แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Aisyem
Tengah malam, Mitha mengalami demam tinggi karena luka cambuk di punggungnya terinfeksi. Kesadarannya mulai menurun. Sebelum fajar menyingsing, pintu kamarnya tiba-tiba didorong terbuka dengan kasar. Hansen menerobos masuk bersama dua pengawal, lalu menyeretnya bangun dari tempat tidur.

"Pergi ke kampus, klarifikasi, dan minta maaf. Sekarang." Suara Hansen dingin dan tegas, tak ada kesempatan untuk membantah. Dia mencengkeram lengan Mitha lalu menyeretnya keluar, tanpa sedikit pun memedulikan tubuhnya yang lemas karena demam tinggi atau perlawanan lemah yang diberikannya.

Mitha diseret masuk ke dalam mobil dan langsung dibawa ke aula kampus tempat Wina berkuliah. Para mahasiswa yang telah dikumpulkan, ditambah sejumlah wartawan yang datang setelah mendengar kabar, sudah memenuhi aula.

Mata Wina tampak sedikit memerah. Dia bersandar manja di sisi Hansen, memasang ekspresi seolah dirinya baru saja mengalami ketidakadilan yang besar.

Demam tinggi membuat pandangan Mitha kabur. Tubuhnya sedikit limbung karena rasa sakit dan lemah. Dia memandangi tatapan orang-orang di bawah panggung, lalu melirik dua sosok yang berdiri berdampingan di sampingnya. Tiba-tiba, dia tertawa lirih.

Dia mendekat ke mikrofon. Suaranya serak, tapi terdengar jelas. "Aku, Mitha Janesa, minta maaf atas semua yang terjadi kemarin terkait Nona Wina."

"Dia bukan pelakor, karena aku dan Hansen sudah putus."

Aula mendadak hening.

Setelah mengucapkan itu, tanpa memandang siapa pun lagi, dia berbalik, menahan rasa sakit di punggungnya yang terasa seperti terkoyak, lalu berjalan tertatih menuruni panggung. Dia melewati kerumunan yang terdiam dan langsung meninggalkan aula. Hansen hanya menatap punggungnya dengan tatapan yang sulit ditebak, tapi tidak mengejarnya.

Mitha terus berjalan hingga ke jalanan. Demam tinggi dan rasa sakit yang menusuk membuatnya nyaris tak mampu berdiri tegak. Dia hendak mencari apotek untuk membeli obat pereda nyeri dan penurun demam, lalu berbelok ke sebuah gang yang cukup sepi.

Tiba-tiba, sehelai kain basah berbau obat menutup hidung dan mulutnya dengan paksa. Tubuhnya yang memang sudah lemah tak mampu melawan. Setelah beberapa kali meronta, kesadarannya perlahan menghilang. Kemudian dia diseret ke sebuah gudang terbengkalai di bagian dalam gang.

Matanya ditutup kain hitam, sementara kedua tangannya diikat ke belakang dengan tali kasar. Di dekat telinganya terdengar tawa menyeringai beberapa pria, disertai bau alkohol dan niat jahat yang membuatnya merasa terancam.

"Bos, kenapa tubuh cewek ini penuh luka? Jadi kurang seru, dong."

"Tahu apa kamu! Justru karena ada luka, jadi lebih menarik. Kalau difoto begini, hasilnya pasti lebih menggairahkan dan bisa bikin si Hansen gila!"

Terdengar suara pakaian yang terkoyak. Beberapa tangan kasar dengan telapak penuh kapalan merayap dan meremas kulitnya yang terbuka sesuka hati. Mitha berusaha sekuat tenaga untuk melawan, tapi yang didapatnya justru tamparan keras hingga telinganya berdenging dan pipinya dengan cepat membengkak.

"Diam dan jangan melawan!"

Setelah itu, rentetan suara kamera terdengar. Kilatan lampu yang dingin menembus kain hitam dan menyilaukan kelopak matanya yang terpejam rapat.

"Sial, Hansen nggak bisa dihubungi!" gerutu seseorang sambil memegang ponselnya.

"Telepon terus! Sampai dia ngangkat! Katanya perempuan ini orang yang paling dia sayangi, bukan?"

Mereka menelepon berkali-kali. Akhirnya, setelah entah percobaan yang keberapa, panggilan itu tersambung.

