Share

BAB 5. THE DUKE OF ASHFORD

Author: queenaars
last update publish date: 2026-02-19 09:25:21

Mata Anne melebar terkejut melihat tunangannya itu telah tiba di sana.

Victor melangkah dengan menghentak-hentak mendekatinya. Lalu ia menarik tangan Anne yang masih digenggam Luke dan menarik gadis itu menjauh.

“Permisi, Tuan, nona ini adalah tunangan saya,” desis Victor pada Luke yang hanya mengangguk, namun tatapan tegasnya sama sekali tak goyah.

“Victor, aku hanya—”

“Aku tahu aku terlambat. Sudah berapa kali kujelaskan jika aku memiliki kesibukanku sendiri sebagai Marquess. Kau masih tidak memahami itu?” gertak Victor tanpa mendengarkan penjelasan Anne, cengkramannya pada Anne mengerat.

Di masa lalu, Victor juga seperti itu, setelah membuat Anne lama menunggu di tanggal yang sudah mereka tentukan. Bukannya meminta maaf karena datang terlambat, ia malah menyalahkan Anne yang disebut tidak sabaran.

“Mengapa kau pergi duluan dan meninggalkanku? Apa kau sengaja menghinaku seperti ini? Apa kau sebegitu tidak sabarnya untuk mendaftarkan pernikahan kita?” lanjutnya, terdengar nada jengkel dalam suaranya, tengah menatap Anne dengan sorot tajam.

Sementara Anne meringis kesakitan karena cengkraman pada pergelangan tangannya.

Pria itu, sejak dulu pun selalu merendahkan Anne. Mengapa Anne tidak pernah sadar dan bodohnya tetap menikahi Victor?

Pandangan Anne sedikit terangkat untuk melihat wajah Victor. Ia memang tampan. Wajah yang membuatnya tergila-gila di masa lalu, yang membuatnya bertanya-tanya mana mungkin seorang manusia biasa bisa seindah itu?

Namun, dengan wajah yang sama, Anne kini hanya bisa memandanginya dengan kemarahan.

Air mata tiba-tiba saja menggenang di pelupuk matanya, kepalan tangannya semakin erat. Kenangan sebelum ia mati mulai berputar jelas di benaknya.

Bagaimana pria itu memilih untuk mendahulukan wanita lain dibandingkan dirinya sebagai istri, meninggalkannya mati sendirian di akhir hidupnya.

Anne memalingkan wajahnya, berusaha mengendalikan diri. Ia menyeka air matanya dengan perasaan hancur.

Mengingat hal itu, Anne marah dan menyentak pegangan Victor hingga terlepas. Ia kembali menatap pria itu. “Begitukah, Lord Langley? Apa kau benar ingin menikah denganku?”

“Apa maksudmu? Jangan konyol!” Victor Langley mengerutkan kening mendengar perkataan Anne. “Cepat selesaikan urusan ini, aku sibuk. Ayo, temui Ratu segera.”

Pria itu lalu menarik Anne menuju ruang tahta Ratu. Tapi Anne menarik tangannya, tidak menuruti perintah Victor.

“Aku memang ingin menemui Ratu, tapi tidak bersamamu,” ucap Anne tegas.

Amarah Victor tidak tertahankan karena ini pertama kalinya Anne melawan perintahnya. “Annelise Hawthorne!”

“Aku di sini untuk membatalkan pernikahan kita,” lanjut Anne.

Wajah Victor memerah. Ia berpikir Anne sengaja memancing amarahnya. Maka, ia akan memberinya pelajaran. Victor mengangkat tangannya dan dengan kuat mengayunkannya ke wajah Anne.

Namun, sebelum tamparan itu mendarat, tangan Victor tercekat di udara.

Ia tercengang begitu mengetahui Luke Ashford sudah berdiri di dekat mereka dan mencengkram tangannya sebelum menampar Anne.

“Apa yang—”

“Mengapa Anda sangat nyaman menyakiti seorang nona bangsawan?” Suara Luke menggema, begitu dalam dan tenang, tapi sorot matanya dingin.

