Home / Romansa / Cinta yang Terbelah / Janji di Ujung Senja

Share

Janji di Ujung Senja

Author: BPrastiwi
last update publish date: 2026-08-11 12:43:39

“Tidak … kau harus bertahan, Shanaz!” ucap Naura dengan putus asa.

Dokter secara bergantian memberikan bantuan CPR untuk mengembalikan denyut jantung yang mulai melemah. Angka kehidupan di monitor naik secara perlahan setelah lima kali dilakukan CPR.

“Apa sudah memanggil dokter kandungan?”

“Sudah. Dokter bilang akan sampai dalam lima belas menit, namun sepertinya ada kemacetan lalu lintas yang membuat sedikit terlambat.”

“Apa ada masalah dengan kandungannya?” tanya Naura yang masih menggenggam tangan Shanaz.

“Denyut jantung sedikit melemah, jadi harus segera dilakukan tindakan untuk menyelamatkan nyawa bayi.”

“Bagaimana dengan sekarang? Apa masih baik-baik saja, mengingat ini sudah lebih dari lima belas menit dari sejak dia masuk rumah sakit?” Naura menggenggam erat tangan Shanaz yang mulai terasa dingin.

Dokter meletakkan stetoskop ke perut Shanaz untuk mendengarkan denyut jantung janin.

“Apa dokter kandungan masih lama?” tanya dokter jaga ke perawat.

“Kenapa? Apa denyut jantung janin menghilang?”

“Bukan, hanya saja …”

“Mana pasien yang membutuhkan pertolongan?”

Perasaan lega membanjiri dokter jaga serta perawat saat melihat seorang wanita dengan jubah dokter berjalan menghampiri mereka. Tanpa melihat ke wajah pasien, ia langsung meletakkan stetoskop ke perut besar Shanaz.

“Ambilkan alat USG!” perintahnya. Saat itulah ia melihat pasien yang terbaring lemah antara hidup dan mati.

“Bu Shanaz,” ujarnya dengan raut tidak percaya dan terkejut. “Jadi, korban kecelakaan itu … dia?”

“Ya.”

“Ya Tuhan,” ucapnya.

Sebagai dokter kandungan si korban, ia tidak lagi perlu menerka usia kandungan dari Shanaz. USG tetap dilakukan untuk mengetahui posisi janin sebelum operasi sesar.

“Segera siapkan ruang operasi dan minta …” Menyadari keadaan yang terjadi, dokter pun terlihat bingung dan ragu, “bagaimana keadaan suaminya?” tanyanya.

“Meninggal.”

“Lalu, keluarganya? Kita butuh tanda tangan dari walinya.”

“Saya akan menandatanganinya,” kata Naura yang terus berada di sisi Shanaz. “Saya adalah wali dari mereka berdua,” imbuhnya.

Sang dokter menatap dengan tatapan penilaian ke Naura yang terus berdiri tegar di samping korban. Sebagai pasangan pengusaha dan politisi muda, bukan hal yang baru saat orang selain keluarga menjadi wali mereka saat terjadi kejadian tidak terduga seperti saat ini, di kala keluarga berada jauh.

“Baiklah. Saya akan menjelaskan kemungkinan yang terjadi selama operasi.”

Naura hanya bisa berdiri kaku saat dokter menegaskan kemungkinan besar ia hanya bisa menyelamatkan salah satu dari mereka. Melihat kondisi saat ini, ada kemungkinan ia dapat menyelamatkan bayi yang memang sudah siap untuk lahir beberapa hari ke depan, akan tetapi tidak dengan sang ibu yang kehilangan banyak darah juga kesadaran.

“Anda harus bersiap dengan keadaan terburuk,” kata dokter sambil menepuk lembut lengan Naura.

Perawat bergerak dengan cepat memindahkan Shanaz ke ruang operasi setelah dokter menghilang dari ruang UGD. Ia hanya bisa menatap nanar sahabatnya yang terbaring lemah, tidak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit.

“Maaf …” Seorang perawat berdiri di hadapan Naura.

“Ya?”

“Untuk pasien yang meninggal, kami membutuhkan proses selanjutnya.”

“Ah, benar.” Naura memanggil pengawal yang berdiri tidak jauh darinya, memberi perintah untuk melakukan proses selanjutnya dengan jenazah Arvin.

