แชร์

Bab 2

ผู้เขียน: Aisyem
Semua informasi yang berhasil dikumpulkan Mitha, foto, kronologi, catatan transfer, bahkan hasil pemindaian surat pernyataan yang ditulis tangan Hansen untuk Wina, dia kirimkan kepada Hansen.

Hanya ada satu pesan yang menyertainya: [Nggak merasa perlu kasih penjelasan?]

Setelah mengirim pesan itu, Mitha masuk ke kamar mandi. Air hangat mengguyur tubuhnya, tapi tidak mampu mengusir hawa dingin yang seolah sudah meresap hingga ke tulang. Setelah itu, dia berbaring di ranjang yang biasa dia tiduri, menatap langit-langit sambil menunggu ponselnya bergetar atau menyala.

Malam itu berlalu dalam keheningan.

Pukul tiga dini hari, saat kesadarannya masih terombang-ambing antara tidur dan terjaga, pintu kamar tiba-tiba diketuk tergesa-gesa. Suara pelayan terdengar cemas, "Nona, ayah Nona dan Pak Hansen ada di ruang tamu. Nona diminta segera turun."

Mitha mengenakan jubah tidurnya, lalu menuruni tangga melingkar tanpa alas kaki. Lampu ruang tamu masih menyala terang. Ayahnya, Edwin Janesa, duduk di kursi utama dengan wajah muram, sementara Hansen berdiri di sampingnya. Ekspresinya dingin, seolah sedang memandang orang asing.

"Berlutut." Suara Edwin terdengar berat dan tegas.

Mitha berdiri tegak menatap ayahnya, lalu beralih kepada Hansen. "Kenapa?"

Hansen akhirnya angkat bicara. Nadanya datar, tanpa sedikit pun emosi. "Hari ini, di forum kampus Wina, ada yang mengunggah informasi lengkap tentang dirinya secara anonim dan menuduh dia merusak hubungan orang lain dengan jadi wanita simpanan. Dokumen yang dipakai itu informasi yang kamu kirim ke aku."

"Aku nggak ngirim itu ke kampusnya." Suara Mitha terdengar serak.

"Selain kamu, siapa lagi yang punya semua ini?" Tatapan Hansen sedingin es. "Sampai pakai cara serendah ini."

Edwin membanting meja teh. "Sejak kapan Keluarga Janesa ngajarin kamu ngandalkan kekuasaan buat menindas orang lain dan nusuk dari belakang?! Hansen menjalin hubungan dengan serius, tapi kamu malah pakai cara sehina ini buat ngancurin nama baik pacarnya?!"

"Menjalin hubungan dengan serius?" Mitha mengulang kalimat itu, seolah tidak memahami maksud ayahnya. Tatapannya beralih kepada Hansen. Cahaya terakhir di matanya pun perlahan padam. "Lalu, aku ini apa?"

Hansen mengalihkan pandangan dan tidak menjawab.

"Berlutut!" bentak Edwin kepada para pelayan di kedua sisi. "Pegang dia!"

Kedua lengan Mitha segera dipelintir paksa ke belakang. Sebuah tendangan menghantam lututnya hingga Mitha jatuh berlutut di lantai marmer. Rasa sakit itu bahkan belum sempat terasa ketika Edwin sudah mengambil cambuk rotan yang telah disiapkan di sampingnya.

Suara cambuk membelah udara.

Cambuk pertama menghantam punggungnya. Piyamanya langsung robek, dan rasa sakit yang membakar seketika menjalar di kulit hingga ke daging. Mitha menggigit bibir, menahan erangan.

"Kamu sudah bikin malu Keluarga Janesa!" bentak Edwin penuh amarah. Cambuk kedua menyusul.

Bayangan cambuk terus berkelebat. Rasa sakit yang bertumpuk perlahan berubah menjadi kobaran api yang menyengat, lalu membuat tubuhnya mati rasa. Pandangan Mitha mulai kabur dan telinganya berdenging. Dia bahkan tidak lagi bisa merasakan cambukan itu dengan jelas, hanya tubuhnya yang terus bergerak secara refleks setiap kali cambuk mendarat.

Dia sudah tidak tahu berapa kali cambuk itu menghantam tubuhnya. Yang masih diingatnya hanyalah Hansen yang terus berdiri di sana, memandangnya dengan dingin, seolah hukuman itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.

