بيت / Fantasi / Cukup, Aku Gak Tahan! / Main Air sama Nadia - Dona

مشاركة

Main Air sama Nadia - Dona

مؤلف: Callme_Tata
last update تاريخ النشر: 2026-09-16 14:26:46

“Siapa yang main-main sama aku, hah?” Saka mengusap wajah dan meludah karena air masuk ke mulut.

Ia berusaha mencari sumber air tersebut. Namun bukannya berhenti, semprotan itu malah semakin deras.

“Hey, berhenti, setan!” Saka mengejar selang yang bergerak liar di tanah.

Bukannya berhasil menangkap, selang itu justru berputar dan kembali menyemprot wajahnya.

“Woy! Kau ini selang atau ular India, hah?”

Saka hampir saja terpeleset karena lantai di bawah kakinya sudah basah. Ia akhirnya berhasil menangkap ujung selang tersebut, lalu langsung menekan aliran airnya.

“Siapa yang kurang kerjaan begini?” Ia mengusap wajahnya yang basah dan mengacak rambutnya dengan kesal.

Dari balik mobil, tiba-tiba terdengar suara tawa. “Hahaha!”

Saka langsung menyipitkan mata. Suara itu sangat dia kenal.

“Sial! Dua siluman kelabang itu lagi!” sungutnya geram.

Benar saja!

Nadia dan Dona keluar dari balik mobil. Kedua gadis itu sudah mengenakan pakaian kuliah. Kemeja rapi, celana panjang, serta tas yang masih menggantung di bahu.

“Kalian belum berangkat kuliah? Malah gangguin orang lagi kerja!” Saka menatap keduanya dengan tatapan kesal.

“Belum, Kak.” Nadia masih tertawa sambil memegang selang air.

“Nggak bakalan telat buat kuliah pagi kok," sambar Dona.

“Terus ngapain kalian masih di sini? Berangkat sana!" usir Saka seraya mengibaskan tangan.

“Nggak mau. Kami masih pengen memastikan kalau Kakak baik-baik saja setelah kesetrum tadi.”

Nadia kembali mengarahkan selang kepadanya. “Makanya kami bikin kakak segar lagi.”

Syurrr!

Air kembali menyembur ke dada Saka, sampai membuat pemuda itu basah kuyup.

“Woy, udah cukup, Dasar Kadal!”

Namun, Nadia dan Dona semakin tertawa semakin keras.

“Biar sehat, Kak!”

“Sehat apanya? Aku bisa masuk angin kalau kalian semprot terus!”

Dona yang berdiri di samping Nadia justru mendekat sambil membawa kanebo.

“Sudah, Kak. Jangan marah. Sini biar aku keringkan.” Dengan gerakan menggoda, Dona mulai mengusap tubuh Saka dengan kanebo.

“Aku bisa sendiri.”

“Sttt! Nggak apa-apa, biar aku bantu.” Dona mengelap bagian depan kaus Saka yang basah.

Gadis itu terpesona, melihat lekuk tubuh Saka yang seksi dan kekar tercetak jelas dari luar kaosnya. Tangannya terus merayap turun, hingga tiba di perut Saka. Tanpa minta izin, ia singkap kaos pemuda itu dan berniat menyentuhnya.

“Lepas!" Saka langsung melangkah mundur.

“Kenapa sih, Kak? Kita kan cuma mau bantuin." Bibir Dona mengerucut kecewa.

“Karena setiap kali kalian bilang mau membantu, ujung-ujungnya selalu ada kejadian aneh!” Saka berkacak pinggang.

“Memangnya kami pernah melakukan sesuatu?” Nadia memasang wajah polos.

Saka menatap mereka tajam secara bergantian.

“Kalian lupa kejadian tadi? Oh, sudah amnesia rupanya. Ya udah, sekarang sini biar ku buat kalian ingat lagi!”

Pemuda itu segera bergerak cepat. Tangannya langsung meraih selang tersebut dan merebutnya dari Nadia. Gerakannya begitu cepat sampai Nadia dan Dona dibuat terkejut.

“Kak, balikin selangnya!"

“Apa? Balikin? Nggak bakalan!” Saka menyeringai sambil memegang selang dengan satu tangan.

Kedua gadis itu saling berpandangan.

