung istirahat ya.”“Kamar bawah udah siap, Ma. Kalau butuh apa-apa panggil aja.” Ucap Theo.“Kalian juga istirahat gih. Mama masuk dulu, ya.”Laura tersenyum hangat, “Selamat istirahat ya, ma.”Wanita paruh baya itu memberi kecupan hangat di pipi Laura, lalu menepuk lengan anak kandungnya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar tamu utama yang sudah disiapkan.Begitu pintu kayu kamar tamu tertutup rapat, keheningan kembali melingkupi ruang tengah. Senyum manis di wajah Laura menguap seketika. Wajahnya kembali datar.Ia membalikkan badan, menatap loro

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 11: Tak Disangka

    Pintu kayu jati yang tebal terbuka saat Theo memutar gagangnya. Ruang tengah megah yang biasanya gelap dan sepi itu kini terang karena semua lampu sudah dinyalakan. Belum sempat Laura menyimpan tas kerjanya, sebuah langkah kaki yang terdengar terburu-buru terdengar mendekat dari arah dapur."Akhirnya kalian pulang juga!" Seoranh wanita paruh baya muncul sambil tersenyum lebar. Wanita itu langsung melangkah mendekati Laura dan memeluk menantunya hangat.“Apa kabar, sayang?” Tanya ibunya sambil mengelus lembut punggung Laura, “Semua lancar?”Laura membalas pelukan Nyonya Ida sambil mengangguk pelan, “Baik, Ma. Semua juga lancar.”Ibunya melepas pelukan, menatap menantunya dalam, “Syukur kalau gitu.”“Mama kok ga ngabarin kalau mau datang?” Tanya Theo berusaha menyembunyikan rasa paniknya saat mendaratkan ciuman singkat di pipi sambil memeluk ibunya.Sang ibu membalas dekapan putra tunggalnya, lalu melepaskannya dengan tepukan ringan di dada Theo, “Justru mama sengaja ga ngabarin. Mama m

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 11: Kunjungan

    Pagi itu, matahari bersinar hangat di atas hamparan tanah luas yang dipasangi papan petunjuk besar bertuliskan ‘Lokasi Pembangunan Jalan Tol Lintas Provinsi’. Angin bertiup cukup kencang, mengibarkan bendera sponsor dan spanduk yang terpasang di sepanjang area acara groundbreaking.Di area tenda utama VIP, jajaran direksi Wistara Construction dan pejabat tinggi negara sedang berkumpul. Di sana, Laura bisa melihat ayahnya sedang berbincang hangat dengan Theo dan pejabat lainnya. Theo tertawa ramah ketika sang ayah menepuk pelan bahunya sambil membisikan sesuatu. Laura tersenyum sinis, suaminya memang pandai dalam memainkan peran sebagai menantu idaman."Pagi, Laura.” Sapa Ardi sambil memberikan sebuah botol air mineral, “Kamu kelihatan capek banget. Apa ada yang salah?” “Aku baik-baik aja.” Laura menggeleng pelan, bermaksud menjangkau botol itu. Tapi Ardi refleks menarik kembali tangannya. Pria itu memutar tutup botol sampai terdengar bunyi segel plastik yang terputus, baru kemudian

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 10: Luapan Emosi

    Bayangan tentang tindakannya melabrak wanita itu terasa begitu menggiurkan dan aku yakin itu bisa memuaskan ego Laura yang terluka. Rasanya, satu tamparan atau teriakan kemarahan akan sangat ampuh untuk memuaskan hatinya yang hancur. Ia sudah tidak tahan ingin meruntuhkan kedamaian wanita itu di depan umum.Laura sempat mengambil satu langkah maju, tapi ia kembali berhenti ketika tubuhnya mendadak bergetar hebat menahan godaan emosi dalam dirinya.Ia berada dalam dua pilihan, tetap membiarkan emosi menguasai dirinya, atau kembali menelan rasa sakitnya untuk tetap mempertahankan apa yang tersisa dari kehormatan dan reputasinya.“Laura, sumpah deh kamu kenapa sih?” Amel semakin khawatir ketika melihat raut wajah sahabatnya yang memucat, tapi matanya dipenuhi oleh amarah.Amel melirik ke arah dimana pandangan Laura tertuju, “Lau, kamu ngeliat…siapa?”Laura menghentikan gerakan tubuhnya yang hendak berbalik ketika sentuhan tangan Amel menahannya. Napasnya masih memburu. Di dalam kepalanya

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 9: Bertemu

    Laura baru saja menyelesaikan materi presentasi untuk rapat evaluasi internal bersama jajaran pejabat direktorat sore nanti. Perutnya sudah berbunyi minta di isi karena tadi pagi ia melewatkan sarapan. Laura harus banyak-banyak mengucapkan terima kasih pada Amel yang memaksanya untuk ikut keluar dari lingkungan kantor dan menyeretnya menuju sebuah restoran Jepang.Sesi makan siang ini juga sekaligus menjadi sesi curhat antar dua sahabat. Amel sesekali mengeluh mengenai pekerjaannya, dan juga kisah cintanya yang belum juga menemukan titik temu karena perbedaan keyakinan antara dirinya dan kekasihnya.“Apa aku putusin aja ya, Lau?” Tanya Amel, “Tapi nggak ah, gila aja kalau enam tahun ujung-ujungnya putus mah.”Laura masih mendengarkan ocehan sahabatnya sambil meneguk es jeruknya, “Ya itu mah tergantung keputusan kalian berdua.”“Hm… apa aku ajak dia jadi atheis aja kali, ya? Jadi gak ada yang menang diantara kita berdua.” Ucap Amel sembarangan yang langsung mendapatkan toyoran di kepal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status