Share

Bab 3

Author: El Hawra
last update publish date: 2026-03-24 11:14:52

Clara terdiam sesaat, ia menjadi bingung dengan sikap Zevko. Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan pria ini. Bukankah seharusnya dia senang jika project ini sukses. Tapi mengapa dia bilang tidak peduli dengan project?

"Lalu bagaimana dengan rapat nanti siang? Tidak mungkin untuk dibatalkan karena waktunya sudah mepet. Semua sudah bersiap."

"Kamu tahu apa yang harus kamu katakan nanti. Tanpa tanda tanganku, laporan itu tidak sah."

"Baiklah, aku pemisi."

Clara segera meninggalkan ruangan Zevko dengan kesal. Ia sudah susah payah menyusun laporan itu dan berkali-kali mengeceknya, tapi dengan seenaknya dibilang sampah.

Clara duduk termangu, kekesalan masih melintasi wajahnya. Teman-temannya segera menghampiri.

"Clara, bagaimana?" tanya Emma yang sudah berdiri di sampingnya.

"Kenapa, Clara. Wajah kamu kusut banget, apa kamu dimarahi pak Zevko?" Melly menimpali sambil menyodorkan minuman kaleng.

"Makasih Mel,"  jawab Clara sambil membuka kaleng dan menenggak isinya. Ia menatap kedua temannya dengan lesu. "Laporannya ditolak."

"Hah? Terus?"

"Mau tidak mau harus dilakukan survey ulang."

"Survey ulang?!" Melly dan Emma berseru dengan kompak. Keduanya menjadi skeptis, karena jika dilakukan survey ulang itu berarti melibatkan mereka juga.

"Terus kapan survey ulangnya, Cla?"

"Kemungkinan lusa. Tapi untuk jelasnya akan dibicarakan dalam rapat nanti."

"Jujur, aku males banget balik ke sana lagi. Meski baru di pinggiran hutan, tapi sudah bikin merinding." Emma duduk dengan lesu.

"Iya, aku juga. Kalau pemandangan sih sangat indah, tapi aura di sana sedikit horor. Bagaimana kalau tiba-tiba ada manusia serigala muncul, terus ada pamvire. Iiih, serem."

"Huh, dasar kau, Mel. Kebanyakan nonton film horror sih."

Clara menggeleng-gelengkan kepala melihat kedua temannya yang sedang berdebat kecil. Dalam hati, ia membenarkan apa yang mereka takutkan. Ingin sekali dia menceritakan kepada mereka pengalaman buruknya di tengah hutan itu. Namun Clara harus membungkam mulutnya. Ia ingat ancaman Zevko yang sepertinya tidak ingin ada seorang pun yang tahu, Seolah ada rahasia di hutan itu yang ia tutupi. Dan Clara berekad untuk mencari tahu.

Beberapa menit kemudian Clara masuk ke ruang meeting. Dia harus memberikan laporan dan analisa mengenai survey yang dia lakukan kemarin.

Clara berdiri untuk melakukan presentasi, Zev duduk dengan tenang diantara para staf lainnya.

Di awal Clara dapat membeberkan analisanya dengan baik, namun dia terdiam manakala menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.

"Bagaimana ini Clara? Laporan Anda tidak lengkap. Terutama mengenai area barat."

Clara terdiam sesaat, ia melirik Zevko sekilas sebelum memberikan jawaban. "Maaf pak, kemarin kabut turun cukup tebal di area itu, sehingga saya tidak bisa melakukan pengamatan lebih seksama."

Manager itu terdiam, dia beralih menatap Zevko. "Bagaimana ini, Pak Volkov?"

"Survey ulang," jawab Zevko tanpa ragu. "Saya sendiri yang akan turun untuk memastikan."

"Baiklah. Di area itu akan di bangun sarana rekreasi, karena di sana ada aliran sungai dan jeram yang bagus. Tolong koordinasikan semua tim agar bekerja maksimal."

Clara melihat pada Zevko, ada yang ingin dia tanyakan, namun pria itu mengacuhkannya. Dia hanya sibuk dengan catatan-catan di mejanya. 

