Home / Romansa / Cinta yang Diracik Takdir / Bab 1 - Jebakan Siska

Share

Cinta yang Diracik Takdir
Cinta yang Diracik Takdir
Author: Naureen Ragdha

Bab 1 - Jebakan Siska

last update Last Updated: 2025-11-21 07:51:55

BAB 1

Pesta meriah telah dimulai. Siska telah berada di atas panggung setelah namanya dipanggil. Ia memberikan sepatah dua patah kata, baik tentang kariernya maupun tentang keinginannya di usianya yang telah menginjak 28 tahun.

Tidak hanya itu, Siska sempat menyebut nama Vero dan memujinya sebagai kolega terbaiknya. Hal itu sontak membuat semua tamu undangan bersorak. Tidak sedikit juga yang ingin menjodohkan mereka tanpa tahu status Vero yang sebenarnya.

“Sial!” seru Vero tertahan. Besok pasti banyak berita yang beredar, baik mengenai kerja samanya dengan perusahaan itu maupun tentang perjodohan dadakan antara dirinya dan Siska.

“Sepertinya hidupmu tambah rumit, Bro.” Evan datang tiba-tiba dari belakang dan langsung merangkul Vero.

“Diam kamu!” Pria yang mengenakan kemeja biru navy itu menyikut pelan perut Evan.

“Bagaimana kamu bisa masuk?” tegur Max. Di luar sana penjagaannya sangat ketat. Bagi yang tidak memiliki undangan, tentu saja tidak diperbolehkan masuk ke pesta ini.

“Aku ternyata diundang juga,” jawab Evan, membuat Vero dan Max menatapnya bersamaan.

“Mama dan papaku kenal dengan Tuan Heri dan Siska.”

“Oh.” Max hanya menanggapi singkat.

Ketiga pria itu pun berbincang ringan, meski sesekali pembicaraan mereka terpotong karena rekan bisnis Vero yang datang menyapa.

“Selamat malam, Tuan Vero, Tuan Max, dan ini?” sapa Siska yang menghampiri mereka.

“Ini Evan, teman kami,” jawab Max.

“Selamat malam, Tuan Evan,” ucap Siska sambil tersenyum.

“Hm.” Evan hanya berdehem. Raut wajahnya terlihat dingin.

“Terima kasih, Tuan, sudah datang memenuhi undangan kami. Saya berharap kalian menikmatinya.”

Siska pun mengajak Vero dan Max berbincang, dan semua itu tak luput dari bidikan kamera awak media serta beberapa pasang mata pengusaha lainnya.

Pemilik nama lengkap Siska Renata Heriawan itu kini tengah merasakan jantungnya berdebar cepat. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena perasaan takut. Meski begitu, wanita yang mengenakan gaun merah maroon, sangat kontras dengan kulit putihnya, tetap menampilkan senyum terbaik di depan semua orang.

Seorang pelayan wanita datang membawa minuman yang sedikit mengandung alkohol, seperti di pesta-pesta besar lainnya. Tanpa banyak bicara, mereka, termasuk Siska, mengambilnya dengan santai.

Di belakang sana, berdiri seorang wanita bernama Andin yang sedari tadi memperhatikan keempat orang itu. Setelah beberapa menit, ia tersenyum sinis.

“Aku yakin, kali ini pasti berhasil.”

Vero menarik diri dari keramaian pesta. Kepalanya mulai terasa pusing. Ia masih berusaha menahan kantuk yang menyerang. Beruntung, minuman itu tidak mengandung obat aneh, hanya obat tidur—hingga ia merasa sedikit lega.

“Awas saja kalau dua anak itu tidak berhasil. Aku akan mengirim mereka ke Antartika,” gumamnya pelan sambil berjalan menuju toilet. Ia butuh air untuk membasuh wajahnya. Namun belum sampai ke pintu toilet, tiba-tiba seseorang memukul tengkuknya, membuat Vero tak sadarkan diri.

***

“Bagaimana, Andin?” Siska menemui Andin di kamar hotel tempat wanita itu menunggu.

“Ayo kita ke kamar itu sekarang, Nona. Anak buah kita sudah mengantar Pak Vero ke sana dalam keadaan tidak sadar.”

Penjelasan Andin membuat Siska tersenyum puas.

“Kerja bagus, Andin. Kita ke sana sekarang.”

