Share

Keberanian Saka

Author: Callme_Tata
last update publish date: 2026-09-17 14:02:39

Brak! Brak! Brak!

“Ipah, cepat keluar! Buka pintunya! Kalau tidak, kami akan rusak pagarnya!”

Ipah terlonjak kaget dari balik tirai jendela ruang tamu, menatap dua sosok bertubuh gempal yang berdiri angkuh di luar pekarangan.

Rasa panik seketika menjalar meremas ulu hatinya, membayangkan rasa malu yang tak tertahankan jika para tetangga keluar rumah dan menyaksikan keributan ini. Mengingat beban utang harian yang diam-diam menjerat lehernya tanpa sepengetahuan sang suami, wanita paruh baya itu bergegas menuruni anak tangga teras seraya meremas ujung daster batiknya dengan jemari dingin.

Ipah dan Sarah saling berpandangan ketakutan.

“Ya ampun! Mereka benar-benar datang!” seru Ipah, lalu buru-buru keluar dengan wajah panik sebelum para preman itu merusak fasilitas rumahnya.

Saka yang masih berdiri di halaman pun menoleh untuk melihat sosok yang datang.

Dari balik pagar, terlihat dua pria berdiri dengan wajah sangar. Salah satunya bertubuh besar, tatapan matanya tajam, dan dagunya ditumbuhi brewok macam semak belukar. Pria itu mengenakan jaket hitam dan celana panjang dengan aksesoris rantai, khas seperti penampilan preman-preman pada umumnya.

Sementara temannya berdiri di samping sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku. Penampilannya hampir serupa, hanya saja yang ini rambutnya panjang dan sedikit gimbal, meskipun sudah diikat seperti sapu lidi.

“Ipah, ayo cepat keluar! Jangan pura-pura nggak ada orang!” teriak pria brewok itu.

Ipah berjalan cepat menghampiri pagar. Wajahnya yang tadi galak kepada Saka kini berubah tegang dan ketakutan. Ia seperti ayam sayur di hadapan kedua preman itu.

“Iya, iya. Saya di sini,” sungutnya.

“Uang keamanan bulan ini mana?” sentak si pria brewok sambil mengulurkan tangannya.

“Iya, sebentar-sebentar." Ipah kemudian mengambil dua lembar uang kertas berwarna merah dari saku celananya.

“Nih!"

Si preman berambut gimbal merebut uang itu dengan kasar. Ia melirik pada rekannya, seperti sedang berbicara menggunakan bahasa isyarat.

“Kenapa cuma segini, hah?" bentak pria brewok itu lagi.

“Bukannya biasanya memang dua ratus ribu?” Mata Ipah membola.

“Mulai bulan ini naik.”

“Naik? Kok bisa?”

"Kenapa banyak tanya? Biaya keamanan naik. Sekarang empat ratus ribu.” Pria itu membentak, hingga Ipah nyaris terlonjak kaget.

“Apa? Empat ratus? Itu naik dua kali lipat!”

“Bu, jangan banyak protes. Mau rumahnya aman atau tidak?” suaranya pelan, tapi terdengar penuh ancaman.

Ipah terlihat semakin gugup. Ia beberapa kali menoleh ke belakang, seolah berharap ada seseorang yang bisa membantunya.

Saat itulah Sarah keluar dari dalam rumah, menuju ke depan pagar untuk menyusul mamanya.

Wanita itu sudah mengenakan pakaian kerja yang rapi. Rambut panjangnya diikat, dengan sebuah tas kerja tergantung di bahunya. Wajahnya terlihat jauh lebih serius dibandingkan saat berada di halaman belakang tadi.

“Ma, ada apa ini?”

“Sarah, jangan ikut campur,” bisik Ipah.

Melihat kepanikan di wajah Ipah, Sarah justru berjalan lebih mendekat. Ia berdiri di samping mamanya dan menatap kedua pria itu dengan tenang.

