MasukIn a desperate bid to save her family from financial devastation and her mother's life-threatening illness, Emily Fields makes a Faustian pact with the enigmatic billionaire Richard Grey. He demands she sign a contract to become his wife and serve as his personal secretary, a proposition that leaves Emily with little choice but to comply. As she navigates the complexities of her new role and Richard's frosty demeanor, Emily finds herself drawn to his charming and handsome nephew, Alex Grey. Torn between duty and desire, Emily's life becomes a delicate balancing act. As her forbidden attraction to Alex intensifies, she must confront the risks of following her heart versus fulfilling her obligations. Will she risk everything for love, or will the contract bind her to a life of unfulfilled longing?
Lihat lebih banyak"PLAK! " Suara tamparan itu bergema di malam pernikahan Danisha dan Bian. Sebuah awal yang mengerikan untuk kisah cinta yang seharusnya penuh kebahagiaan.
"Brengsek!" teriak Bian. Wajahnya merah padam, amarah membara. "Kenapa baru sekarang kebusukanmu terbongkar, hah?" Sebuah fitnah keji menghancurkan pernikahan mereka. Danisha, yang baru saja mengucap janji suci pernikahan setelah tiga tahun berpacaran, kini dituduh telah berselingkuh. Foto-foto yang dilemparkan Bian menjadi bukti yang tak terbantahkan. Padahal mereka baru kembali dari hotel tempat acara, harusnya ini menjadi malam indah untuk mereka, dan menikmati malam pertama seperti pengantin pada umumnya. Tapi ini malah bertengkar. BRUK!!! Kali ini Bian mendorong Danisha sampai tubuh ramping itu menghantam meja kopi yang ada di pojok ruangan. Seketika Danisha terdiam, keningnya berdarah, gaun pengantinnya ternoda. Ia tak berdaya menghadapi tuduhan yang tak berdasar itu dari suami. "Coba kau lihat sendiri! Apa aku harus diam saja melihat istri yang baru kunikahi pernah tidur dengan pria lain, hah?" Antara syok, sakit, dan juga bingung, Danisha merangkak ke depan sepatu Bian, lalu memunguti satu per satu foto yang tadi dilempar oleh pria itu. "A-apa ini?" Saat dilihat, alangkah terkejutnya Danisha ketika melihat seorang wanita sedang berbaring di tempat tidur tanpa busana. Lalu si pria mengambil gambar dari atasnya. Beberapa adegan lain sangat tidak nyaman untuk dilihat. Danisha pun segera melempar foto-foto itu ke lantai, merasa ngeri dengan wajah wanita yang sangat mirip dengannya itu. "A-aku tidak tahu! Aku sungguh tidak tahu! A-ku tidak pernah berfoto seperti itu! Ak-aku ...." "Pembohong!" Belum sempat Danisha menjelaskan, Bian langsung menendang tubuh Danisha beberapa kali sampai wanita itu menjerit kesakitan. "Dasar kau wanita pembohong!" "Aaaa! Ampun! Ampun, Sayang! Aku tidak melakukan hal itu. Aku tidak melakukannya, sungguh ..." jerit Danisha penuh dengan ketakutan. Danisha pun mencoba menahan kaki panjang yang memakai sepatu kulit berwarna hitam yang terus menendangnya itu. Ia memeluk kaki Bian di lantai, lalu berbicara dengan pelan. "Sayang, dengarkan dulu! Itu ... foto itu, aku sungguh tidak tahu! Aku tidak pernah tidur dengan pria lain. Aku selalu menjaga kesucianku hanya untukmu. Percayalah!" Danisha pun mendongak, menatap suami dengan wajah yang nampak kotor karena darah terus mengalir dari kening. Berharap Bian mengerti dan mau mendengarkan penjelasannya. "Halah! Wanita murahan! Tadi kakakmu bilang di telepon, kalau ini bukanlah hal yang aneh. Bahkan kau pernah aborsi saat SMA. Sekarang, Ayah, ibu, dan kakakmu sudah tidak peduli lagi terhadapmu. Mereka malu punya anak murahan sepertimu!" balas Bian sambil menghempaskan tangan Danisha dari kakinya. Detik berikutnya, ia menginjak jari kecil di lantak dengan sepatu kulit. Seketika jeritan memenuhi seisi kamar yang sudah berantakan. Semua anggota keluarga Bian yang masih berkumpul di lantai satu pun mendengar jeritan itu. Mereka segera naik ke atas dan menggedor pintu kamar Bian. Kalau sudah marah, Bian selalu hilang kendali. Ia selalu membabi buta tanpa memikirkan siapa yang sedang dia sakiti. "Bian! Apa yang terjadi? Kenapa istrimu menjerit-jerit seperti itu?" teriak Maria sambil menggedor pintu. "Keluarlah! Biar kita bicara di ruang keluarga!" sambung pamannya dari balik pintu kamar. Semua anggota