Share

Bab 2

Penulis: Mettiza
Tubuh Dilla sempat terhenti. Dia menoleh ke belakang dan baru menyadari bahwa orang yang memanggilnya adalah salah satu rekan bisnis yang dulu selalu memohon kerja sama dengan ayahnya. Dalam hati, dia tidak bisa menahan diri untuk menghela napas.

Dilla tidak ingin identitasnya terbongkar. Saat masih memikirkan cara untuk mengelak, salah satu teman yang berjalan di belakang Vino, memandangnya dari atas sampai bawah lalu langsung mencibir.

"Nona apanya? Dilla? Semua pakaiannya ini ada lebih dari 600 ribu nggak? Mana mungkin dia jadi nona? Ngaco."

Begitu kalimat itu diucapkan, tawa ejekan langsung terdengar di sekeliling.

Kali ini mereka tidak berbicara dalam bahasa Prancis. Dilla mendengar semua ejekan itu dengan jelas, tetapi ekspresinya tetap tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Sebaliknya, Vino malah terlihat marah. Dia melemparkan tatapan peringatan yang dingin kepada orang itu.

Orang itu merasa tidak nyaman, lalu sedikit menahan diri dan tidak lagi tertawa terang-terangan. Yang lain juga berhenti setelah menerima tatapan peringatan dari Vino.

Suasana pun kembali tenang.

Orang yang tadi memanggilnya juga tidak mengikuti mereka. Dilla berjalan di belakang Vino dan keduanya tidak mengatakan sepatah kata pun sepanjang perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, Vino melepas jasnya dan menggantungnya di rak pakaian di samping pintu, lalu tiba-tiba berkata, "Sayang, lain kali aku nggak bakal bawa kamu ke acara seperti itu lagi."

Suara dan ekspresi Dilla tetap tenang. Meskipun secara tidak langsung dia baru saja dikeluarkan dari lingkaran pertemanan Vino, ekspresi Dilla tidak menunjukkan perubahan apa pun. Dia hanya bertanya dengan tenang, "Karena kamu merasa aku mempermalukanmu?"

Vino tertawa pelan tanpa sadar. Dia ingin mengusap puncak kepala Dilla, tetapi Dilla menghindar. Dia hanya bisa menjelaskan dengan nada tidak berdaya, "Kamu mikir apa, sih? Aku cuma nggak mau kamu diperlakukan seperti itu."

"Tapi, status kita memang berbeda. Cepat atau lambat kita pasti akan menghadapi situasi seperti ini. Bukankah keluargamu juga pernah mendesakmu untuk menikah demi aliansi keluarga?"

Dilla menatap Vino dan mencoba mencari sedikit rasa bersalah di wajahnya.

Hanya saja, meskipun mendengar kata aliansi pernikahan, ekspresi Vino hanya sempat kaku sesaat sebelum kembali seperti biasanya.

"Dilla, kamu cuma perlu tahu bahwa orang yang aku cintai adalah kamu. Soal hal lain, aku bakal mikirin cara untuk menyelesaikannya."

Kalau tidak diperhatikan dengan sangat teliti, mungkin Dilla benar-benar tidak akan menyadari ada sesuatu yang aneh pada Vino.

Usai bicara, Vino pergi ke kamar mandi untuk bersiap-siap. Melihat punggungnya yang menjauh, Dilla tidak berkata apa-apa, tetapi dalam hatinya berpikir, 'Cara yang kamu maksud itu ... apakah dengan menuruti permintaan keluargamu untuk menikah dengan orang lain, lalu jadikan aku simpanan di luar?'

Tidak jauh dari sana, dari arah meja samping tempat tidur terdengar bunyi notifikasi pesan. Itu adalah ponsel Vino.

Vino tidak pernah merahasiakan kata sandi ponselnya. Jadi, Dilla bisa membuka ponsel itu dengan mudah dan masuk ke halaman pesan. Pesan itu dikirim oleh Serena.

