Se connecterA las dos de la mañana, cuando llegó la llamada urgente de los Ancianos de la manada, yo acababa de salir arrastrándome de debajo de mi amor de la infancia, el heredero Alfa Slade. Mi cuerpo todavía me dolía por su ruda posesión. Como la única sanadora humana en toda la manada Bosque Negro, se me ordenó preparar hierbas como regalo para la alianza de apareamiento de Slade con la manada de las Espinas. Levanté con cuidado el brazo de Slade, que me rodeaba. Tras una noche de pasión, su poderoso cuerpo Alfa aún irradiaba un calor febril. Supuse que esta era solo otra princesa loba a la que él necesitaba rechazar, así que le toqué el pecho con picardía y le pregunté con una sonrisa: —Slade, ¿qué excusa vas a usar por nonagésima vez? ¿Que de repente te dio alergia la princesa? Él se dio la vuelta y me besó la frente, con los ojos pesados por el sueño. —Mi dulce niña, esta vez las hierbas deben ser preparadas por ti, y solo por ti. El éxito de esta alianza descansa sobre tus hombros. Me quedé helada. Durante los últimos diez años, yo había sido su consuelo secreto, la que calmaba sus ataques violentos de ira cada noche. Pensé que, tarde o temprano, me ganaría una ceremonia de unión formal. Pero en ese momento, lo comprendí. Yo era solo una conveniencia, un cuerpo para su uso personal. Si eso era todo lo que yo significaba para él, entonces reduciría a cenizas todo lo que teníamos. Hice una llamada a mi antiguo mentor en el Instituto Nacional de Medicina, el profesor Sterling. —Profesor, ese puesto de investigación sobre genética... ¿todavía está abierto? Estoy lista para regresar al mundo humano. Pero cuando ese Alfa arrogante, que decía que éramos "solo amigos" y "estrictamente profesionales", descubrió que ya no podía percibir ni un leve olor mío en el aire, perdió completamente la cabeza.
Voir plusDzrrrtt ....
Lintang mengabaikan ponselnya yang bergetar menandakan adanya panggilan masuk.
Barulah setelah meeting selesai, Lintang kembali melihat ponselnya. Terlihat lima puluh pesan singkat dan dua puluh panggilan tak terjawab dengan nama kontak 'IBU RATU' di layar ponselnya.
Baru saja Lintang membuka satu pesan yang bahkan belum sempat ia baca, kontak dengan nama 'IBU RATU' itu kembali membuat ponselnya berdering.
"Ada apa? Aku baru selesai meeting!" jawabnya kesal.
"Nanti malam kamu harus luangkan waktumu untuk makan bersama! Mama nggak mau tau! Kamu harus dateng! pokoknya harus! Kalau nggak, mama bisa nekat bikin malu kamu dengan mendatangi kantormu dan ...," desak Mayang memaksa putrinya agar menuruti kemauannya. Tanpa menanggapi ancaman sang Bunda
Lintang mematikan ponselnya.
"Menyebalkan sekali!" Lagi-lagi ia menggerutu di tengah kesibukannya.
Selang beberapa menit, seorang wanita memanggilnya.
"Bu lilin, pak Bowo memanggil Anda ke ruangannya," ucap Anita seorang sekretaris yang cantik nan manis dengan lesung di kedua pipinya.
"Haih ... ada apa lagi ini? Masih pagi kok ya udah banyak yang bikin sebel sih! Ngerusak mood aja!" keluh Lintang yang kekesalannya sudah di ubun-ubun.
Nampaknya pagi itu adalah pagi yang benar-benar membuat mood Lintang memburuk.
Tok ... tok ... tok ....
Setelah pintu dibuka nampak sebuah senyuman hangat dan ramah terukir pada wajah pria paruh baya yang garis halus mulai terlihat samar dikeningnya.
"Bapak memanggil saya?"
"Ah iya! Masuk Lin. Sini, sini!" pinta Bowo antusias dengan nada bicara dan logat yang khas nampak seolah sangat akrab dengan Lintang.
"Ada apa pak? Apakah ada masalah dengan ...."
Ceklek!
Lintang menoleh ke arah sumber suara tanpa menyelesaikan kalimatnya. Kali ini nampak seorang pria muda serta rupa yang asing masuk keruangan itu.
"Ah, akhirnya datang juga. Iyak! Lintang, ini Ishan dan Ishan ini Lintang karyawan paling kompeten, paling cekatan dan pokonya paling best lah di sini."
