Se connecterArcellia menatap sisi rahang Kael dengan kening berkerut, ia yakin tadi melihat sebuah bulu, namun sekarang bulu itu sudah tak ada. Beberapa kali ia mengedipkan mata memastikan. Namun tetap saja bulu berwarna putih itu tak ada.
"Kenapa kau menatapku seperti itu ?" Tanya Kael. Arcellia terdiam sejenak, "Aku melihat bulu putih di wajahmu, namun sekarang tak ada. Sepertinya aku salah lihat." Meskipun berkata begitu, tetap saja perasaan aneh itu tetap tertinggal. Kael memperhatikan cara Arcellia berdiri, salah satu tangannya menopang tubuhnya dengan berpegangan pada dinding. "Aku kan sudah bilang jangan beranjak dari ranjang." Ucap Kael. Lagi-lagi pria itu membantunya kembali ke dalam kamar, mereka berjalan dalam diam, sampai pada akhirnya Arcellia membahas suara lolongan yang ia dengar tadi. "Kau pasti mendengarnya kan ? Suara lolongan itu sangat keras dan mendominasi, setelah suara itu muncul lolongan lain tak terdengar." Ucap Arcellia. Kael hanya mengatakan suara itu adalah suara pemimpinnya. Tak lama mereka sudah tiba di dalam kamar. Ia membantu Arcellia duduk di sudut kasur, lalu ia juga berpamitan untuk pergi. Sekali lagi ia meminta Arcellia untuk tak pergi kemanapun, ia hanya mengatakan akan segera kembali. Sementara itu di Kekaisaran Lunareth, tepatnya di kediaman bangsawan Solmire. "Nona Arcellia belum juga di temukan Tuan Duke." Ucap salah seorang prajurit muda sembari berlutut. "Sudah beberapa hari dia masih belum ketemu, tambah pasukan dan masuk ke lebih jauh ke dalam hutan, ia pasti ditemukan." Titah Duke. Duke Arcellion Solmire, ayah Arcellia yang berada nampak lemas, ia sangat mengkhawatirkan keadaan putrinya. Tiba-tiba saja pintu terbuka, Putra Mahkota berjalan mendekat, ia meminta maaf karena kejadian ini merupakan keteledorannya. Ia datang tanpa memberitahu bahkan tak ada yang mengabarkan kedatangannya. "Duke Solmire, aku pasti akan menemukan Arcellia, bagaimanapun ini kesalahanku, aku tahu ia ingin mendapatkan serigala putih, harusnya aku menahan atau menemaninya.." ucapnya lemah. Duke menatapnya lama, tatapannya penuh akan amarah. Ya benar, ini semua karena kontes berburu itu. Memburu serigala putih untuk permaisuri. Duke Arcellion Solmire tersenyum sinis. "Sejak awal aku sudah memperingatkan Yang Mulia." "Putriku bukan bidak dalam permainan Istana." Ucap Duke Solmire Hening. Putra mahkota tak membalas ucapan kurang ajar itu, ia tahu Duke hanya kecewa dan sangat mengkhawatirkan keadaan Arcellia. "Aku akan menemukannya." Ucap Putra Mahkota. "Menemukannya ? Apakah anda lupa seperti apa hutan utara itu ?" Tanya Duke. Putra Mahkota diam, ia tak bisa menjawab, siapapun tahu kalau hutan utara adalah tempat berbahaya, namun tempat mereka berburu adalah wilayah yang memang selalu di jaga oleh prajurit kekaisaran Lunareth. “Aku tahu itu tempat seperti apa, karena itu aku pasti akan membawanya pulang.” Duke tak langsung menjawab, kalaupun di temukan pasti putrinya sudah tak bernyawa. Putra Mahkota tak berkata apa-apa lagi, ia hanya memberi hormat singkat pada Duke, lalu berbalik, ia sudah memutuskan untuk ikut masuk ke dalam hutan. Beberapa ksatria mendekat begitu Putra Mahkota keluar dari kediaman Solmire. “Yang Mulia..apa anda akan benar-benar pergi ?” “Ya, aku yang tak menjaganya dengan baik, tentu saja aku harus bertanggung jawab. Siapkan kuda, kita pergi sekarang.” Titah Putra Mahkota. ========= Hutan Utara… Udara terasa sangat dingin malam ini, Kael berdiri di sebuah batu besar di tengah hutan. Matanya menatap