LOGIN“Siapa yang main-main sama aku, hah?” Saka mengusap wajah dan meludah karena air masuk ke mulut.
Ia berusaha mencari sumber air tersebut. Namun bukannya berhenti, semprotan itu malah semakin deras. “Hey, berhenti, setan!” Saka mengejar selang yang bergerak liar di tanah. Bukannya berhasil menangkap, selang itu justru berputar dan kembali menyemprot wajahnya. “Woy! Kau ini selang atau ular India, hah?” Saka hampir saja terpeleset karena lantai di bawah kakinya sudah basah. Ia akhirnya berhasil menangkap ujung selang tersebut, lalu langsung menekan aliran airnya. “Siapa yang kurang kerjaan begini?” Ia mengusap wajahnya yang basah dan mengacak rambutnya dengan kesal. Dari balik mobil, tiba-tiba terdengar suara tawa. “Hahaha!” Saka langsung menyipitkan mata. Suara itu sangat dia kenal. “Sial! Dua siluman kelabang itu lagi!” sungutnya geram. Benar saja! Nadia dan Dona keluar dari balik mobil. Kedua gadis itu sudah mengenakan pakaian kuliah. Kemeja rapi, celana panjang, serta tas yang masih menggantung di bahu. “Kalian belum berangkat kuliah? Malah gangguin orang lagi kerja!” Saka menatap keduanya dengan tatapan kesal. “Belum, Kak.” Nadia masih tertawa sambil memegang selang air. “Nggak bakalan telat buat kuliah pagi kok," sambar Dona. “Terus ngapain kalian masih di sini? Berangkat sana!" usir Saka seraya mengibaskan tangan. “Nggak mau. Kami masih pengen memastikan kalau Kakak baik-baik saja setelah kesetrum tadi.” Nadia kembali mengarahkan selang kepadanya. “Makanya kami bikin kakak segar lagi.” Syurrr! Air kembali menyembur ke dada Saka, sampai membuat pemuda itu basah kuyup. “Woy, udah cukup, Dasar Kadal!” Namun, Nadia dan Dona semakin tertawa semakin keras. “Biar sehat, Kak!” “Sehat apanya? Aku bisa masuk angin kalau kalian semprot terus!” Dona yang berdiri di samping Nadia justru mendekat sambil membawa kanebo. “Sudah, Kak. Jangan marah. Sini biar aku keringkan.” Dengan gerakan menggoda, Dona mulai mengusap tubuh Saka dengan kanebo. “Aku bisa sendiri.” “Sttt! Nggak apa-apa, biar aku bantu.” Dona mengelap bagian depan kaus Saka yang basah. Gadis itu terpesona, melihat lekuk tubuh Saka yang seksi dan kekar tercetak jelas dari luar kaosnya. Tangannya terus merayap turun, hingga tiba di perut Saka. Tanpa minta izin, ia singkap kaos pemuda itu dan berniat menyentuhnya. “Lepas!" Saka langsung melangkah mundur. “Kenapa sih, Kak? Kita kan cuma mau bantuin." Bibir Dona mengerucut kecewa. “Karena setiap kali kalian bilang mau membantu, ujung-ujungnya selalu ada kejadian aneh!” Saka berkacak pinggang. “Memangnya kami pernah melakukan sesuatu?” Nadia memasang wajah polos. Saka menatap mereka tajam secara bergantian. “Kalian lupa kejadian tadi? Oh, sudah amnesia rupanya. Ya udah, sekarang sini biar ku buat kalian ingat lagi!” Pemuda itu segera bergerak cepat. Tangannya langsung meraih selang tersebut dan merebutnya dari Nadia. Gerakannya begitu cepat sampai Nadia dan Dona dibuat terkejut. “Kak, balikin selangnya!" “Apa? Balikin? Nggak bakalan!” Saka menyeringai sambil memegang selang dengan satu tangan. Kedua gadis itu saling berpandangan. “Kak Saka aneh banget." “Aneh kenapa?” Saka menatap selang di tangannya. “Gerakanku cepat kan? Memangnya kalian pikir, selama ini aku lambat?” “Bukan begitu.” Nadia menggeleng. "Biasanya