Masuk"Jadi, semua rumor itu... benar?" bisik Anne, jemari lentiknya bermain menyusuri dada bidang Luke yang berdegub kencang di balik kemejanya. Wanita itu merebahkan kepalanya dengan nyaman di atas lengan kokoh Luke yang tengah bersandar di kepala tempat tidurnya. Tirai jendela dibiarkan terbuka, membiarkan sinar bulan menjadi satu-satunya penerangan di ruang yang gelap itu. Menjadi saksi terhadap dua insan yang tengah memadu kasihnya di atas ranjang. Anne bersikeras bahwa Luke harus beristirahat, dan tak keberatan jika mereka harus mengobrol dalam posisi berbaring. Lagipula Anne menyukai posisi ini, di mana ia bisa merasakan hangat tubuh yang amat ia rindukan itu. Luke menarik napas pelan dan stabil, wajahnya tampak rumit. "Beberapa ya, sisanya.... aku tidak tahu." "Tidak tahu? Bagian mana tepatnya?" tanya Anne pelan, tak ingin terkesan menuntut. "Victor... sepertinya mengambil banyak informasi dari kerabat Ayahku yang jelas membenci ibu kandungku." Luke tersenyum getir, ma
"Luke?" bisik Anne, nyaris tanpa suara. Pria dengan senyuman yang menghantui malam-malam Anne selama ini.... sedang berdiri di hadapannya. Sorot matanya yang tampak begitu lelah, seketika bersinar di bawah lampu remang. Meski penerangan tak cukup untuk melihatnya dengan jelas, Anne tahu bahwa ada serpihan air mata di sudut mata pria itu. Anne kehilangan kata-kata, matanya memanas. Namun sebelum ia sempat menumpahkan segala emosinya, Anne tersadar satu hal. Ia segera menarik tangan pria itu-yang membuatnya terasa lebih nyata-memasuki kamarnya. Anne mengunci pintu dengan tangan gemetar sebelum berbalik. Sosok itu masih ada, membuat Anne terpana di tempatnya. "Kau.... itu tidak mungkin kau..." Lirih Anne, ia jelas tak percaya namun penglihatannya berkata lain. Luke, pria itu perlahan mendekat, dan dari pencahayaan di kamar Anne yang lebih terang dari luar sana, Anne akhirnya melihat bahwa wajah pria itu dipenuhi oleh lebam dan luka goresan yang baru saja mengering. Tetap
Anne Hawthorne yang sebentar lagi akan menyandang gelar The Marchioniss dan menjadi Nyonya Langley tak dapat mengelak segala ritual kecantikan yang telah disiapkan oleh kepala pelayan. Segala macam bedak telah dibalurkan di seluruh tubuhnya. Wewangian yang sempat Anne hindari bahkan ia berikan pada Leah pun tak luput ia dapatkan. Pada akhirnya, sang pelayan menyuruhnya berendam di dalam bak berisi wewangian yang menusuk hidung. "Karena Anda mengaku telah menumpahkan seluruh isi botol wewangian, maka kepala pelayan mempertaruhkan nama baiknya menemui sang peracik sekali lagi demi mendapatkan wewangian yang bahkan tak dijual di manapun." omel Rose kala itu, ketika ia mendapati wangi tubuh Anne keesokan harinya tak seperti yang mereka harapkan. Anne hanya bisa meringis, tanpa memberitahu apa yang sebenarnya terjadi pada botol wewangian itu. "Kepala pelayan pasti sangat kesulitan. Tenang saja, aku akan bersikap baik mulai sekarang.""Sebaiknya begitu, Nona." timpal Rose, menyiratkan
Keesokan harinya, Anne harus berangkat pagi-pagi sekali sebelum fajar bersama para pelayan yang berbondong-bondong menaiki kereta yang akan membawa mereka ke Ibu Kota. Karena perayaan pernikahan membutuhkan lebih banyak bahan makanan yang segar, beberapa pelayan dikirim ke pasar Ibu Kota. Anne mengeratkan jaket abu-abu serta syal khas pelayan yang melekat di tubuhnya. Syal tersebut baru ia turunkan dari wajahnya saat ia telah duduk dengan aman di dalam kereta bersama pelayan lainnya. Anne menghela napas lega ketika ia melihat kereta mulai menjauh dari kediaman Hawthorne tanpa hambatan. Anne terpaksa melakukan hal ini agar 'mata-mata' yang ditugaskan Victor untuk mengawasinya tak menyadari bahwa ia tengah menyelinap keluar demi bertemu dengan seseorang. Menyamar menjadi seorang pelayan atas ide Rose ternyata sangat bekerja. Sementara itu, Rose tetap tinggal. Rose akan berdiam diri di kamar Anne selama wanita itu belum kembali. Maka, tak akan ada yang curiga bahwa kamar ters
