LOGIN"Luke?" bisik Anne, nyaris tanpa suara. Pria dengan senyuman yang menghantui malam-malam Anne selama ini.... sedang berdiri di hadapannya. Sorot matanya yang tampak begitu lelah, seketika bersinar di bawah lampu remang. Meski penerangan tak cukup untuk melihatnya dengan jelas, Anne tahu bahwa ada serpihan air mata di sudut mata pria itu. Anne kehilangan kata-kata, matanya memanas. Namun sebelum ia sempat menumpahkan segala emosinya, Anne tersadar satu hal. Ia segera menarik tangan pria itu-yang membuatnya terasa lebih nyata-memasuki kamarnya. Anne mengunci pintu dengan tangan gemetar sebelum berbalik. Sosok itu masih ada, membuat Anne terpana di tempatnya. "Kau.... itu tidak mungkin kau..." Lirih Anne, ia jelas tak percaya namun penglihatannya berkata lain. Luke, pria itu perlahan mendekat, dan dari pencahayaan di kamar Anne yang lebih terang dari luar sana, Anne akhirnya melihat bahwa wajah pria itu dipenuhi oleh lebam dan luka goresan yang baru saja mengering. Tetap
Anne Hawthorne yang sebentar lagi akan menyandang gelar The Marchioniss dan menjadi Nyonya Langley tak dapat mengelak segala ritual kecantikan yang telah disiapkan oleh kepala pelayan. Segala macam bedak telah dibalurkan di seluruh tubuhnya. Wewangian yang sempat Anne hindari bahkan ia berikan pada Leah pun tak luput ia dapatkan. Pada akhirnya, sang pelayan menyuruhnya berendam di dalam bak berisi wewangian yang menusuk hidung. "Karena Anda mengaku telah menumpahkan seluruh isi botol wewangian, maka kepala pelayan mempertaruhkan nama baiknya menemui sang peracik sekali lagi demi mendapatkan wewangian yang bahkan tak dijual di manapun." omel Rose kala itu, ketika ia mendapati wangi tubuh Anne keesokan harinya tak seperti yang mereka harapkan. Anne hanya bisa meringis, tanpa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada botol wewangian itu. "Kepala pelayan pasti sangat kesulitan. Tenang saja, aku akan bersikap baik mulai sekarang.""Sebaiknya begitu, Nona." timpal Rose, menyiratkan
Keesokan harinya, Anne harus berangkat pagi-pagi sekali sebelum fajar bersama para pelayan yang berbondong-bondong menaiki kereta yang akan membawa mereka ke Ibu Kota. Karena perayaan pernikahan membutuhkan lebih banyak bahan makanan yang segar, beberapa pelayan dikirim ke pasar Ibu Kota. Anne mengeratkan jaket abu-abu serta syal khas pelayan yang melekat di tubuhnya. Syal tersebut baru ia turunkan dari wajahnya saat ia telah duduk dengan aman di dalam kereta bersama pelayan lainnya. Anne menghela napas lega ketika ia melihat kereta mulai menjauh dari kediaman Hawthorne tanpa hambatan. Anne terpaksa melakukan hal ini agar 'mata-mata' yang ditugaskan Victor untuk mengawasinya tak menyadari bahwa ia tengah menyelinap keluar demi bertemu dengan seseorang. Menyamar menjadi seorang pelayan atas ide Rose ternyata sangat bekerja. Sementara itu, Rose tetap tinggal. Rose akan berdiam diri di kamar Anne selama wanita itu belum kembali. Maka, tak akan ada yang curiga bahwa kamar ters
Malam-malam sebelum pernikahan sejatinya adalah malam yang sangat penting. Berbagai ritual kecantikan dilakukan oleh calon pengantin demi memberikan penampilan yang terbaik untuk pasangan. Meski terbilang sangat terlambat untuk Anne yang pernikahannya tinggal menghitung hari, wanita itu sebenarnya tak terlalu membutuhkannya. Selain karena Anne pun telah melakukan beberapa perawatan setiap harinya, Anne merasa tidak perlu mempersiapkan banyak hal hanya untuk menikahi Victor. Meski demikian, Rose sang pelayan tetap menemui Anne malam ini, jemari wanita itu bergerak telaten menyisir Nonanya di hadapan cermin sembari membawakan sejumlah wewangian yang akan dipakai Anne untuk berendam seharian di esok hari sebelum hari pernikahan tiba. "Kau tahu aku tidak perlu memakai semua wewangian itu." sahut Anne, menatap pantulan dirinya di depan cermin. Rambut cokelat gelapnya yang tergerai, sedang dibubuhi oleh bedak beraroma mawar oleh sang pelayan. "Ini... sudah seperti tradisi, Nona. Saya h
