INICIAR SESIÓNLaura baru saja menyelesaikan materi presentasi untuk rapat evaluasi internal bersama jajaran pejabat direktorat sore nanti. Perutnya sudah berbunyi minta di isi karena tadi pagi ia melewatkan sarapan. Laura harus banyak-banyak mengucapkan terima kasih pada Amel yang memaksanya untuk ikut keluar dari lingkungan kantor dan menyeretnya menuju sebuah restoran Jepang.
Sesi makan siang ini juga sekaligus menjadi sesi curhat antar dua sahabat. Amel sesekali mengeluh mengenai pekerjaannya, dan juga kisah cintanya yang belum juga menemukan titik temu karena perbedaan keyakinan antara dirinya dan kekasihnya. “Apa aku putusin aja ya, Lau?” Tanya Amel, “Tapi nggak ah, gila aja kalau enam tahun ujung-ujungnya putus mah.” Laura masih mendengarkan ocehan sahabatnya sambil meneguk es jeruknya, “Ya itu mah tergantung keputusan kalian berdua.” “Hm… apa aku ajak dia jadi atheis aja kali, ya? Jadi gak ada yang menang diantara kita berdua.” Ucap Amel sembarangan yang langsung mendapatkan toyoran di kepala dari Laura. “Heh, jaga ucapan kamu. Sembarangan banget deh.” Amel tertawa lepas, “Ya abisnya gimana? Aku gak sanggup deh kayaknya kalau harus putus dari dia. Bayangin, Lau. Enam tahun. Kalau kredit motor udah dapet dua tuh.” Laura terdiam sejenak, lalu tersenyum getir, “Mungkin mereka juga ngerasain hal itu ya, Mel?” “Hm? Siapa?” “Theo sama pacarnya.” “Uhuk!” Amel yang sedang menyeruput ocha dingin tersedak. Ia buru-buru mengambil tisu dan menepuk dadanya yang terasa panas. “Kamu aja yang enam tahun ga sanggup ngelepasin dia. Apalagi mereka yang udah pacaran dari jaman sekolah.” Suara Laura terdengar pelan, hampir tenggelam di antara riuh pengunjung restoran. “Hey, Laura. No, no, ya!” Amel meletakan gelasnya kasar, wajahnya tampak sangat serius, “Casenya kamu sama aku itu beda. Yang kamu jalanin itu pernikahan loh, bukan pacaran lagi.” “Jangan pernah kamu memaklumi atau nyari pembenaran buat mereka. Mau mereka pacaran dari jaman nenek moyang kita yang seorang pelaut itu kek, siapa peduli? Theo udah ngambil keputusan buat nikah sama kamu. Nama kamu loh yang dia sebut dihadapan Tuhan. Kalau dia emang gak bisa ngelepasin perempuan itu, harusnya dari awal dia gak pernah setuju buat nikahin kamu!” Amel menatap Laura kesal, ia berusaha menghentikan pikiran liar sahabatnya itu. Laura menghela napas panjang, ia mengaduk es jeruknya yang sudah mencair, “Tapi kan kamu tahu, pernikahan ini dari awal cuma buat bisnis. Aku sama dia gak saling cinta.” “Masa bodoh. Mau bisnis atau bukan, tanggung jawabnya tetep nyata, Laura.” Potong Amel cepat, “Gila kali ya, jangan pernah nempatin diri kamu lagi seolah-olah kamu itu penjahat diantara mereka. Ingat ya, Laura. Kamu itu juga korban dari keegoisan si Theo.” Laura kembali menghela napas panjang. Beban pikirannya sedikit terangkat mendengar pembelaan dari sahabatnya. Dan Laura beruntung mempunyai Amel di hidupnya. “Denger ya, ibu pejabat yang paling cantik seantero jagad. Jangan biarin rasa empati kamu yang berlebihan itu dipakai buat ngebela orang yang udah nyakitin kamu. Kalau emang kamu udah gak bisa, jangan pernah nunduk! Kamu berhak nuntut rasa hormat, bukan malah kasihan sama mereka. Konyol, deh.” “Iya, iya, aku ngerti. Makasih loh, udah ngingetin aku. Aku kadang suka lupa sama diri sendiri.” “Makanya kamu butuh aku gak sih?” Tanya Amel penuh percaya diri sambil terkekeh. Ia lalu mengajak Laura untuk kembali ke kantor karena waktu sudah menunjukan pukul satu. “Gimana, udah lebih tenang?” Tanya Amel sambil kembali memasukan dompetnya kedalam tas. Amel menatap sahabatnya hangat, memastikan Laura dalam kondisi yang baik sebelum mereka kembali ‘bertarung’ di dunia birokrasi. Laura tersenyum lega, “Jauh lebih baik dari sebelumnya, Mel. Thank you, ya.” “Kan, apa aku bilang.” Amel terkekeh sambil menepuk bahu Laura, “Coba tadi kalau kamu gak mau ikut, aku yakin kamu udah pingsan gara-gara nelen pasal regulasi.” Mereka berdua melangkah menyusuri lorong menuju pintu keluar dengan tawa kecil yang masih sesekali keluar dari mulut keduanya. Lihat, kan? Amel memang matahari di tengah badai. “Eh?” Tepat saat Laura melangkah dekat pintu keluar, pegangan tangannya