Share

Bab 2

Author: Moze
Area di sekitar gedung dipenuhi orang dan lalu lintas sangat padat. Aku naik ke kantor Christie yang terletak di lantai paling atas. Begitu aku membuka pintu, suaranya langsung terdengar.

"Nathaniel, aku sudah peringatkan kamu untuk muncul di depanku dalam waktu 30 menit. Sekarang ...."

"Emm," selaku dengan acuh tak acuh. Aku langsung berbalik dan duduk di sofa dengan santai.

Franky juga berada di dalam kantor. Dia menunduk dengan mata sedikit merah. Tangan kanannya menggenggam pergelangan tangan kirinya.

Sikap dinginku sepertinya memprovokasi Christie. Dia menggebrak meja dan berseru, "Nathaniel, sikap macam apa itu! Kamu masih nggak mau akui kesalahanmu sampai sekarang?"

Sebelum aku sempat berbicara, Franky angkat bicara, "Kak Christie, nggak apa-apa. Itu cuma sebuah jam tangan. Jangan salahkan Kak Nathaniel."

Kata-kata Franky hanya makin memicu amarah Christie. Namun, dia menahan amarahnya dan berbicara pelan kepada Franky, "Apa maksudmu dengan jangan menyalahkannya? Hatinya begitu sempit, sampai-sampai dia mau rebut hadiah ulang tahun yang kubelikan untukmu! Jangan khawatir, aku nggak akan membelanya."

Seusai berbicara, Christie menoleh dan nadanya tiba-tiba menajam. "Nathaniel, aku akan beri kamu satu kesempatan terakhir. Kembalikan jam tangan itu kepada Franky."

Hal seperti ini sudah pernah terjadi entah berapa kali. Setiap kali dijebak Franky, tidak ada gunanya juga aku memberi penjelasan. Christie yang dulunya memercayaiku tanpa syarat hanya akan mencurigaiku tanpa syarat sekarang.

Aku malas berbicara omong kosong. Jadi, aku berdiri dan melepas jam tangan yang agak usang dari pergelangan tangan kiriku sebelum melemparnya ke samping kaki Franky.

Tindakan ini membuat Christie yang berusia 19 tahun serta 27 tahun tidak dapat menahan diri lagi dan berbicara.

Yang berusia 19 tahun berkata sambil menangis, "Niel, kumohon ... jangan begitu."

Sementara yang berusia 27 tahun sangat marah dan tidak dapat lagi mengendalikan amarahnya. "Nathaniel! Apa aku sudah terlalu baik padamu!"

Jam tangan di samping kaki Franky itu adalah satu-satunya jam tanganku.

Pada saat itu, Christie mendapat peran akting pertamanya. Meskipun hanya peran pendukung, dia sangat gembira untuk waktu yang lama. Setelah syuting berakhir, dia menggunakan penghasilannya yang sedikit itu untuk membeli jam tangan ini. Harganya hanya sekitar 4 juta.

Sejak saat itu, aku tidak pernah memakai jam tangan lain.

Aku masih ingat bagaimana dia menyerahkan jam tangan itu kepadaku. Dia menggenggam tanganku dengan tulus dan matanya sedikit merah, seolah-olah dia merasa berutang budi padaku. Dia berkata pelan, "Niel, ini semua uang yang kumiliki sekarang. Setelah punya lebih banyak uang kelak, aku pasti akan belikan jam tangan favoritmu."

Tentu saja, dia memang membeli jam tangan itu setelahnya. Hanya saja, bukan untukku, melainkan untuk Franky.

Aku tidak repot-repot berdebat dan berbalik untuk keluar dari kantor.

"Kamu!"

Christie yang berusia 27 tahun sangat marah hingga hampir tidak bisa berbicara, sedangkan Franky menghiburnya dengan lembut, "Kak Christie, jangan marah. Apa hadiah ulang tahun yang kamu berikan padaku begitu penting bagi Kak Nathaniel? Kalau memang begitu, memang aku yang salah. Wajar saja Kak Nathaniel suruh orang mengambilnya. Jangan salahkan Kak Nathaniel, aku baik-baik saja."

