แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Aisyem
Suasana pesta pernikahan dipenuhi para tamu yang tampil rapi. Wina menggandeng lengan Hansen, berjalan di antara para tamu dengan tawa ringan.

Teman-temannya cukup banyak yang datang. Mereka mengelilingi pasangan itu sambil tak henti-hentinya melontarkan pujian dan tatapan iri.

"Wina, Hansen benar-benar perhatian sekali sama kamu. Pernikahan ini indah banget!"

"Iya, benar-benar seperti kisah dongeng yang jadi nyata!"

Seseorang yang bermata tajam mengenali Mitha di sudut ruangan dan berbisik, "Bukannya dia perempuan yang dulu dibawa Hansen ke kampus untuk minta maaf?"

Wina segera menyahut dengan suara lembut, cukup keras hingga terdengar oleh orang-orang di sekitarnya. "Yang sudah berlalu, biarlah berlalu. Kak Mitha juga sudah minta maaf. Sekarang kami berteman baik. Aku justru senang dia mau datang jadi pengiring pengantinku."

Seketika, pujian terdengar dari sekeliling. "Wina, kamu benar-benar berjiwa besar!"

Mitha hanya berdiri diam, seperti boneka cantik tanpa ekspresi.

Di tengah acara, Wina mengeluh sepatu hak tingginya membuat kakinya lecet dan meminta Mitha menggantinya dengan sepatu datar. Tanpa berkata apa-apa, Mitha langsung membungkuk, melepas sepatunya sendiri, lalu meletakkannya di dekat kaki Wina. Setelah itu, dia berdiri tanpa alas kaki di atas lantai yang dingin.

Bahkan cincin pernikahan pun diserahkan sendiri oleh Mitha. Dengan kedua tangannya, dia membawa kotak cincin berlapis beludru itu.

Di sela-sela upacara, Hansen melihat Mitha berdiri sendirian di bawah bayangan pilar lorong. Dia menghampiri Mitha dan mengulurkan tangan. "Mitha, dengarin aku. Ini benar-benar hanya ...."

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, jeritan kesakitan Wina terdengar dari arah ruang rias.

Wajah Hansen seketika berubah dan langsung berlari ke sana. Wina sedang menutupi wajahnya, sedikit darah merembes di sela-sela jarinya. Penata rias di sampingnya gemetar sambil memegang spons bedak yang terbuka. Di dalamnya terlihat jelas sebuah jarum tipis.

"Hansen! Sakit banget! Wajahku ...." Wina berkata dengan mata berkaca-kaca.

Hansen langsung menoleh. Tatapannya yang setajam pisau tertuju pada Mitha yang ikut datang, sementara suaranya menahan amarah. "Bukannya aku sudah bilang, ini hanya buat bikin dia senang? Yang benar-benar akan nikah sama aku itu kamu! Apa kamu harus sekejam ini?"

Hansen bahkan tidak bertanya lebih dulu, dan langsung menganggap Mitha sebagai pelakunya.

Mitha menatap kecurigaan dan tuduhan yang terpancar jelas dari mata Hansen. Dia bahkan sudah tidak punya tenaga untuk menjelaskan, hanya bisa menghela napas pelan.

"Sakit?" Hansen berbalik menenangkan Wina, lalu melirik dingin ke arah pengawal di sampingnya. "Apa pun yang dia lakuin sama Wina, lakuin balik padanya. Sepuluh kali lipat."

Para pengawal segera memahami maksudnya. Mereka mengambil sekotak jarum tipis. Dua orang maju menahan Mitha, sementara seorang lainnya mengambil jarum dan menusukkannya satu per satu ke jari-jari tangannya.

Ujung jarum menembus kulit dan masuk jauh ke dalam ujung jarinya. Kesepuluh jarinya terasa seperti terhubung langsung ke jantung, membuat rasa sakitnya begitu menusuk. Tubuh Mitha gemetar tak terkendali. Keringat dingin membasahi rambut di dahinya. Dia menggigit bibir hingga memucat, tetapi suaranya tetap tidak keluar sedikit pun. Hanya tatapannya yang perlahan makin kosong dan dingin.

Tangannya penuh dengan titik-titik kecil yang mengeluarkan darah sebelum para pengawal akhirnya melepaskannya.

Hansen menatap Mitha yang wajahnya pucat dan tubuhnya nyaris tak mampu berdiri tegak. Dia mengernyit, lalu berkata dengan nada tidak sabar, "Upacaranya akan dilanjutin. Kamu ... jangan macam-macam." Setelah itu, dia merangkul Wina yang masih terisak dan buru-buru kembali ke aula.

