Mag-log inSedikit sinar matahari berhasil menyelinap ke dalam kamar, membuat ruangan terasa dingin dan lembap. Kasti masih sunyi, seolah tak pernah ada siapapun di dalamnya.
Tubuhnya masih terasa sangat nyeri, terutama di bagian pipi, belum lagi cengkraman Kael di lehernya kemarin seolah masih terasa hingga saat ini. Sebelumnya lelaki itu langsung pergi setelah memberinya buah untuk ia makan. Saat Arcellia menyentuh lehernya, pintu kamar terbuka, Kael masuk tanpa ragu, sembari membawa sebuah cawan yang entah apa isinya. Ia semakin mendekat lalu meletakkan cawan itu di atas meja di samping tempat tidur. Sebuah cairan berwarna gelap, lebih tepatnya merah gelap yang baunya cukup amis. “Itu apa ?” Tanya Arcellia. “Obat untuk lukamu.” Jawab Kael singkat. Kael membantu Arcellia untuk duduk, Arcellia sendiri tentunya pasrah meskipun ia merasa canggung seorang pria membantunya seperti ini. Ahhh…pria ini juga membuatnya menjadi seorang tawanan. Kael mengambil cawan itu dengan tangan kiri miliknya, lalu tanpa ragu mencelupkan jari-jari tangan kanannya ke dalam cawan berisi cairan amis itu. “Apa yang…” Belum selesai Arcellia menyelesaikan kalimatnya, Kael sudah mengoleskan cairan amis itu pada leher Arcellia, sentuhannya lembut dan hangat. Awalnya Arcellia tersentak dan mencoba mundur, namun Kael berkata dingin meminta ia tetap diam. Perlahan ia terus mengoleskan cairan itu di sepanjang lehernya, Arcellia menahan napas, jarak mereka terlalu dekat, sentuhan ini membuat perasaanya menjadi aneh dan tidak nyaman. Tangan itu perlahan turun dari leher hingga sedikit ke bagian dada, refleks Arcellia meraih pergelangan tangan Kael. “Hentikan.” Ucap Arcellia. Kael berhenti, namun sudut bibirnya terangkat sedikit. Tatapan matanya tertuju pada dada Arcellia. "Apa yang kau lihat ?!" Andai saja ia bisa berteriak, Kael pasti menutup kedua telinganya. Namun jawaban Kael justru semakin membuatnya malu dan tak nyaman. "Aku sudah melihat semuanya." Ucapnya. Arcellia membelakkan matanya, ya..dia baru teringat, saat keluar pun ia tak melihat pelayan ataupun penjaga, baju yang ia pakai saat ini pun bukan baju miliknya. Namun pikiran Arcellia kembali teralihkan, rasa sakit di lehernya sudah tak terasa. Hilang sepenuhnya. "Sudah tak sakit lagi, meskipun baunya aneh, ini obat yang bagus...tapi.. " Belum selesai ia berbicara, Kael mencelupkan lagi tangannya ke cawan itu lalu menaruh cawannya kembali di atas meja. Kali ini tangan kanannya bergerak menuju wajah Arcellia. "Diam." Sentuhannya masih saja hangat, Arcellia kembali menegang. Sensasi aneh itu datang lagi. Namun tiba-tiba saja rasa hangat itu berubah menjadi panas. Arcellia tersentak. "Akh..." Teriaknya. Rasanya cairan merah amis itu seperti meresap ke dalam kulitnya. Arcellia ingin menjauh dan pergi untuk membilas wajahnya, rasa panas itu tak tertahan. "Aku bilang diam." Ucap Kael datar. "Ini sangat panas." Keluh Arcellia. Namun Kael seperti tak peduli, ia terus mengoles cairan itu di wajahnya seolah tengah melukis di atas kanvas. Panas itu menyiksa namun beberapa saat kemudian rasa panas itu perlahan menghilang terganti dengan sensasi hangat yang aneh. Rasa sakit di wajahnya pun menghilang, Kael menarik tangannya kembali. Arcellia mencoba menyentuh pipinya dengan hati-hati. Luka itu menghilang seolah ia tak pernah terluka sebelumnya. Arcellia bertanya, ia sangat penasaran, alangkah bagusnya kalau Kekaisaran juga punya obat seperti ini. "Darah manusia serigala." Jawab Kael. Arcellia terdiam sejenak, ia menatap Kael tak percaya. Ia pun sebenarnya ingin