Karena sesuatu hal, Siska rela melakukan apa pun. Wanita itu pantang menyerah untuk menjadikan Vero miliknya. Sekalipun ia tahu bahwa Vero sudah menikah dan memiliki anak, hal itu tak membuatnya mundur. Justru semakin membuatnya nekat.

Siska dan Andin pun berjalan menuju kamar yang telah disiapkan.

“Bagaimana?” tanya Andin pada pria yang berjaga di depan pintu.

“Dia sudah di dalam, Nona,” jawabnya.

“Baiklah. Kerja yang bagus. Tetap berjaga di sini.”

“Baik, Nona,” jawab pria itu seraya menunduk, lalu sempat melirik ke arah pintu kamar di seberangnya.

Siska melangkah masuk ke kamar yang hanya memiliki sedikit pencahayaan. Samar-samar, di atas ranjang king size itu, seorang pria masih memakai pantofel dan tertidur pulas. Siska menarik senyum miring.

“Kali ini kau akan menjadi milikku, Vero,” bisiknya pelan.

Dengan cepat, ia mengganti dress mewahnya dengan tank top dan celana pendek. Setelah itu, ia menyuruh Andin keluar untuk melaksanakan tugas lain.

Siska perlahan merangkak ke atas tempat tidur sambil memegang ponselnya. Ia ingin mengabadikan kebersamaannya dengan Vero sebelum melanjutkan rencana berikutnya.

Ia merapatkan tubuh ke lelaki yang tertidur pulas itu. Wajah pria itu tidak tampak jelas, karena minimnya cahaya, tetapi dari aromanya, Siska yakin bahwa itu Vero.

Perlahan, ia membuat seolah-olah pria itu bersandar di dadanya. Dengan cepat, ia membidik kamera ponsel dan mengambil beberapa foto. Setelah puas, Siska menyimpan ponselnya lalu kembali menatap pria di sampingnya. Ia meraba wajah itu dengan lembut.

“Maafkan aku kalau harus memakai cara seperti ini. Tapi aku benar-benar membutuhkanmu, Vero,” ucapnya pelan sambil mendekatkan wajah.

Namun saat bibir mereka hampir bersentuhan, Siska tersentak. Lelaki itu tiba-tiba mencekik lehernya lalu menghempaskannya dengan kasar.

“Dasar wanita murahan!” hardik pria itu.

“Siapa kau?” Siska terbatuk, berusaha bernapas. Ia baru menyadari suara itu bukan suara Vero.

Ruangan itu seketika terang benderang setelah pria itu menyalakan lampu.

“Kau!” seru Siska sambil menunjuk. “Bukankah kau teman Vero yang tadi?”

Evan hanya tersenyum sinis tanpa menjawab. Ya, lelaki yang kini di depannya adalah Evan.

Sebenarnya, Evan masih ingin pura-pura tidur dan mendengarkan perkataan wanita itu. Namun begitu Siska berusaha menciumnya, ia memilih menghentikan segalanya. Ia tidak sudi disentuh wanita seperti itu—meski cantik—karena baginya, Siska adalah tipe wanita yang terlalu murahan.

“Di mana Vero? Kenapa kau yang di sini?” seru Siska marah.

“Cih. Vero sudah pulang ke rumah, tidur dengan tenang bersama istrinya,” jawab Evan dengan nada sengaja menyindir.

“Ah, sial!” teriak Siska. Ia mengambil bantal dan melemparkannya satu per satu ke arah Evan. Hingga bantal terakhir mengenai pria itu tepat di dada.

“Dasar laki-laki sialan! Kenapa kau harus ikut campur urusanku!”

Evan menangkap bantal itu dan membuangnya dengan kasar, membuat Siska hampir terjatuh.

“Aku peringatkan padamu,” tunjuk Evan kepada Siska. “Sahabatku sudah menikah dan hidup bahagia. Jadi jangan coba-coba merusak rumah tangganya hanya karena obsesi gilamu. Aku pikir kau butuh rumah sakit jiwa untuk memeriksa kejiwaanmu.”

Tamparan keras mendarat di pipi Evan. Siska tersenyum sinis.

“Aku memang gila!” Siska tertawa keras. “Sekarang, kau akan masuk dalam jebakan gilaku. Gara-gara kau, aku tidak bisa memiliki Vero! Sekarang kau tanggung akibatnya dan menggantikannya!”