Suara lantang pembawa acara kembali terdengar. "Pak Hansen, apakah Anda bersedia menikahi Nona Wina sebagai istri Anda ...."

Mitha bersandar pada dinding yang dingin. Rasa sakit di ujung jarinya datang bergelombang. Saat itulah ponsel di dalam sakunya bergetar.

Dia mengeluarkan ponselnya. Layarnya menyala, menampilkan sebuah pesan dari "Z".

[Di mana kamu? Bukannya kita sudah sepakat ketemu di depan kantor catatan sipil?]

[Aku sudah sampai.]

Pesan itu dikirim dua puluh menit lalu.

Tak lama kemudian, pesan lain muncul. [Kamu berubah pikiran?]

Dari luar, suara Hansen terdengar jelas, rendah dan tegas. "Aku bersedia."

Tepuk tangan para tamu pun langsung terdengar, disusul ucapan selamat.

Mitha menundukkan kepala. Ujung jarinya masih berlumuran darah, tetapi dia tetap tenang saat mengetik balasan.

[Aku segera ke sana. Tunggu aku.]

Dia menyimpan ponselnya, lalu menoleh untuk terakhir kalinya ke arah panggung yang masih meriah. Di sana, Hansen sedang memasangkan cincin ke jari Wina.

Mitha berbalik, mengangkat rok yang menghalangi langkahnya, lalu berjalan tanpa alas kaki menuju jalan kecil ke pintu samping. Telapak kakinya penuh debu dan bekas darah.

Hansen, kali ini aku benar-benar tidak ingin menikah denganmu.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 15

    Pernikahan Mitha ditetapkan pada tanggal 17 Juli.Musim panas telah tiba di Hanaya. Teriknya matahari seakan memutihkan seluruh kota. Undangan dari Keluarga Janesa telah disebarkan, dan tidak ada satu keluarga pun yang menolaknya, tidak ada seorang pun yang absen. Semua orang ingin melihat seperti apa pria yang akhirnya berhasil membuat putri Keluarga Janesa ini menetapkan hatinya.Malam sebelum pernikahan, Jovie tidak tidur.Dia memeriksa seluruh rangkaian acara yang akan berlangsung esok hari hingga tiga kali. Mulai dari rute penjemputan pengantin hingga pencahayaan aula, dari waktu penggantian bunga hingga sudut penataan menara sampanye, semuanya dia periksa dan atur sendiri.Pukul empat dini hari, dia berdiri di tengah aula yang kosong. Lampu kristal di atas kepalanya belum dinyalakan, hanya beberapa lampu dinding yang memancarkan cahaya kekuningan redup. Dia berdiri lama dalam keheningan itu, seolah sedang memastikan semuanya sempurna, atau mungkin hanya enggan pergi.Saat fajar t

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 14

    Kabar pernikahan Mitha menyebar ke seluruh Hanaya hanya dalam semalam.Mawar merah Keluarga Janesa yang telah dirawat dan dimanjakan selama lebih dari dua puluh tahun itu akhirnya menikah. Identitas pria tersebut misterius. Konon, dia berasal dari keluarga terpandang dan memiliki penampilan yang menawan. Dia adalah teman lama yang telah dikenal Mitha sejak masa kuliahnya di luar negeri.Ucapan selamat mengalir deras ke kediaman Keluarga Janesa, sementara undangan demi undangan berdatangan. Semua orang ingin menghadiri pesta pernikahan ini dan melihat sendiri sosok luar biasa seperti apa yang akhirnya berhasil menaklukkan hati putri Keluarga Janesa.Keluarga Fabian tentu saja tidak terkecuali.Ketika ibu Hansen mendorong pintu kamar, seluruh ruangan gelap gulita. Tirai tertutup rapat, lampu tidak dinyalakan, dan udara dipenuhi aroma debu yang telah mengendap selama beberapa hari.Baru berjalan dua langkah, kakinya menendang sesuatu. Dia menunduk dan melihat sebuah kendi tanah liat. Kend

