ホーム / Romansa / Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam! / Bab 75: Sedang Merayu Calon Istri

共有

Bab 75: Sedang Merayu Calon Istri

last update 公開日: 2026-01-07 15:19:47

Lampu neon yang temaram di area parkir bawah tanah apartemen itu menciptakan bayangan panjang yang memantul pada bodi mobil sedan mewah milik Brian.

Keheningan menyelimuti atmosfer di dalam kabin, hanya menyisakan deru halus mesin yang baru saja dimatikan. Jane masih berdiri di samping pintu mobil yang terbuka, enggan untuk benar-benar melangkah pergi.

Matanya tertuju pada Brian yang masih duduk di balik kemudi, menatapnya dengan binar mata yang sulit diartikan.

Jane menghela napas panjang, seb
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (3)
goodnovel comment avatar
Kania Putri
udah pasti gak dong Jane pasti nanti bakalan di tempat istimewa dan megah
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
tidak perlu takut Jane .c Brian pasti akan melakukan yang terbaik untuk mu
goodnovel comment avatar
MAIMAI.
klo perlu hotel mewah buat acara lamaran dan pernikahan kamu jane pasti brian lakukan.
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 153: Keajaiban yang Nyata

    Pagi itu, penthouse keluarga Hills riuh dengan perdebatan yang tidak biasa.Di ruang makan yang luas, Brian sedang duduk di hadapan Dave yang kini sudah berusia lima tahun.Bocah itu tampak menggemaskan namun keras kepala, mengenakan kaos bergambar pahlawan super favoritnya.“Dave, sekolah ini punya lapangan bola yang besar. Kau bisa jadi kapten di sana,” bujuk Brian sembari menunjukkan brosur sekolah TK internasional ternama di tabletnya.“Tapi Dave mau yang ada kolam renangnya, Papa! Yang airnya hangat!” bantah Dave sembari melipat tangan di dada, meniru gaya bicara Brian saat sedang negosiasi bisnis.Brian menghela napas, menatap Jane yang sedang duduk di kursi seberang sembari menyesap teh jahe hangat.“Jane, lihat anakmu ini. Belum juga masuk TK sudah pintar menawar seperti pialang saham.”Jane hanya tersenyum tipis, namun wajahnya tampak sedikit pucat. Dia merasakan sensasi aneh di perutnya sejak bangun tidur, sesuatu yang sudah ia rasakan selama dua minggu terakhir.Pikirannya

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 152: Telah Mutlak menjadi Anak Mereka

    Hari itu, ruang tengah penthouse Hills Group tidak dipenuhi oleh aroma parfum mahal atau suara tegang para kolega bisnis.Sebaliknya, ruangan itu berbau kue cokelat yang baru dipanggang dan dipenuhi balon-balon berwarna biru kehijauan. Di atas meja kerja Brian yang biasanya sakral, kini tergeletak sebuah map kulit berlogo negara.Dave Leandra Hills.Nama itu tertulis tegas di atas sertifikat adopsi yang baru saja disahkan oleh pengadilan pagi tadi. Brian menatap dokumen itu dengan binar mata yang lebih terang daripada saat ia memenangkan tender triliunan rupiah.“Sudah resmi, Sayang,” ujar Brian sembari memeluk pinggang Jane dari belakang.Jane mengusap air mata harunya. “Dave Leandra Hills. Kedengarannya sangat indah, Brian.”“Ayo, tamu-tamu sudah datang!” seru Sita yang muncul dari arah dapur membawa piring-piring kecil, diikuti oleh James yang tampak sibuk meniup balon terakhir.Pesta itu sangat privat. Tidak ada wartawan, tidak ada bibi-bibi Hills yang nyinyir, hanya ada orang-ora

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 151: Kita akan Baik-baik saja

    Layar ponsel di atas nakas itu tampak seperti hakim yang menjatuhkan vonis mati.Pesan singkat dari Dokter Sarah baru saja masuk, menyampaikan hasil tes darah pasca-transfer embrio yang dilakukan dua minggu lalu.NEGATIF.Jane terduduk lemas di tepi ranjang, ponselnya terlepas dari genggaman dan jatuh ke atas karpet tebal tanpa suara.Bahunya gemetar, napasnya mulai terasa sesak oleh gelombang kekecewaan yang sudah sangat ia kenal, namun kali ini terasa lebih menghujam.“Hanya angka, Jane, itu hanya angka,” bisiknya pada diri sendiri dengan suara parau. Namun, air mata tetap saja lolos membasahi pipinya.Pintu kamar terbuka pelan. Brian masuk dengan wajah cemas, namun langkahnya terhenti saat melihat bahu istrinya yang berguncang. Dia segera menghampiri, berlutut di depan Jane, dan menggenggam kedua tangannya.“Jane? Hasilnya sudah keluar?” tanya Brian lembut.Jane hanya bisa mengangguk pelan sembari terisak. “Gagal, Brian. Semuanya ... semua suntikan itu, rasa sakit itu, hasilnya nol

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 150: Kedekatan Brian dan Dave

