Se connecter"Jangan mendekat! Pergi!" Jerit gadis itu lagi. Suaranya yang melengking tinggi penuh ketakutan membuat Rey mengurungkan niatnya untuk melangkah lebih dekat.
Ia mengangkat kedua tangan di udara, mencoba memberikan pengertian pada Elara, kalau dia tidak berniat jahat. "Tenang, aku bukan orang jahat. Aku pendaki, sama seperti kamu," ujar Rey dengan nada serendah mungkin, berusaha menenangkan rasa takut yang tampak jelas di mata Elara. Zavier, Yuda, dan Juna sudah berdiri di belakang Reygan, wajah mereka tak kalah terkejut melihat sosok wanita yang berdiri bersandar pada pohon dengan luka yang cukup mengerikan di kakinya. "Rey, dia kenapa?" bisik Juna cemas. "Dia terluka parah," jawab Rey tanpa menoleh. Tatapannya terkunci pada luka robek di celana cargo hitam Elara yang kini basah oleh darah segar yang terus keluar. "Jika tidak segera ditangani, bisa-bisa dia pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah, atau lebih buruk lagi, infeksi di tengah hutan seperti ini." Lirih Rey, cemas. "Rey, tapi dia manusia kan? bukan hantu?" bisik Yuda dari belakang punggung Reygan. "Dasar bego, mana ada hantu cantik begitu. Ini sih bidadari." Timpal Zavier. "Udah diam, jangan berisik. Nanti dia makin ketakutan." Tegur Juna menepuk bahu Yuda. "Dengar," Reygan kembali memfokuskan perhatian pada wajah pucat Elara. "Namaku Reygan. Di belakangku ada teman-temanku. Kami punya kotak P3K yang lengkap. Kalau kamu tidak membiarkan aku membantu, kaki kamu bisa mati rasa karena suhu dingin ini." Elara masih terisak, tubuhnya bergetar hebat. Matanya yang indah menatap Reygan ragu. Ia seolah sedang berperang dengan logikanya sendiri, antara rasa takut pada pria asing atau rasa sakit yang kini hampir menghilangkan kesadarannya. "Tolong..." lirih Elara akhirnya, suaranya hampir hilang ditelan angin. Reygan tidak menunggu lama. Ia kembali berjalan mendekati Elara yang telah merosot terduduk sambil terus bersandar di batang pohon besar. Reygan berlutut di depannya, mengabaikan tanah lembap yang mengotori celana pria itu. Dengan gerakan cepat namun hati-hati, Reygan merobek sedikit bagian celana Elara untuk melihat seberapa dalam luka itu. "Ini akan sedikit sakit," gumam Reygan pelan, tepat sebelum ia menekan luka itu untuk menghentikan pendarahannya. Elara memekik, mencengkeram bahu Reygan dengan kuat hingga kuku-kukunya menembus jaket. Genggaman itu, entah mengapa, membuat denyut nadi Reygan berpacu lebih kencang dari biasanya. Kini, ia bisa melihat kecantikan yang membuatnya terpesona pada pandangan pertama dengan jarak yang sangat dekat. "Apa yang terjadi?" tanya Reygan, berbisik lembut tepat di depan wajah Elara. Elara memejamkan matanya rapat-rapat. Deretan bulu mata lebat dan lentiknya menarik perhatian Reygan. "A—aku hampir terjatuh ke jurang," jawab Elara dengan suara parau yang bergetar. Perlahan, ia membuka mata dan menatap manik mata Reygan, seolah sedang menilai ketulusan laki-laki asing yang menolongnya itu. "Siapa namamu?" tanya Reygan tak berhenti mengagumi wajah Elara dari jarak sedekat itu. "Elara," Tanpa sepatah kata pun, Reygan meraih pinggang Elara dan mengangkat tubuh ringkih gadis itu ke dalam gendongannya. Membawanya menuju pos empat agar luka di kaki Elara bisa segera ditangani. Elara terkejut, tangannya refleks melingkar di leher kokoh Reygan. Dari sudut matanya, Elara tak memungkiri ketampanan Reygan saat menatap pahatan wajah sempurna laki-laki yang kini sedang menyelamatkannya. *** "Zav, ambil kotak P3K di tas gue. Cepat!" perintah Reygan begitu sampai di depan dipan kayu yang ada di pos empat. Zavier yang biasanya banyak bercanda segera bergerak sigap, membongkar isi tas Reygan dan mengeluarkan peralatan medis darurat. Sementara itu, Reygan mendudukkan Elara dengan perlahan di atas dipan, memastikan posisi kaki gadis itu tetap lurus untuk mengurangi rasa sakit. "Tahan sebentar ya," gumam Reygan. Ia mengambil cairan antiseptik dari tangan Zavier. Udara Gunung Saujana yang semakin dingin membuat luka itu terasa makin perih saat bersentuhan dengan cairan pembersih. Elara kembali memejamkan