Home / Romansa / Cinta di Puncak Dunia / BAB 2 : SATU TENDA BERDUA

Share

BAB 2 : SATU TENDA BERDUA

Author: Yoongina
last update publish date: 2026-05-14 11:00:58

"Jangan mendekat! Pergi!" Jerit gadis itu lagi. Suaranya yang melengking tinggi penuh ketakutan membuat Rey mengurungkan niatnya untuk melangkah lebih dekat.

​Ia mengangkat kedua tangan di udara, mencoba memberikan pengertian pada Elara, kalau dia tidak berniat jahat.

"Tenang, aku bukan orang jahat. Aku pendaki, sama seperti kamu," ujar Rey dengan nada serendah mungkin, berusaha menenangkan rasa takut yang tampak jelas di mata Elara.

​Zavier, Yuda, dan Juna sudah berdiri di belakang Reygan, wajah mereka tak kalah terkejut melihat sosok wanita yang berdiri bersandar pada pohon dengan luka yang cukup mengerikan di kakinya.

​"Rey, dia kenapa?" bisik Juna cemas.

​"Dia terluka parah," jawab Rey tanpa menoleh. Tatapannya terkunci pada luka robek di celana cargo hitam Elara yang kini basah oleh darah segar yang terus keluar.

"Jika tidak segera ditangani, bisa-bisa dia pingsan karena kehilangan terlalu banyak darah, atau lebih buruk lagi, infeksi di tengah hutan seperti ini." Lirih Rey, cemas.

"Rey, tapi dia manusia kan? bukan hantu?" bisik Yuda dari belakang punggung Reygan.

"Dasar bego, mana ada hantu cantik begitu. Ini sih bidadari." Timpal Zavier.

"Udah diam, jangan berisik. Nanti dia makin ketakutan." Tegur Juna menepuk bahu Yuda.

​"Dengar," Reygan kembali memfokuskan perhatian pada wajah pucat Elara. "Namaku Reygan. Di belakangku ada teman-temanku. Kami punya kotak P3K yang lengkap. Kalau kamu tidak membiarkan aku membantu, kaki kamu bisa mati rasa karena suhu dingin ini."

​Elara masih terisak, tubuhnya bergetar hebat. Matanya yang indah menatap Reygan ragu. Ia seolah sedang berperang dengan logikanya sendiri, antara rasa takut pada pria asing atau rasa sakit yang kini hampir menghilangkan kesadarannya.

​"Tolong..." lirih Elara akhirnya, suaranya hampir hilang ditelan angin.

​Reygan tidak menunggu lama. Ia kembali berjalan mendekati Elara yang telah merosot terduduk sambil terus bersandar di batang pohon besar. Reygan berlutut di depannya, mengabaikan tanah lembap yang mengotori celana pria itu.

Dengan gerakan cepat namun hati-hati, Reygan merobek sedikit bagian celana Elara untuk melihat seberapa dalam luka itu.

​"Ini akan sedikit sakit," gumam Reygan pelan, tepat sebelum ia menekan luka itu untuk menghentikan pendarahannya. Elara memekik, mencengkeram bahu Reygan dengan kuat hingga kuku-kukunya menembus jaket. Genggaman itu, entah mengapa, membuat denyut nadi Reygan berpacu lebih kencang dari biasanya.

Kini, ia bisa melihat kecantikan yang membuatnya terpesona pada pandangan pertama dengan jarak yang sangat dekat.

"Apa yang terjadi?" tanya Reygan, berbisik lembut tepat di depan wajah Elara.

​Elara memejamkan matanya rapat-rapat. Deretan bulu mata lebat dan lentiknya menarik perhatian Reygan.

​"A—aku hampir terjatuh ke jurang," jawab Elara dengan suara parau yang bergetar. Perlahan, ia membuka mata dan menatap manik mata Reygan, seolah sedang menilai ketulusan laki-laki asing yang menolongnya itu.

"Siapa namamu?" tanya Reygan tak berhenti mengagumi wajah Elara dari jarak sedekat itu.

"Elara,"

Tanpa sepatah kata pun, Reygan meraih pinggang Elara dan mengangkat tubuh ringkih gadis itu ke dalam gendongannya. Membawanya menuju pos empat agar luka di kaki Elara bisa segera ditangani.