“Pak, kalau memang ada kenaikan iuran, seharusnya ada pemberitahuan tertulis atau keputusan dari pengurus lingkungan. Kalau nominalnya berubah sepihak seperti ini, kami tentu perlu tahu dasar perhitungannya.”

Pria besar itu terdiam. Temannya melirik Sarah dari atas sampai bawah.

Paijo kemudian tertawa mengejek, menatap Ipah dengan pandangan merendahkan. "Di wilayah perumahan ini, aturan keamanan keluar dari mulut saya, bukan dari mulut ketua RT!"

Sarah berdiri tegak di depan ibunya, menatap lurus ke dalam manik mata Paijo. "Keluarga kami selalu melunasi kewajiban iuran lingkungan tepat waktu setiap tanggal satu. Kalau memang ada kebijakan penyesuaian tarif sebesar dua kali lipat, tolong tunjukkan surat edaran resmi dan lembar disposisi yang sudah ditandatangani pengurus rukun tetangga."

“Wah, ternyata kamu mau ikut campur ya?”

“Ikut campur? Aku cuma mau kalian transparan biar kami juga nggak kaget kalau mau bayar iuran." Sarah berkata dengan tegas.

Pria itu malah tersenyum lebar. Si brewok dan si gimbal itu saling mengedipkan mata.

“Kalau sama mama kamu ini, kami memang nggak bisa bernegosiasi. Tapi kalau sama gadis secantik kamu, itu masih bisa dibicarakan." Si brewok mendekat dan hendak menyentuh dagu Sarah.

“Lepas! Jangan berani sentuh aku!” bentak Sarah seraya melangkah mundur.

Namun, bukannya menurut, kedua pria itu malah semakin mendekat hingga mereka masuk ke halaman.

Melihat Sarah dipepet oleh kedua preman itu, Ipah pun panik. “Eh, jangan masuk ke halamanku. Pergi kalian! Aku akan bayar empat ratus ribu, tapi cepat pergi!"

“Tenang, Ipah. Kami cuma mau ngobrol sama anakmu yang cantik ini kok.”

Paijo membasahi bibir bawahnya seraya menyunggingkan senyum menjijikkan. "Bicara soal aturan sama perempuan cantik kantoran, ternyata jauh lebih enak daripada ngeladeni omelan orang tua. Sini tangannya, biar kita bicarakan baik-baik di luar pagar, atau mau di tempat sepi? Muehehehe."

Sarah melotot dan langsung menarik tangannya dengan cepat. “Jangan sentuh aku!"

“Wah, galak juga rupanya. Sini dong, Cantik. Kita main-main sebentar, nanti aku bebaskan kalian dari iuran. Ayo, sini sama abang.” Pria itu kembali hendak menyentuhnya, tetapi Ipah mendorong si brewok dengan kuat.

“Jauhkan tangan kotor kalian itu! Jangan pegang anak saya!”

Daun pintu gerbang berderit terbuka lebar saat pria gimbal itu merangsek masuk ke dalam pekarangan, menjulurkan kedua tangannya hendak meraba bahu Ipah. "Kenapa? Kita cuma ingin mengajak putrimu ini bersenang-senang. Ibu sama anak sama-sama keras kepala, bayar dulu uangnya kalau mau tangannya dilepas!"

“Lepas! Tolong!" Sarah berteriak, dan Ipah tak bisa berbuat banyak.

Suasana semakin tegang.

Di sudut pekarangan samping dekat dinding bata, Dona dan Nadia berdiri merapat ketakutan di balik punggung Saka. Tubuh kedua mahasiswi itu masih basah kuyup akibat semprotan selang air beberapa menit yang lalu.

Dona menyusupkan wajahnya di antara pundak lebar Saka seraya mencengkeram kain kaus pemuda itu erat-erat. "Kak Saka, tolongin Mbak Sarah... orang-orang itu jahat banget, tanganku sampai gemetar lihatnya..."

