Share

Bab 2

Author: El Hawra
last update publish date: 2026-03-24 04:43:38

Zevko tak menggubris pertanyaan Clara. Alih-alih menjawab ia langsung membuka pintu dan meletakkan Clara di kursi penumpang, lalu duduk di belakang kemudi.

Zevko masih terdiam setelah menyalakan mesin. Tangannya menggenggam kemudi sambil mengetuk-ngetukan satu jarinya. Namun kemudian dia berkata dengan dingin. "Jangan terlalu ingin tahu yang bukan urusanmu."

Deg!

Clara terkejut dengan ucapan Zevko yang seolah sedang mengancamnya. Apa maksudnya? Bukankah hal yang wajar jika dia bertanya hal yang menurutnya aneh itu?

Zevko tidak berkata lagi. Dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Olympic National Forest. Sebuah kawasan dengan bentang alam yang sangat menakjubkan, itu sebabnya akan dibangun sebuah resort mewah di sana, dan silverstar development—perusahaan tempat mereka bekerja—yang akan menjadi pengembangnya.

Clara masih belum puas dengan sikap Zev, ia pun kembali mengulangi pertanyaannya.

"Apakah pertanyaan aku tadi salah? Aku hanya heran, mengapa bapak pemandu tadi begitu ketakutan melihat kamu, seolah kau adalah monster yang akan memangsanya?"

Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari mulut Clara, namun tak satu pun yang dijawab oleh Zevko. Pria itu membisu, ia hanya fokus pada jalan di hadapannya.

Clara menjadi kesal melihat sikap pria di sampingnya yang mengacuhkan pertanyaanya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengunci mulutnya. Hingga keheningan menyelimuti mereka.

Setelah beberapa saat, akhirnya mereka pun tiba di kota. Malam pun mulai turun menyelimuti kota kecil itu. Clara mulai terlihat letih, namun ia berusaha untuk tetap terjaga. Sedangkan Zevko masih fokus dengan jalan di hadapannya. Keduanya masih tetap membisu.

Mobil Zevko terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan apartemen Clara. Sejenak keduanya terdiam. Clara menoleh pada Zevko yang masih mematung. Ia tak tahan lagi berlama-lama di dalam mobil itu. Setelah mengucapkan terima kasih Clara hendak turun, namun Zevko menahannya.

"Ada apa?" tanya Clara heran.

"Ingat Clara, besok laporanmu harus sudah selesai."

"Apa? Besok? Gila. Aku lelah sekali malam ini."

"Itu bukan urusanku. Sebagai profesional kamu harusnya tahu bagaimana mengatur waktu. Dan ingat! Kelanjutan kariermu, tergantung hasil laporanmu besok."

"Oke, oke. Tapi, aku harus mendengarkan masukan dan catatan dari tim lainnya."

"Jangan bertele-tele. Kamu bisa call mereka dan meminta mereka mengirimkan catatan mereka malam ini juga."

Clara menghela napas panjang. Ia tidak ingin lagi berdebat dengan atasanya yang killer itu. Ia mencari ponselnya, karena semua data penting ada di sana. Setelah memeriksa kantong jaket dan celananya, Clara menjadi panik, karena tidak menemukannya.

"Gawat! Bagaimana aku akan membuat laporannya?" gumam Clara cemas. Ia mencoba mengingat, terakhir ia memegang ponsel sebelum serigala liar itu muncul, pasti jatuh di sana.

"Pak Zevko, aku…."

Clara mengangkat wajahnya dan menoleh pada Zevko. Namun ia tertegun karena pria di sampingnya itu sedang menatapnya sambil memegang benda pipih hitam di tangannya.

"Kamu mencari ini?"

"Hah? Ponselku? Bagaimana bisa ada di tanganmu?"

"Nggak penting bagaimana ponsel itu ada di tanganku. Yang pasti semua data-datamu aman, dan kamu bisa segera menghubungi teman-temanmu. Jadi, tidak ada alasan lagi kamu menunda membuatnya. Ingat! Besok pagi laporanmu harus sudah ada di mejaku."