muntah. "Darah...manusia serigala ?" Arcellia kembali bertanya, ia tak percaya. Kael tak menyangkal, ia hanya tersenyum tipis. Arcellia tahu, di Kekaisaran hal ini sangat terkenal di antara para bangsawan. Darah manusia serigala adalah salah satu bahan penyembuh paling langka dan mahal. Bahkan banyak juga para bangsawan yang tertipu karena hal ini, banyak dari mereka yang mengeluarkan banyak uang untuk mendapatkan darah ini namun begitu dipakai itu sama sekali tak berfungsi. "Bagaimana bisa kau mendapatkannya ? Bahkan Kaisar saja pernah tertipu karena darah ini." Tanya Arcellia. Ia curiga, tak mungkin Kael hanya orang kaya biasa. Tiba-tiba saja suara lolongan serigala kembali terdengar, kali ini suaranya lebih keras seolah ia sedang meluapkan amarahnya. "Auuuu!!!!" Arcellia tersentak, ia takut kalau ia di serang oleh serigala lagi, lolongan itu tak berhenti, bahkan bersahutan satu sama lain. "Suara itu terdengar sangat dekat, sebenarnya kita berada dimana ? Apa kastil ini berada di tengah hutan ?" Tanya Arcellia. Kael hanya diam, lalu Arcellia kembali bertanya kenapa serigala-serigala itu seperti sedang marah. "Itu karena kau masuk ke wilayah mereka dan kau menyakiti mereka." Jelas Kael. Arcellia gelisah, ia sangat tak tenang, bagaimana mereka bisa hidup kalau mereka hidup di tengah-tengah kawasan serigala seperti ini. "Ahhhh...kau mengoleskan darah manusia serigala padaku, mereka pasti akan semakin membenciku. Kita tak akan aman berada disini." Ucap Arcellia. Ekspresi Kael tetap datar seolah hal ini tak mengganggunya sama sekali. "Selama kau berada di sisiku kau akan aman." Ucap Kael. Arcellia tak percaya, ia tahu Kael menyelamatkannya, namun tetap saja hal ini tak bisa di anggap enteng begitu saja. "Kenapa kau bisa yakin sekali ? Mereka ada belasan bahkan puluhan, kita hanya berdua, tak akan aman, ikutlah denganku, kita pergi ke kekaisaran." Jelas Arcellia. Kael menatapnya tajam, ia tahu Arcellia akan mengatakan hal ini, namun ia menolak. "Karena itu titahku." Ucap Kael. Lelaki itu bangkit dan mengatakan akan keluar sejenak, ia meminta Arcellia tak pergi kemanapun, tetap berbaring di atas ranjangnya. Ucapannya itu seolah sebuah pernyataan tegas, ia pergi dengan cepat, namun sebelum menutup pintu ia kembali mengingatkan Arcellia untuk tetap diam. Arcellia kembali sendirian di kastil asing, dari dalam ia mendengar lolongan serigala, kali ini lebih keras dan menakutkan. "AUUUUUUUU!!!!!" Suara itu menggema, kembali membuatnya semakin takut, ia mengkhawatirkan keadaan Kael. Namun karena lolongan itu, suara serigala lain perlahan menghilang, seolah ketakutan. Suara yang tadinya gaduh menjadi sunyi, namun hal ini kembali membuatnya takut. Bagaimana kalau serigala itu masuk lalu membunuhnya, bagaimana juga keadaan Kael, apakah dia dimakan oleh serigala-serigala itu. Ia ingin keluar, namun perintah Kael tadi kembali terbesit di kepalanya. Untuk sesaat ia bingung, namun akhirnya Arcellia berusaha berdiri, ia hendak keluar, ia ingin melihat keadaan Kael. "Semoga ia baik-baik saja.." gumamnya. Meskipun leher dan luka di pipinya sudah sembuh, tetap saja luka di kakinya belum pulih, ia berjalan tertatih menyusuri lorong gelap dan sunyi. Arcellia tersentak, tiba-tiba saja Kael muncul di hadapannya. "Kau baik-baik saja ? A-aku takut serigala-serigala itu menyerangmu." Jelas Arcellia. Namun sesuatu terasa aneh, Arcellia memperhatikan wajah Kael dengan teliti. Di bawah cahaya obor yang redup ia melihat sesuatu di sisi rahang Kael, awalnya ia mengira itu hanya bayangan namun ternyata adalah sebuah