“Kak Saka aneh banget."

“Aneh kenapa?” Saka menatap selang di tangannya. “Gerakanku cepat kan? Memangnya kalian pikir, selama ini aku lambat?”

“Bukan begitu.” Nadia menggeleng. "Biasanya Kakak itu cuma nurut dan nggak ngelawan kalau kami ganggu. Kenapa sekarang jadi ngelawan begini sih?"

“Karena orang yang kalian ganggu sudah bukan orang yang sama lagi.” Saka tersenyum penuh kemenangan.

“Berarti Kakak beneran berubah setelah kesetrum?”

“Bisa jadi. Sekarang siap-siaplah terima hukuman kalian!" Saka mengarahkan ujung selang kepada mereka.

“Kak!"

Syurrr!

Air menyembur pelan mengenai Nadia.

“Ah!” Nadia berusaha menghindar, tetapi Saka mengarahkan selang ke arahnya lagi dan menyemprotnya.

“Ah Kak Saka! Kemeja kuliahku jadi basah nih!” seru Nadia, tetapi ia malah tertawa lepas.

Dona yang melihat itu pun juga ikut tertawa.

“Jangan ke aku, Kak!”

“Kenapa? Takut?” Saka justru mengarahkan selang kepadanya.

Syurrr!

“Ah!” Sekarang giliran Dona yang terkena air.

Dalam beberapa detik, kedua gadis itu sudah basah kuyup disemprot oleh Saka. Rambut mereka berantakan, dan pakaian kuliah mereka juga sudah basah terkena percikan air.

Namun bukannya marah, Nadia dan Dona malah tertawa lepas. Mereka menatap satu sama lain. Kemeja kedua gadis itu sudah basah dan menempel ketat di badan, memperlihatkan lekuk tubuh mereka yang aduhai.

“Wah, Kak Saka sekarang jadi berani ya?” Dona tersenyum menggoda.

“Iya nih. Kak Saka sekarang jadi kelihatan lebih gagah.” Nadia kegirangan.

“Jangan mulai lagi ya! Atau aku semprot lagi biar kalian kena tsunami dan hanyut sekalian!” ancam Saka yang bersiap mengarahkan selangnya ke mereka.

Kedua gadis itu tak peduli. Mereka malah semakin mendekat dan bergelayut di lengan Saka.

“Uh, aku suka banget kalau Kak Saka jadi jantan begini," goda mereka.

"Sialan! Memangnya sebelumnya kalian kira aku ini betina? Sekarang lepas!” Saka berusaha melepaskan lengannya dari pelukan kedua wanita centil itu.

Tetapi usaha ya tak berhasil. Nadia dan Dona malah memeluk lengannya semakin kuat. Bahkan kedua gadis itu sengaja menggesek-gesekkan dada mereka di lengan Saka.

“Gila! Gede banget rasanya!"

“Argh! Sadar, Saka, sadar!" Saka mengacak-acak rambutnya frustasi.

Ia menarik paksa lengannya dengan kasar. Ketika hendak menjauh dari kedua gadis itu, tiba-tiba kepalanya terasa berdenyut hebat.

“Akh!” Tangannya refleks memegang pelipis.

Potongan-potongan ingatan asing kembali muncul begitu saja.

Rasanya ia seperti ada di sebuah warung kopi.

Di sana Arsaka duduk sendirian di sudut meja. Di depannya ada beberapa orang warga yang sedang membicarakan masalah keamanan kompleks.

Saka mengerjapkan mata yang terasa berkunang-kunang.

“Paijo? Preman kompleks?”

Sebuah nama muncul dalam ingatannya.

Arsaka ternyata pernah mencari tahu tentang orang yang datang menagih uang keamanan setiap bulan.

Paijo bukan sekadar preman biasa.

Ada sesuatu yang janggal.

Catatan uang keamanan yang dikumpulkan dari warga ternyata sering berbeda dengan jumlah yang disetorkan kepada pengurus RT.

Sebagian uang diduga sudah ditilep.

Arsaka bahkan pernah mendengar beberapa warga mengeluh karena jumlah iuran terus naik, sementara laporan keuangan tidak pernah jelas.

Saka mengerutkan kening.

“Jadi orang itu sering memanipulasi catatan dan nilep uang warga?”