[ Vino, besok kita bakal ketemu kedua pihak orang tua. Kalau malam ini kamu nggak nginap di tempatku, apa nanti mereka nggak akan curiga kalau pernikahan kita cuma pura-pura? Aku tahu yang kamu cintai itu adalah pacarmu, tapi setidaknya tolong hargai aku sedikit beberapa hari ini. ]

Walaupun kata-katanya terdengar rendah hati, Dilla bisa melihat maksud yang tersembunyi di baliknya. Awalnya dia menggunakan alasan kedua orang tua untuk memohon agar Vino tinggal bersamanya.

Lalu setelah itu? Dia hanya akan terus memakai alasan yang sama, selangkah demi selangkah dan semakin berlebihan. Namun, semua itu sudah tidak ada hubungannya lagi dengan dirinya. Dilla sudah memutuskan untuk pergi.

Dengan memikirkan hal itu, Dilla mengatur pesan itu kembali menjadi belum dibaca, lalu meletakkan ponsel itu kembali ke tempatnya. Tak lama kemudian, Vino keluar dari kamar mandi setelah selesai bersiap. Dia mengambil ponselnya dengan santai dan melihatnya sekilas, lalu pada detik berikutnya menatap Dilla dengan rasa bersalah.

"Dilla, tiba-tiba ada urusan mendesak di perusahaan yang harus aku tangani. Malam ini aku nggak pulang. Kamu istirahat yang baik di rumah."

Vino pergi dengan terburu-buru. Dia tidak sempat memperhatikan reaksi Dilla, juga tidak menyadari bahwa Dilla yang biasanya selalu mengantarnya keluar sambil bermanja dan mengeluh agar dia lebih sering meluangkan waktu menemaninya, kali ini sama sekali tidak menahannya. Dia hanya berdiri di tempat dan memandangi punggung Vino yang semakin jauh.

Tak lama setelah itu, ponselnya sendiri berbunyi.

[ Aku cuma perlu ngomong satu kalimat saja, Vino bakal langsung datang nyari aku. Besok kami bakal ketemu orang tua. Setelah kami benar-benar nikah nanti ... menurutmu kamu bakal jadi apa? Seorang ... kekasih gelap yang nggak boleh diketahui orang? ]

Kata-kata Serena sangat menyakitkan.

Namun, yang lebih menyakitkan bagi Dilla adalah bahwa pisau yang digunakan orang lain untuk melukainya ... adalah pisau yang dulu diberikan sendiri oleh pria yang pernah dikiranya bisa dipercayai seumur hidup.

Vino mungkin tidak tahu, bahkan jika Dilla tidak menemukan undangan pernikahan itu, kabar bahwa dia akan menikah dengan orang lain tetap tidak akan bisa disembunyikan terlalu lama. Sebab, sehari setelah Dilla menemukan undangan itu, Serena menambahkan dirinya sebagai teman. Sejak beberapa hari terakhir ini, Serena terus mengirimkan berbagai foto provokatif kepadanya.

Ada foto Vino menemani Serena mencoba gaun pengantin, foto mereka berdua memilih cincin berlian, juga foto mereka bersama melihat lokasi pernikahan.

Satu demi satu foto itu benar-benar menghancurkan seluruh cinta yang dulu dirasakan Dilla untuk Vino.

Malam itu, Vino tidak pulang dan Dilla sama sekali tidak memedulikannya.

Keesokan paginya setelah bangun, Dilla hanya mandi dan bersiap-siap dengan simpel, lalu langsung pergi ke perusahaan untuk mengajukan pengunduran diri. Hari itu juga, semua prosedur pengunduran dirinya selesai.

Saat jam makan siang, dia makan di bawah gedung bersama beberapa rekan kerja. Setelah mendengar bahwa dia sudah menyelesaikan proses pengunduran diri, salah satu rekan yang cukup dekat dengannya pun bercanda.

"Akhir-akhir ini aku sering lihat video yang bilang kalau rekan kerja yang tiba-tiba resign itu sebenarnya pulang untuk mewarisi bisnis keluarga. Dilla, kamu resign-nya cepat sekali, jangan-jangan kamu juga mau pulang untuk mewarisi bisnis keluarga?"

Rekan itu hanya asal menceletuk, tetapi Dilla malah mengangguk pelan. "Iya, aku mau pulang untuk mewarisi bisnis keluarga."

Semua orang sempat tertegun sejenak, lalu langsung tertawa. Mereka hanya menganggap kata-kata Dilla sebagai lelucon dan tidak benar-benar memikirkannya.

