Share

32. Khilaf

Penulis: MyMelody
last update Tanggal publikasi: 2024-08-11 23:58:34

“Terima kasih sudah berinisiatif mengadakan acara ini,” bisik Natalia sambil menyesap minuman di dalam gelas di depannya.

“You’re welcome. Melihatmu bahagia seperti ini, merupakan kehormatan bagiku.”

Bara yang duduk di depan Natalia sambil menikmati kecantikan wanita itu. Suasana bar itu sudah mulai sepi karena teman-teman sekerja mereka sudah pulang duluan. Kini hanya tinggal Bara dan Natalia yang masih bertahan dan minum-minum.

Natalia yang sudah dalam pengaruh minuman yang telah dikonsumsin
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (33)
goodnovel comment avatar
Milda Yanti
Kamu yg meluk2 bara jeh Nathalie , dasar kamunya yg mancing2
goodnovel comment avatar
Jihan Khanaya
salut juga sih sama Natalia yang gk tergoda meskipun dalam keadaan mabuk tapi Natalia masih waras. walaupun kerjaan nya paling penting tapi Natalia nya gk pernah sedikit pun mau selingkuh
goodnovel comment avatar
Kaizan Ragiel Trate
hampir saja Natalia...dan bara melakukan nya...mlh g jadi...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   166. Partner Baru

    Setelah menerima pesan singkat dari Gabriel yang terbaca di layar gawai beberapa jam lalu, Natalia hanya bisa mengunci kembali ponselnya dengan gerakan berdarah dingin. Sebuah senyum sinis tersungging di sudut bibirnya—pahit dan penuh ketidakpercayaan."Mencintaiku, katanya?" gumam Natalia lirih pada dinding ruangan yang bisu.Ia mendengus pelan, menatap lurus pada pantulan dirinya di jendela kaca besar. Jika kata 'cinta' itu memang memiliki bobot yang nyata, seharusnya Gabriel mengucapkannya langsung di hadapannya, menatap sepasang matanya yang lelah, bukan menyembunyikannya di balik untaian karakter digital setelah malam yang hancur. Bagi Natalia, pesan itu tak lebih dari sekadar penawar rasa bersalah yang murahan."Aku dan Gabriel perlu menjaga jarak beberapa hari ini. Semoga dengan cara ini, aku dan dia kembali dekat seperti semula."Natalia mengusap wajahnya pelan. Harapan kecil muncul di hatinya. Dia ingin Gabriel sadar bahwa kepergiannya sesaat, akan menyadarkan Gabriel arti ke

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   165. Harum

    Erangan yang lolos dari belah bibirku seolah menjadi bahan bakar baru bagi Gabriel. Sentuhan lembut yang semula penuh kehati-hatian kini berubah menjadi sebuah tuntutan yang mendamba. Pria itu menangkup wajahku dengan kedua tangannya, ibu jarinya mengusap bibir bawahku yang basah sebelum akhirnya dia menunduk dan menyatukan bibir kami dalam sebuah ciuman yang dalam dan memabukkan."Kamu selalu seharum ini, Grace," bisik Gabriel di sela-sela pagutan kami, suaranya terdengar begitu serak dan sarat akan gairah. "Aroma tubuhmu selalu berhasil membuatku kehilangan arah."Aku tidak mampu membalas dengan kata-kata yang runtun. Tanganku bergerak naik, menyusup ke dalam rambut tebalnya, mencengkeramnya erat seiring dengan ciumannya yang semakin menuntut. Lidah kami saling bertautan, bertukar kehangatan yang segera menjalar ke seluruh pembuluh darahku. Rasa haus yang terpendam selama berhari-hari kini pecah begitu saja.Perlahan, Gabriel menuntun tanganku turun, membawanya menyusuri dadanya yang

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   164. Biarkan Sebentar

    Sepatu pantofel Gabriel mengetuk lantai pualam dengan ragu saat dia melangkah melewati ambang pintu. Kehangatan pendingin ruangan langsung menyapu sisa-sisa hawa dingin jalanan dari pundaknya, tapi ketegangan di wajahnya tidak serta-merta mencair.Ia berdiri terpaku sejenak, mengamati bagaimana lampu gantung di langit-langit memantulkan cahaya keemasan yang lembut, kontras dengan mendung kelabu yang sepanjang hari menggelayuti kepalanya."Masuklah, Gabriel. Di luar anginnya sedang tidak bersahabat," ujarku memecah keheningan sembari merapatkan kaus kebesaran yang membungkus tubuhku.Tanpa aba-aba, Gabriel melangkah maju. Langkahnya tidak lagi ragu, melainkan didorong oleh desakan yang tak tertahankan. Sebelum sempat aku berbalik, sepasang lengan kekar merengkuh tubuhku dari belakang.Dia menarikku ke dalam pelukannya—begitu erat, seolah-olah seluruh dunianya sedang runtuh dan hanya tubuhku satu-satunya pasak yang menahannya agar tidak hancur. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang b

