MasukBrak! Brak! Brak!
“Ipah, cepat keluar! Buka pintunya! Kalau tidak, kami akan rusak pagarnya!” Ipah terlonjak kaget dari balik tirai jendela ruang tamu, menatap dua sosok bertubuh gempal yang berdiri angkuh di luar pekarangan. Rasa panik seketika menjalar meremas ulu hatinya, membayangkan rasa malu yang tak tertahankan jika para tetangga keluar rumah dan menyaksikan keributan ini. Mengingat beban utang harian yang diam-diam menjerat lehernya tanpa sepengetahuan sang suami, wanita paruh baya itu bergegas menuruni anak tangga teras seraya meremas ujung daster batiknya dengan jemari dingin. Ipah dan Sarah saling berpandangan ketakutan. “Ya ampun! Mereka benar-benar datang!” seru Ipah, lalu buru-buru keluar dengan wajah panik sebelum para preman itu merusak fasilitas rumahnya. Saka yang masih berdiri di halaman pun menoleh untuk melihat sosok yang datang. Dari balik pagar, terlihat dua pria berdiri dengan wajah sangar. Salah satunya bertubuh besar, tatapan matanya tajam, dan dagunya ditumbuhi brewok macam semak belukar. Pria itu mengenakan jaket hitam dan celana panjang dengan aksesoris rantai, khas seperti penampilan preman-preman pada umumnya. Sementara temannya berdiri di samping sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku. Penampilannya hampir serupa, hanya saja yang ini rambutnya panjang dan sedikit gimbal, meskipun sudah diikat seperti sapu lidi. “Ipah, ayo cepat keluar! Jangan pura-pura nggak ada orang!” teriak pria brewok itu. Ipah berjalan cepat menghampiri pagar. Wajahnya yang tadi galak kepada Saka kini berubah tegang dan ketakutan. Ia seperti ayam sayur di hadapan kedua preman itu. “Iya, iya. Saya di sini,” sungutnya. “Uang keamanan bulan ini mana?” sentak si pria brewok sambil mengulurkan tangannya. “Iya, sebentar-sebentar." Ipah kemudian mengambil dua lembar uang kertas berwarna merah dari saku celananya. “Nih!" Si preman berambut gimbal merebut uang itu dengan kasar. Ia melirik pada rekannya, seperti sedang berbicara menggunakan bahasa isyarat. “Kenapa cuma segini, hah?" bentak pria brewok itu lagi. “Bukannya biasanya memang dua ratus ribu?” Mata Ipah membola. “Mulai bulan ini naik.” “Naik? Kok bisa?” "Kenapa banyak tanya? Biaya keamanan naik. Sekarang empat ratus ribu.” Pria itu membentak, hingga Ipah nyaris terlonjak kaget. “Apa? Empat ratus? Itu naik dua kali lipat!” “Bu, jangan banyak protes. Mau rumahnya aman atau tidak?” suaranya pelan, tapi terdengar penuh ancaman. Ipah terlihat semakin gugup. Ia beberapa kali menoleh ke belakang, seolah berharap ada seseorang yang bisa membantunya. Saat itulah Sarah keluar dari dalam rumah, menuju ke depan pagar untuk menyusul mamanya. Wanita itu sudah mengenakan pakaian kerja yang rapi. Rambut panjangnya diikat, dengan sebuah tas kerja tergantung di bahunya. Wajahnya terlihat jauh lebih serius dibandingkan saat berada di halaman belakang tadi. “Ma, ada apa ini?” “Sarah, jangan ikut campur,” bisik Ipah. Melihat kepanikan di wajah Ipah, Sarah justru berjalan lebih mendekat. Ia berdiri di samping mamanya dan menatap kedua pria itu dengan tenang. “Pak, kalau memang ada kenaikan iuran, seharusnya ada pemberitahuan tertulis atau keputusan dari pengurus lingkungan. Kalau nominalnya berubah sepihak seperti ini, kami tentu perlu tahu dasar perhitungannya.” Pria besar itu terdiam. Temannya melirik Sarah dari atas sampai bawah. Paijo kemudian tertawa mengejek, menatap Ipah dengan pandangan merendahkan. "Di wilayah perumahan ini, aturan keamanan keluar dari mulut saya, bukan dari mulut ketua RT!" Sarah berdiri tegak di depan ibunya, menatap lurus ke dalam manik mata Paijo. "Keluarga kami selalu melunasi kewajiban iuran lingkungan tepat waktu setiap tanggal satu. Kalau memang ada kebijakan penyesuaian tarif sebesar dua kali lipat, tolong tunjukkan surat edaran resmi dan lembar disposisi yang sudah ditandatangani pengurus rukun