Saka menghela napas panjang, sembari memutar bola mata dengan malas. “Barusan kalian berdua berani nyiram aku pakai selang. Kenapa sekarang takut sama dua preman itu?”

“Itu kan Kak Saka. Kalau sama orang lain, kami takut. Apalagi mereka itu kan preman," jawab Nadia, mencengkeram lengan Saka kuat-kuat.

Saka tidak sempat menjawab dan perhatiannya kembali tertuju ke depan. Pria itu kembali mengulurkan tangan dan menyentuh lengan Ipah.

Sarah dan Ipah sudah berteriak-teriak minta dijauhi, tapi kedua preman itu masih saja nekat. “Tolong kami, lepas!”

Melihat itu, dada Saka bergemuruh. Entah kenapa, melihat ibu dan kakak tirinya diperlakukan seperti itu membuat darahnya berdesir panas.

Sarah berteriak sekeras mungkin memanggil satu-satunya pria yang ada di sana. "Saka! Tolong aku!"

Ingatan Arsaka pun kembali muncul.

Ayahnya sedang tidak ada di rumah saat ini. Selama seminggu penuh, pria itu harus pergi dinas ke luar kota. Artinya, saat ini tidak ada kepala keluarga yang bisa melindungi mereka.

Saka menatap pria di depan pagar dengan mata yang panas dan memerah. "Mereka sudah keterlaluan!” geramnya seraya berjalan maju dengan langkah tenang.

“Kak Saka mau kemana?" Nadia dan Dona memperhatikan punggung Saka yang semakin menjauh.

Saka berhenti tepat di belakang Sarah. Matanya terus tertuju pada tangan preman itu yang masih memegang lengan Ipah. Tanpa banyak bicara, Saka menepis tangan pria tersebut dengan keras.

Saka melangkah maju melewati rerumputan pekarangan dengan ketukan kaki yang stabil dan tanpa suara. Pandangan matanya mengunci lurus ke arah cengkeraman tangan Paijo di pergelangan tangan kakak tirinya.

Plak!

Satu tepisan telapak tangan Saka mendarat telak menghantam urat nadi di pergelangan tangan kanan Paijo.

“Siapa kamu hah?” bentak Paijo.

Saka hanya berdiri di depan ibu dan kakak tirinya, membuat tubuhnya menjadi penghalang di antara mereka dan kedua pria tersebut.

“Berani juga kau rupanya! Kau cari mati hah?"

Saka mengambil satu langkah maju, menempatkan tubuh tegapnya tepat sebagai perisai di hadapan Sarah dan Ipah. "Jauhkan tangan kotormu dari wanita di rumah ini!"

Sarah yang melihat itu pun seketika terdiam dan tatapannya berpindah pada Saka.

Selama ini, Arsaka selalu menjadi orang yang menghindari masalah. Bahkan ketika dirinya sendiri diperlakukan buruk, pemuda itu lebih sering diam dan mengalah.

Namun sekarang, adik tirinya itu justru berdiri di depan mereka.

"Saka?” Sarah menggenggam tali tas kerjanya erat-erat. Ia seolah baru sadar satu hal, bahwa ayah mereka sedang pergi. Ibunya jelas ketakutan. Bahkan, Nadia dan Dona bahkan sampai tak berani mendekat.

"Kalau pria-pria itu benar-benar bertindak kasar, tidak ada seorang pun di rumah ini yang bisa melindungi kami, kecuali …." Sarah menatap punggung Saka lekat-lekat.

Paijo mengibas-ibaskan tangannya yang mendadak kebas seraya melotot murka.

Urat-urat di leher pria itu menonjol tegang saat menyadari anak muda yang selama ini dianggap pesuruh rumah tangga berani menantangnya di depan umum. "Kurang ajar! Anak kemarin sore berani-beraninya kamu menyentuh tangan saya!"