keluarga sudah tahu kalau Bian sedang marah pada istrinya. Bian mengadu terlebih dulu pada keluarga sebelum akhirnya dia naik ke lantai dua dan melampiaskan amarahnya pada Danisha. *** Di ruang keluarga yang nampak ramai karena masih ada saudara-saudaranya yang jauh datang untuk menghadiri pernikahan Bian—sedangkan ayah Bian sudah meninggal beberapa tahun yang lalu—Danisha dibawa ke ruangan itu dan dilihat oleh semua orang. "Duduk!" ucap Bian sambil melepaskan tangan Danisha dengan kasar. Belum sempat bokongnya menyentuh sofa, tiba-tiba asbak kaca melayang ke arah Danisha dan menghantam dahi yang sebelumnya sudah terluka. Brak! "Ah!" Seketika pecahan kaca berserakan di lantai. Danisha pun terdiam, terkejut dengan serangan yang tiba-tiba dilakukan oleh ibu mertuanya. Sedangkan dirinya tidak sempat untuk menghindar. "Bagus kau, ya, lonte gila! Kau merasa dirimu cantik, tidur dengan pria lain, lalu menikah dengan putra tunggalku! Sampai dunia ini hancur pun, aku tidak akan memaafkanmu!" maki Maria dengan napas yang terengah karena marah. "Bu!" Danisha memberanikan diri berbicara sambil menahan sakit di kepalanya. "Apa Ibu pernah memeriksa kebenaran foto itu? Apa Ibu yakin, semua itu asli? Apa Ibu sudah siap menerima konsekuensi jika foto-foto itu tidak benar?" Ia tidak tahu lagi harus bagaimana membela diri di depan semua orang. Fitnah keji itu telah membuat keningnya terluka dua kali. Dan sekarang, keningnya sangat sakit, rasanya kepalanya akan pecah. "Kau berbicara konsekuensi denganku? Yang ada, kau yang harus menerima konsekuensi atas apa yang kau lakukan, Danish!" jawab Maria sambil bangkit berdiri. Maria ingin menjambak rambut menantunya dan membenturkannya ke tembok agar otaknya menjadi encer dan dia mengakui kesalahannya. Namun rencananya langsung dicegah oleh Baron—adik Maria—yang bekerja di kantor sebagai wakil Maria. "Ckckck, Bian! Kau memacari wanita murahan ini selama 3 tahun. Tapi di belakangmu dia malah tidur dengan pria lain! Mau ditaruh di mana muka keluarga kita kalau berita ini sampai tersebar ke luar?" cibir Baron dengan senyum sinis sambil memperhatikan tubuh indah Danisha yang dibalut dengan gaun pengantin seksi yang terbuka di bagian atas. "Ya, benar! Kau salat dari mana wanita murahan seperti itu!" timpal keluarga yang lain. "Dasar wanita murahan! Kurung dia di kamar! Suruh dia mengakui perbuatannya! Bila perlu, ceraikan dia sekarang juga! Aku tidak sudi putra tunggalku menikahi wanita murahan sepertimu," teriak Maria sambil berkacak pinggang. Danisha tak berdaya. Ia sudah tidak ada kekuatan untuk membela diri. Semua orang menyerangnya, semua orang menyudutkannya. Mau berkata jujur pun, itu tidak ada gunanya lagi. Sekarang, ia hanya bisa pasrah menerima nasib. Padahal dulu, Danisha dan Bian saling mencintai, menikah pun memang karena cinta. Tapi sekarang, Bian menyeretnya, membawa Danisha ke kamar belakang tanpa perasaan. "Renungkan semua yang telah kau perbuat! Aku tidak akan membuka pintu sampai kau mengaku dan meminta maaf!" "Ah, ya, satu lagi!" Bian menambahkan, "Setelah apa yang kau lakukan terhadapku, aku tidak mungkin menjadikanmu sebagai seorang istri! Kita bercerai! Dengar itu baik-baik!" Setelah itu dia pergi.Forty-eight hours didn’t feel like time.It felt like compression.Every hour carried weight. Every conversation mattered. Every decision narrowed the outcome until there was no space left for adjustment only confirmation.By the morning of the vote, Bailey Corporation no longer felt like a company in transition. It felt like a structure under inspection. Every line, every alignment, every relationship tested, measured, observed.Amelia stood in the war room before sunrise, watching the final projections settle into place. They weren’t fluctuating anymore. That was the first sign.Not stability.Finality.Julian entered quietly, his presence more grounded than it had been in days. Not relaxed, not relieved anchored. The kind of stillness that came when movement no longer changed anything.“It’s locked,” he said.Amelia didn’t turn immediately. Her eyes stayed on the screen, tracing the lines one last time. “Yes.”Victoria joined them moments later, tablet in hand, scanning through the