Dilla tersenyum, tetapi tidak menjelaskan apa pun lagi. Setelah selesai makan, dia merapikan semua barangnya dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak, lalu langsung memeluk kotak itu dan pulang ke rumah.

Saat dia sampai di rumah, kebetulan Vino sedang berada di sana. Melihatnya masuk sambil membawa sebuah kotak, Vino merasa agak aneh.

"Kamu resign?"

Dilla mengangguk, lalu memeluk kotak itu dan berjalan menuju kamar. Namun, alis Vino langsung berkerut erat dan dia memanggil Dilla, "Bukannya kamu suka banget sama pekerjaan itu? Kenapa tiba-tiba resign?"

Langkah Dilla terhenti sejenak. Ketika menoleh ke arahnya, Dilla menunjukkan sebuah senyum. "Karena selanjutnya aku punya pekerjaan yang lebih ingin aku lakukan."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 24

    "Orang yang menekan Grup Radhika bukan aku. Kenapa kamu nggak mohon sama dia saja?" ucap Dilla sambil tersenyum. Senyumnya tampak tidak tulus."Lagian, Vino, bukannya kamu sudah habisin perasaan kita semua dulu, ya?"Saat Vino diam-diam bertunangan dengan orang lain di belakangnya dan hanya berniat menjadikannya sebagai kekasih gelap.Saat dia berbicara dalam bahasa Prancis bersama teman-temannya dan menertawakan serta merendahkan Dilla dengan bebas, tanpa pernah berpikir untuk menghentikan mereka.Saat Serena dan teman-temannya menyebarkan fitnah tentang dirinya, sementara Vino memilih untuk menjadi orang yang tidak terlihat.Sekarang Vino malah datang untuk membahas tentang hubungan mereka di masa lalu. Namun pada saat-saat itu, kenapa Vino tidak pernah ingat bahwa mereka pernah saling mencintai?Begitu kata-kata itu diucapkan, wajah Vino langsung memucat. Pada saat itu dia hanya merasakan tenggorokannya pahit dan sulit untuk menelan ludah."Dilla, aku tahu aku salah. Aku minta maaf

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 23

    Serena benar-benar telah ditinggalkan sepenuhnya.Dilla tidak terlalu memperhatikan kelanjutan dari masalah itu lagi. Dia percaya bahwa dengan kemampuan tim legal Group Prosper, mereka pasti bisa membuat orang-orang itu menerima ganjaran yang setimpal.Hanya saja, Dilla tetap merasa agak terkejut ketika mendengar bahwa tidak ada seorang pun yang menyewa pengacara untuk membela Serena saat dia diadili.Sebenarnya, jika Serena tidak mencari masalah dengan Dilla, dia bisa saja mempertahankan kedamaian dengan Vino dan menjadi pasangan pernikahan politik yang sangat biasa di kalangan keluarga kaya.Namun, dia malah tidak pernah merasa puas.Saat Dilla masih berada di sisi Vino, dia ingin menyingkirkan Dilla. Setelah Dilla pergi, dia malah melampiaskan semua keluhannya kepada Dilla dan bersikeras ingin menginjak Dilla di bawah kakinya. Pada akhirnya, dia malah berakhir seperti ini.Teman-teman Vino yang dipimpin oleh Yufan juga sama. Mereka selalu menyanjung orang yang lebih kuat dan meremeh

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 22

    Suara mesin mobil yang melaju semakin menjauh, dan kebencian di mata Serena pun semakin dalam. Apa yang dia lakukan bukanlah tindakan impulsif.Sejak dia kembali dari Kota Edo kali ini, Keluarga Albirru mengetahui bahwa Serena telah merusak proses tender dan bahkan menyinggung putri keluarga terkaya. Oleh karena itu, mereka langsung meninggalkannya tanpa ragu.Serena sebenarnya ingin menggunakan pernikahannya dengan Vino untuk mengokohkan posisinya di Keluarga Albirru. Namun begitu dia baru saja menyinggung hal itu, orang tua Serena langsung menamparnya."Kamu masih berani ngomong soal pernikahan sama Vino? Begitu Vino kembali hari ini, dia langsung datang untuk membatalkan pertunangan. Bahkan seorang pria pun nggak bisa kamu pertahankan. Coba kamu bilang sendiri, kamu ini ada gunanya nggak, sih?"Baru pada saat itulah, Serena menyadari bahwa dia telah ditinggalkan oleh semua orang.Namun, kenapa?'Dilla, karena kamu ... aku ditinggalkan oleh Keluarga Albirru dan dibenci oleh Vino. Lal