Pria berambut gimbal di sampingnya langsung mengepalkan tinju seraya melangkah maju menghadang. "Hajar saja mukanya sampai hancur, Bos! Biar dia tahu siapa yang punya kuasa di jalanan ini!"

“Saka, awas!" Suara Sarah tiba-tiba terdengar keras.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Pingin Diangetin

    Saka bergeming di tempatnya tanpa melangkah mundur sedikitpun.Pengalaman bertarung di masa lalu membuatnya mampu membaca arah lintasan pukulan lawan bahkan sebelum kepalan itu mencapai titik tengah ayunan.Bersamaan dengan luncuran angin tinju yang luput itu, tangan kiri Saka menyusup cepat dari bawah ketiak lawan, menyapu sendi siku Paijo ke arah atas. Pada detik yang sama, telapak tangan kanan Saka mencengkeram punggung tangan pria itu dengan kuncian jemari baja.Saka menolehkan tatapannya ke arah pria gimbal itu dengan sorot mata yang membekukan dan sarat ancaman pembunuhan. "Maju satu langkah lagi, sendi bahu bosmu ini akan kubuat cacat permanen!"Saka sedikit mencondongkan tubuhnya ke bawah, mendekatkan bibirnya tepat di dekat lubang telinga Paijo yang masih mengaduh merayap di atas tanah.Tekanan jemari Saka menekan titik saraf sensitif di pangkal leher preman itu, mengirimkan gelombang ngilu yang melumpuhkan sisa kekuatannya.Saat ingatan Arsaka masuk ke dalam ingatan Saka, se

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Keberanian Saka

    Brak! Brak! Brak!“Ipah, cepat keluar! Buka pintunya! Kalau tidak, kami akan rusak pagarnya!”Ipah terlonjak kaget dari balik tirai jendela ruang tamu, menatap dua sosok bertubuh gempal yang berdiri angkuh di luar pekarangan.Rasa panik seketika menjalar meremas ulu hatinya, membayangkan rasa malu yang tak tertahankan jika para tetangga keluar rumah dan menyaksikan keributan ini. Mengingat beban utang harian yang diam-diam menjerat lehernya tanpa sepengetahuan sang suami, wanita paruh baya itu bergegas menuruni anak tangga teras seraya meremas ujung daster batiknya dengan jemari dingin.Ipah dan Sarah saling berpandangan ketakutan.“Ya ampun! Mereka benar-benar datang!” seru Ipah, lalu buru-buru keluar dengan wajah panik sebelum para preman itu merusak fasilitas rumahnya.Saka yang masih berdiri di halaman pun menoleh untuk melihat sosok yang datang.Dari balik pagar, terlihat dua pria berdiri dengan wajah sangar. Salah satunya bertubuh besar, tatapan matanya tajam, dan dagunya ditumb

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Main Air sama Nadia - Dona

    “Siapa yang main-main sama aku, hah?” Saka mengusap wajah dan meludah karena air masuk ke mulut.Ia berusaha mencari sumber air tersebut. Namun bukannya berhenti, semprotan itu malah semakin deras.“Hey, berhenti, setan!” Saka mengejar selang yang bergerak liar di tanah.Bukannya berhasil menangkap, selang itu justru berputar dan kembali menyemprot wajahnya.“Woy! Kau ini selang atau ular India, hah?”Saka hampir saja terpeleset karena lantai di bawah kakinya sudah basah. Ia akhirnya berhasil menangkap ujung selang tersebut, lalu langsung menekan aliran airnya.“Siapa yang kurang kerjaan begini?” Ia mengusap wajahnya yang basah dan mengacak rambutnya dengan kesal.Dari balik mobil, tiba-tiba terdengar suara tawa. “Hahaha!”Saka langsung menyipitkan mata. Suara itu sangat dia kenal.“Sial! Dua siluman kelabang itu lagi!” sungutnya geram.Benar saja!Nadia dan Dona keluar dari balik mobil. Kedua gadis itu sudah mengenakan pakaian kuliah. Kemeja rapi, celana panjang, serta tas yang masih