Ingatan itu semakin jelas. Arsaka pernah mencari informasi dari warung kopi karena ingin mengetahui alasan beberapa warga mulai menolak membayar.

“Berarti ... dia bukan cuma datang untuk menagih uang,” gumam Saka lirih, sampai kedua adik tirinya itu tak bisa mendengarnya.

“Kak Saka?” Dona melambaikan tangan tepat di depan wajah Saka.

Tetapi, Saka tidak menjawab. Ingatan itu tiba-tiba berhenti begitu saja.

Dan belum sempat ia memahami semuanya, mendadak terdengar suara keras dari arah depan rumah.

Brak! Brak! Brak!

Ketiganya seketika terdiam mendengar suara keras itu.

Tak lama, suara gedoran pun kembali terdengar. Disusul suara seorang pria yang terdengar kasar dari balik pagar.

“Ipah, buka pintunya!”

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kepleset sabun

    Saka memunguti pecahan gelas bunga matahari itu satu per satu dengan tangan kosong. Kepingan yang besar ia bungkus dengan koran bekas, serpihan yang kecil ia sapu ke pengki, lalu lantai keramik itu ia pel sampai tidak ada lagi air yang tersisa.Gelas itu cuma Mbak Sarah yang pakai, dan cuma Mbak Sarah yang tiap pagi naruh gelas itu tegak di rak. Jadi yang lari ke tangga tadi…Saka tidak meneruskan pikiran itu. Bungkusan koran berisi pecahan gelas itu ia masukkan ke kantong sampah, dan simpul kantongnya ia ikat dua kali.***Selasa pagi, meja makan sudah penuh ketika Saka masuk dari pintu samping. Nasi goreng sisa semalam dipanaskan ulang, telur dadar dipotong empat, dan teko teh berdiri di tengah meja.Sarah duduk di kursinya dengan blazer abu-abu dan rambut yang dicepol rapi. Ia minum teh dari cangkir putih polos, bukan dari gelas bunga matahari, dan matanya tidak naik dari piring sejak Saka duduk."Pagi, Mbak.""Pagi." Sarah menjawab tanpa menoleh, lalu menyuap nasinya dengan geraka

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Ibu sudah tahu?

    Ipah menunduk dan mencelupkan handuk ke baskom lagi. Ia memerasnya lama sekali, lebih lama daripada perlu, sampai air yang menetes dari handuk itu tinggal satu-satu. "Ibu udah tahu, Saka.""Udah tahu?""Dari tahun lalu. Bapak pulang malam dengan bau parfum yang bukan punya Ibu, terus kemejanya ada bekas lipstik di kerah. Ibu nyuci kemeja itu sendiri, pakai tangan, biar anak-anak nggak lihat." Suara Ipah pecah di kata terakhir.Air mata ibu tirinya jatuh ke baskom. Satu tetes, lalu dua, lalu ia menutup mulutnya dengan punggung tangan dan bahunya berguncang tanpa suara.Pantas tiap pagi Bu Ipah galak sama semua orang. Galaknya itu tembok, dan di balik tembok itu ada perempuan yang nyuci bekas lipstik pakai tangan biar anak-anaknya nggak tahu.Saka meletakkan handuk itu di baskom, lalu menarik ibu tirinya ke dalam pelukan. Ipah tidak menolak. Ia menyandarkan dahi ke dada Saka dan menangis sampai kaus anak tirinya basah.Di sela isaknya, Ipah berkata, "Ibu malu, Saka, malu sama anak-anak,

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kartu AS Pak Hartono

    Pak Hartono menepis tangan istrinya tanpa menoleh.Saka menatap ayah angkatnya beberapa detik. Lalu ia berbalik ke pintu depan dengan langkah biasa. "Bapak mau ngomong sama saya di teras, Pak? Biar Ibu nggak usah dengar."Pak Hartono mengikutinya keluar sambil terus membentak soal anak pungut yang tidak tahu terima kasih. Di teras, Saka berdiri di samping meja rotan tempat Ipah biasa menaruh teh untuk suaminya.Saka merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan plastik klip itu. Ia meletakkannya di atas meja rotan tanpa suara, dan sinar matahari siang jatuh tepat di anting emas serta sobekan bungkus kondom di dalamnya.Pak Hartono berhenti bicara di tengah kalimat. Matanya menatap plastik itu, lalu menatap Saka."Vivi," kata Saka.Hanya satu kata itu. Saka tidak menambahkan apa pun, tidak menjelaskan di mana ia menemukannya, tidak menyebut lapangan golf atau jok belakang mobil keluarga.Wajah Pak Hartono berubah dari merah menjadi pucat dalam tiga tarikan napas. Ia menyambar plasti