tajam beberapa pria dengan kepala tertunduk. Salah satu dari mereka maju dan memberi salam pada Kael. “Manusia-manusia itu terus bergerak ke dalam hutan. Pasti mereka mencari wanita itu.” Kael diam, tentu saja ia tahu. Para pria itu masih diam, tak berani bergerak dan bicara apapun lagi. Sampai pada akhirnya pria yang berbicara tadi kembali berucap. “Haruskah kami mengusir mereka, Yang Mulia ?” Kael menolak, akan ada orang lain yang mengurus hal itu. “Awasi saja, jangan menyerang dan jangan terlalu dekat. Bawahan Julia pasti akan mengurusnya dengan baik.” Ucap Kael. “T-tapi Yang Mulia…Nona Julia beberapa kali menanyakan keberadaan anda..” belum usai pria itu berbicara, Kael sudah memotongnya. “Aku tahu, katakan padanya aku tak ingin bertemu, pastikan ia tak bisa menemukanku, dan jangan biarkan siapapun mendekati tempat itu, Yuan!” Ucap Kael dengan tegas. “Ya, Yang Mulia.” Jawab Yuan. Yuan adalah salah satu bawahan paling setia Kael. Sudah bertahun-tahun ia mengikutinya dan menjadi orang yang paling bisa di percaya untuk menjaga tempat itu. Namun salah seorang pria lain maju, meskipun terlihat ragu pada akhirnya ia harus berbicara. “Masih ada satu hal lagi Yang Mulia.” Ucapnya. Kael menatapnya dengan dingin, melihatnya saja pasti hal yang dikatakan akan membuatnya marah. “Katakan.” Ucap Kael. “Beberapa dari kawanan…tidak setuju manusia itu berada disini.” Hutan mendadak lebih sunyi, hanya suara angin yang terdengar. Pria itu menjelaskan kalau kawanan lain tak setuju manusia yang diselamatkan Kael berada disini, apalagi Kael sampai memberi darahnya yang berharga, padahal Arcellia telah menyakiti serigala mereka. “Lalu ?” Ucapan Kael semakin dingin, membuat suasana semakin mencekam. “Yang Mulia…wanita itu telah menyakiti serigala Nona Julia, bahkan ia juga menyakiti yang lainnya, kalau sampai berita ini terdengar ke Kerajaan pasti posisi anda akan berbahaya.” Jelasnya dengan berani. Kael hanya tersenyum sinis, ia tahu namun dia harus memastikan Arcellia tetap berada disisinya sampai hal itu tercapai. “Kalau begitu bawa kepala mereka yang membangkang padaku." "Aku tak butuh serigala yang tak patuh, terutama yang tak setia.” Ucapnya tenang. Ketenangan itu justru membuatnya semakin berbahaya, Yuan maju dan meminta Kael untuk merubah perintahnya. “Yang Mulia...jangan, tolong ampuni mereka, aku akan pastikan mereka tak menentang, kita tak boleh kehilangan lebih banyak lagi.” Ucapnya. “Kalau begitu buat mereka tunduk." “Seperti yang anda perintahkan.” Jawab Yuan. Setelah itu Kael tak berkata apa-apa lagi, ia berbalik lalu bergerak dengan cepat. “Dia sudah pergi…” Seperginya Kael, Yuan berdiri, tatapannya tertuju pada yang lain. “Kalian sudah gila, terutama kau Noel!” Ucapnya. Pria yang bernama Noel pun menjawab dengan santai, ia tahu kalau Yuan pun sebenarnya tak setuju wanita itu ada disini, apalagi soal pemberian darah itu. “Meskipun aku tak setuju tapi Yang Mulia ingin dia hidup, apa yang dia lakukan ada alasannya.” Ucap Yuan. Yuan pun meminta Noel dan yang lainnya untuk mendengarkan perintah tadi, karena ia pun tak ingin menyakiti mereka. “Namun Nona Julia sudah tahu kalau Yang Mulia lah yang menyelamatkan wanita itu, apa kau pikir kita bisa melindunginya ? Kawanan kita juga akan terluka.” Ucap Noel. Yuan tahu, karena itulah ia meminta Noel dan lainnya untuk diam dan menghindari Julia serta kawanannya untuk sementara waktu, Kael pasti tengah menyusun rencana.Cahaya pagi masuk melalui celah jendela, Arcellia terbangun. Ia terbangun karena