Kakak itu cuma nurut dan nggak ngelawan kalau kami ganggu. Kenapa sekarang jadi ngelawan begini sih?" “Karena orang yang kalian ganggu sudah bukan orang yang sama lagi.” Saka tersenyum penuh kemenangan. “Berarti Kakak beneran berubah setelah kesetrum?” “Bisa jadi. Sekarang siap-siaplah terima hukuman kalian!" Saka mengarahkan ujung selang kepada mereka. “Kak!" Syurrr! Air menyembur pelan mengenai Nadia. “Ah!” Nadia berusaha menghindar, tetapi Saka mengarahkan selang ke arahnya lagi dan menyemprotnya. “Ah Kak Saka! Kemeja kuliahku jadi basah nih!” seru Nadia, tetapi ia malah tertawa lepas. Dona yang melihat itu pun juga ikut tertawa. “Jangan ke aku, Kak!” “Kenapa? Takut?” Saka justru mengarahkan selang kepadanya. Syurrr! “Ah!” Sekarang giliran Dona yang terkena air. Dalam beberapa detik, kedua gadis itu sudah basah kuyup disemprot oleh Saka. Rambut mereka berantakan, dan pakaian kuliah mereka juga sudah basah terkena percikan air. Namun bukannya marah, Nadia dan Dona malah tertawa lepas. Mereka menatap satu sama lain. Kemeja kedua gadis itu sudah basah dan menempel ketat di badan, memperlihatkan lekuk tubuh mereka yang aduhai. “Wah, Kak Saka sekarang jadi berani ya?” Dona tersenyum menggoda. “Iya nih. Kak Saka sekarang jadi kelihatan lebih gagah.” Nadia kegirangan. “Jangan mulai lagi ya! Atau aku semprot lagi biar kalian kena tsunami dan hanyut sekalian!” ancam Saka yang bersiap mengarahkan selangnya ke mereka. Kedua gadis itu tak peduli. Mereka malah semakin mendekat dan bergelayut di lengan Saka. “Uh, aku suka banget kalau Kak Saka jadi jantan begini," goda mereka. "Sialan! Memangnya sebelumnya kalian kira aku ini betina? Sekarang lepas!” Saka berusaha melepaskan lengannya dari pelukan kedua wanita centil itu. Tetapi usaha ya tak berhasil. Nadia dan Dona malah memeluk lengannya semakin kuat. Bahkan kedua gadis itu sengaja menggesek-gesekkan dada mereka di lengan Saka. “Gila! Gede banget rasanya!" “Argh! Sadar, Saka, sadar!" Saka mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia menarik paksa lengannya dengan kasar. Ketika hendak menjauh dari kedua gadis itu, tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut hebat. “Akh!” Tangannya refleks memegang pelipis. Potongan-potongan ingatan asing kembali muncul begitu saja. Rasanya ia seperti ada di sebuah warung kopi. Di sana Arsaka duduk sendirian di sudut meja. Di depannya ada beberapa orang warga yang sedang membicarakan masalah keamanan kompleks. Saka mengerjapkan mata yang terasa berkunang-kunang. “Paijo? Preman kompleks?” Sebuah nama muncul dalam ingatannya. Arsaka ternyata pernah mencari tahu tentang orang yang datang menagih uang keamanan setiap bulan. Paijo bukan sekadar preman biasa. Ada sesuatu yang janggal. Catatan uang keamanan yang dikumpulkan dari warga ternyata sering berbeda dengan jumlah yang disetorkan kepada pengurus RT. Sebagian uang diduga sudah ditilep. Arsaka bahkan pernah mendengar beberapa warga mengeluh karena jumlah iuran terus naik, sementara laporan keuangan tidak pernah jelas. Saka mengerutkan kening. “Jadi orang itu sering memanipulasi catatan dan nilep uang warga?” Ingatan itu semakin jelas. Arsaka pernah mencari informasi dari warung kopi karena ingin mengetahui alasan beberapa warga mulai menolak membayar. “Berarti ... dia