Seusai meeting Clara segera menuju cafe yang ada di area kantor. Ia segera memesan kopi untuk menghilangkan kepenatannya. Pikirannya campur aduk, seolah banyak benang-benang kusut yang harus diurai.

"Hai, Clara. Sendirian aja. Boleh aku temani?" 

Seorang pria menyapa Clara, tanpa menunggu jawaban Clara ia sudah duduk di depannya. Dia adalah John, karyawan dari perusahaan yang sama namun dari divisi yang berbeda.

Sudah menjadi rahasia umum jika John naksir Clara. Dia sering membantu Clara dan selalu berusaha memberikan perhatian. Namun Clara bersikap wajar, dia hanya menanggapi seperlunya.

"Kamu sepertinya sangat letih, wajahmu pucat. Apa kamu sakit?"

"Tidak, aku baik-baik saja."

"Hmm, Clara, Bagaimana kalau nanti aku antar kamu pulang. Kamu terlihat kurang sehat, bahaya kalau harus nyetir mobil sendiri."

Belum sempat Clara menjawab tawaran John, tiba-tiba terdengar suara dingin yang mengejutkan mereka berdua. "Tidak perlu! Clara harus lembur malam ini."

Clara dan John tersentak, keduanya segera menoleh ke sumber suara. Zevko telah berdiri di depan meja mereka. Wajahnya dingin dan angkuh.

"Tapi Clara sepertinya tidak sehat, Pak. Lihat wajahnya pucat."

Alih-alih menanggapi ucapan John, Zev menatap Clara dengan tajam. "Clara, ke ruangan saya sekarang."

Usai berkata, Zevko segera berbalik meninggalkan meja Clara. Clara menatap John sekilas, lalu bangun dan menyusul Zevko.

Zevko sedang sibuk di depan layar laptopnya ketika Clara masuk. Dan lagi, Clara mencium aroma hutan pinus dan tanah basah yang menyegarkan setiap kali dia masuk ke ruangan Zevko. Padahal menurut teman-teman Clara, ruangan Zevko biasa saja, sama seperti ruangan lainnya.

Zevko mengambil map dan menyodorkannya di meja. "Kerjakan ini, jangan pulang sebelum selesai."

Clara terdiam, namun bathinnya merutuk. 'Sialan kau, Zev. Kamu sepertinya sengaja menekanku.'

Clara segera mengambil map di atas meja, is memeriksanya dengan teliti hingga tidak menyadari jika Zevko sudah berdiri di dekatnya. Jarak mereka sangat dekat, membuat Clara terkesiap setelah menyadari hembusan napas hangat di keningnya.

Clara segera menutup map dan mendekapnya di dada. Ia mundur selangkah, namun terhimpit dinding. Zevko mengurungnya dengan kedua lengan kekarnya. Ia tidak berkata, hanya diam seolah sedang meneliti wajah Clara.

"Kamu pucat. Apa kamu takut? Kalau tidak sanggup menangani project ini, lebih baik ajukan pengunduran diri segera. Aku tidak sudi ada orang lemah di timku."

Terdengar suara Zevko pelan, namun cukup jelas di telinga Clara. Kata-kata itu tajam dan menusuk.

"Siapa bilang aku tidak sanggup," jawab Clara sambil mendongakan wajah, Ia menatap langsung pada pria yang sedang mencoba mengintimidasinya.

Untuk sesaat keduanya terdiam, tatapan mereka saling mengunci, jarak mereka sangat dekat hingga napas keduanya saling bergumul.

"Bagus. Kalau begitu bersiaplah. Besok kita akan kembali ke sana untuk survey ulang."

"Apa? Besok?"

"Kenapa? Takut?"

"Bukannya tadi kamu bilang lusa?"

"Lebih cepat lebih baik. Aku harus mempertanggung jawabkan langsung ke dewan direksi, Jadi, survey ulang dipercepat. Aku sudah mengatur segalanya."

"Tapi teman-teman dan tim belum siap kalau mendadak gini."