Victor merinding. Aura pria ini mengintimidasi, membuatnya sontak mundur sambil menepis cengkraman tangannya.

“Jangan ikut campur, Tuan. Ini urusan saya dengan tunangan saya,” ucap Victor sambil merapikan kerah jubahnya, menutupi keterkejutannya.

Anne pun juga terkejut. Tapi ia bersyukur karena pria ini menyelamatkannya dari tamparan Victor.

“Tunangan? Saya tidak yakin Anda bisa menyebut Nona Hawthorne senyaman itu lagi,” Luke menjawab tenang, melirik ke arah Anne yang masih terdiam. “Katakan, Nona, apakah Anda masih mengakui Tuan ini sebagai tunangan Anda?”

Anne tersentak sejenak, lalu sorot matanya menajam penuh tekad. “Tidak. Tidak lagi.”

“Kau—!” Victor berseru tertahan.

“Saya di sini untuk meminta izin Ratu membatalkan pernikahan kita,” tukas Anne.

Victor tercekat. Seperti yang Anne duga, ia tidak bisa membalas perkataan itu.

Anne ingat sekali bahwa setiap kali dirinya berbuat sesuatu yang membuat Victor kesal, maka pria itu akan mengancamnya untuk membatalkan pernikahan dan mempermalukan keluarganya dengan kekuasaannya.

Namun, Anne tidak akan gentar kali ini, sebab ancaman itu tak akan mempan lagi padanya, karena ia sendiri yang meminta membatalkan pernikahan.

“Wanita tak tahu diri! Kau seharusnya bersyukur aku nikahi. Aku akan mengangkat gelarmu!”

Seruan itu membuat Anne tersinggung. “Siapa yang sebenarnya tidak bersyukur di sini, Tuan? Keluarga saya membayar mahar yang mahal untuk pernikahan ini, sesuai persyaratan yang Anda ajukan. Anda sudah menguasai kekayaan Baron, bukankah Anda yang begitu diuntungkan?”

“Kau!” Victor berdesis tajam. “Aku tidak tahu apa yang merasukimu saat ini, tetapi kita telah sepakat untuk menikah, jadi tutup mulutmu!”

“Aku tidak dirasuki apapun. Aku sehat dan belum mati, aku membuat keputusan ini karena sadar betapa bodohnya aku di masa lalu, sampai mau menikah dengan pria sepertimu!” balas Anne tajam.

Victor terpancing emosi lagi, keinginan untuk menampar Anne naik lagi, tapi Luke yang menatapnya dingin di sampingnya seolah sudah siap menghentikannya.

Jadi ia hanya tersenyum miring, seolah mengejek. “Kau yakin ingin membatalkan pernikahan ini? Apa kau tahu akibatnya?”

Anne tidak menjawab, hanya terus menatap Victor dengan sorot menantang seolah ingin mendengar lebih jauh. Memang apa nasib yang lebih buruk daripada mati dengan penyesalan karena menikah?

“Kau pikir apa kata orang-orang jika seorang bangsawan tinggi sepertiku tiba-tiba saja membatalkan pernikahan dengan seorang bangsawan rendah sepertimu? Rumor apa yang bisa tersebar? Bahwa Nona Hawthorne ternyata sudah tidak suci lagi? Atau bahwa keluarga Baron sudah terlibat skandal yang tidak bisa diselamatkan, hingga Marquess mundur dan mencabut permohonan menikah?”

Anne mengepalkan tangannya erat, pria di hadapannya itu sungguh bajingan.

Victor sangat tahu bahwa Anne adalah wanita yang sangat peduli terhadap keluarganya, mengancam wanita itu dengan keluarganya tentu saja akan membuat Anne tak berkutik.

Karena Anne tahu, Victor tidak hanya sekadar main-main. Pria yang memiliki kuasa sebesar Victor itu sanggup melakukan rencana liciknya. Ia sudah menyaksikan sendiri bagaimana Victor mengancam memecat para bawahan jika tidak segera melayani Leah.

Tangan Anne mengepal erat di sisinya. “Jika kau sangat ingin menikah, maka nikahi saja Leah. Kau memiliki hubungan dengannya, kan? Kau pikir aku tidak tahu?”