Malam-malam sebelum pernikahan sejatinya adalah malam yang sangat penting. Berbagai ritual kecantikan dilakukan oleh calon pengantin demi memberikan penampilan yang terbaik untuk pasangan. Meski terbilang sangat terlambat untuk Anne yang pernikahannya tinggal menghitung hari, wanita itu sebenarnya tak terlalu membutuhkannya. Selain karena Anne pun telah melakukan beberapa perawatan setiap harinya, Anne merasa tidak perlu mempersiapkan banyak hal hanya untuk menikahi Victor. Meski demikian, Rose sang pelayan tetap menemui Anne malam ini, jemari wanita itu bergerak telaten menyisir Nonanya di hadapan cermin sembari membawakan sejumlah wewangian yang akan dipakai Anne untuk berendam seharian di esok hari sebelum hari pernikahan tiba. "Kau tahu aku tidak perlu memakai semua wewangian itu." sahut Anne, menatap pantulan dirinya di depan cermin. Rambut cokelat gelapnya yang tergerai, sedang dibubuhi oleh bedak beraroma mawar oleh sang pelayan. "Ini... sudah seperti tradisi, Nona. Saya h
"Bagus, karena aku... akan terus mengawasimu." Anne menyunggingkan senyum tipis, namun matanya menantang. "Awasi saja sesukamu." Victor terdiam. Ia tidak tahu mengapa tetapi ia merasa Anne terlalu tenang untuk menghadapi pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya. Rasanya sangat aneh jika wanita itu tiba-tiba menerima semuanya tanpa perlawanan. Namun, Victor cukup percaya diri. Lusa adalah pernikahan mereka, memang apa yang bisa wanita itu lakukan dalam dua hari? Mungkin, Anne akhirnya berubah pikiran dan menerima pernikahan mereka. Tanpa mengatakan sepatah kata, Victor mendekat. Ia tersenyum, senyum yang begitu menawan di mata wanita manapun termasuk Anne dahulu. Pria itu kemudian mencondongkan wajahnya, berniat mengecup bibir calon istrinya tanpa memedulikan sekitar. Anne membeku, melihat Victor mendekat membuat wanita itu sontak memalingkan wajahnya hingga ciuman tersebut hanya mendarat di pipinya. Anne memejamkan mata, tak ingin melihat wajah pria itu. Victor
Persiapan pesta dansa puncak di kediaman Ashford telah dimulai sejak pagi tadi. Meski pestanya baru digelar dua hari ke depan yaitu di awal minggu ke empat, The Duke of Ashford memutuskan untuk melalukan persiapan jauh hari demi hasil yang maksimal. Ini kali kedua keluarga Ashford terpilih menja
Tangis Anne seketika pecah. Luke, pria itu berdiri di sana. Sehat tanpa kurang sedikitpun, dengan senyuman menawan yang amat Anne rindukan setiap waktu. Pandangan Anne buram oleh air mata yang terus mendesak keluar. Anne bahkan tidak yakin apakah ia berhalusinasi atau tidak. Namun Anne tetap mele
Sebuah tarikan napas memecah keheningan ruangan. Kelopak mata Luke terbuka secara serentak. Sepasang manik legamnya langsung bertemu langit-langit kamar yang familier. Berwarna emas dengan ukiran-ukiran terampil. Ini... bukankah.... 'Tidak, kenapa aku ada di sini? Bukankah sebelumnya aku bera
"Ah, rupanya Lady Hawthorne juga ada di sini?" Anne perlahan menoleh, menemukan Victor yang tengah menyeringai ke arahnya dengan satu tangan ia masukkan ke saku celananya. Anne memutar bola matanya dan berpaling, sungguh ia tidak punya waktu dengan ini. "Tetapi aku tidak melihat The Duke y