Tiba-tiba mata Zevko berkilat yang mebuat Clara merinding, seolah ada kemarahan di sana.

"Siapa yang menyuruhmu membawa tim?"

"Lalu?"

"Hanya kita berdua."

"B-berdua?"

"Ya, Clara. Hanya kamu dan aku."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Elum
bagus, bau2 nya benci jd cinta ini sih wkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Coworkerku Alpha   Bab 52

    Clara terdiam, ia mengusap wajah lelaki yang ada di atasnya itu dengan lembut. "Paman menunggu kita, Zev." Zevko menghela napas sambil memejamkan mata, berusaha menenangkan dirinya. "Nanti setelah makan malam dan berbincang-bincang dengan paman baru kita lanjutkan, supaya nggak tergesa-gesa dan lebih leluasa."Zevko membuka mata, bertemu dengan mata Clara yang mengerjap indah. Seketika ia merasa tenang dan nyaman. Ia segera menyambar bibir sang mate, melumatnya dengan lahap."Baiklah sayang. Sekarang kenakan pakaianmu. Kita akan segera turun menemui pamanmu."Zevko segera turun dari ranjang, ia menuju lemari yang ada di sudut kamar. "Kemarilah, sayang."Clara pun turun dari ranjang, lalu mendekat ke lemari. Ia tertegun melihat pakaian di dalam lemari itu. Ada beberapa potong pakaian yang modelnya berbeda dengan yang biasa ia pakai. Ada juga pakaian untuk Zevko."Zev, ini pakaian siapa?" tanya Clara bingung. "Pakaian kamu lah, sayang. Pakaian untuk aku yang di sebelah sini. Pamanmu s

  • Coworkerku Alpha   Bab 51

    Clara memanggil sang paman dengan lirih, penuh kebimbangan. Gideon mendekat selangkah memberikan tatapan hangat pada keponakannya itu."Iya, Cla. Ada yang ingin kamu katakan? Paman di sini untuk mendengarkan.""Apa yang harus aku lakukan, paman?"Gideon menghela napas pelan. Tangannya terulur, mengusap rambut Clara dengan lembut. "Ikuti kata hatimu, Nak."Clara kembali menoleh ke luar jendela. Dia menggigit bibirnya sendiri, merasakan sakit melihat Zevko seperti itu. Namun dia bingung dan takut. Semua bercampur menjadi satu."Paman, barusan aku bermimpi bertemu ayah dan ibu." Gideon sedikit tersentak, namun dia tetap tenang dan diam mendengarkan Clara menceritakan semua mimpinya barusan."Cla. Itu bukan sekedar mimpi. Itu adalah petunjuk dan pengingat dari ayah dan ibumu.""Tapi paman. Aku takut…" ucap Clara lirih."Takut? Takut kenapa, sayang?""Aku takut, paman. Aku takut apa yang terjadi pada ayah dan ibu, terulang padaku dan Zev. Aku takut musuh-musuh kita menghancurkan pack Volk

  • Coworkerku Alpha   Bab 50

    "Ja-jangan. Jangan ganggu aku," rintih Clara sambil terus melangkah mundur. Napasnya memburu, terkunci oleh tatapan mata kuning keemasan dari serigala hitam raksasa di depannya. Bulu hitam makhluk itu tampak berkilat magis di tengah lembah yang dipenuhi bunga ungu purple saxifrage yang tumbuh di antara bebatuan es. Dinginnya cuaca ekstrem Utara sama sekali tidak menghalangi perkembangan bunga-bunga itu untuk tetap mekar dengan indah.Namun, alih-alih menyerang, serigala hitam yang sangat besar dan agung itu justru menundukkan kepalanya yang perkasa ke atas tanah—sebuah gestur tunduk dan hormat yang mutlak di hadapan Clara. Perlahan, tubuh raksasa itu diselimuti pendaran cahaya kelabu yang pekat. Tulang-tulangnya terdengar berderak, wujud berbulu itu menyusut dan bertransformasi menjadi sosok pria jangkung berwibawa dengan pakaian khas panglima Utara. Di sampingnya, mendadak muncul seorang wanita anggun berambut hitam pekat dengan gaun sutra ungu yang melambai lembut ditiup angin sedin