Clara tak bisa berkata-kata lagi. Ia segera mengambil ponselnya. Mau tidak mau dia harus lembur malam ini. Harusnya dia punya waktu satu hari lagi untuk beristirahat dan mempelajari data-data yang baru saja di dapatnya. Tapi Zevko tidak memberikannya kesempatan sedikitpun.

"Baiklah, aku akan segera mengerjakannya. Terima kasih sudah menyelamatkanku, selamat malam."

Tanpa menunggu jawaban Zevko, Clara segera membuka pintu dan ke luar dari mobil Zevko. Tiba-tiba Zevko menurunkan side glass pada pintu penumpang lalu menatap Clara dengan tajam. "Ingat Clara! Ada yang harus kamu tulis dan ada yang tidak boleh kamu tulis. Selamat malam."

Setelah berkata Zevko langsung melajukan mobilnya meninggalkan Clara yang berdiri mematung dengan bingung. Apa maksudnya? Kata-kata terakhir Zevko barusan sungguh membingungkan.

Clara segera masuk, ia mengecek ponselnya, syukurlah semua data-datanya tak ada yang hilang. Ia sangat heran, bagaimana Zevko bisa menemukan ponselnya? Lelaki itu memang sangat misterius.

Clara mencoba mengingat kembali kejadian hari ini, karena kecerobohannya dia nyaris tewas dimangsa serigala buas. Tapi yang aneh adalah bagaimana Zevko bisa tiba-tiba ada di sana dan menolongnya?

Hal janggal lainnya, Zevko bisa dengan mudahnya menemukan jalan ke luar, padahal hutan itu sangat lebat, bahkan sinar matahari saja seperti kesulitan menembusnya. Tapi lelaki itu seperti sudah sangat familiar dengan tempat itu. Juga pertemuan dengan pemandu yang merupakan penduduk lokal, mengapa dia begitu ketakutan melihat Zevko.

Pertanyaan demi pertannyaan berputar di kepala Clara. Sebagai seorang analis, ia terbiasa berpikir kritis. Karenanya ia bertekad akan mencari tahu semua itu. Clara segera menghubungi teman-temannya yang kemarin satu tim dengannya, lalu mulai melakukan pekerjaannya.

Keesokan paginya Clara nyaris telat ke kantor karena dia harus begadang menyusun laporan yang diminta Zevko. Di depan koridor kantor dia bertemu dengan teman-teman satu tim yang kemarin survey bersamanya, mereka segera menodong Clara dengan berbagai pertanyaan.

"Ya ampun Clara. Sebenarnya kamu kemarin kemana sih? Kami semua panik."

"Iya benar, Clara. Kamu bikin kami nyaris kena serangan jantung mendadak. Ngomong-ngomong semalam kamu bilang mau menyusun laporan baru cerita, hayo sekarang ceritain."

Clara baru saja akan membuka mulut ketika aroma hutan pinus dan tanah basah melintas. Zevko, pria itu berjalan dengan acuh melewati mereka seolah tidak mengenali Clara.

Clara menjadi gugup, ia bahkan lupa akan bicara apa pada teman-temannya.

"Ahm, aku masuk duluan ya. Aku harus ke ruangan pak Zevko menyerahkan laporan ini."

Setelah berkata Clara bergegas masuk, meninggalkan teman-temannya yang saling bertatapan bingung. "Oke Clara, hati-hati ya. Pak Zevko itu meskipun ganteng, tapi dia itu seperti predator. Jangan sampai kamu dimakan hidup-hidup di ruangannya."

Clara tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah duduk sebentar di mejanya untuk membereskan berkas, Clara segera beranjak menuju ruangan Zevko.

Clara terdiam sejenak di depan pintu. Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu dengan percaya diri. Clara membawa map berisi laporan survey yang sudah dia susun semalaman. Clara ingin membuktikan bahwa dia adalah seorang analis profesional yang bekerja berdasarkan data yang akurat.