bukan cuma datang untuk menagih uang,” gumam Saka lirih, sampai kedua adik tirinya itu tak bisa mendengarnya. “Kak Saka?” Dona melambaikan tangan tepat di depan wajah Saka. Tetapi, Saka tidak menjawab. Ingatan itu tiba-tiba berhenti begitu saja. Dan belum sempat ia memahami semuanya, mendadak terdengar suara keras dari arah depan rumah. Brak! Brak! Brak! Ketiganya seketika terdiam mendengar suara keras itu. Tak lama, suara gedoran pun kembali terdengar. Disusul suara seorang pria yang terdengar kasar dari balik pagar. “Ipah, buka pintunya!”Saka bergeming di tempatnya tanpa melangkah mundur sedikitpun.Pengalaman bertarung di masa lalu membuatnya mampu membaca arah lintasan pukulan lawan bahkan sebelum kepalan itu mencapai titik tengah ayunan.Bersamaan dengan luncuran angin tinju yang luput itu, tangan kiri Saka menyusup cepat dari bawah ketiak lawan, menyapu sendi siku Paijo ke arah atas. Pada detik yang sama, telapak tangan kanan Saka mencengkeram punggung tangan pria itu dengan kuncian jemari baja.Saka menolehkan tatapannya ke arah pria gimbal itu dengan sorot mata yang membekukan dan sarat ancaman pembunuhan. "Maju satu langkah lagi, sendi bahu bosmu ini akan kubuat cacat permanen!"Saka sedikit mencondongkan tubuhnya ke bawah, mendekatkan bibirnya tepat di dekat lubang telinga Paijo yang masih mengaduh merayap di atas tanah.Tekanan jemari Saka menekan titik saraf sensitif di pangkal leher preman itu, mengirimkan gelombang ngilu yang melumpuhkan sisa kekuatannya.Saat ingatan Arsaka masuk ke dalam ingatan Saka, se
Brak! Brak! Brak!“Ipah, cepat keluar! Buka pintunya! Kalau tidak, kami akan rusak pagarnya!”Ipah terlonjak kaget dari balik tirai jendela ruang tamu, menatap dua sosok bertubuh gempal yang berdiri angkuh di luar pekarangan.Rasa panik seketika menjalar meremas ulu hatinya, membayangkan rasa malu yang tak tertahankan jika para tetangga keluar rumah dan menyaksikan keributan ini. Mengingat beban utang harian yang diam-diam menjerat lehernya tanpa sepengetahuan sang suami, wanita paruh baya itu bergegas menuruni anak tangga teras seraya meremas ujung daster batiknya dengan jemari dingin.Ipah dan Sarah saling berpandangan ketakutan.“Ya ampun! Mereka benar-benar datang!” seru Ipah, lalu buru-buru keluar dengan wajah panik sebelum para preman itu merusak fasilitas rumahnya.Saka yang masih berdiri di halaman pun menoleh untuk melihat sosok yang datang.Dari balik pagar, terlihat dua pria berdiri dengan wajah sangar. Salah satunya bertubuh besar, tatapan matanya tajam, dan dagunya ditumb
“Siapa yang main-main sama aku, hah?” Saka mengusap wajah dan meludah karena air masuk ke mulut.Ia berusaha mencari sumber air tersebut. Namun bukannya berhenti, semprotan itu malah semakin deras.“Hey, berhenti, setan!” Saka mengejar selang yang bergerak liar di tanah.Bukannya berhasil menangkap, selang itu justru berputar dan kembali menyemprot wajahnya.“Woy! Kau ini selang atau ular India, hah?”Saka hampir saja terpeleset karena lantai di bawah kakinya sudah basah. Ia akhirnya berhasil menangkap ujung selang tersebut, lalu langsung menekan aliran airnya.“Siapa yang kurang kerjaan begini?” Ia mengusap wajahnya yang basah dan mengacak rambutnya dengan kesal.Dari balik mobil, tiba-tiba terdengar suara tawa. “Hahaha!”Saka langsung menyipitkan mata. Suara itu sangat dia kenal.“Sial! Dua siluman kelabang itu lagi!” sungutnya geram.Benar saja!Nadia dan Dona keluar dari balik mobil. Kedua gadis itu sudah mengenakan pakaian kuliah. Kemeja rapi, celana panjang, serta tas yang masih
