Home / Romansa / Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam! / Bab 74: Beritahu jika sudah Siap

Share

Bab 74: Beritahu jika sudah Siap

last update Last Updated: 2026-01-07 10:40:18

Mobil melaju perlahan meninggalkan halaman hotel yang masih dipenuhi cahaya lampu dan deretan kendaraan mewah.

Di balik dinding kaca aula, pesta masih berlangsung meriah, musik mengalun, tawa terdengar samar, dan para tamu masih larut dalam perbincangan. Namun bagi Jane dan Brian, malam itu telah mencapai titik akhirnya.

Jane duduk di kursi penumpang dengan punggung bersandar rapi. Ia melepaskan napas pelan, seolah baru saja keluar dari sebuah medan yang penuh tekanan.

Brian fokus mengemudi, sorot matanya lurus ke depan, rahangnya sedikit mengeras. Suasana di dalam mobil terasa hening, tetapi bukan hening yang canggung—lebih seperti kelelahan yang sama-sama mereka pahami.

Belum jauh mobil melaju, ponsel Brian bergetar. Ia melirik layar sekilas, lalu menghela napas panjang sebelum akhirnya menerima panggilan itu.

“Ya,” jawab Brian singkat.

Suara di seberang terdengar jelas meski Jane tidak bisa mendengar kata per kata. Nada itu tegas, tinggi, dan sarat otoritas. Brian mengendurkan bahu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Kania Putri
kayanya salah paham ini ya
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
klo diva pinter sih ya,langsung tuh cetak rekening koran biar tau perkataan brian bener apa gak.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 81: Langkah Awal sang Pewaris

    Jam menunjukkan pukul dua belas siang tepat ketika rombongan jajaran petinggi Hills Group memasuki ruang perjamuan privat di restoran bintang lima yang terletak di lantai dasar gedung utama.Atmosfer di dalam ruangan tersebut terasa formal dan penuh pretensi. Aroma hidangan gourmet bercampur dengan wangi parfum mahal, menciptakan suasana yang kaku namun elegan.Brian Kevin Hills berjalan di barisan paling depan, didampingi oleh Miles, asisten senior yang telah menjadi tangan kanan keluarga Hills selama puluhan tahun.Di meja panjang yang telah disiapkan, para direksi, manajer divisi, dan investor utama telah berdiri untuk menyambut pemimpin baru mereka.“Silakan duduk, Tuan dan Nyonya sekalian,” ujar Brian dengan suara berat yang memenuhi ruangan. Suaranya tidak keras, namun memiliki otoritas yang membuat semua orang segera mematuhi perintah tersebut.Setelah semua orang menempati kursi masing-masing, Miles mulai menjalankan tugasnya. Ia berdiri sedikit di belakang Brian, membungkuk p

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 80: Keputusan yang Besar

    Mentari pagi baru saja membasuh gedung pencakar langit Hills Group dengan cahaya keemasan.Di lobi utama yang megah, aktivitas perkantoran dimulai seperti biasa.Namun, atmosfer pagi itu mendadak berubah ketika pintu kaca otomatis terbuka dan menampakkan sosok pria yang seolah keluar dari sampul majalah bisnis internasional.Jane, yang sedang berdiri di dekat meja resepsionis sembari memeriksa jadwal hariannya, seketika terpaku.Mulutnya sedikit terbuka, dia menganga tak percaya melihat pemandangan di hadapannya.Brian, pria yang biasanya dia temui dengan kaus santai atau perlengkapan tinju, kini melangkah dengan penuh wibawa dalam balutan setelan jas tuxedo tiga potong berwarna charcoal grey yang dijahit sempurna mengikuti lekuk tubuhnya yang atletis.Rambutnya yang biasa dibiarkan berantakan kini disisir rapi ke belakang dengan gaya slick back, menonjolkan garis rahang yang tegas dan wajah maskulin yang luar biasa tampan.Di samping Jane, Sita, sahabatnya yang juga bekerja di depart