Naura berjalan menuju ruang operasi, duduk seorang diri di ruang yang sepi dengan udara malam yang semakin dingin dan sunyi. Keluarga Werner sedang berada di luar negeri mengurus bisnis mereka, sedangkan keluarga Shanaz berada di Surabaya membuat mereka tidak dapat segera datang. Naura menjadi satu-satunya orang yang diandalkan oleh mereka untuk menangani situasi saat ini.

Lampu ruang operasi berubah menjadi warna hijau setelah hampir satu jam Naura duduk dengan cemas. Ia berlari menghampiri dokter yang keluar dari ruang operasi.

“Bagaimana, Dok?”

“Kami berhasil menyelamatkan bayinya, namun kami harus menunggu dalam satu kali dua puluh empat jam untuk kondisi sang ibu.”

“Apa keadaannya parah? Berapa besar kemungkinan untuk bertahan?”

“Maafkan kami.”

Lutut Naura terasa lemas saat mendengar jawaban tidak pasti dari dokter. Ia membungkuk memegangi lututnya dengan nafas dalam dan pelan.

“Bayinya? Apa saya bisa melihat bayinya?”

“Tentu saja.”

Setelah memakaikan pakaian khusus untuk masuk ke kamar bayi, Naura diizinkan untuk menggendong bati yang baru lahir ke dunia. Air mata menetes saat ia menatap wajah tampan dan lucu putra sahabatnya yang harus bersiap menghadapi dunia tanpa kedua orang tuanya. Ia berjanji akan mengungkapkan kebenaran dari kecelakaan maut yang membuat bayi mungil itu harus kehilangan orang tuanya bahkan sebelum ia dilahirkan.

“Benar, dia harus mendapatkan azan dan ikomah. Apa bisa saya meminta pengawal kami masuk untuk melakukan itu?” pinta Naura.

“Tentu saja. Kami akan memanggil pengawal Anda.” Meski sang dokter seorang Kristian, ia yang sudah membantu banyak pasien muslim melahirkan, telah memahami hal tersebut adalah bagian dari ajaran agama mereka.

“Apakah pengawal yang Anda maksud adalah pria yang berdiri di sisi Anda selama di UGD tadi?” tanya si dokter untuk memastikan.

“Ya.”

“Baiklah, saya akan mencarinya dan memberitahu untuk datang ke kamar bayi.”

Naura memberikan bayi laki-laki tampan itu ke pengawal mereka untuk melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh Arvin. Setelah membisikkan azan dan ikomah, mereka memberikan bayi tersebut ke perawat untuk mendapatkan perawatan lanjut.

“Ada yang harus saya sampaikan ke Anda,” kata Rudi yang sudah mengabdi ke pasangan muda Werner sejak Arvin mulai menjadi wakil presiden Werner Group.

“Apakah itu?”

“Ini mengenai suami Anda,” kata Rudi dengan ragu.

“Apa?”

“Jasad suami Anda tidak dapat ditemukan di dalam mobil yang terbakar.”

“Apa menurutmu ada kemungkinan tubuh suamiku akan tetap utuh dengan api yang berkobar seperti itu,” ujar Naura dengan pilu.

“Ada. Seharusnya masih ada sisa bagian tubuh, bahkan bisa pula jasad tetap utuh dengan luka bakar yang cukup parah, itu adalah hal yang disampaikan oleh petugas kepolisian saat saya mengatakan hal yang sama persis dengan yang Anda katakan ke saya.”

“Apa?”

“Mereka hanya menemukan jas, jam tangan serta cincin kawin … selebihnya hanya abu dan itu …”

“Sangat aneh,” potong Naura.

“Benar.”

Keheningan mencekam udara di sekitar mereka. Bayangan ketakutan melintas di benak Naura dengan jasad suaminya yang tidak ditemukan, maka banyak kemungkinan yang terjadi di balik kecelakaan maut tersebut.

“Dan …” Rudi tampak ragu untuk melanjutkan perkataannya.

“Apa?”

“Itu … mengenai Pak Lucas ….”

Naura menunggu tetapi Rudi tidak juga segera melanjutkan perkataannya. Keraguan di wajah pria itu membuat bulu kuduknya berdiri dengan dengup jantung yang kencang.

