LOGINSatu persatu orang-orang terdekat Adven datang berkunjung begitu mendengar kabar dia telah sadar dari koma. Namun, dari sekian banyaknya orang yang hadir, Arumy tidak kunjung datang.
Setiap kali mendengar suara, Adven melihat ke pintu dengan harapan. Setiap kali suara itu hanya orang lewat, dan hanya tim medis, ada sebongkah kegelisahan yang mulai hadir. Adven telah mencoba menelphone, namun Arumy tidak dapat dihubungi, begitupun dengan Sunny dan telephone rumahnya. Setengah hari Adven menanti, dengan banyak kata yang sudah dia persiapkan untuk dia ucapkan pada Arumy. Adven ingin meyakinkan Arumy, bahwa dia pasti akan kembali sembuh secepatnya, memperbaiki setiap momentum penting yang tidak dapat mereka lakukan karena keadaannya yang sakit. Adven tidak akan merepotkan isterinya meski ia harus duduk dikursi roda selama masa penyembuhan, Arumy bebas pergi melakukan pekerjaannya seperti biasa sebagai pramugari dan Adven bisa dibantu oleh seorang assistant. Suara pintu terbuka kembali terdengar. Adven menelan kecewa kala, ia lihat ibunya lah yang datang bersama sang adik, Martin. Wajah lelah Anna tergambar begitu jelas di kantung matanya yang menggelap dan penampilan tidak serapi biasanya, sorot matanya tampak kosong meski bibirnya mengukir senyuman menyambut putranya berhasil berjuang dari koma. “Siapa yang sudah menabrakku sebenarnya?” Adven mempertanyakan sesuatu yang sampai detik ini belum ia ketahui. Martin duduk di sisi ranjang. “Dahlia Benjamin. Kakak tahu kan artis terkenal itu? Dia berkendara dibawah pengaruh alcohol, ada dua orang meninggal, satu orang terluka, dan satu korbannya lagi itu kau. Dahlia telah diamankan di polisi dan sekarang wanita itu sedang berakting depresi untuk mendapatkan pengurangan hukuman,” cerita Martin dengan geraman marahnya. “Apa Rumy datang menjengukku?” tanya Adven lagi. “Justru Rumy orang pertama yang memberitahu kami tentang kecelakaanmu, dia mengantarmu sampai ke rumah sakit, dia juga menemanimu melewati operasi. Rumy pasti kelelahan sekarang,” jawab Anna. Sudut bibir Adven sedikit terangkat pelan mengukir senyuman, jawaban ibunya sedikit mengobati kegelisahan hati Adven dari beberapa kekhawatiran yang sulit untuk diucapkan. “Aku mau pulang malam ini juga, Bu. Aku akan berisirahat di rumah agar besok tidak datang terlambat,” pinta Adven dengan serius. Anna sempat mematung beberapa detik bersama senyuman yang dipaksakan, tampaknya Anna tidak begitu senang mendengar permintaan putranya. “Kondisimu sangat serius, Adven. Harus ada konsultasi dan izin dari dokter.” “Besok hari pernikahanku, dokter pasti mengerti. Aku tidak ingin semakin mengacaukann moment penting hidupku.” “Kalian bisa menikah disini, ibu dan ayah akan mempersiapkan semuanya dengan sempurna,” bujuk Anna tidak ingin mengambil risiko. Dibawah tatapan sayu itu Adven menggeleng tidak setuju. “Tidak Bu, aku harus pulang dan menikah di tempat yang sudah kami persiapkan. Setelah acara selesai, aku akan kembali rumah sakit ini.” Anna dan Martin saling memandang tanpa bisa berkata-kata lagi, mereka tidak dapat menahan keinginan Adven yang ingin melakukan semuanya sesuai rencana sekalipun itu harus membuatnya menahan sakit sementara waktu. *** Adven memaksa pulang meski dokter tidak mengizikan, dia tidak peduli, tetap pergi dengan pendampingan dokter pribadi untuk mengurangi banyaknya risiko yang mungkin bisa terjadi. Lukanya sama sekali belum sembuh, bekas operasinya baru satu hari, dan dia harus membayar semua kenekatannya dengan sakit yang sangat hebat tanpa obat-obatan lengkap seperti apa yang ada di rumah sakit. Ditengah malam yang sunyi, Adven terbaring sendirian tidak dapat memejamkan matanya sedikitpun untuk beristirahat. Kegundahan yang telah berusaha dia singkirkan kian membesar seiring dengan tak adanya kabar dari Arumy. Andai saja Andven tidak sakit, jelas dia akan langsung pergi ke rumahnya sekarang dan bertanya tentang hal penting yang sempat ingin Arumy bicarakan. Adven telah mengirim sopirnya