​Elara terkejut, tangannya refleks melingkar di leher kokoh Reygan. Dari sudut matanya, Elara tak memungkiri ketampanan Reygan saat menatap pahatan wajah sempurna laki-laki yang kini sedang menyelamatkannya.

***

​"Zav, ambil kotak P3K di tas gue. Cepat!" perintah Reygan begitu sampai di depan dipan kayu yang ada di pos empat.

​Zavier yang biasanya banyak bercanda segera bergerak sigap, membongkar isi tas Reygan dan mengeluarkan peralatan medis darurat. Sementara itu, Reygan mendudukkan Elara dengan perlahan di atas dipan, memastikan posisi kaki gadis itu tetap lurus untuk mengurangi rasa sakit.

​"Tahan sebentar ya," gumam Reygan. Ia mengambil cairan antiseptik dari tangan Zavier.

​Udara Gunung Saujana yang semakin dingin membuat luka itu terasa makin perih saat bersentuhan dengan cairan pembersih. Elara kembali memejamkan mata, tangannya meremas lengan jaket Reygan dengan kuat untuk menahan rasa sakit.

​"Luka ini cukup dalam, sepertinya terkena batu tajam saat kamu tergelincir," ujar Reygan, dengan telaten membalut luka Elara dengan kain kasa steril.

​Zavier dan Juna hanya memperhatikan dari jarak dekat, terdiam melihat sisi lain Reygan yang biasanya kaku dan sangat menjaga jarak dengan orang asing, kini tampak begitu peduli pada gadis yang baru ditemuinya di tengah hutan. Sedangkan Yuda, kembali membaringkan tubuhnya di atas tanah kering.

​Setelah perban terpasang dengan rapi, Reygan mendongak, mendapati Elara yang kini menatapnya dengan pandangan yang sudah jauh lebih tenang, meski sisa-sisa air mata masih terlihat di sudut matanya.

​"Bagaimana kamu bisa terpisah dari rombonganmu?" tanya Reygan sambil merapikan kembali sisa peralatan medis ke dalam kotak.

​Elara menghela napas panjang, mencoba mengatur degup jantungnya yang belum sepenuhnya stabil. "Tadi kami sedang mengambil foto di dekat tebing, lalu aku terpisah karena kabut turun sangat cepat di pagi hari. Aku panik, lalu berlari sampai akhirnya terperosok ke arah sini."

​Reygan mengangguk paham. Ia tahu betapa menipunya jalur Saujana saat kabut mulai turun menyelimuti semak cantigi.

​"Untuk sementara, kamu aman di sini bersama kami," ucap Reygan tenang. "Kita tunggu sampai lukamu sedikit membaik, baru kita cari jalan untuk kembali ke basecamp atau menghubungi tim pencari."

​Elara hanya mengangguk kecil, merasa sedikit lebih aman di bawah perlindungan laki-laki yang baru saja membantunya. Di tengah dinginnya Saujana, kehadiran Reygan dan teman-temannya terasa seperti sebuah kehangatan yang tidak ia duga.

Sebelumnya sempat terlintas dalam benak Elara, kalau ia akan mati di tempat ini tanpa ada siapapun yang tahu keberadaannya. Curamnya jurang yang hampir melenyapkan nyawanya, memenuhi benak Elara saat ia mencoba memejamkan mata.

"Jadi sekarang gimana?" tanya Juna memecahkan keheningan. "Kita turun lagi atau bermalam di sini?"

"Kita hanya punya waktu tiga hari untuk mendaki, kalau kita bermalam di sini, tidak akan sempat ke puncak Saujana."

"Tapi kita nggak bisa ninggalin gadis itu di sini." Sahut Zavier melirik kearah Elara yang sedang mendengarkan percakapan mereka.

"Aku nggak apa-apa, kalian lanjut saja ke atas. Aku sudah aman di sini." Ujar Elara membuat mereka semua menatap kearahnya.

"Nggak mungkin aku ninggalin kamu di sini." Jawab Reygan tegas. Membuat semua teman-temannya mengalihkan pandangan menatapnya heran.

