Share

Bab 4

Author: Yusni Anjani
Peter menatap Weni cukup lama sebelum akhirnya serahkan gelas anggur di tangannya.

“Yang ini lebih ringan. Coba.”

Di bawah cahaya lampu, Weni amati gelas itu sejenak, lalu putar itu perlahan. Bibir merahnya menempel tepat di bagian gelas yang baru saja disentuh bibir Peter. Weni menyesap sedikit. Tenggorokan Peter bergerak pelan. Weni kembalikan gelas itu ke dia, lalu tiba-tiba berkata, “Lukas lama sekali ambil gelasnya.”

Detik berikutnya, pengeras suara di dalam gudang anggur mendadak menggelegar.

Suara Lukas yang lembut dan penuh bujuk rayu terdengar jelas.

“Tentu saja aku kangen kamu. Bukannya malam ini ada acara? Gimana kalau nanti aku datang temui kamu? Yang nurut dong, sekarang aku beneran nggak bisa pergi. Aku janji, malam ini aku pasti datang.”

Percakapan teleponnya dengan sang kekasih terdengar tanpa satu kata pun terlewat melalui pengeras suara, menyebar ke seluruh ruang pesta. Setiap kata itu menancap di telinga Weni, sekaligus tinggalkan luka di dalam hatinya.

Tatapannya menyala saat menatap Peter. Peter tersenyum samar, seolah mengejek sekaligus tertarik.

“Weni, ternyata kamu cukup menarik.”

Weni sedikit angkat alisnya.

“Seberapa menarik? Apa bisa sampai buat Pak Peter mau duduk di bangku cadangan untuk sementara?”

Peter menyesap anggurnya. Tenggorokannya nggak bergerak. Jelas sekali, seteguk kecil itu masih dia tahan di dalam mulut dan belum ditelan.

Weni cukup peka untuk pahami situasi. Dia ambil inisiatif rangkul bahu Peter, lalu cium bibir pria itu. Peter nggak gerak sedikit pun. Seolah sedang tunggu apa yang akan dilakukan Weni selanjutnya.

Weni perlahan geser bibirnya di atas bibir pria itu, isap itu dengan lembut. Seperti seekor anak kucing, dia gigit ringan bibir bawah Peter, lalu perlahan buka celah di antara bibir dan giginya.

Peter tiba-tiba cengkeram tengkuknya. Dengan dominan, dia alirkan anggur yang tadi ditahannya ke dalam mulut Weni. Weni nggak sempat telan itu dengan baik. Anggur berwarna merah keunguan mengalir dari sudut bibirnya, lewati dagu hingga basahi lehernya. Dia keluarkan erangan kecil tanpa bisa ditahan.

Gelas anggur di tangan Peter jatuh ke lantai.

Prang! Pecah berkeping-keping.

Tangannya lingkari pinggang Weni, lalu dia dorong wanita itu hingga terdesak di balik rak anggur. Nggak kasih dia kesempatan untuk menghindar, Peter cium bibirnya dengan penuh gairah. Weni biarkan Peter ambil alih. Dia nggak lawan sedikit pun.

Baru setelah suara langkah kaki terdengar dari luar, Peter akhirnya lepaskan dia. Ujung jarinya usap sudut bibir Weni, lalu sapu sisa warna lipstik yang menempel di sana.

Dengan suara serak, Peter berkata, “Di dalam ada toilet. Pergi bersihkan dirimu.”

“Terus dia .…”

“Proyeknya akan aku kasih ke Pak Joni.”

Weni segera jalan ke bagian dalam. Tepat ketika pintu tertutup di belakangnya, dia dengar suara Lukas.

“Pak Peter, istriku di mana? Yang tadi cuma salah paham!”

Dalam sekejap, rasa puas karena berhasil balas dendam banjiri hati Weni. Dia berdiri di depan cermin. Jemarinya yang gemetar perlahan sentuh riasan bibirnya yang sudah berantakan. Kemudian dia tersenyum tipis. Senyum yang penuh kemenangan.

