ログインSetelah selesai menonton, mereka bertiga pergi untuk makan di sebuah restoran bernuansa alam, dengan panorama yang asri dan suasana yang cukup sejuk.Mereka duduk di sebuah saung yang menghadap langsung ke danau yang luas. Danau itu terisi dengan berbagai jenis ikan yang berlompatan kesana kemari dengan lincah. Sarah terpesona akan pemandangan di hadapannya.Sesekali Vicky mengajak Sarah mengobrol dan bercanda, namun tentunya dari jarak yang tidak terlalu dekat. Karena Vicky juga sadar bahwa kakaknya selalu mengawasi mereka. Jika dia mendekat hingga kurang dari satu meter, pasti akan ada omelan. Vicky tak mau mencari masalah dengan kakaknya. Dia ingin menikmati pengalaman langka yang menyenangkan ini sebaik-baiknya.Sedangkan Randy masih melanjutkan aksi tutup mulutnya. Dia hanya duduk diam sambil memperhatikan istrinya. Terkadang dia menggertakkan gigi karena geram melihat keakraban mereka berdua.‘Kenapa mereka jadi sedekat ini, sih? Memang apa bagusnya Vicky sampai Sarah mau saja m
Hari Sabtu siang.Sarah baru saja menyelesaikan riasan ringannya dan menyemprotkan setting spray ke wajahnya, ketika Randy masuk ke dalam kamar.Dilihatnya istrinya yang tampak cantik dengan off shoulder linen dress berwarna hijau sage yang manis itu.“Kau mau pergi, Sayang?”“Iya. Aku mau pergi nonton. Apa kau mau ikut denganku?” tanya Sarah dengan tatapan menggoda.“Tidak. Untuk apa aku ikut,” tolaknya cepat. “Bersenang-senang lah dengan teman-temanmu…”“Siapa bilang aku pergi dengan teman-temanku?”Randy mulai kelihatan bingung. “Bukan dengan Susan dan Dimas? Lalu dengan siapa?”“Aku pergi dengan adikmu.”Seketika itu juga ekspresi wajah Randy berubah drastis. Dia pun mengomel, “Astaga! Yang benar saja, Sarah?! Kau mau pergi nonton dengan anak itu? Lalu, apa-apaan dandananmu ini? Haruskah kau berdandan kalau hanya untuk bertemu dengannya? Ganti juga gaunmu. Jangan yang memperlihatkan bahu seperti itu. Sekarang kau percaya sekali padanya, ya?”“Makanya aku mengajakmu kan… Ayolah tem
Randy mengerutkan keningnya karena keheranan. “Vicky? Untuk apa kau bertemu dengannya?”Roman wajahnya tampak tidak senang.Ya, sudah pasti dia tidak senang jika Sarah menemui adik yang dibencinya. Tapi Sarah tidak ingin merahasiakan hal ini. Randy berhak untuk tahu.“Aku meminta sarannya untuk mencoba mengambil hati ibumu.”“Buat apa kau mengambil hati ibuku, Sarah? Kau tidak perlu melakukan itu. Aku sendiri yang akan menangani ibuku.”“Tapi aku juga ingin dia menerimaku, Randy.”“Itu sama sekali tidak perlu! Dia mau menerimamu ataupun tidak, itu bukan masalah, Sarah. Dia tidak bisa mengontrol hidup kita. Kita jalani saja hidup seperti biasa. Aku akan memastikan dia tidak mengganggumu.”“Aku tahu kau pasti akan melakukannya. Tapi… tidak ada salahnya kan kalau aku berusaha untuk bersikap baik padanya?” bujuk Sarah.“Kau tidak mengenal dia, Sarah. Ibuku orang yang sangat dominan dan keras. Aku tidak mau kau nantinya tersakiti jika harus menghadapi dia. Biar aku saja yang urus semua ini
Siang itu ketika Sarah sedang mengerjakan laporannya dengan penuh semangat, sebuah pesan dari Vicky masuk di ponselnya.“Kau ada waktu nanti sore? Mau bertemu sebentar untuk membahas rencana kita?”“Memangnya kau punya rencana apa?” balas Sarah.“Ibuku berulang tahun sebentar lagi. Bagaimana kalau kau memberinya sebuah hadiah? Aku tahu apa yang ibuku sukai.”Sarah berpikir sejenak. Hmm, ide Vicky tidak buruk juga. Setidaknya dia memang harus berusaha melakukan sesuatu untuk mendekati ibu mertuanya itu kan?“Baiklah. Mari bertemu.”***Sewaktu Sarah tiba di cafe tempat pertemuan mereka, Vicky sudah berada di sana. Dia duduk sendirian di kursi dekat jendela, sambil menikmati minumannya.Sarah melangkah mendekat. Dan saat Vicky menyadari ada bayangan seseorang di dekatnya, dia pun mendongakkan kepala.“Hai, Kakak Ipar! Apa kabar?” sapanya riang.“Berhenti memanggilku seperti itu,” komplain Sarah sembari menarik kursi dan duduk.“Kenapa kau tidak suka kupanggil begitu?”“Usiaku kan lebih
Tubuh Randy menegang. Dia hampir-hampir tak bisa mengendalikan kemarahannya lagi. “Dengar Alana, aku tidak tahu apa yang telah ibuku katakan padamu. Tapi yang jelas, aku tidak bisa berada di sini denganmu. Aku sudah menikah.”“Hmm... tapi katanya pernikahan itu akan dibatalkan?”“Ibuku bilang begitu? Itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan membiarkannya melakukan itu.”“Tapi Randy, apa kau tidak mau mencoba mempertimbangkan dulu mengenai keuntungan yang bisa kita dapatkan jika kita menjalankan ini sesuai dengan...”“Tidak mau,” potong Randy.Alana tetap berusaha menjelaskan, “Ibumu berjanji akan menyerahkan grup perusahaannya padamu. Lalu, ditambah dengan perusahaan ayahku, kita bisa…”“Kubilang aku tidak mau, Alana. Aku tidak butuh semua itu.”Alana menatapnya tak percaya. “Kau yakin? Kau rela jika tidak mendapatkan apapun dari ibumu?”“Kenapa aku harus mengharapkan itu? Biar saja ibuku lakukan apapun yang dia inginkan dengan perusahaannya.”“Baiklah. Mungkin kau memang tidak membutuh
Suara kicauan riang burung yang bersahut-sahutan membangunkan Sarah dari tidurnya. Saat membuka mata, dia melihat cahaya lembut matahari yang merambat lurus, masuk melalui sela-sela tirai jendela. Cahaya yang tampak indah dan menghangatkan jiwa.“Hm, sudah pagi. Tidurku nyenyak sekali,” gumamnya pelan.Sarah bergerak perlahan untuk duduk di atas tempat tidurnya yang empuk dan nyaman itu. Kemudian dia menoleh dan memandang suaminya yang masih terlelap.Sarah memutuskan untuk tidak terburu-buru bangun dan keluar ruangan. Dia ingin menikmati momen hangat dan damai ini untuk sementara waktu.Dia mengulurkan tangan kanannya, lalu perlahan membelai rambut suaminya itu. Tak habis-habisnya dia mensyukuri kenyataan bahwa dia memiliki suami yang mengagumkan ini. Walau terkadang ada masalah-masalah yang harus mereka hadapi, tetapi hingga kini mereka masih bisa bertahan bersama-sama. Sarah sangat bahagia.Beberapa menit kemudian, Sarah bergerak semakin mendekat, mencondongkan tubuh, lalu mengecup







