LOGINArcellia terbangun perlahan, cahaya beberapa lilin sebagai penerangan di ruangan yang sangat asing baginya. Untuk beberapa saat ia masih terdiam mencoba mengingat apa yang terjadi sebelumnya.
Kontes berburu….serigala…dan lelaki asing. Arcellia belum tahu siapa nama pria itu, Arcellia mencoba bangkit dari tidurnya, perih masih sangat terasa, ia menatap sekeliling, benar-benar sunyi. Meskipun perih dan sakit tak tertahan Arcellia berusaha turun dari kasur, setiap gerakan yang ia lakukan membuat napasnya tertahan sejenak. Ia ingin keluar dan mencari keberadaan pria itu. Perlahan dengan usaha keras Arcellia meraih gagang pintu lalu mendorongnya. Begitu terbuka sempurna, Arcellia hanya melihat lorong kastil yang luas, gelap dan sunyi. Udara di lorong terasa sangat dingin. Arcellia melangkah keluar, suara langkah kakinya bergema pelan, setiap langkah membuat luka di tubuhnya berdenyut kuat, namun sedari ia menyusuri lorong ia sama sekali tak menemukan apapun. Ia sudah berjalan cukup jauh, tubuhnya pun mulai tak stabil. “Dimana sebenarnya pria itu….” gumamnya. Saat mencoba melangkah lagi, tubuhnya terhuyung karena rasa sakit, Arcellia benar-benar kehilangan keseimbangan, dia pasti akan terjatuh dengan keras. Namun sebelum itu terjadi, sebuah tangan melingkar di pinggangnya dengan kuat, menahan agar ia tak jatuh. Arcellia terkejut, ia ingin menoleh dan melihat tangan siapa itu. Namun rasa sakit menjalar ke seluruh tubuhnya, bahkan untuk menggerakkan kepala terasa sulit. “Sudah kubilang jangan bergerak sembarangan.” Suara berat itu terdengar tepat di belakang telinganya, tubuhnya tiba-tiba terasa semakin ringan, pria itu mengangkat tubuhnya dan membawanya kembali ke dalam kamar. Tentunya ia menolak, namun pria itu seperti tak mendengarnya, ia terus berjalan. Di kastil sebesar ini namun tak ada penjaga, pelayan, bahkan seolah tak ada kehidupan, saat ingin bertanya, mereka sudah tiba di dalam kamar, pria itu menurunkan tubuhnya dengan lembut dan hati-hati. “Kenapa kastil ini sepi sekali ?” tanya Arcellia. “Dan juga gelap.” lanjutnya. Kael tak langsung menjawab, ia hanya berdiri dan menatap tajam Arcellia, tatapannya itu sangat tak dimengerti oleh Arcellia. “Karena ini wilayahku.” Jawab Kael singkat. Arcellia hanya semakin bingung dengan jawaban yang diberikan oleh Kael, “wilayahmu ?” Kael hanya mengangguk, jawabannya sudah cukup jelas. Arcellia menghela nafas pelan, ia bertanya-tanya siapa nama pria di depannya ini. “Kael.” Jawabnya singkat. “Kael dari keluarga mana ?” Kael tak langsung menjawab, Arcellia melanjutkan, menurutnya pasti Kael adalah seorang bangsawan karena ia tinggal di kastil yang besar, meskipun tak ada pelayan ataupun penjaga. “Kael Moonveil.” Jawabnya tanpa basa-basi. Arcellia mengerutkan keningnya,nama keluarga itu ia tak tahu, namun sepertinya ia pernah melihat dan membacanya, entah dimana. Namun tiba-tiba saja Arcellia meringis, lukanya kembali mengeluarkan darah. Kael mendekat, matanya sangat mencurigakan, kini ia bisa benar-benar melihat dan memperhatikan tiap inci wajah Kael. Rambutnya gelap dan sedikit berantakan di bagian dahi. Garis rahangnya tegas, tatapannya tajam, kulitnya putih ahh pucat. Matanya…. Matanya aneh, seolah menyimpan satu hal besar. “Cakaran ini sangat dalam.” Ucap Kael. Ia menyentuh luka itu dan mengusapnya pelan, membuat Arcellia meringis kesakitan, ujung jarinya tentu saja ternoda oleh darah. Kael menatap darah yang menempel di ujung jarinya beberapa saat. Tanpa mengalihkan pandangan dari Arcellia, ia mengangkat tangan itu dan mengecap darah tersebut. Gerakan itu singkat namun membuat Arcellia membeku, ia berharap ia salah mengenali. “Serigala itu hampir merobek