bulu.Cahaya pagi masuk melalui celah jendela, Arcellia terbangun. Ia terbangun karena merasakan sesuatu yang hangat, di dadanya. Refleks ia langsung menyentuhnya, tanda itu masih ada. Hangat. Arcellia bangkit. Yang pertama ia lihat adalah Kael. Ia tenang, seolah tak pernah terjadi apapun. Tak lama pintu terbuka. Lelaki lain yang ia kenal masuk, Yuan. Ia datang dengan membawa nampan berisi makanan. Arcellia diam, pandangannya berubah. Kejadian di aula sebelumnya kembali muncul di kepalanya. Saat lelaki itu menahan amarah Raja, ayah Kael. Yuan pun sempat menatapnya untuk sesaat, tak lama. Tatapannya tak dingin, namun juga tak ramah. Seolah tengah mempertanyakan maksud pandangannya. Yuan meletakkan nampan itu dengan tenang di hadapan Kael. "Apa..." Suaranya pelan, namun cukup jelas. "...kau juga manusia serigala, Yuan?" Sunyi. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Meskipun Arcellia sudah tahu jawabannya, namun ia juga ingin tahu, ingin mendengarnya langsung da
Prangg! Suara pecahan kaca keras memecah ruangan, serpihan itu jatuh berserakan di lantai. Namun Julia tak berhenti, ia terus membanting setiap barang yang ia lihat. Kamarnya kini nampak bak tempat tak terawat. “Tak masuk akal!!” Suaranya menggema. Ia terus berteriak, tak percaya dengan apa yang telah terjadi, ia tertawa sesaat, namun beberapa detik kemudian kembali berteriak penuh amarah. “Menandai-“ “Seorang manusia!” Hening sesaat. Julia menendang ranjangnya sendiri, membuatnya remuk dalam sesaat. “Ia-“ Kalimatnya terputus. “Dia bodoh sekali.” Air mata jatuh. Di sudut ruangan Rion berdiri, diam mengamati, beberapa detik kemudian ia berjalan, mendekat dan memeluk tubuh Julia yang meringkuk. “Nona-“ Suaranya rendah, berharap Julia lebih tenang. “Aku tak pernah tahu apa ritual penyatuan itu.” Hening. Julia membeku, perlahan ia mengangkat pandangannya. “..kau juga tak tahu ?” “Ya, Nona.” Jawabnya. Sunyi. Untuk pertama kalinya, Julia tak bisa m
Lagi-lagi Arcellia tersadar di tempat yang asing, langit-langit batu yang tinggi menyambutnya, ia tak lagi terbangun di dalam penjara ataupun kamar yang ia tempati sebelumnya, entah kenapa saat ini perasaanya lebih tenang. Tangannya refleks naik ke bagian dada, ia masih bisa merasakannya, rasa nyeri yang aneh. Ingatannya kembali pada saat ia berada di ruang persidangan. Tanda di dadanya. Dan- Kael. Arcellia bangkit dari posisi tidurnya, dan dia menangkap keberadaan pria itu. Kael. Berdiri tak jauh darinya sembari menghisap cerutu. Ia nampak tenang, seolah memang sedang menunggu ia bangun. Sesaat Arcellia masih membeku, Kael pun hanya diam menatapnya. Arcellia kembali menekan dadanya, memastikan kalau ini bukanlah sebuah mimpi, dengan suara yang sedikit bergetar, ia bertanya apa yang sebenarnya telah Kael lakukan padanya. Namun laki-laki itu hanya diam, seperti biasanya. Arcellia marah. “Kau menyelamatkanku berkali-kali.” Ia berhenti dan menarik napas dalam-dal
“Cinta..” Raja mengulang kata itu pelan, ia memandang Kael cukup lama, terus mengulang kata-kata itu. “Cinta bukan alasan untuk melanggar aturan kita.” Ucapnya. Kini pandangan raja beralih pada Arcellia, ia mengatakan kalau memang wanita manusia itu bukanlah ancaman, apa bukti yang bisa membebaskannya dari tuduhan itu, mengingat artefak itu pun milik ayahnya. Arcellia yang masih terkejut dan termenung sama sekali tak mendengar ucapan raja, ia hanya menatap Kael dan terus bergulat dengan pikirannya sendiri. Julia kembali berbicara, menurutnya tak mungkin hanya ada 1 artefak. “Yang Mulia Raja..sejujurnya panah yang digunakan wanita ini telah melukai Rion.” Ia berhenti sejenak. “Luka itu..belum pulih hingga saat ini.” Beberapa bangsawan pun menegang, ayah Julia pun juga mengiyakan, meskipun Rion hanyalah manusia serigala biasa, harusnya lukanya bisa sembuh cepat, namun sampai saat ini luka itu masih mengeluarkan darah. “Itu karena dia lemah.” Ucap Kael datar. Ucapan i
