LOGINSejak peristiwa di depan rumah Jihan, Siska Admaji tidak pernah lagi berniat mengotori tangannya untuk turun langsung. Seperti biasa, dia hanya memastikan sendiri seperti apa keseharian perempuan miskin yang berani mengusik ketenangan dan harga diri keluarganya. Namun, gerak-gerik Siska terhenti seketika saat matanya menangkap sosok familiar dari jarak beberapa meter di pelataran kampus.
Jihan melangkah keluar dari gedung utama. Kali ini dia bersama seseorang, seorang pria yang berjaSore yang mendung baru saja menaungi sudut kota ketika Nayla melangkah keluar dari sebuah minimarket. Langkah kakinya mendadak terhenti kaku di trotoar. Di seberang jalan, berdiri sesosok pria tinggi berkemeja gelap yang saat ini menatapnya dengan raut tenang namun sarat kekhawatiran.Sammy Satya Dharma.Lelaki yang selama berbulan-bulan ini hidup bagai bayangan kelam di balik kehancuran rumah tangganya bersama Juna--sekaligus ayah biologis dari janin yang kini makin membesar di dalam kandungannya.Nayla tentu enggan menyambutnya dengan teriakan histeris, namun tak pula menemukan alasan tepat untuk melarikan diri. Bagaimanapun, pria itu telah menjadi bagian dari cerita rumit di dihidupnya. Berujung, Nayla hanya mematung dengan raut wajah datar nan dingin. Dia membiarkan Sammy menyeberangi jalan dan mendekat ke arahnya. "Aku tidak menyangka kau muncul di hadapanku lagi secepat ini, Sammy," ujar Nayla ketus.Sammy berhenti tepat dua meter
Siang itu, Amelia mendatangi koridor lantai dua gedung fakultas untuk mengurus beberapa berkas administrasi skripsinya yang sempat tertunda. Urusannya dengan pihak tata usaha hampir selesai ketika langkah kakinya mendadak terhenti kaku di dekat jendela kaca besar yang menghadap langsung ke pelataran parkir belakang kampus. Di seberang halaman yang lengang, Dave tampak berdiri berdampingan bersama Siska Admaji. Lagi. Untuk yang kesekian kalinya. Kali ini, interaksi di antara mereka tidak lagi terlihat canggung atau berlangsung singkat. Siska berdiri dengan postur tubuh yang tegang dan raut wajah amat serius. Sementara, Dave mendengarkan setiap patah kata perempuan itu dengan kepala tertunduk dalam. Sesekali, Siska menunjukkan sesuatu pada layar ponselnya, lalu kembali berbisik dengan nada rendah sarat akan dominasi. Amelia mencengkeram map di tangannya, menatap pemandangan berbahaya itu dari kejauhan. Nama Jihan langsung te
Juna tiba di unit apartemen Jihan saat jarum jam hampir menyentuh angka sebelas malam. Tubuhnya sarat akan keletihan setelah memimpin serangkaian rapat sengit di Janendra Corp. Begitu pintu apartemen terbuka, lelah itu menguap tanpa sisa saat. Dia mendapati Jihan masih terjaga, duduk menunggunya di ruang tengah."Kau belum tidur, Jihan?" tanya Juna lembut seraya melepas jas hitamnya dan menyampirkannya di sandaran sofa.Jihan menggeleng-geleng, seraya mengulas senyum yang langsung meluluhkan kelelahan Juna. "Belum. Aku menunggumu."Juna beringsut mendekat. Keningnya mengernyit halus. "Kenapa menungguku sampai selarut ini? Jihan, aktivitasmu sudah cukup padat. Jangan sampai jam tidurmu makin berantakan gara-gara menungguku."Jihan mengangkat bahunya santai, menunjuk meja makan di dekat mereka. "Kalau aku tidak menunggu, siapa yang bakal makan masakan ini? Aku sudah menyiapkannya sejak tadi."Praktis Juna menatap tudung saji di atas meja, l
