ログイン
Asap mengepul ke udara membuat langit malam semakin gelap hingga menghalangi pandangan siapa pun yang ada di sana untuk menyaksikan mobil yang mengguling, menabrak pembatas jalan tol dan terbakar.
Suara sirene mobil ambulans beradu dengan sirene mobil pemadam kebakaran juga kepolisian berusaha menyelamatkan korban serta mengatur lalu lintas jalanan yang cukup ramai. Hati dan pikiran Naura terbelah menjadi berkeping-keping melihat asap tebal dari mobil sedan yang terguling menembus pembatas jalan.
Tubuh langsing Naura gemetar hebat melihat api mobil yang ditumpang oleh suami dan sahabatnya. Kaki jenjangnya lemas dan tidak mampu menopang tubuhnya hingga terjatuh duduk di atas aspal yang dingin.
Salah seorang petugas kepolisian menghampiri Naura yang terduduk lesu, “Sebaiknya Anda ke rumah sakit karena korban sudah di evakuasi.”
“Apa?”
“Petugas kepolisian sempat menyelamatkan dua korban di dalam mobil sebelum terjadi ledakan.”
“Dua? Bukan tiga?”
“Saat kami akan kembali menyelamatkan pengemudi setelah mengevakuasi korban yang ada di bangku penumpang, mobil meledak dan terbakar.”
“Ah …” raung Naura. Air mata tidak lagi terbendung membasahi pipi mulus Naura. Tangisnya pecah membayangkan pengemudi yang tidak lain adalah suaminya dilalap oleh api.
“Kami akan mengantar Anda ke rumah sakit tempat korban di rawat.”
Tangan kokoh petugas kepolisian tersebut membantu Naura berdiri dan menopang tubuh lemahnya untuk berjalan menuju mobil polisi yang telah menunggu. Ditemani oleh dua petugas kepolisian, ia menembus kepadatan lalu lintas dengan suara sirene yang keras memecah kepadatan jalanan.
“Aku harus tetap sadar,” gumam Naura. Yang mereka miliki saat ini hanya dirinya seorang, jika ia berlarut-larut dalam keterpurukkan semua hanya akan berjalan ke arah yang lebih buruk.
“Astagfirullah hal adzim …” ucap Naura berulang kali sambil menarik nafas panjang hingga ia mendapatkan ketenangan.
Saat pikirannya mulai tenang, ia pun teringat dengan mobil lain yang mengawal pasangan Werner bersama suaminya.
“Bagaimana dengan mobil yang lain?” tanya Naura ke petugas kepolisian.
“Satu mobil yang melaju paling depan aman, untuk mobil yang ada di belakan mobil korban menabrak pembatas jalan yang cukup jauh dari TKP dan hanya mengalami luka benturan.”
“Jadi, hanya mobil itu yang mengalami kecelakaan hebat?”
“Ya.”
Bingung, itulah yang Naura pikirkan saat mendengar penjelasan dari petugas kepolisian. Jika hanya mobil yang ditumpangi oleh pasangan Werner yang mengalami kecelakaan hebat maka bisa dibilang mereka memiliki jarak yang cukup jauh dari mobil di belakang mereka. Jarak tersebut cukup untuk membuat mobil yang ada di belakang melakukan pengereman mendadak tanpa harus menabrak mobil mereka dan ikut menerobos pembatas jalan.
“Kita sudah sampai.”
Naura membuka pintu mobil dan melihat orang-orang yang mengawal pasangan Werner sudah berada di UGD rumah sakit. Dua dari mereka berada di dalam UGD mengawasi perawatan yang diberikan oleh perawan ke pasangan Werner, dan satu penjaga lainnya berdiri di luar UGD seolah sedang menunggu seseorang.
“Akhirnya Anda datang juga,” kata pengawal yang berdiri di luar UGD.
“Bagaimana keadaannya?” tanya Naura yang telah mendapatkan ketenangannya kembali.
“Para pengawal hanya mengalami luka memar akibat benturan tanpa ada risiko patah maupun gagar otak.”
