LOGINSekembalinya ke Indonesia, Sarah mencari tempat kos yang murah namun cukup bersih. Sesuai dengan niat awalnya, dia sama sekali tidak menghubungi keluarganya. Dia tak mau jika tiba-tiba Ibunya memaksanya lagi untuk melanjutkan rencana pernikahan itu.
Di kamarnya yang sempit, Sarah sedang mengetik di laptop yang dipinjamkan Randy, ketika ponselnya berdering. Ternyata Randy yang menelepon.
“Ya, Randy. Ada apa?” jawab Sarah.
“Tidak ada apa-apa. Hanya ingin menanyakan kabarmu hari ini.” Suara di ujung sana terdengar manis.
Sarah tersenyum dan tanpa sadar mulai memilin sejumput rambut panjangnya. “Kabarku baik. Bagaimana denganmu?”
“Aku juga baik. Seperti biasa cukup sibuk.”
“Kau masih di kantor?”
“Iya, tapi akan segera pulang. Oh ya, apa kau sudah mengirim email ke temanku?”
“Aku sedang menyiapkannya. Akan segera kukirim.”
“Bagus. Aku akan infokan padanya.”
“Kau sudah makan malam?” tanya Sarah.
“Tentu saja. Sayang sekali kita tak bisa makan malam bersama,” keluh Randy.
Sarah tersenyum kecil. “Tak apa-apa. Bisa lain kali. Masih banyak waktu.”
Mereka mengobrol ringan selama berjam-jam kemudian. Inilah rutinitas mereka yang baru. Bertelepon tanpa mengenal waktu. Sarah menikmati saat-saat ini. Dia belum pernah punya pacar sebelumnya. Jadi baru sekarang dia mengetahui… ternyata pacaran menyenangkan juga. Ada perasaan bahagia dan excited setiap kali melihat nama Randy muncul di ponselnya.
***
Dengan mengenakan pakaian formal terbaiknya, Sarah datang ke showroom mobil tempat teman Randy bekerja. Bangunan itu tampak besar, dengan hampir seluruh bagian dindingnya terbuat dari kaca. Seorang satpam menyambutnya ketika dia datang.
“Silakan masuk, Bu,” sapa satpam tersebut dengan sopan.
“Ah, saya ingin bertemu dengan Pak Julio.”
“Baik. Mari saya antar ke dalam.”
Sarah mengikutinya masuk ke gedung tersebut. Bagian dalam gedung sangat luas, dengan langit-langit yang tinggi. Interiornya modern didominasi dengan warna-warna earth tone. Ada sekitar sepuluh jenis mobil berbeda yang terpajang disana, dengan jarak antar mobil sekitar tiga meter. Di bagian lebih dalam, terdapat meja panjang tempat lima orang staff pemasaran duduk. Dua dari mereka sedang melayani customer di hadapannya masing-masing.
Bangunan tersebut terdiri dari dua lantai. Sarah dipandu ke lantai dua, lalu masuk ke sebuah ruang meeting. Dia pun menunggu dengan tenang disana.
Tak lama waktu berselang, seorang pria berpakaian jas lengkap masuk ke ruangan. Dia tampak berwibawa.
“Selamat siang, Sarah. Saya Julio,” ucap pria itu seraya mengulurkan tangan kanan.
Sarah berdiri dengan cepat dan menyambut uluran tangannya. “Selamat siang, Pak Julio. Saya Sarah.”
Julio mengangguk dan mempersilakannya duduk kembali.
Pria itu mulai membuka dokumen yang dibawanya. “Baiklah, Sarah. Disini tertulis kamu baru lulus kuliah beberapa bulan yang lalu?”
“Ya betul, Pak.”
“Nilai-nilaimu cukup bagus. Terutama di ilmu keuangan.” Julio mengangguk-angguk. “Ini sesuai dengan pekerjaan yang kamu lamar.”
“Terima kasih, Pak.”
