LOGINKael tak menggubris pertanyaan Clara. Alih-alih menjawab ia langsung membuka pintu dan meletakkan Clara di kursi penumpang, lalu duduk di belakang kemudi.
Kael masih terdiam setelah menyalakan mesin. Tangannya menggenggam kemudi sambil mengetuk-ngetukan satu jarinya. Namun kemudian dia berkata dengan dingin. "Jangan terlalu ingin tahu yang bukan urusanmu." Deg! Clara terkejut dengan ucapan Kael yang seolah sedang mengancamnya. Apa maksudnya? Bukankah hal yang wajar jika dia bertanya hal yang menurutnya aneh itu? Kael tidak berkata lagi. Dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Olympic National Forest. Sebuah kawasan dengan bentang alam yang sangat menakjubkan, itu sebabnya akan dibangun sebuah resort mewah di sana, dan silverstar development—perusahaan tempat mereka bekerja—yang akan menjadi pengembangnya. Clara masih belum puas dengan sikap Kael, ia pun kembali mengulangi pertanyaannya. "Apakah pertanyaanku tadi salah? Aku hanya heran, mengapa bapak pemandu tadi begitu ketakutan melihat kamu, seolah kau adalah monster yang akan memangsanya?" Pertanyaan demi pertanyaan meluncur dari mulut Clara, namun tak satu pun yang dijawab oleh Kael. Pria itu membisu, ia hanya fokus pada jalan di hadapannya. Clara menjadi kesal melihat sikap pria di sampingnya yang mengacuhkan pertanyaanya, namun dia tidak bisa berbuat apa-apa selain mengunci mulutnya. Hingga keheningan menyelimuti mereka. Setelah beberapa saat, akhirnya mereka pun tiba di kota. Malam pun mulai turun menyelimuti kota kecil itu. Clara mulai terlihat letih, namun ia berusaha untuk tetap terjaga. Sedangkan Kael masih fokus dengan jalan di hadapannya. Keduanya masih tetap membisu. Mobil Kael terus melaju hingga akhirnya berhenti di depan apartemen Clara. Sejenak keduanya terdiam. Clara menoleh pada Kael yang masih mematung. Ia tak tahan lagi berlama-lama di dalam mobil itu. Setelah mengucapkan terima kasih Clara hendak turun, namun Kael menahannya. "Ada apa?" tanya Clara heran. "Ingat Clara, besok laporanmu harus sudah selesai." "Apa? Besok? Gila. Aku lelah sekali malam ini." "Itu bukan urusanku. Sebagai profesional kamu harusnya tahu bagaimana mengatur waktu. Dan ingat! Kelanjutan kariermu, tergantung hasil laporanmu besok." "Oke, oke. Tapi, aku harus mendengarkan masukan dan catatan dari tim lainnya." "Jangan bertele-tele. Kamu bisa call mereka dan meminta mereka mengirimkan catatan mereka malam ini juga." Clara menghela napas panjang. Ia tidak ingin lagi berdebat dengan atasanya yang killer itu. Ia mencari ponselnya, karena semua data penting ada di sana. Setelah memeriksa kantong jaket dan celananya, Clara menjadi panik, karena tidak menemukannya. "Gawat! Bagaimana aku akan membuat laporannya?" gumam Clara cemas. Ia mencoba mengingat, terakhir ia memegang ponsel sebelum serigala liar itu muncul, pasti jatuh di sana. "Kael, aku…." Clara mengangkat wajahnya dan menoleh pada Kael. Namun ia tertegun karena pria di sampingnya itu sedang menatapnya sambil memegang benda pipih hitam di tangannya. "Kamu mencari ini?" "Hah? Ponselku? Bagaimana bisa ada di tanganmu?" "Nggak penting bagaimana ponsel itu ada di tanganku. Yang pasti semua data-datamu aman, dan kamu bisa segera menghubungi teman-temanmu. Jadi, tidak ada alasan lagi kamu menunda membuatnya. Ingat! Besok pagi laporanmu harus sudah ada di mejaku." Clara tak bisa berkata-kata lagi. Ia segera mengambil ponselnya. Mau tidak mau dia harus lembur malam ini. Harusnya dia punya waktu