“Lalu, bagaimana dengan Arvin dan Shanaz?”
Hening, pengawal tersebut hanya menundukkan kepala tanpa sepatah kata pun yang keluar untuk menjelaskan kondisi pasangan Werner. Naura memperlebar serta mempercepat langkahnya menuju UGD tempat pasangan Werner tersebut di rawat.
“Astagfirullah hal adzim,” ucap Naura saat melihat kondisi Arvin
Tubuh pria itu dipenuhi oleh darah yang mengucur dari kepala, telinga serta hidungnya. Tampak darah juga membasahi celana kain Arvin yang sudah dirobek oleh petugas kesehatan untuk melakukan pertolongan pertama.
“Pak Arvin ditemukan dalam keadaan memeluk Bu Shanaz saat petugas kepolisian melakukan penyelamatan.”
Dengan kaki gemetar, Naura mendekati ranjang tempat pasangan Werner sedang dilakukan perawatan oleh para dokter jaga juga perawat. Alat monitor pasien terpasang di kedua korban dan menunjukkan tanda-tanda vital yang tidak stabil terutama Arvin.
Dua dokter jaga memberikan CPR secara bergantian untuk mendapatkan denyut jantung yang semakin melemah. Dengan nafas tersengal, salah seorang dokter melihat Naura berdiri mematung melihat keadaan pasien yang masih dibantu CPR.
“Apa Anda wali dari korban?” tanya dokter muda tersebut.
“Ya. Bagaimana keadaan mereka?”
“Seperti yang Anda lihat, untuk keadaan saudara Arvin cukup parah. Dari hasil CT Scan dan USG …” Dokter tersebut hanya menggelengkan kepala sebagai bentuk permintaan maaf.
“Apa banyak tulang yang patah?”
“Bukan hanya hanya itu, benturan yang terlalu kuat juga membuat beberapa organ dalam seperti lever mengalami pendarahan yang cukup para dan harus segera di operasi. Masalahnya adalah ….”
Jeda yang terjadi membuat Naura melihat ke arah Arvin yang masih mendapatkan bantuan CPR untuk mendapatkan denyut nadinya kembali.
“Selain itu, dari hasil CT Scan, pendarahan yang terjadi di otak juga cukup parah dan kalaupun kami berhasil menghentikan pendarahan yang terjadi di lever, ada kemungkinan pasien akan mengalami mati otak.”
“Ya Allah,” gumam Naura.
“200 joule …” teriak dokter yang tengah menangani Arvin.
“Ya Allah,” ucap Naura.
“Permisi,” ucap dokter, lalu meninggalkan Naura.
Para perawat berlarian melaksanakan perintah dokter untuk mempertahankan hidup Arvin yang berada di ambang kematian. Angka-angka di monitor semakin menurun dan berbunyi keras membuat Naura harus berusaha keras menghirup oksigen. Dadanya terasa sesak membuat ia harus berpegang ke meja perawat untuk menopang tubuhnya yang lemas dan pandangannya yang mulai menggelap.
“Anda baik-baik saja?” tanya pengawal yang terus berada di sisi Naura.
Naura mengangkat sebelah tangan memberi isyarat agar diberi ruang untuk dan menenangkan diri dan menstabilkan nafas. Teriakan dokter dan suster tidak lagi mampu ia dengar, ia hanya bisa melihat kesibukan serta kepanikan petugas kesehatan dengan kondisi monitor yang semakin menurun.
Angka-angka di monitor semakin menurun begitu pula dengan grafik yang semakin tidak lagi terlihat bergelombang. Naura cemas dan takut namun ia berusaha untuk tetap tegak dan tegar demi mengatasi situasi yang masih membuatnya bingung.
Tit …
Bunyi keras monitor membuat dokter juga perawat akhirnya menyerah. Denyut jantung Arvin tidak kunjung kembali setelah hampir tiga puluh menit dilakukan CPR. Semua angka di monitor menunjukkan angka nol yang berarti sudah tidak ada lagi denyut jantung.