Reygan memutar tubuhnya menatap ketiga temannya, "Kalian naik aja, biar gue yang menemani Elara di sini."

Ketiga sahabat Reygan saling berpandangan, terkejut mendengar keputusan itu. Mereka tahu betul betapa ambisiusnya Reygan untuk menaklukkan puncak Saujana setelah dua tahun tertahan di Swiss demi pendidikannya.

​"Lo serius, Rey?" tanya Juna memastikan. "Kita sudah merencanakan ini sejak lama. Lo yakin mau melewatkan puncak cuma buat..." Juna menggantung kalimatnya sambil melirik Elara.

​"Gue serius. Kondisi kakinya nggak memungkinkan untuk ditinggal sendiri, apalagi kabut Saujana nggak bisa diprediksi," jawab Reygan tanpa ragu sedikit pun. Ia menoleh sekilas ke arah Elara, yang tampak merasa tidak enak hati karena merasa telah menjadi beban bagi rombongan mereka.

​Zavier menghela napas panjang, lalu menepuk bahu Reygan. "Oke, kalau itu keputusan lo. Kami akan lanjut ke atas, tapi kami akan tinggalkan sebagian logistik di sini buat kalian."

​"Makasih, Zav," ujar Reygan singkat.

​Yuda yang tadinya asyik berbaring kini bangkit berdiri. "Hati-hati, Rey. Jaga bidadari ini baik-baik. Kami akan turun lewat jalur ini lagi besok untuk menjemput kalian."

​Setelah perdebatan singkat mengenai pembagian barang, ketiga sahabat itu akhirnya berpamitan dan melanjutkan perjalanan menembus rimbunnya semak cantigi yang mulai tertutup kabut tipis.

Suasana di pos empat mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan desau angin dan suara napas Elara yang masih sedikit tidak teratur.

​Reygan kembali mendekati dipan kayu dan duduk di samping Elara, namun tetap menjaga jarak agar gadis itu tidak merasa takut kepadanya.

​"Maaf..." lirih Elara sambil menunduk, jemarinya meremas jaketnya. "Gara-gara aku, rencana kalian jadi berantakan. Kamu harusnya sudah berada di jalur menuju puncak sekarang."

​Reygan menatap lurus ke arah lembah yang mulai tertutup awan, lalu menoleh pelan ke arah Elara. "Puncak Saujana masih bisa aku taklukan di lain waktu. Tapi nyawa orang nggak bisa diganti kalau sampai terjadi apa-apa di tengah hutan sesunyi ini."

​Mendengar jawaban menenangkan itu, Elara merasakan debaran aneh di dadanya. Ia tidak menyangka laki-laki yang baru ia temui ini bisa bersikap selembut itu pada orang asing.

Di bawah bayang-bayang pohon besar pos empat, Reygan mulai menyalakan kompor camping untuk merebus air, berusaha mengusir dingin yang mulai menggigit tulang.

​"Minumlah," Reygan menyodorkan secangkir teh hangat yang uapnya mengepul. "Ini akan membantumu tetap hangat sampai suhu udara sedikit lebih stabil."

​Elara menerima cangkir itu, merasakan kehangatan yang merambat dari telapak tangannya ke seluruh tubuhnya. Untuk pertama kalinya sejak ia tersesat, rasa takut yang menghimpitnya perlahan menghilang, kini ia merasa lebih aman yang entah mengapa begitu kuat terpancar dari sosok Reygan.

Laki-laki itu bangkit berdiri dihadapannya, "Dimana tas perlengkapan mendakimu?"

"Terjatuh ke jurang saat aku terperosok," jawab Elara pelan, kembali teringat kejadian tragis yang menimpanya.

Reygan menghembuskan nafas panjang, ikut merasakan ketegangan saat membayangkan gadis cantik itu mencoba menyelamatkan diri dari tepi jurang sendirian.

"Aku hanya punya satu tenda, kamu bisa tidur di dalam tenda, aku tidur di dipan."

Elara mendongak menatap wajah Reygan, "Tidur ditengah hutan di malam hari berbahaya, Rey."