merasakan sesuatu yang hangat, di dadanya. Refleks ia langsung menyentuhnya, tanda itu masih ada. Hangat. Arcellia bangkit. Yang pertama ia lihat adalah Kael. Ia tenang, seolah tak pernah terjadi apapun. Tak lama pintu terbuka. Lelaki lain yang ia kenal masuk, Yuan. Ia datang dengan membawa nampan berisi makanan. Arcellia diam, pandangannya berubah. Kejadian di aula sebelumnya kembali muncul di kepalanya. Saat lelaki itu menahan amarah Raja, ayah Kael. Yuan pun sempat menatapnya untuk sesaat, tak lama. Tatapannya tak dingin, namun juga tak ramah. Seolah tengah mempertanyakan maksud pandangannya. Yuan meletakkan nampan itu dengan tenang di hadapan Kael. "Apa..." Suaranya pelan, namun cukup jelas. "...kau juga manusia serigala, Yuan?" Sunyi. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Meskipun Arcellia sudah tahu jawabannya, namun ia juga ingin tahu, ingin mendengarnya langsung da
Prangg! Suara pecahan kaca keras memecah ruangan, serpihan itu jatuh berserakan di lantai. Namun Julia tak berhenti, ia terus membanting setiap barang yang ia lihat. Kamarnya kini nampak bak tempat tak terawat. “Tak masuk akal!!” Suaranya menggema. Ia terus berteriak, tak percaya dengan apa yang telah terjadi, ia tertawa sesaat, namun beberapa detik kemudian kembali berteriak penuh amarah. “Menandai-“ “Seorang manusia!” Hening sesaat. Julia menendang ranjangnya sendiri, membuatnya remuk dalam sesaat. “Ia-“ Kalimatnya terputus. “Dia bodoh sekali.” Air mata jatuh. Di sudut ruangan Rion berdiri, diam mengamati, beberapa detik kemudian ia berjalan, mendekat dan memeluk tubuh Julia yang meringkuk. “Nona-“ Suaranya rendah, berharap Julia lebih tenang. “Aku tak pernah tahu apa ritual penyatuan itu.” Hening. Julia membeku, perlahan ia mengangkat pandangannya. “..kau juga tak tahu ?” “Ya, Nona.” Jawabnya. Sunyi. Untuk pertama kalinya, Julia tak bisa m
Lagi-lagi Arcellia tersadar di tempat yang asing, langit-langit batu yang tinggi menyambutnya, ia tak lagi terbangun di dalam penjara ataupun kamar yang ia tempati sebelumnya, entah kenapa saat ini perasaanya lebih tenang. Tangannya refleks naik ke bagian dada, ia masih bisa merasakannya, rasa nyeri yang aneh. Ingatannya kembali pada saat ia berada di ruang persidangan. Tanda di dadanya. Dan- Kael. Arcellia bangkit dari posisi tidurnya, dan dia menangkap keberadaan pria itu. Kael. Berdiri tak jauh darinya sembari menghisap cerutu. Ia nampak tenang, seolah memang sedang menunggu ia bangun. Sesaat Arcellia masih membeku, Kael pun hanya diam menatapnya. Arcellia kembali menekan dadanya, memastikan kalau ini bukanlah sebuah mimpi, dengan suara yang sedikit bergetar, ia bertanya apa yang sebenarnya telah Kael lakukan padanya. Namun laki-laki itu hanya diam, seperti biasanya. Arcellia marah. “Kau menyelamatkanku berkali-kali.” Ia berhenti dan menarik napas dalam-dal
“Cinta..” Raja mengulang kata itu pelan, ia memandang Kael cukup lama, terus mengulang kata-kata itu. “Cinta bukan alasan untuk melanggar aturan kita.” Ucapnya. Kini pandangan raja beralih pada Arcellia, ia mengatakan kalau memang wanita manusia itu bukanlah ancaman, apa bukti yang bisa membebaskannya dari tuduhan itu, mengingat artefak itu pun milik ayahnya. Arcellia yang masih terkejut dan termenung sama sekali tak mendengar ucapan raja, ia hanya menatap Kael dan terus bergulat dengan pikirannya sendiri. Julia kembali berbicara, menurutnya tak mungkin hanya ada 1 artefak. “Yang Mulia Raja..sejujurnya panah yang digunakan wanita ini telah melukai Rion.” Ia berhenti sejenak. “Luka itu..belum pulih hingga saat ini.” Beberapa bangsawan pun menegang, ayah Julia pun juga mengiyakan, meskipun Rion hanyalah manusia serigala biasa, harusnya lukanya bisa sembuh cepat, namun sampai saat ini luka itu masih mengeluarkan darah. “Itu karena dia lemah.” Ucap Kael datar. Ucapan i