Suara Franky terdengar rendah. Dia menambahkan, "Lagian, nggak ada yang pernah rayakan ulang tahunku sejak kecil. Aku sudah sangat bersyukur Kak Christie menemaniku. Nggak ada hadiah juga nggak apa-apa."

Kata-kata Franky menenangkan Christie yang napasnya memburu. Ekspresinya juga terlihat sedikit lebih baik.

"Nathaniel, kembalikan jam tangan Franky. Nanti, aku akan belikan yang lebih bagus buat kamu."

"Nggak perlu. Baik yang ada di lantai ataupun yang kamu beli kelak, aku nggak menginginkannya lagi."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta yang Terkubur oleh Waktu   Bab 9

    Aku tertawa histeris."Christie, kamu tahu nggak? Waktu dengar kata-kata itu, aku mengucapkan sesuatu pada diriku sendiri. Kamu tahu apa yang kuucapkan?" Christie menatapku dengan mata penuh harapan. "A ... apa?"Aku menatap wajahnya yang sama persis seperti sebelumnya. Namun, wajahnya sekarang tertutup riasan yang sangat indah."Aku bilang, aku nggak pernah menyesal bertemu denganmu. Selain itu, aku juga bersedia kasih kamu satu kesempatan terakhir," ucapku dengan tenang.Seluruh tubuh Christie gemetar. Matanya berbinar dan dia sepertinya sangat gembira. Namun, sebelum dia bisa berbicara, aku melanjutkan, "Tapi, kamu sudah sia-siakan kesempatan itu. Kamu bahkan nggak lepaskan tangan Franky waktu minta maaf. Sebelum berangkat ke bandara, aku ada di rumah selama dua jam penuh. Tapi, di mana kamu?" Seusai berbicara, aku tiba-tiba menekan tombol panggil di meja samping tempat tidur. Saat perawat masuk, aku berbicara dengan dingin, "Tolong suruh nona ini tinggalkan kamarku. Aku nggak ma

  • Cinta yang Terkubur oleh Waktu   Bab 8 

    Namun, aku masih bertahan mati-matian. Selama bisa menunda waktu meskipun hanya sedetik, peluangku untuk bertahan hidup akan meningkat.Pisau itu menusuk lengan kiriku berulang kali. Aku tak bisa mengendalikan diri lagi dan mulai menjerit kesakitan. Franky mendesakku untuk memohon ampun lagi dan lagi, tetapi bagaimana mungkin aku memohon padanya?Luka-luka itu bertambah banyak dan seluruh lengan kiriku sudah sepenuhnya kehilangan sensasi. Kesadaranku juga mulai memudar. Begitu mengingat yang menantiku adalah penyiksaan lebih lanjut, aku merasa putus asa.Tak disangka, Franky melempar pisau yang dipegangnya. "Ini nggak menarik. Ya sudahlah. Memang langsung membunuhnya yang paling masuk akal."Kata-kata itu seketika membuatku tegang.Franky akhirnya menyerah untuk menyiksaku. Para pria kekar di belakangnya juga menghela napas lega."Kalian bertindak saja." Franky bertepuk tangan dan mengeluarkan saputangan untuk menyeka tangannya.Para pria kekar itu melangkah maju. Mereka mengeluarkan

  • Cinta yang Terkubur oleh Waktu   Bab 7

    "Franky, apa maumu?"Aku berusaha sebaik mungkin untuk mengendalikan nada bicaraku. Aku takut membuat marah orang gila di hadapanku."Hahaha, Nathaniel, kamu itu orang pintar. Memangnya kamu masih belum bisa tebak?" Aku tentu saja bisa menebaknya. Namun, saat ini, menenangkan Franky adalah prioritasku. Sebelum aku sempat memikirkan cara untuk menenangkan Franky, orang di sebelahnya berbicara dalam bahasa ibu kami yang terdengar kurang fasih, "Tuan, kita harus gerak cepat. Langsung bunuh saja dia. Staf resor ski akan menyadarinya cepat atau lambat. Kalau terjadi hal di luar dugaan, itu nggak akan baik." Namun, kata-kata ini sepertinya sudah sepenuhnya membuat Franky marah."Diam! Aku sudah beri kalian begitu banyak uang. Lagian, resor ski ini sangat besar, apa yang mungkin terjadi dengan hilangnya satu orang?" seru Franky. Kemudian, dia menamparku dengan keras. Setelah itu, dia menjambak rambutku dengan kuat."Nathaniel, dasar bajingan! Kamu tahu sudah berapa banyak usaha yang kucur