Setelah menyatakan kematian Arvin di hadapan petugas kesehatan, dokter menghampiri Naura untuk memberitahukan kematian Arvinyang diakibatkan oleh pendarahan otak juga gagal jantung.
“Dokter!” Teriakan dari ranjang sebelah membuat mereka beralih ke Shanaz.
Denyut jantung Shanaz yang stabil tiba-tiba menurun.
“Tidak …” ucap Naura ikut berlari menghampiri Shanaz.
Dengan cekatan dokter memberikan CPR untuk membuat denyut jantung Shanaz kembali. Mereka memberi ruang ke Naura untuk mendekat dan membiarkan menggenggam tangan Sahana yang terkulai lemas.
“Kau harus bertahan demi bayi yang ada dalam kandunganmu,” ucap Naura.
“Jadi, dia ke sini bukan hanya untuk mendirikan pabrik tetapi juga untuk memastikan Naura menjadi bagian Werner Group?” tukas Gus Khalid saat Toni sudah pergi.“Benar,” ujar Fadhil sambil menghembuskan nafas panjang.Sejatinya baik Hans maupun Fadhil berencana untuk menjadikan salah satu dari putra dan putri mereka sebagai pasangan suami istri. Dengan dua putra yang dimiliki, Hans mempunya dua pilihan untuk dijadikan sebagai menantu Fadhil namun tidak dengan Fadhil yang hanya memiliki satu putri. Saat Naura berkeras menolak dijodohkan dengan Toni karena ia merasa cukup sahabatnya saja yang menjadi bagian dari Werner Group karena ia tidak mau tampak seperti orang yang sedang bersaing dengan sahabat sendiri, mereka harus memupus harapan untuk menjadi besan.“Apa Anda sudah siap dengan itu?” tanya Gus Khalid.“Apa?”“Kemungkinan yang akan terjadi saat Toni mulai memperlihatkan niatannya.”“Penolakan Naura?”“Itu dan yang lainnya.”“Apa maksud Panjenengan, Lucas?”“Kita semua tahu bahkan
Bayangan Naura mengenakan daster dengan jilbabnya masih menghantui Toni. Ia tidak menduga jika wanita itu akan memakai pakaian yang menutup seluruh tubuhnya meski di rumah. Pikir Toni, hijab yang dikenakan oleh Naura hanya dikenakan saat wanita itu sedang keluar rumah, ternyata tidak.“Apa dia sudah berjilbab dari dulu?” tanya Toni ke Darwis yang sedang mengemudi.“Apa?” Darwis yang berkonsentrasi pada jalanan yang cukup padat tidak mendengar perkataan Toni.“Bukan apa-apa,” ujar Toni.Hari Toni sebagai wakil presiden Werner Group dimulai dan diawali dengan pembangunan pabrik di Pasuruan. Sedangkan sebagai pewaris, ia dibebani tantangan untuk meyakinkan wanita yang sudah membesarkan keponakannya, bersedia menjadi istrinya. Dan, itu terlihat bukan hal yang mudah, setelah ia melihat bagaimana Naura pagi ini.Saat ia bertamu untuk sarapan, sekilas ia melihat sorot terkejut dan takjub di mata almon Naura selama beberapa detik. Wanita itu sangat pandai mengendalikan emosi dan selalu tampak
kedatangan keluarga Werner membuat Naura tidak dapat memejamkan mata dengan tenang. Otak dan hatinya berkecamuk membayangkan ia harus hidup tanpa Emir membuat ia terjaga. Ia tahu, cepat atau lambat mereka pasti akan berpisah, namun enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk mereka menjalin satu ikatan layaknya ibu dan anak kandung.“Kami tidak akan memisahkan Emir darimu,” Begitulah kata Hana Werner yang entah mengapa itu semakin membuat ia cemas.Tidak mungkin mereka akan menyerahkan Emir padanya selamanya mengingat Emir adalah pewaris kedua setelah putra bungsunya, Toni Werner. Mereka yang membeli dua rumah yang bersebelahan saat mencarikan rumah untuk dia tinggal bersama cucu mereka, memperjelas jika Hans Werner tidak akan pernah melepaskan cucunya. Lalu, apa makna dari mereka yang tidak akan pernah memisahkan Emir darinya.“Tidak. Tidak mungkin,” gumamnya.Terlintas di benaknya jika yang dimaksud Hana adalah menjadikan dirinya bagian dari keluarga Werner.“Itu tidak mungkin, Merek
