Home / Romansa / Cinta Yang Tak Dipilih / Bab 6: Terlalu Mahal

Share

Bab 6: Terlalu Mahal

Author: Nympadoraaa
last update publish date: 2026-08-11 13:21:04

Jarum jam dinding bergerak teratur, menunjukan pukul sepuluh lewat lima belas menit. Suasana rumah dengan konsep minimalis modern itu terasa terlalu hening. Cahaya lampu gantung di area ruang makan sengaja diredupkan, menyisakan sorot cahaya kekuningan yang temaram dan menenangkan.

Seperti malam-malam sebelumnya, Laura tidak pernah melontarkan protes, marah, atau menghujani Theo dengan pesan singkat untuk bertanya jam berapa suaminya akan pulang. Ia tetap menjaga ketenangan meskipun emosinya mengalir di dalam.

Di atas meja makan hitam yang dingin, semangkuk sup krim jamur dan secangkir teh hangat yang baru saja diseduh tersaji ketika bunyi klik pelan dari pintu smart lock terdengar. Theo yang baru saja pulang masuk dengan langkah yang terdengar berat, membuat Laura langsung menghampiri suaminya.

“Kamu mau makan atau mau mandi dulu?” Tanya Laura sambil mengulurkan tangannya untuk mengambil jas yang disampirkan Theo di lengannya.

“Mandi.” Jawab Theo singkat.

Laura menggantungkan jas pria itu ditempat gantungan dekat pintu masuk. Ia memperhatikan Theo yang berhenti di dekat meja makan, menatap cangkir yang uapnya masih mengepul lalu kemudian menarik kursinya untuk duduk.

Tidak jadi mandi, Theo?

Laura tersenyum tipis melihat Theo menyesap teh hangat yang ia buat. Ia melangkah menuju meja di depan kamar Theo untuk meletakan kunci mobil dan tas Theo yang sebelumnya tergeletak di atas meja dekat rak sepatu. Tapi ketika Laura merapikan posisi tas kerja milik Theo yang sedikit terbuka di bagian samping, matanya melihat selembar kertas tebal yang terselip mengintip di kantong luar.

Tadinya Laura ingin membetulkan posisi kertas itu agar tidak jatuh, tapi begitu jarinya menyentuh kertas bertuliskan logo toko perhiasan mewah yang terkenal, pandangannya tak sengaja membaca angka dan rincian transaksi di atasnya.

Theo membeli sebuah kalung emas dengan liontin permata bernilai puluhan juta rupiah. Jantung Laura berdetak lebih cepat ketika matanya membaca baris paling bawah nota tersebut. Disana tertera sebuah nama penerima yang tentu saja bukan ditunjukan untuknya.

Leia Jovianne.

Tangannya yang memegang kertas itu membeku, dan udara terasa semakin dingin. Nama itu, nama yang selama ini menjadi bayangan diantara pernikahan mereka, kini tercetak jelas diatas kertas bernilai lima puluh lima juta rupiah.

Laura memejamkan matanya. Ia menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan untuk kembali mengontrol detak jantungnya yang sempat liar. Dengan ketenangan yang mengerikan, Laura kembali berjalan menuju ruang makan sambil memegang kertas mahal itu.

“Kenapa?” Tanya Theo datar ketika Laura berdiri di sampingnya saat ia sedang menikmati sup jamur yang dibuat Laura.

Laura meletakan nota perhiasan mewah itu tepat di samping mangkuk sup, “Ini jatuh dari tas kamu.”

Theo melirik santai kertas di hadapannya. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi sambil meletakan sendoknya dengan pelan, “Terus?”

Keheningan menyelimuti mereka berdua untuk beberapa detik. Laura menatap mata Theo kecewa, saat Theo malah menantangnya dan sama sekali tidak berniat membantah.

“Kamu mau apa? Menuntut penjelasan?” Theo tersenyum sinis sambil menatap istrinya tajam, “Kamu mau bertindak seolah kamu ini istri yang baru saja dikhianati?”