Dengan antusiasnya Bowo memperkenalkan Lintang pada Ishan diiringi dengan pujian setinggi langit. Namun siapa sangka dibalik pujiannya itu terselip harapan, lebih tepatnya niat terselubung Bowo agar Ishan dapat menerima dan bisa rukun dalam bekerja sama dengan Lintang.
Bowo adalah direktur utama di perusahaan Lintang bekerja. Bukan tanpa sebab Bowo begitu akrab dan memuji Lintang setinggi langit. Ia sangat akrab dengan Lintang lantaran Lintang adalah karyawan andalan lebih tepatnya aset perusahaan bagi Bowo. Betapa tidak, Lintang yang cekatan selalu mampu membereskan kekacauan yang dibuatnya akibat kecerobohannya yang sudah mendarah daging.
Namun, Ishan pria asing yang baru datang ini justru mengabaikan Bowo yang merupakan paman sekaligus ayah angkatnya.
Ia terpaku menatap wajah gadis yang tujuh tahun silam meninggalkannya, kini berada tepat di hadapannya.
"Kau? Di sini?!" tanyanya yang menunjukkan seolah sudah mengenal Lintang sebelumnya.
"Maksudnya?" jawab Lintang yang mengerutkan keningnya.
"Eh, kalian sudah saling kenal?" tanya Bowo menyela.
"Maaf, mungkin saya lupa, tapi anda siapa?" tanya Lintang yang menyerah lantaran benar-benar tak mengenali pria yang berdiri di hadapannya itu.
"Ah, bahkan kau tak mengenaliku?Alasan itukah yang membuatmu enggan menjabat tanganku? Apakah ini yang namanya karyawan teladan?" tanya Ishan yang tiba-tiba menunjukkan ekspresi marah.
"Ah maaf, iya saya mohon maaf atas kel ...."
"Ah ... sudahlah! Itulah kamu."
Ishan mengibaskan tangannya menolak tangan Resti lantaran kesal di abaikan.
"Ada masalah apa dengan pria ini? Baru pertama kali ketemu udah songong aja! Jadi pengen jahit tu mulut!" umpatnya dalam hati berusaha menahan diri untuk mencaci.
"Maaf menyela, tapi ijinkan saya bicara dulu," ucap Bowo menyela untuk kembali melanjutkan memperkenalkan keduanya.
"Lintang, ini adalah Ishan yang akan menggantikan saya sebagai direktur utama untuk mengurus perusahaan ini."
Lintang mulai merasa tertekan mendengar apa yang di sampaikan oleh bosnya.
"kabar bagusnya, mulai hari ini juga kamu juga ku angkat sebagai wakil direktur untuk mendampingi Ishan."
Seketika mata Lintang melotot seolah bola matanya hendak melompat keluar saking terkejutnya.
"Maaf, sepertinya saya salah dengar dan saya juga sangat tidak paham dengan apa yang bapak sampaikan."
"Hadeh ... katanya karyawan paling kompeten dan paling hebat, tapi selain dungu juga tuli! Benar-benar paket combo. Sepertinya aku bakal berumur pendek kerja bareng dengan karyawan model begini."
Ishan tanpa ragu mengolok Lintang dengan sindirannya.
"Nah mulai lagi ni cowok! Kalau di lihat lagi, bibir itu tidak asing!" batinnya dengan melemparkan tatapan tajam ke arah Ishan. Meski kesal dengan ucapan Ishan tapi Lintang mulai mengingat pria yang dari tadi bersikap sinis terhadapnya.
"Sepertinya saya mulai ingat sekarang! Lu bukannya mantan pacar gue yang culun itu ya? Yang dulu suka banget ngintilin gue di perpus bukan?"
Pertanyaan yang di lontarkan Lintang sontak membuat Bowo dan Ishan kaget hingga menunjukkan reaksi yang tak terduga. Ishan yang dengan sikap diamnya seolah mengiyakan pertanyaan Lintang. Sedangkan disisi lain Bowo sudah menutup mulutnya dengan tangan kanannya menahan tawa melihat kebungkaman Ishan atas pertanyaan Lintang.
"Hmm ... tapi seingatku namanya Satrio atau Tio sapaan akrabnya. Tapi apa mungkin itu kamu?" tanya Lintang memainkan telunjuknya di ujung bibir merahnya.