The quiet didn’t return after the exposure.It sharpened.That was the first thing Amelia noticed the following morning. Not calm, not stability precision. Every movement inside Bailey Corporation felt narrower, more intentional, as if the entire structure had adjusted to a tighter frame. Conversations were shorter. Decisions were quicker. Even hesitation, when it appeared, was contained.The exposure had done what it needed to do.It hadn’t erased the doubt.But it had redirected it.Now the question wasn’t whether the structure could hold it was whether anyone could break it.And that changed everything.Amelia stepped into the war room just after sunrise. The city outside was still waking, but inside, the day had already begun. Screens glowed with overnight analysis, global reactions, investor sentiment mapping across time zones.Victoria stood near the center console, scanning through layered reports. Julian was at the far end of the room, reviewing projections that hadn’t changed
The leak didn’t fade.That was the first problem.Amelia knew it before the data confirmed it, before Victoria’s updates began layering across the screens, before Julian said a word. She could feel it in the rhythm of the building that morning the subtle shift in how conversations paused, the way people lingered just a fraction longer before speaking, the way eye contact held just a little too tightly.The narrative hadn’t been contained.It had settled.Not as a conclusion.But as a question.And questions were harder to control than accusations.When Amelia stepped into the war room, the screens were already filled with analysis. Not the fast-moving, reactive kind from the previous days, but something slower. More deliberate. Commentary pieces. Expert opinions. Long-form breakdowns dissecting the leaked communications.“They’re not pushing it anymore,” she said quietly.Victoria glanced up from her tablet. “No.”Julian stood near the main display, his posture unchanged, but his focu
The move didn’t come with warning. It didn’t build slowly or announce itself through quiet signals the way most of Argentum’s strategies did. It arrived fully formed, deliberate, and visible meant to be seen, meant to be interpreted, and most importantly, meant to disrupt.Amelia felt it before she understood it.The war room was steady when she walked in that morning. Not calm, not relaxed, but balanced. The counterweight they had created the day before was still holding. The projections reflected it edges reinforced, the middle stabilizing just enough to prevent drift. It wasn’t victory, but it was control. Temporary, fragile, but real.Julian stood near the center screen, reviewing updated projections. Victoria was already running through early reports, her voice low, measured, consistent with the rhythm they had established. Nothing had broken overnight. No sudden losses. No dramatic shifts.That alone should have been reassuring.But it wasn’t.“Something’s off,” Amelia said quie
Morning came without relief.Emily woke in the small apartment to the hum of traffic and distant sirens sounds of a world untouched by contracts and curated silence. For the first time in months, she dressed herself without considering how her choices would be perceived.That freedom felt fragile.
The silence after Emily’s words felt heavier than any argument.I’ve chosen myself.Richard did not move at first. He stood by the edge of the riverbank, the city lights outlining his sharp profile, his expression unreadable. For a man who controlled boardrooms and billion-dollar negotiations, sile
The next few days passed in rigid quiet.Richard did not raise his voice. He did not issue new threats. Instead, he tightened the structure around Emily’s life with clinical precision. Her schedule was revised. Invitations were declined on her behalf. Even her access to certain rooms in the house s
Emily did not sleep that night.The gala replayed itself behind her closed eyes like a film she could not turn off the glittering lights, the polite smiles, Richard’s hand tightening around her waist, Alex’s voice low and urgent on the balcony.Someone already is.The words followed her into the ea












Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.