satu hari lagi untuk beristirahat dan mempelajari data-data yang baru saja di dapatnya. Tapi Kael tidak memberikannya kesempatan sedikitpun. "Baiklah, aku akan segera mengerjakannya. Terima kasih sudah menyelamatkanku, selamat malam." Tanpa menunggu jawaban Kael, Clara segera membuka pintu dan ke luar dari mobil kael. Tiba-tiba kael menurunkan side glass pada pintu penumpang lalu menatap Clara dengan tajam. "Ingat Clara! Ada yang harus kamu tulis dan ada yang tidak boleh kamu tulis. Selamat malam." Setelah berkata Kael langsung melajukan mobilnya meninggalkan Clara yang berdiri mematung dengan bingung. Apa maksudnya? Kata-kata terakhir Kael barusan sungguh membingungkan. Clara segera masuk, ia mengecek ponselnya, syukurlah semua data-datanya tak ada yang hilang. Ia sangat heran, bagaimana Kael bisa menemukan ponselnya? Lelaki itu memang sangat misterius. Clara mencoba mengingat kembali kejadian hari ini, karena kecerobohannya dia nyaris tewas dimangsa serigala buas. Tapi yang aneh adalah bagaimana Kael bisa tiba-tiba ada di sana dan menolongnya? Hal janggal lainnya, Kael bisa dengan mudahnya menemukan jalan ke luar, padahal hutan itu sangat lebat, bahkan sinar matahari saja seperti kesulitan menembusnya. Tapi lelaki itu seperti sudah sangat familiar dengan tempat itu. Juga pertemuan dengan pemandu yang merupakan penduduk lokal, mengapa dia begitu ketakutan melihat Kael. Pertanyaan demi pertannyaan berputar di kepala Clara. Sebagai seorang analis, ia terbiasa berpikir kritis. Karenanya ia bertekad akan mencari tahu semua itu. Clara segera menghubungi teman-temannya yang kemarin satu tim dengannya, lalu mulai melakukan pekerjaannya. Keesokan paginya Clara nyaris telat ke kantor karena dia harus begadang menyusun laporan yang diminta Kael. Di depan koridor kantor dia bertemu dengan teman-teman satu tim yang kemarin survey bersamanya, mereka segera menodong Clara dengan berbagai pertanyaan. "Ya ampun Clara. Sebenarnya kamu kemarin kemana sih? Kami semua panik." "Iya benar, Clara. Kamu bikin kami nyaris kena serangan jantung mendadak. Ngomong-ngomong semalam kamu bilang mau menyusun laporan baru cerita, hayo sekarang ceritain." Clara baru saja akan membuka mulut ketika aroma hutan pinus dan tanah basah melintas. Kael, pria itu berjalan dengan acuh melewati mereka seolah tidak mengenali Clara. Clara menjadi gugup, ia bahkan lupa akan bicara apa pada teman-temannya. "Ahm, aku masuk duluan ya. Aku harus ke ruangan pak Kael menyerahkan laporan ini." Setelah berkata Clara bergegas masuk, meninggalkan teman-temannya yang saling bertatapan bingung. "Oke Clara, hati-hati ya. Pak Kael itu meskipun ganteng, tapi dia itu seperti predator. Jangan sampai kamu dimakan hidup-hidup di ruangannya." Clara tidak menjawab, dia hanya tersenyum tipis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Setelah duduk sebentar di mejanya untuk membereskan berkas, Clara segera beranjak menuju ruangan Kael. Clara terdiam sejenak di depan pintu. Ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pintu dengan percaya diri. Clara membawa map berisi laporan survey yang sudah dia susun semalaman. Clara ingin membuktikan bahwa dia adalah seorang analis profesional yang bekerja berdasarkan data yang akurat. "Selamat pagi, pak. Ini adalah laporan hasil survey kemarin untuk rapat siang nanti. Semua data vegetasi dan koordinat lahan sudah lengkap," ujar Clara, ia meletakkan map itu di atas meja kayu gelap Kael. Kael tidak langsung menjawab. Ia tidak beralih dari layar monitornya. Aroma hutan pinus dan tanah basah yang segar mendadak memenuhi indra penciuman Clara, padahal ruangan itu rapat dan ber AC. Perlahan, kael mengambil map di atas meja lalu membukanya. Tiba-tiba…. Brakk!! Kael melemparkan map itu dengan keras hingga kertasnya berhamburan. Clara terkesiap melihat sikap Kael. Apa lagi yang salah? Bukankah dia sudah menulisnya sesuai data. "Laporan sampah! Revisi semuanya!" bentak Kael. Namun suaranya rendah seperti geraman yang tertahan di tenggorokan. "Apa? Sampah?" Clara mencoba menyanggah. "Aku sudah bekerja keras menyusun ini, semua data akurat—" "Akurat?" potong Kael. Perlahan dia berdiri. Postur tubuhnya yang tinggi besar mendominasi ruangan, membuat Clara merasa tiba-tiba kekurangan oksigen. Kael melangkah memutari meja, mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa inci. "Kamu mencantumkan gangguan predator tak teridentifikasi di koordinat 204. Kamu ingin manajer pusat membaca ini dan mengirim tim keamanan bersenjata ke sana?" Clara menelan ludah, nyalinya menciut melihat kilat aneh di mata gelap Kael. "T-tapi itu yang terjadi. Aku hampir mati, di sana! Aku tidak bisa berbohong dalam laporan resmi." "Maka belajarlah untuk bungkam," bisik Kael, wajahnya kini begitu dekat hingga napas hangatnya menyapu kening Clara. "Hapus semua catatan soal makhluk itu. Katakan wilayah barat tidak layak karena kontur tanah yang labil. Jika laporan ini sampai ke meja direksi dalam bentuk aslinya, aku tidak bisa menjamin keselamatanmu lagi." Clara menjadi bingung sekaligus merasa tertantang. "Mengapa begitu? Bukankah kamu ingin project ini sukses?" Kael terdiam sejenak, tatapannya tajam mengunci Clara. "Aku tidak peduli pada proyeknya. Aku peduli pada kepalamu yang keras itu agar tetap berada di tempatnya. Lakukan survey ulang bersamaku besok lusa. Dan kali ini, tulis apa yang aku katakan, atau jangan menulis apa pun sama sekali."Kael berdiri tegak, sorot matanya bersinar tajam. Wajahnya memancarkan aura keagungan dan kewibawaan. Ia menatap sekeliling penuh kewaspadaan, namun ia tahu siapa yang ia perintahkan.Tidak lama berselang, tiga sosok muncul dari balik semak-semak. Mereka melangkah mendekati Kael, lalu menundukan kepala penuh hormat. "Mengapa kalian kemari?""Maaf Alpha, kami mengkhawatirkan Anda. Karena kami tidak bisa menghubungi Anda sejak siang tadi.""Hmm, aku memang menutup mindlink, karena aku sedang bersama Clara, aku khawatir dia merasa aneh dengan sikapku.""Tapi Alpha, apakah Anda yakin dia….""Ya, Alec. Dia adalah calon Luna kalian. Aku perintahkan kalian untuk melindunginya, tapi jangan pernah menampakan diri, cukup dari kejauhan.""Tapi Alpha…."Kael mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, seketika pria yang dipanggil Alec itu pun terdiam, ia tidak melanjutkan perkataannya.Kael paham apa yang dipikirkan anak buahnya, namun sekarang bukan waktunya untuk menjelaskan. Karenanya ia harus
Untuk sesaat Clara membeku. Kael ini benar-benar gila. Baru saja dia kembali dari hutan itu, besok harus kembali lagi ke sana? Namun, Clara tak punya pilihan selain mengikuti kemauan Kael. Selain untuk membuktikan profesionalitasnya, dia juga memang ingin ke sana, untuk mencari tahu rahasia apa yang disembunyikan Kael.Clara menghela napas pelan, ia menurunkan pandangannya. "Baiklah. Kalau gitu aku selesaikan berkas-berkas ini dulu.""Bagus!" jawab Kael sambil menarik tubuhnya menjauh, dia kembali ke mejanya. "Satu hal lagi, Clara. Jauhi laki-laki itu.""Apa? Laki-laki? Siapa?""Jangan pura-pura bodoh." Kael berkata tanpa menoleh, matanya fokus pada layar laptopnya."Siapa maksudmu? John?""Dia mau mengantarmu pulang, kan?""Haha, memang mengapa kalau aku pulang bareng dia?"Tiba-tiba kael mengangkat wajahnya, tatapannya berkilat tajam menusuk ke jantung Clara, membuat gadis itu ciut seketika."I-iya, aku hanya bercanda. Siapa juga yang mau diantar. Aku bisa pulang sendiri.""Ingat Cl