"Oh bisa jadi itu benar Lin, karena nama panjangnya Satrio Ishan kartadinata, akan lebih bagus kalau kalian CLBK," kelakar Bowo menyela dengan cekikik tawa yang memudar lantaran menjawab praduga Lintang.
"Ah, ternyata itu beneran kamu toh. Tapi sekarang penampilanmu lumayan, nggak seculun dulu."
Lintang membalas olokan Ishan sebelumnya dengan komentarnya. Sementara itu Bowo terpingkal-pingkal mendengar keponakan sekaligus anak angkatnya yang selama ini ia kenal sebagai pria yang selalu di puja wanita kini di olok oleh seorang wanita tepat didepan matanya.
"Om! Om Bowo mending cepetan pulang deh! Bukannya om ada acara sama calon istri Om ya?" ucap Ishan yang saking malunya hingga ingin segera Bowo pergi.
"Hahaha ... iya ... iya. Tapi sebelum itu, om harus mengumumkan dan memperkenalkan kalian dulu donk. Masak direktur utama di ganti tapi bawahan nggak ada yang tau? Kan nggak lucu."
Ketiganya keluar dan Bowo memberikan pengumuman tentang dirinya yang mundur dan digantikan Ishan serta Lintang yang naik jabatan menjadi wakil direktur.
Di tengah pidato Bowo, baik Ishan maupun Lintang justru tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
"Para orang tua yang sudah udzur ini menikah di waktu yang senja rupanya! Lebih dari itu, kenapa tak ada yang mau dengar pendapatku? Bahkan aku tak diberi kesempatan untuk menolak jabatan yang pria tua ini berikan! Sungguh ironis!" gerutu Lintang dalam hati kesal karena jabatan barunya. Lebih tepatnya ia merasa kesal menjadi bawahan Tio mantan kekasihnya.
Sementara itu Tio alias Ishan pun tengah bertanya-tanya dalam hatinya.
"Kira-kira apa alasan Lintang mutusin gue waktu itu? Apa sekarang dia udah punya pacar? Atau bahkan mungkin suami? Dia masih ingat aku, tapi kenapa tingkahnya seolah tak pernah terjadi apapun? Apa aku hanya mainannya? Ah sial! Kepalaku kembali dipenuhi dengan dirinya! Aku bisa gila!" batinnya.
Sepanjang pidato ia terus bergelut dengan pikirannya sampai-sampai ia tak mendengar jika Bowo memintanya memberi sambutan.
Lintang yang berada tepat di sampingnya pun menyenggol lengan Ishan dengan sikunya.
"Berhentilah memikirkan diriku, saatnya memberi penyambutan,"bisik Lintang asal meledek. Jarak yang begitu dekat membuat hangat napas Lintang menggelitik telinga Ishan hingga telinga Ishan memerah karenanya. Ditambah lagi aroma parfum yang familiar di indera penciuman Ishan pun merasuk menggoyahkan hati dan mengacaukan pikirannya.
"Aku tidak memikirkanmu!" teriak Ishan spontan dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus, membuat seluruh karyawan bahkan Bowo terkejut serta tertawa geli melihat tingkah putra angkatnya.
Refleks Ishan membuat Lintang geram karena malu hingga membuatnya mencubit pinggang Ishan sambil berucap pelan. Rahang merapat meminimalkan bibir bergerak saat berucap menekankan betapa gemasnya Lintang. "Apa kau benar-benar gila? Dasar bodoh!" bisiknya.
Ishan meringis kesakitan. Tangannya meraih tangan Lintang yang masih kuat mencubit pinggangnya.
Grep!
Ishan terdiam saat memegang tangan Lintang, lantaran merasakan kelembutan tangan Lintang yang dingin di antara nyeri di pinggangnya akibat cubitan Lintang.
"Menjijikkan!" Gerutu Lintang menghempaskan tangan Ishan.
"Silahkan pak Ishan untuk memberikan kata sambutannya," tukas Bowo menengahi dua sejoli yang berseteru dalam bisik.
Saat Ishan memberi kata sambutannya, nampak semua karyawati terpesona oleh rupa elok sang direktur muda itu. Suara Ishan yang berat tapi kalem bak nyanyian idol dambaan mereka. Dalam sekejap ia menjadi idola baru di perusahaan itu.
Usai mengumumkan jabatan baru Lintang dan pergantian direktur baru, Bowo kembali memberi sedikit penjelasan pada tugas-tugas Ishan.
