Share

Bab 5

Author: Muriaz
Saat aku tiba, air sudah mencapai setinggi betis.

Selama dua jam, aku sendirian berendam di dalam air kotor yang dingin.

Aku mengangkat satu per satu kotak berisi album foto lama dan buku harian ke lantai atas.

Saat keluar, seluruh tubuhku sudah penuh lumpur dan air kotor. Tubuhku menggigil karena kedinginan.

Ketika mobil melaju di sebuah jalan samping, tiba-tiba mesinnya mati.

Genangan air terlalu dalam hingga air masuk ke knalpot.

Di sekitar sana tidak ada lampu jalan. Yang terdengar hanya suara hujan deras yang menghantam atap mobil.

Aku mengambil ponsel.

Baterainya hanya tersisa lima belas persen.

Aku menelepon Leonard.

Selama tujuh tahun terakhir, itulah reaksi paling naluriah yang selalu kulakukan setiap kali menghadapi masalah.

Telepon berdering cukup lama sebelum akhirnya diangkat.

"Halo, Yona."

Suara Leonard terdengar kacau. Dari seberang telepon terdengar samar suara orang-orang yang sedang bertengkar dan seseorang yang menangis.

"Leonard, mobilku mogok di Jalan Lingkar Selatan."

Tanganku yang menggenggam setir sudah kaku karena kedinginan.

"Hujannya deras banget dan di sini nggak ada taksi. Bisa nggak kamu jemput aku?"

Di seberang telepon terdengar keheningan sesaat.

Tak lama kemudian, tangisan histeris Kania terdengar.

"Aku nggak mau hidup lagi! Aku sama sekali nggak sanggup ganti kerugian sebesar ini. Biarin saja aku mati!"

Nada suara Leonard langsung berubah tegas dan panik.

"Turun sekarang! Kenapa kamu berdiri dekat jendela?"

Setelah itu, dia buru-buru berkata kepadaku, "Yona, proyek yang ditangani Kania ada masalah besar sampai perusahaan ngalamin kerugian besar. Sekarang emosinya sangat nggak stabil. Dia sedang di atap gedung dan ngancam akan bunuh diri."

"Aku nggak bisa pergi."

Dia terdiam sejenak.

"Panggil mobil derek saja, atau pulang naik taksi. Semua biayanya nanti aku ganti."

"Sudah dulu ya, aku tutup teleponnya."

Tut ... tut ... tut ….

Sambungan telepon terputus.

Aku menatap layar ponsel yang sudah gelap.

Tiba-tiba aku merasa suhu di dalam mobil bahkan lebih dingin daripada air kotor di luar.

Aku tidak meneleponnya lagi.

Aku juga tidak memanggil mobil derek.

Aku membuka pintu mobil dan melangkah keluar di tengah hujan deras.

Dalam sekejap, seluruh tubuhku basah kuyup.

Sendirian, aku berjalan menyusuri genangan air setinggi mata kaki, melangkah perlahan menuju tempat yang masih ada cahaya.

Setelah berjalan sekitar tiga kilometer, akhirnya aku menemukan taksi di depan sebuah minimarket.

Sudah pukul sepuluh malam saat aku tiba kembali di rumah.

Seluruh rumah gelap gulita.

Tanpa menyalakan lampu, aku langsung masuk ke kamar tidur, membuka lemari pakaian, dan mengeluarkan sebuah koper.

Aku hanya bawa beberapa pakaian yang sering kupakai dan beberapa barang kebutuhan.

Perhiasan dan tas yang dibelikan Leonard sama sekali tidak kusentuh.

Semuanya tetap tersusun rapi di tempat semula.

Setelah selesai berkemas, aku pergi ke ruang kerja.

Aku menyalakan komputer dan mencetak sebuah dokumen.

Selanjutnya, aku duduk di depan meja kerja, mengambil pena, dan membubuhkan tanda tanganku di halaman terakhir.

Yona Tanadi.

Tulisanku tetap rapi, tanpa sedikit pun goresan yang bergetar.

Aku meletakkan dokumen itu di atas meja ruang tamu, di tempat yang paling mudah terlihat.

Di sampingnya, kutaruh anak kunci cadangan yang pernah diberikan Leonard.

Setelah semuanya selesai, aku menarik koperku dan meninggalkan rumah yang sudah kutinggali selama tujuh tahun itu.

Begitu pintu tertutup, hatiku benar-benar kosong.

