Compartilhar

Bab 3

Autor: Yila
Aku meletakkan kembali ponsel itu ke tempat semula. Detik berikutnya, pintu terbuka dan Gading melangkah masuk dengan terburu-buru, ekspresinya tampak panik mencari ponselnya.

"Sekar, kamu ...."

Dia menatapku dengan sorot mata yang sedikit gelisah, seolah takut aku telah menyentuh ponselnya.

"Tadi ponselmu bunyi terus. Sepertinya ada urusan penting, coba kamu cek dulu."

Mendengar ucapanku, Gading tampak mengembuskan napas lega yang nyaris tak terlihat. "Nggak apa-apa, bukan urusan besar. Aku mau nemenin kamu saja di sini."

Aku menatap wajah Gading, lalu tersenyum, sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus.

"Gading, kamu tahu nggak? Aku merasa beruntung banget bisa ketemu kamu. Aku tahu kamu dan kakakku nggak akur, tapi aku janji bakal bicara baik-baik sama Kakak tentang kamu. Sebenarnya ada yang kamu nggak tahu ... jauh sebelum kamu nembak aku, aku sudah suka sama kamu sejak lama sekali. Jadi, selama tiga tahun kita bareng, aku benar-benar bahagia. Gading, aku benar-benar mencintaimu."

Mendengar kata-kataku, tangan Gading tampak sedikit gemetar.

"Dasar bodoh, kenapa kata-kata ini baru kamu kasih tahu sekarang? Aku juga sayang banget sama kamu, benaran."

Gading mengecup keningku perlahan, tetapi dia sama sekali tidak berani menatap mataku.

Aku tahu, meski dia berkata begitu, Gading tidak akan pernah membatalkan rencana jahatnya.

Gading, tenang saja. Di hari ke-99 nanti, aku juga akan memberimu sebuah kejutan besar.

Selama beberapa bulan masa pemulihan kakiku, aku melihat Manda mempersiapkan diri untuk kompetisi tari dengan riang.

Tanpa adanya aku sebagai saingan, Manda dengan sangat mudah merebut gelar juara. Di hari kemenangan itu, Gading sama sekali tidak datang ke rumah sakit untuk menemaniku.

Di momen media sosial Manda, tampak segerombolan teman mengerumuninya. Sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya mengenakan jam tangan mewah yang sangat kukenali.

Aku tahu sekali jam itu. Itu adalah jam tangan yang kuhadiahkan untuk Gading.

Aku mematikan ponselku, lalu tersenyum getir meratapi nasibku sendiri.

Untungnya, jantungku sudah tidak terasa sakit lagi karena dia.

Hari ketika aku keluar dari rumah sakit, Gading tiba-tiba menerjang masuk ke kamar inapku dengan ekspresi panik. Belum sempat aku bereaksi, dia sudah menyeretku keluar tanpa memedulikan kondisi kakiku yang baru saja pulih.

"Manda kecelakaan dan sekarang pendarahan hebat! Sekar, cuma kamu yang punya golongan darah langka sama kayak dia. Cepat ikut aku, kamu harus donor darah buat nyelametin dia!"

Gading bahkan tidak peduli kalau aku sendiri adalah pasien yang baru saja akan pulang. Dia menyeretku paksa sampai ke depan ruang operasi Manda dan memerintahkan perawat untuk segera mengambil darahku.

Dengan tatapan penuh kecemasan, dia menatap ke arah pintu ruang operasi tempat Manda berada, sambil bergumam lirih.

"Manda, aku nggak akan biarin apa pun terjadi sama kamu."

Aku bahkan tidak sempat menolak. Teman-teman Gading langsung memegangi tubuhku dengan kuat, membiarkan perawat menancapkan jarum langsung ke pembuluh darahku.

Darah di dalam tubuhku terus mengalir keluar tanpa henti. Aku bisa merasakan kesadaranku mulai menipis dan tubuhku menjadi makin lemas.

Perawat yang mengambil darahku menyadari ada yang tidak beres, dia segera berteriak.

"Nona ini sepertinya dalam kondisi bahaya. Aku sarankan proses donor darah ini segera dihentikan!"

"Terus ambil darahnya! Jangan berhenti sampai Manda benar-benar aman!" bentak Gading.

Gading langsung membentak seketika, hilang sudah pembawaannya yang biasanya tenang dan berwibawa.

Di depan Manda yang sedang dalam bahaya, dia benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Gading, kamu benar-benar cinta mati, ya, sama Manda.

Aku memejamkan mata dengan perasaan pilu, tak lagi memberikan perlawanan.