pada tali tas mendadak melonggar. Langkah kakinya membeku seketika ketika melihat rombongan kecil dengan empat wanita karir baru saja menggeser pintu kayu restoran dari arah luar. Diantara banyaknya orang yang masuk, mata Laura terkunci pada wanita seumuran dirinya yang berjalan paling depan di rombongan itu. Wanita berambut pirang dengan wajah yang terlihat rapuh dibalik gaya penampilannya yang sangat sederhana, tapi tetap terlihat anggun. Laura merasa waktu seolah melambat, udara disekitarnya mendadak menjadi dingin dan membuat tubuhnya gemetar. Leia. Meskipun Laura belum pernah berhadapan langsung dengan Leia, tetapi segala sesuatu tentang wanita itu tercetak jelas dalam memorinya. Itu adalah wajah yang sama yang pernah ia lihat di pernikahannya, wajah yang selalu membayangi kehidupan rumah tangganya yang dingin bersama Theo. Wanita itulah orang ketiga dalam hubungan pernikahan beracun yang dijalani Laura dan Theo. ‘Benar. Itu dia.’ Batin Laura berteriak ketika Leia berjalan melewati Laura. Bau parfum vanilla yang sangat Laura benci menusuk indra penciumannya. Semua terjadi begitu cepat. Leia sedang mendengarkan temannya berbicara sambil menundukan pandangannya ke arah ponsel. Ia terus melangkah masuk menuju area makan di sudut restoran tanpa pernah menyadari bahwa wanita yang baru saja ia lewati adalah istri sah dari pria yang ia cintai. “Lau, you okay?” Tanya Amel melihat Laura yang masih mematung dengan wajah kaget di depan pintu, dadanya naik turun tidak teratur, membuat Amel menjadi khawatir. “Hey, Laura. Kamu kenapa?” Pertemuan yang tidak disengaja itu berhasil melenyapkan ketenangan yang baru saja ia bangun bersama Amel selama satu jam terakhir. “Dia… dia ada disana.” Bisik Laura sangat pelan. Tangannya mengepal erat hingga kukunya menekan telapak tangannya sendiri, membuat Laura merasakan rasa perih yang tidak ia hiraukan. “Hah? Kenapa, Lau?” Amel kembali bertanya ketika Laura menoleh ke arah belakang dengan tatapan penuh kebencian. Nalurinya berbisik kuat dalam pikirannya. Haruskah ia berbalik? Haruskan ia melangkah menuju wanita itu dan mempermalukannya di depan teman dan seluruh pengunjung restoran? Sungguh, tangannya sudah gatal ingin melayangkan satu tamparan keras tepat di wajahnya, agar semua orang di tempat ini tahu siapa dia sebenarnya. . . To be continuedMobil hitam itu akhirnya kembali membelah kegelapan malam. Setelah makan malam yang menguras energi, tidak ada satu pun percakapan berarti diantara mereka. Nyonya Ida duduk di kursi belakang dengan raut wajah bahagia. Sementara di kursi depan, Laura dan suaminya berkutat dengan pikirannya masing-masing.Saat kendaraan berhenti di halaman rumah, Nyonya Ida menjadi orang pertama yang turun dengan langkah santai, “Mama capek banget. Mama langsung istirahat ya.”“Kamar bawah udah siap, Ma. Kalau butuh apa-apa panggil aja.” Ucap Theo.“Kalian juga istirahat gih. Mama masuk dulu, ya.”Laura tersenyum hangat, “Selamat istirahat ya, ma.”Wanita paruh baya itu memberi kecupan hangat di pipi Laura, lalu menepuk lengan anak kandungnya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar tamu utama yang sudah disiapkan.Begitu pintu kayu kamar tamu tertutup rapat, keheningan kembali melingkupi ruang tengah. Senyum manis di wajah Laura menguap seketika. Wajahnya kembali datar.Ia membalikkan badan, menatap loro
Pintu kayu jati yang tebal terbuka saat Theo memutar gagangnya. Ruang tengah megah yang biasanya gelap dan sepi itu kini terang karena semua lampu sudah dinyalakan. Belum sempat Laura menyimpan tas kerjanya, sebuah langkah kaki yang terdengar terburu-buru terdengar mendekat dari arah dapur."Akhirnya kalian pulang juga!" Seoranh wanita paruh baya muncul sambil tersenyum lebar. Wanita itu langsung melangkah mendekati Laura dan memeluk menantunya hangat.“Apa kabar, sayang?” Tanya ibunya sambil mengelus lembut punggung Laura, “Semua lancar?”Laura membalas pelukan Nyonya Ida sambil mengangguk pelan, “Baik, Ma. Semua juga lancar.”Ibunya melepas pelukan, menatap menantunya dalam, “Syukur kalau gitu.”“Mama kok ga ngabarin kalau mau datang?” Tanya Theo berusaha menyembunyikan rasa paniknya saat mendaratkan ciuman singkat di pipi sambil memeluk ibunya.Sang ibu membalas dekapan putra tunggalnya, lalu melepaskannya dengan tepukan ringan di dada Theo, “Justru mama sengaja ga ngabarin. Mama m