Dini hari keesokan harinya.

Leonard membuka pintu rumah dengan tubuh yang kelelahan.

Dia baru saja berhasil menenangkan Kania dan mengantarnya kembali ke tempat kos.

"Yona, aku pulang."

Dia berseru sambil melepas sepatu.

Namun, tidak ada seorang pun yang menjawab.

Dia mengernyit, lalu menyalakan lampu ruang tamu.

Dalam sekali pandang, dia langsung melihat dokumen yang tergeletak di atas meja.

Dia berjalan mendekat dan mengambil beberapa lembar kertas itu.

Baru melihatnya sekilas, napasnya langsung tertahan.

Dia menatap tajam surat perjanjian cerai tersebut.

Pandangannya berhenti pada tanda tangan hitam di pojok kanan bawah.

Rasa panik tiba-tiba muncul dari dalam hatinya.

Tepat pada saat itu, angka di atas kepalanya yang sebelumnya sudah turun di bawah seratus hari tiba-tiba berkedip aneh.

[89 hari 12 jam 05 menit.]

Berubah menjadi [125 hari 7 jam 30 menit.]

Untuk pertama kalinya, hitungan mundur itu bertambah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Countdown Cinta   Bab 12

    Anehnya, melihatnya seperti itu sama sekali tidak membuatku merasa puas.Yang ada hanya rasa lelah yang begitu dalam."Leonard, jangan bikin keributan lagi."Perlahan, aku melepaskan jari-jarinya dari pergelangan tanganku satu per satu."Sudahlah. Jangan bikin dirimu makin menyedihkan."Aku berbalik dan berjalan menuju pintu kamar rawat."Kalau besok kamu nggak datang ...."Aku berhenti melangkah tanpa menoleh ke belakang."Seumur hidup, kamu nggak akan pernah ketemu aku lagi."Keesokan paginya, cuaca akhirnya kembali cerah.Musim hujan di kota ini seolah berakhir pada hari itu.Sinar matahari menembus celah awan dan menyinari tangga di depan Kantor Catatan Sipil.Pukul delapan lewat lima puluh pagi.Aku berdiri di bawah tangga sambil melihat sebuah mobil hitam berhenti di pinggir jalan.Leonard turun dari mobil.Tubuhnya terlihat jauh lebih kurus hingga wajahnya tampak berubah.Tulang pipinya makin menonjol. Setelan jas yang dulu pas di tubuhnya kini terlihat sedikit kebesaran.Dia me

  • Countdown Cinta   Bab 11

    "Lagi-lagi kamu merasa semua yang kamu lakuin itu begitu berarti."Aku melihat wajahnya yang seketika memucat dan kehilangan harapan."Pulanglah.""Kamu mau ngelakuin apa pun, aku nggak akan pernah kembali."Kemudian, aku berbalik dan berjalan menuju lorong apartemen."Brak."Pintu unit kututup rapat.Memisahkan hujan dan angin di luar, sekaligus memutus pandangan penuh keputusasaan Leonard.Malam itu, Leonard berdiri di bawah gedung sepanjang malam.Keesokan paginya, dia dibawa pergi dengan ambulans.Demam tinggi Leonard berkembang menjadi pneumonia akut.Dia tidak sadarkan diri di rumah sakit selama satu hari satu malam.Miko Herdian, sahabat terbaiknya, meneleponku.Begitu panggilan tersambung, dia langsung memarahiku habis-habisan."Yona, apa kamu benar-benar nggak punya hati?""Dia sampai mempertaruhkan nyawanya demi kamu, tapi kamu bahkan nggak mau datang jenguk dia ke rumah sakit?""Waktu sedang demam tinggi pun dia manggil nama kamu terus. Apa kamu baru puas kalau dia sudah ben

  • Countdown Cinta   Bab 10

    Dia memiringkan payungnya ke arahku, membuat sebagian besar tubuhnya sendiri terkena hujan."Yona, jangan marah. Aku nggak nyuruh dia datang.""Mulai sekarang, dia nggak akan pernah muncul lagi."Dia menatapku dengan harapan yang penuh kehati-hatian di matanya."Malam ini ... mau makan malam bersama?"Aku menatapnya.Menatap bahunya yang basah karena hujan."Leonard," kataku pelan."Caramu mendorongnya tadi benar-benar kelihatan buruk."Tubuh Leonard langsung menegang.Jari-jarinya yang menggenggam gagang payung mengeras hingga memutih."Yona ...."Suaranya bergetar, dipenuhi rasa takut yang sulit disembunyikan."Aku sedang ngelindungin kamu.""Melindungi aku?"Aku tertawa kecil, lalu melangkah keluar dari bayangan payungnya."Kamu bukan sedang melindungiku. Kamu hanya sedang nutupin kebodohanmu sendiri.""Kamu yang buat dia mendekat, ngasih harapan yang nggak seharusnya ada, lalu sekarang kamu hancurin dia hanya untuk buktiin kesetiaanmu padaku.""Leonard, kekejamanmu terhadap dia dan