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Dua Jin Dasim

    "Siapa ini?"Tubuh Saka langsung menegang. Sepasang lengan tiba-tiba melingkar di perutnya dari belakang, membuat selang air yang sedang dipegangnya hampir terlepas.Kepalanya tertunduk. Dilihatnya sepasang tangan mulus berkulit putih sedang memeluk perutnya. Jemari lentiknya bahkan bermain berputar-putar di area pusarnya, membuat Saka sedikit merasa geli.Ia hendak meraih sepasang tangan itu dan ingin dihempaskannya dengan kasar. Namun, ekor matanya menangkap sosok wanita yang ternyata bukan Dona ataupun Nadia.“Dia?” Seketika matanya membulat, karena wanita yang memeluknya ternyata adalah Sarah.Berbeda dengan beberapa saat lalu yang hanya mengenakan bra dan celana dalam, kini Sarah sudah mengenakan kaus kebesaran yang longgar hingga menutupi tubuhnya. Rambut panjangnya masih sedikit berantakan, wajahnya terlihat lelah.Tanpa mengatakan apa-apa, Sarah menyandarkan kepalanya di punggung Saka. Tubuhnya menempel lekat, hingga Saka bisa merasakan dua bukit kenyal gadis itu tertekan di p

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Si Cantik, Masa Lalunya

    “Dia … kenapa bisa ada di sini?”Saka masih berdiri mematung di tempat. Matanya terus mengikuti wanita yang berjalan perlahan ke arahnya.Semakin dekat, semakin jelas sosok wanita itu terlihat. Rambut panjang yang terurai sampai punggung, kulit putih bersih, leher jenjang, serta bentuk tubuhnya yang begitu sempurna membuat Saka seperti sedang melihat seseorang dari masa lalunya.“Tidak! Ini pasti cuma halusinasi. Tidak mungkin kalau dia adalah Sari,” gumamnya, menggeleng tak percaya.Sari, seorang wanita yang dulu sangat dia kagumi dulu. Bukan hanya cantik, tetapi kecantikannya seperti berada di tingkatan yang tidak bisa dijangkau oleh para lelaki biasa.Banyak pria yang pernah mencoba mendekatinya, tetapi tidak ada satu pun yang berhasil meluluhkan hati Sari. Saka sendiri pun hanya mampu mengaguminya dari jauh. Sebab wanita secantik Sari tentu tak akan mau menerima cinta dari pria macam opet seperti dirinya.Dan sekarang, setelah mati lalu transmigrasi, wanita yang mirip dengan Sari

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Sedotan seperti di Manga

    “Ah! Kak Saka!" Tangan halus Nadia terus masuk ke dalam celana Saka dan meremas-remas tombak yang sudah mulai menegang.Darah Saka berdesir hebat. Miliknya terasa berdenyut dan basah, meskipun Nadia hanya meremasnya dari luar celana dalam.Dengan cepat, Saka melepaskan tangan Nadia dari miliknya. "Gadis gila! Apa yang kamu lakukan?” Ia menjauh dan menarik selimut sampai menutupi tubuhnya. Wajahnya tampak merah padam. Tombak pusakanya masih berdiri tegak akibat diremas-remas oleh Nadia. Sedangkan bibirnya juga masih basah gara-gara modus Dona memberikannya nafas buatan.“Kalian berdua jangan sentuh tubuhku lagi!” sentaknya kasar.“Loh, Kak Saka kenapa sih? Biasanya Kakak nggak pernah keberatan. Malah Kakak suka kalau dimanjakan sama kami," suara Nadia dibuat mendayu-dayu.Saka terdiam mendengar itu. Entah kenapa, seperti ada ingatan ke masa lalu. Ia seolah merasa jika selama ini memang selalu dimanjakan oleh kedua gadis cantik itu.“Aneh,” batinnya.Barusan dia sama sekali tidak menge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status