Pagi itu, matahari bersinar hangat di atas hamparan tanah luas yang dipasangi papan petunjuk besar bertuliskan ‘Lokasi Pembangunan Jalan Tol Lintas Provinsi’. Angin bertiup cukup kencang, mengibarkan bendera sponsor dan spanduk yang terpasang di sepanjang area acara groundbreaking.Di area tenda utama VIP, jajaran direksi Wistara Construction dan pejabat tinggi negara sedang berkumpul. Di sana, Laura bisa melihat ayahnya sedang berbincang hangat dengan Theo dan pejabat lainnya. Theo tertawa ramah ketika sang ayah menepuk pelan bahunya sambil membisikan sesuatu. Laura tersenyum sinis, suaminya memang pandai dalam memainkan peran sebagai menantu idaman."Pagi, Laura.” Sapa Ardi sambil memberikan sebuah botol air mineral, “Kamu kelihatan capek banget. Apa ada yang salah?” “Aku baik-baik aja.” Laura menggeleng pelan, bermaksud menjangkau botol itu. Tapi Ardi refleks menarik kembali tangannya. Pria itu memutar tutup botol sampai terdengar bunyi segel plastik yang terputus, baru kemudian
Bayangan tentang tindakannya melabrak wanita itu terasa begitu menggiurkan dan aku yakin itu bisa memuaskan ego Laura yang terluka. Rasanya, satu tamparan atau teriakan kemarahan akan sangat ampuh untuk memuaskan hatinya yang hancur. Ia sudah tidak tahan ingin meruntuhkan kedamaian wanita itu di depan umum.Laura sempat mengambil satu langkah maju, tapi ia kembali berhenti ketika tubuhnya mendadak bergetar hebat menahan godaan emosi dalam dirinya.Ia berada dalam dua pilihan, tetap membiarkan emosi menguasai dirinya, atau kembali menelan rasa sakitnya untuk tetap mempertahankan apa yang tersisa dari kehormatan dan reputasinya.“Laura, sumpah deh kamu kenapa sih?” Amel semakin khawatir ketika melihat raut wajah sahabatnya yang memucat, tapi matanya dipenuhi oleh amarah.Amel melirik ke arah dimana pandangan Laura tertuju, “Lau, kamu ngeliat…siapa?”Laura menghentikan gerakan tubuhnya yang hendak berbalik ketika sentuhan tangan Amel menahannya. Napasnya masih memburu. Di dalam kepalanya
Laura baru saja menyelesaikan materi presentasi untuk rapat evaluasi internal bersama jajaran pejabat direktorat sore nanti. Perutnya sudah berbunyi minta di isi karena tadi pagi ia melewatkan sarapan. Laura harus banyak-banyak mengucapkan terima kasih pada Amel yang memaksanya untuk ikut keluar dari lingkungan kantor dan menyeretnya menuju sebuah restoran Jepang.Sesi makan siang ini juga sekaligus menjadi sesi curhat antar dua sahabat. Amel sesekali mengeluh mengenai pekerjaannya, dan juga kisah cintanya yang belum juga menemukan titik temu karena perbedaan keyakinan antara dirinya dan kekasihnya.“Apa aku putusin aja ya, Lau?” Tanya Amel, “Tapi nggak ah, gila aja kalau enam tahun ujung-ujungnya putus mah.”Laura masih mendengarkan ocehan sahabatnya sambil meneguk es jeruknya, “Ya itu mah tergantung keputusan kalian berdua.”“Hm… apa aku ajak dia jadi atheis aja kali, ya? Jadi gak ada yang menang diantara kita berdua.” Ucap Amel sembarangan yang langsung mendapatkan toyoran di kepal
Kantor Kementerian terasa lebih ramai dari hari-hari biasanya. Suara langkah kaki dari puluhan perwakilan perusahaan konstruksi saling bersahutan, memenuhi aula yang telah disulap menjadi ruang konferensi resmi. Dibagian depan ruangan, sebuah spanduk berukuran besar menampilkan tulisan tebal ‘Pengumuman Resmi Pemenang Tender Proyek Pembangunan Jalan Tol Antar Provinsi’.Laura berdiri anggun di sisi kiri panggung utama sambil memegang sebuah map berwarna coklat yang berisi draft evaluasi akhir dan salinan lembar penetapan pemenang. Ia telah menghabiskan dua minggu terakhir untuk memeriksa ribuan halaman berkas kelayakan dari lima perusahaan besar yang masuk tahap final. Dan hari ini adalah puncak dari kerja kerasnya.Pandangan Laura menyapu deretan kursi VIP yang terletak di depan panggung. Matanya berhenti pada sosok suaminya yang semalam tidak pulang, kini tampak menonjol seperti biasanya. Pria itu duduk bersandar dengan tenang, kedua tangannya terlipat di depan dada. Mata mereka sem