  • Countdown Cinta   Bab 9

    Aku tidak memakannya.Semua makanan itu kubuang ke tempat sampah di bawah gedung.Melihatku membuang kotak makanan yang begitu rapi dan mahal tanpa ragu, Monik sampai tak tahan untuk menggeleng kagum."Ck ck, ternyata adegan ngejar istri demi nebus kesalahan benar-benar dia nikmati."Aku menepuk kedua tanganku."Cinta yang datang terlambat sudah nggak ada artinya."Awalnya aku pikir dia tidak akan bertahan lebih dari beberapa hari sebelum akhirnya menyerah.Bagaimanapun, sejak kecil dia hidup dalam kemewahan dan selalu dimanja. Jauh di dalam dirinya, dia adalah orang yang sangat angkuh.Akan tetapi, Leonard tidak menyerah.Dia bahkan mulai diam-diam mengikuti mobilku saat aku pulang kerja.Menjaga jarak, tidak terlalu dekat tetapi juga tidak terlalu jauh.Tidak menggangguku, tetapi juga tidak pergi.Seperti hantu keras kepala yang terus membuntuti.Hari ke-20 masa tunggu perceraian.Kota ini kembali diguyur hujan.Saat aku baru keluar dari lobi lantai satu sepulang kerja, aku melihat s

  • Countdown Cinta   Bab 8

    "Lambungmu nggak kuat. Jangan minum yang dingin."Dia berusaha membangkitkan ingatanku lewat perhatian-perhatian kecil seperti itu.Namun, aku tidak menyentuh segelas susu di depanku itu."Bicara saja."Leonard menatap wajahku yang dingin.Kedua tangannya mengepal erat di bawah meja."Kania ... sudah aku pecat."Dia menarik napas dalam-dalam, seolah keputusan itu membutuhkan keberanian besar."Kerugian yang ditimbulkannya juga nggak aku bebanin sepenuhnya ke dia. Aku hanya minta dia ninggalin perusahaan."Dia menatapku, seakan menunggu pujian dariku."Sekarang, sudah nggak ada lagi penghalang di antara kita.""Pulang ya, sama aku?"Aku menatapnya.Lalu menatap angka di atas kepalanya yang melonjak drastis menjadi [412 hari] setelah dia memecat Kania.Namun, yang kurasakan hanya betapa menggelikannya semua ini."Leonard, apa kamu benar-benar berpikir kalau nggak ada Kania, kita bisa kembali kayak dulu?"Leonard tertegun."Bukankah memang gitu? Bukannya kamu bertengkar denganku karena d

  • Countdown Cinta   Bab 7

    Namun, semuanya sudah terlambat."Lepaskan."Aku menatapnya dengan dingin.Jari-jari Leonard seketika membeku.Dia belum pernah melihat tatapan sedingin itu dariku."Yona ...."Tiba-tiba, suara ceria terdengar dari samping."Pak Leonard?"Aku menoleh.Kania berdiri tidak jauh dari kami sambil membawa dua gelas kopi. Wajahnya tampak sangat terkeut.Pandangannya bergantian melihat Leonard dan aku."Kak, ada apa?"Dia segera menghampiri dengan ekspresi polos sekaligus khawatir."Apa Kakak marah sama Pak Leonard karena kejadian kemarin yang melibatkan saya?""Kalau memang ada yang salah, semuanya salah saya. Pak Leonard benar-benar orang baik, jadi jangan salahin beliau, ya."Dia menyerahkan salah satu gelas kopi kepada Leonard."Pak Leonard, semalam Bapak nggak tidur sama sekali. Minum kopi dulu supaya lebih segar."Leonard menatap gelas kopi itu, lalu menatapku.Tanpa sadar, dia melepaskan genggaman di pergelangan tanganku."Kania, kenapa kamu ada di sini?"Kania tersenyum tenang."Saya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status