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 13

    Kabar kepulangan Mitha ke Hanaya tersebar luas bahkan sebelum setengah hari berlalu.Saat menerima telepon itu, Hansen sedang berada di luar kediaman Keluarga Janesa. Sejak malam itu, dia datang setiap hari. Penjaga gerbang tidak lagi menghalanginya, sementara Edwin juga tidak lagi menemuinya. Dia hanya meletakkan barang-barang yang dibawanya, berdiri sejenak di bawah jendela yang gelap itu, lalu pergi.Hari itu, yang dibawanya adalah kue kacang kesukaan Mitha.Telepon berdering. Suara di seberang hanya mengatakan satu kalimat, "Nona Mitha akan tiba malam ini. Nomor penerbangannya sudah saya kirim kepada Anda."Dia hampir langsung berlari menuju mobil.Pertama, dia pergi ke toko bunga. Dulu Mitha menyukai mawar putih. Saat berusia delapan belas tahun, dia pernah menulis di buku hariannya, "Hari ketika aku menerima mawar putih adalah hari ketika aku ingin menikah dengan Hansen."Dia membeli sembilan puluh sembilan tangkai mawar putih.Kemudian dia berkeliling kota untuk membeli manisan

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 12

    Saat terbangun, seberkas cahaya kelabu kebiruan menembus celah tenda dan jatuh ke wajah Mitha.Dia menoleh. Tempat di sampingnya sudah kosong, tetapi kantong tidur masih menyimpan sisa kehangatan tubuh. Dari luar terdengar samar suara aktivitas.Dia mengenakan jaket lalu keluar dari tenda. Udara dingin yang menusuk langsung menerpa wajahnya. Lereng tempat mereka berkemah menghadap ke timur. Garis cakrawala masih diselimuti biru pekat, tetapi siluet pegunungan bersalju sudah terlihat jelas.Jovie Setya berdiri membelakanginya. Tripod sudah terpasang, dan dia sedang menunduk mengatur lensa kamera. Jaket hitamnya basah oleh embun malam, beberapa helai rambutnya juga masih lembap. Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana.Mendengar suara dari belakang, dia menoleh."Sudah bangun?"Dia menyerahkan termos kepada Mitha. Suhu minumannya pas seperti yang biasa dia sukai. Mitha menerimanya tanpa bertanya sejak kapan Jovie tahu kebiasaannya.Garis cakrawala mulai berwarna keemasan.Dia berdiri

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 11

    Telepon Wina masuk tujuh belas menit setelah informasi itu dikirim.Hansen menatap nama yang berkedip di layar, lalu mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara."Hansen!" Suara Wina di seberang terdengar tercekat oleh tangis, tetapi kepanikannya tetap terdengar jelas. "Tiba-tiba ada banyak postingan fitnah tentang aku di forum kampus. Pasti Mitha. Dia memang nggak tahan lihat aku baik-baik saja. Dia bahkan masih ingin balas dendam padaku ...."Hansen bersandar di kepala ranjang, menundukkan kepala sambil mendengarkan."Begitu, ya?""Memang dia! Waktu itu juga dia yang nyebarin informasi palsu itu. Kali ini dia lebih keterlaluan lagi. Sekarang banyak orang nertawain aku. Hansen, kamu harus belain aku ....""Oke." Nada suara Hansen tetap tenang. "Terus, kamu ingin aku menghukum dia seperti apa?"Suara di seberang terdiam sejenak, seolah ingin memastikan bahwa Hansen tidak sedang bercanda."... Suruh dia berlutut di depan aula untuk minta maaf, lalu buat pengumuman ke seluruh kampus. Kay

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 10

    Hansen menerima kantong kertas cokelat yang disodorkan asistennya.Asistennya berdiri di sisi ranjang, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niat. Tanpa dia sadari, jari Hansen sudah membuka tali pengikat di mulut kantong tersebut.Halaman pertama.Isinya adalah laporan tentang insiden "fitnah" lima bulan lalu. Sebuah unggahan anonim di forum kampus Wina menuduh Wina sebagai pelakor yang merusak hubungan orang lain. Hansen masih ingat bagaimana hari itu dia menerobos masuk ke kediaman Keluarga Janesa dan menuding Mitha sambil menuduhnya menggunakan cara-cara keji.Laporan itu menunjukkan bahwa alamat IP yang digunakan untuk mengunggah tulisan tersebut memiliki kecocokan sangat tinggi dengan jaringan asrama yang biasa digunakan Wina.Jari Hansen terhenti.Halaman kedua.Gudang. Penculikan. Mitha ditutup matanya dan ditekan ke lantai yang kotor, sementara kilatan lampu kamera menembus kelopak matanya. Hansen masih ingat telepon itu, dengan suara napas terengah-engah dan ge

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status