LOGINSatu minggu kemudian.Sarah datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Beberapa hari yang lalu Steven menelepon, menanyakan kabarnya, lalu berkata bahwa mereka sudah lama tak bertemu. Sarah menangkap nada kerinduan di dalam suaranya. Maka dia pun memutuskan untuk segera mengunjungi ayahnya.Memang sudah cukup lama sejak terakhir kali mereka bertemu. Sesungguhnya Sarah juga merasa sedikit bersalah karena tidak berinisiatif untuk datang lebih awal. Kenapa dia harus menunggu hingga Ayah menghubunginya? Dia terlalu terfokus dengan rutinitas sehari-hari, sampai melupakan bahwa ada seseorang yang menunggunya untuk memberi kabar.Dia pun berniat dalam hati... ke depannya, dia akan bersikap lebih proaktif terhadap orang tuanya.Steven yang membukakan pintu, serta merta memeluk erat putri kesayangannya itu. “Akhirnya kau datang juga, Sarah.”“Hai, Ayah! Maaf ya, aku baru datang sekarang.”“Tidak apa-apa. Ayo, masuklah,” ucap Steven. “Kau datang sendirian?”“Iya. Randy sedang ada urusan pekerjaan
Sarah terbangun di kamar yang beratap kayu dan jerami, dengan tirai putih bersih yang bergoyang pelan karena tertiup angin sepoi-sepoi.Sejenak dia sempat linglung dan berpikir, ‘Aku di mana?’Dia bergerak untuk duduk, mengusap matanya beberapa kali agar dapat melihat dengan lebih jelas. Dia memandang ke sekitarnya dan melihat berbagai ukiran estetik, pintu gebyok bergambar wayang dengan warna coklat keemasan, serta dekorasi payung khas Bali yang berada di salah satu sudut ruangan.‘Ah, iya! Aku sedang berada di villa di Bali,’ pikirnya. ‘Lalu di mana suamiku?’Ruangan itu tampak kosong. Dia hanya seorang diri di sana.Sambil bergerak perlahan, Sarah turun dari tempat tidur dan berjalan mendekat ke jendela yang sedikit terbuka. Dia mendorong daun jendela itu agar dapat melihat pemandangan yang lebih luas. Dalam sekejap udara segar dan aroma harum pepohonan menembus masuk ke dalam kamar. Sangat menenangkan dan terasa nyaman.Awalnya pandangan Sarah tertuju ke taman asri yang berada di
Ronde ketiga dimulai.Tim mereka beranjak maju perlahan sambil menembak secara teratur, hanya untuk menahan dan menghalangi pergerakan lawan. Tidak ada yang berlari cepat ke arah bendera seperti yang Mario lakukan di dua babak awal.Satu orang dari tim lawan telah berlari maju terlebih dahulu. Dan mereka mengira bahwa di babak ini mereka lebih unggul. Well, terlalu cepat untuk menyimpulkan.Karena sesungguhnya, Randy juga telah merangkak maju di tanah di sisi terluar arena, tanpa ada lawan yang menyadarinya. Dia bergerak cepat hingga ke bagian tengah arena. Setelah dia berada cukup dekat, barulah kemudian dia bangkit berdiri dan serta merta berlari menghampiri bendera.Begitu melihat Randy yang sedang berlari, hampir seluruh anggota tim melaju dan melepaskan tembakan dengan brutal, mengakibatkan pelari lawan harus menunduk bersembunyi dan tidak bisa bergerak sama sekali.Demikianlah mereka berhasil merebut bendera terakhir, dan memenangkan pertandingan itu.Susan melompat bahagia dan