"Selamat pagi, pak. Ini adalah laporan hasil survey kemarin untuk rapat siang nanti. Semua data vegetasi dan koordinat lahan sudah lengkap," ujar Clara, ia meletakkan map itu di atas meja kayu gelap Zevko.

Zevko tidak langsung menjawab. Ia tidak beralih dari layar monitornya. Aroma hutan pinus dan tanah basah yang segar mendadak memenuhi indra penciuman Clara, padahal ruangan itu rapat dan ber AC.

Perlahan, Zevko mengambil map di atas meja lalu membukanya. Tiba-tiba….

Brakk!!

Zev melemparkan map itu dengan keras hingga kertasnya berhamburan. Clara terkesiap melihat sikap Zev. Apa lagi yang salah? Bukankah dia sudah menulisnya sesuai data.

"Laporan sampah! Revisi semuanya!" bentak Zev. Namun suaranya rendah seperti geraman yang tertahan di tenggorokan.

"Apa? Sampah?" Clara mencoba menyanggah. "Aku sudah bekerja keras menyusun ini, semua data akurat—"

"Akurat?" potong Zevko. Perlahan dia berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi besar mendominasi ruangan, membuat Clara merasa tiba-tiba kekurangan oksigen. Zevko melangkah memutari meja, mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa inci.

"Kamu mencantumkan gangguan predator tak teridentifikasi di koordinat 204. Kamu ingin manajer pusat membaca ini dan mengirim tim keamanan bersenjata ke sana?"

Clara menelan ludah, nyalinya menciut melihat kilat aneh di mata gelap Zevko. "T-tapi itu yang terjadi. Aku hampir mati, di sana! Aku tidak bisa berbohong dalam laporan resmi."

"Maka belajarlah untuk bungkam," bisik Zev, wajahnya kini begitu dekat hingga napas hangatnya menyapu kening Clara. "Hapus semua catatan soal makhluk itu. Katakan wilayah barat tidak layak karena kontur tanah yang labil. Jika laporan ini sampai ke meja direksi dalam bentuk aslinya, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu lagi."

Clara menjadi bingung sekaligus merasa tertantang. "Mengapa begitu? Bukankah kamu ingin project ini sukses?"

Zevko terdiam sejenak, tatapannya tajam mengunci Clara. "Aku tidak peduli pada proyeknya. Aku peduli pada kepalamu yang keras itu agar tetap berada di tempatnya. Lakukan survey ulang bersamaku besok lusa. Dan kali ini, tulis apa yang aku katakan, atau jangan menulis apa pun sama sekali."

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Agustina
menarik, lanjutkan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Coworkerku Alpha   Bab 77

    'Zev, tolong fokus. Sekarang sentuh liontin itu dan dekatkan ke penciumanmu,' bisik Clara melalui mind-link pada Zevko.'Ada apa, Cla? Apakah ada serangan sihir?' tanya Zevko bingung."Lakukan sekarang, Zev. Nanti kamu akan tahu.'Zevko mengangguk, ia membuka sedikit mantelnya lalu menggenggam liontin perak yang mulai berpendar. Zevko mengecup liontin itu dan menghirupnya dalam-dalam.Suasana di meja makan itu seketika terasa menegangkan. Valdas dan Valida yang tidak menyadari hanya termangu bingung. Mereka memperhatikan apa yang dilakukan Zevko dan Clara. Zevko fokus menggenggam kalung yang memendarkaan cahaya keperakan. Sedangkan Clara memejamkan mata. Satu tangannya disilangkan di dada. Ia nampak sedang berkonsentrasi."Valeska, aku Cla. Tolong bantu amankan tempat ini dari serangan luar. Gunakan sihir perlindungan. Aku harus melindungi Zev dan orang tuanya serta semua yang ada di mansion ini,"Valeska sedikit terkejut, karena Clara bisa menghubunginya melalui tautan batin. Namund