wajahmu.” Ucap Kael dengan nada datar. “….Terima kasih sudah menyelamatkanku di hutan, aku tak akan melupakannya dan pasti membalas kebaikanmu.” Ucap Arcellia dengan nada serius. Sudut bibir Kael terangkat tipis, “Tentu saja, kau memang harus melakukannya, termasuk janji itu.” Arcellia pun kebingungan, ia sama sekali tak tahu, “janji apa ? Aku tak pernah menjanjikan apa pun padamu..t-tapi aku tahu kau telah menyelamatkanku, aku pasti akan membalasnya.” “Tidak.” Suara Kael lebih tajam dari sebelumnya. “Apa maksudmu dengan tidak ?” Tanya Arcellia dengan sedikit terkejut akan perubahan Kael. “Itu bukan janji kecil yang bisa kau lupakan kapan saja, janji itu sangat penting.” Jelas Kael. Namun Arcellia benar-benar tak tahu, lagipula ia tak pernah bertemu dengan Kael sebelum peristiwa di hutan itu. “Janji yang kau berikan, kau harus mengingatnya.” Ucap Kael. Arcellia tak bisa memberikan respon apapun, tiba-tiba saja terdengar suara lolongan serigala, tirai tebal yang menutupin jendela pun tersingkap, memperlihatkan hutan gelap di luar. “Tetaplah disini dan jangan pernah keluar tanpa izin dariku.” Arcellia terdiam, namun dia harus kembali, keluarganya pasti khawatir. “Aku harus kembali, keluargaku pasti mengkhawatirkanku.” Ucap Arcellia. Lagi-lagi Kael hanya berkata tidak, ia melarang keputusan itu. “Bukankah kau akan membalas budi ?” “…Ya tentu saja” Kael kembali mendekat, “kalau begitu lakukan.” Arcellia menyipitkan matanya, “lakukan apa ? apa yang kau i-inginkan ? aku bahkan keluargaku pun pasti akan membalas kebaikanmu.” Dengan tenang Kael meminta Arcellia untuk tinggal di kastil miliknya. Tentu saja hal itu membuat Arcellia terkejut. “A-apa ?!! Itu tidak mungkin, aku tahu kau adalah penyelamatku, namun kita adalah orang asing.” Kael tak peduli, “Aku membutuhkanmu di sisiku.” Arcellia pun mendebat, ia tahu ia telah berhutang nyawa, namun mereka tak saling kenal dan permintaan Kael itu sangat tidak masuk akal. Udara di dalam kamar tiba-tiba saja seperti berubah, tatapan Kael pun kembali berbeda, seperti lebih liar dan lebih gelap. Udara di ruangan terasa semakin gelap. Kemudian tangan Kael meraih kerah pakaian Arcellia, lalu tangan itu berpindah pada lehernya. Cengkraman Kael sangat kuat. “Akh!!” “K-kael.” Dengan susah payah Arcellia meraih pergelangan tangan Kael, napasnya tercekat, air matanya keluar. Cengkraman itupun melemah. “Kau mengatakan tak mengingat janji itu, kini kau juga tak ingin membalas budimu, apa kau pikir aku ini orang yang mudah memaafkan ?” Hening, Kael pun melepaskan cengkramannya dan mundur perlahan. Arcellia menatapnya dengan berlinang air mata, untuk pertama kalinya ia benar-benar merasa takut, bahkan melebihi saat ia diserang segerombolan serigala di hutan. Arcellia memegang lehernya, perlahan ia berusaha menenangkan diri, lalu ia berkata dengan pelan. “Baik…aku sudah mengatakan akan membalas budi dan bukan orang yang menarik kembali ucapanku…aku akan tinggal disini beberapa hari lagi.” “Tidak.” Ucap Kael singkat. “1 bulan.” “Tidak.” “Kalau begitu dua bulan.” Ucap Arcellia. Menurutnya bahkan dengan waktu 2 bulan, lukanya sudah cukup membaik. Namun lagi-lagi Kael menggeleng, ia tak setuju. “Lalu berapa lama ? 