untuk pergi menjemput, namun Sunny beralasan bahwa Arumy sedang beristirahat karena kelelahan. Semua orang bersikap biasa seolah semuanya baik-baik saja, namun naluri Adven berkata lain, dia meyakini bahwa telah terjadi sesuatu pada kekasihnya. Batin Adven bertanya-tanya tentang apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Arumy masih tidak dapat di hubungi? Apa mungkin, Arumy mulai meragukan pernikahan mereka karena kini kondisi fisik Adven tidak lagi sempurna dan kondisi kaki yang mungkin saja akan lumpuh selamanya. Adven menggeleng dengan berat, menepis pikiran buruk yang seharusnya tidak muncul dikepala. Arumy bukanlah wanita seperti itu! Arumy tidak layak untuk diragukan, apalagi tentang ketulusannya yang selama ini telah berhasil mengubah semua kebiasaan buruk Adven yang cacat moral. Pada akhirnya, sepanjang malam itu Adven menghabiskan waktunya dengan menahan sakit disekujur tubuh sambil menanti hari pernikahannya besok. Dalam penantian itu, hatinya tidak berhenti merapalkan harapan bahwa segala hal buruk yang ada dipikirannya adalah sebuah kesalahan. *** Saat hari pernikahan itu akhirnya tiba, Adven mempersiapkan diri lebih awal karena keterbatasannya yang membutuhkan bantuan banyak orang. Meski sedikit merepotkan, segalanya berjalan dengan lancar seperti apa yang sudah dia rencanakan. Sepanjang perjalanan, dokter pribadinya terus mendampingi, menyadari sepenuhnya bahwa kondisi Adven sangat lemah. Kaki Adven dalam kondisi pascaoperasi, sementara kepalanya sempat mengalami gegar otak. Bahkan untuk berbicara pun, Adven harus mengerahkan sisa tenaganya. Harusnya Adven ada di rumah sakit dengan perawatan khusus sekarang. Namun apa daya, semua harus mengerti bahwa Adven melakukannya untuk hari yang sangat penting, sekali seumur hidupnya. Sesampai di gedung reception hall, kursi roda disiapkan untuknya dan tubuhnya dipindahkan dari mobil, rintihan kesakitan harus Adven tahan sampai membuat wajahnya merah padam dan berkeringat dingin.Semua mata langsung tertuju pada Adven, menyaksikan prilaku kurang ajarnya yang berani memukul ayah kandungnya sendiri dengan cara yang sangat tidak pantas dan sangat memalukan untuk seorang pria berpendidikan.Hansen mengerang mengusap sisi keningnya yang berdenyut hebat mengeluarkan darah. “Adven!” teriak Anna dengan gemetar, tidak menyangka putra kesayangannya akan berani mengangkat tangannya untuk menghajar kepala keluarga Nathaneil yang terhormat.Teriakan Anna tidak cukup menghentikan kebringasan Adven, pria itu merangsek pakaian Hansen, dan tanpa kata tangannya menghantam sang ayah dengan pukulan keras hingga kepala Hansen terguncang tidak dapat mengimbangi tenaganya.Hansen tidak akan mungkin berani melaporkan Adven, bisa hancur kredibilitasnya yang dibangun puluhan tahun sebagai pria terhormat.Hati Adven telah gelap dipenuh oleh amarah dan kebencian sampai membuatnya tidak bisa memandang kedua orang tuanya sebagai yang perlu di hormati lagi.Mereka berdua tidak lebih dari d
Teriakan kencang Tyler menyentak Tina dari tidur lelapnya. Dalam keadaan masih mengantuk akhirnya Tina bangun disusul oleh kekasih gelapnya.Tina yang hendak balas berteriak tidak menahan suaranya begitu dia lihat dengan sadar bahwa Tyler berdiri di depan mata.Tina gelagapan mencari selimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. “S-s sayang..” panggil Tina ketakutan.Tyler menggenggam erat tongkat baseballnya dengan mata melotot, kepalanya memanas bertegangan tidak kuasa mengendalikan amarahnya menyaksikan isterinya berselingkuh.Tidak ada alasan yang bisa dijadikan bantahan. Memangnya orang gila mana yang tidur telanjang berdua tanpa melakukan apapun! Siang malam Tyler bekerja keras dan memberikan segalanya untuk Tina hingga dia singkirkan Arumy seperti orang asing padahal itu darah dagingnya. Tyler selalu mengusahakan yang terbaik untuk istinya, tapi apa yang Tyler dapat?Dia justru dibalas dengan pengkhianatan, di rumahnya sendiri, di ranjang tempat Tyler tidur!“Bajingan kau Tina! D