Dari seberang terdengar suara napas yang samar dan suara air yang terdengar intim. Suara perempuan yang lembut pun terdengar sayup-sayup, "Hansen ... pelan dikit ...."

Pemimpin para penculik itu langsung meneriakkan tuntutan uang tebusan.

Hening sejenak dari seberang telepon. Kemudian terdengar suara Hansen yang dingin dan tak sabar, dengan sedikit nada kesal karena diganggu, "Aku nggak ada hubungan dengan dia. Kalian salah orang."

Sambungan telepon terputus. Nada sibuk yang tersisa terdengar begitu menusuk di dalam gudang.

Para penculik tertegun sejenak, lalu mulai memaki-maki.

"Sial! Percuma saja! Hansen ternyata sama sekali nggak peduli sama perempuan ini!"

"Sial betul! Lalu foto-foto ini …."

Hujan pukulan dan tamparan kembali menghantam tubuh Mitha. Dia sudah nyaris tidak merasakan sakit lagi. Yang tersisa hanyalah mati rasa yang dingin dan keputusasaan yang telah merasuk hingga ke tulang.

Dengan menggunakan ponselnya, mereka mengirimkan foto-foto tak senonoh itu secara massal.

Setelah itu, mereka membuang Mitha begitu saja ke sudut gudang seperti kain lap, lalu pergi tanpa menoleh lagi.

Mitha terbaring di lantai yang dingin dan kotor. Kain hitam yang menutupi matanya telah basah oleh air mata. Sisa kehangatan terakhir di dalam hatinya pun benar-benar padam, membeku menjadi bongkahan es yang tak akan mencair lagi.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 15

    Pernikahan Mitha ditetapkan pada tanggal 17 Juli.Musim panas telah tiba di Hanaya. Teriknya matahari seakan memutihkan seluruh kota. Undangan dari Keluarga Janesa telah disebarkan, dan tidak ada satu keluarga pun yang menolaknya, tidak ada seorang pun yang absen. Semua orang ingin melihat seperti apa pria yang akhirnya berhasil membuat putri Keluarga Janesa ini menetapkan hatinya.Malam sebelum pernikahan, Jovie tidak tidur.Dia memeriksa seluruh rangkaian acara yang akan berlangsung esok hari hingga tiga kali. Mulai dari rute penjemputan pengantin hingga pencahayaan aula, dari waktu penggantian bunga hingga sudut penataan menara sampanye, semuanya dia periksa dan atur sendiri.Pukul empat dini hari, dia berdiri di tengah aula yang kosong. Lampu kristal di atas kepalanya belum dinyalakan, hanya beberapa lampu dinding yang memancarkan cahaya kekuningan redup. Dia berdiri lama dalam keheningan itu, seolah sedang memastikan semuanya sempurna, atau mungkin hanya enggan pergi.Saat fajar t

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 14

    Kabar pernikahan Mitha menyebar ke seluruh Hanaya hanya dalam semalam.Mawar merah Keluarga Janesa yang telah dirawat dan dimanjakan selama lebih dari dua puluh tahun itu akhirnya menikah. Identitas pria tersebut misterius. Konon, dia berasal dari keluarga terpandang dan memiliki penampilan yang menawan. Dia adalah teman lama yang telah dikenal Mitha sejak masa kuliahnya di luar negeri.Ucapan selamat mengalir deras ke kediaman Keluarga Janesa, sementara undangan demi undangan berdatangan. Semua orang ingin menghadiri pesta pernikahan ini dan melihat sendiri sosok luar biasa seperti apa yang akhirnya berhasil menaklukkan hati putri Keluarga Janesa.Keluarga Fabian tentu saja tidak terkecuali.Ketika ibu Hansen mendorong pintu kamar, seluruh ruangan gelap gulita. Tirai tertutup rapat, lampu tidak dinyalakan, dan udara dipenuhi aroma debu yang telah mengendap selama beberapa hari.Baru berjalan dua langkah, kakinya menendang sesuatu. Dia menunduk dan melihat sebuah kendi tanah liat. Kend