mata, tangannya meremas lengan jaket Reygan dengan kuat untuk menahan rasa sakit. "Luka ini cukup dalam, sepertinya terkena batu tajam saat kamu tergelincir," ujar Reygan, dengan telaten membalut luka Elara dengan kain kasa steril. Zavier dan Juna hanya memperhatikan dari jarak dekat, terdiam melihat sisi lain Reygan yang biasanya kaku dan sangat menjaga jarak dengan orang asing, kini tampak begitu peduli pada gadis yang baru ditemuinya di tengah hutan. Sedangkan Yuda, kembali membaringkan tubuhnya di atas tanah kering. Setelah perban terpasang dengan rapi, Reygan mendongak, mendapati Elara yang kini menatapnya dengan pandangan yang sudah jauh lebih tenang, meski sisa-sisa air mata masih terlihat di sudut matanya. "Bagaimana kamu bisa terpisah dari rombonganmu?" tanya Reygan sambil merapikan kembali sisa peralatan medis ke dalam kotak. Elara menghela napas panjang, mencoba mengatur degup jantungnya yang belum sepenuhnya stabil. "Tadi kami sedang mengambil foto di dekat tebing, lalu aku terpisah karena kabut turun sangat cepat di pagi hari. Aku panik, lalu berlari sampai akhirnya terperosok ke arah sini." Reygan mengangguk paham. Ia tahu betapa menipunya jalur Saujana saat kabut mulai turun menyelimuti semak cantigi. "Untuk sementara, kamu aman di sini bersama kami," ucap Reygan tenang. "Kita tunggu sampai lukamu sedikit membaik, baru kita cari jalan untuk kembali ke basecamp atau menghubungi tim pencari." Elara hanya mengangguk kecil, merasa sedikit lebih aman di bawah perlindungan laki-laki yang baru saja membantunya. Di tengah dinginnya Saujana, kehadiran Reygan dan teman-temannya terasa seperti sebuah kehangatan yang tidak ia duga. Sebelumnya sempat terlintas dalam benak Elara, kalau ia akan mati di tempat ini tanpa ada siapapun yang tahu keberadaannya. Curamnya jurang yang hampir melenyapkan nyawanya, memenuhi benak Elara saat ia mencoba memejamkan mata. "Jadi sekarang gimana?" tanya Juna memecahkan keheningan. "Kita turun lagi atau bermalam di sini?" "Kita hanya punya waktu tiga hari untuk mendaki, kalau kita bermalam di sini, tidak akan sempat ke puncak Saujana." "Tapi kita nggak bisa ninggalin gadis itu di sini." Sahut Zavier melirik kearah Elara yang sedang mendengarkan percakapan mereka. "Aku nggak apa-apa, kalian lanjut saja ke atas. Aku sudah aman di sini." Ujar Elara membuat mereka semua menatap kearahnya. "Nggak mungkin aku ninggalin kamu di sini." Jawab Reygan tegas. Membuat semua teman-temannya mengalihkan pandangan menatapnya heran. Reygan memutar tubuhnya menatap ketiga temannya, "Kalian naik aja, biar gue yang menemani Elara di sini." Ketiga sahabat Reygan saling berpandangan, terkejut mendengar keputusan itu. Mereka tahu betul betapa ambisiusnya Reygan untuk menaklukkan puncak Saujana setelah dua tahun tertahan di Swiss demi pendidikannya. "Lo serius, Rey?" tanya Juna memastikan. "Kita sudah merencanakan ini sejak lama. Lo yakin mau melewatkan puncak cuma buat..." Juna menggantung kalimatnya sambil melirik Elara. "Gue serius. Kondisi kakinya nggak memungkinkan untuk ditinggal sendiri, apalagi kabut Saujana nggak bisa diprediksi," jawab Reygan tanpa ragu sedikit pun. Ia menoleh sekilas ke arah Elara, yang tampak merasa tidak enak hati karena merasa telah menjadi beban bagi rombongan mereka. Zavier menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Reygan. "Oke, kalau itu keputusan lo. Kami akan lanjut ke atas, tapi kami akan tinggalkan sebagian logistik di sini buat kalian." "Makasih, Zav," ujar Reygan singkat. Yuda yang tadinya asyik berbaring kini bangkit berdiri. "Hati-hati, Rey. Jaga bidadari ini baik-baik. Kami akan turun lewat jalur ini lagi besok untuk menjemput kalian." Setelah perdebatan singkat mengenai pembagian barang, ketiga sahabat itu akhirnya berpamitan dan melanjutkan perjalanan menembus rimbunnya semak cantigi yang mulai tertutup kabut tipis. Suasana di pos empat mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan desau angin dan suara napas Elara yang masih sedikit tidak teratur. Reygan kembali mendekati dipan kayu dan duduk di samping Elara, namun tetap menjaga