Aula Vagborn telah di penuhi para bangsawan, tak ada suara dan tak ada bisik terdengar, seolah tengah menunggu sesuatu yang menarik. Di tengah ruangan Kael berdiri, namun tak seperti biasanya, pakaiannya tak lagi rapi, ada jejak darah yang telah mengering, lengan bajunya pun sedikit robek. Namun Kael masih berdiri tegak, masih menatap dengan percaya diri, seolah tubuh yang melemah itu tak pernah ada. Di atas singgasana Raja memandangnya dengan dingin. Terdengar sebuah suara yang menggema, mengatakan kalau Kael kali ini dipanggil bukanlah sebagai seorang putra raja, melainkan sebagai pihak yang harus menjawab. “Anda membawa manusia ke wilayah kita.” “Melindunginya dan menyerang salah satu dari kita sendiri.” Nama itu akhirnya disebut. “Rion.” Para Bangsawan mulai berbisik pelan, namun Raja meminta mereka untuk diam. “Jelaskan.” Ucap Raja dengan tegas. Kael tak langsung menjawab, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Karena dia tak mendengar perintahku.” Raja belum ber
Setelah lolongan dan kegaduhan waktu itu, sama sekali tak ada pertumpahan darah, tak ada taring yang mengoyak siapa pun, yang terjadi justru membuat ia semakin kebingungan. Noel dan Yuan yang terlihat santai seolah itu adalah hal yang biasa bagi mereka. Sesungguhnya ia masih sangat ketakutan, meski tubuhnya gemetar dan dadanya sesak, Arcellia memaksa punggungnya untuk tetap tegak. Tak ingin membiarkan ketakutan menjatuhkan lagi martabatnya yang tersisa Kali ini ia dibawa ke ruangan baru, tak seperti sebelumnya, manusia serigala itu membawanya ke tempat yang layak, tak ada rantai, tak ada jeruji, bahkan ruangan itu tak gelap, tak seperti penjara. Hanya kamar hangat, yang bersih meskipun asing. Namun ia tak menganggap hal ini sebagai kebaikan, ia masih teringat bagaimana wajah polos dan cantik Julia telah menipunya. Di luar pun para manusia serigala menjaga kamarnya, yang berarti ia tetap saja dikurung, dadanya kembali menegang. Arcellia kembali memegang belatinya, genggamann
Kabut malam menyelimuti Vagborn, di lapangan terbuka dengan hamparan salju berdiri beberapa manusia serigala. Suasana tegang sangat terasa. “Kalian dengar bukan, Rion sudah sadar, ia mengatakan Pangeran kita menyelamatkan manusia.” “Sttt..pelankan suaramu, suasana hati Nona Julia sedang buruk.”
Arcellia berdiri di lorong, lagi-lagi ia sendirian, semalam sebelum kehilangan kesadaran Kael mengatakan akan pergi untuk mengurus sesuatu, namun waktu itu ia tak bisa menjawab. Sebenarnya semalam Kael kembali mengobatinya dengan darah manusia serigala, kini luka di seluruh tubuhnya sudah sembuh,
Arcellia tak pernah menyangka, bantuan yang diminta oleh Kael ternyata adalah memasak untuk dirinya sendiri. Arcellia mengiyakan, toh makanan itu juga untuk dirinya sendiri, sebenarnya ia tak bisa memasak makanan yang rumit, jadi ia hanya membuat sup sederhana menyesuaikan bahan yang Kael bawakan.
Untuk pertama kalinya, Arcellia terbangun dengan tubuh yang lebih ringan. Ia membuka selimut dan mendapati luka di kakinya sembuh, ia berpikir pasti Kael yang mengobatinya saat ia tertidur. “Lukaku jauh lebih membaik dari sebelumnya, benarkah itu darah manusia serigala ?” Gumamnya seorang diri.