1 tahun ?” Kael terdiam, ia bergulat dengan pemikirannya sendiri. “Kau milikku selama 2 tahun.” Ucap Kael tenang. Ruangan terasa sunyi begitu Kael mengatakannya, Arcellia nampak tak percaya, 2 tahun itu waktu yang cukup lama, keluarganya pasti beranggapan ia sudah mati, bahkan ia pun tak tahu berada dimana sekarang. “Dua tahun itu harga untuk nyawamu dan ingat apa yang sudah kau janjikan kepadaku.” Arcellia terdiam namun akhirnya ia mengiyakan, ia tak boleh menarik ucapannya sendiri. Kael berbalik meninggalkan kamar. Tepat sebelum pintu tertutup, ia berkata pelan, "Mulai hari ini, jangan pernah berpikir untuk melarikan diri." Pintu tertutup. Arcellia menggenggam erat selimut di tangannya. Untuk pertama kalinya, ia sadar bahwa kastil itu bukan tempat perlindungan, melainkan sangkar.Cahaya pagi masuk melalui celah jendela, Arcellia terbangun. Ia terbangun karena merasakan sesuatu yang hangat, di dadanya. Refleks ia langsung menyentuhnya, tanda itu masih ada. Hangat. Arcellia bangkit. Yang pertama ia lihat adalah Kael. Ia tenang, seolah tak pernah terjadi apapun. Tak lama pintu terbuka. Lelaki lain yang ia kenal masuk, Yuan. Ia datang dengan membawa nampan berisi makanan. Arcellia diam, pandangannya berubah. Kejadian di aula sebelumnya kembali muncul di kepalanya. Saat lelaki itu menahan amarah Raja, ayah Kael. Yuan pun sempat menatapnya untuk sesaat, tak lama. Tatapannya tak dingin, namun juga tak ramah. Seolah tengah mempertanyakan maksud pandangannya. Yuan meletakkan nampan itu dengan tenang di hadapan Kael. "Apa..." Suaranya pelan, namun cukup jelas. "...kau juga manusia serigala, Yuan?" Sunyi. Pertanyaan itu terdengar sederhana. Meskipun Arcellia sudah tahu jawabannya, namun ia juga ingin tahu, ingin mendengarnya langsung da
Prangg! Suara pecahan kaca keras memecah ruangan, serpihan itu jatuh berserakan di lantai. Namun Julia tak berhenti, ia terus membanting setiap barang yang ia lihat. Kamarnya kini nampak bak tempat tak terawat. “Tak masuk akal!!” Suaranya menggema. Ia terus berteriak, tak percaya dengan apa yang telah terjadi, ia tertawa sesaat, namun beberapa detik kemudian kembali berteriak penuh amarah. “Menandai-“ “Seorang manusia!” Hening sesaat. Julia menendang ranjangnya sendiri, membuatnya remuk dalam sesaat. “Ia-“ Kalimatnya terputus. “Dia bodoh sekali.” Air mata jatuh. Di sudut ruangan Rion berdiri, diam mengamati, beberapa detik kemudian ia berjalan, mendekat dan memeluk tubuh Julia yang meringkuk. “Nona-“ Suaranya rendah, berharap Julia lebih tenang. “Aku tak pernah tahu apa ritual penyatuan itu.” Hening. Julia membeku, perlahan ia mengangkat pandangannya. “..kau juga tak tahu ?” “Ya, Nona.” Jawabnya. Sunyi. Untuk pertama kalinya, Julia tak bisa m
Lagi-lagi Arcellia tersadar di tempat yang asing, langit-langit batu yang tinggi menyambutnya, ia tak lagi terbangun di dalam penjara ataupun kamar yang ia tempati sebelumnya, entah kenapa saat ini perasaanya lebih tenang. Tangannya refleks naik ke bagian dada, ia masih bisa merasakannya, rasa nyeri yang aneh. Ingatannya kembali pada saat ia berada di ruang persidangan. Tanda di dadanya. Dan- Kael. Arcellia bangkit dari posisi tidurnya, dan dia menangkap keberadaan pria itu. Kael. Berdiri tak jauh darinya sembari menghisap cerutu. Ia nampak tenang, seolah memang sedang menunggu ia bangun. Sesaat Arcellia masih membeku, Kael pun hanya diam menatapnya. Arcellia kembali menekan dadanya, memastikan kalau ini bukanlah sebuah mimpi, dengan suara yang sedikit bergetar, ia bertanya apa yang sebenarnya telah Kael lakukan padanya. Namun laki-laki itu hanya diam, seperti biasanya. Arcellia marah. “Kau menyelamatkanku berkali-kali.” Ia berhenti dan menarik napas dalam-dal