“Lalu, apa harapanmu dengan melamar ke kantor ini?”
“Saya ingin memulai karir saya agar bisa hidup mandiri, Pak.”
“Oke. Apa kamu tidak keberatan dengan pekerjaan lembur?”
“Sama sekali tidak, Pak. Saya siap lembur jika dibutuhkan.”
“Baiklah,” ucap Julio akhirnya. “Cukup itu saja. Tidak banyak yang perlu saya tanyakan, karena kamu direkomendasikan oleh Randy. Saya selalu mempercayai penilaiannya.”
‘Wah ternyata mereka sedekat itu,’ batin Sarah.
“Kamu akan bergabung dengan tim keuangan. Kapan bisa mulai bekerja?” lanjut Julio tanpa basa basi.
“Sesegera mungkin, Pak,” jawab Sarah bersemangat. Benarkah begini saja? Dia langsung diterima?
“Oke. Mulailah di hari Senin depan.” Julio tersenyum ramah.
“Baik, Pak, terima kasih banyak!” Sarah tak bisa menutupi kebahagiaannya. Dia akan menghasilkan uang sendiri! Dia tidak perlu bergantung lagi pada orangtuanya.
“Ya, sama-sama. Hmm, lalu Sarah…” Pria itu tampak ragu sesaat sebelum melanjutkan.
“Iya, Pak?”
“Hanya penasaran… apa hubunganmu dengan Randy?”
Sarah melongo. Tak siap karena tiba-tiba mendapatkan pertanyaan personal seperti itu. “Emm.. itu…”
Melihat wanita itu tampak bingung, Julio pun akhirnya berkata, “Tidak apa-apa kalau kau tidak mau menjawab.”
“Te-teman!” jawab Sarah akhirnya. “Kami berteman cukup dekat.”
Julio mengangkat alisnya. ‘Teman katanya? Jika mereka berteman dekat, mengapa aku tidak tahu? Padahal sejak kecil aku sudah mengenal semua orang di sekitar Randy. Ini mencurigakan.’
“Baiklah, Sarah. Terima kasih sudah datang hari ini. Jangan pikirkan tentang pertanyaan barusan.” Julio bangkit berdiri dan tersenyum.
“Baik, Pak. Saya yang berterima kasih, Pak!”
Sarah pun pulang dengan perasaan bahagia. Dia merasa jalan yang baik telah terbuka untuknya. Pertama-tama dia memiliki pacar. Lalu sekarang dia memiliki pekerjaan. Ah, sungguh menyenangkan! Sepertinya ke depannya hanya akan ada hari-hari yang baik untuknya.
***
Julio segera menelepon Randy setelah Sarah pulang.
“Aku sudah menerimanya,” lapor Julio pada sahabat sekaligus bosnya itu.
“Bagus. Kau tidak bilang aku pemiliknya kan?”
“Tentu saja tidak! Kau sudah mengancamku berapa kali?!”
Randy tertawa. “Mengancam apanya?”
“Kau mengancam akan memotong gajiku kalau aku membocorkannya. Lupa?”
“Hei… Aku hanya bercanda. Jangan sensitif begitu.”
“Tidak terdengar seperti candaan untukku.”
Suara tawa Randy terdengar lagi.
“Sepertinya kau senang sekali ya?” sahut Julio. “Sudah menyusahkan aku… Menyuruhku menyiapkan sebuah posisi yang sebenarnya tidak ada...”
“Itu kan tidak sulit. Menambah satu orang saja apa masalahnya? Justru bagus untuk tim kan? Beban pekerjaan bisa sedikit berkurang dengan adanya tambahan orang.”
“Ya, ya… sesukamulah. Lalu, sebenarnya dia siapa? Apa hubunganmu dengannya?”
“Kau tidak perlu ikut campur. Itu urusan pribadiku.”
“Ikut campur apanya? Aku hanya bertanya,” sahut Julio kesal.