"Siapa ini?"Tubuh Saka langsung menegang. Sepasang lengan tiba-tiba melingkar di perutnya dari belakang, membuat selang air yang sedang dipegangnya hampir terlepas.Kepalanya tertunduk. Dilihatnya sepasang tangan mulus berkulit putih sedang memeluk perutnya. Jemari lentiknya bahkan bermain berputar-putar di area pusarnya, membuat Saka sedikit merasa geli.Ia hendak meraih sepasang tangan itu dan ingin dihempaskannya dengan kasar. Namun, ekor matanya menangkap sosok wanita yang ternyata bukan Dona ataupun Nadia.“Dia?” Seketika matanya membulat, karena wanita yang memeluknya ternyata adalah Sarah.Berbeda dengan beberapa saat lalu yang hanya mengenakan bra dan celana dalam, kini Sarah sudah mengenakan kaus kebesaran yang longgar hingga menutupi tubuhnya. Rambut panjangnya masih sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah.Tanpa mengatakan apa-apa, Sarah menyandarkan kepalanya di punggung Saka. Tubuhnya menempel lekat, hingga Saka bisa merasakan dua bukit kenyal gadis itu tertekan di p
“Dia … kenapa bisa ada di sini?”Saka masih berdiri mematung di tempat. Matanya terus mengikuti wanita yang berjalan perlahan ke arahnya.Semakin dekat, semakin jelas sosok wanita itu terlihat. Rambut panjang yang terurai sampai punggung, kulit putih bersih, leher jenjang, serta bentuk tubuhnya yang begitu sempurna membuat Saka seperti sedang melihat seseorang dari masa lalunya.“Tidak! Ini pasti cuma halusinasi. Tidak mungkin kalau dia adalah Sari,” gumamnya, menggeleng tak percaya.Sari, seorang wanita yang dulu sangat dia kagumi dulu. Bukan hanya cantik, tetapi kecantikannya seperti berada di tingkatan yang tidak bisa dijangkau oleh para lelaki biasa.Banyak pria yang pernah mencoba mendekatinya, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil meluluhkan hati Sari. Saka sendiri pun hanya mampu mengaguminya dari jauh. Sebab wanita secantik Sari tentu tak akan mau menerima cinta dari pria macam opet seperti dirinya.Dan sekarang, setelah mati lalu transmigrasi, wanita yang mirip dengan Sari
“Ah! Kak Saka!" Tangan halus Nadia terus masuk ke dalam celana Saka dan meremas-remas tombak yang sudah mulai menegang.Darah Saka berdesir hebat. Miliknya terasa berdenyut dan basah, meskipun Nadia hanya meremasnya dari luar celana dalam.Dengan cepat, Saka melepaskan tangan Nadia dari miliknya. "Gadis gila! Apa yang kamu lakukan?” Ia menjauh dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya. Wajahnya tampak merah padam. Tombak pusakanya masih berdiri tegak akibat diremas-remas oleh Nadia. Sedangkan bibirnya juga masih basah gara-gara modus Dona memberikannya nafas buatan.“Kalian berdua jangan sentuh tubuhku lagi!” sentaknya kasar.“Loh, Kak Saka kenapa sih? Biasanya Kakak nggak pernah keberatan. Malah Kakak suka kalau dimanjakan sama kami," suara Nadia dibuat mendayu-dayu.Saka terdiam mendengar itu. Entah kenapa, seperti ada ingatan ke masa lalu. Ia seolah merasa jika selama ini memang selalu dimanjakan oleh kedua gadis cantik itu.“Aneh,” batinnya.Barusan dia sama sekali tidak menge