Darwis datang saat malam telah larut, meski begitu tidak terlihat wajah lelah dari pria itu setelah mengemudi selam dua hari satu malam dari Jakarta ke Pasuruan, lalu harus bertemu dengan Fadhil dan kembali mengemudi ke bandara. Toni yang sudah menunggu kedatangannya dengan secangkir kopi hitam pekat, menawarkan waktu ke Darwis untuk istirahat namun ditolak.“Tidak apa-apa. Saya baik-baik saja,” kata Darwis.“Kau bisa membuat kopi dulu, baru kita bicara.”“Baik”Dengan secangkir kopi hitam yang lebih pekat dari milik Toni, Darwis bergabung dengan Toni di ruang tamu.“Jadi, bagaimana?” tanya Toni. “Apa Om Fadhil bersedia membantu kita?”“Beliau menawarkan hal yang lain pada kita.”“Apa itu?” Toni tidak lagi duduk dengan santai, bahunya langsung tegak saat mendengar penawaran lain yang disampaikan oleh Fadhil.“Beliau bertanya apakah selain menambah pabrik untuk produksi yang kita miliki, apakah kita bisa menjadi investor bagi petani di wilayahnya yang saat ini sedang mengalami kesulita
Naura tampak bingung saat melihat Emir berada di kampus yang berlari menghampirinya. Wajah bingung itu berubah menjadi cemas dan pucat saat melihat Toni yang berdiri dua meter di hadapannya, saat itulah ia melihat cinta yang tulus dari wanita itu ke keponakannya“Pelan-pelan,” ucap Toni sambil menyeka es krim yang belepotan di mulut Emir.Senyum ramah bocah laki-laki berusia enam tahun itu saat membuka pintu untuk Toni membuatnya tidak dapat menyangkal jika Emir adalah putra dari kakaknya. Bentuk wajah serta rambut bergelombang yang hitam pekat mempertegas jika bocah itu bukan putra Naura melainkan putra dari sahabat wanita itu yaitu Shanaz. Ia tidak menyangka jika bayi yang terlahir dari sebuah tragedi yang merenggut kematian orang tuanya juga kehidupan ibu angkatnya tumbuh menjadi anak yang ceria.“Jadi, Om itu adalah adik dari ayahku?” tanya Emir setelah menghabiskan setengah es krimnya.“Ya.”“Da, apakah wanita yang di sana itu adalah ibunya Om?” tanyanya dengan wajah polos seoran
Di tengah masa yang penuh ujian, Naura mampu bertahan dan bangkit menapaki jalan kehidupan yang sepenuhnya baru. Meski ia mendapatkan bantuan finansial dari Hans Werner dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka berdua. Naura tetap membutuhkan satu kegiatan yang dapat mengalihkan pikirannya dari kemalangan hidup yang menerjangnya. Celoteh riang dan tawa manis Emir membuatnya memutuskan untuk menjadi dosen di salah satu universitas lokal Pasuruan.“Untuk mata kuliah sosiologi politik, saya hanya akan memberikan kajian materi sebanyak tiga kali pertemuan dan selebihnya kita adakan diskusi untuk mengkaji secara detail mengenai sosiologi politik yang terkait dengan kekuasaan dan dampaknya bagi kehidupan kita secara individu juga kita sebagai bagian dari masyarakat.”Naura memutuskan untuk menjadi dosen meneruskan apa yang sudah ia rencanakan bersama almarhum sahabatnya, Shanaz, setelah mereka menyelesaikan pendidikan S2. Sayangnya, rencana itu tidak dapat mereka wujudkan bersama karena Shanaz