Victor tertegun, terkejut mendengar perkataan Anne. Memang seharusnya, di masa ini Anne tidak tahu tentang Leah. Nama itu bahkan jarang disebutkannya, mengapa wanita yang mudah dibodohi itu kini seolah tahu semua hal yang Victor sembunyikan?

“Anne, aku tidak tahu apa yang kau bicarakan. Tetapi yang pasti, apa yang telah disepakati tidak boleh ditarik kembali. Aku akan tetap menikahimu apapun yang terjadi. Jadi, terima saja pernikahan ini, kau akan menjadi Marchioness, kau akan diperlakukan dengan baik,” suara Victor tiba-tiba melembut.

Anne geram. Pria ini mudah sekali berbohong untuk mendapatkan hatinya.

“Tidak. Aku tidak butuh pernikahan denganmu. Aku akan mencari cara untuk membatalkan pernikahan ini tanpa campur tangan darimu.”

“Begitukah?” Bibir Victor berkedut, merasa geli. “Kalau begitu, nikahilah pria yang gelarnya lebih tinggi dariku. Kau harus menikahi setidaknya seorang Duke untuk mengalahkanku. Pertanyaannya … apa kau mampu?”

Perkataan Victor sontak membuat Anne terdiam.

Melihatnya, Victor tersenyum miring, seolah menghina ketidakmampuan Anne.

“Lihat, kau bahkan menyadari bahwa kau bukan siapa-siapa.”

Victor terkekeh puas. Tetapi, suara Luke kembali terdengar.

“Anda perlu menjaga mulut Anda itu, Tuan Marquess. Nona Hawthorne lebih dari mampu untuk menikahi seorang Duke.” Suara itu tenang, namun cukup tajam untuk menengahi ketegangan.

Anne dan Victor seketika menoleh. Mereka mendapati Luke yang berdiri di sisi Anne. Pria itu menatap penuh humor ke arah Victor dengan senyum samar.

“Aku tidak suka ikut campur, namun melihat bagaimana kau mengancam wanita hanya untuk menikah denganmu, aku tentu tidak bisa diam saja,” lanjut Luke.

Kening Victor mengerut, “Anda suka sekali ikut campur, Tuan. Siapa kau sebenarnya?”

“Aku?” Luke tersenyum lebih lebar, dan ucapan berikutnya membuat Victor langsung menegang di tempat. “Luke Damien Ashford, The Duke of Ashford.”

Luke berhenti sejenak sebelum menatap Anne, sorotnya berubah lembut dan penuh keyakinan. “Dan aku … yang akan menikahi Nona Hawthorne.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Kupilih Setelah Kematian   BAB 107. Lamaran

    "Luke? Kepalaku mulai pusing. Bisakah aku membuka penutup mata ini sekarang?" Sejak perahu mulai meninggalkan daratan sepuluh menit yang lalu, Anne telah menggumamkan segala macam keluhan yang senantiasa Luke dengarkan dengan sabar. Pria itu hanya bisa tertawa melihat gurat kekhawatiran yang jelas di wajah Anne. Terombang-ambing di tengah sungai yang entah akan membawanya ke mana, Anne berpegangan erat pada sisi perahu. Jantungnya berdegub kencang menanti kejutan, tetapi di waktu yang sama ia merasa tak tahan dengan rasa mualnya. Untung saja, kursi pendek yang disediakan Luke ini cukup nyaman untuknya. "Luke? Berhenti tertawa dan jawab aku!" pekik Anne kesal. Ia bisa mendengar tawa halus yang tidak lain berasal dari pria yang tengah membawanya. "Jika aku menjawabmu, tidak akan menjadi kejutan lagi." jawab Luke dengan enteng, seolah tak peduli dengan rengekan wanitanya. "Oh, aku akan muntah dan kejutanmu tidak akan menyenangkan lagi!" Luke tergelak. "Sebentar lagi kita sa

  • Cinta yang Kupilih Setelah Kematian   BAB 106. Kencan Pertama (2)