Bukankah memang benar begitu? Tapi Laura tidak menjawab apapun. Ia tetap berdiri tegak membiarkan Theo melanjutkan ucapannya.

“Kamu tahu persis gak pernah ada cinta diantara kita, Laura.” Theo berdiri, mengikis jarak diantara mereka, “Jadi berhenti bertindak kayak korban. Jangan pura-pura lupa pada kesepakatan yang kita buat di atas pernikahan politik konyol ini.”

Laura sadar betul permainan yang dijalankan Theo. Pria itu mencoba membalikan keadaan dengan membuat Laura merasa bersalah karena telah memberikan fakta. Suaminya sedang berusaha menanamkan rasa malu agar Laura merasa jika ia tidak berhak merasa sakit hati. Theo sedang memperjelas posisi Laura dan wanita itu sekarang.

“Korban?” Tapi Laura menolak terlihat hancur. Ia menatap wajah suaminya dengan topeng ketenangannya, “Aku cuma lagi menunjukan seberapa murahnya cara kamu menjaga rahasia.”

Laura tersenyum sinis dan menunjuk kertas itu dengan lirikan matanya, “Kamu membawa pulang bukti pembelian perhiasan mahal untuk wanita simpanan itu? Kecerobohan kamu terlalu amatir, Theo.”

Ia melangkah mundur untuk memberi jarak diantara mereka, “Jangan buat kebodohan lain yang bisa merusak reputasi kita berdua, Theo. Aku mulai muak.”

Laura memutar tubuhnya dan melangkah dengan tenang meninggalkan ruang makan tanpa menunggu balasan dari Theo. Ia naik ke lantai dua menuju kamar tidurnya, meninggalkan Theo yang tengah menatap punggungnya dengan dingin.

Saat pintu kamar tertutup rapat, Laura menyandarkan tubuhnya pada kayu tebal itu. Topengnya runtuh, kedua kakinya bahkan tak kuat menopang beban tubuhnya perlahan merosot ke bawah, ia duduk di lantai yang dingin sambil memeluk kedua lututnya sendiri.

Terlalu sakit. Napasnya terasa sesak ketika ia harus menahan air mata yang akhirnya pecah juga, menetes deras membasahi pipinya dengan isakan kecil. Tubuhnya gemetar menahan rasa gelisah, sakit hati, dan juga penghinaan yang tercampur menjadi satu.

Kini Laura harus mendapati bukti nyata bahwa suaminya memperlakukan kekasihnya diluar sana dengan penuh kasih sayang sedangkan ia diabaikan, tidak dihargai dan tidak diperlakukan layaknya seorang istri. Semua itu terasa terlalu kejam, hatinya hancur.

“Aku gak bisa bertahan lebih lama lagi.” Ucap Laura pelan. Ia merasa sangat lelah. Laura merasa akan semakin hancur jika terus berada di sisi pria dingin yang tak punya hati ini.

Apa ia harus pergi? Apa ia harus melarikan diri dari bayangan kehidupan yang terus diisi oleh kepalsuan ini?

“Nggak!” Laura menghentikan tangisnya. Ia mengusap air mata di pipinya kasar lalu kembali berdiri menatap pantulan dirinya di cermin besar yang ada di ujung kamar.

“Jangan nyerah, Laura. Ini baru dimulai.” Laura menggelengkan kepalanya perlahan, berbicara pada dirinya sendiri.

Jika ia menunjukan kehancuran dirinya, maka Theo akan menang. Pria itu akan menganggapnya wanita lemah yang hancur karena cinta yang tak terbalas dan menjadikan kerapuhannya sebagai alasan untuk tindakan jahatnya yang lain.

Laura adalah seorang wanita yang memiliki martabat dan kehormatan yang tak ternilai harganya. Ia tidak dibesarkan untuk menjadi korban. Jika suaminya ingin bermain dalam drama ini, maka Laura akan melayaninya hingga selesai sebagai pemain utama yang memegang kendali.