Wajahku makin pucat pasi, hingga akhirnya tubuhku tak sanggup lagi bertahan dan aku pun jatuh pingsan.

Saat aku terbangun kembali, hari sudah gelap gulita.

Aku kira hari ini aku sudah bisa pulang, ternyata aku malah harus mendekam lagi di rumah sakit.

Gading dan gengnya berdiri di depan pintu. Mungkin karena mengira aku belum sadar, mereka berbicara dengan sangat blak-blakan.

"Kamu kenapa sih, Gading? Sekar 'kan cuma donor darah sedikit, kenapa kamu malah tegang banget gitu? Kamu nggak benaran jatuh cinta sama dia, 'kan?"

"Kamu harus sadar posisi, ya. Ingat, setelah rencana ke-99 selesai, kamu harus langsung mutusin dia. Ini 'kan cuma main-main doang, jangan sampai kamu malah nggak tahu batasan. Kamu nggak kasihan apa sama Manda?"

Sepertinya, Manda sudah baik-baik saja. Aku bahkan bisa mendengar suaranya.

"Gading, apa kamu benaran jatuh cinta sama dia? Nggak apa-apa kok, aku bisa milih buat mundur. Meskipun kamu khianati janji kita, aku bakal tetap mencintaimu."

"Nggak, aku nggak cinta!"

Gading langsung membantah dengan nada mendesak. Saat menyebut namaku, suaranya terdengar sangat merendahkan.

"Aku cuma sudah terlalu lama main-main sama Sekar, jadi agak sayang saja kalau mainan yang pas kayak dia dilepas begitu saja. Rencana ke-99 tetap jalan sesuai jadwal. Besok aku bakal cari alasan buat ajak dia ke sana, terus kita kurung semalaman. Habis itu, baru aku bakal jujur dan mutusin dia sekalian."

"Emang Kak Gading yang paling mantap, tegas banget!"

Setelah mereka berunding sebentar, Gading menyuruh teman-temannya pergi, lalu dia sendiri mendorong pintu dan masuk ke kamarku.

Dia berjaga di samping tempat tidurku, merapikan selimutku, dan mengatur ketinggian bantal agar aku merasa nyaman.

Gading, sekarang aku 'kan belum bangun, buat apa kamu masih pura-pura begini?

Aku membuka mataku, lalu menatapnya dengan sorot mata yang dingin dan hampa.

"Sekar, kamu sudah bangun? Tadi keadaan Manda sedang kritis, makanya aku minta kamu donor darah sedikit. Tenang saja, dokter bilang tubuhmu sudah nggak apa-apa kok. Aku cuma menganggap Manda sebagai adik, kamu jangan salah paham, ya. Orang yang aku cintai itu cuma kamu."

Aku mengangguk dengan ekspresi datar. Gading tersenyum, lalu pura-pura tidak sengaja membahas hal lain.

"Besok aku ajak kamu ke suatu tempat, ya? Aku sudah menyiapkan sebuah kejutan buat kamu."

Aku memaksakan diri untuk tersenyum lebar, berpura-pura merasa senang.

"Boleh. Apa pun yang kamu siapkan, aku pasti suka. Kejutannya nggak penting, yang paling penting itu cuma kamu."

Gading tertegun sejenak. Dia langsung berdiri dan melangkah keluar kamar inap seolah-olah sedang melarikan diri dariku.

Begitu melihatnya pergi, aku segera menghapus senyumanku dan menelepon kakakku.

"Kak, apa surat keterangan kematianku sudah jadi? Besok, aku butuh Kakak untuk menemaniku bersandiwara."

Malam berikutnya, Gading mengemudikan mobilnya dan membawaku ke sebuah gedung tua yang terbengkalai dan tak berpenghuni.

Aku tidak bertanya apa-apa. Seluruh tatapan dan sikapku menunjukkan betapa aku sangat memercayainya.

"Kejutannya ada di dalam kamar itu. Sekar, coba kamu masuk dan lihat sendiri, ya?"

Aku menyipitkan mata, tersenyum lebar, lalu menghambur ke pelukan Gading.

"Gading, aku mencintaimu. Aku sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Kamu nggak perlu repot-repot menyiapkan kejutan apa pun untukku. Asalkan kamu ada di depanku, aku sudah sangat bahagia."

Setelah mengucapkan kalimat itu, sebelum dia sempat bereaksi, aku langsung melangkah masuk ke dalam ruangan yang gelap gulita itu tanpa ragu sedikit pun.