Siang itu mereka semua berkumpul di sebuah lokasi untuk kegiatan team building. Ternyata aktivitas yang telah disiapkan oleh panitia ialah paint ball.Sarah sedikit terkejut saat mendengar tentang gambaran kegiatan yang akan mereka lakukan itu.First of all, tentu saja, karena dia tidak memiliki pengalaman sama sekali. Dia bahkan tidak pernah bermain game menembak, atau game apa pun. Jadi bagaimana mungkin dia bisa menembak lawan tepat sasaran? Sepertinya itu merupakan hal yang mustahil.Lalu yang kedua, dia yakin dia pasti akan merasa ketakutan ketika harus berhadapan face to face dengan lawan yang memegang senjata semacam itu. Jangankan menembak dengan tepat... jika dia mampu mengalahkan ketakutannya sendiri dan menarik pelatuk saja itu sudah sangat bagus.Sedikit khawatir, dia berujar pelan pada Susan. “Sepertinya aku akan jadi pemain yang paling payah,” ucapnya jujur.Susan pun tertawa. “Sama saja denganku. Aku jug
Hari keberangkatan ke Bali pun tiba. Mereka semua telah berkumpul di airport dan menunggu boarding time di gate yang ditentukan.“Sarah!!”Susan melambaikan kedua tangan dengan semangat, bergegas mendekati sahabatnya yang sedang duduk di salah satu kursi.Sarah tersenyum lebar. “Hai, Susan. Hari ini kau kelihatan manis sekali.”Susan mengenakan white dress simpel sepanjang lutut, yang dipadukan dengan cardigan berwarna pastel.“Kau juga manis dan cantik,” balas Susan riang. “Kau dapat seat nomor berapa, Sarah? Apa kita duduk berdekatan nanti?”
Sepulangnya mereka dari acara makan siang bersama Regina, Sarah lebih banyak berdiam diri. Di perjalanan pulang, Randy sama sekali tidak mengusik istrinya itu. Dia ingin memberikan waktu bagi Sarah untuk menenangkan pikirannya. Mereka berdua berkendara dalam diam. Begitu pun beberapa jam kemudian di rumah. Sarah masih tidak banyak bicara. Dia hanya sibuk dengan ponselnya dan juga buku jurnal hariannya. Menjelang sore hari barulah Randy mendekatinya dan memulai pembicaraan. “Apa kau baik-baik saja, Sayang?” “Iya,” jawab Sarah sambil tersenyum menatap suaminya. Namun Randy dapat merasakan bahwa itu adalah sebuah senyuman yang dipaksakan. Senyum yang diberikan istrinya untuk sekadar menenangkannya. “Kau tidak perlu memendamnya sendirian, Sayang. Kalau memang merasa kesal, katakan saja,” ucap Randy lagi. “Aku sendiri juga kesal mendengar perkataan Ibu tadi siang. Seharusnya Ibu tidak ikut campur urusan kita berdua.” Ucapan Randy membuat Sarah berpikir dari sudut pandang yan
Sarah sedang mematut dirinya di depan cermin ketika Randy masuk ke kamar dan melihatnya. Wanita itu mengenakan dress ringan sederhana berwarna biru muda sepanjang lutut. Rambutnya di-blow dengan rapi dan diberinya jepit mutiara kecil di sisi kiri. Wajahnya menggunakan make up tipis yang membuatnya t
Sarah sedang serius membuat laporan bulanan, ketika sebuah tangan cantik yang mengenakan gelang emas bermotif bunga lili muncul di mejanya, menyodorkan segelas es kopi. Tanpa perlu mengangkat kepala, Sarah sudah tahu pasti siapa pemilik tangan tersebut.“Terima kasih, Susan,” ucap Sarah.“Kamu seri
Miranda mengamuk ketika mengetahui fakta bahwa Sarah sudah menikah.Beberapa minggu setelah pernikahan mereka, Sarah dan Randy memutuskan untuk menemui Miranda. Karena sekarang situasinya sudah berubah, Sarah tak ingin melarikan diri lagi.Kini statusnya sudah menjadi istri orang, maka tidak mungki
Mereka menikah dengan proses yang sangat sederhana. Tanpa pesta. Tanpa gaun pengantin yang merepotkan. Tanpa tamu undangan. Dan bahkan tanpa kehadiran orangtua mereka.Bagi mereka berdua, yang terpenting adalah menikah secara sah dan mengurus surat nikah resmi. Yang terpenting adalah kehidupan merek







