แชร์

Bab 5

ผู้เขียน: Aisyem
Mitha sempat mengira dirinya akan mati di sana. Namun, ketika membuka mata lagi, yang menyambutnya tetap langit-langit rumah sakit yang putih pucat.

Tenggorokannya kering dan terasa perih. Dia mencoba bangkit untuk meraih gelas air, tetapi tubuhnya begitu lemas, seolah seluruh tenaganya telah terkuras. Baru terangkat sedikit, tubuhnya sudah kembali jatuh ke ranjang. Luka di punggungnya yang belum sembuh pun kembali terasa seperti terkoyak.

"Sudah sadar?"

Pintu terbuka. Suara yang begitu dikenalnya terdengar dari samping. Mitha refleks memalingkan wajah dan enggan menatapnya.

Melihat Mitha berusaha bangkit dengan tubuh selemah itu, langkah Hansen sempat terhenti. Namun, dia segera berjalan ke sisi ranjang, menuangkan segelas air, lalu membungkuk untuk menopang tengkuk Mitha dengan hati-hati sebelum menyodorkan gelas ke bibirnya.

Suhu airnya pas. Mitha meneguknya perlahan, matanya tetap tertunduk tanpa sedikit pun menatap Hansen.

Setelah Mitha selesai minum, Hansen meletakkan gelas itu dan berkata dengan ekspresi datar, "Aku sudah nentuin tanggal pertunangan kita. Bulan depan."

Mitha tiba-tiba terbatuk hingga punggungnya kembali terasa nyeri. Setelah mengatur napas, dia berkata lirih, "Aku nggak mau lagi nikah."

"Jangan kekanak-kanakan." Hansen mengernyit dan mengulurkan tangan untuk menyentuh wajahnya, tetapi Mitha langsung memalingkan kepala. "Mitha, aku sudah nunggu kamu selama lima tahun. Setelah kita tunangan, aku akan suruh Wina pergi."

Mitha memejamkan mata. Dia sudah tidak ingin berdebat lagi.

Namun, suara Hansen kembali terdengar. Tetap tenang, tapi ketenangan itu justru terasa makin kejam. "Tapi sebelum kita tunangan, aku mau ngadain pernikahan buat Wina dulu."

"Dia sudah sama aku selama lima tahun. Nggak mungkin hubungan ini diterusin tanpa kejelasan. Gadis seusia dia itu suka hal-hal yang penuh seremoni."

"Mitha, dia itu nggak punya banyak teman. Jadi, aku harap kamu datang dan jadi pengiring pengantinnya."

"Plak!"

Suara tamparan keras menggema di kamar rumah sakit.

Mitha mengerahkan seluruh tenaganya untuk menampar Hansen sampai lengannya sendiri gemetar. Hansen memalingkan wajah, pipinya seketika memerah. Tatapannya menggelap, amarah hampir saja meledak. Namun, saat melihat mata Mitha yang memerah, dia terdiam. Kehampaan dan luka di tatapan itu membuat tenggorokannya tercekat.

Dia menahan amarahnya dan kembali melunakkan nada suaranya, seolah sedang membujuk seorang anak yang tidak mengerti apa-apa. "Ini cuma sebuah permainan, Mitha. Anggap saja kamu sedang ngasih hadiah ulang tahun buat seorang gadis kecil."

Keesokan harinya, tanpa memedulikan penolakan Mitha, beberapa pelayan wanita dan pengawal masuk ke kamar rumah sakit. Mereka mendandaninya, menata rambutnya, lalu memakaikannya gaun pengiring pengantin berwarna merah muda pucat yang sudah lama disiapkan. Bagian pinggang gaun itu dibuat sangat ketat hingga menekan luka di tubuhnya dan menimbulkan rasa nyeri yang berdenyut.

Mitha dibawa ke tempat pernikahan dengan setengah ditopang, setengah diseret.

Pernikahan itu tidak digelar di hotel, melainkan di sebuah vila pribadi di kawasan pesisir Hanaya. Gerbangnya dihiasi lengkungan mawar putih, karpet panjang dipenuhi hiasan kristal, dan sebuah band memainkan musik di dekat panggung. Bahkan pita satin warna sampanye yang diikat membentuk pita kupu-kupu di kursi para tamu pun persis seperti yang pernah Mitha ceritakan sebagai "pernikahan impiannya" saat berusia sembilan belas tahun, ketika dia bersandar dalam pelukan Hansen sambil membolak-balik majalah.