  • Coworkerku Alpha   Bab 49

    Seketika ruangan itu berubah mencekam. Zevko dan Gideon saling berpandangan namun tak ada kata-kata yang bisa diucapkan. Sedangkan Clara terus melangkah menapaki anak tangga, tanpa keraguan. Tiba-tiba Zevko melompat lalu berlutut di bawah anak tangga. "Tunggu, Clara. Aku mohon maafkan aku. Aku bersumpah tak akan pernah membohongi atau menyakitimu lagi."Langkah Clara terhenti. Dia diam mematung, menyisakan ketegangan sesaat. "Aku, bukan Clara yang bodoh itu, yang bisa dengan mudah dibohongi. Aku adalah Clavira, Clavira Lodur Hallow."Clara berkata tanpa menoleh. Ucapannya tegas dan dingin. Sangat berbeda dengan Clara yang selama ini dikenal oleh Zevko. Aura tegas seorang alpha, dan misterius seorang penyihir terpancar kuat dari suara Clara. "Baiklah Clavira Lodur Hallow. Tolong katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kamu mau memaafkanku."Zevko nampak putus asa, dia tidak tahu lagi bagaimana caranya membujuk mate-nya yang sedang marah itu. Ia sudah merendahkan dirinya denga

  • Coworkerku Alpha   Bab 48

    Zevko menghela napas panjang. Kali ini dia tidak bisa berkelit lagi. Zevko hanya bisa mengangguk pelan. "Benar, Cla. Aku adalah Alpha yang memimpin Pack Volkov di wilayah barat ini. Sedangkan ayahmu adalah seorang Alpha dari Pack Lodur di utara."Clara terdiam, ia menoleh pada Gedion. "Benarkah itu, Paman?"Gideon mengangguk. "Benar, Cla. Alpha adalah sebutan untuk pemimpin pack manusia serigala. Ayahmu memimpin pack Lodur di wilayah utara. Sedangkan Alpha Zevko memimpin pack di wilayah barat ini. Tapi tugas mereka sama."Clara kembali menoleh pada Zevko. Wajahnya terlihat penuh kekecewaan. "Mengapa kamu tega membohongiku, Zev?" Suara Clara terdengar dingin, begitupun wajahnya. Tidak ada lagi senyuman manis di sana. "Kamu membiarkan aku terlihat seperti orang bodoh, yang mempercayai ucapanmu bahwa Alpha adalah panggilan sayang dari keluargamu.""Maafkan aku, Cla. Aku terpaksa melakukan itu sambil menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya. Karena aku sendiri bingung bagaimana menjel

  • Coworkerku Alpha   Bab 47

    Tubuh Vesvera ambruk. Darah hitam keluar dari mulut, hidung dan pori-pori kulitnya. Gideon segera mengangkat kakaknya, mendudukkannya bersender pada dinding gua, lalu membantu menyalurkan energi nya. Setelah tubuh Ve stabil, ia segera membaringkannya. Vesvera benar-benar kehilangan seluruh tenaganya demi merajut sihir segel di tubuh putrinya. Tidak lama berselang Vesvera membuka matanya. Gideon membantu kakaknya meminum ramuan yang ia buat. "Bagaimana segel yang aku buat, Gid?" tanya Vesvera, karena dia belum sempat melihat hasil akhirnya, keburu ambruk. "Kamu berhasil, Ve. Tanda itu sudah aktif mengurung energy Moon Goddes." Gideon menggendong Clara kecil lalu menyerahkannya pada Vesvera. Vesvera memeperhatikan tanda berbentuk kelopak bunga purple saxifie yang melingkari tanda bulan sabit di leher putrinya. "Maafkan ibu, sayang. Semua demi keamananmu. Mulai sekarang tidak akan ada yang mengenali energimu ini." "Lalu apa rencanamu selanjutnya, Ve?" "Aku butuh istirahat dulu se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status