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 21

    Mendengar kelembutan dan kegelisahan dalam suara Zior, Dilla hanya merasa perasaan sesak di dadanya seketika lenyap. Dia tertawa pelan sebelum berkata, "Nggak apa-apa. Aku nggak selemah itu. Ini cuma rumor, aku bisa menanganinya sendiri.""Baik."Melihat suasana hatinya masih baik, hati Zior yang semula tegang akhirnya sedikit lega. Dia sebenarnya tidak ingin menutup telepon, tetapi juga tidak tahu harus mengatakan apa lagi saat ini. Suasana di antara mereka tiba-tiba menjadi sunyi.Dalam keheningan yang panjang itu, Dilla seolah bisa mendengar napas Zior yang pelan lewat telepon. Pada akhirnya, Dilla yang duluan berkata, "Zior, terima kasih."'Walaupun aku nggak bakal gimana-gimana hanya karena rumor nggak berdasar itu, tapi terima kasih atas perhatianmu.'Kalimat terakhir itu dia tambahkan dalam hati. Setelah itu, Dilla buru-buru menutup telepon.Di sisi lain, Zior memegang ponsel yang sudah terputus sambungannya. Dia hanya merasa waktu berlalu begitu cepat. Seandainya waktu bisa ber

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 20

    Zior sudah menunggu selama bertahun-tahun, jadi tentu dia tidak keberatan menunggu sedikit lebih lama lagi. Seperti yang dikatakan Dilla, untuk sementara mereka hanya menjadi teman. Terlebih lagi, dari orang asing bisa berkembang menjadi teman saja sudah membuatnya sangat puas.Malam itu, berbeda dengan dua orang di Kota Harcos yang tidak bisa tidur semalaman, Dilla dan Zior malah tidur dengan sangat nyenyak.Hingga keesokan paginya, Dilla terbangun karena ponselnya terus berbunyi tanpa henti. Dengan mata masih setengah terbuka karena mengantuk, dia baru menyadari bahwa akun media sosialnya sedang dibombardir.Nada notifikasi terus berbunyi tanpa henti. Dilihat sekilas, semuanya dipenuhi makian penuh kebencian. Tepat pada saat itu, sebuah nomor dari Kota Harcos meneleponnya. Setelah dia mengangkatnya, barulah dia tahu penelepon itu adalah temannya di Kota Harcos, Indah."Dilla, kamu sudah lihat komentar-komentar di internet itu belum? Netizen itu benar-benar tukang ikut-ikutan, langsun

  • Cinta yang Hanyalah Ucapan Palsu   Bab 19

    Kata "kami" itu langsung membuat Vino dan Serena terpaku di tempat.Jadi maksudnya, bukan hanya dia, Dilla juga datang untuk ikut dalam tender?Informasi orang lainnya yang ikut dalam tender jelas tidak cocok dengan identitas Dilla. Satu-satunya yang tersisa hanyalah ... putri tunggal keluarga terkaya Kota Edo, Nona Besar Keluarga Safira.Begitu menyadari hal itu, wajah Vino dan Serena seketika menjadi pucat. Ketika mereka menoleh ke sekeliling, mereka melihat orang-orang di sekitar sedang memandang dengan ekspresi seru. Pada saat itu, mereka baru menyadari bahwa sebenarnya merekalah yang sedang menjadi tontonan.Wajah Vino menjadi pucat dan merah secara bergantian. Dia bahkan tidak lagi peduli bahwa mereka datang untuk mengikuti tender. Dia langsung berbalik dan buru-buru meninggalkan aula pesta dengan perasaan malu.Melihat Vino pergi, Serena menatap Dilla dengan penuh kebencian, lalu segera mengejarnya dan pergi dengan langkah tergesa-gesa. Dilla melihat tatapan penuh kebencian itu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status