LOGINUn hombre lobo solo tiene un compañero destinado en toda su vida. Sin embargo, mi esposo, el Alfa Derek, se negaba a reconocerme como su única compañera. Y todo… ¡porque yo era humana! Seis años antes, para poder estar con él, me habían obligado a firmar con los ancianos de la manada un humillante contrato de reproducción. En el mismo se estipulaba que: si yo daba a luz a un heredero durante el primer año de matrimonio, recibiría una compensación de diez millones; si daba a luz en los primeros tres años, tres millones; y, si no quedaba embarazada en seis años, no podría interferir en las relaciones extramaritales de mi esposo. —¡¿Te convertiste en mi compañera por mí o por la fortuna de la Manada Thorn?! —rugió Derek, con los ojos encendidos de furia. Tras estas palabras, desde aquel día, para castigarme, llevaba deliberadamente a su asistente Camilla a todos los eventos, colmándola de atenciones frente a mí. Hasta que, el sexto año, llevó a Camilla a vivir a la mansión y, delante de todos, le colocó mi collar de Luna. —Camilla es pura y bondadosa. Se merece este collar más que tú. Él creía que, hiciera lo que hiciera, yo nunca lo dejaría. Lo que no sabía era que había otra cláusula en la segunda página de aquel contrato, la cual indicaba que: si al cabo de seis años aún no habíamos tenido un cachorro, cualquiera de los dos podía optar por romper el vínculo de apareamiento. Y solo faltaban siete días para que venciera nuestro contrato.
View More"500 juta untuk pengobatan ibumu, tapi dengan syarat, gauli istriku sampai hamil!"
Degh! Jantung Bayu seolah berhenti berdetak usai mendengar perintah dari suami bosnya sendiri, Rio. Dia yang masih dibalut keringat usai mengepel, mendadak diminta ke ruang CEO dan menerima perintah di luar nalar. Sementara Maudy, sang CEO yang merupakan bos di tempat Bayu bekerja, hanya bisa diam tertunduk melihat perilaku suaminya. “Ini… apa… maksudnya Pak Rio?” tanya Bayu ingin memperjelas maksud dari suami bosnya tersebut. “Kurang jelas? Uang dalam cek ini akan menjadi milikmu, jika kamu bisa menghamili istriku! Kamu punya tubuh yang bugar dan atletis, aku yakin benihmu juga bagus. Tapi, jangan sekali kali kamu berani buka mulut soal ini!” tegas Rio. Beberapa hari lalu, di sebuah rumah sakit, Rio dan Maudy terpaksa harus melakukan test kesuburan organ reproduksi mereka. Bukan tanpa sebab semua itu dilakukan, karena sudah hampir tiga tahun mereka menikah, tetapi belum juga memiliki keturunan. Awalnya Rio menolak hal tersebut, karena sebagai pria harga dirinya akan runtuh jika diketahui mandul. Apalagi, selama ini Rio juga punya masalah dengan organ reproduksinya yang tidak bisa tahan lama, sehingga Maudy sempat mengira bahwa suaminya yang bermasalah. Pada akhirnya Rio menyetujui pemeriksaan itu, tetapi dia memilih untuk berangkat sendiri tanpa Maudy. Karena Rio hanya ingin mendengar hasil pemeriksaan seorang diri. "Saya sudah meninjau hasilnya berulang kali, Pak Rio, dan hasilnya sama. Kondisi ini... bersifat permanen. Secara medis, Anda tidak akan bisa memiliki keturunan," terang Sang Dokter tanpa ada keraguan akan hasil tersebut. Dunia di sekitar Rio seolah berhenti berputar. Kalimat itu menghantam dadanya, menyisakan sesak yang luar biasa. Namun, di balik rasa syok yang melumpuhkan, ada ketakutan lain yang jauh lebih dingin merayap di benaknya. "Permanen? Maksud Dokter, benar-benar tidak ada peluang untuk sembuh? Dengan cara Operasi misalnya? Atau terapi hormon?" tanya Rio untuk meyakinkan dirinya sendiri. Dokter Gunawan