“Cinta..” Raja mengulang kata itu pelan, ia memandang Kael cukup lama, terus mengulang kata-kata itu. “Cinta bukan alasan untuk melanggar aturan kita.” Ucapnya. Kini pandangan raja beralih pada Arcellia, ia mengatakan kalau memang wanita manusia itu bukanlah ancaman, apa bukti yang bisa membebaskannya dari tuduhan itu, mengingat artefak itu pun milik ayahnya. Arcellia yang masih terkejut dan termenung sama sekali tak mendengar ucapan raja, ia hanya menatap Kael dan terus bergulat dengan pikirannya sendiri. Julia kembali berbicara, menurutnya tak mungkin hanya ada 1 artefak. “Yang Mulia Raja..sejujurnya panah yang digunakan wanita ini telah melukai Rion.” Ia berhenti sejenak. “Luka itu..belum pulih hingga saat ini.” Beberapa bangsawan pun menegang, ayah Julia pun juga mengiyakan, meskipun Rion hanyalah manusia serigala biasa, harusnya lukanya bisa sembuh cepat, namun sampai saat ini luka itu masih mengeluarkan darah. “Itu karena dia lemah.” Ucap Kael datar. Ucapan i
Aula Vagborn telah di penuhi para bangsawan, tak ada suara dan tak ada bisik terdengar, seolah tengah menunggu sesuatu yang menarik. Di tengah ruangan Kael berdiri, namun tak seperti biasanya, pakaiannya tak lagi rapi, ada jejak darah yang telah mengering, lengan bajunya pun sedikit robek. Namun Kael masih berdiri tegak, masih menatap dengan percaya diri, seolah tubuh yang melemah itu tak pernah ada. Di atas singgasana Raja memandangnya dengan dingin. Terdengar sebuah suara yang menggema, mengatakan kalau Kael kali ini dipanggil bukanlah sebagai seorang putra raja, melainkan sebagai pihak yang harus menjawab. “Anda membawa manusia ke wilayah kita.” “Melindunginya dan menyerang salah satu dari kita sendiri.” Nama itu akhirnya disebut. “Rion.” Para Bangsawan mulai berbisik pelan, namun Raja meminta mereka untuk diam. “Jelaskan.” Ucap Raja dengan tegas. Kael tak langsung menjawab, sudut bibirnya sedikit terangkat. “Karena dia tak mendengar perintahku.” Raja belum ber
Setelah lolongan dan kegaduhan waktu itu, sama sekali tak ada pertumpahan darah, tak ada taring yang mengoyak siapa pun, yang terjadi justru membuat ia semakin kebingungan. Noel dan Yuan yang terlihat santai seolah itu adalah hal yang biasa bagi mereka. Sesungguhnya ia masih sangat ketakutan, meski tubuhnya gemetar dan dadanya sesak, Arcellia memaksa punggungnya untuk tetap tegak. Tak ingin membiarkan ketakutan menjatuhkan lagi martabatnya yang tersisa Kali ini ia dibawa ke ruangan baru, tak seperti sebelumnya, manusia serigala itu membawanya ke tempat yang layak, tak ada rantai, tak ada jeruji, bahkan ruangan itu tak gelap, tak seperti penjara. Hanya kamar hangat, yang bersih meskipun asing. Namun ia tak menganggap hal ini sebagai kebaikan, ia masih teringat bagaimana wajah polos dan cantik Julia telah menipunya. Di luar pun para manusia serigala menjaga kamarnya, yang berarti ia tetap saja dikurung, dadanya kembali menegang. Arcellia kembali memegang belatinya, genggamann
Kabut malam menyelimuti Vagborn, di lapangan terbuka dengan hamparan salju berdiri beberapa manusia serigala. Suasana tegang sangat terasa. “Kalian dengar bukan, Rion sudah sadar, ia mengatakan Pangeran kita menyelamatkan manusia.” “Sttt..pelankan suaramu, suasana hati Nona Julia sedang buruk.”
Arcellia berdiri di lorong, lagi-lagi ia sendirian, semalam sebelum kehilangan kesadaran Kael mengatakan akan pergi untuk mengurus sesuatu, namun waktu itu ia tak bisa menjawab. Sebenarnya semalam Kael kembali mengobatinya dengan darah manusia serigala, kini luka di seluruh tubuhnya sudah sembuh,
Arcellia tak pernah menyangka, bantuan yang diminta oleh Kael ternyata adalah memasak untuk dirinya sendiri. Arcellia mengiyakan, toh makanan itu juga untuk dirinya sendiri, sebenarnya ia tak bisa memasak makanan yang rumit, jadi ia hanya membuat sup sederhana menyesuaikan bahan yang Kael bawakan.
Untuk pertama kalinya, Arcellia terbangun dengan tubuh yang lebih ringan. Ia membuka selimut dan mendapati luka di kakinya sembuh, ia berpikir pasti Kael yang mengobatinya saat ia tertidur. “Lukaku jauh lebih membaik dari sebelumnya, benarkah itu darah manusia serigala ?” Gumamnya seorang diri.