    Luke menempatkan kedua tangannya di belakang tubuhnya, sembari berjalan santai. Sesekali ia akan menoleh hanya untuk menatap sosok wanita cantik yang berjalan bersamanya di taman kota pada pagi hari yang cerah ini. Berjalan-jalan menikmati suasana taman rasanya tidak berlebihan bagi mereka untuk mengisi kembali energi yang terbuang selama masa-masa sulit kemarin. Sempurna untuk sebuah kencan pertama mereka di hadapan publik dengan status yang nyata, dan di tengah rumor yang sedang menyebar. Tetapi yang palingn penting, mereka adalah sepasang kekasih sekarang. Menghadapi tatap dari banyak pasang mata kadang kali membuat perut Anne kembali bergejolak. Wajahnya masih memerah, terutama ketika ia sesekali mendongak dan menyadari betapa tampannya pria yang ada di sisinya itu. "Jika aku tidak menyadari bahwa diriku memang menarik, aku pasti mengira kau menatapku sejak tadi karena penampilanku aneh." Luke terkekeh pelan, menoleh ke arah Anne dengan senyum jahilnya. Anne gelagap

  • Cinta yang Kupilih Setelah Kematian   BAB 105. Pemanggilan Sang Ratu

    Setelah pertengkaran yang begitu hebat, keesokan harinya kabar tentang hubungan gelap antara Victor Langley dan Leah akhirnya tersebar. Tak tanggung-tanggung, rumor tersebut mengatakan bahwa mereka sudah lama tinggal bersama bahkan saat Nona Hawthorne masih menjadi tunangan Langley. Rumor tersebut akhirnya memunculkan spekulasi bahwa batalnya pernikahan Victor dan Anne disebabkan oleh perselingkuhan. Dan meski Victor mengelak sekalipun, kemunculan Leah di tengah-tengah masyarakat akhir-akhir ini dengan sikap manjanya pada Victor, telah membuat banyak orang yakin bahwa rumor itu benar. Banyak dari masyarakat yang mengeluh kasihan pada Anne dan bersimpati padanya. Mereka menilai bahwa tindakan Victor dan Leah sangatlah tidak terpuji, apalagi mereka adalah seorang bangsawan terhormat. Luke tidak ingin repot-repot untuk merasa kasihan. Ia bahkan tak ingin menghilangkan detail sedikitpun tentang Leah seperti rencananya di awal. Namun karena sikap Leah yang berniat membunuh Anne di

  • Cinta yang Kupilih Setelah Kematian   BAB 104. Pertarungan Wanita Bangsawan

    Anne tidak yakin apa sebenarnya yang Leah inginkan sampai wanita itu mau mendatanginya langsung ke kediaman Hawthorne yang seharusnya menempuh waktu berjam-jam. Apapun itu, hal tersebut telah membuat Leah amat marah karena sejak Anne tiba di ruang tamu, wanita itu telah memandangnya penuh permusuhan. Beruntung, sang Ayah sedang dalam perjalanan untuk mengurus satu hal dan akan kembali di malam hari bersama Ametis dan Anthony yang memaksa ikut karena masih terkejut dengan apa yang terjadi dan tidak ingin tinggal sendirian. Tampaknya akibat dari pernikahan yang batal itu membuat sang Ayah sibuk. Namun, Anne mensyukuri bahwa mereka semua tidak ada di sore hari yang mencekam itu. "Aku ingin bicara denganmu Anne, berdua saja." sahut Leah dingin. "Jika ada yang harus kau sampaikan, maka sampaikan saja sekarang." balas Luke dingin, sepertinya tidak menyukai ide Leah untuk berbicara empat mata. Atau paling tidak, ia ingin mendengarkan secara langsung apa yang wanita itu inginkan.