"Kita tidak punya pilihan. Aku nggak yakin kita bisa sampai kebawah dengan kondisi kakimu seperti ini sebelum matahari terbenam."

Reygan meraih ponselnya di saku celana. "Sial! baterainya habis, pasti Mama khawatir." Gumamnya pelan.

"Kita tidur berdua di tenda?" tanya Elara, membuat Reygan terkejut dan mengalihkan pandangannya dari ponsel, menatap wajah cantik yang kini mulai merona karena uap teh hangat dalam genggamannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta di Puncak Dunia   SPESIAL CHAPTER 2

    "Sayang, Reygan dan Elara sudah datang?" Seru Zheydan, melangkah masuk ke dalam rumah dan melonggarkan ikatan dasi di lehernya. ​Suaranya yang berat memantul di dinding lorong rumah yang megah itu. Kinan, yang sedang sibuk menyusun piring camilan untuk menyambut kedatangan para tamu di taman belakang, tentu saja tidak mendengar panggilan suaminya. ​"Papi, isch hei cho!" [Papi, sudah pulang!]seru Yara gembira, anak gadis Zheydan dan Kinan yang baru berusia sepuluh tahun, berlari kecil menghampiri ayahnya dari arah ruang keluarga. ​"Hoi Schatzi, wo isch d’Mami und diin Brüeder Alexander?" [Halo sayang, dimana mami dan Kakakmu Alexander?]tanya Zheydan dengan senyum hangat, langsung berlutut untuk mendaratkan ciuman lembut di kedua pipi putri kecilnya. ​"Mami di taman belakang bersama Kak Kaelia, Om Reygan, Om Lingga, tante Elara dan tante Vanda. Kalau Kak Alex sedang di kamarnya bersama Levin," jawab Yara polos. ​Zheydan menaikkan sebelah alisnya. "Hanya Kaelia dan Levin? Lalu

  • Cinta di Puncak Dunia   SPECIAL CHAPTER 1

    Kaelia melangkah pelan memasuki area sekolah menengah atas paling favorit di kota ini. Mata bulatnya yang jernih dengan bingkai bulu mata lentik nan lebat menyapu setiap sudut gedung megah berlantai empat di hadapannya. Udara pagi yang segar menyambut langkah pertamanya sebagai siswi SMA. ​"Akhirnya, diterima juga gue di sekolah ini," gumam Kaelia, mengulas senyum manis yang sanggup mengalihkan perhatian beberapa siswa yang berlalu-lalang. ​Gadis cantik itu baru saja hendak mengayunkan langkah menuju lobi utama, ketika sebuah teriakan nyaring memanggil namanya dari arah belakang. ​"Non! Non Kaelia! Ini bekal dari Mommy ketinggalan!" teriak Pak Damar, sopir setia keluarga Valero, berjalan setengah berlari menghampiri Kaelia. ​Kaelia menghentikan langkahnya dan berbalik cepat. "Pak Damar, jangan teriak-teriak! Aku tidak budek!" tegur Kaelia bersedekap dada. Meski wajahnya menampilkan ekspresi kesal, kecantikan alaminya sama sekali tidak berkurang. ​"Iya, maaf, Non. Pak Damar c

  • Cinta di Puncak Dunia   EPILOG : CERITA KITA 3

    REYGAN VALERO & ZHELARA ADOLF - BUAH HATI - Matahari sore membiaskan cahaya keemasan yang hangat menerobos masuk melalui dinding kaca kediaman Valero. Di area pelataran taman belakang yang asri, alunan musik klasik berputar pelan dari pemutar piringan hitam, menyatu dengan gelak tawa renyah yang menghidupkan suasana rumah megah itu. ​Di atas hamparan karpet empuk, dua bayi mungil berusia delapan bulan merangkak aktif dengan celotehan yang menggemaskan. Kaelen Valero—si jagoan kecil yang mewarisi mata tajam dan rahang tegas Reygan—tampak sibuk menepuk-nepuk bola kain berwarna-warni. Sementara di sisinya, Kaelia Valero—sang putri mungil bernetra jernih bagai kristal mirip Elara—terkekeh riang sambil meraih jemari ibunya. ​Elara duduk bersila di samping si kembar, mengenakan gaun santai berwarna biru muda yang membuat wajah cantiknya memancar alami. Raut wajahnya tampak memancarkan kebahagiaan yang sempurna sebagai seorang ibu. ​Dari arah teras, langkah kaki tegap terdengar mend