Saat itu, Hansen tertawa sambil mencubit hidungnya dan berkata, "Aku akan ingat semuanya. Nanti akan aku kasih untukmu, nggak kurang satu pun."

Kini, Hansen berikan semuanya itu pada Wina. Tak kurang satu pun.

Hansen mengenakan setelan putih yang rapi dan berdiri tidak jauh dari sana. Dia menunduk dengan lembut sambil membenahi kerudung pengantin Wina. Wina mengenakan gaun pengantin mewah dengan sulaman indah, senyumnya semanis bunga. Wajahnya yang mirip dengan Mitha dipenuhi kebanggaan dan kebahagiaan yang sama sekali tidak dia sembunyikan.

Mitha berdiri di antara para pengiring pengantin. Punggungnya tegak, riasannya sempurna, tidak sedikit pun menunjukkan bahwa ada yang tidak beres.

Hanya dirinya yang tahu saat melihat semua itu dengan mata kepalanya sendiri, bahwa sisa kehangatan terakhir di dalam hatinya akhirnya benar-benar lenyap.

Hansen bilang ini hanya sebuah permainan.

Namun, setiap bagian dari permainan itu adalah mimpi yang pernah dia ceritakan kepada Hansen, lalu kini diberikan pada Wina.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 15

    Pernikahan Mitha ditetapkan pada tanggal 17 Juli.Musim panas telah tiba di Hanaya. Teriknya matahari seakan memutihkan seluruh kota. Undangan dari Keluarga Janesa telah disebarkan, dan tidak ada satu keluarga pun yang menolaknya, tidak ada seorang pun yang absen. Semua orang ingin melihat seperti apa pria yang akhirnya berhasil membuat putri Keluarga Janesa ini menetapkan hatinya.Malam sebelum pernikahan, Jovie tidak tidur.Dia memeriksa seluruh rangkaian acara yang akan berlangsung esok hari hingga tiga kali. Mulai dari rute penjemputan pengantin hingga pencahayaan aula, dari waktu penggantian bunga hingga sudut penataan menara sampanye, semuanya dia periksa dan atur sendiri.Pukul empat dini hari, dia berdiri di tengah aula yang kosong. Lampu kristal di atas kepalanya belum dinyalakan, hanya beberapa lampu dinding yang memancarkan cahaya kekuningan redup. Dia berdiri lama dalam keheningan itu, seolah sedang memastikan semuanya sempurna, atau mungkin hanya enggan pergi.Saat fajar t

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 14

    Kabar pernikahan Mitha menyebar ke seluruh Hanaya hanya dalam semalam.Mawar merah Keluarga Janesa yang telah dirawat dan dimanjakan selama lebih dari dua puluh tahun itu akhirnya menikah. Identitas pria tersebut misterius. Konon, dia berasal dari keluarga terpandang dan memiliki penampilan yang menawan. Dia adalah teman lama yang telah dikenal Mitha sejak masa kuliahnya di luar negeri.Ucapan selamat mengalir deras ke kediaman Keluarga Janesa, sementara undangan demi undangan berdatangan. Semua orang ingin menghadiri pesta pernikahan ini dan melihat sendiri sosok luar biasa seperti apa yang akhirnya berhasil menaklukkan hati putri Keluarga Janesa.Keluarga Fabian tentu saja tidak terkecuali.Ketika ibu Hansen mendorong pintu kamar, seluruh ruangan gelap gulita. Tirai tertutup rapat, lampu tidak dinyalakan, dan udara dipenuhi aroma debu yang telah mengendap selama beberapa hari.Baru berjalan dua langkah, kakinya menendang sesuatu. Dia menunduk dan melihat sebuah kendi tanah liat. Kend