Begitu aku melangkah masuk, aku mendengar suara langkah kaki dari luar, disusul dengan suara pintu yang dikunci rapat.

Ini lantai sepuluh. Pintunya sudah dikunci dan aku tidak punya jalan keluar mana pun.

Aku mengeluarkan manekin yang sudah kupersiapkan dan meletakkannya di lantai. Aku sudah menyuap dokter, jadi besok Gading akan menerima kabar bahwa aku telah meninggal dunia.

Tentu saja, aku juga menyiapkan kejutan kedua untuknya. Aku akan menyuruh dokter memberitahunya bahwa di dalam perutku ... ada seorang anak.

Aku ingin dia tahu bahwa aku dan anak itu, keduanya mati di tangannya sendiri.

Aku mulai berpura-pura ketakutan, menggedor pintu dengan keras sambil meneriakkan nama Gading berkali-kali.

Suara tawa teman-teman Gading terdengar dari balik pintu.

"Misi ke-99 beres! Sekar, silakan nikmati waktumu di dalam sana!"

"Besok pagi baru kami keluarkan. Awas, ya, jangan sampai mati ketakutan!"

"Kamu benaran mikir Gading cinta sama kamu? Kamu itu cuma alat buat dia balas dendam ke kakakmu, tahu! Hahaha!"

Suara mereka perlahan menjauh. Aku menunggu dengan tenang sejenak, menanti orang yang akan menjemputku.

Manekin itu tetap kutinggalkan di dalam sana, sementara aku sudah berdiri di lantai bawah. Begitu perintah diberikan, seluruh gedung tua yang terbengkalai itu runtuh seketika dengan suara dentuman yang sangat dahsyat!

Besok, saat Gading kembali ke sini, yang akan dia lihat hanyalah puing-puing reruntuhan dan jenazahku yang dibawa keluar.

Tanpa rasa sesal sedikit pun, aku membalikkan badan dan masuk ke dalam mobil menuju bandara, untuk pergi ke luar negeri bersama kakakku.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 7

    "Terima kasih karena sudah membantuku bertemu dengan guru ini. Tapi, Gading, aku sudah nggak mencintaimu lagi. Kalau saja kamu nggak menemukanku di sini, aku berencana buat nggak pernah menemuimu lagi seumur hidupku."Bibir Gading perlahan berubah pucat pasi."Sekar ….""Jadi, aku sangat berharap kamu nggak datang lagi untuk mengganggu hidupku, Gading."Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya aku berbicara dengan Gading dengan penuh kesungguhan.Hanya kalimat inilah yang benar-benar keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam.Gading tampak mematung di tempatnya. Tak lama kemudian, dia memaksakan sebuah senyum pahit, lalu hanya bisa melepas kepergianku dengan tatapannya.Keesokan harinya, dia memutuskan untuk pulang ke negaranya. Di hari yang sama, dia mengutus seseorang untuk mengantarkan sebuah kalung berlian.Itu adalah janji yang pernah dia ucapkan dulu. Dia berjanji akan merancang sendiri sebuah kalung berlian khusus untukku.Aku tidak menerimanya. Sebaliknya, aku mendonasikan k

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 6

    Aku menatapnya dengan dingin."Bagaimana kamu bisa menemukanku?""Nama samaranmu."Gading menoleh, menatap salah satu lukisanku. "Nama ini, kamu pernah memberitahukannya kepadaku."Aku tertegun sejenak. Bahkan aku sendiri tidak menyadari detail sekecil itu. Aku hanya pernah menyebutkan nama itu sekali kepada Gading, tak kusangka dia bisa menggunakannya sebagai petunjuk untuk melacakku sampai ke sini."Anak itu ... apa dia masih ada? Kalau jasad itu palsu, berarti anak itu juga ...."Gading menatapku dengan binar bahagia di wajahnya, tersirat harapan besar di sana."Anak itu palsu. Itu cuma akal-akalanku buat mempermainkanmu, Gading. Kamu sudah mempermainkanku berkali-kali, jadi nggak berlebihan 'kan kalau aku membalasmu sekali saja?"Wajah Gading seketika berubah pucat pasi. Dia teringat kembali bagaimana dia dan teman-temannya dulu merendahkanku, mempermainkanku, dan menjadikanku sekadar alat untuk membalas dendam."Aku sudah membuat mereka semua membayar harganya, Sekar. Kalau kamu m