Clara terdiam sesaat, ia menjadi bingung dengan sikap Kael.Rahasia apa yang sebenarnya disembunyikan pria ini. Bukankah seharusnya dia senang jika project ini sukses. Tapi mengapa dia bilang tidak peduli dengan project?"Lalu bagaimana dengan rapat nanti siang? Tidak mungkin untuk dibatalkan karena waktunya sudah mepet. Semua sudah bersiap.""Kamu tahu apa yang harus kamu katakan nanti. Tanpa tanda tanganku, laporan itu tidak sah.""Baiklah, aku pemisi."Clara segera meninggalkan ruangan Kael dengan kesal. Ia sudah susah payah menyusun laporan itu dan berkali-kali mengeceknya, tapi dengan seenaknya dibilang sampah.Clara duduk termangu, kekesalan masih melintasi wajahnya. Teman-temannya segera menghampiri."Clara, bagaimana?" tanya Emma yang sudah berdiri di sampingnya."Kenapa, Clara. Wajah kamu kusut banget, apa kamu dimarahi pak Kael?" Melly menimpali sambil menyodorkan minuman kaleng."Makasih Mel," jawab Clara sambil membuka kaleng dan menenggak isinya. Ia menatap kedua temannya
Kael tak menggubris pertanyaan Clara. Alih-alih menjawab ia langsung membuka pintu dan meletakkan Clara di kursi penumpang, lalu duduk di belakang kemudi.Kael masih terdiam setelah menyalakan mesin. Tangannya menggenggam kemudi sambil mengetuk-ngetukan satu jarinya. Namun kemudian dia berkata dengan dingin. "Jangan terlalu ingin tahu yang bukan urusanmu."Deg!Clara terkejut dengan ucapan Kael yang seolah sedang mengancamnya. Apa maksudnya? Bukankah hal yang wajar jika dia bertanya hal yang menurutnya aneh itu?Kael tidak berkata lagi. Dia langsung melajukan mobilnya meninggalkan kawasan Olympic National Forest. Sebuah kawasan dengan bentang alam yang sangat menakjubkan, itu sebabnya akan dibangun sebuah resort mewah di sana, dan silverstar development—perusahaan tempat mereka bekerja—yang akan menjadi pengembangnya. Clara masih belum puas dengan sikap Kael, ia pun kembali mengulangi pertanyaannya."Apakah pertanyaanku tadi salah? Aku hanya heran, mengapa bapak pemandu tadi begitu k
"Suara apa itu?" gumam Clara pelan. Ia menghentikan langkahnya dan mempertajam pendengarannya. Semakin lama suara itu semakin jelas terdengar dan dekat. Suara geraman.Jantung Clara berdegup keras, ia memperhatikan sekeliling. Sunyi, bahkan tidak ada suara burung-burung ataupun serangga. Pohon-pohon di sekitarnya tinggi menjulang dengan semak-semak rimbun diantara pepohonan. Clara mengotak atik ponselnya untuk menghubungi tim lainnya, namun tak ada sinyal. Kini ia sadar sepertinya ia sudah tersesat jauh ke dalam hutan.Suara geraman itu kembali terdengar dari arah samping tempatnya berdiri. Clara membalikan badan ke arah semak yang mulai bergerak. Dan seperdetik kemudian matanya terbelalak demi melihat sesosok makhluk yang keluar dari semak-semak itu."Oh, tidak!! Apa itu?!"Clara mematung, mulutnya ternganga lebar. Ia ingin kabur, tapi kakinya seakan menempel di tanah tempatnya berdiri. Keringat dingin membasahi tubuhnya.Dari semak-semak itu, seekor serigala besar melangkah keluar.