Beberapa detik kemudian, terdengar ketukan dari luar kamar kecil. Suara Lukas terdengar panik.

“Weni, buka pintunya. Dengarkan penjelasanku, yah? Tadi beneran cuma salah paham!”

Weni buka pintu. Peter sudah nggak ada di gudang anggur.

“Salah paham?”

Weni menatap Lukas dengan dingin.

“Aku dengar semuanya dengan jelas. Kamu lagi rayu wanita lain. Bagian mana yang salah paham?”

Lukas buru-buru jelaskan, “Bukan! Aku lagi telepon ibuku. Kalau nggak percaya, lihat saja riwayat panggilannya! Kamu juga tahu seperti apa ibuku. Dia sudah bertahun-tahun tinggal sendirian. Kalau merasa kesepian, dia selalu minum. Malam ini dia kebanyakan minum. Dia telepon sambil nangis dan buat keributan.”

Weni tertawa dingin.

“Ibumu? Lukas, kok bisa kebohongan seperti ini keluar dari mulutmu? Coba tanya ke Pak Joni dan semua orang yang hadir malam ini. Menurutmu, mereka akan percaya?”

Weni berjalan pergi dengan sepatu hak tingginya, tinggalkan vila itu seorang diri.

Nggak lama kemudian, Lukas kembali ke rumah. Tubuhnya dipenuhi aroma alkohol yang menyengat. Namun di tangannya terdapat sebuah tas edisi terbatas. Dia peluk Weni sambil terus minta maaf.

Katanya, Pak Joni curigai gaya hidupnya bermasalah dan telah serahkan proyek yang sebelumnya jadi tanggung jawabnya ke orang lain.

“Sayang, nggak masalah kalau perusahaan tuduh aku secara nggak adil. Aku lebih peduli sama pendapatmu. Kita baru saja nikah. Aku bahkan belum sempat cintai kamu dengan sepenuh hati, gimana mungkin aku selingkuh? Aku harus gimana biar kamu percaya sama aku?”

Weni merasa matanya perih karena bau alkohol yang penuhi tubuh Lukas. Lihat pria itu bersikeras sangkal semuanya, Weni hanya merasa geli. Dia bahkan sudah tega bunuh anak kandungnya sendiri demi wanita lain. Sekarang masih berani pasang wajah penuh cinta di hadapannya. Untuk siapa semua sandiwara ini?

Namun kejadian malam ini justru buktikan dugaan Weni. Apa pun alasannya, untuk saat ini jelas Lukas belum ingin ceraikan dia. Dia hanya bisa terus tenangkan dua wanita di saat bersamaan.

Weni seka sudut matanya yang sebenarnya nggak ada air mata. Kemudian dia ulurkan tangan.

“Kartu tabungan yang kamu punya sebelum nikah dengan aku itu, isinya sudah 10 sampai 12 miliar, kan?”

Lukas langsung serahkan kartu bank tersebut dengan kedua tangan.

“Ada. Kamu mau beli apa pun, silakan.”

Weni berkata, “Aku mau kita buat perjanjian harta bersama dalam pernikahan.”

“Apa?!”

Sisa mabuk Lukas seketika langsung lenyap sebagian.

“Kenapa tiba-tiba kepikiran soal ini?”

Weni jawab dengan tenang, “Sebelum nikah, kamu bilang begitu banyak hal indah sampai aku hampir percaya kalau kita bakal bersama selamanya. Tapi sekarang setelah aku pikir-pikir, rumah, mobil, dan tabungan semuanya atas namamu. Kalau suatu hari kamu berubah hati, aku bisa saja keluar dari pernikahan ini tanpa bawa apa-apa. Bukannya kamu mau buktikan kesetiaanmu? Kalau gitu, buat perjanjian. Pindahkan aset ke namaku dan biarkan aku yang kelola itu. Dengan gitu, aku akan percaya kamu sekali lagi.”

Alis Lukas langsung berkerut. Nada suaranya terdengar nggak senang.

