LOGINMalam telah merangkak menuju pukul delapan. Udara Jakarta yang lembap terasa sedikit mendingin, menyisakan sisa-sisa kesibukan di depan lobi megah gedung Hills Group.Jane berdiri di tepi trotoar, sesekali melirik layar ponselnya untuk memantau pergerakan taksi daring yang sedang menuju ke arahnya. Keheningan malam di area perkantoran itu tiba-tiba terusik oleh suara langkah kaki yang terburu-buru dan deru napas yang memburu.Lily muncul dari balik pintu kaca besar, wajahnya yang tadi pagi tampak manis kini telah berubah total. Riasan wajahnya sedikit luntur, dan matanya memancarkan amarah yang tidak lagi disembunyikan.Ia berjalan tegap menghampiri Jane, lalu berhenti tepat di hadapannya dengan tatapan yang seolah ingin menembus harga diri Jane.Jane, yang menyadari kehadiran staf keuangan tersebut, hanya menaikkan alisnya dengan tenang.“Ada yang bisa saya bantu, Lily? Ini sudah di luar jam kerja,” ujar Jane dengan nada suara yang terkontrol dan sopan.Lily tidak membalas sapaan itu
“Siapa sebenarnya wanita yang masuk tanpa izin itu?”Pertanyaan Jane meluncur begitu saja saat mereka sudah duduk berhadapan di sebuah sudut restoran privat yang tenang.Jane menatap Brian dengan saksama, mencari jawaban di balik gurat wajah kekasihnya yang tampak sedikit lelah namun tetap dominan.Brian menengadahkan kepalanya sejenak, menatap langit-langit restoran seolah sedang mencari kesabaran, lalu menghela napas panjang.Sejujurnya, dia merasa sangat malas untuk menceritakan identitas wanita yang merusak suasana paginya itu. Baginya, menyebut nama wanita itu hanya akan membuang energi secara cuma-cuma.“Namanya Lily,” jawab Brian akhirnya dengan nada yang datar.“Dia adalah teman satu angkatan saat aku kuliah dulu. Sejak masa itu, dia memiliki tendensi untuk terobsesi padaku secara berlebihan.“Aku pun tidak tahu pasti kapan tepatnya dia mulai bekerja di Hills Group. Sepertinya dia masuk saat departemen keuangan sedang melakukan rekrutmen besar-besaran di bawah pengawasan John.
Di pagi hari di gedung Hills Grup. Brian Kevin Hills sedang memfokuskan atensinya pada layar monitor ketika pintu ruangannya diketuk. Tanpa menunggu aba-aba yang jelas, seorang wanita muda masuk dengan langkah yang dibuat-buat anggun.Lily, salah satu staf dari departemen keuangan, melangkah mendekat dengan senyum manis yang sengaja ia sunggingkan serapi mungkin.Dia mengenakan blus yang sedikit lebih ketat dari standar etika kantor, berusaha menarik perhatian sang pemimpin baru.Brian menghentikan aktivitasnya, menyandarkan punggung, dan mengerutkan kening dengan tatapan yang menunjukkan ketidaksukaan yang nyata.Lily berhenti tepat di hadapan meja besar Brian, lalu meletakkan sebuah map kulit berisi dokumen keuangan yang diminta Brian kemarin.“Selamat pagi, Tuan Brian. Ini dokumen evaluasi yang Anda minta dari departemen kami,” ucapnya dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin.Brian tidak segera menyentuh dokumen itu. Ia menatap Lily dengan pandangan datar dan dingin, jenis t
Pukul dua belas malam, atmosfer di dalam apartemen mewah milik Brian seolah-olah terbakar oleh energi yang tidak kasatmata.Setelah melewati hari yang panjang dan penuh tekanan di Hills Group, serta makan malam yang penuh canda dengan sahabat mereka, kini hanya tersisa mereka berdua di dalam kamar yang didominasi oleh nuansa maskulin dan pencahayaan yang amat redup.Dinginnya pendingin ruangan sama sekali tidak mampu meredam panas yang memancar dari dua tubuh yang sedang saling memuja.Di atas ranjang dengan seprai sutra berwarna gelap, Jane dan Brian terjebak dalam tarian gairah yang membara.Tidak ada lagi sekat formalitas antara atasan dan bawahan, atau dendam masa lalu yang menghantui. Yang ada hanyalah eksplorasi hasrat yang menggebu-gebu.Keringat membasahi tubuh keduanya, berkilau di bawah cahaya temaram, menciptakan pemandangan yang eksotis dan menggairahkan.Brian, dengan otot-otot tubuhnya yang tegang karena intensitas, memimpin permainan dengan penuh dominasi namun sarat ak
Malam itu, suasana di restoran berkonsep fine dining yang menjadi langganan mereka terasa begitu tenang.Pencahayaan temaram menciptakan atmosfer yang intim, sangat kontras dengan hiruk-pikuk skandal keuangan yang baru saja Brian tangani di kantor.Brian duduk dengan santai, namun aura kepemimpinannya tetap melekat kuat, bahkan saat ia hanya mengenakan kemeja kasual dengan kerah terbuka.Jane menyesap sisa anggur di gelasnya, lalu menatap Brian dengan tatapan penuh selidik.“Kau tahu, Brian? Hari ini seluruh departemen dipenuhi oleh pembicaraan tentangmu. Sepertinya kau telah menjadi topik utama di setiap sudut kantor,” ujar Jane memulai percakapan.Brian hanya menaikkan alisnya sebelah, sebuah gestur minimalis yang menunjukkan ketertarikan tanpa harus bertanya lebih lanjut.Ia tetap tenang, menunggu Jane melanjutkan laporannya tentang dinamika sosial di Hills Group.“Hampir seluruh staf perempuan tidak berhenti mengagumi ketampananmu. Mereka terpesona dengan transformasi dan wibawamu
Pagi harinya, suasana di lantai eksekutif Hills Group tampak jauh lebih sibuk dari biasanya.Brian Kevin Hills telah berada di meja kerjanya sejak fajar menyingsing, untuk meninjau beberapa berkas awal sebelum memulai pertemuan penting dengan Departemen Keuangan.Pintu ruang kerja terbuka, dan Miles masuk bersama seorang pria berkacamata yang membawa tas koper berisi dokumen-dokumen rahasia.“Tuan Brian, ini adalah Tuan Juan, Manajer Keuangan senior yang telah menangani arus kas perusahaan selama sepuluh tahun terakhir.” Miles memperkenalkan dengan nada formal.Brian mempersilakan Juan untuk duduk. Tanpa basa-basi atau basa-basi protokol yang tidak perlu, Brian langsung menuju inti permasalahan. Tatapannya tajam, mengunci fokus pada pria di hadapannya.“Juan, saya ingin laporan yang sejujur-jujurnya tanpa ada angka yang dipoles. Bagaimana kondisi kesehatan keuangan Hills Group selama dua tahun terakhir di bawah kepemimpinan John?” tanya Brian dengan nada rendah yang menuntut kejujuran







