تسجيل الدخولMalam itu, suasana di restoran berkonsep fine dining yang menjadi langganan mereka terasa begitu tenang.Pencahayaan temaram menciptakan atmosfer yang intim, sangat kontras dengan hiruk-pikuk skandal keuangan yang baru saja Brian tangani di kantor.Brian duduk dengan santai, namun aura kepemimpinannya tetap melekat kuat, bahkan saat ia hanya mengenakan kemeja kasual dengan kerah terbuka.Jane menyesap sisa anggur di gelasnya, lalu menatap Brian dengan tatapan penuh selidik.“Kau tahu, Brian? Hari ini seluruh departemen dipenuhi oleh pembicaraan tentangmu. Sepertinya kau telah menjadi topik utama di setiap sudut kantor,” ujar Jane memulai percakapan.Brian hanya menaikkan alisnya sebelah, sebuah gestur minimalis yang menunjukkan ketertarikan tanpa harus bertanya lebih lanjut.Ia tetap tenang, menunggu Jane melanjutkan laporannya tentang dinamika sosial di Hills Group.“Hampir seluruh staf perempuan tidak berhenti mengagumi ketampananmu. Mereka terpesona dengan transformasi dan wibawamu
Pagi harinya, suasana di lantai eksekutif Hills Group tampak jauh lebih sibuk dari biasanya.Brian Kevin Hills telah berada di meja kerjanya sejak fajar menyingsing, untuk meninjau beberapa berkas awal sebelum memulai pertemuan penting dengan Departemen Keuangan.Pintu ruang kerja terbuka, dan Miles masuk bersama seorang pria berkacamata yang membawa tas koper berisi dokumen-dokumen rahasia.“Tuan Brian, ini adalah Tuan Juan, Manajer Keuangan senior yang telah menangani arus kas perusahaan selama sepuluh tahun terakhir.” Miles memperkenalkan dengan nada formal.Brian mempersilakan Juan untuk duduk. Tanpa basa-basi atau basa-basi protokol yang tidak perlu, Brian langsung menuju inti permasalahan. Tatapannya tajam, mengunci fokus pada pria di hadapannya.“Juan, saya ingin laporan yang sejujur-jujurnya tanpa ada angka yang dipoles. Bagaimana kondisi kesehatan keuangan Hills Group selama dua tahun terakhir di bawah kepemimpinan John?” tanya Brian dengan nada rendah yang menuntut kejujuran
Pukul sebelas malam, suasana di dalam apartemen mewah itu terasa begitu hening, namun sarat dengan ketegangan elektrik yang tidak kasatmata.Di dalam kamar utama yang didominasi oleh interior minimalis modern dan pencahayaan temaram, aroma kayu cendana dan parfum maskulin milik Brian menguar di udara, menciptakan atmosfer yang intim dan eksklusif.Brian berdiri diam di depan jendela besar yang menampilkan panorama megah lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti hamparan berlian.Ia hanya mengenakan celana pendek hitam dan membiarkan punggungnya yang lebar dan berotot terpampang jelas di bawah cahaya rembulan yang menembus kaca.Otot-otot tubuhnya yang terukir dari latihan bertahun-tahun tampak berkilau, memancarkan aura kejantanan yang mentah dan tak tertandingi.Suara langkah kaki yang halus di atas lantai parket membuat Brian mematung. Pintu kamar tertutup dengan bunyi klik yang lembut.Dari pantulan kaca jendela, ia melihat sosok Jane berjalan mendekat. Langkahnya gemulai, sebua
“Aku mungkin akan sangat sibuk sampai larut malam nanti. Tapi, aku ingin kau datang ke apartemenku. Tunggu aku di sana,” ucap Brian dengan nada rendah namun penuh penekanan yang intim.Jane tersenyum manis mendengar instruksi yang lebih terdengar seperti permintaan tulus daripada perintah seorang atasan.Mereka berdiri di lorong sunyi menuju ruang rapat eksekutif, sesaat sebelum badai profesional dimulai.Mata Brian menatap Jane dengan binar yang berbeda, sebuah tatapan yang hanya ia simpan untuk wanita itu di tengah segala ketegangan transisi kepemimpinan ini.Jane mengangguk pelan, memberikan afirmasi yang menenangkan. “Aku akan datang. Aku akan menunggumu sampai pekerjaanmu selesai, Brian.”Mendengar jawaban itu, Brian mengusap lengan Jane dengan lembut sebagai bentuk terima kasih dan kasih sayang yang singkat namun bermakna.Tanpa membuang waktu lagi, dia membetulkan letak jasnya, memasang kembali raut wajah tegas yang tak tertembus, dan melangkah masuk ke dalam ruang rapat di man
“Apa kau serius dengan keputusan ini, Brian?”Jane bertanya dengan nada yang menunjukkan ketidakpercayaan yang mendalam.Matanya membulat, menatap pria di hadapannya yang kini tampak sangat berbeda dari Brian yang ia kenal beberapa minggu lalu.Kabar mengenai rencana restrukturisasi besar-besaran yang akan dilakukan Brian telah sampai ke telinganya, namun mendengarnya langsung dari bibir sang CEO baru memberikan dampak yang jauh lebih kuat.Brian mengangguk dengan santai, nyaris tanpa beban. “Aku tidak pernah seserius ini dalam hidupku, Jane,” jawabnya tenang.Saat ini, mereka tengah duduk di sebuah restoran Italia langganan mereka yang bernuansa hangat dan redup.Brian telah menanggalkan jas formalnya; lengan kemeja putihnya digulung hingga ke siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan urat-urat tangan yang tegas saat ia dengan mahir memutar garpu pada pasta fettuccine favoritnya.Meski tampil lebih santai, aura otoritas tetap terpancar kuat dari cara bicaranya.“Aku akan merombak tot
Beberapa jam berlalu dengan suasana yang tenang namun mencekam di lantai eksekutif.Brian tidak membuang waktu; ia menanggalkan jasnya, menggulung kemeja putihnya hingga ke siku, dan mulai mempelajari peta kekuatan bisnis yang kini ada di genggamannya.Tepat pukul empat sore, ketukan pintu terdengar. Miles masuk bersama seorang pria berkacamata dengan raut wajah yang tampak tegang.“Tuan Brian, ini Tuan Tony, Manajer HRD pusat. Beliau telah membawa dokumen evaluasi kinerja tahunan yang Anda minta,” Miles memperkenalkan pria tersebut.Tony melangkah maju, meletakkan beberapa bundel dokumen tebal di atas meja kayu jati milik Brian.“Selamat sore, Tuan Brian. Ini adalah data komprehensif mengenai Key Performance Indicator (KPI) seluruh karyawan, mulai dari tingkat manajerial hingga staf operasional.”Brian tidak banyak bicara. Dia langsung menarik dokumen tersebut dan mulai memindai lembar demi lembar dengan ketelitian seorang petinju yang sedang mempelajari kelemahan lawan.Ruangan itu







