Share

139. Rencana Jahat

Author: MyMelody
last update publish date: 2024-11-26 14:23:29

Natalia tersenyum sinis, diraihnya ponsel kesayangannya dan menghubungi seseorang. Tak lama kemudian terdengar suara kasar seorang pria dari ujung telepon.

‘Segera cari wanita yang bernama Grace Anjelita, hidup atau mati.’

‘Grace Anjelita? Hmm, baik, Nyonya! Serahkan tugas ini pada saya. Tapi apa yang harus saya lakukan saat saya dan para tim berhasil menemukan wanita itu?”

‘Gampang! Buat dia menderita sampai jejaknya hilang tanpa bekas dari muka bumi ini.’

Pria itu tertawa panjang dengan suara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (14)
goodnovel comment avatar
Viva Oke
haduh Natali kamu GK sadar rencana jahatmu itu yg akan bikin Gabriel makin menjauh . apalagi sampai anak dalam kandungan Grace yg diharapkan keluarga Gabriel kenapa"
goodnovel comment avatar
Iin Krnwti
aduh Natalia bener bener jahat yaa
goodnovel comment avatar
Lola Mareza Lakoca
ternyata ada jiwa mafia juga y si natalia itu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   189. Pijat dulu

    "Kamu ... serius, Gabriel?" bisik Natalia. Suaranya bergetar antara kebahagiaan yang meluap dan rasa curiga yang mendalam. "Kamu benar-benar meninggalkannya? Bukan cuma akal-akalanmu untuk menyembunyikannya hubunganmu dengannya?" "Aku tidak punya alasan untuk berbohong padamu, Natalia," balas Gabriel tajam, tatapannya tertuju langsung ke mata Natalia."Apa alasannya?" "Natalia, wanita itu hanyalah rahim sewaan. Aku tidak ingin berurusan lagi dengannya. Aku ingin fokus pada rumah tangga kita dan menyembuhkan semua kekacauan ini. Jadi, jangan pernah sebut namanya lagi di rumah ini." Gabriel menegakkan tubuhnya, menunduk menatap Natalia dari ketinggian postur tubuhnya. "Lalu kenapa kamu pulang dengan tangan terluka? Kamu berkelahi sama siapa?” cecar Natalia. “Aku jatuh dan terkena ujung meja yang tajam karena ngantuk setelah lembur semalam.” ‘Bohong!’ Hampir saja kata-kata itu melompat dari bibir Natalia. Untunglah dia mengatup mulutnya rapat-rapat. Kalau tidak, Gabriel past

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   187. Kemenangan

    Melihat Grace yang sudah terlelap akibat pengaruh obat penenang, Gabriel perlahan melepaskan genggaman tangannya dari jemari wanita cantik itu. Gabriel menatap wajah Grace yang lembut, sungguh hatinya meleleh hanya dengan melihatnya tertidur pulas seperti itu.Ia bangkit dari tepi tempat tidur, melangkah pelan menembus temaram kamar menuju jendela kayu yang telah terpaku rapat dari luar. Gabriel menarik napas dalam-dalam. Balutan perban di lengan kirinya mengencang, meletupkan rasa nyeri menusuk dari luka jahitan yang tadi sempat dijahit Dokter Frans setelah kondisi Grace mulai membaik.Baginya, rasa sakit di fisiknya sama sekali tak sebanding dengan emosi yang menggemuruh di dalam dadanya. Dari balik celah gorden, ditatapnya pekatnya malam. Rahangnya mengeras kaku, menahan amarah yang siap meledak. Di saat yang sama, sebuah keputusan pahit berputar tanpa arah di benaknya.Peringatan Dokter Frans semalam terus bergema bagaikan dentang lonceng kematian saat dia berbicara pribadi dengan

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   187. Lebih dari Apapun

    Suara doppler yang memantulkan detak jantung bayi kembar kami perlahan-lahan mulai melambat dari frekuensi kencang yang menakutkan, berubah menjadi irama yang lebih stabil.Cairan obat penenang dan penghenti kontraksi yang dialirkan perawat melalui jarum infus di punggung tanganku mengalir pelan dan dingin ke dalam pembuluh darah. Nyeri hebat yang tadinya meremas rahimku bagai dicengkeram sesuatu yang menyakitkan perlahan-lahan menumpul. Rasa mules itu meluruh, berganti dengan rasa pegal yang berat dan gelombang kantuk luar biasa yang melumpuhkan seluruh otot tubuhku."Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuhmu lagi, Grace," bisik Gabriel. Tangannya yang bebas membelai lembut rambutku yang lepek oleh keringat dingin, mengusapnya berkali-kali dengan kehangatan yang berusaha meredam badai di dalam dadaku. "Percayalah padaku. Cobalah untuk tidur dan beristirahat. Jangan pikirkan apa pun lagi. Ada aku di sini."Di bawah pengaruh obat penenang yang mulai menguasai kesadaranku, ketakuta

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   186. Teror yang Mulai Berjalan