"Menjalin hubungan secara serius ... ya ...." Dalam kesadarannya yang makin kabur, adegan perpisahan mereka di bandara lima tahun lalu justru muncul dengan begitu jelas. Hansen memeluknya erat. Suaranya tercekat sambil berkata, "Mitha, jangan putus denganku. Aku akan nunggu kamu balik. Aku pasti akan nikahi kamu."

Pembohong.

Ketika cambuk kesembilan puluh sembilan mendarat, Mitha sudah tergeletak tengkurap di lantai. Darah merembes dari punggungnya melalui piama yang telah compang-camping, lalu menggenang menjadi noda merah gelap di lantai. Dia bahkan sudah tidak punya tenaga untuk bergerak. Hanya tubuhnya yang masih bergetar lemah.

Hansen akhirnya bergerak. Dia berjalan ke hadapan Mitha dan menatapnya dari atas. Suaranya tetap dingin dan tegas. "Besok, kamu sendiri yang harus datang ke kampus Wina. Jelasin masalah ini di depan semua orang dan akui kalau kamu malsuin informasi dan sengaja memfitnah dia."

"Mitha, Wina itu nggak kayak kamu. Dia sebatang kara. Kalau sampai dikeluarin dari kampus karena masalah ini, hidupnya akan hancur."

Jari-jari Mitha bergerak lemah. Kemudian, dia mendengar suara Hansen yang pelan. "Aku akan ngobatin lukamu."

Hampir tidak ada bagian punggung Mitha yang masih utuh. Sobekan kain menempel pada luka, dan sedikit saja bergerak sudah cukup membuat keringat dingin membasahi tubuhnya. Keluarga Janesa memang punya aturan keluarga yang sangat keras, tetapi Mitha belum pernah sekalipun menerima hukuman keluarga.

Ini adalah pertama kalinya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 15

    Pernikahan Mitha ditetapkan pada tanggal 17 Juli.Musim panas telah tiba di Hanaya. Teriknya matahari seakan memutihkan seluruh kota. Undangan dari Keluarga Janesa telah disebarkan, dan tidak ada satu keluarga pun yang menolaknya, tidak ada seorang pun yang absen. Semua orang ingin melihat seperti apa pria yang akhirnya berhasil membuat putri Keluarga Janesa ini menetapkan hatinya.Malam sebelum pernikahan, Jovie tidak tidur.Dia memeriksa seluruh rangkaian acara yang akan berlangsung esok hari hingga tiga kali. Mulai dari rute penjemputan pengantin hingga pencahayaan aula, dari waktu penggantian bunga hingga sudut penataan menara sampanye, semuanya dia periksa dan atur sendiri.Pukul empat dini hari, dia berdiri di tengah aula yang kosong. Lampu kristal di atas kepalanya belum dinyalakan, hanya beberapa lampu dinding yang memancarkan cahaya kekuningan redup. Dia berdiri lama dalam keheningan itu, seolah sedang memastikan semuanya sempurna, atau mungkin hanya enggan pergi.Saat fajar t

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 14

    Kabar pernikahan Mitha menyebar ke seluruh Hanaya hanya dalam semalam.Mawar merah Keluarga Janesa yang telah dirawat dan dimanjakan selama lebih dari dua puluh tahun itu akhirnya menikah. Identitas pria tersebut misterius. Konon, dia berasal dari keluarga terpandang dan memiliki penampilan yang menawan. Dia adalah teman lama yang telah dikenal Mitha sejak masa kuliahnya di luar negeri.Ucapan selamat mengalir deras ke kediaman Keluarga Janesa, sementara undangan demi undangan berdatangan. Semua orang ingin menghadiri pesta pernikahan ini dan melihat sendiri sosok luar biasa seperti apa yang akhirnya berhasil menaklukkan hati putri Keluarga Janesa.Keluarga Fabian tentu saja tidak terkecuali.Ketika ibu Hansen mendorong pintu kamar, seluruh ruangan gelap gulita. Tirai tertutup rapat, lampu tidak dinyalakan, dan udara dipenuhi aroma debu yang telah mengendap selama beberapa hari.Baru berjalan dua langkah, kakinya menendang sesuatu. Dia menunduk dan melihat sebuah kendi tanah liat. Kend