menggeleng perlahan. "Maafkan saya. Kerusakannya sudah terlalu sistemik," jelas Sang Dokter. Rio menyandarkan punggungnya, menatap kosong ke langit-langit ruangan. “Mampus aku!” batinnya berteriak. Bayangan wajah Ayahnya yang kaku dan penuh tuntutan langsung melintas. Ayahnya menuntut keturunan sebagai penerus bisnisnya. Rio meratap. Tanpa seorang anak, dia tidak mendapat hak apapun atas semua perushaan dan rumah mewah itu. Semua fasilitas mewah, mobil sport, dan posisi owner yang hampir digenggamnya kini terasa menguap begitu saja. Rio tidak bisa tinggal diam, dia harus mencari cara agar dia dan Maudy punya anak. Apapun caranya, Maudy harus hamil. Sehingga muncul rencana jahat di otaknya dengan menyewa laki laki untuk menghamili istrinya, yang nantinya akan dia akui sebagai anak kandungnya. Dan Bayu, adalah laki laki sial yang menerima tawaran itu. Bayu pun terdiam usai mendengar perintah konyol itu. Itu bukanlah perintah yang mudah diterima begitu saja. Tapi saat mendengar nominal uang lima ratus juta, mendadak dia teringat pada Ibunya. “Ibu butuh uang ini, tapi…. Tugas ini terlalu konyol!” gumam Bayu di dalam hati. Satu minggu yang lalu Ibunya Bayu terbaring di rumah sakit dengan diagnosa gagal ginjal. Untuk kesembuhannya, perlu dilakukan transplantasi ginjal yang tentunya membutuhkan biaya yang besar. Bayu hampir frustasi mencari biaya operasi senilai 125 juta, bahkan sudah menyerah dan mempersiapkan diri jika harus kehilangan Ibunya. Akan tetapi, mendadak ada yang menawarkan dirinya tugas dengan upah yang besar. Bahkan tugasnya bisa dibilang sebuah kenikmatan dunia. “Menghamili Bu Maudy? Bahkan dalam mimpi pun aku tidak berani membayangkan lekuk tubuhnya, dan sekarang aku malah nyata nyata dibayar untuk menghamilinya? Apa aku sedang beemimpi?” gumam Bayu di dalam hati sambil menepuk pelan pipinya untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak sedang bermimpi. Sementara itu, Rio bukan tipe orang yang mau menunggu. Dia juga bukan sedang memberikan Bayu tawaran, melainkan sebuah perintah mutlak yang tidak bisa ditolak. “Terima atau angkat kaki dari perusahaan ini. Dan nama kamu telah diblacklist dimana pun. Tidak ada instansi yang bersedia menerima kamu!” gertak Rio, dan seketika membuat Bayu terpaksa menyetujuinya. Selain karena digertak, dia juga memang butuh uang itu. “Ba..baik Pak Rio. Sayaaaa… saya akan menerima tugas ini,” jawab Bayu dengan terbata bata. Setelah memberikan jawaban pada Rio, otak Bayu berkelana. "Main sama Bu Maudy? Kira kira seperti apa ya rasanya? Dari luar aja tubuhnya kelihatan putih dan mulus, gimana kalau dilihat dari dalam? Apalagi bayangin kalau dia sedang bergoyang diatas ku? Huuuuh, pasti seruuuu!" celetuk Bayu di dalam hati. Otak mesumnya sudah membayangkan seperti apa aksi Maudy di ranjang. Rio tersenyum lega mendengar jawaban Bayu. Sungguh berbeda dengan raut wajah Maudy tertunduk lesu. Masih belum bisa dia terima keputusan suaminya yang nekat menyewa laki laki untuk menghamilinya. Apalagi laki laki yang dia pilih adalah seorang OB. Sejenak Maudy mengangkat pandangannya, lalu sekilas memperhatikan penampilan Bayu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Dan sialnya, saat pandangan Maudy tepat di wajah Bayu, pandangan keduanya tepat bertemu. Maudy segera membuang pandangan, sementara Bayu kembali menundukkan kepala. Tetapi, OB beruntung itu masih menyimpan sejuta pertanyaan di otaknya. “Kenapa pandangan Bu Maudy padaku berbeda dari sebelumnya? Apa, jangan jangan dia sudah mulai tergoda