“Yang penting, perlakukan dia dengan baik. Awas saja kalau aku dengar cerita buruk tentangmu dari dia.”
“Nah, itu dia… Sebuah ancaman lagi! Aku tersinggung lho. Selama ini aku selalu menjadi pendukung setiamu. Apa kau tidak merasa bersalah memperlakukan aku seperti itu?”
“Jangan manja. Sudah kuberi gaji besar agar kau bisa hidup nyaman, seharusnya kau bersyukur.”
“Astaga, sombong sekali bajingan satu ini.”
“Aku bosmu, bajingan.”
“Ah... maaf Pak Bos, untuk sesaat aku lupa.”
Pembicaraan mereka diakhiri dengan tawa. Randy dan Julio sudah bersahabat sejak mereka kecil. Mereka merupakan teman sekolah sejak SD hingga SMA. Saat kuliah mereka sempat terpisah karena Randy pergi kuliah ke luar negeri, namun persahabatan mereka tetap terjalin. Setelah lulus kuliah, Julio pun mengikuti Randy bekerja di perusahaan milik Regina. Dan ketika pada akhirnya Randy membuka usahanya sendiri, sudah tentu Julio pindah kerja dan mendukung sahabatnya itu.
Bahkan Randy tak bisa sedekat ini dengan Vicky, adiknya sendiri. Terlalu banyak perbedaan antara Randy dan Vicky. Dan mungkin juga fakta bahwa Vicky merupakan anak Regina dengan pria selingkuhannya lah yang membuat Randy menjaga jarak.
Vicky melangkahkan kaki masuk ke dalam ruang kerja kakaknya dengan ekspresi murung.Wajahnya tampak pucat dan lesu. Pikirannya kacau. Dia juga mengalami insomnia semalam, hingga bayangan lingkaran hitam samar muncul di sekeliling matanya.Randy yang melihatnya pun langsung menyadari bahwa ada sesuatu yang tak beres.“Duduklah,” kata Randy dengan tenang ketika Vicky sudah berada di dekat mejanya. “Kau mau minum?”“Tidak, tidak,” tolaknya cepat seraya menarik kursi di hadapan kakaknya dan duduk. “Aku hanya ingin bicara.”“Oke,” ucap Randy sambil menautkan jari jemarinya di atas meja. “Ada masalah apa?”Vicky menarik napas panjang dan memberi jeda selama beberapa detik sebelum berkata, “Kau pasti sudah tahu kan, Kak?”“Tentang apa?” tanya Randy waspada.“Tentang ayahku,” jawabnya dengan suara tercekat. Dia merasa seolah tenggorokannya tersumbat. Dia berusaha menahan emosinya sebisa mungkin, agar dapat berbicara dengan kepala dingin.Barulah Randy memahami apa yang sedang dialami adiknya
Tentu saja emosi Sarah meledak saat menghadapi ibunya. Apalagi Miranda tetap bersikeras bahwa dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.“Memang apa salahnya? Suamimu sendiri rela memberikan semua barang itu. Ibu tidak pernah memaksanya!” protes Miranda kesal.“Ya walaupun begitu, tahu diri sedikit lah, Bu. Jangan memanfaatkannya seperti ini. Aku tidak suka Ibu melakukannya. Aku kan sudah pernah memperingatkan Ibu!” sahut Sarah.“Kau jadi sombong sekali ya, Sarah?! Kau bilang Ibu tidak tahu diri hanya karena Ibu menerima beberapa benda itu?!” Mata Miranda memerah dan dia menatap Sarah dengan murka. “Sekarang kau bisa hidup bersenang-senang bergelimang harta… Kau bisa tinggal di rumah yang bagus… Suamimu membelikanmu mobil, dan mungkin juga barang apa pun yang kau inginkan… Tapi kau bahkan tidak rela jika Ibu mendapatkan sebagian kecil dari itu?! Kau ingin menikmati semuanya seorang diri? Egois sekali! Apa kau tidak pernah memikirkan seberapa besar pengorbanan Ibu untukmu selama ini? M
Satu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan
Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di
Ronde ketiga dimulai.Tim mereka beranjak maju perlahan sambil menembak secara teratur, hanya untuk menahan dan menghalangi pergerakan lawan. Tidak ada yang berlari cepat ke arah bendera seperti yang Mario lakukan di dua babak awal.Satu orang dari tim lawan telah berlari maju terlebih dahulu. Dan mereka mengira bahwa di babak ini mereka lebih unggul. Well, terlalu cepat untuk menyimpulkan.Karena sesungguhnya, Randy juga telah merangkak maju di tanah di sisi terluar arena, tanpa ada lawan yang menyadarinya. Dia bergerak cepat hingga ke bagian tengah arena. Setelah dia berada cukup dekat, barulah kemudian dia bangkit berdiri dan serta merta berlari menghampiri bendera.Begitu melihat Randy yang sedang berlari, hampir seluruh anggota tim melaju dan melepaskan tembakan dengan brutal, mengakibatkan pelari lawan harus menunduk bersembunyi dan tidak bisa bergerak sama sekali.Demikianlah mereka berhasil merebut bendera terakhir, dan memenangkan pertandingan itu.Susan melompat bahagia dan
Siang itu mereka semua berkumpul di sebuah lokasi untuk kegiatan team building. Ternyata aktivitas yang telah disiapkan oleh panitia ialah paint ball.Sarah sedikit terkejut saat mendengar tentang gambaran kegiatan yang akan mereka lakukan itu.First of all, tentu saja, karena dia tidak memiliki pengalaman sama sekali. Dia bahkan tidak pernah bermain game menembak, atau game apa pun. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menembak lawan tepat sasaran? Sepertinya itu merupakan hal yang mustahil.Lalu yang kedua, dia yakin dia pasti akan merasa ketakutan ketika harus berhadapan face to face dengan lawan yang memegang senjata semacam itu. Jangankan menembak dengan tepat... jika dia mampu mengalahkan ketakutannya sendiri dan menarik pelatuk saja itu sudah sangat bagus.Sedikit khawatir, dia berujar pelan pada Susan. “Sepertinya aku akan jadi pemain yang paling payah,” ucapnya jujur.Susan pun tertawa. “Sama saja denganku. Aku jug
Bagaimana cara Regina mengendalikan putra keduanya?Pertama-tama, Vicky bergantung penuh secara finansial pada Ibunya. Ini merupakan hal yang paling krusial. Dia sudah terbiasa hidup mewah sejak kecil. Segala kebutuhannya bisa dengan mudah dia dapatkan karena Regina rutin mengirimkan dana bulanan,
Sepulang dari perjalanan bisnisnya di Korea, Randy mampir sebentar ke rumah Regina. Dia ingin segera menyerahkan hasil laporannya, agar dia segera terbebas dari tugas kali ini dan dapat menghabiskan waktu dengan istrinya tanpa gangguan.Ketika melangkahkan kaki di rumah besar itu, suasana hatinya se
Di malam hari, ketika mereka bertiga sedang menonton film bersama di salah satu cabin, ada panggilan telepon masuk dari Randy. Sarah segera keluar ke teras untuk berbicara dengan suaminya itu.“Hai Sayang, bagaimana kabarmu?” tanya Randy.“Aku baik. Bagaimana denganmu?” balas Sarah.“Aku juga baik.
Sewaktu membantu Randy bersiap-siap untuk berangkat ke airport, Sarah sudah mulai merasa kesepian. Padahal suaminya itu masih berada di sampingnya.Dia sudah membayangkan bahwa selama lima hari ke depan, dia akan sepenuhnya berada sendirian di rumah. Kondisinya berbeda dengan beberapa waktu lalu ket