"Bagus, karena aku... akan terus mengawasimu." Anne menyunggingkan senyum tipis, namun matanya menantang. "Awasi saja sesukamu." Victor terdiam. Ia tidak tahu mengapa tetapi ia merasa Anne terlalu tenang untuk menghadapi pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya. Rasanya sangat aneh jika wanita itu tiba-tiba menerima semuanya tanpa perlawanan. Namun, Victor cukup percaya diri. Lusa adalah pernikahan mereka, memang apa yang bisa wanita itu lakukan dalam dua hari? Mungkin, Anne akhirnya berubah pikiran dan menerima pernikahan mereka. Tanpa mengatakan sepatah kata, Victor mendekat. Ia tersenyum, senyum yang begitu menawan di mata wanita manapun termasuk Anne dahulu. Pria itu kemudian mencondongkan wajahnya, berniat mengecup bibir calon istrinya tanpa memedulikan sekitar. Anne membeku, melihat Victor mendekat membuat wanita itu sontak memalingkan wajahnya hingga ciuman tersebut hanya mendarat di pipinya. Anne memejamkan mata, tak ingin melihat wajah pria itu. Victor
Sehancur dan seberantakan apapun Anne, Victor tampaknya sama sekali tak peduli dengan keadaan wanita itu. Meski pagi itu Anne telah menolak untuk mengunjungi penjahit dengan alasan kesehatan, Victor tidak mendengarkan. Pria itu tetap memaksa Anne bersiap-siap dan pergi ke kota bersama. Beruntung Victor masih berbaik hati mengizinkan Anne membawa Rose. Karena dapat dipastikan bahwa wanita itu akan berpikir untuk melarikan diri saat itu juga jika saja Victor memaksa untuk pergi berdua saja. Beberapa pegawai rumah penjahit itu berjejer di hadapan Anne, membawakan berbagai desain gaun pengantin yang mewah dan indah pilihan Victor. Begitu berkilau dan mencolok, ada sekitar sepuluh setelan gaun yang setidaknya harus Anne coba. Namun, Anne tampak tak tertarik dengan kemilaunya. Wanita itu hanya terduduk diam memandangi luar jendela yang sedang cerah. Sangat kontras dengan matanya yang terkulai sembab dengan hidung yang memerah, serta tatapan kosongnya yang tampak menyedihkan. Ros
Plak! Sebuah tamparan keras mengenai pipi Leah hingga membuat wanita itu terhuyung ke samping, ia nyaris terjatuh menyentuh lantai koridor yang dingin. Bunyi tamparan tersebut menggema, membuat siapapun yang mendengarnya akan bergidik ngeri. Beruntung jarak koridor dengan pusat pesta berada c
Hidup pada zaman di mana manusia dipandang berdasarkan status dan golongan memanglah tidak mudah. Para wanita yang tidak bergelar harus siap dikucilkan oleh masyarakat, pun para pria yang sejak lahir tak memiliki gelar terpaksa menjalani hidup sebagai buruh biasa. Sistem kerajaan memang sedikitn
Alunan musik Waltz yang megah mengalun syahdu di bawah kubah langit-langit aula mansion Ashford. Ratusan lilin di dalam lampu gantung memancarkan cahaya keemasan hangat yang memantul sempurna di atas lantai marmer yang mengkilat. Menandai berakhirnya musim kali ini, The Duke of Ashford berhasil
"The Duke tipe yang kesepian." Anne berkedip, kini memfokuskan seluruh atensinya pada Lydia. "Kesepian?" Lydia menoleh kanan kiri, memastikan tak ada yang mengawasi mereka sebelum membawa Anne untuk masuk ke dalam hamparan bunga lebih jauh. Sembari berjalan, Lydia mulai bercerita. "Hidup The Duke