  • Coworkerku Alpha   Bab 76

    Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, ketika sinar matahari baru saja menerobos celah tirai, suara ketukan pelan di pintu kamar terdengar.Clara terbangun dan perlahan membuka matanya. Ia merasakan lengan kekar Zevko masih melingkar erat di pinggangnya, memeluknya hangat. Pria itu masih terpejam lelap dengan napas yang teratur. Clara tersenyum tipis, lalu mengusap lembut pipi Zevko untuk membagungkannya."Zev... Zev, bangun. Ada yang mengetuk pintu," bisik Clara pelan.Zevko melenguh pelan, mempererat pelukannya sebentar sebelum akhirnya membuka mata menatap Clara. Ia mengecup kening Clara singkat, lalu beranjak dari tempat tidur dan berjalan membukakan pintu.Ternyata yang datang adalah seorang pelayan mansion. Dengan sikap sangat sopan dan menunduk hormat, pelayan itu membawa gaun indah lengkap dengan kotak perhiasan mewah."Maaf mengganggu, Alpha. Saya diutus oleh Luna Valida untuk menyerahkan gaun dan perhiasan ini kepada Nona Clavira," ujar pelayan tersebut.Zevko menerima barang-b

  • Coworkerku Alpha   Bab 75

    Dari balik tempat tersembunyi, seorang pria menatap Zevko dan Clara dengan tajam. Ia memperhatikan interaksi manis antara Zevko dan Clara. Pria itu menyaksikan sendiri bagaimana sang Alpha merengkuh pinggang gadis itu dengan begitu protektif, seolah ia adalah sosok berharga yang tak boleh tersentuh sedikit pun. Tanpa membuang waktu, pria itu berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan malam, bergegas menemui Thalia yang memberinya imbalan emas. Thalia berjalan bolak-balik di kamarnya dengan gelisah. Pikirannya dipenuhi rasa kesal atas sikap dingin orang tua Zevko dan sindiran Alec tadi. Namun, ketukan pelan di jendela kamarnya langsung memotong kegelisahannya. Thalia bergegas membuka jendela, mendapati mata-matanya berdiri di bawah bayangan pohon. "Ada berita apa? Apakah Zevko sudah kembali?" desak Thalia cepat. "Sudah, Nona. Alpha Zevko baru saja tiba di mansion utama," lapor pria itu setengah berbisik. "Tapi... beliau membawa seorang gadis. Alpha sendiri yang menuntunnya masuk ke

  • Coworkerku Alpha   Bab 74

    Valeska berlutut dengan gugup. "Ampun Alpha. Saya menemukan sesuatu, tapi belum sempat melaporkannya."Zevko menatap Alec dengan wajah serius. "Ada apa, Alec? Apa kamu juga tidak tahu?"Alec menggeleng seraya mendekati Valeska. "Vale, kamu belum memberikan laporan mengenai wilayah perbatasan utara. Apa di sana tidak aman?""Maafkan aku, Alec. Belakangan kita sangat sibuk, jadi aku lupa menceritakan tentang ini.""Hmh, baiklah, Vale. Sekarang ceritakan ada apa?""Beberapa waktu lalu, anak buahku melaporkan adanya serangan kecil di sana. Aku sudah memeriksa. Ada serangan sihir yang mencoba menerobos wilayah kita."Hening sejenak, semua terdiam mendengarkan laporan Valeska. "Apa kamu bisa mengatasinya?""Ya, tapi…""Tapi apa, Vale?" potong Alec tak sabar."Aku merasa serangan itu hanya penjajakan. Tapi aku merasakan energinya cukup besar. Aku berencana melaporkan ini kepada dewan tetua karena aku merasakan aliran sihir yang terasa asing.""Jangan ceritakan kepada siapa pun di dewan tetua