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 13

    Kabar kepulangan Mitha ke Hanaya tersebar luas bahkan sebelum setengah hari berlalu.Saat menerima telepon itu, Hansen sedang berada di luar kediaman Keluarga Janesa. Sejak malam itu, dia datang setiap hari. Penjaga gerbang tidak lagi menghalanginya, sementara Edwin juga tidak lagi menemuinya. Dia hanya meletakkan barang-barang yang dibawanya, berdiri sejenak di bawah jendela yang gelap itu, lalu pergi.Hari itu, yang dibawanya adalah kue kacang kesukaan Mitha.Telepon berdering. Suara di seberang hanya mengatakan satu kalimat, "Nona Mitha akan tiba malam ini. Nomor penerbangannya sudah saya kirim kepada Anda."Dia hampir langsung berlari menuju mobil.Pertama, dia pergi ke toko bunga. Dulu Mitha menyukai mawar putih. Saat berusia delapan belas tahun, dia pernah menulis di buku hariannya, "Hari ketika aku menerima mawar putih adalah hari ketika aku ingin menikah dengan Hansen."Dia membeli sembilan puluh sembilan tangkai mawar putih.Kemudian dia berkeliling kota untuk membeli manisan

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 12

    Saat terbangun, seberkas cahaya kelabu kebiruan menembus celah tenda dan jatuh ke wajah Mitha.Dia menoleh. Tempat di sampingnya sudah kosong, tetapi kantong tidur masih menyimpan sisa kehangatan tubuh. Dari luar terdengar samar suara aktivitas.Dia mengenakan jaket lalu keluar dari tenda. Udara dingin yang menusuk langsung menerpa wajahnya. Lereng tempat mereka berkemah menghadap ke timur. Garis cakrawala masih diselimuti biru pekat, tetapi siluet pegunungan bersalju sudah terlihat jelas.Jovie Setya berdiri membelakanginya. Tripod sudah terpasang, dan dia sedang menunduk mengatur lensa kamera. Jaket hitamnya basah oleh embun malam, beberapa helai rambutnya juga masih lembap. Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana.Mendengar suara dari belakang, dia menoleh."Sudah bangun?"Dia menyerahkan termos kepada Mitha. Suhu minumannya pas seperti yang biasa dia sukai. Mitha menerimanya tanpa bertanya sejak kapan Jovie tahu kebiasaannya.Garis cakrawala mulai berwarna keemasan.Dia berdiri

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 11

    Telepon Wina masuk tujuh belas menit setelah informasi itu dikirim.Hansen menatap nama yang berkedip di layar, lalu mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara."Hansen!" Suara Wina di seberang terdengar tercekat oleh tangis, tetapi kepanikannya tetap terdengar jelas. "Tiba-tiba ada banyak postingan fitnah tentang aku di forum kampus. Pasti Mitha. Dia memang nggak tahan lihat aku baik-baik saja. Dia bahkan masih ingin balas dendam padaku ...."Hansen bersandar di kepala ranjang, menundukkan kepala sambil mendengarkan."Begitu, ya?""Memang dia! Waktu itu juga dia yang nyebarin informasi palsu itu. Kali ini dia lebih keterlaluan lagi. Sekarang banyak orang nertawain aku. Hansen, kamu harus belain aku ....""Oke." Nada suara Hansen tetap tenang. "Terus, kamu ingin aku menghukum dia seperti apa?"Suara di seberang terdiam sejenak, seolah ingin memastikan bahwa Hansen tidak sedang bercanda."... Suruh dia berlutut di depan aula untuk minta maaf, lalu buat pengumuman ke seluruh kampus. Kay

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 10

    Hansen menerima kantong kertas cokelat yang disodorkan asistennya.Asistennya berdiri di sisi ranjang, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niat. Tanpa dia sadari, jari Hansen sudah membuka tali pengikat di mulut kantong tersebut.Halaman pertama.Isinya adalah laporan tentang insiden "fitnah" lima bulan lalu. Sebuah unggahan anonim di forum kampus Wina menuduh Wina sebagai pelakor yang merusak hubungan orang lain. Hansen masih ingat bagaimana hari itu dia menerobos masuk ke kediaman Keluarga Janesa dan menuding Mitha sambil menuduhnya menggunakan cara-cara keji.Laporan itu menunjukkan bahwa alamat IP yang digunakan untuk mengunggah tulisan tersebut memiliki kecocokan sangat tinggi dengan jaringan asrama yang biasa digunakan Wina.Jari Hansen terhenti.Halaman kedua.Gudang. Penculikan. Mitha ditutup matanya dan ditekan ke lantai yang kotor, sementara kilatan lampu kamera menembus kelopak matanya. Hansen masih ingat telepon itu, dengan suara napas terengah-engah dan ge

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status