jarak agar gadis itu tidak merasa takut kepadanya. "Maaf..." lirih Elara sambil menunduk, jemarinya meremas jaketnya. "Gara-gara aku, rencana kalian jadi berantakan. Kamu harusnya sudah berada di jalur menuju puncak sekarang." Reygan menatap lurus ke arah lembah yang mulai tertutup awan, lalu menoleh pelan ke arah Elara. "Puncak Saujana masih bisa aku taklukan di lain waktu. Tapi nyawa orang nggak bisa diganti kalau sampai terjadi apa-apa di tengah hutan sesunyi ini." Mendengar jawaban menenangkan itu, Elara merasakan debaran aneh di dadanya. Ia tidak menyangka laki-laki yang baru ia temui ini bisa bersikap selembut itu pada orang asing. Di bawah bayang-bayang pohon besar pos empat, Reygan mulai menyalakan kompor camping untuk merebus air, berusaha mengusir dingin yang mulai menggigit tulang. "Minumlah," Reygan menyodorkan secangkir teh hangat yang uapnya mengepul. "Ini akan membantumu tetap hangat sampai suhu udara sedikit lebih stabil." Elara menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang merambat dari telapak tangannya ke seluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya sejak ia tersesat, rasa takut yang menghimpitnya perlahan menghilang, kini ia merasa lebih aman yang entah mengapa begitu kuat terpancar dari sosok Reygan. Laki-laki itu bangkit berdiri dihadapannya, "Dimana tas perlengkapan mendakimu?" "Terjatuh ke jurang saat aku terperosok," jawab Elara pelan, kembali teringat kejadian tragis yang menimpanya. Reygan menghembuskan nafas panjang, ikut merasakan ketegangan saat membayangkan gadis cantik itu mencoba menyelamatkan diri dari tepi jurang sendirian. "Aku hanya punya satu tenda, kamu bisa tidur di dalam tenda, aku tidur di dipan." Elara mendongak menatap wajah Reygan, "Tidur ditengah hutan di malam hari berbahaya, Rey." "Kita tidak punya pilihan. Aku nggak yakin kita bisa sampai kebawah dengan kondisi kakimu seperti ini sebelum matahari terbenam." Reygan meraih ponselnya di saku celana. "Sial! baterainya habis, pasti Mama khawatir." Gumamnya pelan. "Kita tidur berdua di tenda?" tanya Elara, membuat Reygan terkejut dan mengalihkan pandangannya dari ponsel, menatap wajah cantik yang kini mulai merona karena uap teh hangat dalam genggamannya.Derap langkah sepatu kulit Lingga yang beradu dengan anak tangga besi menimbulkan gema tipis di tengah pekatnya angin malam. Suara itu cukup untuk mengalihkan perhatian dua pria berbadan tegap yang tengah memojokkan sang gadis di lorong sempit bawah tangga. "Siapa lo?! Nggak usah ikut campur kalau mau selamat!" bentak pria berkulit gelap, melepaskan cengkeramannya dari bahu sang gadis, melangkah maju untuk menghalangi Lingga. Lingga tak menjawab. Wajahnya tetap datar, namun sepasang mata tajamnya berkilat berbahaya. Ia berhenti di undakan tangga terakhir, menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya santai. Dalam satu gerakan yang tak terduga, Lingga mengayunkan tinjunya lurus menghantam rahang pria berkulit gelap itu. Bugh! Serangan mendadak itu membuat pria tersebut tersungkur ke jalan, mengerang kesakitan sambil memegang rahangnya yang berdarah. "Brengsek!" pria satunya yang bertubuh lebih kekar langsung melayangkan pukulan mentah ke arah kepala Lingga. Dengan
"Rey," panggil Zavier, menatap heran ke arah sahabatnya yang sejak tadi terus tersenyum sendiri memandangi layar ponsel. Reygan menoleh sekilas tanpa menghentikan jemarinya. "Kenapa, Zav?" tanya pria itu singkat, lalu kembali sibuk mengetikkan pesan balasan untuk Elara. "Bisa nggak, sih... kita kumpul lagi berempat kaya dulu?" tanya Zavier pelan. Pria itu lantas menyesap wiski dari gelasnya, menatap nanar es batu yang perlahan meleleh. Gerakan jemari Reygan terhenti seketika. Ia menoleh perlahan, menatap Zavier dengan rahang yang mengeras. "Juna udah menentukan pilihannya," sahut Reygan dingin, memutus harapan yang sempat muncul di raut wajah Zavier. "Sebagai pengacara, dia harusnya tahu betul mana korban dan mana pelaku sebenarnya." Zavier menghela napas berat. "Dia terpaksa, Rey. Lo tahu sendiri, di antara kita bertiga, cuma Juna yang paling dipercaya sama orang tua lo. Mungkin karena gue sama Yuda sukanya main-main, beda sama Juna yang selalu serius." Reygan terdi