tetangga." “Wah, ternyata kamu mau ikut campur ya?” “Ikut campur? Aku cuma mau kalian transparan biar kami juga nggak kaget kalau mau bayar iuran." Sarah berkata dengan tegas. Pria itu malah tersenyum lebar. Si brewok dan si gimbal itu saling mengedipkan mata. “Kalau sama mama kamu ini, kami memang nggak bisa bernegosiasi. Tapi kalau sama gadis secantik kamu, itu masih bisa dibicarakan." Si brewok mendekat dan hendak menyentuh dagu Sarah. “Lepas! Jangan berani sentuh aku!” bentak Sarah seraya melangkah mundur. Namun, bukannya menurut, kedua pria itu malah semakin mendekat hingga mereka masuk ke halaman. Melihat Sarah dipepet oleh kedua preman itu, Ipah pun panik. “Eh, jangan masuk ke halamanku. Pergi kalian! Aku akan bayar empat ratus ribu, tapi cepat pergi!" “Tenang, Ipah. Kami cuma mau ngobrol sama anakmu yang cantik ini kok.” Paijo membasahi bibir bawahnya seraya menyunggingkan senyum menjijikkan. "Bicara soal aturan sama perempuan cantik kantoran, ternyata jauh lebih enak daripada ngeladeni omelan orang tua. Sini tangannya, biar kita bicarakan baik-baik di luar pagar, atau mau di tempat sepi? Muehehehe." Sarah melotot dan langsung menarik tangannya dengan cepat. “Jangan sentuh aku!" “Wah, galak juga rupanya. Sini dong, Cantik. Kita main-main sebentar, nanti aku bebaskan kalian dari iuran. Ayo, sini sama abang.” Pria itu kembali hendak menyentuhnya, tetapi Ipah mendorong si brewok dengan kuat. “Jauhkan tangan kotor kalian itu! Jangan pegang anak saya!” Daun pintu gerbang berderit terbuka lebar saat pria gimbal itu merangsek masuk ke dalam pekarangan, menjulurkan kedua tangannya hendak meraba bahu Ipah. "Kenapa? Kita cuma ingin mengajak putrimu ini bersenang-senang. Ibu sama anak sama-sama keras kepala, bayar dulu uangnya kalau mau tangannya dilepas!" “Lepas! Tolong!" Sarah berteriak, dan Ipah tak bisa berbuat banyak. Suasana semakin tegang. Di sudut pekarangan samping dekat dinding bata, Dona dan Nadia berdiri merapat ketakutan di balik punggung Saka. Tubuh kedua mahasiswi itu masih basah kuyup akibat semprotan selang air beberapa menit yang lalu. Dona menyusupkan wajahnya di antara pundak lebar Saka seraya mencengkeram kain kaus pemuda itu erat-erat. "Kak Saka, tolongin Mbak Sarah... orang-orang itu jahat banget, tanganku sampai gemetar lihatnya..." Saka menghela napas panjang, sembari memutar bola mata dengan malas. “Barusan kalian berdua berani nyiram aku pakai selang. Kenapa sekarang takut sama dua preman itu?” “Itu kan Kak Saka. Kalau sama orang lain, kami takut. Apalagi mereka itu kan preman," jawab Nadia, mencengkeram lengan Saka kuat-kuat. Saka tidak sempat menjawab dan perhatiannya kembali tertuju ke depan. Pria itu kembali mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Ipah. Sarah dan Ipah sudah berteriak-teriak minta dijauhi, tapi kedua preman itu masih saja nekat. “Tolong kami, lepas!” Melihat itu, dada Saka bergemuruh. Entah kenapa, melihat ibu dan kakak tirinya diperlakukan seperti itu membuat darahnya berdesir panas. Sarah berteriak sekeras mungkin memanggil satu-satunya pria yang ada di sana. "Saka! Tolong aku!" Ingatan Arsaka pun kembali muncul. Ayahnya sedang tidak ada di rumah saat ini. Selama seminggu penuh, pria itu harus pergi dinas ke luar kota. Artinya, saat ini tidak ada kepala keluarga yang bisa melindungi mereka. Saka menatap pria di depan pagar dengan mata yang panas dan memerah. "Mereka sudah keterlaluan!” geramnya seraya berjalan maju dengan langkah tenang. “Kak Saka mau kemana?" Nadia dan Dona memperhatikan punggung Saka yang semakin menjauh. Saka berhenti tepat di belakang Sarah. Matanya terus tertuju pada tangan preman itu yang masih memegang lengan Ipah. Tanpa banyak bicara, Saka menepis tangan pria tersebut dengan keras. Saka melangkah maju melewati rerumputan pekarangan dengan ketukan kaki yang stabil dan tanpa suara. Pandangan matanya mengunci lurus ke