Evan menoleh ke arah pintu saat terdengar suara riuh dari luar. “Kau … kau memanggil media?”

Siska tertawa keras tanpa menjawab.

Evan segera menarik baju Siska hingga tubuh mereka bertubrukan. “Hentikan mereka sekarang juga!” bentaknya sambil menatap tajam.

Wanita itu hanya menatap balik, sama intensnya.

“Aku pun sudah tidak bisa menghentikannya.”

Setelah kalimat itu meluncur dari bibirnya, beberapa orang telah berhasil

masuk ke dalam ruangan dan membidik kamera ke arah mereka.

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 46 - Perasaan Yang Berubah

    Fatin tidak pernah benar-benar berniat mengintai.Namun entah kenapa, setiap kali secara tidak sengaja ia selalu melihat sesuatu.Sore itu, ia baru saja keluar dari butik tempatnya fitting gaun untuk sebuah acara amal. Ia berdiri di tepi jalan, menunggu mobilnya dijemput.Dan di seberang sana … Ia melihat Evan, bersama Siska.Mereka tidak menyadari keberadaannya.Evan sedang memegang tas belanja di tangan kiri. Tangan kanannya menggenggam jemari Siska. Bukan sekadar menyentuh. Tetapi menggenggam. Seolah takut terlepas.Siska tertawa karena sesuatu yang Evan katakan. Pria itu menunduk sedikit, mendekatkan wajahnya untuk mendengar lebih jelas.Mereka terlalu dekat, terlalu akrab.Fatin menahan napas.Selama bersamanya, ia tidak pernah melihat Evan seperti itu. Tertawa bahagia.Evan memang perhatian. Lembut. Tetapi selalu memberi jarak tak kasat mata yang selalu ia rasakan.Namun dengan Siska?Tampak tak ada jarak.Fatin menggigit bibirnya pelan.Kekasih atau istri? Dua kata itu selalu

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 45 - Serahkan Kepada Pemilik Takdir

    “Siska! Kau gila!” seru Andin tertahan. Ia tidak habis pikir dengan isi kepala sahabatnya tersebut. “Apa otakmu kemasukan air?” Andin menatap bingung. Wanita itu tampak syok dengan penjelasan yang baru saja disampaikan Siska padanya.Siang ini, Siska mengajak Andin bertemu di sebuah cafe yang tidak terlalu ramai. Untuk menjelaskan semuanya. Bagaimanapun, Andin adalah seseorang yang selama ini sangat dekat dengannya, ia merasa perlu untuk bercerita.Siska tersenyum kecil. Andin frustasi.“Sekarang berikan aku penjelasan yang masuk akal?” Andin menatap Siska dengan serius. “Untuk apa kau menginginkan anak dari Evan?”Siska beranjak duduk disamping Andin. Meraih tangan Andin dan menggenggamnya. Kemudian menarik napas dalam.“Kamu tahu kan, sejak kematian ibuku, hanya kau satu-satunya keluarga yang aku punya.” Ucapan Siska terhenti sejenak, namun Andin tidak menyelah.“Setelah menikah aku pikir, aku bisa merasakan kembali rasanya punya keluarga. Tetapi sepertinya takdir itu sedang tidak

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 44 - Terlalu Hangat Untuk Perpisahan

    Pagi itu terasa berbeda. Sinar matahari masuk melalui celah tirai. Hangatnya menyentuh wajah Siska yang masih terpejam. Namun bukan cahaya yang membuatnya terbangun. Melainkan pelukan.Evan.Pria itu masih memeluknya dari belakang. Tangan besarnya melingkar di pinggang Siska, erat. Seolah takut wanita itu menghilang saat ia melepaskan.Siska membuka mata perlahan.“Van …” gumamnya lirih.“Hm …” Evan mendekatkan wajahnya ke tengkuk Siska. Menghirup pelan aroma rambut istrinya.Siska tidak bergerak. Biasanya ia akan mengeluh, menggeser tubuhnya atau pura-pura kesal. Tetapi kali ini tidak. Ia justru memegang tangan Evan yang berada di perutnya.Evan terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat.“Kamu kenapa?” tanyanya pelan.Siska menggeleng. “Tidak apa-apa.”Hanya saja … aku sedang menguatkan diri.Evan mengecup bahunya. “Hari ini jangan ke mana-mana.”“Memangnya kenapa?”“Aku ingin di rumah.”Siska menoleh sedikit. “Tidak kerja?”“Aku bisa terlambat sedikit.”Siska tidak menjawab. Ia hanya