“Weni, kita baru saja nikah. Kalau kamu nggak bisa percaya sama aku, gimana kita bisa jalani kehidupan bersama? Aku rasa kamu sudah bersikeras kalau aku selingkuh. Bahkan kalaupun aku setuju, belum tentu kamu benar-benar percaya pada perasaanku. Bukannya ini cuma cara halus untuk kuasai harta atas namaku? Dulu kamu nggak pernah berpikiran serumit ini. Siapa yang ajari kamu? Minda?”

Weni tepis tangan Lukas.

“Apa hubungannya dengan Minda? Kalau kamu nggak setuju, ya sudah. Lagian, sekarang anak kita sudah nggak ada. Dan kepercayaan di antara kita juga sudah hilang. Kalau memang ada orang lain di hatimu, besok kita pergi ke Kantor Catatan Sipil. Kita cerai saja.”

“Apa?! Memangnya apa hakmu minta cerai?!”

Lukas tarik Weni dengan kasar dan tekan dia ke sofa.

“Weni, kamu itu milikku! Aku nggak mau cerai! Aku sudah susah payah sampai akhirnya bisa nikahi kamu. Bahkan sampai kamu hamil .…”

Weni terkejut lihat perubahan Lukas. Selama bertahun-tahun kenal pria itu, Lukas selalu bersikap lembut. Weni nggak pernah sekalipun lihat ekspresi seperti ini di wajahnya. Weni kerutkan keningnya dan menatap Lukas lekat-lekat.

“Kamu bilang apa? Aku hamil apa?”

Lukas juga sadar kalau emosinya sudah terlalu meledak-ledak. Dia kembali genggam tangan Weni dan memohon, “Kamu hamil, terus keguguran. Aku tahu masa ini sangat berat buat kamu. Tapi aku nggak pernah berpikir untuk ceraikan kamu. Sejak pertama kali lihat kamu, aku sudah putuskan kalau aku ingin habiskan seluruh hidupku bersama kamu.”

Weni nggak katakan apa-apa. Lukas akhirnya ngalah selangkah.

“Rumah ini nilainya sekitar 4 miliar. Besok aku akan cari pengacara dan pindahkan ini jadi asetmu, gimana?”

Weni memang nggak berharap bisa dapatkan seluruh asetnya dalam satu langkah. Karena itu, Weni terima tawaran Lukas dan kasih dia jalan keluar.

Setelah selesai mandi, Weni kembali ke kamar tidur. Lukas sudah tertidur pulas dalam keadaan mabuk. Tiba-tiba layar HP-nya menyala. Sebuah pesan dari “Putri” muncul.

[Malam ini kamu nggak jadi datang?]

Weni catat nomor telepon milik “Putri” itu di HP-nya sendiri, lalu pergi mandi. Setelah selesai pakai masker wajah, dia keluar dari kamar mandi. HP di atas meja kembali berkedip-kedip karena terima pesan baru.

[Istrimu sudah tidur belum? Cepat datang temani aku.]

[Aku sudah beli baju tidur baru. Malam ini aku akan pakai untuk kamu.]

Getaran HP yang terus-menerus terdengar itu buat sisi gelap dalam hati Weni menyebar liar seperti virus. Dia ambil HP Lukas. Kemudian cari nomor Peter dan tekan tombol panggil. HP berdering dua kali. Panggilan segera diangkat. Suara Peter terdengar datar.

“Halo?”

“Ini aku.”

Di seberang sana, terdengar keheningan selama dua detik.

“Kenapa?”

Weni bicara dengan suara lembut, “Anggur yang kita minum malam ini, aku lupa namanya.”

Peter jawab dengan tenang, “Saint-Émilion Bordeaux. Tahun ini produksinya sangat sedikit. Kalau Nyonya Weni mau minum itu, mungkin nggak gampang carinya.”

Weni manfaatkan kesempatan itu untuk tanya, “Kalau gitu, misalnya Pak Peter mau minum itu, biasanya pergi ke mana?”