  • Cinta yang Terkubur oleh Waktu   Bab 6 

    Christie yang merasa pusing mulai menggedor pintu."Nathaniel, buka pintunya. Aku sudah pulang.""Nathaniel, aku tahu kamu di rumah.""Nathaniel, aku tahu aku yang salah. Tolong buka pintunya.""Nathaniel, apa lagi yang kamu inginkan? Aku sudah minta maaf." Christie menggedor pintu dengan amarah yang makin meningkat. Efek alkoholnya bahkan sudah mereda cukup banyak. Mungkin karena sudah lelah menggedor, dia akhirnya ingat untuk memeriksa ponselnya. Tidak lama kemudian, dia menemukan riwayat obrolan aku memberitahunya kata sandi pintu.Namun, setelah memasukkan kata sandi itu, dia tiba-tiba sepenuhnya sadar. Sebab, kata sandinya masih salah. Pada saat ini, dia baru menyadari bahwa aku telah mengubah kata sandi.Menyadari ada yang salah, Christie segera meneleponku."Maaf, nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif."Berhubung berteriak dan menelepon tidak ada gunanya, Christie akhirnya memecahkan jendela vila untuk masuk."Nathaniel, jangan keterlaluan kamu!" Dia bergegas ke kamar tidur

  • Cinta yang Terkubur oleh Waktu   Bab 5

    Aku melirik Christie dan Franky dengan acuh tak acuh, lalu berbalik untuk pergi. Christie yang berusia 19 tahun tidak akan pernah kembali lagi, sedangkan aku juga tidak perlu lagi terlibat dengan mereka berdua.Namun, baru saja aku mulai melangkah, terdengar suara Christie berujar, "Niel, ja ... jangan pergi." Mungkin panggilan unik itu masih memiliki tempat di hatiku. Aku juga ingin tahu apa yang ingin dia katakan.Melihatku berhenti, wajah Christie langsung berseri-seri."Niel, maaf, aku yang sudah lupa. Aku akan suruh orang untuk siapkan yang baru. Oke? Niel, aku yang salah. Maafkan aku, ya." Namun, kata-kata Christie hanya membuatku merasa agak geli. Bahkan saat meminta maaf, dia belum melepaskan tangan Franky. Mungkin karena menyadari tatapanku, dia baru tersadar dan buru-buru melepaskan tangan Franky.Christie ingin menyusul, tetapi Franky menariknya kembali dan mengatakan sesuatu yang menghentikannya di tempat.Aku tidak peduli lagi apa yang ingin dikatakan atau dilakukan Chri

  • Cinta yang Terkubur oleh Waktu   Bab 4

    Christie yang berusia 19 tahun meneteskan air mata lagi. "Jadi, besok malam, dia akan menyesalinya."Namun, tak satu pun dari kami menyangka bahwa Christie yang berusia 27 tahun akan benar-benar muncul di pantai. Hanya saja, dia bukan datang untuk memenuhi janji kami."Nathaniel, kamu berani pantau aku dan kejar sampai kemari? Hebat! Hebat banget kamu!"Saat ini, pantai yang kami tetapkan sebagai tempat untuk melamar dipenuhi mawar. Di belakang mawar, ada berbagai macam kembang api. Di tengah-tengah kemeriahan semua ini, berdiri Christie yang berusia 27 tahun. Bahkan saat melihatku, dia juga tidak melepaskan tangan Franky."Tiga kesempatan itu sudah habis digunakan, Christie," gumamku pelan. Christie yang berusia 19 tahun mengguncang lenganku dengan putus asa. "Niel! Niel, jangan begitu. Mungkin saja dia menyiapkan semua ini untukmu. Kita pergi lihat, ya?"Suara gadis berusia 19 tahun itu nyaris seperti memohon. Namun, suara gadis berusia 27 tahun itu sangat dingin."Nathaniel, kemari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status