Rasa sakit memang mengukir luka yang dalam, tapi luka yang diberikan oleh Theo akan menjadi bahan bakar bagi Laura untuk tetap bertahan dan membuktikan bahwa pria egois seperti Theo tidak akan pernah bisa meruntuhkan seorang Aneisha Laura Zalman.

.

.

To be continued

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 14 - Sakit

    Langkah kaki Theo yang biasanya penuh percaya diri kini terdengar terseret saat melewati pintu utama. Suara sepatu kulitnya di atas lantai terdengar lelah. Wajah pria itu pucat. Ia terlihat frustasi dan kebingungan.Di ruang tengah, Nyonya Ida masih duduk santaip sambil menonton tayangan televisi. Wanita paruh baya itu menoleh, langsung tersenyum hangat begitu melihat anak tunggalnya berjalan masuk. Mau tak mau, topeng itu harus dipasang kembali, meski sudah sangat retak di berbagai sisi.Theo memaksakan senyuman tipis yang sangat terlihat dipaksakan, mengangguk singkat pada ibunya tanpa bersuara, lalu berjalan tergesa-gesa menuju kamarnya. Ia tidak sanggup berpura-pura lebih lama lagi di bawah tatapan penuh selidik sang ibu.Tak lama kemudian, mobil Laura memasuki pekarangan rumah. Melihat mobil milik Theo sudah terparkir di garasi, Laura menghentikan langkahnya di ruang tengah. Terlihat Nyonya Ida sedang menyesap teh hangatnya, "Loh, Laura? Baru pulang, Sayang?""Iya, Ma.” jawab Lau

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 13: Cemas

    Sinar matahari pagi yang menerobos lewat celah tirai balkon mengusir kegelapan kamar utama. Kesadaran Laura perlahan kembali dari tidurnya yang tidak begitu nyenyak. Hidungnya menghirup aroma wangi hangatnya kulit tubuh manusia yang sangat dekat, bahkan terasa terlalu dekat. Saat matanya terbuka, Laura membeku ketika menyadari kepalanya tengah bersandar tepat diatas dada suaminya. Tangannya melingkar dengan santai di pinggang pria itu, sementara lengan kokoh suaminya merengkuh punggung Laura dengan begitu santai. Bantal guling yang semalam dipasang sebagai dinding pembatas buatan sudah tergeletak di ujung bawah tempat tidur. Tepat pada detik yang sama, kelopak mata suaminya ikut terbuka pelan. Dua pasang mata itu saling bertatapan dalam jarak yang hanya terpisah beberapa sentimeter. Selama beberapa detik keheningan menyelimuti keduanya di udara. Secara refleks, Laura menarik tangannya dan dan mendorong tubuhnya menjauh. Theo pun ikut menarik lengannya mendadak, hampir saja ia terj

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 12: Mengalah

    Mobil hitam itu akhirnya kembali membelah kegelapan malam. Setelah makan malam yang menguras energi, tidak ada satu pun percakapan berarti diantara mereka. Nyonya Ida duduk di kursi belakang dengan raut wajah bahagia. Sementara di kursi depan, Laura dan suaminya berkutat dengan pikirannya masing-masing.Saat kendaraan berhenti di halaman rumah, Nyonya Ida menjadi orang pertama yang turun dengan langkah santai, “Mama capek banget. Mama langsung istirahat ya.”“Kamar bawah udah siap, Ma. Kalau butuh apa-apa panggil aja.” Ucap Theo.“Kalian juga istirahat gih. Mama masuk dulu, ya.”Laura tersenyum hangat, “Selamat istirahat ya, ma.”Wanita paruh baya itu memberi kecupan hangat di pipi Laura, lalu menepuk lengan anak kandungnya sebelum melangkah masuk ke dalam kamar tamu utama yang sudah disiapkan.Begitu pintu kayu kamar tamu tertutup rapat, keheningan kembali melingkupi ruang tengah. Senyum manis di wajah Laura menguap seketika. Wajahnya kembali datar.Ia membalikkan badan, menatap loro