arah cengkeraman tangan Paijo di pergelangan tangan kakak tirinya. Plak! Satu tepisan telapak tangan Saka mendarat telak menghantam urat nadi di pergelangan tangan kanan Paijo. “Siapa kamu hah?” bentak Paijo. Saka hanya berdiri di depan ibu dan kakak tirinya, membuat tubuhnya menjadi penghalang di antara mereka dan kedua pria tersebut. “Berani juga kau rupanya! Kau cari mati hah?" Saka mengambil satu langkah maju, menempatkan tubuh tegapnya tepat sebagai perisai di hadapan Sarah dan Ipah. "Jauhkan tangan kotormu dari wanita di rumah ini!" Sarah yang melihat itu pun seketika terdiam dan tatapannya berpindah pada Saka. Selama ini, Arsaka selalu menjadi orang yang menghindari masalah. Bahkan ketika dirinya sendiri diperlakukan buruk, pemuda itu lebih sering diam dan mengalah. Namun sekarang, adik tirinya itu justru berdiri di depan mereka. "Saka?” Sarah menggenggam tali tas kerjanya erat-erat. Ia seolah baru sadar satu hal, bahwa ayah mereka sedang pergi. Ibunya jelas ketakutan. Bahkan, Nadia dan Dona bahkan sampai tak berani mendekat. "Kalau pria-pria itu benar-benar bertindak kasar, tidak ada seorang pun di rumah ini yang bisa melindungi kami, kecuali …." Sarah menatap punggung Saka lekat-lekat. Paijo mengibas-ibaskan tangannya yang mendadak kebas seraya melotot murka. Urat-urat di leher pria itu menonjol tegang saat menyadari anak muda yang selama ini dianggap pesuruh rumah tangga berani menantangnya di depan umum. "Kurang ajar! Anak kemarin sore berani-beraninya kamu menyentuh tangan saya!" Pria berambut gimbal di sampingnya langsung mengepalkan tinju seraya melangkah maju menghadang. "Hajar saja mukanya sampai hancur, Bos! Biar dia tahu siapa yang punya kuasa di jalanan ini!" “Saka, awas!" Suara Sarah tiba-tiba terdengar keras.Saka memunguti pecahan gelas bunga matahari itu satu per satu dengan tangan kosong. Kepingan yang besar ia bungkus dengan koran bekas, serpihan yang kecil ia sapu ke pengki, lalu lantai keramik itu ia pel sampai tidak ada lagi air yang tersisa.Gelas itu cuma Mbak Sarah yang pakai, dan cuma Mbak Sarah yang tiap pagi naruh gelas itu tegak di rak. Jadi yang lari ke tangga tadi…Saka tidak meneruskan pikiran itu. Bungkusan koran berisi pecahan gelas itu ia masukkan ke kantong sampah, dan simpul kantongnya ia ikat dua kali.***Selasa pagi, meja makan sudah penuh ketika Saka masuk dari pintu samping. Nasi goreng sisa semalam dipanaskan ulang, telur dadar dipotong empat, dan teko teh berdiri di tengah meja.Sarah duduk di kursinya dengan blazer abu-abu dan rambut yang dicepol rapi. Ia minum teh dari cangkir putih polos, bukan dari gelas bunga matahari, dan matanya tidak naik dari piring sejak Saka duduk."Pagi, Mbak.""Pagi." Sarah menjawab tanpa menoleh, lalu menyuap nasinya dengan geraka
Ipah menunduk dan mencelupkan handuk ke baskom lagi. Ia memerasnya lama sekali, lebih lama daripada perlu, sampai air yang menetes dari handuk itu tinggal satu-satu. "Ibu udah tahu, Saka.""Udah tahu?""Dari tahun lalu. Bapak pulang malam dengan bau parfum yang bukan punya Ibu, terus kemejanya ada bekas lipstik di kerah. Ibu nyuci kemeja itu sendiri, pakai tangan, biar anak-anak nggak lihat." Suara Ipah pecah di kata terakhir.Air mata ibu tirinya jatuh ke baskom. Satu tetes, lalu dua, lalu ia menutup mulutnya dengan punggung tangan dan bahunya berguncang tanpa suara.Pantas tiap pagi Bu Ipah galak sama semua orang. Galaknya itu tembok, dan di balik tembok itu ada perempuan yang nyuci bekas lipstik pakai tangan biar anak-anaknya nggak tahu.Saka meletakkan handuk itu di baskom, lalu menarik ibu tirinya ke dalam pelukan. Ipah tidak menolak. Ia menyandarkan dahi ke dada Saka dan menangis sampai kaus anak tirinya basah.Di sela isaknya, Ipah berkata, "Ibu malu, Saka, malu sama anak-anak,