“Ada apa dengan Lucas?” tanya Naura dengan degup jantung yang semakin cepat.

“Berdasarkan penyelidikan tim kita, Pak Lucas terlibat dalam kecelakaan maut yang menewaskan Pak Arvin.”

“Terlibat? Terlibat bagaimana maksudnya?”

“Anda tidak perlu terlalu cemas, ini hanya berdasarkan penyelidikan kami sementara,” ujar Rudi yang terlihat cemas dengan wajah Naura yang berubah pucat.

“Aku tanya, terlibat bagaimana maksudnya?” Teriakan Naura memecah keheningan malam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Terbelah   Jejak Sang Pewaris

    Toni meninggalkan kediaman Gus Khalid dengan wajah berkerut dan membisu selama perjalanan menuju rumah. Darwis yang mengenal baik Toni memilih untuk diam dan bersiap dengan semua pertanyaan dari atasannya tersebut saat mereka sampai di rumah. Lalu lintas siang yang cukup lengang membuat mereka sampai kurang dari tiga puluh menit. Toni bergegas turun tanpa menunggu mobil benar-benar berhenti dan melangkah dengan langkah lebar dan cepat ke dalam rumah yang tidak terkunci.“Baguslah kau di sini,” tukas Toni saat melihat Farah sedang duduk di ruang tamu.Wajah muram Toni membuat Farah melirik ke arah Darwis yang berdiri di ambang pintu. Senyum Darwis yang ragu memberitahukan jika ada sesuatu yang membuat tuan mudanya tersebut muram hingga membuat mereka harus bersiap dengan semua pertanyaan yang tidak akan pernah berhenti.“Jadi, apa sebenarnya posisiku di sini?” tanya Toni dengan kedua tangan di pinggang sambil menatap tajam ke kedua anak buahnya atau lebih tepatnya anak buah ayahnya.“

  • Cinta yang Terbelah   Jalan Takdir Siapa Yang Tahu?

    “Jadi, dia ke sini bukan hanya untuk mendirikan pabrik tetapi juga untuk memastikan Naura menjadi bagian Werner Group?” tukas Gus Khalid saat Toni sudah pergi.“Benar,” ujar Fadhil sambil menghembuskan nafas panjang.Sejatinya baik Hans maupun Fadhil berencana untuk menjadikan salah satu dari putra dan putri mereka sebagai pasangan suami istri. Dengan dua putra yang dimiliki, Hans mempunya dua pilihan untuk dijadikan sebagai menantu Fadhil namun tidak dengan Fadhil yang hanya memiliki satu putri. Saat Naura berkeras menolak dijodohkan dengan Toni karena ia merasa cukup sahabatnya saja yang menjadi bagian dari Werner Group karena ia tidak mau tampak seperti orang yang sedang bersaing dengan sahabat sendiri, mereka harus memupus harapan untuk menjadi besan.“Apa Anda sudah siap dengan itu?” tanya Gus Khalid.“Apa?”“Kemungkinan yang akan terjadi saat Toni mulai memperlihatkan niatannya.”“Penolakan Naura?”“Itu dan yang lainnya.”“Apa maksud Panjenengan, Lucas?”“Kita semua tahu bahkan

  • Cinta yang Terbelah   Rasa yang Tak Terduga

    Bayangan Naura mengenakan daster dengan jilbabnya masih menghantui Toni. Ia tidak menduga jika wanita itu akan memakai pakaian yang menutup seluruh tubuhnya meski di rumah. Pikir Toni, hijab yang dikenakan oleh Naura hanya dikenakan saat wanita itu sedang keluar rumah, ternyata tidak.“Apa dia sudah berjilbab dari dulu?” tanya Toni ke Darwis yang sedang mengemudi.“Apa?” Darwis yang berkonsentrasi pada jalanan yang cukup padat tidak mendengar perkataan Toni.“Bukan apa-apa,” ujar Toni.Hari Toni sebagai wakil presiden Werner Group dimulai dan diawali dengan pembangunan pabrik di Pasuruan. Sedangkan sebagai pewaris, ia dibebani tantangan untuk meyakinkan wanita yang sudah membesarkan keponakannya, bersedia menjadi istrinya. Dan, itu terlihat bukan hal yang mudah, setelah ia melihat bagaimana Naura pagi ini.Saat ia bertamu untuk sarapan, sekilas ia melihat sorot terkejut dan takjub di mata almon Naura selama beberapa detik. Wanita itu sangat pandai mengendalikan emosi dan selalu tampak