"Jika masih ada yang belum kamu pahami atau butuh bantuan, kamu bisa mengandalkan Lintang. Sudah ya, jangan lupa. Nanti malam kamu harus datang. Om pergi ya? Yang rukun sama mantan," ledek Bowo sebelum pergi meninggalkan Ishan.
Punto de vista de EloiseCinco años después, Zurich.El sol de la tarde se esparcía por el lago, brillando como un puñado de diamantes triturados. El sonido de dos series de risas plateadas provenía del jardín.—¡Mami! ¡Mira! ¡Atrapé una!Mi hijo de cinco años corrió hacia mí, sosteniendo una mariposa. Detrás de él, mi hija, que acababa de aprender a caminar, iba tambaleándose tras su hermano como un patito torpe. Me senté en una silla de mimbre en la terraza, con una taza de té negro caliente en las manos.Mientras la brisa pasaba, toqué inconscientemente mi cuello. Una delicada cadena de platino descansa allí, de la cual cuelga el diamante sencillo y perfecto que Julian me regaló. Lo uso siempre, sin querer quitármelo nunca. Mientras tanto, en lo profundo de un cajón del tocador de mi habitación, con una fina capa de polvo se había asentado sobre la caja de terciopelo, estaba el colgante de piedra lunar remendado, estaba ahí tranquilamente. Una reliquia hermosa de otra vida.
Punto de vista de EloiseLa represalia de los conservadores llegó más rápido de lo que había imaginado.Nevaba intensamente esa noche. Julian y yo acabábamos de salir del laboratorio y nos dirigíamos al auto.—¿Fondue esta noche? —preguntó Julian, abriendo un paraguas negro para protegerme de la nieve que se arremolinaba.Sonreí y asentí.De repente, varias figuras oscuras surgieron de los rincones sombríos del estacionamiento. El aire se llenó instantáneamente del hedor fétido y salvaje de los lobos, irradiando una violenta intención asesina.—¡Cuidado! —Julian me lanzó detrás de él, pero era demasiado tarde.Una hoja de plata silbó junto a mi cara, incrustándose profundamente en un pilar de concreto. La empuñadura vibraba. Era una daga envenenada. Eran los lobos leales que quedaban de la manada de las Espinas, junto con los conservadores radicales que veían el Protocolo Vance como una amenaza.Otra sombra se lanzó directamente hacia mí, apuntando a mi garganta. Justo cuando l
Punto de vista de EloiseDespués de aquello, no supe nada de Slade durante mucho tiempo. Mientras tanto, mi relación con Julian fue encajando gradualmente. Nos habíamos convertido en una parte indispensable de la vida del otro.En un banquete de celebración por uno de nuestros proyectos de investigación, las lámparas de cristal centelleaban y las burbujas de champán subían por las copas. Julian estaba a mi lado, luciendo impecable en un traje sencillo y bien cortado. De repente, se aclaró la garganta y le hizo una señal a la banda para que dejara de tocar. El salón quedó en silencio. Todos los ojos se centraron en nosotros.Sentí curiosidad por su acción repentina, hasta que se arrodilló sobre una pierna ante todos, sosteniendo un anillo de diamantes sencillo pero de diseño exquisito.—Eloise —comenzó, con la voz temblando ligeramente, pero llena de un amor fuerte—, estos últimos dos años me has demostrado lo que es el verdadero coraje. No solo has curado a una especie, me has cura
Punto de vista de EloiseEl auto apenas había avanzado dos manzanas cuando el chirrido de unos neumáticos rasgó el aire delante de nosotros. Un todoterreno negro viró erráticamente, cruzando tres carriles de tráfico para bloquear mi convoy.Slade saltó del vehículo. Ignoró los disparos de advertencia de mis guardaespaldas y corrió hacia mi auto como un loco. Ya no llevaba corbata ni chaqueta, y su camisa estaba empapada en sudor, pegada a su cuerpo.—Doctora, dé la orden y lo embestiremos —dijo el conductor, con la mano ya en la palanca de cambios.—No —presioné el botón para bajar la ventanilla, observándolo con frialdad—. Dejen que venga.Él golpeó mi ventana blindada, con los nudillos blancos por la fuerza.—¡Eloise! ¡Sal del auto! ¡Solo dime por qué! ¡¿Por qué no puedes perdonarme?! ¡¿Por qué?!El viento nocturno era frío, pero el hielo en mi corazón era más frío. Salí del auto.—¿Estás loco, Slade? —le pregunté con voz plana—. ¿Estás buscando la muerte?—¿La muerte? —solt






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.