Di seberang telepon kembali hening. Hanya terdengar suara napas yang samar. Tepat ketika Weni kira Peter akan langsung putuskan panggilan, pria itu akhirnya bicara. Suaranya mengandung makna yang sulit ditebak.

“Aku punya di rumah.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 50

    Namun, pada saat seperti ini Weni justru ajukan usulan untuk pergi bulan madu, Lukas nggak punya alasan untuk tolak itu. Weni duduk di tepi ranjang, lalu dengan inisiatif sendiri genggam tangan Lukas.“Kamu baru alami kecelakaan, aku juga sampai dirawat di rumah sakit. Beberapa hari ini aku juga sudah cukup buat keributan, mulai dari hambur-hamburkan uangmu sampai mati-matian cari cara untuk cerai. Rasanya sudah cukup ngerepotin. Kalau dipikir baik-baik, setelah kita nikah, kita belum pernah benar-benar nikmati waktu bersama. Masa-masa kita pacaran waktu kuliah rasanya jauh lebih indah dibanding kehidupan pernikahan kita. Kamu benar. Dalam sebuah pernikahan, pertengkaran dan masalah memang nggak bisa dihindari. Hanya saja, mungkin kita belum benar-benar siap hadapi itu. Lukas, siapa tahu kali ini kita bisa temukan kembali perasaan yang dulu pernah kita miliki?”Nada suara Weni lembut, tetapi juga siratkan sedikit rasa sedih dan terluka. Kalimat-kalimat itu seketika mengenai sudut terda

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 49

    Dokumen itu cantumkan secara rinci seluruh aset yang saat ini dimiliki Lukas. Di dalamnya terdapat saldo rekening di berbagai bank, dana investasi, serta dua unit toko yang terdaftar atas namanya. Namun, satu-satunya yang nggak tercantum adalah rumah di Sentori.Pada bagian bawah dokumen, terdapat pula ketentuan yang menyatakan kalau selama pernikahan mereka masih berlangsung, seluruh penghasilan bulanan Lukas akan jadi hak Weni untuk dimiliki dan digunakan.Weni kernyitkan keningnya, hatinya jadi sangat bingung.“Maksudmu, kamu mau pakai semua uang ini untuk beli aku, biar aku tetap jadi istrimu?”Lukas menghela napas berat.“Weni, emangnya kamu harus bilang semuanya dengan begitu menyakitkan seperti ini? Kamu itu istriku. Sekarang aku bersedia serahkan seluruh kendali keuangan keluarga ke kamu. Aku cuma mau buat kamu bahagia. Jangankan beli mobil balap, meskipun kamu mau tebarkan semua uang ini di jalan pun, aku nggak bakal bilang apa-apa. Aku bersedia pakai semua yang aku miliki unt

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 48

    “Lukas, kamu mau aku tetap di sisimu biar suatu hari nanti kamu bisa bunuh aku diam-diam tanpa seorang pun tahu kan, terus kamu mau pakai uang ganti rugi itu untuk hidupi selingkuhanmu?”“Kamu bilang apa?!”Kali ini Lukas benar-benar tampak marah. Dia tutupi dadanya sambil terbatuk-batuk hebat, sampai wajahnya berubah merah keunguan karena tahan sesak. Kalau ini terjadi dulu, Weni pasti sudah buru-buru hampiri untuk periksa keadaannya dan tenangkan emosinya. Tapi sekarang, Weni hanya berdiri di sana dan menatap penderitaannya dengan tatapan dingin, tanpa sedikit pun rasa iba.Beberapa menit kemudian, Lukas akhirnya berhasil tenangkan napasnya.“Weni, sebenarnya aku harus gimana biar kamu percaya dengan perasaanku ke kamu? Ya, aku akui kalau aku nggak sengaja tampar kamu karena emosi. Tapi pria mana yang bisa tahan diri setelah istrinya selingkuh? Aku nggak pernah salahkan kamu karena hal itu. Gimana bisa kamu gunakan kejadian itu untuk sakitin aku? Kamu tahu nggak betapa hancurnya hati