Suasana di balik meja barista kafe Le Moka seketika membeku. Aura dingin yang menguar dari tubuh Reygan seolah sanggup menghentikan detak jarum jam. Pria itu berdiri begitu dekat, kedua tangannya bertumpu pada meja kayu, menatap Kinan dan Elara bergantian sebelum pandangannya mengunci Lingga yang sedang duduk tenang di meja sudut sambil memeriksa sesuatu pada tablet di tangannya. Kinan menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mendadak membasahi tengkuknya. "B-Bang Reygan... sejak kapan berdiri di situ?" bisik Kinan gagap, merapatkan tubuhnya ke dinding seolah berharap bisa menghilang dari pandangan sang CEO Valero Corps. "Sejak kamu bilang Lingga naksir Elara," jawab Reygan dingin. Elara menghela napas pelan, meski ada desiran hangat yang mengalir di dadanya melihat sikap posesif pria itu. Ia melangkah mendekati Reygan, lalu menepuk pelan punggung tangan pria itu yang terkepal di atas meja. "Kinan hanya becanda, Rey. Lingga cuma berbuat baik sama aku selama
Begitu derak pintu terkunci dan menyisakan mereka berdua, Reygan langsung bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi dan tegap kini menjulang di hadapan Elara, mengurung keberadaan gadis itu sepenuhnya. Cengkeraman jemarinya yang hangat perlahan merayap naik, mengunci ujung dagu Elara dan menariknya keatas dengan kuat, memaksa netra mereka untuk saling bertemu. "Punya nyali juga kamu datang ke sini... hm?" desis Reygan dengan suara berat dan dalam, mengikis jarak hingga helaan napas panasnya menerpa langsung ke permukaan kulit Elara. Dada Elara berdesir hebat mendapati jarak mereka yang begitu dekat. Ibu jari Reygan mengelus lembut garis pipi Elara dengan ibu jarinya, namun tekanan jemarinya menyiratkan emosi yang amat sangat. Pria itu menunduk, menatap dalam-dalam manik mata Elara seolah mencari kebohongan yang mungkin tersembunyi di sana. "Kenapa diam, El?" desis Reygan lagi, suaranya kian parau. "Kamu sadar kan tempat apa ini? Kamu baru saja melangkah masuk ke sarang m
Sebuah Alphard hitam mewah melaju pelan memasuki area parkir basement Valero Tower. Elara tiba untuk membuktikan ucapannya, menemui Tama Valero sebelum batas waktu yang diberikan Reygan habis. Ia merogoh saku blazernya, meraba permukaan flashdisk yang secara sembunyi-sembunyi diselipkan Reygan saat ciuman kasar di basement Adolf Group pagi tadi. Pria itu sepenuhnya percaya padanya. Saat Elara memeriksa isinya, Reygan ternyata menyerahkan seluruh rancangan ide final proyek padanya. Elara terkejut luar biasa, dan ia berjanji tidak akan pernah membocorkannya kepada Jackson maupun Sherly. Hari ini, Elara akan membuktikan pada Reygan bahwa ia sanggup memimpin dan menjaga proyek ini sebaik mungkin. Langkah kaki Elara terdengar tegas saat ia keluar dari lift di lantai pimpinan tertinggi Valero Corps. Seorang wanita paruh baya langsung menyambutnya. "Ibu Zhelara Adolf?" sapa sekretaris itu kaku. "Benar. Saya ingin bertemu dengan Tuan Tama Valero sesuai janji yang dibuat satu jam
Derum mesin sedan hitam milik Valero Corps perlahan menghilang saat mobil itu keluar dari area parkir basement, meninggalkan Elara yang masih berdiri mematung di sudut lorong. Jemari tangan Elara yang gemetar perlahan terangkat, mengusap sudut bibirnya yang terasa sedikit perih dan panas. Jejak ciuman kasar Reygan masih tertinggal jelas di sana. Elara memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang untuk menata kembali detak jantungnya yang berantakan. Ia tidak boleh terlihat lemah untuk menghadapi musuh-musuhnya yang adalah keluarganya sendiri. Dengan langkah tegak seolah tidak ada yang terjadi, Elara berjalan menuju lift, menekan tombol menuju lantai atas. Sementara itu, di dalam ruang rapat utama Adolf Group, udara yang menyelimutinya tidak mencerminkan kemewahan ruangan bernuansa kaca itu. Suasana di sana tampak kacau berantakan. PRANG! Sebuah pot bunga porselen mahal yang menghiasi meja tamu hancur berkeping-keping di lantai setelah dilemparkan oleh Jackson. Pri