Pak Hartono menepis tangan istrinya tanpa menoleh.Saka menatap ayah angkatnya beberapa detik. Lalu ia berbalik ke pintu depan dengan langkah biasa. "Bapak mau ngomong sama saya di teras, Pak? Biar Ibu nggak usah dengar."Pak Hartono mengikutinya keluar sambil terus membentak soal anak pungut yang tidak tahu terima kasih. Di teras, Saka berdiri di samping meja rotan tempat Ipah biasa menaruh teh untuk suaminya.Saka merogoh saku belakang celananya dan mengeluarkan plastik klip itu. Ia meletakkannya di atas meja rotan tanpa suara, dan sinar matahari siang jatuh tepat di anting emas serta sobekan bungkus kondom di dalamnya.Pak Hartono berhenti bicara di tengah kalimat. Matanya menatap plastik itu, lalu menatap Saka."Vivi," kata Saka.Hanya satu kata itu. Saka tidak menambahkan apa pun, tidak menjelaskan di mana ia menemukannya, tidak menyebut lapangan golf atau jok belakang mobil keluarga.Wajah Pak Hartono berubah dari merah menjadi pucat dalam tiga tarikan napas. Ia menyambar plasti
"Perih dikit, tapi enak, kayak habis disuntik terus dikasih permen sama dokternya. Alas ini Nadia simpan, nggak dicuci." Nadia bangkit duduk, lalu menarik alas kelinci itu dari kasur dan memeluknya ke dada."Nggak dicuci? Itu ada darahnya, ada punya Kakak juga! Lagian alas begitu harusnya dicuci sendiri sama laki-lakinya.""Itu aturan Kakak buat Kak Dona. Aturan Nadia beda, tauk, soalnya ini kenang-kenangan." Nadia melipat alas itu kecil-kecil dan memasukkannya ke dalam laci lemari dengan wajah bangga.Saka tidak punya waktu untuk berdebat. Ia menyambar celana dan kemejanya, berlari ke kamar mandi, mengguyur badan dengan tiga gayung air, lalu berpakaian sambil berjalan ke pintu depan.***Mobil keluarga berhenti di depan lobi kantor dua puluh menit kemudian dari yang dijanjikan. Pak Hartono sudah berdiri di teras dengan tas kerja di tangan dan wajah merah padam."Lima menit, katamu! Ini dua puluh menit lewat dari lima menit! Kamu dorong motornya sampai ke Bekasi?" bentak Pak Hartono s
Nadia mulai bergerak. Gerakan pertamanya kaku dan pendek, naik sedikit lalu turun lagi dengan hati-hati, sementara kedua tangannya bertumpu di dada Saka. Ibu jari Saka kembali memutar klitorisnya, dan gerakan pinggul Nadia lama-lama mengikuti irama ibu jari itu.Jepitannya rapat banget. Kalau aku ini pendekar yang lagi diuji, ujiannya bukan nahan pukulan, tapi nahan diri biar nggak bubar duluan."Kak… Kak, ini… aaah… beda sama tadi pagi… ini dari dalem…" Napas Nadia makin cepat, dan gerakannya makin berantakan.Tubuh gadis itu menegang tiba-tiba. Kedua tangannya mencakar dada Saka, kepalanya terdongak, dan jeritan panjangnya pecah memenuhi kamar. Dinding vaginanya berdenyut kuat di sekeliling penis Saka, berulang-ulang, sampai Saka harus menggertakkan gigi dan menghitung dalam hati.Si bungsu ambruk ke dada Saka dengan dada naik turun. Rambut panjangnya menutupi wajah mereka berdua, dan keringatnya menempel di kulit kakaknya. "Kakak… belum, ya?""Belum, Cil. Kakak masih utang sama buk
Saka menatap alas kelinci itu, lalu menatap wajah adiknya. Kain putih bergambar puluhan kelinci kecil itu dipilih, dicuci, dan disetrika sendiri oleh gadis yang tadi pagi masih menulis naskah anime dua halaman.Anak ini nyiapin pertama kalinya kayak nyiapin pengantin. Kalau aku asal grusa-grusu, aku lebih brengsek daripada Paijo."Darahnya nanti nggak banyak, Nad. Kalau sakit, Kakak berhenti, dan alasnya bisa nunggu besok-besok," kata Saka sambil mengusap rambut di pelipis Nadia.Gadis itu bangkit duduk dan mendorong dada Saka sampai kakaknya rebah telentang. "Nggak mau besok-besok. Hari ini Senin, dan di buku Liga udah ditulis SENIN NADIA LUNAS. Terus Nadia mau di atas kayak di anime, biar Nadia yang ngatur cepet lambatnya.""Di atas itu jurus tingkat lanjut, Cil. Kamu baru lulus pemanasan.""Justru itu! Kalau di atas, Nadia yang pegang kendali, jadi sakitnya Nadia yang ngatur." Gadis itu sudah melepas kancing kemeja Saka satu per satu dengan jari yang kini tidak dingin lagi.Logikan