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 47

    Kantor itu mendadak diliputi keheningan. Yang tersisa hanyalah suara napas lembut mereka berdua. Seolah nggak seorang pun berani pecahkan ketenangan saat itu, dan nggak seorang pun berani jadi orang pertama yang buka suara. Mereka sama-sama takut sebuah mimpi indah akan pecah berkeping-keping.Hati Weni perlahan tenggelam. Sebenarnya, apa yang sedang dia harapkan? Orang yang selamatkan dia di daerah Takara yang nggak berpenghuni adalah Lukas. Orang yang selama ini kirim surat dengan dia juga Lukas. Dan orang yang akhirnya datang temui dia sambil bawa kenangan-kenangan berharga itu juga tetap Lukas. Dia nggak salah menikahi orang. Hanya saja, pria itu sudah nggak cinta dia lagi.“Aku ....”Peter baru saja hendak bicara ketika HP Weni tiba-tiba berdering.Weni tersenyum canggung.“Maaf, tadi aku cuma asal tanya. Aku angkat telepon sebentar.”Weni berbalik, ambil HP-nya, lalu jalan ke samping untuk jawab panggilan. Orang di seberang telepon cuma bilang beberapa kalimat sebelum sambungan t

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 46

    Kelopak mata Peter yang tertunduk tutupi kilatan dingin di dasar matanya.“Kamu pikir itu mungkin?”Weni gelengkan kepalanya“Rasanya nggak mungkin. Kecuali aku dan orang lain .…”Sampai di situ, tiba-tiba dia ngerti. Kemungkinan besar baju-baju ini dibuat berdasarkan ukuran tubuh sosok pujaan lama yang selama ini tersimpan di hati Peter. Dia nggak hanya mirip dengan Nona Pujaan Lama itu dalam hal wajah, bahkan bentuk tubuh mereka pun serupa. Pantas saja setiap kali Peter terbawa suasana, pria itu selalu lingkarkan tangannya erat-erat di pinggangnya. Jangan-jangan, sebenarnya dia lagi mengenang seseorang dari masa lalu?Pikirkan hal itu, Weni merasa jauh lebih lega. Peter perhatikan ekspresi perempuan di hadapannya yang silih berganti, terkadang bingung, terkadang senang, lalu sesaat kemudian berubah jadi tatapan penuh sindiran.“Kamu lagi pikir apa sih?”Weni kibaskan tangannya dan segera alihkan pembicaraan.“Tehnya sudah dingin. Kamu nggak mau suruh sekretaris ganti dengan yang baru

  • Cinta yang Mekar di Malam Musim Semi   Bab 45

    Weni pikir, soal perselingkuhan, memang benar kalau sudah lakukan itu sekali, yang kedua akan terasa jauh lebih mudah. Nggak heran Lukas bisa begitu lihai dan tenang hadapi perempuan lain. Sebelumnya, setiap kali ciuman dengan Peter, Weni selalu merasa tegang sekaligus bersalah, seolah-olah ada seratus pasang mata yang sedang mengawasi mereka. Namun, sejak Peter kasih dia “pelajaran” waktu di ruang VIP Klub Malam Holowi, seolah-olah ada sesuatu dalam dirinya yang tiba-tiba terbuka.Saat ini, dia duduk di atas meja kerja Peter, tubuhnya dikekang erat dalam pelukan pria itu, sementara setiap jengkal udara di dalam paru-parunya seolah direnggut habis. Weni hampir nggak bisa napas. Yang lebih buat dia gugup, dari luar kantor masih terdengar suara langkah sepatu hak tinggi yang berlalu-lalang, sesekali diselingi suara orang bicara ....Semua suara itu terus mengetuk pertahanan moralnya yang rapuh. Namun, baru saja akal sehat dan rasa malunya sempat muncul sedikit, keduanya kembali ditenggel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status