  • Cinta yang Terbelah   Antara Luka dan Pesona

    kedatangan keluarga Werner membuat Naura tidak dapat memejamkan mata dengan tenang. Otak dan hatinya berkecamuk membayangkan ia harus hidup tanpa Emir membuat ia terjaga. Ia tahu, cepat atau lambat mereka pasti akan berpisah, namun enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk mereka menjalin satu ikatan layaknya ibu dan anak kandung.“Kami tidak akan memisahkan Emir darimu,” Begitulah kata Hana Werner yang entah mengapa itu semakin membuat ia cemas.Tidak mungkin mereka akan menyerahkan Emir padanya selamanya mengingat Emir adalah pewaris kedua setelah putra bungsunya, Toni Werner. Mereka yang membeli dua rumah yang bersebelahan saat mencarikan rumah untuk dia tinggal bersama cucu mereka, memperjelas jika Hans Werner tidak akan pernah melepaskan cucunya. Lalu, apa makna dari mereka yang tidak akan pernah memisahkan Emir darinya.“Tidak. Tidak mungkin,” gumamnya.Terlintas di benaknya jika yang dimaksud Hana adalah menjadikan dirinya bagian dari keluarga Werner.“Itu tidak mungkin, Merek

  • Cinta yang Terbelah   Hati yang Menutup Diri

    Darwis datang saat malam telah larut, meski begitu tidak terlihat wajah lelah dari pria itu setelah mengemudi selam dua hari satu malam dari Jakarta ke Pasuruan, lalu harus bertemu dengan Fadhil dan kembali mengemudi ke bandara. Toni yang sudah menunggu kedatangannya dengan secangkir kopi hitam pekat, menawarkan waktu ke Darwis untuk istirahat namun ditolak.“Tidak apa-apa. Saya baik-baik saja,” kata Darwis.“Kau bisa membuat kopi dulu, baru kita bicara.”“Baik”Dengan secangkir kopi hitam yang lebih pekat dari milik Toni, Darwis bergabung dengan Toni di ruang tamu.“Jadi, bagaimana?” tanya Toni. “Apa Om Fadhil bersedia membantu kita?”“Beliau menawarkan hal yang lain pada kita.”“Apa itu?” Toni tidak lagi duduk dengan santai, bahunya langsung tegak saat mendengar penawaran lain yang disampaikan oleh Fadhil.“Beliau bertanya apakah selain menambah pabrik untuk produksi yang kita miliki, apakah kita bisa menjadi investor bagi petani di wilayahnya yang saat ini sedang mengalami kesulita

  • Cinta yang Terbelah   Rahasia di Sebelah Rumah

    Naura tampak bingung saat melihat Emir berada di kampus yang berlari menghampirinya. Wajah bingung itu berubah menjadi cemas dan pucat saat melihat Toni yang berdiri dua meter di hadapannya, saat itulah ia melihat cinta yang tulus dari wanita itu ke keponakannya“Pelan-pelan,” ucap Toni sambil menyeka es krim yang belepotan di mulut Emir.Senyum ramah bocah laki-laki berusia enam tahun itu saat membuka pintu untuk Toni membuatnya tidak dapat menyangkal jika Emir adalah putra dari kakaknya. Bentuk wajah serta rambut bergelombang yang hitam pekat mempertegas jika bocah itu bukan putra Naura melainkan putra dari sahabat wanita itu yaitu Shanaz. Ia tidak menyangka jika bayi yang terlahir dari sebuah tragedi yang merenggut kematian orang tuanya juga kehidupan ibu angkatnya tumbuh menjadi anak yang ceria.“Jadi, Om itu adalah adik dari ayahku?” tanya Emir setelah menghabiskan setengah es krimnya.“Ya.”“Da, apakah wanita yang di sana itu adalah ibunya Om?” tanyanya dengan wajah polos seoran

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status