  • Cinta yang Kupilih Setelah Kematian   BAB 103. Harapan Baru

    "Dari mana kau tahu kalau mereka ternyata punya anak?" Pertanyaan tersebut meluncur begitu saja setelah Anne cukup yakin untuk bertanya. Saat ini, mereka telah kembali ke kediaman Hawthorne. Anne juga sudah mengganti bajunya dari gaun pengantin yang terasa sesak. Tak hanya gaun, ketika Anne sampai bersama Luke, rupanya dekorasi-dekorasi yang sebelumnya dipasang untuk perayaan pernikahan, kini telah lenyap sepenuhnya. Tak ada jejak, seolah persiapan perayaan itu tidak pernah terjadi. Bahkan para pengawal dan pelayan, terutama Mrs. Hill yang berpapasan dengannya pun seolah tak ingin membahas apapun dan hanya menyambutnya seperti biasa. Anne meyakini bahwa ini adalah perintah sang Ayah. Ayahnya yang malang, meski tidak tahu apa-apa, tetap mendukung seluruh keputusan putrinya dan bersedia melakukan apapun untuk Anne. Luke, duduk sembari menyandarkan dirinya di bangku halaman. "Hanya dengan beberapa penyelidikan." "Penyelidikanmu pasti sangat detail karena aku yang telah be

  • Cinta yang Kupilih Setelah Kematian   BAB 102. Kembali ke Mansion Putih

    Leah jelas merasa bahwa ia bukanlah ibu yang baik, tetapi tak mengubah fakta bahwa ia tetaplah seorang Ibu. Dan ia rasa, ibu manapun tak akan membiarkan anaknya berada dalam intimidasi orang lain meski setahun terakhir ini, ia lebih banyak menyerahkannya pada Mrs. Milles, sang pengasuh. Leah sudah terlalu lama, atau tepatnya tidak ingat kapan terakhir ia berperan sebagai ibu. Ia lebih memilih hidup di Ibu Kota bersama Victor, bertingkah layaknya seorang Lady terhormat yang belum menikah. Meski memang benar, faktanya, ia masih menghabiskan waktunya menemani Victor dalam mencapai tujuannya. Leah tidak menyesalinya, sama sekai tidak menyesal memiliki seorang anak sebelum seharusnya. Terlebih, ia melahirkan anak laki-laki yang membuat Victor semakin memujanya. Hanya saja, keberadaan anak laki-lakinya kini terancam. Bukan dalam artian fisik, melainkan.... statusnya. Bertahun-tahun Leah dan Victor berusaha menjaga rahasia ini. Leah bahkan harus menelan pil pahit ketika Victor

  • Cinta yang Kupilih Setelah Kematian   BAB 4. PRIA DARI MASA LALU

    Luke Ashford.Ashford … di mana Anne pernah mendengar nama itu? Rasanya Anne pernah mendengarnya.Untuk beberapa saat, wanita itu hanya memandangi wajah pria bernama Luke itu, karena entah mengapa ketika melihatnya dengan jelas saat ini, ia … menjadi merasa sedikit familier.“Apa kita pernah bertem

  • Cinta yang Kupilih Setelah Kematian   BAB 3. MENCARI JALAN KELUAR

    Pria itu terkekeh pelan melihat keterkejutan di mata Anne.“Siapa yang tak mengenal putri Baron yang akan menikahi seorang Marquess musim ini?”Anne terdiam. Ia tidak begitu ingat jika kabar pernikahannya dengan Victor menjadi berita besar. Dulu, ia hanya fokus pada Victor tanpa mempedulikan hal la

  • Cinta yang Kupilih Setelah Kematian   BAB 2. INGIN MENGUBAH TAKDIR

    Annelise terdiam dengan mata membelalak.Ia ingat momen ini dan pernah melewatinya. Ia bahkan ingat riasan rambut dan pakaian yang ia gunakan hari itu.Itu adalah hari di mana mereka harus menemui sang ratu di istana untuk meminta restu dan izin melangsungkan pernikahan.Anne adalah putri seorang B

  • Cinta yang Kupilih Setelah Kematian   BAB 1. KEMATIAN

    Tubuh Annelise Hawthorne terbaring tak berdaya di tanah penuh darah dan luka, di antara puing-puing kereta kuda yang hancur sebagian.Annelise merasa tak memiliki tenaga lagi, rasa sakit memenuhi sekujur tubuhnya. Ia yakin ia berada di ambang kematian.Memorinya berputar ke beberapa waktu lalu. Ia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status