ANMELDEN"Terima kasih karena sudah membantuku bertemu dengan guru ini. Tapi, Gading, aku sudah nggak mencintaimu lagi. Kalau saja kamu nggak menemukanku di sini, aku berencana buat nggak pernah menemuimu lagi seumur hidupku."Bibir Gading perlahan berubah pucat pasi."Sekar ….""Jadi, aku sangat berharap kamu nggak datang lagi untuk mengganggu hidupku, Gading."Setelah sekian lama, untuk pertama kalinya aku berbicara dengan Gading dengan penuh kesungguhan.Hanya kalimat inilah yang benar-benar keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam.Gading tampak mematung di tempatnya. Tak lama kemudian, dia memaksakan sebuah senyum pahit, lalu hanya bisa melepas kepergianku dengan tatapannya.Keesokan harinya, dia memutuskan untuk pulang ke negaranya. Di hari yang sama, dia mengutus seseorang untuk mengantarkan sebuah kalung berlian.Itu adalah janji yang pernah dia ucapkan dulu. Dia berjanji akan merancang sendiri sebuah kalung berlian khusus untukku.Aku tidak menerimanya. Sebaliknya, aku mendonasikan k
Aku menatapnya dengan dingin."Bagaimana kamu bisa menemukanku?""Nama samaranmu."Gading menoleh, menatap salah satu lukisanku. "Nama ini, kamu pernah memberitahukannya kepadaku."Aku tertegun sejenak. Bahkan aku sendiri tidak menyadari detail sekecil itu. Aku hanya pernah menyebutkan nama itu sekali kepada Gading, tak kusangka dia bisa menggunakannya sebagai petunjuk untuk melacakku sampai ke sini."Anak itu ... apa dia masih ada? Kalau jasad itu palsu, berarti anak itu juga ...."Gading menatapku dengan binar bahagia di wajahnya, tersirat harapan besar di sana."Anak itu palsu. Itu cuma akal-akalanku buat mempermainkanmu, Gading. Kamu sudah mempermainkanku berkali-kali, jadi nggak berlebihan 'kan kalau aku membalasmu sekali saja?"Wajah Gading seketika berubah pucat pasi. Dia teringat kembali bagaimana dia dan teman-temannya dulu merendahkanku, mempermainkanku, dan menjadikanku sekadar alat untuk membalas dendam."Aku sudah membuat mereka semua membayar harganya, Sekar. Kalau kamu m
Kejadian ini menjadi sangat viral. Banyak orang yang merekam videonya dan mengunggahnya ke internet.Dalam video itu, Manda tampak terus-menerus menangis di sampingnya.Teman-temannya tetap seperti biasa, masih saja merendahkanku."Sekar mati, ya, sudah mati saja, sih. Justru bagus, 'kan? Kamu jadi bisa bebas sama Manda. Dia mati itu karena nasibnya yang malang, bukan salah kita."Gading mendadak mendongak, matanya merah padam karena amarah. Dia langsung melayangkan satu pukulan keras tepat ke wajah orang yang baru saja bicara itu.Dia memukuli orang itu dengan membabi buta, seolah-olah tidak akan berhenti sampai lawannya mati."Kamu pikir kamu siapa, berani-beraninya menghina dia! Dia adalah calon istriku dan di dalam perutnya ada anakku!"Saat menyebutkan anak itu, tatapan mata Gading seketika berubah menjadi kosong dan linglung.Seolah-olah dia sedang meratapi kebahagiaan yang telah dia buang dengan tangannya sendiri.Manda melangkah maju dengan sangat hati-hati, mencoba meraih tang
Keesokan paginya, Gading mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju gedung tua itu.Entah kenapa, hatinya diliputi perasaan gelisah yang tak beralasan. Sementara itu, Manda dan teman-temannya duduk dengan santai di kursi belakang tanpa beban sedikit pun.Mereka bercanda dan tertawa, tidak sabar ingin melihat betapa malang dan hancurnya aku nanti."Gading, kenapa kamu tegang begitu? Dia nggak bakal mati juga, 'kan? Hari ini akhirnya kamu bisa jujur dan mutusin Sekar, harusnya kamu senang dong."Manda tersenyum malu-malu. "Kalau dipikir-pikir, hari ini seharusnya jadi hari pertama aku dan Gading resmi jadian.""Video dari misi pertama sampai ke-99 sudah aku rapikan semua. Tinggal tunggu waktu yang pas buat dikirim ke kakaknya Sekar hari ini, haha! Membayangkan adik kesayangannya kita kerjain habis-habisan begitu, rasanya puas banget!"Mereka segera sampai di lokasi gedung tua itu, tetapi suasananya sama sekali tidak sesunyi yang mereka bayangkan.Gedung yang kemarin masih berdi
Aku meletakkan kembali ponsel itu ke tempat semula. Detik berikutnya, pintu terbuka dan Gading melangkah masuk dengan terburu-buru, ekspresinya tampak panik mencari ponselnya."Sekar, kamu ...."Dia menatapku dengan sorot mata yang sedikit gelisah, seolah takut aku telah menyentuh ponselnya."Tadi ponselmu bunyi terus. Sepertinya ada urusan penting, coba kamu cek dulu."Mendengar ucapanku, Gading tampak mengembuskan napas lega yang nyaris tak terlihat. "Nggak apa-apa, bukan urusan besar. Aku mau nemenin kamu saja di sini."Aku menatap wajah Gading, lalu tersenyum, sebuah senyuman yang terlihat sangat tulus."Gading, kamu tahu nggak? Aku merasa beruntung banget bisa ketemu kamu. Aku tahu kamu dan kakakku nggak akur, tapi aku janji bakal bicara baik-baik sama Kakak tentang kamu. Sebenarnya ada yang kamu nggak tahu ... jauh sebelum kamu nembak aku, aku sudah suka sama kamu sejak lama sekali. Jadi, selama tiga tahun kita bareng, aku benar-benar bahagia. Gading, aku benar-benar mencintaimu.
Aku melepaskan diri dari pelukan Gading, lalu menenggelamkan wajahku di balik selimut."Aku capek."Gading tampak sedikit terkejut. Wajar saja, selama ini aku selalu mengejarnya dan menuruti semua keinginannya tak pernah menolak. Aku tidak pernah bersikap sedingin ini padanya.Dia mengusap kepalaku dengan lembut."Ya, sudah, kamu istirahat saja, ya. Nanti kalau sudah sembuh, aku ajak kamu main ski. Bukannya kamu pengen banget main ski?"Dia sepertinya hendak mengatakan sesuatu lagi, tetapi ponselnya tiba-tiba berdering. Aku sempat melihat nama Manda sekilas di layar ponselnya.Dia segera mengangkat telepon itu dan sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia yang meluap-luap.Jantungku terasa berdenyut nyeri yang menyesakkan. Gading mengecup keningku pelan, berpamitan kalau dia ada urusan mendesak sekarang, lalu melangkah pergi tanpa ragu sedikit pun.Melihat sikapnya yang begitu lembut dan penuh perhatian saat menerima telepon tadi, aku tidak perlu menebak lagi siapa orang di