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 13

    Kabar kepulangan Mitha ke Hanaya tersebar luas bahkan sebelum setengah hari berlalu.Saat menerima telepon itu, Hansen sedang berada di luar kediaman Keluarga Janesa. Sejak malam itu, dia datang setiap hari. Penjaga gerbang tidak lagi menghalanginya, sementara Edwin juga tidak lagi menemuinya. Dia hanya meletakkan barang-barang yang dibawanya, berdiri sejenak di bawah jendela yang gelap itu, lalu pergi.Hari itu, yang dibawanya adalah kue kacang kesukaan Mitha.Telepon berdering. Suara di seberang hanya mengatakan satu kalimat, "Nona Mitha akan tiba malam ini. Nomor penerbangannya sudah saya kirim kepada Anda."Dia hampir langsung berlari menuju mobil.Pertama, dia pergi ke toko bunga. Dulu Mitha menyukai mawar putih. Saat berusia delapan belas tahun, dia pernah menulis di buku hariannya, "Hari ketika aku menerima mawar putih adalah hari ketika aku ingin menikah dengan Hansen."Dia membeli sembilan puluh sembilan tangkai mawar putih.Kemudian dia berkeliling kota untuk membeli manisan

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 12

    Saat terbangun, seberkas cahaya kelabu kebiruan menembus celah tenda dan jatuh ke wajah Mitha.Dia menoleh. Tempat di sampingnya sudah kosong, tetapi kantong tidur masih menyimpan sisa kehangatan tubuh. Dari luar terdengar samar suara aktivitas.Dia mengenakan jaket lalu keluar dari tenda. Udara dingin yang menusuk langsung menerpa wajahnya. Lereng tempat mereka berkemah menghadap ke timur. Garis cakrawala masih diselimuti biru pekat, tetapi siluet pegunungan bersalju sudah terlihat jelas.Jovie Setya berdiri membelakanginya. Tripod sudah terpasang, dan dia sedang menunduk mengatur lensa kamera. Jaket hitamnya basah oleh embun malam, beberapa helai rambutnya juga masih lembap. Entah sudah berapa lama dia berdiri di sana.Mendengar suara dari belakang, dia menoleh."Sudah bangun?"Dia menyerahkan termos kepada Mitha. Suhu minumannya pas seperti yang biasa dia sukai. Mitha menerimanya tanpa bertanya sejak kapan Jovie tahu kebiasaannya.Garis cakrawala mulai berwarna keemasan.Dia berdiri

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 11

    Telepon Wina masuk tujuh belas menit setelah informasi itu dikirim.Hansen menatap nama yang berkedip di layar, lalu mengangkatnya dan menyalakan pengeras suara."Hansen!" Suara Wina di seberang terdengar tercekat oleh tangis, tetapi kepanikannya tetap terdengar jelas. "Tiba-tiba ada banyak postingan fitnah tentang aku di forum kampus. Pasti Mitha. Dia memang nggak tahan lihat aku baik-baik saja. Dia bahkan masih ingin balas dendam padaku ...."Hansen bersandar di kepala ranjang, menundukkan kepala sambil mendengarkan."Begitu, ya?""Memang dia! Waktu itu juga dia yang nyebarin informasi palsu itu. Kali ini dia lebih keterlaluan lagi. Sekarang banyak orang nertawain aku. Hansen, kamu harus belain aku ....""Oke." Nada suara Hansen tetap tenang. "Terus, kamu ingin aku menghukum dia seperti apa?"Suara di seberang terdiam sejenak, seolah ingin memastikan bahwa Hansen tidak sedang bercanda."... Suruh dia berlutut di depan aula untuk minta maaf, lalu buat pengumuman ke seluruh kampus. Kay

  • Cintamu Datang Terlambat   Bab 10

    Hansen menerima kantong kertas cokelat yang disodorkan asistennya.Asistennya berdiri di sisi ranjang, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi mengurungkan niat. Tanpa dia sadari, jari Hansen sudah membuka tali pengikat di mulut kantong tersebut.Halaman pertama.Isinya adalah laporan tentang insiden "fitnah" lima bulan lalu. Sebuah unggahan anonim di forum kampus Wina menuduh Wina sebagai pelakor yang merusak hubungan orang lain. Hansen masih ingat bagaimana hari itu dia menerobos masuk ke kediaman Keluarga Janesa dan menuding Mitha sambil menuduhnya menggunakan cara-cara keji.Laporan itu menunjukkan bahwa alamat IP yang digunakan untuk mengunggah tulisan tersebut memiliki kecocokan sangat tinggi dengan jaringan asrama yang biasa digunakan Wina.Jari Hansen terhenti.Halaman kedua.Gudang. Penculikan. Mitha ditutup matanya dan ditekan ke lantai yang kotor, sementara kilatan lampu kamera menembus kelopak matanya. Hansen masih ingat telepon itu, dengan suara napas terengah-engah dan ge

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status