    Natalia berdiri di ruang tamu. Rumah mewah itu tampak sepi dan sunyi, hanya diterangi lampu temaram di sudut ruangan. Tampaknya para asisten rumah tangganya sudah berada di alam mimpi.Dibukanya lagi pesan yang sudah terkirim ke nomor Grace. Walaupun belum pernah hamil, Natalia tahu betul bagaimana kondisi psikologis wanita berbadan dua. Satu saja benih ketakutan yang ditanam di saat yang tepat akan berkembang menjadi kepanikan hebat.Ketakutan itu akan berubah menjadi paranoia, memicu stres berat, meningkatkan tekanan darah, dan pada akhirnya ... rahim Grace melemah dan tidak akan sanggup menahan beban guncangan emosional tersebut."Kamu ingin menjadi pahlawan untuknya malam ini, Gabriel?" bisik Natalia lirih pada bayangan suaminya di dalam benaknya. "Lakukanlah. Peluk dia sesuka hatimu malam ini. Tapi kamu tidak akan bisa berada di sampingnya setiap jam, setiap menit, dan setiap detik.".Natalia melangkah melintasi aula utama yang megah. Tanpa kehadiran Gabriel, rumah ini terasa beg

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   185. Sandiwara yang Sempurna

    "Hmm, pesan itu akan menjadi teror tak kasat mata," bisik Natalia dingin. Setiap kali Grace melihat ponselnya, atau ada suara asing di luar jendela, Grace akan teringat pada ancaman itu sampai stres tinggi mengguncang kesehatannya dan memicu kontraksi fatal.'Aku akan lihat sampai seberapa kuat dia bertahan terhadap teror yang aku siapkan.'Natalia duduk beberapa saat sebelum akhirnya mengambil keputusan lain. Untuk memastikan Gabriel tidak mencurigainya sama sekali, Natalia menyimpan ponsel sekali pakai itu ke tempat paling dalam di tas kecilnya, lalu membuka ponsel pribadinya. Ia mendial nomor Gabriel.Sambil menunggu sambungan diangkat, Natalia mengubah raut wajah dan nada suaranya secara drastis, dari sosok wanita berdarah dingin menjadi seorang istri manis, manja, dan sama sekali tidak tahu apa-apa.Nada dering ketiga baru disambungkan."Halo, Natalia?" suara Gabriel terdengar di seberang sana. Suaranya serak, terengah-engah, dan ada jeda kecanggungan yang sangat jelas."Sayang .

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   184. Teror

    "S-suami? Maksud kamu?""Nyonya pernah bilang sama aku kalau dia single, bukan?"Pertanyaan itu meluncur dingin, memutus seluruh rentetan amarah Natalia seketika. Ruangan privat itu mendadak hening mencengkeram, hanya menyisakan deru napas Natalia yang tertahan di tenggorokan."Siapa yang bersama dia saat itu?" tanya Natalia gugup."Aku tak tahu, tapi dia memanggil pria itu dengan nama 'Gabriel.'"Mata Natalia melebar sempurna. Bibirnya yang beroleskan lipstik merah menyala sedikit terbuka, tapi tidak ada satu kata pun yang sanggup keluar dari mulutnya.Rasa tidak percaya, kecemburuan yang membakar, dan kenyataan pahit bahwa suaminya, Gabriel, ternyata menginap dan masih terus memberikan nafkan batin pada wanita sewaan itu, menghantam batin Natalia jauh lebih menyakitkan daripada kegagalan rencana pembunuhan itu sendiri."Gabriel ... ada di sana?" gumam Natalia pelan, hampir seperti bisikan tak percaya. Wajahnya yang tegar mendadak runtuh, menyisakan kekosongan yang memyedihkan di bal

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   158. Gabriel di Sini

    Suara langkah kaki berderap menggema di lorong sempit itu. Denting logam beradu, disusul instruksi tegas yang dilontarkan dengan nada terburu-buru."Kita harus menemukan posisi Grace sebelum terlambat."Suara Gabriel bergetar menahan emosi yang bergejolak dalam dada. Kesabarannya sudah menipis."He

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   157. Hormon yang Meresahkan

    Aku menahan napas saat layar yang tadinya terkunci, kini terbuka. Dengan tergesa-gesa aku mengetik nomor ponsel Gabriel dan menunggu agar pria itu segera menjawab panggilanku.“Please, angkat panggilanku, Gabriel,” ucapku penuh harap sambil menggigit bibir bawahku dengan kuat. Namun, sampai nada sa

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   156. Melawan

    Klik, terdengar bunyi kunci diputar dengan pelan dari arah pintu. Aku berdiri tegang dan menunggu dengan waspada, siapa pun yang masuk lewat pintu tersebut.'Apa yang harus aku lakukan?' pikirku panik. Mataku dengan cepat menjelajahi ruangan yang cukup luas itu, lalu pandanganku tertumpu pada sebua

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   155. Pin

    Gabriel berdiri dengan tidak sabar di dalam kantor bagian IT rumah sakit. Saking groginya, kakinya menghentak-hentak lantai dengan gelisah."Bisa dipercepat videonya, Pak? Kalau bisa, ikuti timeline saat aku meninggalkan Grace di mobil.""Sebentar ya, Pak Gabriel. Saya harus meng-unduh dulu file-fi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status