Dua orang penjahat yang telah mengejar, mereka mendekat menyaksikan Arumy yang kini terkapar dengan napas yang lemah. Arumy tidak berdaya, untuk menggerakan satu jari pun dia tidak mampu. Gaun putih yang dia kenakan penuh oleh jejak darah, hingga sebagian wajah cantik itu langsung biru memar karena benturan yang begitu keras. Dengan mata setengah terbuka, penglihatan Arumy berkabut, telinganya berdenging sakit dan seluruh tubuhnya gemetar kesemutan. Sakit yang saling bertegangan mulai tidak dapat Arumy hadapi dan berubah menjadi rasa. Kegelapan mulai bermunculan disetiap tarikan napasnya yang dilakukan dengan penuh perjuangan, peralahan akhirnya mata Arumy terpejam kehilangan kesadaran. “Kita habisi dia sekarang?” tanya seseorang itu mengeluarkan senjatanya dibalik jaket dan menodongkannya pada Arumy, bersiap untuk menarik pelatuk, mengakhiri napas Arumy yang kini sudah berada diujung tanduk. “Sebaiknya jangan,” tahan temannya begitu melihat beberapa orang mulai muncul dari
Beberapa pejalan kaki sudah sampai di penyebrangan menyisakan Arumy yang masih berdiri ditempatnya bersama rambu lalu lintas yang belum berubah. Beberapa orang yang menyusul, melewati Arumy untuk menyebrang. Tyler akhirnya menepi dan keluar dari kendaraannya, dia memutuskan menghampiri Arumy dan melihat putrinya lebih dekat tanpa malu meski kini keadaan Arumy tampak pucat dan lusuh. “Bisakah kita bicara, Rumy?” tanya Tyler pelan. Arumy terdiam sebentar, memandang lekat wajah Tyler dibawah cahaya pagi. Sudah terlalu banyak pertengkaran yang mereka lewati akhir-akhir ini, Arumy menyadari bahwa mungkin pertengkaran itu tidak lepas dari keegoisannya juga. Ini kesempatan terakhirnya untuk bicara dengan Tyler, Arumy akan menyampaikan salam perpisahan karena kedepannya mereka tidak akan lagi pernah bertemu. Arumy tidak ingin kembali ke negara ini lagi.. “Kita bicara disana, aku tidak memiliki waktu lagi,” jawab Arumy menunjuk sebuah toko roti. Tyler tersenyum dengan sedikit gel
Jantung Adven berhenti berdetak, pria itu membeku kaku tidak dapat merespon dari hujaman keras sebuah kabar yang merusak akal sehatnya. Adven tidak salah dengar kan? Sunny adalah orang yang telah melahirkan Donovan? Bukan Arumy? Kebenaran macam apa ini! Bibir Adven terbuka, pria itu menarik udara melewati tenggorokannya yang mendadak kering perih. “Katakan sekali lagi,” pinta Adven dengan suara tersendat-sendat, meminta kepastian sekali lagi untuk meyakinkan diri, bahwa apa yang telah didengarnya bukan halusinasi. Adven masih tidak percaya sama sekali… “Dalam catatan medis rumah sakit, Sunny lah orang yang telah melahirkan Donovan bukan Rumy. Karena Sunny melahirkan di usia yang tua, dia mengalami gagal organ ginjal dan jantungnya, karena kekurangan biaya, Sunny terpaksa pulang sehari setelah melahirkan. Dua hari kemudian, Sunny meningal di apartement Rumy karena obat-obatan yang disuntikan padanya,” jawab Asteria memperjelas informasi yang akhirya saling berhubungan dengan a
“Kau darimana saja?” tanya Anna menyambut kedatangan Hansen yang baru pulang sudah menjelang pagi. Setelah pertemuan keluarga yang gagal total dan menyisakan malu, Hansen pergi begitu saja meninggalkan Anna seorang diri yang harus menangani kemarahan kedua orang Prisila karena kedatangan mereka tidak dihargai. Perjodohan yang Anna rencanakan sebaik mungkin. kini berada di ambang kehancuran, Prisila tidak mungkin bisa mempertahankan hubunganya jika pada akhirnya Adven kembali goyah pada Arumy yang kembali datang dalam hidupnya. Arumy.. Wanita sialan itu, dia pasti sudah berbicara sesuatu kepada Adven, karena itulah Adven berubah. Pikiran Anna berkecamuk seperti badai dilautan, semuanya telah menjadi masalah. Dan masalah yang menimpanya pasti sangat disukai Bjorn! Disaat semua orang fokus dengan masalah masing-masing, Bjorn akan diam-diam memperkuat posisinya di perusahaan Hansen dan mencaplok kembali perusahaan ibunya yang akan segera direbut dari tangan Anna. Hansen melep