Aula Vagborn telah di penuhi para bangsawan, tak ada suara dan tak ada bisik terdengar, seolah tengah menunggu sesuatu yang menarik. Di tengah ruangan Kael berdiri, namun tak seperti biasanya, pakaiannya tak lagi rapi, ada jejak darah yang telah mengering, lengan bajunya pun sedikit robek. Namun Kael masih berdiri tegak, masih menatap dengan percaya diri, seolah tubuh yang melemah itu tak pernah ada. Di atas singgasana Raja memandangnya dengan dingin. Terdengar sebuah suara yang menggema, mengatakan kalau Kael kali ini dipanggil bukanlah sebagai seorang putra raja, melainkan sebagai pihak yang harus menjawab. “Anda membawa manusia ke wilayah kita.” “Melindunginya dan menyerang salah satu dari kita sendiri.” Nama itu akhirnya disebut. “Rion.” Para Bangsawan mulai berbisik pelan, namun Raja meminta mereka untuk diam. “Jelaskan.” Ucap Raja dengan tegas. Kael tak langsung menjawab, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Karena dia tak mendengar perintahku.” Raja belum ber
Setelah lolongan dan kegaduhan waktu itu, sama sekali tak ada pertumpahan darah, tak ada taring yang mengoyak siapa pun, yang terjadi justru membuat ia semakin kebingungan. Noel dan Yuan yang terlihat santai seolah itu adalah hal yang biasa bagi mereka. Sesungguhnya ia masih sangat ketakutan, meski tubuhnya gemetar dan dadanya sesak, Arcellia memaksa punggungnya untuk tetap tegak. Tak ingin membiarkan ketakutan menjatuhkan lagi martabatnya yang tersisa Kali ini ia dibawa ke ruangan baru, tak seperti sebelumnya, manusia serigala itu membawanya ke tempat yang layak, tak ada rantai, tak ada jeruji, bahkan ruangan itu tak gelap, tak seperti penjara. Hanya kamar hangat, yang bersih meskipun asing. Namun ia tak menganggap hal ini sebagai kebaikan, ia masih teringat bagaimana wajah polos dan cantik Julia telah menipunya. Di luar pun para manusia serigala menjaga kamarnya, yang berarti ia tetap saja dikurung, dadanya kembali menegang. Arcellia kembali memegang belatinya, genggamann
Kabut malam menyelimuti Vagborn, di lapangan terbuka dengan hamparan salju berdiri beberapa manusia serigala. Suasana tegang sangat terasa. “Kalian dengar bukan, Rion sudah sadar, ia mengatakan Pangeran kita menyelamatkan manusia.” “Sttt..pelankan suaramu, suasana hati Nona Julia sedang buruk.”
Arcellia berdiri di lorong, lagi-lagi ia sendirian, semalam sebelum kehilangan kesadaran Kael mengatakan akan pergi untuk mengurus sesuatu, namun waktu itu ia tak bisa menjawab. Sebenarnya semalam Kael kembali mengobatinya dengan darah manusia serigala, kini luka di seluruh tubuhnya sudah sembuh,
Arcellia tak pernah menyangka, bantuan yang diminta oleh Kael ternyata adalah memasak untuk dirinya sendiri. Arcellia mengiyakan, toh makanan itu juga untuk dirinya sendiri, sebenarnya ia tak bisa memasak makanan yang rumit, jadi ia hanya membuat sup sederhana menyesuaikan bahan yang Kael bawakan.
Untuk pertama kalinya, Arcellia terbangun dengan tubuh yang lebih ringan. Ia membuka selimut dan mendapati luka di kakinya sembuh, ia berpikir pasti Kael yang mengobatinya saat ia tertidur. “Lukaku jauh lebih membaik dari sebelumnya, benarkah itu darah manusia serigala ?” Gumamnya seorang diri.