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 13

    Kabar kepulangan Mitha ke Hanaya tersebar luas bahkan sebelum setengah hari berlalu.Saat menerima telepon itu, Hansen sedang berada di luar kediaman Keluarga Janesa. Sejak malam itu, dia datang setiap hari. Penjaga gerbang tidak lagi menghalanginya, sementara Edwin juga tidak lagi menemuinya. Dia hanya meletakkan barang-barang yang dibawanya, berdiri sejenak di bawah jendela yang gelap itu, lalu pergi.Hari itu, yang dibawanya adalah kue kacang kesukaan Mitha.Telepon berdering. Suara di seberang hanya mengatakan satu kalimat, "Nona Mitha akan tiba malam ini. Nomor penerbangannya sudah saya kirim kepada Anda."Dia hampir langsung berlari menuju mobil.Pertama, dia pergi ke toko bunga. Dulu Mitha menyukai mawar putih. Saat berusia delapan belas tahun, dia pernah menulis di buku hariannya, "Hari ketika aku menerima mawar putih adalah hari ketika aku ingin menikah dengan Hansen."Dia membeli sembilan puluh sembilan tangkai mawar putih.Kemudian dia berkeliling kota untuk membeli manisan

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 12

    Saat terbangun, seberkas cahaya kelabu kebiruan menembus celah tenda dan jatuh ke wajah Mitha.Dia menoleh. Tempat di sampingnya sudah kosong, tetapi kantong tidur masih menyimpan sisa kehangatan tubuh. Dari luar terdengar samar suara aktivitas.Dia mengenakan jaket lalu keluar dari tenda. Udara dingin yang menusuk langsung menerpa wajahnya. Lereng tempat mereka berkemah menghadap ke timur. Garis cakrawala masih diselimuti biru pekat, tetapi siluet pegunungan bersalju sudah terlihat jelas.Jovie Setya berdiri membelakanginya. Tripod sudah terpasang, dan dia sedang menunduk mengatur lensa kamera. Jaket hitamnya basah oleh embun malam, beberapa helai rambutnya juga masih lembap. Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana.Mendengar suara dari belakang, dia menoleh."Sudah bangun?"Dia menyerahkan termos kepada Mitha. Suhu minumannya pas seperti yang biasa dia sukai. Mitha menerimanya tanpa bertanya sejak kapan Jovie tahu kebiasaannya.Garis cakrawala mulai berwarna keemasan.Dia berdiri

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 11

    Telepon Wina masuk tujuh belas menit setelah informasi itu dikirim.Hansen menatap nama yang berkedip di layar, lalu mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara."Hansen!" Suara Wina di seberang terdengar tercekat oleh tangis, tetapi kepanikannya tetap terdengar jelas. "Tiba-tiba ada banyak postingan fitnah tentang aku di forum kampus. Pasti Mitha. Dia memang nggak tahan lihat aku baik-baik saja. Dia bahkan masih ingin balas dendam padaku ...."Hansen bersandar di kepala ranjang, menundukkan kepala sambil mendengarkan."Begitu, ya?""Memang dia! Waktu itu juga dia yang nyebarin informasi palsu itu. Kali ini dia lebih keterlaluan lagi. Sekarang banyak orang nertawain aku. Hansen, kamu harus belain aku ....""Oke." Nada suara Hansen tetap tenang. "Terus, kamu ingin aku menghukum dia seperti apa?"Suara di seberang terdiam sejenak, seolah ingin memastikan bahwa Hansen tidak sedang bercanda."... Suruh dia berlutut di depan aula untuk minta maaf, lalu buat pengumuman ke seluruh kampus. Kay

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 10

    Hansen menerima kantong kertas cokelat yang disodorkan asistennya.Asistennya berdiri di sisi ranjang, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niat. Tanpa dia sadari, jari Hansen sudah membuka tali pengikat di mulut kantong tersebut.Halaman pertama.Isinya adalah laporan tentang insiden "fitnah" lima bulan lalu. Sebuah unggahan anonim di forum kampus Wina menuduh Wina sebagai pelakor yang merusak hubungan orang lain. Hansen masih ingat bagaimana hari itu dia menerobos masuk ke kediaman Keluarga Janesa dan menuding Mitha sambil menuduhnya menggunakan cara-cara keji.Laporan itu menunjukkan bahwa alamat IP yang digunakan untuk mengunggah tulisan tersebut memiliki kecocokan sangat tinggi dengan jaringan asrama yang biasa digunakan Wina.Jari Hansen terhenti.Halaman kedua.Gudang. Penculikan. Mitha ditutup matanya dan ditekan ke lantai yang kotor, sementara kilatan lampu kamera menembus kelopak matanya. Hansen masih ingat telepon itu, dengan suara napas terengah-engah dan ge

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status