denganku? Karena kan sebenarnya aku ini lebih ganteng dari pada suaminya, badanku juga lebih berotot dari pada Pak Rio yang kerempeng. Bisa jadi itunya juga kecil…” Bayu terkekeh membayangkan isi otaknya yang liar. Bahkan dia masih melanjutkan pikiran konyolnya itu “Setelah melihat fisik ku, pasti Bu Maudy sudah membayangkan aksi hebatku di ranjang. Sayangnya aja nasibku buruk harus pakai seragam OB ini. Coba kalau aku pakai jas dan sepatu kayak Pak Rio, pasti semua wanita tergila gila padaku.. Hahahahhahahah!” Bayu makin berbangga diri dengan fisiknya. Akan tetapi dengan cepat dia membuyarkan lamunannya itu agar tidak menimbulkan masalah dengan bosnya. Meski dia tergoda dengan tubuh Maudy, tetapi dia tetap harus sadar diri dan menghormati bosnya tersebut. Dan sebelum dia meninggalkan ruangan, Bayu menanyakan sesuatu kepada bosnya. “Maaf Pak Rio, apa saya boleh menanyakan sesuatu? “Katakan,” “Di dalam tugas ini, apa ada aturan tertentu yang boleh dikerjakan dan yang tidak boleh dilanggar?” “Maksud kamu?” Rio balik bertanya dengan kening mengerut. “Emm, maksud saya. Apakah dalam melaksanakan tugas nanti, saya boleh memakai banyak gaya dengan durasi yang lama?” tanya Bayu dengan pelan dan sedikit ragu. Dan hal itu seketika membuat Rio dan Maudy membulatkan kedua bola mata mereka ke arah Bayu. Di satu sisi Maudy terkejut dengan kata kata Bayu. “Banyak gaya dan durasi lama”. Karena selama ini Maudy belum pernah merasakannya bersama dengan Rio. Sementara Rio sendiri, dia merasa tersindir dengan pertanyaan itu karena belum sampai mencoba banyak gaya, dia sudah tumpah duluan. “Jangan macam macam! Tugasmu hanya membuat istri saya hamil, jangan pikirkan hal lain!” bentak Rio sembari menggebrak meja di depannya hingga membuat Bayu gemetar. Tetapi dengan polosnya dia masih lanjut bertanya. “Maaf Pak Rio jika pertanyaan saya tadi lancang. Tapi jujur, saya tadi serius bertanya. Dalam melaksanakan tugas saya nanti, saya boleh pakai gaya apa saja? Takutnya, saya lancang dan tidak sopan.” Rio menarik nafas dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Sebisa mungkin dia menahan diri. Dia tidak tau apakah Bayu benar benar bertanya atau sedang menyindirnya. “Kurang ajaarr! Anak ini kayaknya sengaja nyindir aku. Tapi nggak mungkin. Mungkin dia memang benar benar bertanya. Lagian soal ini kan hanya aku dan Maudy yang tahu. OB ini nggak mungkin tau kalau aku gak tahan lama dan gak bisa banyak gaya!”En cuanto la plata atravesó su piel, la herida comenzó a sisear. Los bordes se ennegrecieron y la carne empezó a deteriorarse alrededor de la hoja, como si el veneno de aquel metal se extendiera bajo su piel.—¡Derek!Arthur apareció corriendo por la entrada del callejón y se abalanzó sobre Camilla, sujetándola contra el suelo embarrado antes de que pudiera volver al ataque.Ella siguió forcejeando, fuera de sí, mientras los gritos le desgarraban la garganta.—¡Suéltame! ¡Voy a matar a Chloe! ¡Derek, tú también mereces morir! ¡Moriremos todos juntos! ¡Todos arderemos en el infierno!Camilla había perdido por completo la razón, pero sus amenazas dejaron de importar en cuanto Derek se apartó de mí. Con un gesto brusco, se arrancó la daga del hombro y la dejó caer al suelo. Después se tambaleó, pero, aun así, consiguió sujetarme de la muñeca y comenzó a examinarme de pies a cabeza. Me miró una vez, luego otra y una tercera, sin dejar de buscar cualquier señal de daño.Solo cuando