    Perubahan di dalam penthouse Hills Group terjadi bukan melalui ledakan besar, melainkan melalui langkah-langkah kecil yang sunyi namun berarti.Brian, pria yang biasanya memimpin ribuan karyawan dengan instruksi tegas, kini harus belajar menjadi “raksasa ramah” di hadapan Dave Leandra.Menyadari bahwa postur tubuhnya yang besar menjadi pemicu trauma bagi Dave, Brian mulai menerapkan strategi “pendekatan rendah”.Setiap kali dia pulang dari kantor, Brian segera menanggalkan jas dan kemeja kaku miliknya, menggantinya dengan kaos katun lembut berwarna cerah.Dia tidak lagi berjalan tegak dengan langkah kaki yang menggema; sebaliknya, Brian akan segera duduk bersila di lantai karpet, mensejajarkan tinggi badannya dengan bocah tiga tahun itu.“Lihat, Dave. Papa punya kereta baru. Dia bisa berbunyi jika kita menekan tombol ini,” bisik Brian suatu sore.Dia lalu meletakkan sebuah kereta kayu sederhana di tengah karpet, membiarkan Dave yang mendekat atas kemauannya sendiri.Brian belajar untu

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 149: Kedatangan Dave ke Rumah Mereka

    Setelah melalui proses administrasi yang ketat dan jaminan mutlak dari pengaruh Hills Group, masa percobaan adopsi akhirnya disetujui.Pagi itu, Brian dan Jane menjemput Dave dari panti asuhan.Seluruh staf panti melepasnya dengan haru, namun Dave tetap diam, menggenggam erat boneka beruang lusuh miliknya sembari menatap ke arah gerbang yang akan membawanya ke kehidupan baru.Begitu pintu penthouse terbuka, suasana apartemen yang biasanya steril, sunyi, dan penuh dengan aroma kemewahan yang dingin, mendadak berubah.Jane telah menyiapkan sebuah kamar khusus di dekat kamar utama. Ia memberikan nama tengah yang indah untuk bocah itu: Dave Leandra.Leandra yang berarti “pelindung”, sebuah doa agar Dave tumbuh dengan keberanian untuk menghadapi trauma masa lalunya.Namun, transisi itu tidak berjalan semulus yang Jane bayangkan.Masalah utama muncul bukan dari fasilitas, melainkan dari sosok Brian. Bagi Brian, kehadirannya adalah bentuk perlindungan, namun bagi Dave, Brian adalah perwujuda

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 148: Sebuah Ikatan Batin yang Kuat

    Di sela-sela jadwal suntikan hormon yang melelahkan dan kunjungan rutin ke rumah sakit, Brian memutuskan untuk mengajak Jane kembali ke panti asuhan “Kasih Bunda”.Dia berharap udara segar dan tawa anak-anak bisa sedikit mengalihkan rasa mual dan kelelahan yang dialami Jane akibat prosedur IVF. Namun, sore itu, suasana di panti terasa lebih tenang dari biasanya.Saat mereka melangkah menyusuri lorong yang bersih namun bersahaja itu, mata Jane langsung tertuju pada sebuah sudut di ruang bermain.Di sana, jauh dari kerumunan anak-anak lain yang sedang berebut balok kayu, duduk seorang anak laki-laki kecil. Dia mengenakan kaus biru pudar yang tampak sedikit kebesaran di tubuhnya yang mungil. Namanya Dave.Dave tidak bermain. Ia hanya duduk bersila, menatap lurus ke arah jendela besar yang memperlihatkan dedaunan yang berguguran.Tatapan matanya tidak seperti anak berusia tiga tahun pada umumnya; tidak ada binar rasa ingin tahu yang meledak-ledak. Sebaliknya, ada kedalaman yang sunyi, seb

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 18: Membuatnya Ingin Lagi dan Lagi

    Jane memalingkan wajahnya dan pipinya memanas seketika. Ia menelan salivanya perlahan, kemudian memainkan jemari tangannya sendiri di atas paha, kebiasaannya ketika gugup atau salah tingkah.“Aku …,” suaranya tercekat, seperti tertahan sesuatu di tenggorokannya. Ia mengembuskan napas pelan, mencoba

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 13: Sesi Latihan yang Lebih Intens

    Beberapa hari setelah latihan partner-stretching yang memancing percakapan berbahaya itu, Jane kembali datang ke gym seperti biasa.Ada sedikit ketegangan di dadanya sejak pagi, entah karena dia berharap Brian membicarakan pertanyaannya, atau karena dia takut dengan jawabannya.Jane tiba di gym puk

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 12: Bagaimana Jika Aku Meminta Lebih?

    Hampir dua minggu berlalu sejak Jane mulai dilatih oleh Brian. Dalam kurun waktu sesingkat itu yang seharusnya biasa saja jadi banyak hal berubah.Tubuhnya mulai terasa lebih kuat, lebih lentur, namun ada perubahan lain yang bahkan lebih sulit dia kendalikan: detak jantungnya yang selalu b

  • Coach, Sentuh Aku Lebih Dalam!   Bab 8: Bisa Memberimu Lebih dari ini

    Pagi itu, Jane berdiri di depan cermin kamar mandinya selama hampir lima menit tanpa bergerak.Sikat gigi masih di tangannya, rambutnya masih berantakan, dan wajahnya terlihat lelah meskipun dia baru bangun tiga puluh menit lalu.Namun bukan rasa kantuk yang membuatnya sulit fokus, melainkan bayang

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status