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Diusir

    "Perih dikit, tapi enak, kayak habis disuntik terus dikasih permen sama dokternya. Alas ini Nadia simpan, nggak dicuci." Nadia bangkit duduk, lalu menarik alas kelinci itu dari kasur dan memeluknya ke dada."Nggak dicuci? Itu ada darahnya, ada punya Kakak juga! Lagian alas begitu harusnya dicuci sendiri sama laki-lakinya.""Itu aturan Kakak buat Kak Dona. Aturan Nadia beda, tauk, soalnya ini kenang-kenangan." Nadia melipat alas itu kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam laci lemari dengan wajah bangga.Saka tidak punya waktu untuk berdebat. Ia menyambar celana dan kemejanya, berlari ke kamar mandi, mengguyur badan dengan tiga gayung air, lalu berpakaian sambil berjalan ke pintu depan.***Mobil keluarga berhenti di depan lobi kantor dua puluh menit kemudian dari yang dijanjikan. Pak Hartono sudah berdiri di teras dengan tas kerja di tangan dan wajah merah padam."Lima menit, katamu! Ini dua puluh menit lewat dari lima menit! Kamu dorong motornya sampai ke Bekasi?" bentak Pak Hartono s

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Duo bocil

    Nadia mulai bergerak. Gerakan pertamanya kaku dan pendek, naik sedikit lalu turun lagi dengan hati-hati, sementara kedua tangannya bertumpu di dada Saka. Ibu jari Saka kembali memutar klitorisnya, dan gerakan pinggul Nadia lama-lama mengikuti irama ibu jari itu.Jepitannya rapat banget. Kalau aku ini pendekar yang lagi diuji, ujiannya bukan nahan pukulan, tapi nahan diri biar nggak bubar duluan."Kak… Kak, ini… aaah… beda sama tadi pagi… ini dari dalem…" Napas Nadia makin cepat, dan gerakannya makin berantakan.Tubuh gadis itu menegang tiba-tiba. Kedua tangannya mencakar dada Saka, kepalanya terdongak, dan jeritan panjangnya pecah memenuhi kamar. Dinding vaginanya berdenyut kuat di sekeliling penis Saka, berulang-ulang, sampai Saka harus menggertakkan gigi dan menghitung dalam hati.Si bungsu ambruk ke dada Saka dengan dada naik turun. Rambut panjangnya menutupi wajah mereka berdua, dan keringatnya menempel di kulit kakaknya. "Kakak… belum, ya?""Belum, Cil. Kakak masih utang sama buk

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kelincinya lucuk

    Saka menatap alas kelinci itu, lalu menatap wajah adiknya. Kain putih bergambar puluhan kelinci kecil itu dipilih, dicuci, dan disetrika sendiri oleh gadis yang tadi pagi masih menulis naskah anime dua halaman.Anak ini nyiapin pertama kalinya kayak nyiapin pengantin. Kalau aku asal grusa-grusu, aku lebih brengsek daripada Paijo."Darahnya nanti nggak banyak, Nad. Kalau sakit, Kakak berhenti, dan alasnya bisa nunggu besok-besok," kata Saka sambil mengusap rambut di pelipis Nadia.Gadis itu bangkit duduk dan mendorong dada Saka sampai kakaknya rebah telentang. "Nggak mau besok-besok. Hari ini Senin, dan di buku Liga udah ditulis SENIN NADIA LUNAS. Terus Nadia mau di atas kayak di anime, biar Nadia yang ngatur cepet lambatnya.""Di atas itu jurus tingkat lanjut, Cil. Kamu baru lulus pemanasan.""Justru itu! Kalau di atas, Nadia yang pegang kendali, jadi sakitnya Nadia yang ngatur." Gadis itu sudah melepas kancing kemeja Saka satu per satu dengan jari yang kini tidak dingin lagi.Logikan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status