  • Cinta di Puncak Dunia   EPILOG : CERITA KITA 2

    ZHEYDAN VON GRAFFENRIED & KINAN - BAHASA CINTA - Rumah tangga Zheydan dan Kinan tidak pernah sepi dari canda tawa. Jika pasangan lain mengisi hari-hari setelah pernikahan mereka dengan candlelight dinner yang romantis, maka Zheydan dan Kinan memilih hal lain yang jauh dari kata romantis. Perdebatan konyol, saling ledek, dan kejutan jahil yang membuat suasana rumah selalu hidup setiap harinya. ​Pagi itu, Kinan duduk di sofa ruang tengah dengan laptop berstiker lucu di pangkuannya dan sebuah buku catatan tebal. Matanya fokus memandangi layar sambil sesekali memicingkan mata. ​"Sedang membaca dokumen rahasia perusahaan, Sayang?" tegur Zheydan yang baru saja keluar dari ruangan gym. Pria Swiss itu bertelanjang dada, menyampirkan handuk kecil di lehernya, memperlihatkan deretan tato yang menghiasi lengan dan dada bidangnya. ​"Bukan," sahut Kinan tanpa berpaling dari layar. "Aku sedang belajar bahasa Swiss." ​Zheydan menaikkan sebelah alisnya, tertarik. Ia melangkah mendekat lal

  • Cinta di Puncak Dunia   EPILOG : CERITA KITA 1

    VANDA ADOLF & LINGGA - DIBALIK JERUJI BESI - Langkah kaki Vanda Adolf bergema pelan menembus lorong yang dingin. Di sampingnya, Lingga berjalan tegap dengan satu tangan menggenggam erat jemari sang istri, memberikan kehangatan di tengah kecemasan yang menggelayuti dada Vanda. Setiap kali jemari kekar Lingga meremas lembut tangannya, Vanda menghela napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya serta pergerakan kecil dari janin di dalam kandungannya yang kian membesar. ​Langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu besi berjeruji. Seorang petugas polisi mengangguk sopan pada Lingga sebelum menggeser gerendel besi yang berdecit nyaring. ​Di dalam ruangan kunjungan yang sempit dan remang itu, seorang wanita paruh baya duduk di balik meja kayu lapis. Pakaian tahanan berwarna oranye mencolok terlihat begitu besar melekat di tubuhnya yang kini sangat kurus dan ringkih. Rambutnya yang dulu selalu tertata rapi, kini beruban dan terikat asal-asalan. Tatapan matanya redup, kehilang

  • Cinta di Puncak Dunia   FINAL CHAPTER

    "KUTAKLUKAN GUNUNG SAUJANA BERSAMAMU." ⭐️⭐️⭐️ Yuda dan Zavier sudah tiba di tempat yang disepakati sebagai titik temu sebelum melanjutkan perjalanan menuju Gunung Saujana. Pagi itu, keduanya tengah duduk santai di sebuah rumah makan, menunggu kedatangan Reygan dan Elara. ​"Gila juga takdir hidup. Bisa-bisanya Reygan naik gunung lagi, ditemani bidadari yang dulu dia temui di hutan Saujana," celetuk Yuda sambil menatap langit cerah berawan di atas mereka. ​"Mungkin kali ini giliran lo yang bertemu bidadari di atas sana, Yud," sahut Zavier terkekeh. ​"Bukannya bidadari, paling demit yang ketemu gue. Hiiii...!" ​Zavier tertawa terbahak-bahak. "Sadar diri banget lo kalau nasib lo selalu sial, Yud!" ​"Sialan lo!" Yuda melempar potongan roti ke arah Zavier yang masih tertawa puas. ​"Eh, Zav. Gimana Juna? Lo udah hubungi dia?" ​Mendengar pertanyaan Yuda, tawa Zavier seketika reda. Ia menghela napas panjang. "Udah. Tapi dia nggak mau merusak momen kalau ikut naik gunung bareng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status