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 5

    Kejadian ini menjadi sangat viral. Banyak orang yang merekam videonya dan mengunggahnya ke internet.Dalam video itu, Manda tampak terus-menerus menangis di sampingnya.Teman-temannya tetap seperti biasa, masih saja merendahkanku."Sekar mati, ya, sudah mati saja, sih. Justru bagus, 'kan? Kamu jadi bisa bebas sama Manda. Dia mati itu karena nasibnya yang malang, bukan salah kita."Gading mendadak mendongak, matanya merah padam karena amarah. Dia langsung melayangkan satu pukulan keras tepat ke wajah orang yang baru saja bicara itu.Dia memukuli orang itu dengan membabi buta, seolah-olah tidak akan berhenti sampai lawannya mati."Kamu pikir kamu siapa, berani-beraninya menghina dia! Dia adalah calon istriku dan di dalam perutnya ada anakku!"Saat menyebutkan anak itu, tatapan mata Gading seketika berubah menjadi kosong dan linglung.Seolah-olah dia sedang meratapi kebahagiaan yang telah dia buang dengan tangannya sendiri.Manda melangkah maju dengan sangat hati-hati, mencoba meraih tang

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 4

    Keesokan paginya, Gading mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju gedung tua itu.Entah kenapa, hatinya diliputi perasaan gelisah yang tak beralasan. Sementara itu, Manda dan teman-temannya duduk dengan santai di kursi belakang tanpa beban sedikit pun.Mereka bercanda dan tertawa, tidak sabar ingin melihat betapa malang dan hancurnya aku nanti."Gading, kenapa kamu tegang begitu? Dia nggak bakal mati juga, 'kan? Hari ini akhirnya kamu bisa jujur dan mutusin Sekar, harusnya kamu senang dong."Manda tersenyum malu-malu. "Kalau dipikir-pikir, hari ini seharusnya jadi hari pertama aku dan Gading resmi jadian.""Video dari misi pertama sampai ke-99 sudah aku rapikan semua. Tinggal tunggu waktu yang pas buat dikirim ke kakaknya Sekar hari ini, haha! Membayangkan adik kesayangannya kita kerjain habis-habisan begitu, rasanya puas banget!"Mereka segera sampai di lokasi gedung tua itu, tetapi suasananya sama sekali tidak sesunyi yang mereka bayangkan.Gedung yang kemarin masih berdi

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 3

    Aku meletakkan kembali ponsel itu ke tempat semula. Detik berikutnya, pintu terbuka dan Gading melangkah masuk dengan terburu-buru, ekspresinya tampak panik mencari ponselnya."Sekar, kamu ...."Dia menatapku dengan sorot mata yang sedikit gelisah, seolah takut aku telah menyentuh ponselnya."Tadi ponselmu bunyi terus. Sepertinya ada urusan penting, coba kamu cek dulu."Mendengar ucapanku, Gading tampak mengembuskan napas lega yang nyaris tak terlihat. "Nggak apa-apa, bukan urusan besar. Aku mau nemenin kamu saja di sini."Aku menatap wajah Gading, lalu tersenyum, sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus."Gading, kamu tahu nggak? Aku merasa beruntung banget bisa ketemu kamu. Aku tahu kamu dan kakakku nggak akur, tapi aku janji bakal bicara baik-baik sama Kakak tentang kamu. Sebenarnya ada yang kamu nggak tahu ... jauh sebelum kamu nembak aku, aku sudah suka sama kamu sejak lama sekali. Jadi, selama tiga tahun kita bareng, aku benar-benar bahagia. Gading, aku benar-benar mencintaimu.

  • Cinta yang Terlambat: Karma 99 Permainan   Bab 2

    Aku melepaskan diri dari pelukan Gading, lalu menenggelamkan wajahku di balik selimut."Aku capek."Gading tampak sedikit terkejut. Wajar saja, selama ini aku selalu mengejarnya dan menuruti semua keinginannya tak pernah menolak. Aku tidak pernah bersikap sedingin ini padanya.Dia mengusap kepalaku dengan lembut."Ya, sudah, kamu istirahat saja, ya. Nanti kalau sudah sembuh, aku ajak kamu main ski. Bukannya kamu pengen banget main ski?"Dia sepertinya hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering. Aku sempat melihat nama Manda sekilas di layar ponselnya.Dia segera mengangkat telepon itu dan sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang meluap-luap.Jantungku terasa berdenyut nyeri yang menyesakkan. Gading mengecup keningku pelan, berpamitan kalau dia ada urusan mendesak sekarang, lalu melangkah pergi tanpa ragu sedikit pun.Melihat sikapnya yang begitu lembut dan penuh perhatian saat menerima telepon tadi, aku tidak perlu menebak lagi siapa orang di

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status