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 43 - Mulai Merindu

    “Maafkan aku,” ucap Evan lembut seraya memeluk Siska.Baru saja Evan meminta izin atau lebih tepatnya memberitahukan bahwa malam ini ia harus mengantar Fatin pulang kampung untuk menjenguk ibunya yang sedang sakit.Jujur saja, tadi Evan ingin menolak. Ia sudah berniat menjaga jarak. Namun suara Fatin yang bergetar di telepon, isakan kecil yang ditahannya, membuat hatinya tak tega.Padahal ia sudah mencoba menjauh. Sudah mencoba menata ulang semuanya. Tetapi waktu seolah belum berpihak padanya.Mungkin … ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk jujur pada Fatin tentang statusnya yang sebenarnya. Berharap, saat hari itu tiba, Fatin tidak membencinya.Siska tidak membalas pelukan itu. Tubuhnya kaku, tangannya menggantung di samping tubuhnya.“Aku mengerti,” jawabnya pelan.Aku mengerti, Van. Fatin lebih penting untukmu.Van … aku benar-benar menyerah.Siska mendorong pelan dada Evan. “Pergilah. Jangan membuatnya menunggu terlalu lama.”Evan terdiam. Ia menatap wajah istrinya, mencari ses

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 42 - Sadar, Namun Tetap Menikmati

    Evan menghentikan mobil di depan sebuah toko olahraga ternama. Siska yang sejak tadi diam akhirnya menoleh.“Kita kesini ngapain?” tanyanya curiga.Evan membuka sabuk pengamannya. “Belanja.”“Belanja apa?” Siska menyipitkan mata.“Baju olahraga.” Evan menoleh santai. “Kau kan mau mulai hidup sehat, kan?”“Aku tidak pernah bilang mau,” bantah Siska cepat.“Tapi aku yang bilang,” jawab Evan ringan. “Turun.”Siska mendengus, tetapi tetap menuruti. Begitu masuk ke dalam toko, matanya langsung menangkap deretan pakaian olahraga dengan warna-warna cerah.“Pilih,” ucap Evan.“Aku tidak biasa pakai yang begini,” gumam Siska sambil menyentuh bahan jaket training.“Itu sebabnya kau harus mulai,” sahut Evan. Ia mengambil satu set baju berwarna abu muda lalu menempelkannya ke tubuh Siska. “Yang ini cocok.”“Kau asal saja,” Siska merengut.Evan tersenyum kecil. “Percaya seleraku.”Siska mendengus lagi, tetapi akhirnya masuk ke ruang ganti. Saat keluar, Evan terdiam sejenak. Bukan karena baju itu l

  • Cinta yang Diracik Takdir    Bab 41 - Senyum yang Disalah Artikan

    Usai pamit dan memberikan kecupan di kening Siska, Evan berangkat ke restoran. Pria itu bersama dengan Fatin. Ya, saat menelpon tadi, fatin minta tolong diantar ke butik karena mobilnya sedang berada di bengkel. Di dalam mobil, Evan menyetir dengan fokus. Fatin duduk di sampingnya, sesekali melirik pria itu.“Van,” panggil Fatin pelan.“Hm?”“Ad sesuatu yang terjadi? Kamu sedikit … terlihat berbeda hari ini,” ucapnya ragu. Fatin dapat melihat raut wajah bahagia pria itu. Wajahnya bahkan tampak berseri-seri. Evan mengerling sekilas. “Beda bagaimana?”“Kamu tampak bahagia” jawab Fatin jujur. Evan terdiam sejenak. Tangannya tetap menggenggam kemudi. “Mungkin, karena aku mendapatkan tawaran endorse.” Evan tertawa terpaksa.Ia tidak mungkin mengatakan, jika malam tadi ia baru saja melepas status perjakanya setelah sekian lama. Dan ia merasa sangat puas. Bahkan rasanya tidak ingin berhenti. Tahu begini, sejak awal Evan sudah meminta haknya kepada istrinya tersebut.Seketika wajah lelah S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status