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 11: Tak Disangka

    Pintu kayu jati yang tebal terbuka saat Theo memutar gagangnya. Ruang tengah megah yang biasanya gelap dan sepi itu kini terang karena semua lampu sudah dinyalakan. Belum sempat Laura menyimpan tas kerjanya, sebuah langkah kaki yang terdengar terburu-buru terdengar mendekat dari arah dapur."Akhirnya kalian pulang juga!" Seoranh wanita paruh baya muncul sambil tersenyum lebar. Wanita itu langsung melangkah mendekati Laura dan memeluk menantunya hangat.“Apa kabar, sayang?” Tanya ibunya sambil mengelus lembut punggung Laura, “Semua lancar?”Laura membalas pelukan Nyonya Ida sambil mengangguk pelan, “Baik, Ma. Semua juga lancar.”Ibunya melepas pelukan, menatap menantunya dalam, “Syukur kalau gitu.”“Mama kok ga ngabarin kalau mau datang?” Tanya Theo berusaha menyembunyikan rasa paniknya saat mendaratkan ciuman singkat di pipi sambil memeluk ibunya.Sang ibu membalas dekapan putra tunggalnya, lalu melepaskannya dengan tepukan ringan di dada Theo, “Justru mama sengaja ga ngabarin. Mama m

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 11: Kunjungan

    Pagi itu, matahari bersinar hangat di atas hamparan tanah luas yang dipasangi papan petunjuk besar bertuliskan ‘Lokasi Pembangunan Jalan Tol Lintas Provinsi’. Angin bertiup cukup kencang, mengibarkan bendera sponsor dan spanduk yang terpasang di sepanjang area acara groundbreaking.Di area tenda utama VIP, jajaran direksi Wistara Construction dan pejabat tinggi negara sedang berkumpul. Di sana, Laura bisa melihat ayahnya sedang berbincang hangat dengan Theo dan pejabat lainnya. Theo tertawa ramah ketika sang ayah menepuk pelan bahunya sambil membisikan sesuatu. Laura tersenyum sinis, suaminya memang pandai dalam memainkan peran sebagai menantu idaman."Pagi, Laura.” Sapa Ardi sambil memberikan sebuah botol air mineral, “Kamu kelihatan capek banget. Apa ada yang salah?” “Aku baik-baik aja.” Laura menggeleng pelan, bermaksud menjangkau botol itu. Tapi Ardi refleks menarik kembali tangannya. Pria itu memutar tutup botol sampai terdengar bunyi segel plastik yang terputus, baru kemudian

  • Cinta Yang Tak Dipilih   Bab 10: Luapan Emosi

    Bayangan tentang tindakannya melabrak wanita itu terasa begitu menggiurkan dan aku yakin itu bisa memuaskan ego Laura yang terluka. Rasanya, satu tamparan atau teriakan kemarahan akan sangat ampuh untuk memuaskan hatinya yang hancur. Ia sudah tidak tahan ingin meruntuhkan kedamaian wanita itu di depan umum.Laura sempat mengambil satu langkah maju, tapi ia kembali berhenti ketika tubuhnya mendadak bergetar hebat menahan godaan emosi dalam dirinya.Ia berada dalam dua pilihan, tetap membiarkan emosi menguasai dirinya, atau kembali menelan rasa sakitnya untuk tetap mempertahankan apa yang tersisa dari kehormatan dan reputasinya.“Laura, sumpah deh kamu kenapa sih?” Amel semakin khawatir ketika melihat raut wajah sahabatnya yang memucat, tapi matanya dipenuhi oleh amarah.Amel melirik ke arah dimana pandangan Laura tertuju, “Lau, kamu ngeliat…siapa?”Laura menghentikan gerakan tubuhnya yang hendak berbalik ketika sentuhan tangan Amel menahannya. Napasnya masih memburu. Di dalam kepalanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status