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   163. Malam Tanpa Jawaban

    Rumah itu terlalu sunyi.Gabriel berdiri di depan jendela kamar, menatap jalan di bawah yang basah setelah gerimis tipis. Netranya memperhatikan setiap pasang lampu mobil yang menikung masuk ke kompleks, dan setiap bayangan yang bergerak, menunggu seorang yang belum kembali juga.Natalia belum pulang."Kamu ke mana, Nat?" bisik Gabriel cemas. Akhirnya dia memutuskan untuk turun ke lantai bawah, membuat secangkir kopi. Gabriel akan bergadang sambil menunggu kepulangan istrinya.Aroma kopi memenuhi ruang dapur, Gabriel menuangkan kopi ke dalam sebuah cangkir berukuran besar, dan kembali naik ke lantai atas."Semoga Natalia pulang sebentar lain," ucap Gabriel sambil berjalan mondar-mandir. Sesekali dia menyesap kopi pahit itu.Jam di dinding menunjukkan angka yang semakin tidak masuk akal untuk seseorang yang belum tidur. Ponselnya ia angkat dan turunkan berkali-kali—layarnya penuh riwayat panggilan keluar dengan satu nama yang sama, semua berakhir dengan nada tunggu yang panjang sebelum

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   162. Jelaskan

    Jarum speedometer merayap ke angka yang tidak pernah Natalia sentuh saat dalam keadaan normal.Tangannya mencengkeram setir dengan cara seseorang yang butuh sesuatu untuk dipegang—sesuatu yang tidak akan pergi, diam, atau tidak akan menatapnya dengan wajah kosong ketika ia bertanya apakah ia masih dicintai.Lampu jalan meluncur lewat layaknya bintang yang jatuh ke arah yang salah.Di dalam dada Natalia, ada kebakaran yang dia sendiri tidak tahu bagaimana cara memadamkannya.Grace.Nama itu berputar di kepalanya—bukan seperti bisikan, tapi seperti alarm yang tidak punya tombol mati. Nama yang seharusnya tidak mengambil ruang sebesar ini di dalam pernikahan yang ia jaga dengan seluruh hidupnya. Nama yang meluncur dari bibir suaminya di atas ranjang mereka sendiri, di momen yang paling intim, di saat dia masih merasakan getar-getar percintaan mereka yang penuh gairah.Natalia tertawa kecil di dalam mobil, tapi suaranya tidak terdengar seperti tawa.Tangannya bergerak sendiri ke arah tas d

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   161. Salah Ucap

    Gabriel menggeram parau, gerakannya semakin liar.“Kamu suka begini, ya? Suamimu yang liar dan lapar?” Ia menunduk, menciumnya rakus sambil terus bergerak, satu tangannya meremas bagian depan Natalia, yang lain menahan pinggulnya agar tak bergerak.“Katakan … katakan siapa yang membuatmu seperti ini.”“Kamu … hanya kamu,” erang Natalia, tubuhnya mengejang setiap kali Gabriel menghantam titik paling sensitifnya. “Jangan berhenti … ah, sial, aku hampir …!”Mereka bergerak semakin cepat, irama yang brutal, tapi penuh kenikmatan. Tubuh Natalia melengkung indah, dadanya naik turun dengan cepat, matanya terpejam rapat penuh penghayatan. Gabriel merasakan otot-otot istrinya mengejang di sekitarnya, semakin erat, semakin panas.Saat gelombang itu datang menghantam Natalia lebih dulu, ia menjerit nama suaminya, tubuhnya bergetar hebat, kuku-kukunya menancap dalam di punggung Gabriel. Namun, Gabriel belum selesai. Ia terus bergerak, semakin dalam, semakin kuat, mengejar pelepasannya sendiri.“G

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   141. Klik, Klik, Klik

    Angga yang sangat penasaran kenapa Gabriel hanya mampir sebentar di kantornya yang super megah, segera menghidupkan mesin motornya dan mengikutinya dengan sangat hati-hati."Jangan kira kamu bisa lolos dari pengawasanku," bisik Angga. Adrenalinnya serasa dipacu dengan cepat, dia janji tidak akan mele

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   140. Bayang-bayang Paparazi

    Sinar matahari pagi, memercikkan cahayanya ke sela-sela tirai jendela, menerpa permukaan meja kayu di sudut ruang makan keluarga Gabriel. Semalam dia sudah menunggu Natalia untuk pulang, tapi wanita itu tak kunjung pulang. Akhirnya dia jatuh tertidur dengan lampu kamar yang masih menyala.Saat dia te

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   139. Rencana Jahat

    Natalia tersenyum sinis, diraihnya ponsel kesayangannya dan menghubungi seseorang. Tak lama kemudian terdengar suara kasar seorang pria dari ujung telepon.‘Segera cari wanita yang bernama Grace Anjelita, hidup atau mati.’‘Grace Anjelita? Hmm, baik, Nyonya! Serahkan tugas ini pada saya. Tapi apa yang

  • Cinta dalam Rahim Sang Madu   138. Hidup atau Mati

    Natalia memijat pelipisnya dengan frustasi, matanya sesekali melirik ke jam dinding yang berdetak lambat di sudut ruangan. Ditutupnya buku sketsa yang ada di depannya, kini badannya terasa pegal karena telah duduk terlalu lama."Kenapa dia lama sekali sih?" celetuk Natalia sambil berdiri dan merengga

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status