Juna Janendra kini memiliki sebuah kebiasaan baru yang menguasai seluruh fokusnya. Setiap kali tugas-tugas di Janendra Corp selesai, dia tak lagi berlama-lama di ruang kerjanya atau langsung meluncur ke kediaman utamanya. Langkah kakinya selalu membawanya ke satu tujuan: unit apartemen tempat Jihan tinggal.Semula, alasan pria itu terdengar begitu logis dan diplomatis--memastikan keamanan tempat tinggal Jihan, memeriksa jika ada fasilitas yang kurang, atau sekadar memastikan gadis itu tidak kekurangan sesuatu. Namun seiring berjalannya hari, topeng alasan rasional itu mengikis habis. Juna sadar, dia membelah kemacetan kota menjelang malam hanya demi satu hal: dia merindukan Jihan. Kerinduan yang menggebu dan tak lagi bisa dia jinakkan.Malam ini, pintu apartemen terbuka bahkan sebelum ketukan tangan Juna mendarat untuk kedua kalinya. Jihan berdiri di sana, tampil bersahaja dengan rambut yang terikat asal, menyisakan beberapa helai yang jatuh lembut membingkai leher
Siska Admaji memilih sebuah restoran privat di sudut kota yang redup dan lenggang--tempat yang cukup terisolasi untuk merancang rencana kotor tanpa khawatir tercium oleh telinga asing.Dave sudah duduk di sudut ruangan ketika Siska mendekat dengan langkah anggun. Pria itu menatap kedatangan Siska dengan sorot mata dingin, tanpa salam, tanpa gestur menghormati. "Kali ini aku ingin bicara terus terang padamu, Dave," ujar Siska seraya mendudukkan diri di hadapannya.Dave menyandarkan punggung ke kursi, bersedekap dada dengan raut kaku. "Silakan. Saya mendengarnya."Siska meletakkan sebuah map di atas meja di tengah-tengah mereka. Dave menatap map itu sekilas, namun tak berminat untuk menyentuhnya."Aku tahu perasaanmu terhadap Jihan masih ada, Dave," bisik Siska, suaranya mengalun tenang namun merayap bagai racun. "Aku tahu kau masih menatap Jihan dengan kerinduan yang sama seperti dulu.""Kalau Nyonya datang jauh-jauh hanya untuk
Proses kepindahan itu berlangsung jauh lebih cepat dari yang dibayangkan Jihan. Beberapa kardus berisi pakaian, tumpukan buku, perlengkapan pribadi, hingga barang-barang kenangan kecil yang selama ini menjejali kamar kontrakannya yang sempit kini telah bermutasi sepenuhnya ke unit apartemen barunya.Tempat ini belum tertata rapi seluruhnya. Kardus-kardus cokelat masih menyisakan sudut-sudut berantakan di ruang tamu, rak buku tampak melompong, meja makan baru saja dipasang, dan dapur pun belum memiliki peralatan yang memadai untuk dia gunakan. Namun, Jihan tak lagi merasa asing oleh kemewahan tempat ini. Ada sensasi hangat menyeruak, membuat tempat berukuran luas ini begitu dekat dan familiar. Mungkin gara-gara presensi Juna yang selalu ada di dekatnya, atau mungkin sebab sejak awal pria itu memastikan bahwa setiap detail ruangan dirancang khusus untuk kenyamanan dia."Cape?" Suara berat Juna memecah keheningan. Pria itu berdiri menyender santai
Dua bulan bagai dua tahun bagi Juna Janendra. Jika menyangkut perasaan dan cinta, maka seluruh normalisasi makna kata akan berubah menjadi kiasan majas. Tak tahu di mana letak kewarasan, asal kesadaran masih bertahan di dalam raga. Kepulangannya ke Ibu Kota menjadi momen paling menggembirakan bagin
Berbaik hati mengantarkan perempuan tak dikenal, tahu-tahu Juna sedikit bingung. Seraya menyesap pelan kopi latte dari cup, benaknya berpikir ulang untuk apa dia mau merepotkan diri, membuang waktu demi orang asing? Dia bukanlah pribadi yang senang terlibat dengan masalah orang lain. Lalu, saat ini
"Tolong, cepatlah sedikit. Aku sudah telat. Mereka tidak akan membayarku karena ini." "Tenanglah, Nona. Anda mengganggu konsentrasi menyetir Saya. Mobilnya tidak bisa lebih cepat lagi, ini batasnya. Duduk yang benar dan diam, agar saya bisa segera mengantar Anda sampai ke tujuan." "Batas kau bila
Rencana Daniel untuk memboyong Jihan ke restoran Prancis terpaksa pupus. Gadis itu memaksakan pilihan dia sendiri dan rumah makan murah yang sangat terkenal di Jakarta adalah tempat tujuannya. RM Sari Rasa, rumah makan ini menyajikan menu masakan rumahan khas Jawa, seperti rawon leker, nasi kuning,