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 79: Kembali Menemui Brian

    Dua minggu telah berlalu sejak pertemuan terakhir yang berakhir dengan keheningan mencekam, namun ambisi rupanya tidak membiarkan Hardy Hills berdiam diri.Di lantai atas sebuah apartemen mewah yang didominasi oleh kaca jendela setinggi langit-langit, suara hantaman keras bergema secara ritmis. Bugh! Bugh!Brian sedang berada di tengah sesi latihan tinju yang intens. Keringat bercucuran membasahi kaus hitamnya, sementara napasnya menderu teratur.Setiap pukulan yang ia layangkan ke samsak gantung di hadapannya seolah membawa beban amarah yang terpendam selama bertahun-tahun.Di ruangan yang luas dan minimalis itu, Brian tampak seperti seorang prajurit yang sedang mempersiapkan diri untuk perang yang tak kunjung usai.Pintu lift pribadi berdenting terbuka. Hardy Hills melangkah masuk dengan setelan jas custom-made yang rapi, memancarkan aura otoritas yang tak tergoyahkan.Dia berhenti beberapa meter dari Brian, memperhatikan putra bungsunya itu dengan tatapan yang sulit diartikan, camp

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 78: Alasan yang Menyakitkan

    Waktu sudah menunjuk angka delapan malam.Pintu apartemen terbuka dengan sedikit tergesa. Jane melangkah masuk dengan napas yang masih memburu, membawa aura kegemparan yang ia tangkap dari dunia luar.Dia segera meletakkan tasnya di atas meja konsol dan menghampiri Brian yang sedang duduk bersandar di sofa ruang tengah.Brian tampak begitu tenang, seolah hiruk-pikuk yang terjadi di gedung Hills Group beberapa jam lalu hanyalah angin lalu yang tidak memengaruhi kedamaian di apartemennya.“Brian, kau tidak akan percaya betapa riuhnya suasana di luar sana saat ini,” ujar Jane dengan nada suara yang masih menunjukkan rasa tidak percaya.Dia lalu mengambil posisi duduk di samping Brian, menatap kekasihnya dengan mata yang berbinar penuh rasa ingin tahu.“Semua orang di kantor, bahkan hingga ke kedai kopi di seberang gedung, membincangkan hal yang sama. Berita mengenai John yang secara resmi dipecat oleh ayahnya sendiri telah tersebar luas. Namanya benar-benar hancur dalam semalam.”Brian h

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 77: Menolaknya dengan Tegas

    Dua hari kemudian.Hari yang menentukan itu akhirnya tiba. Gedung pencakar langit Hills Group yang megah di pusat distrik bisnis tampak lebih sibuk dari biasanya.Puluhan kendaraan mewah berderet di lobi utama, membawa para pemegang saham dan petinggi perusahaan yang memiliki kepentingan besar atas masa depan firma tersebut.Di dalam aula pertemuan utama yang bernuansa emas dan marmer, ketegangan terasa begitu pekat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis tersedot oleh kecemasan para hadirin.Brian melangkah masuk ke dalam aula dengan sangat tenang, hampir tidak terdeteksi.Dia tidak mengenakan setelan jas formal yang kaku seperti anggota keluarga Hills lainnya; dia memilih pakaian yang lebih kasual namun tetap elegan, menunjukkan bahwa dia hadir bukan untuk memamerkan kekuasaan.Alih-alih melangkah ke barisan depan yang telah dipesan khusus untuk keluarga inti, Brian justru memilih kursi di baris paling belakang, di sudut remang-remang yang jauh dari sorotan lampu aula. Ia ingin m

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 76: Bukan lagi Bagian dari Hills

    Ruang kerja utama di kediaman keluarga Hills yang biasanya tenang dan berwibawa, kini berubah menjadi medan ketegangan yang mencekam.Hardy Hills, sang patriark sekaligus pemilik tunggal Hills Group, berdiri dengan napas memburu di balik meja kerja mahoni besarnya.Di hadapannya, John berdiri dengan wajah pucat, sementara Brian dan Sheila menyaksikan konfrontasi itu dari sudut ruangan dengan ekspresi yang berbeda.Tiba-tiba, suara dentuman keras memecah keheningan. Hardy menggebrak meja dengan kedua tangannya, membuat beberapa berkas dan pena kristal di atasnya bergetar hebat. Tatapan matanya yang tajam bak elang menghujam tepat ke manik mata John."Kau benar-benar tidak memiliki akal sehat, John!" bentak Hardy dengan suara baritonnya yang menggelegar, bergetar karena rasa kecewa yang mendalam."Kau telah menghancurkan reputasimu sendiri yang telah kau bangun selama bertahun-tahun, dan yang lebih buruk, kau menyeret nama besar Hills Group ke dalam lumpur kehinaan!"John mencoba membuka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status