  • Coworkerku Alpha   Bab 73

    Zevko segera menghubungi Alec melalui mind-link. "Alec, segera ke perbatasan timur. Ada yang tidak beres di sini," titah Zevko, penuh tuntutan. "Zev, biar aku yang hadapi mereka. Anggap saja praktik lapangan," ujar Clara santai. "Tidak, Cla. Meskipun kamu memiliki kekuatan, tapi kamu belum terbiasa bertarung." "Ya, makanya aku harus sering terjun ke pertarungan yang sesungguhnya, kan? Supaya punya pengalaman. Lagi pula ada kamu yang akan memback-up-ku," Clara masih bersikukuh. Zevko terdiam, ia masih nampak ragu. "Tapi, Cla. Pamanmu mengingatkan kamu tidak boleh sembarang atau sering-sering menggunakan kekuatanmu—" "Itu kan kalau di depan tetua nanti," potong Clara cepat. Zevko menghela napas. "Baiklah, kita ke sana bersama," ujar Zevko, menyerah pada desakan mate-nya. Clara dan Zevko menoleh kembali pada pengeroyokan itu, namun mereka terkejut karena para pengeroyok itu mulai melakukan penyerangan. Tiga orang menyerang pemuda, dan dua orang lainnya menyerang si wanita. Melihat

  • Coworkerku Alpha   Bab 72

    Seorang gadis dengan riasan tebal dan pakaian mewah melangkah dengan anggun mendekati mereka. Tentu saja Valdas dan Valida mengenalinya. Dia adalah Thalia, putri salah seorang anggota dewan tetua, sekaligus keponakan Silas, pimpinan dewan tetua Pack Volkov."Thalia? Kamu Thalia, kan?" tanya Valida memastikan."Benar, bibi. Aku Thalia," jawab gadis itu seraya mendekat, lalu memeluk Valida. "Apa kabar, Bi. Senang sekali mendengarnya. Ternyata Bibi masih mengenaliku.""Kabar baik, Ta. Tentu saja bibi masih ingat. Kamu teman kecil Zev. Dulu kalian sering bermain bersama Alec juga, kan?" sahut Valida sambil melirik Alec. Sedangkan Alec hanya terdiam, wajahnya datar tanpa ekspresi. "Kamu makin cantik saja, Ta."Thalia tersipu malu, namun juga tersenyum bangga. "Ah, terima kasih, Bi. Bibi juga masih terlihat cantik dan awet muda." "Ah, kamu bisa aja," sahut Valida sambil tersenyum. "Oh ya, bagaimana kabar ibumu?""Ibu sudah meninggal, Bi. Sekarang aku tinggal bersama Bibi Camilla.""Oh, maa

  • Coworkerku Alpha   Bab 6

    "Tidak ada," jawab Zevko datar. "Mungkin kamu salah lihat."Clara terdiam, mencoba mengingat kejadian malam tadi. Suasana saat itu memang sangat kacau, hujan turun sangat deras bercampur angin. Bisa jadi dia memang salah lihat, ditambah kepalanya terasa berat karena masih diserang kantuk."Hmm, mung

  • Coworkerku Alpha   Bab 5

    Zevko berdiri tegak, sorot matanya bersinar tajam. Wajahnya memancarkan aura keagungan dan kewibawaan. Ia menatap sekeliling penuh kewaspadaan, namun ia tahu siapa yang ia perintahkan.Tidak lama berselang, tiga sosok muncul dari balik semak-semak. Mereka melangkah mendekati Zevko, lalu menundukan k

  • Coworkerku Alpha   Bab 4

    Untuk sesaat Clara membeku. Zevko ini benar-benar gila. Baru saja dia kembali dari hutan itu, besok harus kembali lagi ke sana? Namun, Clara tak punya pilihan selain mengikuti kemauan Zevko. Selain untuk membuktikan profesionalitasnya, dia juga memang ingin ke sana, untuk mencari tahu rahasia apa ya

  • Coworkerku Alpha   Bab 3

    Clara terdiam sesaat, ia menjadi bingung dengan sikap Zevko. Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan pria ini. Bukankah seharusnya dia senang jika project ini sukses. Tapi mengapa dia bilang tidak peduli dengan project?"Lalu bagaimana dengan rapat nanti siang? Tidak mungkin untuk dibatalkan karen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status