(Punto de vista de Chloe)Me instalé en un pequeño pueblo costero donde nadie conocía mi pasado ni le importaba quién había sido la compañera del Alfa.Con los ahorros que había conseguido reunir a lo largo de los años, alquilé un pequeño local y abrí una floristería. Pasaba los días preparando ramos, recortando tallos y rociando con agua las flores de eustoma. El trabajo me mantenía ocupada hasta caer rendida por las noches y, por primera vez en mucho tiempo, ya no necesitaba pastillas para dormir. A mi lado, tenía la floristería de Arthur, un humano amable, a quien, siempre que sonreía, se le formaban unas pequeñas arrugas alrededor de los ojos. Parecía tener la costumbre de aparecer cuando yo cargaba macetas y, al terminar la jornada, solía dejarme un manojo de gipsófila fresca. También recordaba que era alérgica a los lirios, así que nunca los incluía en los pedidos que me preparaba.—Chloe, tienes unos ojos preciosos —me dijo un día—, aunque parecen cansados. Si alguna vez n
Derek apretó el informe con tanta fuerza que los nudillos se le pusieron blancos. Tras lo cual, en un abrir y cerrar de ojos, salió de la mansión y echó a correr hacia el hospital, sin detenerse a pensar en nada más.Al llegar a la habitación VIP, encontró la puerta entreabierta. Se detuvo antes de entrar y, desde el otro lado, escuchó las risas de Camilla.—Ya me enteré de que Chloe se fue. Ese contrato sí que me vino de perlas —Rio—. Por fin me he librado de ese estorbo.Derek se quedó inmóvil cuando volvió a oír su voz. —¿Envenenada? Por favor. Me puse un poco de polvo en mi propia herida. Me dolió como el demonio, sí, pero mira, al final mereció la pena, ¿no?Camilla soltó una carcajada antes de continuar, sin sospechar que alguien la escuchaba.—Derek es un completo idiota. Se lo creyó todo. ¡Hasta obligó a Chloe a probar el antídoto! Lástima que no pude ver cómo lo bebía … El sanador dijo que se retorcía de dolor en el suelo. Qué patética.Hizo una pausa, como si ya estuv
(Punto de vista en tercera persona)Unos días después.Tras tomar el antídoto, Camilla por fin se había recuperado bajo el atento cuidado de los sanadores.—Derek, pasar por todo esto me hizo darme cuenta de lo que de verdad siento por ti. Me gustas… Una loba como Chloe no te merece. ¿De verdad vas a seguir con ella?El rostro de Derek se endureció. Su voz se volvió fría.—Camilla, desde el primer día que viniste a trabajar para mí te lo dije: mi única compañera siempre será Chloe. Si vuelves a sacar el tema, cualquier relación entre nosotros se acaba aquí.Camilla sintió como si una mano le oprimiera el corazón. Se clavó las uñas en las palmas y algo perverso destelló en su mirada.Entonces se le contrajo el rostro y, al borde del llanto, le rodeó la cintura con los brazos.—No, no quise decir eso. No quiero el puesto de Luna. Solo quiero estar contigo para siempre…Derek bajó la mirada hacia su rostro pálido.Por primera vez, no sintió ternura por ella, sino irritación.Una imagen le






Bienvenido a Goodnovel mundo de ficción. Si te gusta esta novela, o eres un idealista con la esperanza de explorar un mundo perfecto y convertirte en un autor de novelas originales en online para aumentar los ingresos, puedes unirte a nuestra familia para leer o crear varios tipos de libros, como la novela romántica, la novela épica, la novela de hombres lobo, la novela de fantasía, la novela de historia , etc. Si eres un lector, puedes selecionar las novelas de alta calidad aquí. Si eres un autor, puedes insipirarte para crear obras más brillantes, además, tus obras en nuestra plataforma llamarán más la atención y ganarán más los lectores.